MERSIA

MERSIA
a Stupid Thing Called Love



Manusia tidak bisa meminta hidup yang sempurna, kecuali terjadi sebuah keajaiban. Itu pula yang dirasakan Serenade saat ini, sebuah ruang tamu yang sempurna akan kehadiran seorang tamu pria istimewa. Pria itu tak lain Prince Philip Bernadotte, pewaris sah dari Kerajaan Swedia.


Sebuah kejutan yang sempurna untuk jantungnya, semoga saja latihan cardio sejak remaja hingga di usianya sekarang tidak membuatnya mendapat serangan jantung mendadak. Suasana canggung dan dada yang berdebar tak jua reda membuat lidah Serenade kelu, ia hanya bisa menatap segan kepada pria yang sedang duduk santai di sofa.


Waktu pun sepakat berlalu dengan sangat lambat disertai indera penciuman Serenade terpaku pada satu aroma yang memabukkan, wangi cologne mahal milik sang putra mahkota yang mendominasi sirkulasi udara.


"Tahu tidak, jika ini pertama kali aku menginjakkan kaki di Hollywood." cetus Philip tiba-tiba, ia mulai jenuh akan suasana sepi dan gadis cantik yang kaku.


"Eh.." Serenade tersentak, gelalapan. Manik biru indah itu membulat, Philip tertawa kecil menyipitkan mata lionnya.


"Aku bilang ini pertama kali ke Hollywood, menurutku sangat hidup dan gemerlap." aku Philip sambil tersenyum menawan.


"Aku bilang, ini pertama kali ke Hollywood dan aku suka akan suasananya yang panas dan ramai. Sungguh berbeda dengan tempatku." ujar Philip sambil mengulas senyuman simpul.


Serenade berdeham sepelan mungkin, berusaha tampak anggun di depan Philip, di saat yang sama ia mengambil botol mineral berwarna hijau di atas meja. Sang pewaris tahta itu pula yang meminta cukup disuguhi dengan air mineral, sementara di kediaman orang tua Serenade tersedia berbagai jenis minuman. Kebiasaan Axel dan Sky mengadakan perjamuan dan mengundang teman dan para kolega bisnis mereka, walau tidak sesering  para pesohor Hollywood yang sedang naik daun.


"Yang Mulia kapan tiba di Hollywood?" tanya Serenade terbata-bata.


Bukannya menjawab pertanyaan Serenade, Philip justru berdiri dari duduknya. "Temani aku di luar." bijak dan terdengar seperti titah kepada rakyatnya.


Bak robot Serenade mengikuti asal suara bariton dalam yang berjalan ke arah taman samping rumah yang hijau.


"Kau tumbuh besar di rumah ini?" tengok Philip setelah menghentikan langkahnya. Bak mobil di rem mendadak begitupun tubuh Serenade yang kehilangan keseimbangan. Ia hampir jatuh dengan malu segunung, syukurnya Serenade memiliki sepasang kaki yang kuat.


"Ya, Yang Mulia." jawabnya setelah menguasai diri. Philip terlihat tersenyum melihat kekakuan sikap Serenade.


"Mungkin seperti ini defenisi sebuah rumah yang sesungguhnya."


"Sederhana?"


Philip menggeleng dengan senyuman khasnya. "Tentu saja rumah ini tidak bisa dikatakan sederhana, Miss Rajendra. Sekadar informasi, kerajaan kami termasuk negeri yang makmur, namun masih banyak rakyat Swedia yang memiliki rumah berkamar satu, bahkan ada yang menyewa flat. Jumlah pengangguran di bawah 1 persen, dan ya kami menanggung biaya hidup mereka setiap tahunnya."


Serenade menatap takjub, seolah ia bertugas sebagai reporter yang meliput wawancara eksklusif dengan Prince Philip, formal namun juga terkesan ramah.


"Maafkan aku, seharusnya tidak membicarakan hal itu. Oh yah sampai di mana kita?" Philip berdeham kemudian melebarkan maniknya. "Ah, tentang rumah ini."


"Seperti Yang Mulia lihat seperti ini rumah kami, saya memiliki dua adik laki-laki. Kami memiliki darah Asia yang kental, begitupun dengan aturan yang berlaku di rumah ini. Kecuali sekolah di kota lain dan menikah, kami tidak dibiarkan tinggal di luar." papar Serenade.


Philip membuka mulut, lalu tertawa pelan yang sopan. "Kalian lebih beruntung."


Serenade menggigit bibir bawahnya, pipinya memerah. "Iya benar."


Putra mahkota itu mengembuskan napas pendek. "Aku tidak akan pernah keluar dari Royal House, selamanya akan berada di sana. Tempat di mana aku lahir, dan menghabiskan sisa hidupku."


"Sebagai raja." sambung Serenade dengan rambut-rambut halus di tangannya ikut meremang.


"Menurutmu apakah itu kutukan atau keberuntungan mendapatkan peran seperti jalan hidupku?" tanya Philip. Ia berusaha mengurangi kecanggungan mereka dengan berbicara bahasa yang lebih santai.


Serenade yang berdiri di samping Philip terlihat tenang namun tidak ada yang tahu jika jantungnya melompat-lompat di dalam sana.


"Banyak di muka bumi ini menginginkan tempat Yang Mulia. Jadi, menurutku hidup Yang Mulia adalah sebuah mukjizat."


"Oh ya?" Philip tertawa riang.


Serenade mengangguk tersipu.


Philip membalikkan badannya, menghadap gadis cantik bersurai kuning keemasan dengan manik birunya yang indah. "Miss Rajendra, aku tidak akan lama di kota ini. Ketika matahari tenggelam saat itu juga aku harus kembali ke Swedia." tuturnya to the point.


"Kenapa?" tanya Serenade agak terengah. Ia kaget karena tak menyangka jika kehadiran pria bertubuh tinggi besar itu hanya sesaat di kota kelahirannya.


"Maafkan aku." suara bariton terdengar tulus, bersamaan saat itu Philip meraih jemari Serenade.


Philip memandang Serenade, sebuah tatapan yang dulunya hanya hadir ketika menatap si gadis cantik bermanik hijau. "Aku tertarik kepadamu, Miss Rajendra. Itu juga alasanku ke kota ini. Aku tidak bisa memecahkan teka-teki di kepalaku. Aku ingin melihat wajahmu, seperti apa dirimu ketika tidak menjadi seorang pianis yang hebat."


Tuhan, jangan buat telapak tanganku berkeringat. Satu pinta disorakkan kuat-kuat Serenade dalam hati.


"Aku tidak sehebat itu, Yang Mulia." gugup dan gagap Serenade menyahut. Jemarinya masih di genggaman tangan kokoh sang putra mahkota.


Philip tersenyum simpul, tangan satunya menepuk halus punggung jemari Serenade. "Kau hebat, Nada. Malam itu kau sangat memukau."


Serenade menundukkan kepala, pipinya terasa panas, kaki-kakinya berusaha tetap tegap berdiri. "Thanks."  balasnya singkat. Sesungguhnya Serenade tidak bisa menggunakan kepalanya dengan baik dengan hati yang menderu bak ombak di musim hujan.


"Mari kita duduk di situ." pandangan Philip ke arah kursi kayu yang kosong. Kemudian kembali menatap Serenade dengan lekat. "Aku punya banyak kesalahan di masa lalu, entah itu kau sudah tahu atau tidak, Nada. Tapi biarkan aku menceritakan semuanya secara langsung, biar kau mengenalku lebih baik. Begitupun aku mengenalmu lebih dalam. Apakah kau keberatan?"


"Tidak." jawab Serenade seperti bisikan angin, sangat pelan.


Philip akhirnya melepaskan jemari Serenade. Bola matanya masih terpaku pada gadis cantik yang pipinya merona, "Nada." panggilnya.


Gadis cantik itu mendongak tak seberapa. "Ya?"


Philip menggeleng dengan bibir tersenyum lebar. "Tidak, seperti belum sekarang aku menanyakan hal itu. Suatu hari, ya.. suatu hari." kalimat yang mengambang di udara, sama seperti paru-paru Serenade yang melayang di dadanya. Ada nyeri sekaligus indah, sebuah rasa yang asing bagi dirinya.


...


Cyrus terkekeh melihat Onyx yang sedang duduk dengan wajah murungnya. Pria yang akan mewarisi mahkota ayahanda mereka seakan belum pernah makan selama dua hari, Pangeran Yang Lesu.


"Begitulah cinta." ujar Cyrus dengan tawa meledek. Ia bersandar di tembok dimana sang kakak sedang duduk termangu.


Onyx berdecih. "Dari mana kau tahu jika ini tentang cinta." semburnya melirik Cyrus yang sedang menyalakan rokok dengan acuh. Si bungsu yang terkenal aneh dan seenaknya, itu di belakang layar. Di depan rakyat Cyrus terkenal dengan pengusaha yang sukses, kehidupannya nyaris sempurna tanpa ada cerita gadis-gadis malang dan terluka yang dikencaninya hanya sesaat.


"Dari Princess Marjorie Hiver kakakku yang sangat cantik itu." jawabnya sambil mendengus, lalu tertawa keras.


"Sial." sungut Onyx.


"Diamlah." protes Onyx kesal.


Bukan Cyrus orangnya jika gentar akan kata kakaknya. "Biarkan aku memecahkan masalahmu." tawar pemuda tampan dengan rahang yang menonjol keras. Kurang lebih Cyrus mewarisi rahang tegas itu dari sang raja, struktur wajah yang membuatnya terlihat serius, bukan konyol.


Onyx terdiam dengan bibir terkatup. Cyrus menggeleng, ujung kanan bibirnya naik membentuk seringaian. "Kau bodoh, Prince Alistaire."


"Ya aku tahu jika Prince Malcomm Cyrus terkenal sangat pintar." balas Onyx tak mau kalah sengit dengan adiknya. Sebenarnya mereka sangat akur, baru kali ini kedua pangeran itu saling melontarkan kata-kata sindiran.


Cyrus menepuk dadanya dengan bangga. "Tentu saja pintar, apalagi itu tentang permasalahan cinta. Jangan remehkan ilmuku di bidang itu." sesumbarnya membuat Onyx mual.


"Berkencan sesaat bukan berarti kau menjatuhkan hatimu. Apa yang kita rasakan sangat berbeda." Onyx turun dari tempat duduknya, ia lalu melirik rokok Cyrus yang telah terbakar separuh.


Seakan tahu maksud Onyx, Cyrus menggelengkan kepala dengan kuat.


"Hati dilema bukan berarti membuatmu menjadi seorang pecandu. Jika kau tahu betapa susahnya untuk berhenti mengisap ini. Aku bisa hidup tanpa berkencan dengan wanita selama sebulan, tapi tidak tanpa rokok dalam sehari." celotehnya berlagak lebih dewasa daripada sang kakak.


"Aku pernah jatuh cinta, tapi kemudian aku sadar jika aku lebih mencintai diriku dibandingkan satu gadis yang terlalu bermimpi banyak hal yang tidak masuk akal. Aku mencintai Mersia, keluargaku. Wanita tidak bisa membuatku jatuh hingga akal sehatku hilang. Itu bukan diriku." tegas ucap si putra bungsu. Sedetik kemudian asap rokok keluar sangat banyak dari bibirnya.


"Kejarlah dia." sambungnya lagi. Cyrus dalam suasana hati yang bagus, mungkin dalam menerangkan ilmu yang benar-benar dikuasainya.


"Aku di Mersia." Onyx menoleh dengan tatapan tak berdaya.


"Terus kenapa, Tuan?" geram Cyrus melihat kakaknya. Sedikit lagi rasanya ia akan menyeret Onyx ke landasan pacu dan terbang ke Amerika.


"Tugasku dan sebagainya."


Cyrus melemparkan sisa rokoknya ke tanah dan tanpa ampun menginjak hingga asapnya lenyap di balik sepatu berbahan leather tersebut.


"Kita ajukan cuti spesial kepada raja."


"Kita?" tanya Onyx melebarkan matanya.


Cyrus mengedikkan bahu. "Ya, kau dan aku. Kita sudah lama tidak bepergian berdua, mungkin inilah saatnya. Omong-omong nona itu ada di mana sekarang, Amerika bagian mana?"


"Hmm.." Onyx merespon dengan tatapan bingung. Pukulan keras mendarat di lengan membuatnya sadar dalam seketika.


"Tolong jangan tampakkan muka bodohmu itu ketika bertemu dengannya. Kau adalah pewaris Mersia, bersikaplah seperti biasa yang penuh percaya diri dan wibawa."


"Ya.. ya, aku tahu." timpal Onyx sambil membuka ponselnya. Melihat itu Cyrus spontan merebut ponsel sang kakak.


"Jangan katakan kau baru akan menanyakan kepada nona itu tentang keberadaannya."


Sikap diam Onyx membuat Cyrus semakin geram. "Orang sudah sampai di Mars dan kau masih ada di Mersia menjadi pecundang." cemooh Cyrus namun Onyx tidak berkutik untuk membalasnya.


"Serenade yang ini nomer ponselnya?" Cyrus mengacungkan benda pipih berwarna perak di depan Onyx sambil menunjuk nama gadis yang membuat hatinya berbunga.


"Ya." singkat Onyx yang harap-harap cemas.


Tanpa pikir panjang Cyrus menekan nomer kontak yang tertera, lalu merapatkan ponsel di telinganya. Onyx mendekat untuk menguping.


Halo, terdengar suara merdu menyapa dengan ragu di seberang.


Cyrus tersenyum sekilas menoleh menatap Onyx.


"Hai.. ini pasti dengan Nona Serenade, perkenalkan saya adalah Malcomm Cyrus, adik dari Alistaire Onyx. Oh yah, saya ingin menanyakan Nona Serenade saat ini berada di mana?"


Sepasang bola mata berwarna coklat melolot menatap Cyrus.  "Kau gila." gerak bibir Onyx tanpa ada suara.


Cyrus meminta Onyx diam dengan mengacungkan telunjuknya. Ia menanti jawaban dari gadis yang membuat sang kakak kehilangan jati diri.


Yang Mulia, saya sedang di New York. Baru tiba dua hari yang lalu. 


Bibir Cyrus memamerkan seringaian pongah ke arah Onyx. Tangannya menutup speaker ponsel. "Kakakku Prince Alistaire Onyx, persiapkan dirimu kita akan terbang ke New York!"


###





Marcomm Cyrus



alo kesayangan💕,


novel ini up setelah sebulan, gila yah 😅


aku semakin slow mo untuk mendapatkan feel satu chapter..


perlahan mengumpulkan cerita di dalam kepala, sepertinya ak membutuhkan aplikasi recorder.


terima kasih yang masih setia, walau menunggu berbulan🤗


love,


D😘