MERSIA

MERSIA
Kabut



Hiver memandang pria bersurai emas pucat yang sedang berbincang pengurus taman. Hiver mengamati gerak-gerik Orion dari lantai atas,


pria berwajah cantik terlihat menunjuk kepada bunga yang menghiasi taman, entah apa yang dikatakan tapi sebuah senyuman manis tersungging di bibirnya. Hati Hiver meledak, ingatannya kembali kepada kejadian semalam.


Bibir manis, lembut juga hangat ketika memagut bibir Hiver, sebuah ciuman panjang yang membuat hati melayang tinggi ke angkasa. Dan setelah itu Orion tidak melepaskan Hiver hingga pagi, mereka berpelukan sampai matahari terbit.


Hiver tidah tahu menjabarkan perasaannya terhadap Orion, ia pernah mencintai River tapi dengan pria satunya adalah sesuatu yang berbeda dan lebih hebat.


Sebuah lambaian tangan dari Orion ketika melihat sosok Hiver. Senyuman si vampir cantik semakin merekah dan memintanya untuk turun.


“Marjorie, kemarilah.” Teriak Orion membuat tubuh Hiver goyah. Segoyah hatinya, melihat wajah Orion yang berbinar.


Pria pemilik senyuman sangat manis berulangkali melambaikan tangan, Hiver berbalik dan berlari cepat melintasi kamar tidur yang luas. Sebelum


ini, Hiver tidak pernah berlari seperti atlet pelari cepat. Pijakan kakinya menyentuh sedikit pada karpet lembut dan berganti dengan kaki satunya. Tubuhnya melayang di udara, gaun putih semata


kaki berkibas begitupun dengan surai hitamnya.


Manik biru gelap melebar menyambut Hiver, kepala Orion menggeleng seraya menarik tangannya.


“Marjorie, kau tidak mengenakan jubah tidurmu.” Ucap Orion mendekap tubuh Hiver yang hanya mengenakan gaun tidur yang memamerkan bahunya.


Orion memanggil pelayan “Tolong ambilkan jubah milik Nyonya Filante.” Ucapnya kepada Paul. Pelayannya yang berusia hampir 50 tahun, pria


yang dulunya merupakan orang kepercayaan Adrien, papanya, kini menjadi kepala pelayan di mansion.


Jantung Hiver runtuh mendengar perkataan Orion menyebutnya “Nyonya Filante”.


“Di luar lumayan dingin, Marjorie.” Tangan ramping Orion mengusap berkali-kali lengan Hiver.


“Aku..” sang putri Mersia tidak sangguh melanjutkan perkataan, sepasang manik biru memerangkap hatinya. Hiver menjatuhkan kepala


pada dada bidang berwangi parfum maskulin earthy. Si pemilik seluruh ketenangan di dunia.


“Kau kenapa, Marjorie?” kali ini punggung Hiver di usap dengan pelan. Tangan Hiver mencengkeram sisi kemeja Orion dengan kuat.


“Tidak apa-apa.” Hiver berusaha meredakan gemuruh di dadanya, dan itu tidak pernah berhasil.


Orion tetap mendekap Hiver sementara pria itu berbicara dengan Travis. Hiver ikut mendengarkan perkataan Orion yang hendak menambah taman bunga di tepian dermaga. Belum sekarang, menunggu musim dingin berlalu.


“Tuan Orion.” Sapa Paul membawa jubah berwarna hitam dan lebih tebal dari milik Hiver.


“Merci.” Ucap tulus Orion menyambut jubah berbahan wol halus, dan segera membantu Hiver memakainya. Orion terlihat menarik napas lega.


“Kita belum sarapan, Marjorie.” Kedua tangan Orion memegang lengan Hiver, sebuah pegangan yang tidak erat tidak pula longgar namun


memiliki.


“Aku belum ingin makan, masih ingin berjalan di luar.” Sahut Hiver sembari melayangkan pandangan ke dermaga. Mansion pada pagi itu masih diselimuti kabut, tapi menyegarkan tidak membuat Hiver mendesis karena suhunya yang dingin.


“Baiklah, kita akan berjalan ke dermaga. Setelah itu baru sarapan, ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan.” Orion menggenggam


jemari tangan Hiver dan melangkah pelan. Hiver terdiam sementara hatinya bak arang yang terbakar sempurna.


“Jika kau punya pekerjaan, aku bisa sendiri ke dermaga.” Desah Hiver yang tidak ikhlas dengan ucapannya. Orion melirik dengan senyuman di


bibirnya.


“Tidak, Marjorie. Pekerjaan bisa menanti.” Sahut si pria cantik dengan ringan.


Hiver menunduk memerhatikan jalinan tangan keduanya, entah mengapa ia sangat menyukai ketika berada dalam genggaman tangan Orion. Berbeda dengan jemari para pria yang pernah melakukan hal sama. Jemari King Robert, Onyx,


Cyrus dan River borotot. Tangan Orion ramping, lembut namun kuat, serta hangat tidak seperti pemikiran Hiver sebelumnya, jika Orion adalah pria yang sangat dingin.


Sekarang pria itu tertawa kecil di tengah kabut tebal di dermaga, Hiver mengulum bibir dengan alis berkerut. Ia bingung melihat tingkah pria bersurai emas pucat tersebut.


“Kenapa?” tanya Hiver kebingungan.


Ada jarak selangkah antara Hiver dengan Orion. Pria tampan sekaligus cantik itu menghadap ke arah danau, sosoknya hampir sama putihnya dengan kabut menyelimuti mereka. Hijau danau hanya terlihat samar, namun semuanya sempurna.


“Rumah paman juga memiliki danau, Marjorie.” Orion menoleh seraya menaikkan tangan agar Hiver mendekat. Pun Hiver melangkah, berdiri di


sisi tubuh Orion.


“Aku tahu, Orion. Kalian sering berlibur di sana waktu kecil.” Sahut Hiver yang mengetahui segalanya, dulu semua mengacu kepada satu


sosok pria, yakni sahabat yang dicintainya. Rupanya Tuhan memberikannya jalan lain. Bukan kepada River, melainkan kepada anak lelaki yang lebih banyak diam ketika ia berkunjung ke Lyon.


“Kau belum pernah kesana, bukan?” Orion menoleh dengan segala tutur katanya selembut kabut yang perlahan bergerak seiring matahari meninggi.


Hiver menggeleng “Iya, belum pernah.”


Orion tersenyum lalu mendekap tubuh pasrah Hiver dalam dekapan hangat “Apakah kau ingin tahu kenapa aku tertawa?”


Hiver mengangkat kepalanya dan mengangguk pelan.


“Karena cita-citaku terwujud, Marjorie. Membawamu kesini ketika danau masih berkabut.”


Hiver membisu melihat betapa hidup dan cerianya wajah Orion. Suaranya mendayu lembut setiap melantunkan kata-katanya. Andai saja dewa


kematian mengincar roh Hiver, ia rela mati dalam dekapan Orion.


“Aku juga mendapatkan cita-citaku.” Hiver menantang manik biru gelap Orion yang melebar.


Gigi taring itu terpampang jelas, sungguh sebuah godaan besar untuk kembali menjelajahi bingkainya yang sedang tersenyum indah.


“Katakan, Marjorie.”


Hiver terlebih dulu menelan salivanya lalu mengambil napas panjang. Orion tenang menunggunya.


“Aku ingin menikah dengan pria yang bukan seorang pangeran, tidak memiliki kerajaan, tidak memiliki rakyat, seorang yang hidup jauh dari


hiruk pikuk dunia. Benar kata River yang mengatakan jika kau adalah pria terakhir yang ingin kunikahi. Kenapa? Ya karena hanya dirimu yang bisa memberikan itu semua kepadaku.”


Orion tertawa kecil, Hiver menggigit bibirnya melihat keindahan seorang pria sedekat ini.


“Terima kasih, Marjorie.” Ucapnya lalu memberikan kecupan di pipi Hiver. Sang putri bersemu merah merona kemudian menjatuhkan kepala di dada pria yang mendekapnya.


Kemudian tercipta hening yang menenangkan, angin segar meniup tubuh keduanya yang masih betah berpelukan tanpa ingin melepaskan satu sama lain.



Hiver sedang membuka kotak-kotak pakaian yang baru saja datang di ruang tengah mansion, para pelayan membantu pekerjaannya. Mereka sama


sekali belum pernah menginjak kota Lyon, terlebih ke rumah orang tua Orion. Sementara predikat istri anak pertama keluarga Bluette telah resmi disandang Hiver selama 2 minggu.


“Nyonya, ada tamu untuk anda.” Ucap Paul membuat Hiver sedikit menyentak.


Jujur ia belum terbiasa dengan sebutan “Nyonya”. Itu disebabkan setiap kali para pelayan memanggilnya dengan sebutan itu membuat Hiver


mengingat Orion. Pria yang selalu membuat jantung Hiver berdetak lebih kencang sekarang sedang sibuk di ruangan kerjanya.


Sedari tadi Hiver sebenarnya merasakan rindu, namun ia malu sekaligus tidak ingin mengganggu Orion yang bekerja. Hiver belum pernah melihat


Orion bekerja, ia tidak ingin menjadi pemecah konsentrasi dengan keberadaannya di ruangan tersebut.


Belum sempat Hiver bertanya dan mendengar teriakan memanggil namanya.


“Princess Marjorie Hiver.” sosok pria muda tersenyum lebar dengan wajahnya yang berseri-seri.


Hiver sontak berdiri dan ikut terpekik bahagia.


“Apa kabarmu, Marc? Apakah kau sudah hamil?” tanya Onyx lalu tertawa.


Hiver mencubit pipi adiknya yang berlesung itu dengan kuat.


“Aku merindukanmu.” Kedua kaki Hiver melingkar di pinggang Onyx, kedua tangannya memeluk leher adiknya.


Suara dehaman dari depan membuat Hiver mengarahkan manik hijaunya.


“Nyonya Filante tidak merindukan kami?” tegur Cyrus yang berjalan dengan Lou.


Bibir Hiver bergetar, maniknya memburam dan seraya turun dari gendongan Onyx.


“Cyrus, Lou. Ini sebuah kejutan!” pekik Hiver dan air matanya jatuh ketika memeluk adik kembarnya.


Hiver menangkup pipi Cyrus lalu mengecup pipi adiknya. Ia kemudian memeluk Lou lebih lama.


“Big sis.” Suara Lou serak ketika Hiver mengecup pipinya.


Hiver mundur menatap adik-adiknya satu persatu. Orang-orang yang dirindukannya tepat berada di depannya, dan ini bukan sebuah mimpi.


“Kalian tidak mengabarkan jika ingin berkunjung. Kami bisa menyiapkan sesuatu.” Hiver mengambil jemari adik kembarnya berjalan menuju ke


ruang tengah.


Onyx dan Cyrus berpandangan lalu mengumbar senyuman geli.


“Kami?” Cyrus bertanya disertai kerlingan nakal kepada kakaknya.


Hiver cemberut lalu kembali memberikan kecupan di pipi Cyrus.


“Sepertinya ada kemajuan di kisah asmara putri pertama Kerajaan Mersia.” Onyx tertegun melihat banyaknya pakaian di ruangan itu. Ia menoleh menatap kakaknya, alisnya berkedut ke atas beserta terbit sebuah seringaian nakal di bibirnya.


Pelayan serta merta mengamankan pakaian Hiver, agar para tamu dadakan segera duduk di sofa.


“Ketika Princess Hiver menikah, aku pikir itu tidak akan bertahan lebih dari 48 jam. Ternyata aku salah, Marc.” Ujar Onyx lalu tertawa.


“Jahat.” Bersamaan Hiver dan Lou mengucapkan kata tersebut.


Kedua putri King Robert dan Queen Summer tergelak tawa, si manja Lou langsung memeluk tubuh Hiver.


“Apakah Kutub Utara sedang bekerja?” tanya Cyrus mengedarkan pandangan di sekeliling.


Hiver tidak terima pria yang membuat darah berdesir disebut Kutub Utara. Orion sama sekali bukan pria seperti di pikiran orang-orang, yah


termasuk Hiver dulunya.


“Ya, Orion sedang bekerja. Tapi akan selesai sekitar jam tiga.” Sahut Hiver mengingat perkataan Orion sebelum mereka berpisah pada jam 12 siang.


Hiver menepuk punggung Lou yang meringkuk dalam pelukannya, ia pun menatap Onyx dan Cyrus yang sekarang terdiam. Mungkin karena kehadiran para pelayan yang menaruh teh beserta hidangan ringan yang selalu tersedia dari dapur mereka.


“Berarti sebentar lagi.” Onyx meraih sepotong fiadone.


Hiver mengangguk, dalam hati ia juga yang tidak sabaran untuk bertemu dengan Orion.


“Marc.” panggil Onyx meminta perhatian Hiver yang mendengar bisikan Cyrus.


Hiver melebarkan manik hijau “Ada apa, Prince Alistaire Onyx?”


Pria muda itu berdeham dan menegakkan tubuh.


“Sebenarnya kami berkunjung dalam satu misi. Yaitu misi menemani Lou bertemu denganmu, Marc. Ayo Lou bicaralah.” Tutur Onyx sangat serius sekaligus memerintah adiknya. Aura pewaris tahtanya spontan keluar.


Lou melepaskan pelukan lalu memperbaiki pakaiannya yang sempat tidak beraturan pun dengan surainya yang berwarna coklat.


“Big sis, maafkan aku.” Lou memulai pembicaraan dengan nada bimbang. Hiver semakin bingung, ia melihat ke arah Cyrus yang mengedikkan bahu.


“Ada apa?” wajah Hiver menegang.


Lou meraih jemari tangan Hiver dan menggenggamnya.


“Prince Philip melamarku lewat papa.” Lou terbata.


Hiver tersentak. Manik hijaunya menari dan melebar.


“Dan aku menerimanya.” Sambung Lou. Spontan Hiver berdiri dan menatap Lou dengan tajam.


Kakak dari ketiga orang di ruangan itu menggeleng kuat.


“Lou.” Hiver bersimpuh di depan gadis muda yang memiliki kecantikan mirip dengan mendiang ratu.


Lou menggeleng sambil tersenyum tipis “Tidak apa-apa, kak. Aku dengan sukarela melakukan ini. Semua demi papa, kakak dan Mersia.”


Hiver mendesah panjang penuh penyesalan “Tuhan, apa yang kau lakukan ini, Maryln Lou?” tanyanya sambil menggeleng kepala tidak percaya akan perkataan adiknya.


Lou meraih jemari tangan Hiver dan mengecupnya “Aku mencintaimu, Princess Marjorie Hiver. Aku mencintai papa dan mama. Ini baktiku untuk kalian.”


“Tidak sayang. Ini bukan bakti, kau menjadikan dirimu umpan kepada buaya itu. Philip hanya ingin membalas dendam, aku sangat mengenalnya. Tidak, Lou. Pria itu berbahaya.” sergah Hiver dengan cepat seraya memeluk adiknya.


“Biarkan saja, Marc. Lou dengan penuh kesadaran menjawab pertanyaan papa tentang lamaran Prince Philip. Berkali-kali papa mengulang


pertanyaan dan jawaban Lou tidak pernah berubah. King Robert sudah mengiyakan permintaan Kerajaan Swedia, adik kecil kita akan langsung menikah. Tanpa ada pesta pertunangan.” Terang Onyx mulai sedikit santai.


Hiver menoleh “Demi Tuhan!”


Wanita cantik bersurai hitam berdiri sembari menggelengkan kepalanya. Cyrus menenangkan Hiver, ia lalu merangkul bahu sang kakak.


“Kita tidak tahu rencana pangeran itu kepada Mersia, big sis. Tapi tindakan Lou tidak patut disalahkan. Dia ingin menyelamatkan nama Mersia. Jadi, kehadiran kita di sini untuk bersatu mendukungnya. Andai saja terjadi sesuatu yang fatal terhadap Lou, segala kekuatan yang kita miliki harus bersatu menghancurkan Kerajaan Swedia hingga berkeping-keping.” Kata Cyrus sangat serius.


“Aku?” tanya Hiver meragu.


Cyrus menghela napas panjang seraya menoleh ke arah tangga.


“Dia. Suamimu, hanya dia yang bisa melakukan itu.” bisik Cyrus di telinga Hiver.


###


Princess Maryln Lou of Mersia



Nyonya Filante



Orion si vampir..



alo kesayangan💕,


demi permintaan fans Mersia.


besok masih nge UP novel ini..


aku tuh merasa, Orion perwujudan sempurna dari Hugo Chan Navarro 😁


love,


D😘