MERSIA

MERSIA
Don't Stop Me Now



“Terima kasih telah menerima pinanganku, Princess Hiver.” kata Philip dengan senyuman lebar, manik lionnya menyala.


Hiver menarik napas sepelan mungkin. Keduanya berada di bangku taman Palace Mersia, dan pria di sebelah Hiver kembali datang tanpa di undang. Setidaknya tanpa sepengetahun sang putri.


“Aku tidak ada pilihan lain, Prince Philip.” Jawab Hiver tanpa menoleh lagi.


Suara tawa Philip terdengar renyah “Kau terdengar tidak ikhlas.”


Alih-alih tersenyum, Hiver malah mendengus geli “Prince Philip Bernadotte, jujur aku tidak ikhlas dan tidak siap dengan pertunangan ini. Kau licik dalam mencari cara untuk memilikiku.”


Pria tampan berwangi maskulin panas itu kembali tertawa “Semua pria harus mempunyai taktik untuk mendapatkan pujaan hatinya. Apalagi untukmu, sayang. Syukurnya aku mendapatkan caranya.”


Manik hijau menajam ke arah Philip, pria tampan yang sedang menyeringai senang “Itu uang tidak sedikit dan menurut King Robert sebagian besar masuk ke kantong Dewan Kerajaan. Kau terlalu boros, Prince Philip dan maaf, mungkin juga bodoh.”


Tangan kokoh Philip menekan perutnya yang berotot padat, pria itu terbahak tawa yang keras.


“Aku tidak bodoh, sayang. Terbukti dengan gelar summa claude yang aku dapatkan. Tapi hanya dengan itu aku bisa masuk ke dalam Mersia. Aku sangat tahu jika Dewan Kerajaan kalian Yang Terhormat itu hanya mencari cara agar beberapa uangku masuk ke kantongnya. Tapi, hanya mereka yang bisa menekan King Robert, sayang. Berbekal dengan pengalaman ditolak oleh King Robert membuatku menempuh jalan lain.”


“Aku heran kenapa tindakan korupsi seperti itu dibiarkan oleh raja kami.” Sahut Hiver lirih.


“Aku pikir saudara kakekmu berperan besar di situ, Princess Hiver. Aku pernah bertemu dengannya, dan dia –lah yang memberikan solusi untuk mendapatkanmu. Ya, aku pikir sarannya sangat bagus. Tolong, jangan membencinya. Apa yang Dewan Kerajaan lakukan ini adalah suatu bentuk kekhawatiran karena putri pertama Mersia belum juga menikah.”


Hiver tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan dengusan kasar “Ada apa dengan pemikiran orang-orang tua itu? Usiaku baru akan menginjak 28 tahun, sedangkan King Robert saja beserta ratu tidak mempermasalahkan dengan keinginanku yang masih ingin melajang.”


Philip tersenyum simpul “Bagi kehidupan monarki yang kita jalani itu termasuk sangat lambat untuk seorang wanita, Princess Hiver. Saudariku umumnya menikah di usia 21 tahun. Hanya aku yang bertahan hingga 30an, itu karena menunggu seorang putri dari Mersia.”


Philip menoleh memandang raut wajah cantik alami calon permaisurinya, sosok sempurna yang membuatnya tergila-gila hingga kehadiran wanita lain tidak lagi ada harganya.


“Aku tidak bisa membayangkan hidup bersamamu, Tuan Bernadotte. Aku belum pernah pergi ke Swedia, tidak pernah mencari tahu pengetahuan tentang karakter alamnya, penduduknya, terlebih dirimu adalah sosok asing bagiku.”


Philip memiringkan tubuh tegapnya ke arah Hiver, manik lion menyala itu menatap lembut “Perlahan kau akan menguasai semuanya, sayang. Aku akan membimbingmu. Kita hanya perlu menikah dan aku akan membawamu ke Swedia. Tidak ingin membandingkan, namun bagiku di sana lebih nyaman dibandingkan Mersia.”


Hiver tersenyum hambar “Kau pasti akan terus memperjuangkan tempat kelahiranmu, begitupun denganku, Prince Philip. Andai saja ada opsi lain, aku tidak akan memilihmu.” Ucapnnya sambil beranjak dari kursi.


Philip bergerak mengikuti pergerakan langkah kaki Hiver yang menyusuri taman bunga tersebut, tampak beberapa pengawal dan staff kerajaan menjadi saksi kebersamaan mereka.


“Kenapa kau bisa mengatakan hal seperti itu, Princess Hiver?” tanya Philip dalam langkah kaki yang dinamis dengan si gadis bersurai hitam.


Tanpa menoleh Hiver mengukir sebuah senyuman tipis di bibirnya “Seperti aku bilang tadi, jika aku tidak mempunyai hati untukmu, apa yang kita lakukan ini semata adalah pernikahan dua kerajaan besar. Penikahan politik, sementara aku punya alasan pribadi yang tidak bisa dibicarakan kepadamu.”


Alis Philip mengerut, bibirnya saling mengatup “Alasan pribadi seperti apa? Apakah aku menghalangi sebuah kisah percintaan putri Mersia? Tapi sepengetahuanku kau tidak memiliki seorang kekasih, sayang.”


Hiver menghentikan langkah dan menatap paras rupawan dan sosok dominan pangeran Swedia itu “Tidak memiliki kekasih bukan berarti tidak pernah merasakan cinta, Tuan Bernadotte. Aku tidak perlu tahu masa lalumu, begitupun dirimu tidak perlu tahu apa yang pernah terjadi pada diriku sebelum kita bertemu. Andai saja memang kita ditakdirkan menikah, hanya ada masa depan yang perlu dipikirkan. Aku tidak akan pernah peduli dengan cerita burukmu di masa lalu. Aku juga tidak akan peduli jika kau masih menemui wanita-wanita pemuas nafsumu itu, Prince Philip.”


“Kau terdengar pasrah dengan perjodohan ini, sayang. Bagaimana jika aku benar-benar mencintaimu? Dan menyerahkan seluruh hidupku hanya untuk bersamamu.” Sergah Philip dengan cepat.


Hiver tersenyum sinis “Tidak banyak pria yang aku percaya, hanya King Robert, Onyx dan Cyrus. Selebihnya mereka sama. Umumnya para pria tidak bisa di pegang perkataannya.”


Philip menangkup bibirnya lalu tertawa ringan “Entah siapa pria yang menghancurkan hatimu, Princess Marjorie Hiver. Tapi aku jamin, aku jauh lebih baik dari dirinya.”


Hiver terkesan tidak mempedulikan perkataan Philip, ia kembali bergerak dengan kaki yang mengenakan stiletto berwarna dark brown.


“Mungkin saja perkataanmu itu benar, karena seorang pria sejati tidak akan pernah mengecewakan hati seorang wanita. Aku berharap, pertunangan kita juga tidak membuat banyak wanita meraung di luar sana karena langkahmu ini, Prince Philip.”


Pria maskulin mengenakan suit berwarna coklat, dipadu celana hitam itu membeku di tempatnya berdiri. Seketika ingatan Philip melayang kepada satu sosok wanita, yakni Sofia Holmberg.



Tepat pada hari ke 6 di awal bulan Desember, ketika semua tanaman membeku karena cuaca dingin di Mersia. Di saat yang sama, putri pertama dari King Robert akan menerima pinangan Prince Philip Bernadotte, dari Kerajaan Swedia.


Sebuah acara pertunangan yang hanya diketahui oleh dua keluarga kerajaan, beberapa orang luar mungkin saja mencium berita bahagia itu. Namun King Robert menahan berita besar tersebut tersebar luas seantero negeri.


“Kau sangat cantik, big sis.” Cyrus memuja Hiver yang sedang dipasangkan mahkota yang senada dengan gaunnya.


Lewat pantulan cermin Hiver menyunggingkan sebuah senyuman tipis kepada pria yang mengenakan suit berwarna abu gelap.


“Terima kasih, Prince Cyrus.”


Tak lama kemudian penata rias Hiver memastikan jika penampilan sang putri benar-benar telah sempurna, Cyrus lalu meraih jemari tangan Hiver dan menuntunnya menuju ruangan ballroom terbesar Palace Mersia. Sebenarnya butuh waktu lebih dari 10 menit untuk mencapai ruangan tersebut, kesempatan itu digunakan oleh kakak beradik untuk saling bercakap-cakap.


“Akhirnya semua orang menemukan jodohnya.” Cyrus bergumam seraya memamerkan senyuman manisnya kepada sang kakak yang nampak datar dan mungkin juga ketakutan.


“Aku tidak bisa melakukan ini, Cyrus. Tanganku dingin, jantungku rasanya hampir jatuh. Apa yang harus aku lakukan?” kata Hiver lirih dan serak. Manik hijaunya mulai berkabut, tangannya gemetar dalam gamitan Cyrus.


Cyrus yang ditunjuk untuk menemani Hiver menggelengkan kepala “Tidak ada yang bisa aku lakukan untukmu, big sis. Kejadian hari ini bukan hal yang sama ketika menyelundupkanmu keluar dari Palace untuk bertemu dengan River di Dundas. Bahkan papa tidak bisa melawan Dewan Kerajaan, apalagi posisiku yang hanya sebagai pangeran kedua. Tidak ada jalan lain, big sis. Maafkan aku.” erangnya penuh penyesalan.


Tubuh Hiver semakin gemetar, langkah kakinya semakin berat. Cyrus sadar apa yang terjadi pada kakaknya, ia pun melepaskan gamitan tangan lalu merengkuh tubuh Hiver dengan erat di tengah selasar luas Palace Mersia.


Keduanya tidak mempedulikan puluhan mata yang menatap tingkah mereka dalam melanggar protokol kerajaan. Cyrus mengakhiri pelukan dengan sebuah kecupan di kening kakaknya.


“Semua akan baik-baik saja, Princess Marjorie Hiver. Mungkin ini hanya sebuah awal yang berat namun nantinya akan lebih mudah. Setidaknya kau akan menjadi seorang permaisuri dari sebuah kerajaan besar, big sis.” Cyrus mencoba menghibur sambil menggelengkan kepala ketika melihat kristal tebal mengumpul pada manik hijau Hiver.


Hiver mendesah lalu berdeham kuat, mengembalikan perih sebesar biji kedondong di tenggorokan kembali ke dasar hatinya.


“Ketika semua orang tidak berkutik dan pasrah melihatku di umpankan masuk ke dalam lubang buaya.” Celetuknya lalu menarik napas panjang.


Cyrus terkekeh kemudian kembali menggamit tangan Hiver “Lubang buaya tersebut bernama Kerajaan Swedia, big sis. Seorang pria yang sangat tampan akan menjadi suamimu tidak lama setelah pesta hari ini.”


Hiver mendesah “Sebenarnya aku tidak butuh itu semua, Cyrus. Tampan terlebih punya kerajaan, yang terpenting aku bisa mencintainya.”


Hiver memejamkan mata kembali menarik napas dalam.


Andai saja ia mau menunggu, selama setahun untuk River seperti yang tertulis di dalam suratnya. Tapi Hiver adalah seorang wanita yang memiliki harga diri yang sangat tinggi. Ia tidak mungkin merebut suami orang, walaupun isi surat tersebut mengutarakan cinta yang teramat besar. Harusnya Hiver bahagia dengan janji River, tapi tidak. Malaikat dalam kepalanya meneriakkan perintah untuk mengambil jalan lain, yakni menerima Prince Philip. Itu semua ia lakukan agar River tidak menceraikan Carole. Walau sekarang ia harus tertatih untuk berada di samping sosok Philip yang dominan.


Mata Hiver melebar ketika melihat sosok wanita cantik berjalan menghampiri mereka sebelum memasuki area ballroom.


“Princess Marjorie, kau sangat cantik. Sebuah kesempatan langka melihatmu mengenakan mahkota.” Puji wanita yang mengenakan gaun berwarna biru, seperti warna maniknya.


Cyrus tersenyum kepada wanita tersebut sembari melepaskan gamitan tangan.


“Terima kasih telah datang ke Mersia, Miss Autumm Terra.” Sambut Hiver memanggil nama lengkap saudari kembar River seraya menerima pelukan hangat wanita cantik tersebut.


Autumm menarik ke belakang tubuhnya dan memerhatikan wajah Hiver “Aku tidak datang sendiri tapi bersama dengan daddy dan mommy. Kami bertiga terbang untuk hari bahagiamu, my dear.” Ujarnya sambil membelai wajah Hiver dengan lembut dan penuh kasih sayang.


“Terima kasih, Kak Autumm. Apakah hanya kalian bertiga?” Hiver bertanya untuk memastikan rasa penasarannya.


Autumm melepaskan pelukan seraya mengukir senyuman indah merekah, sebuah garis senyum yang sama persis dengan River.


“River dan Carole melanjutkan bulan madu ke Asia. Lucunya, River baru memutuskan pergi ke Asia 2 hari yang lalu, maksudku terkesan terburu-buru. Kaia sibuk dengan kuliahnya dan Orion..” Autumm terkekeh sambil menaikkan telapak tangannya bersamaan dengan bahunya di angkat.


Hiver mendengus dengan hati yang perih.


“Orion tidak pernah bisa meninggalkan mansionnya. Tapi, dia tahu jika kau akan bertunangan dengan Prince Philip, my dear. Daddy telah mengabarkan kepada semua anak-anaknya, dan sebenarnya penuh harap agar kami semua ikut serta ke Mersia. Ya, tahu sendiri kita adalah dua keluarga yang sangat dekat, dan ini merupakan pesta besar pertama di helat Kerajaan Mersia. Bukan begitu, Cyrus?” sambung Autumm menatap pangeran muda Mersia yang wajahnya menyiratkan ketenangan yang tidak bisa ia di baca.


“Ya benar sekali, Miss Terra.” Jawab Cyrus dengan sopan seraya tersenyum simpul.


Autumm ikut tersenyum “Sekarang saatnya Princess Marjorie menemui pangerannya.” Ucapnya bergerak ke samping untuk memberikan jalan agar Hiver dan Cyrus melanjutkan perjalanan mereka masuk ke dalam ballroom yang sangat megah dan antik.


Sekitar 300 orang berada di dalam ballroom yang tampak mengenakan pakaian pesta terbaiknya, orang-orang tersebut adalah gabungan dua kerajaan, yaitu keluarga Princess Marjorie Hiver dan Prince Philip Bernadotte.


Sesaat tadi Hiver telah dikenalkan kepada raja dan ratu Kerajaan Swedia, sangat ramah King Sigvard Bernadotte dan Quenn Inggrid Bernadotte, setidaknya itu adalah kesan pertama yang Hiver terima.


Kini ia berdiri di depan kakeknya, Edward of Mersia, raja sebelum King Robert naik tahta. Di samping Hiver tentu saja berdiri pria yang terus menerus menyunggingkan senyuman lebar dengan penuh rasa bahagia, siapa lagi jika bukan Prince Philip Bernadotte.


“Marjorie Hiver, anakku.” Suara bariton bijak Edward of Mersia yang memimpin acara pertunangan Hiver membuat semua orang memusatkan pandangan kepada mereka.


Hiver menarik napas pendek-pendek sepelan mungkin.


“Hari ini, saya kakekmu Edward of Mersia, akan menyatukan kamu dengan Prince Philip Bernadotte, Duke af Vasterbotten menjadi tunanganmu. Yang nantinya dia akan menyuntingmu sebagai pendamping hidupnya.”


Di tengah gemuruh jantung dan debarannya yang  merobohkan dada, seketika itu pula indera penciumannya di gelitik oleh wangi yang sangat Hiver hapal. Ia pun langsung membalikkan badan, menatap ke arah pintu masuk.


Tubuh Hiver tersentak, lalu tersengal melihat sosok pria berwajah tegang dengan surainya berwarna emas pucat.


Air mata Hiver terurai seiring langkah panjang dan tergesa Orion yang menghampiri tempatnya berada.


Semua orang terdiam dan suasana menjadi sangat tegang.


“Marjorie.” Tanpa pikir panjang Orion meraih jemari tangan Hiver yang gemetar untuk digenggamnya dengan erat. Manik biru gelap menatap tajam ke arah Philip.


“Dia tidak pernah akan jadi milikmu, Yang Mulia.” Ucapnya lantang yang terdengar oleh seantero isi ballroom.


Hiver menunduk dengan rinai air mata jatuh dengan deras dari bola matanya.


Philip terlihat kaget dan tidak bisa melakukan apapun, terlebih melihat derai air mata sang putri.


“Jangan lakukan ini, tuan putri.” Celetuk salah satu Dewan Kerajaan ketika Hiver baru saja melangkah dalam tuntunan tangan Orion.


Pria bersurai emas pucat menahan langkahnya seraya mencari asal suara tersebut dan menatap tak kalah tajam dan dingin dari sebelumnya.


“Aku akan membeli Kerajaan Swedia untuk Marjorie. Jadi kalian jangan berharap bisa menahanku!”


###





alo kesayangan💕,


akhirnya long weekend berakhir,


hari ini aku sama sekali tidak keluar dari rumah.


menantikan para wisatawan itu kembali ke kotanya masing-masing.


yeah, besok Jogja akan kembali ke suasana semula..


dh itu aja curhatnya..


oh maaf yang nunggu Axel mungkin besok yah 😎


love,


D😘