MERSIA

MERSIA
Give Another Chance



"Kenapa?" Onyx bertanya dengan mata sayu yang lelah.


Serenade menggeleng. "Tidak ada apa-apa, kau seharusnya beristirahat Yang Mulia. Ini hampir jam 12 malam."


Onyx menyandarkan punggungnya ke sofa yang empuk, mata coklatnya terpejam, napasnya beraturan naik dan turun. "Aku tahu, Nada." gumamnya dengan suara berat.


Tak lama Onyx memicingkan mata kepada wanita cantik yang duduk di sebelahnya. "Tadi sebelum ke sini mataku masih kuat hingga aku melihatmu. Mungkin aku merasakan ketenangan setelah berada di Dundas. Sekarang aku merasakan semua lelah di sekujur tubuh." keluhnya datar.


Serenade melirik kedua dayang-dayang yang berdiri di dekat meja rias. Tentu mereka tidak akan meninggalkan Serenade dalam posisi seperti ini. Akan timbul cerita mungkin juga fitnah dengan kedatangan Onyx di tengah malam, pewaris tahta itu bertamu sesuka hatinya tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.


"Tidak boleh." tegur Serenade mengingatkan. Ia tidak ingin besok dirinya akan dikecam seantero Mersia ketika kabar sang putra mahkota menghabiskan malam bersama dengannya menghiasi di setiap media negeri itu.


Onyx menggeram pendek lalu menaikkan badannya. Ia kini memandang Serenade dengan lekat-lekat. "Aku ingin berbicara banyak denganmu, Nada." ujarnya sambil menggeser tubuh hingga jarak keduanya habis. Onyx meraih jemari Serenade, menangkupnya dengan tangannya yang besar.


Sorot manik coklat Onyx lebih hidup ketika Serenade membalas tatapan pria itu. "Bicaralah akan aku dengarkan." sahutnya lemah dan lembut.


Onyx mengeraskan sesaat genggaman tangannya, jemari sang pianis itu sangat halus tidak menandakan jika ujung-ujung tangan kapalan karena latihan bermain piano tanpa kenal waktu selama bertahun-tahun.


"Bagaimana dengan Mersia? Apa kau menyukainya?" Tanya Onyx.


Bibir Serenade mengulas senyuman tipis. "Aku telah melihatnya sebagian kecil dan ya panorama alamnya sangat menakjubkan."


"Terus apa yang membuatmu tidak suka berada di sini?" tanya pelan Onyx sembari ingin tahu kesan Serenade di Mersia.


Kamu yang mengabaikanku. Kalimat itu ingin keluar dari bibir Serenade namun sungguh tidak sopan jika mengatakannya saat itu juga.


Serenade menarik napasnya. "Baik di New York maupun di Hollywood aku terbiasa bertemu dengan banyak orang. Di sini banyak tempat yang terasing."


Onyx terkekeh mendengar penuturan Serenade. "Di Mersia bukan terasing, mungkin tempat yang kamu datangi sengaja ditutup untuk umum. Aku dengar kau pergi Kilt Rock dengan Orion."


"Ya kami berada lama di sana, kakakku adalah pecinta ketenangan dan air. Itu mengapa dia tinggal di dekat danau tanpa ada tetangga." terang Serenade.


"Marc pun suka tinggal di sana. Kau tadi keluar dengan suami putri pertama Mersia, tentu kami mengamankan tempat-tempat yang kalian datangi. Tidak banyak orang agar bisa menikmati tempat tersebut tanpa ada yang mengambil foto kalian dan menyebarkannya." jelas Onyx.


"Aku seperti penyelundup di Mersia, mungkin kedatanganku tidak diketahui oleh rakyatmu, Yang Mulia." Serenade menyimpulkan sendiri, lewat perkataannya sekaligus menyindir pria yang masih memegang tangannya. Sebuah keintiman yang membuat jantungnya berdebar tak menentu.


Onyx terdiam. Benar perkataan Serenade, di antara tamu undangan kerajaan hanya wanita di sampingnya-lah yang tidak diketahui oleh orang-orang di luar Palace.


"Maafkan aku." Onyx berkata lirih.


"Kau tidak salah apapun, Yang Mulia. Aku sadar dengan posisiku, dan aku tidak mungkin memaksakan sesuatu." Serenade merendah di saat itu pula jemarinya dikecup oleh Onyx.


"Hatiku mengarah ke kamu, Nada." kata Onyx disertai manik coklat yang memandang teduh. Serenade terlihat bimbang dengan perkataan pewaris tahta tersebut.


"Aku tidak menghibur dirimu, aku berkata sejujur-jujurnya, Nada." tambah Onyx. Jemari panjang Onyx kini membelai pipi Serenade, sang pianis memejamkan mata merasakan sentuhan asing sekaligus merupakan pertama kali ia dapatkan dari seorang pria.


Manik biru terbuka, terpampang wajah Onyx begitu dekat dengannya. Wajah yang sangat rupawan, mata sedikit sipit, surai hitam yang didapatkan dari gen sang ratu. Sangat wajar jika para putri rela mengantri untuk mendapatkan kesempatan untuk sekadar berbincang walau hanya sesaat dengan Alistaire Onyx.


Serenade menghentikan belaian tangan Onyx dengan menggenggamnya. "Aku kesini untuk mengenal lebih jauh tentangmu dan Mersia, Yang Mulia. Aku pikir selama 3 malam 4 hari bisa menghabiskan waktu bersamamu, namun justru aku mendapatkan diri yang harus banyak bersabar dengan realita yang terpampang nyata,"


"Tuhan," gumam Onyx melirih nan pelan. Nampak sesaat matanya terkatup kemudian kembali memandang Serenade. "Aku yang tidak bisa mencari kesempatan kecuali ini malam untuk bertemu denganmu, Nada,"


Wajah Onyx menyiratkan penyesalan yang besar. "Jangan bersedih seperti itu, Yang Mulia," bisik Serenade sekaligus menenangkan hati pria tampan itu.


"Dengan apa aku harus membayar semua kesalahan berapa hari terakhir ini, Nada?"


Dua orang itu saling memandang, coklat tembaga dan biru langit beradu cahaya. "Aku..." samar suara Serenade, ia membeku dalam gelembung keraguan.


"Aku temani besok, apapun yang terjadi kita akan menghabiskan waktu bersama," putus Onyx tanpa menunggu jawaban Serenade.


Usai mengatakan itu, Onyx berdiri. Serenade terlihat linglung, namun kedua dayang-dayang sigap berjalan menghampiri sofa berbahan beludru.


"Sudah larut, aku akan pulang ke Palace. Besok jam 10 pagi aku akan ke Dundas, kita akan berkuda," kata Onyx sembari melengkungkan bibirnya. Pria itu masih tampah gagah dan kuat bahkan hari hampir berakhir.


"Selamat beristirahat, Nada," sejenak Onyx menatap Serenade. Ia tersenyum puas ketika melihat bibir Serenade bergerak dan mengatakan "Semoga mimpi indah, Yang Mulia,"


"Ya, aku akan mimpi indah Serenade, tapi aku lebih tidak sabar menunggu hari esok," tutup Onyx lalu meninggalkan kamar tidur wanita cantik bersurai emas.


...


Tepat jam 10 pagi Serenade telah berdiri di dekat kuda yang disiapkan oleh pihak kerajaan, pesuruh yang ditugaskan Onyx membawa hewan indah itu dua jam yang lalu dengan menggunakan mobil terbuka. Serenade sendiri tidur hingga jam 9 kurang, dua dayang-dayangnya yang mengingatkan untuk banyak beristirahat demi sesi berkuda dengan putra mahkota.


Seingat Serenade, ia tidak membawa pakaian berkuda selain gaun dan busana formal mengisi kopernya. Namun ketika ia bangun sepasang pakaian berkuda lengkap dengan sepatu beserta topinya telah berada di atas meja.


Jika mengingat pengalaman Serenade berkuda, bisa dikatakan telah sangat lama ia tidak melakukan kegiatan olahraga tersebut. Mungkin sekitar 9 atau 10 tahun yang lalu.


"Ini Thunder," Onyx yang berpakaian berkuda menepuk hewan berwarna hitam legam, kokoh dan tinggi. Seekor kuda yang cantik dan ramah. Thunder bereaksi mendekatkan kepalanya ke dada Onyx.


"Kau akan menaiki Thunder, sementara aku dengan Buttercup," ujar Onyx sambil melihat kuda satunya berwarna coklat mengkilat yang sedang dipegang oleh pelayan istana.


Serenade mengelus-elus tubuh Thunder, kuda hitam itu terlihat menyukainya.


"Kau bisa berkuda, bukan?" tanya Onyx, mata coklat menatap Serenade. "Aku lupa menanyakannya, aku pikir semua orang bisa berkuda dan Thunder adalah kuda yang jinak, dia tidak akan macam-macam,"


"Aku bisa, Yang Mulia. Walau sudah lama tidak berkuda. Aku juga orang yang sangat tenang," jawab Serenade.


Onyx membalikkan badan menghadap Serenade. "Aku berikan penjelasan singkat tentang cara berkuda. Thunder adalah kuda yang baik, dia sangat membantu bagi pemula,"


Serenade tersenyum sambil mengangguk. "Baiklah, Yang Mulia. Aku akan mendengarkan dengan baik,"


Onyx berbakat sebagai pengajar yang baik, seorang pembicara yang membuat pendengarnya bisa mengerti dalam sekali penjelasan.


Onyx berbicara sangat banyak, Serenade menimpali dengan semangat sementara semesta sepertinya mendukung perjalanan mereka. Matahari bersinar terik namun udara tetap lembab dan dingin. Mereka sama sekali tidak kepanasan seperti pengalaman Serenade berkuda di California.


"Kita akan berkuda seminggu sekali atau sekali dalam dua minggu," celetuk Onyx sambil menoleh sekilas ke arah Serenade. Taling kekang Buttercup dilonggarkan, kuda perkasa itu mengikuti rute jalanan berbatu tanpa perlu diarahkan sedemikian rupa.


"Kapan?" Serenade menoleh memerhatikan tubuh jangkung Onyx terbalut pakaian berkuda hitam dan putih.


"Nanti setelah kau menjadi permaisuriku, Nada," jawab Onyx berbicara perlahan, suaranya bariton dan sedikit serak.


Serenade kaget mendengar perkataan Onyx yang blak-blakan. Ia menarik tali kekang Thunder, kuda itu meringkik, kaki-kaki perkasanya bak rem yang pakem, mereka berhenti mendadak.


"Maafkan aku," Serenade mengusap bagian leher Thunder, menyesali perbuatannya yang membuat kuda itu ketakutan.


"Yang Mulia," kini giliran Serenade memekik tanpa takut terdengar oleh orang-orang. Hanya ada mereka di jalan itu.


"Kenapa?" Onyx menggerakkan Buttercup mendekati Thunder. Kedua tunggangan mereka bersisian dengan tenang.


Serenade tersenyum ringan, "Maafkan aku jika berkata jujur..." potongnya sambil mengamati seksama setiap inchi wajah tampan yang digilai para putri yang mungkin saja mereka sedang menanti dengan tidak sabaran di Palace.


"Aku mendengarkan,"


Keduanya saling memandang sebelum akhirnya Serenade mengalihkan pandangan ke bawah, menepuk lembut kulit Thunder.


"Aku tidak punya kuasa untuk menolakmu, tapi tidak juga menerima mentah perkataanmu tadi, Yang Mulia. Tapi beberapa hari ini aku melihat secara langsung situasi di Mersia. Bagaimana kehidupan di sini dan dirimu. Mungkin waktulah yang tidak tepat untuk saling mempelajari satu sama lain, Yang Mulia. Di lain kesempatan kita akan memulai lagi karena aku tidak mau mengambil keputusan hanya karena ingin memenangkan persaingan yang sedang terjadi di Mersia. Sementara hatiku belum menemukan yang dicarinya. Aku tidak punya waktu untuk mengenalmu, Prince Alistaire Onyx yang sesungguhnya. Untuk menjadi seorang pendamping sepanjang usia seharusnya kedua orang tersebut saling mengerti pribadi satu sama lain. Walau aku tahu seorang putra mahkota tidak memiliki cela sedikit pun,"


Onyx mengangkat alisnya, bibir mengatup sejenak. "Aku tidak menyangka seorang Serenade akan berkata seperti ini,"


"Aku justru merasakan lega setelah mengatakan semua ini, Yang Mulia. Maafkan diriku," sebuah perkataan maaf dari Serenade tanpa ada rasa penyesalan. Ia merasakan himpitan di dada terangkat, ia bernapas lega setelah mencurahkan isi hatinya.


Onyx menarik napas panjang seraya memegang jemari Serenade kuat tapi tidak menyakiti. Kedua tangan mereka mengenakan sarung tangan kulit hingga tidak ada sentuhan yang meremangkan. "Biarkan aku membereskan semuanya, dan setelah itu berikan satu kesempatan lagi untuk memperlihatkan diriku yang sesungguhnya. Tapi jika kita mau saling jujur, ya.. aku terpikat denganmu, Nada. Hanya mungkin saat ini memang tidak tepat untuk memperlihatkan betapa aku jatuh -nya kepada dirimu,"


Serenade tersenyum dan tersipu. "Kita menunggu waktu itu,"


"Iya, kita menunggu waktu itu, Serenade," tatap dalam Onyx ke arah wajah Serenade. Ia kemudian mengangguk setuju sambil berpikir segala kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. "Mari lanjutkan perjalanan menuju sungai, di sana telah menunggu hidangan makan siang kita,"


Onyx menarik kekang Buttercup dengan tegas, kuda itu mulai berjalan lebih cepat dari sebelumnya. Serenade mengikuti dari belakang dan memerhatikan tubuh tegap Onyx bergerak selaras dengan Buttercup. Semua tampak indah, Mersia memiliki calon pemimpin yang sempurna budi pekerti. Karena kesempurnaan itu pula dia di puja-puja oleh para kaum hawa. Sebuah persaingan yang berat, membuat Serenade merindukan hidupnya yang sederhana di Kota New York.


...


Keesokan siang, Serenade dilepas oleh kakak sepupunya yang tak lain Orion Filante dan Princess Marjorie Hiver meninggalkan Kastil Dundas menuju Edinburgh. Serenade sendiri yang menolak terbang meninggalkan negeri itu dengan menggunakan pesawat pribadi milik kerajaan. Namun ia tidak bisa menolak fasilitas yang diberikan Orion, perbedaannya hanya ia terbang dari Edinburgh bukan dari landasan pribadi milik Mersia.


Serenade tidak sempat bertemu dengan Onyx yang memiliki jadwal padat hari itu, namun sang pewaris tahta telah mengirimkan pesan pada jam 6 pagi. Onyx meminta maafkan karena tidak bisa ke Dundas, pria itu sekaligus menjanjikan pertemuan kembali dalam waktu yang tak lama. Serenade terhibur akan janji Onyx. Itu pula yang membuat langkahnya semakin ringan meninggalkan Mersia.


"Nona Rajendra," sapa akrab seorang pramugari ketika kakinya baru saja menjejakkan di area pemberangkatan bandara. Ia tadinya ingin mengambil foto tulisan Edinburgh yang berada di area bandara, namun terpaksa harus mengurungkan niatnya karena kedatangan wanita muda berseragam berwarna navy dengan syal sutra dililitkan di leher.


"Perkenalkan saya adalah Lucille, awak kabin dari Tuan Orion. Silahkan nona Serenade mengikuti saya," kata Lucille seraya mengambil koper milik Serenade.


Tanpa ada protes Serenade mengikuti Lucille yang bertubuh tinggi ramping, mereka memiliki tinggi badan yang hampir sama, bedanya Serenade memilih memakai sepatu Air Jordan-nya dibanding sepasang sepatu heels yang akan membuatnya payah untuk bergerak bebas.


Mereka harus menaiki mobil bandara menuju tempat private jet milik Orion yang sedang menunggu. Tampak canggung Serenade menaiki tangga pesawat yang hanya akan membawa dirinya dan para awak kabin melintasi benua Amerika.


"Silahkan duduk di mana saja yang anda inginkan, Nona Rajendra. Sebentar lagi pesawat akan terbang," kata Lucille ditemani temannya seorang pramugara yang cukup tampan, pria itu kini tersenyum ramah ke arah Serenade.


"Terima kasih," ucap Serenade membalas pelayanan terbaik dari orang-orang kakaknya.


Sambil menunggu pesawat take off Serenade menyempatkan diri mengabari semua orang, termasuk kedua orang tuanya, Orion dan juga Onyx.


Perlahan pesawat canggih tersebut bergerak menuju landasan pacu. Hati Serenade saat itu dilanda kegamangan, kehilangan dan juga bahagia. Bahagia Serenade disebabkan dalam waktu 8 jam kemudian ia akan berada di Kota New York. Kota bising yang memberinya berbagai macam masalah dan juga kesenangan.


Pesawat menukik ke atas, berhasil take off dengan mulus. Serenade mengambil posisi nyaman, meluruskan kakinya di kursi, ia menaikkan sandaran kaki.


"Selamat siang, selamat datang kepada Nona Serenade Rajendra di penerbangan menuju Swedia." kata pilot lewat interkom.


Seluruh rasa kantuk yang tadinya menyerang Serenade hilang dalam seketika. Ia melompat dari kursinya dan berjalan tergesa-gesa menuju bagian depan pesawat. Di bukanya lebar-lebar pintu pilot dan co-pilot berada.


"Yang benar saja!" pekik Serenade.


Pilot berseragam putih biru menoleh dan tersenyum. "Aku akan menculikmu ke negaraku, My Lady,"


...





Alo kesayangan💕,


aku menulis kelanjutan Mersia karena kalian sepertinya menunggu lanjutan novel ini.. Kai next then Jace, sabar sabar yah


Bersama diriku kalian melatih kesabaran, itung-itung latihan masuk bulan puasa 🤣🤣


selamat hari kamis buat kalian yang manis wkwkwwkk


pasti pada huwek..


love,


D😘