MERSIA

MERSIA
Good Answer



...Para Pewaris Tahta...


Hawaii membaca titel dari artikel majalah yang diberikan secara sukarela oleh kelompok mahasiswi di kampusnya. Pun Hawaii telah berkenalan resmi dengan kelompok middle up tersebut, mereka adalah Sabine, Ivy, Julie, Karin dan Tarita. Mereka cukup ramah kepada Hawaii walau outfit yang mereka dikenakan bak toko branded yang tengah berjalan di universitas. Hawaii menyukai keterbukaan Ivy kepada mahasiswa sepertinya. Hawaii berada jauh dari strata ekonomi kelompok itu. Ivy tidak banyak bertanya tentang rasa syok melanda Hawaii dan senang hati memberikan majalah tersebut lalu meninggalkan bangku bersama teman-temannya.


Dari majalah tersebut Hawaii akhirnya paham dan mengetahui siapa saja para pangeran yang akan naik tahta pada kerajaan masing-masing. Salah satunya adalah Tuan Alistaire. Pun Hawaii memberanikan diri untuk mencari berita tentang Prince Alistaire Onyx lewat ponselnya. Banyak hal ia ketahui dalam waktu singkat, bahkan berita tentang kedekatan pewaris tahta itu dengan Princess Stephani dari Kerajaan Luxembourg.


Andai saja ponsel itu ia beli dengan menggunakan uangnya sendiri, sedari tadi Hawaii sudah melemparkan benda tersebut ke lantai. Ia teramat kesal, terjebak oleh perasaan memuja, mencinta kepada pria yang begitu indah dan sempurna. Saat di mansion walau Tuan Alistaire mengenakan pakaian kasual namun tetap memancarkan pesona sebagai pria yang dengan kelas yang berbeda dengannya. Tidak ada cela pada kulit sempurnanya, tidak ada luka menghiasi tangannya. Sepasang tungkai panjang dengan kaki yang putih.


Hawaii menggeleng lemah lalu mendesah. Sedetik kemudian rahangnya mengeras kemudian melunak seiring ia menghela napas.


Pikirannya kembali dikuasai oleh Prince Alistaire Onyx, satu-satunya pria yang ia kenal memiliki pribadi yang sangat sangat berbeda . Tuan Alistaire adalah seorang pewaris tahta, itu adalah jawaban realistisnya. Tak ada yang perlu diperdebatkan lagi.


Hawaii menatap ponselnya berharap ia menerima balasan email dari Tuan Alistaire namun tak ada tanda notifikasi yang masuk. Ia kembali menggeram kesal.


"Putri kesayanganku, Mamo membawakanmu sarapan," Jeanne terlihat riang pagi itu. Ia meletakkan nampan berisi sarapan di atas meja di ruang tengah, tempat favorit Hawaii.


"Mamo jadi ke kota?" tanya Hawaii meraih gelas berisi susu dan menenggaknya hingga separuh.


Jeanne mengedutkan alis. "Tentu saja, Mama harus mengurus perijinan resto kecil kita. Doakan semuanya lancar. Hei, ada apa dengan majalah itu? Dari kemarin Mama lihat tidak pernah lepas dari tanganmu, Sayang?"


Hawaii melirik sekilas kemudian menggeleng. "Tidak ada apa-apa," sahutnya dan menggigit sandwichnya.


Jeanne tidak mau percaya begitu saja akan penjelasan anaknya. Saat Hawaii lengah ia menarik majalah tersebut.


"Mamo!" seru Hawaii sampai hampir tersedak.


"Minum susunya," Jeanne tidak mau diganggu, ia membuka majalah itu dengan tidak sabaran. Matanya jeli dan cepat menemukan sesuatu yang disembunyikan Hawaii.


Jeanne terdiam, Hawaii berdebar menanti reaksi sang mama. Lima menit kemudian majalah terkuak diletakkan di depan Hawaii.


"Jangan katakan pria ini adalah Tuan Alistaire-mu?" tanya Jeanne menunjuk foto dengan jemari yang gemetar.


Hati Hawaii sakit melihat gambar di dalam majalah. "Ya," singkatnya mengakui.


Jeanne terduduk di kursi, ia membekap bibirnya. Bola matanya membelalak. "Tuhan!"


Hawaii tidak bisa menanggapi reaksi syok mamanya. Ia menghabiskan sarapannya sambil mendengarkan suara-suara percakapan para tukang yang mulai berdatangan. Sebuah pengalihan yang jauh dari sempurna.


"Seorang putra mahkota," suara Jeanne lemah lalu ia berdecak. "Lihat, dia sungguh tampan. Wajar kalau kau tertarik dengannya,"


Hawaii memejamkan mata sejenak sambil menghela napas. Ia kehilangan kata-kata.


Jeanne sudah mulai bisa mengatasi rasa kagetnya. Ia kini berbicara lebih banyak. "Jadi bagaimana? Apakah kau akan terus membalas pesannya? Apakah kau akan mengatakan jika sudah tahu bahwa dia adalah seorang putra mahkota? Hawaii Capucine, tolong dijawab!" perintah sang mama melihat anaknya termenung.


"Aku tidak tahu, Mamo. Sungguh aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Kepalaku pusing memikirkan hal ini," keluh Hawaii meremas surainya.


"Sayang," bujuk Jeanne menangkap bahasa tubuh Hawaii yang sangat berbeda dari hari biasanya.


"Mamo," erang Hawaii, manik hazelnya berkaca-kaca.


Jeanne menggenggam jemari Hawaii. "Kau harus menenangkan pikiranmu terlebih dahulu. Mama pikir Prince Alistaire alias Tuan Alistaire sengaja tidak ingin menunjukkan siapa dia yang sebenarnya. Banyak hal yang menjadi alasan, mungkin dia tidak ingin kau takut dan menjaga jarak," alis Jeanne terangkat sambil mengangkat bahu.


Hawaii menghapus cairan kristal yang jatuh di pipinya. Ia hanya mengangguk dengan bibir terkatup.


"Dengan menutupi identitasnya bukan berarti dia seorang pembohong, Sayang. Orang-orang seperti mereka yang ada di dalam majalah tentu saja memiliki pertimbangan matang ketika melakukan segala sesuatu. Kau pasti tidak bisa berteman dengan dia jika tahu Tuan Alistaire adalah seorang calon raja. Semua akses yang mudah untuk bertemu dengannya di mansion itu tentu saja atas persetujuannya,"


"Iya, aku bebas masuk ke sana," Hawaii mengingat akses ke mansion tanpa banyak pertanyaan malah ia sangat dibantu oleh para penjaga.


Manik Hawaii sedikit menyala. Ia akhir bisa tersenyum walau tipis. "Terima kasih, Mamo. Aku bisa mengerti arah pembicaraan ini,"


Jeanne tersenyum bijak, ia kemudian beranjak dari duduknya. Jeanne memandang Hawaii sambil berpikir. "Sayang, menurutmu apakah Mama perlu membeli pakaian yang bagus? Sebuah gaun jika saja Prince Alistaire berkunjung ke La Caravelle, tentu Mama tidak ingin mengenakan pakaian seperti ini,"


"Mamo!" pekik Hawaii sambil berdiri. "Itu tidak akan terjadi, seorang pangeran tidak akan menginjakkan kaki di penginapan kita. Untuk membalas emailku saja dia tidak memiliki waktu apalagi berkunjung ke danau. Dia pasti sangat sibuk,"


Jeanne mencubit pipi Hawaii gemas. "Mama tidak bisa membayangkan jika pangeran itu benar-benar menyukaimu. Mama tidak matrealistis, tapi sejak mengenal pangeranmu, hidup kita semakin membaik. Berjanjilah sayang, tetap menjadi dirimu yang sekarang, entah hal baik apa menunggumu di masa depan. Ya?"


"Hawaii berjanji, Mamo. Dan Mamo tidah boleh bermimpi hal tidak-tidak. Prince Alistaire adalah orang sederhana, tidak melihat seseorang dari pakaiannya," Hawaii tersenyum kecil. "Oh ya, mungkin lebih baik aku menerima tawaran Antoine, dia mengajakku makan malam bersama,"


"Terserah kamu, Sayang. Ada baiknya berteman dengan Antoine. Dia anak yang baik seperti papanya. Kita mencoba hidup realistis dan kau pun masih sangat muda," Jeanne memberikan kecupan di pipi Hawaii. "Lihat Antoine, dia sudah datang. Keluar sana dan katakan jika kau menerima tawarannya,"


"Baik, Mamo. Aku cuci dulu piring dan gelas kotorku," Hawaii lebih ceria, ia pun meninggalkan majalahnya di atas meja tanpa ada beban sedikitpun. Usia muda membuatnya lebih gampang untuk melupakan. Mungkin!


###


Hari menjelang sore ketika Philip mengemudikan perahu meninggalkan dermaga. 6 orang pengawalnya bertahan di pinggir daratan atas perintahnya untuk memberikannya privasi. Philip ingin menghabiskan hari bersama dengan tunangannya. Serenade tampak sangat bahagia. Bibir tipis itu terus menyunggingkan senyuman bahkan tadi sempat melantunkan lagu cinta. Philip sangat terhibur.


"Yang Mulia, ini seperti pertemuan kita di New York. Berlayar hingga matahari tenggelam. Apakah Yang Mulia pernah menonton film..." jeda Serenade memandang pria bertubuh tinggi kekar dibalik kemudi.


Bibir Philip terangkat sebelah. "Film apa, My Lady?"


Serenade menggeleng. "Tidak jadi,"


Philip menghentikan perahu di tengah dan menurunkan jangkar. "Katakan," teriaknya sambil tertawa. Ia sungguh gemas akan tingkah Serenade yang sangat suka mempermainkan dirinya.


Serenade berjalan menghampiri lalu menarik tangan Philip. "Film Pearl Harbor. Aku suka menonton film lama dan adegan favoritku adalah ketika Danny mengajak Evelyn terbang untuk melihat matahari tenggelam itu sangat indah,"


"Kemudian mereka bercinta di hanggar di atas parasut," sahut Philip tersenyum jahil.


Serenade terpekik dengan wajah memerah. "Bukan itu maksudku, Yang Mulia!" Serenade memukul pelan dada Philip lalu memeluknya.


Serenade mengangkat kepala. Ia menganguk senang. "Iya, adegan di atas pesawat itu mengambil hatiku. Sangat romantis,"


"Besok, kita akan terbang besok sore," Philip langsung menyetujui keinginan kekasihnya yang sangat mudah. Ia kemudian mengecup singat bibir Serenade lalu mengurai pelukan.


"Jika kau berada di posisi Evelyn, siapa yang akan kau pilih, My Lady?" tanya Philip perlahan membuka kancing bajunya. Serenade memalingkan muka yang mendadak panas dan tenggorokannya tercekat.


"Apa yang kau lakukan, Yang Mulia?" tanya Serenade melihat Philip membuka celana panjangnya dengan santai.


Philip kini berkacak pinggang hanya mengenakan ****** ***** berwarna hitam. "Tentu saja berenang. Kita akan berenang,"


Serenade hanya melirik sekilas, dadanya bertalu, tangannya meremas kuat besi pembatas perahu. Kakinya semakin melemah merasakan Philip yang semakin mendekat. Pria yang sungguh panas, tubuhnya memancarkan gairah.


"Aku bertanya, siapa yang akan kau pilih jika kau jadi Evelyn?" tanya Philip sambil memeluk pinggang Serenade.


"Aku...," Serenade terbata-bata.


Philip merunduk, hidungnya membaui pipi sekaligus menggoda Serenade. "Hmmm.."


"Aku akan memilih Danny, pria lainnya. Sama dengan kisah kita, aku memilihmu," jawab Serenade.


Philip mendesah pendek dan tersenyum. Ia mengecup basah pipi Serenade. "Good answer, My Lady,"


Philip menangkup pipi Serenade dan melabuhkan ciuman yang panjang. "Ganti bajumu, aku menunggu di bawah," katanya parau usai menyudahi ciuman lima menit yang membuat darahnya mendidih, pun gairah mencapai di pucuk kepala. Philip langsung terjun ke air, meredakan hawa nafsu.


Tinggallah Serenade terduduk sambil menekan dadanya. "Aku bisa pingsan berada di dekatnya," lirih Serenade memandang Philip yang sedang berenang. Punggungnya yang lebar dan berotot, lengannya sedang mengayuh menjauh dari perahu.


"Lady Serenade Rajendra, tunanganmu menunggu," teriak Philip sambil melambaikan tangan. Ia tahu apa yang terjadi pada kekasihnya, bedanya ia masih bisa menguasai diri.


Serenade mengambil napas panjang. Kemudian berdiri terus berjalan ke arah tempat Philip meletakkan bajunya. Ia pun membuka blus dan celana kainnya yang berwarna hitam. Serenade tidak percaya diri, walau ia mempersiapkan dengan mengenakan bikini two piece berwarna hitam di dalam pakaian sopannya. Namun ia malu memperlihatkan tubuhnya yang hampir polos di depan Philip.


"Sayangku..." Panggil Philip tidak sabaran. Dan buah ketidaksabarannya adalah ia tidak bisa melepaskan pandangan pada sosok indah yang berjalan ke tepi perahu dalam balutan bikini berwarna hitam.


"Cantik," seru Philip mengayuh lengannya menghampiri kapal. "Turunlah," katanya memberikan ruang agar Serenade menceburkan diri.


Serenade menggigit bibirnya, di bawah sana ada dua hal yang bisa menenggelamkan. Laut dan sang pewaris tahta yang rupawan.


"Bisa berenang, bukan?"


Serenade mengangguk kemudian tidak berpikir panjang lagi dan bergabung dengan Philip.


Byurr.... Bunyi air memecah ketika Serenade melompat ke dalam air.


Philip ikut menyelam ketika Serenade berada di bawah air akibat momentum.


Philip merengkuh pinggang Serenade hingga mencapai permukaan air. Kedua tubuh merapat, kaki-kaki mereka bergerak di dalam air. Sorot lion Philip tenggelam dalam birunya manik Serenade. Ia menelan saliva akan wajah Serenade yang menggoda juga terlihat polos.


"Aku mencintaimu, My Lady," tangan kanan Philip membelai pipi Serenade dengan lembut. Manik biru itu memejam menikmati sentuhan. "Kau sangat indah, wajahmu yang cantik dan tubuhmu.." tangan kiri Philip semakin merapatkan tubuh mereka.


Perlahan Serenade membuka mata, manik lion itu seakan menerkamnya, ia berada dalam mantra hipnotis terkuat di dunia. "Cium aku, Philip," katanya dengan sangat lembut ketika meminta.


Dada Philip memecah di tengah lautan. Serenade menyebut namanya di antara gelombang cinta dan gairah. Sebuah momen yang tepat dan indah.


"Ini akan menjadi malam yang panjang bagi kita, My Lady. Sangat panjang," ucapnya serak kemudian memenuhi permintaan Serenade. Lebih dari keinginan Serenade juga melebihi ciuman-ciuman mereka yang sebelumnya.


Mereka menghabiskan sore hari itu dengan mengantikan panasnya matahari yang perlahan jatuh di ufuk barat.


###






Alo Kesayangan💕,


Kalian panas? ahh jangan..


ini belum apa-apa, eh..


oh yah, novel baru akan terbit. sisa menunggu proses review dari pihak MT.


novel no kerajaan2 pokoknya 🤣.


novel dari sudut pandang pria, yang kebanyakan drama tersaji dr pihak wanita bukan?


judul novelnya "Payung Kemarau"


sering-sering saja cek akun ini, Ladies.


love,


D😘