MERSIA

MERSIA
Thinking About You




Tepat pada Sabtu malam, tepatnya di Miller Theatre terdengar suara piano diiringi band akustik mengalun syahdu, membelai jiwa-jiwa yang haus akan alunan simponi yang indah. Semua terdiam, khidmat menikmati setiap aransemen yang dibawakan para pemain orkestra. Di tengah ratusan orang, duduk seorang pria yang terpaku pada satu sosok di atas panggung. Tubuh kekarnya mengenakan suit terbaik, duduk bersandar pada kursi sama halnya dengan orang-orang yang di sampingnya.


Pria itu sengaja berbaur dengan para tamu konser malam itu, ia sendiri menolak untuk mengambil kelas VVIP yang berada di lantai atas, balkon-balkon untuk orang penting, tempat seharusnya Prince Philip berada. Sekilas Philip mendongak ke atas balkon melengkung, dimana ia bisa beberapa anggota keluarga Serenade berada di tempat itu . Namun yang menarik selain orang tua Serenade, di sebelah Sky, seorang pria berambut putih duduk dengan angkuhnya. Philip melihat pria tersebut memiliki kesamaan gen dengan Sky, ia juga sempat melihat beberapa kali orang tua Serenade saling melemparkan senyum kepada si pria berambut putih tersebut.


Aku akan mencari tahu tentang pria itu, Philip membatin seraya mengarahkan perhatian penuh kepada Serenade. 90 menit berikutnya sang putra mahkota membiarkan dirinya terbuai oleh simfoni menyesakkan sekaligus mendamaikan dada.


Tepukan meriah tak berhenti serta standing applause dari para penonton ketika Serenade menuntaskan perfomance-nya malam itu. Philip tersenyum, ikut bertepuk tangan, kepalanya menggeleng takjub. Ia melihat sosok indah dan sempurna dengan gaun berwarna merah berulangkali membungkukkan badan kepada para penonton, senyum merekah tidak lepas dari bibirnya. Philip membatin jika itu adalah ekspresi terbaik Serenade yang pernah ia temui selama mereka saling mengenal.


Philip beranjak dari tempatnya berdiri, bergegas sebelum orang-orang mengenalinya. Terlihat beberapa orang memperhatikan gerak-geriknya, terlebih ia memilih menjadi orang pertama yang keluar dari gedung teater tersebut. Philip mengunakan kertas yang berisi susunan simfoni pertunjukan Serenade sebagai pelindung wajahnya, dan berlalu dengan langkah kaki lebar.


Ketika Philip tiba di kamar hotelnya, ia baru mengambil gambar kertas yang dibawanya pulang, susunan simfoni tersebut dan mengirimkannya kepada Serenade.


Sebuah pertunjukan yang luar biasa, aku sampai kehilangan kata-kata untuk memberikan pujian atas penampilanmu. Hebat.


Tak lupa Philip memberikan emoticon hati berwarna merah di ujung pesannya. Usai menekan pilihan kirim, pewaris tahta itu tersenyum puas.


Philip mengisi gelasnya dengan wine, berjalan menuju balkon dan berdiri menatap pijaran lampu-lampu kota New York yang berkelip, bunyi kendaraan, sirine, klakson bersahutan, musik di mana-mana, salah satu kota yang tidak pernah tidur.



Kedatangan Philip di kota itu, tidak dalam menjalankan misi kerajaan melainkan karena keinginannya untuk menghadiri konser Serenade. Tak lupa ia memastikan bahwa saingan terberatnya tidak bisa datang, Philip bukan mengibarkan perang terbuka dengan Kerajaan Mersia, namun ia enggan menimbulkan pertanyaan besar ke publik. Contohnya "Apa gerangan dua pewaris tahta terlihat menghadiri konser musik pianis Serenade Rajendra?"


Philip berdecih membayangkan kegaduhan yang bisa ditimbulkan jikalau itu terjadi, King Sigvard akan menceramahinya panjang lebar termasuk larangan bersinggungan dengan Kerajaan Mersia. Mata-mata ayahanda luar biasa hebat, tak butuh waktu lama bagi mereka untuk mengetahui semua anggota keluarga Serenade. Syukur, sampai malam itu King Sigvard belum tahu wanita yang menjadi incaran Philip.


Perhatian Philip kemudian teralihkan pada ponselnya, sebuah notifikasi pesan muncul di layar canggih itu.


Yang Mulia, aku merindukanmu.


Philip mengembuskan napas kasar setelah membaca pesan dari salah satu penggemarnya, wanita-wanita yang hadir di pesta sang ayahanda. Philip tidak pernah sekalipun memberikan nomer ponsel pribadinya kepada wanita-wanita yang tidak ingin ia kenal lebih jauh. Termasuk wanita-wanita berpikiran dangkal yang berharap akan menjadi pendamping seorang Philip Bernadotte. Jauh, jika ingin membandingkan sosok wanita-wanita itu dengan Serenade.


Kembali mengingat Serenade, Philip membuka pesan yang dikirimkannya ke pianis cantik itu. Pesannya belum terbaca, ia pun menyerah dan memilih untuk kembali masuk ke dalam kamar. Membersihkan tubuh dan beristirahat adalah hal paling masuk akal bagi Philip saat itu. Ia sadar jika Serenade akan sibuk dengan berbagai macam acara setelah penampilan hebatnya, media, kolega dan keluarga berebutan untuk memberikan perhargaan tertinggi.


."Wanita yang hebat." gumam Philip sembari melepas atasannya. "Dan aku semakin jatuh cinta."


...


Keesokan pagi menjelang siang, Philip yang baru saja terbangun memilih meraih ponselnya dari meja nakas. Manik lionnya menyipit memerhatikan deretan notifikasi di ponsel yang didominasi oleh email, pesan dari wanita semalam. Tunggu!


Tubuh Philip terbangun ketika melihat nama Nona Serenade tertera di antara beberapa pengirim pesan, tak berpikir panjang ia langsung membuka pesan yang sangat ditunggunya selama semalam.


Yang Mulia, jangan katakan jika kau telah kembali ke Swedia.


Dengan cepat Philip menekan nomor Serenade, ia bahkan belum melihat jam yang tertera di ponselnya.


Halo, Yang Mulia.


Philip tersenyum sesaat mendengar suara merdu milik Serenade. Bahkan suara wanita itu lebih indah terdengar dibandingkan musik yang dimainkannya semalam.


"Nada, saya masih di New York. Tepatnya di Baccarat Hotel. Di sana terdengar ramai." ujarnya mendengar suara-suara di belakang Serenade.


Maafkan saya, Yang Mulia. Kami sekeluarga sedang berkumpul di apartemen. Oh yah, sampai kapan Yang Mulia berada di New York?


Seluruh kesadaran Philip kembali dengan sempurna, tubuhnya duduk tegap di atas tempat tidur, ia tetap tersenyum bahagia. "Besok pagi saya akan kembali ke Swedia."


Serenade bergumam masih diiringi dengan percakapan disela gelak tawa yang riuh.


Apakah Yang Mulia ada waktu untuk bertemu dengan saya? ucap Serenade terbata.


Philip menutup bibirnya agar tidak mengeluarkan seruan riang akan perkataan Serenade. Sengaja terlebih dahulu ia mengambil napas, menggunakan waktu singkat untuk berpikir sekaligus membuat wanita cantik itu menanti.


"Apakah kau tidak sibuk? atau mungkin lelah setelah pertunjukan semalam..." potong Philip sambil berpikir kemana ia akan mengajak Serenade berkencan dengan posisinya sebagai pewaris tahta Kerajaan Swedia.


Sama sekali tidak, saya menjawab dua pertanyaan sekaligus, Yang Mulia. Giliran Serenade memotong Philip. Wanita itu kemudian tertawa pelan, hingga membuat Philip mengepalkan tangan satunya. Ia ingin segera bertemu dengan Serenade, secepatnya.


"Bagaimana jika aku menjemputmu jam 2 siang, beberapa hal perlu aku kerjakan terlebih dahulu." kata Philip ketika mengingat email dari sekretaris pribadinya yang memberikan tanda penting di judul email, yang berarti ia harus menjawab atau mungkin memberikan respon atas pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan oleh mereka.


Baik, saya akan menunggu. Terima kasih, Yang Mulia. Sahut Serenade terdengar kaku dan segan.


"Sampai bertemu, Miss Rajendra. Aku sungguh tidak sabar... " balas Philip sambil tertawa sangat pelan. Berkencan denganmu.


...


10 menit sebelum jam 2 siang, Philip tiba di depan bangunan apartemen Serenade. ia baru saja akan mengirim pesan namun Philip melihat Serenade berjalan menghampiri kendaraannya. Seakan wanita itu tahu dengan benar mobil yang ditumpanginya. Serenade cantik, bahkan lebih cantik dibandingkan semalam, jantung Philip berdebar tidak beraturan. Ia tidak biasa seperti ini, sudah terlalu lampau dan perasaan ini kembali ketika melihat sosok Serenade.


Philip hendak turun membukakan pintu untuk Serenade, namun wanita cantik itu lebih cepat melangkah dan menarik kenop pintu mobil.


"Hai." sapa Serenade terlebih dulu.


Manik lion Philip melebar mendapatkan Serenade lebih ramah dibandingkan pertemuan mereka di Hollywood.


"Oh hai, Pianis Cantik. Coba lihat di kursi belakang." pinta Philip.


Serenade menoleh dan melihat buket bunga dan sebuah kotak beludru berwarna hitam berbentuk persegi. "Apa ini?" serunya menatap Philip dengan senyuman merekah.


"Sedikit hadiah, aku tidak punya keberanian memberikan secara langsung tadi malam."


Serenade menggeleng. "Oh tidak, sebaiknya memang tidak. Reputasi Yang Mulia adalah hal yang utama. Tadi saya juga berinisiatif untuk menunggu Yang Mulia di lobby, saya takut ada yang mengenali."


"Dikenali pun tidak masalah." timpal Philip acuh. "Tolong jangan formal seperti ini, Nada."


Serenade tersenyum tipis tepat ke arah Philip. Siang yang indah, batinnya.


"Baiklah, kita akan kemana?"


Sejenak Philip pasangan kencannya lalu tersenyum. "Apakah kau tidak mabuk laut?"


Manik biru Serenade melebar, alisnya terangkat, bibir mungilnya membulat. "Aku tidak gampang mabuk." sahutnya.


"Senang mendengarnya, My Lady." Philip mengerling, jelas ia melihat wajah Serenade memerah.


...



Philip meminta pelayan mini bar untuk gelasnya, bersamaan pelayan lainnya membawakan menu makanan yang diletakkan di atas meja persegi. Serenade yang tadi berdiri di sisi depan perahu membalikkan badan, ketika mendengar Philip berbincang dengan para pelayan.


"Kemarilah, kita makan siang." ajak Philip seraya mengulurkan tangan untuk membantu Serenade turun menuju ruang makan.


"Aku sangat terhibur." kata Serenade memandang penuh rasa terima kasih.


"Senang mendengarnya. Aku pikir kau masih lelah dan mungkin menggunakan hari ini untuk beristirahat total."


"Tidak, aku justru membutuhkan hal seperti ini. Sungguh, terima kasih banyak Yang Mulia." Serenade menimpali sambil mendudukkan tubuh kemudian mendongak pada sosok Philip yang masih berdiri. "Tapi ini sudah sore, berarti bukan makan siang."


Serenade tertawa, Philip terbius memerhatikan setiap detil wanita yang membuat jantungnya berdebar tak wajar. Ia menghela napas panjang sambil duduk di sebelah Serenade.


"Aku terlambat bangun, sarapanku jam 11 tadi. Ini bukan aku yang sebenarnya. Tapi tidak masalah jika sesekali menikmati libur dengan bangun siang, bukan?" ucap Philip sedikit bercanda.


Anggukan kepala yang ringan dari Serenade membuat Philip lagi-lagi tersenyum. "Aku tidak bisa tidur lama, Yang Mulia. Seluruh keluargaku berada di apartemen, kami mampu membayar beberapa kamar yang luas di hotel berbintang, namun mama bersikeras semua orang menginap di apartemen karena mereka akan memasak masakan Asia."


Manik Philip menyipit seiring tawanya keluar renyah. "Aku sedikit paham dengan kebiasaan orang Asia."


Kemudian keduanya terdiam menikmati suguhan chef yang sengaja Philip hire, bukan sembarang chef. Terbukti dengan masakan-masakan Chef Thomas sukses membungkam bibirnya untuk berbicara dengan Serenade, begitupun dengan wanita di sampingnya. Sesekali ia mendengar gumam pelan tapi panjang keluar dari mulut Serenade.


"Apakah aku boleh bertanya?" cetus Philip ketika Serenade telah mengakhiri sesi makan sorenya. Manik biru seperti lautan itu melebar lalu mengerjap.


"Ya?" Serenade tertawa pelan sekilas menunduk kemudian menoleh ke arah Philip.


Manik lion Philip menegang kemudian melembut, seiring bahunya bergerak turun. "Apakah kau telah menjadi kekasih Prince Onyx?"


Pertanyaan Philip yang tiba-tiba membuat Serenade tersentak. "Tidak.. belum, aku tidak.." jawabnya terbata-bata.


Philip menghela napas lega. "Berarti kalian bukan sepasang kekasih." putusnya.


"Yang Mulia." Serenade mengerang lirih.


"Kenapa?" Philip tersenyum. "Jujur ketika aku mengetahui Onyx menghabiskan waktu denganmu, saat itu aku berpikir Nada akan menjadi calon permaisuri Mersia, bukan Swedia."


Serenade terdiam, tangannya saling menangkup di atas roknya.


"Saya tidak pernah berpacaran, Yang Mulia." kata Serenade semenit kemudian. "Sebenarnya saya tidak tertarik untuk menjalin hubungan seperti itu."


"Apakah ingin langsung menikah?" tembak Philip. Mangsa di sampingnya spontan menutup bibir. "Sekarang ada dua pangeran menyukaimu, Lady Rajendra. Yang mana akan kau pilih?"


"Maafkan saya, Yang Mulia." Serenade mengatasi kegusaran hatinya dengan beranjak dengan tiba-tiba. Berjalan kembali ke arah dek depan, Philip mengikutinya.


Philip memilih ikut diam, tidak mengejar jawaban-jawaban yang terlontar dari bibir Serenade. Tubuh mereka tergoyang pelan oleh ombak, angin meniup surai indah berwarna emas, beberapa helai menampar halus pipi Philip. Darahnya berdesir, ia ingin mendekap tubuh wanita itu.


"Yang Mulia." panggil Serenade.


"Ya? Ada yang ingin kau katakan, Lady?" ia memandang wanita cantik itu.


"Ada dua pangeran yang mungkin sedang menyukaiku."


"Jangan katakan mungkin. Kami berdua terbang jauh dari kerajaan masing-masing demi dirimu. Kata mungkin suka sepertinya tidak tepat untuk situasi yang terjadi." sanggah Philip.


"Ya, aku hilangkan kata mungkin." Serenade menarik napasnya. "Dua pangeran menyukaiku, jujur kalian berdua sangat hebat. Bisa jadi Tuhan mengasihiku di umurku yang sekarang dengan mengirimkan dua pangeran sehebat kalian. Aku anak yang tidak pernah melihat dan mengenal ayah kandungku sendiri. Aku takut, Yang Mulia. Berada di posisi ini. Baik Onyx dan Yang Mulia memiliki tanggung jawab besar dan wanita yang akan menemani nanti, bukan wanita rendahan, bukan wanita seperti aku."


"Boleh aku menggenggam tanganmu?" Philip mengulurkan tangan, dengan ragu Serenade meletakkan jemarinya.


"Tidak perlu takut, Onyx dan aku telah ditempa sebaik mungkin untuk menjalankan tugas itu kelak. Kami sekarang sedang mencari wanita yang kami sukai untuk menemani perjalanan hidup panjang itu. Aku pernah tergila-gila mencintai seorang wanita, namun salah ketika mendekatinya. Dia membenciku. Aku tidak berhasil mendapatkannya. Kemudian aku menikah dengan Princess Lou, namun pernikahan itu tidak berjalan mulus."


Serenade mengangguk lemah. "Kau telah menceritakan itu, Yang Mulia."


"Secara garis besar. Dari dua kegagalan itu aku sadar jika cinta tidak bisa dipaksakan. Sekarang pun begitu, aku hanya berusaha mendekatimu, memberikan yang terbaik yang aku bisa. Namun semua kembali kepada seorang Serenade dalam menentukan pilihan. Onyx atau aku, tidak ada ruginya bagimu. Hanya ada satu pangeran tak terpilih harus mencari pasangan lain, bukan?"


"Siapa wanita itu?" tanya Serenade.


Philip tertawa. "Dia telah hidup bahagia." kilahnya cepat.


Jawaban Philip tidak berhasil membuat Serenade puas. "Yang Mulia masih mencintainya?"


"Aku tidak mungkin berada di sampingmu jika masih mencintainya. Tapi aku pernah memiliki kurang separuh hati untuk hidup." sanggah Philih, memberikan jawaban sejujurnya.


"Karena sebagian Yang Mulia habiskan untuk wanita itu?" tebak Serenade.


Philip mengembuskan napas panjang lalu mengangguk. "Hampir semua manusia di dunia ini pernah merasakan kehilangan, Nada."


Tidak, Philip tidak akan mengatakan jika separuh hatinya berada di tubuh kakak kesayangan Serenade. Ini akan menjadi mudah baginya mendapatkan wanita itu. Dan bukan dengan cara seperti yang ia inginkan, menang karena rasa simpati.


"Tolong pikirkan aku." harap Philip.


"Lebih banyak..."


###




alo kesayangan💕,


aku datang lagi, Mersia butuh 3 hari untuk ditulis..


semoga kalian menyukainya..


Team Philip atau Team Onyx?


love,


D😘