MERSIA

MERSIA
Heart Open



Sepasang manik biru gelap menatap lekat wanita yang sedang tidur, wajahnya seperti bidadari tanpa senyuman. Hiver jarang tersenyum, bahkan


ketika terjaga. Itu pula yang membuat Orion menyukai Hiver, karena ada seorang anak perempuan yang suka menyendiri dan sangat mirip dengannya. Ya, ketika Hiver tidak ditarik River untuk bermain bersama.


Ketika Hiver berkunjung di Lyon, mereka selalu tidur bersama di kamar Autumm. Berbicara hingga larut malam, ketiganya kecuali Orion yang


terdiam mendengarkan celotehan Hiver yang riang. Seiring mereka beranjak dewasa, Orion mulai tertarik dengan dunia yang sama dengan papanya. Mengulang kesuksesan Adrien pada


usia yang sangat dini telah berhasil mengeyam pendidikan di Harvard University.


Di sana Orion tidak memiliki teman, tidak mengenal dunia mahasiswa seperti pada umumnya. Ia hanya tahu, asrama tempat tinggalnya dan ruang perkuliahan. Hampa bagi orang lain, khusus untuk Orion itu sangat menyenangkan, ia tidak perlu berbasa-basi dengan orang yang tidak penting.


Pada usia 19 tahun Orion telah berhasil menyelesaikan program magisternya, dan kembali di Lyon. Tidak ada yang berani merekrut Orion, ia adalah berlian langka dan lahir dengan materi yang melimpah. Orion memilih berkuliah adalah untuk mewujudkan keinginan Adrien, papanya.


Pertemuan Orion dengan Hiver hanya terjadi beberapa kalj ketika mereka beranjak dewasa, tidak sesering River yang leluasa mengajak Hiver untuk wisata bersama.


Tapi semua adalah masa lalu, tak ada yang perlu di sesali. Sekarang yang terpenting bagi Orion bahwa Hiver adalah miliknya. Mereka terikat hubungan suami istri, sangat sakral terlebih Hiver seorang bangsawan yang besar kemungkinan akan menghabiskan usia bersama dengan Orion.


Gerakan lembut tubuh Hiver membuat Orion mengukir senyuman simpul.


“Marjorie.” Ucapnya sepelan mungkin sambil mengusap pipi Hiver. Wanita cantik yang memiliki sebuah kerajaan di Eropa tersebut enggan


membuka mata.


“Hei, bangun.” Orion menahan senyum.


“Biarkan aku tidur, Orion.” Erang Hiver menarik selimutnya dan mengabaikan pria bersurai emas pucat yang duduk di sebelah tubuhnya.


Orion mencubit pipi Hiver “Marjorie, adik-adikmu ada di sini. Mereka sedang menunggu untuk sarapan bersama.”


Manik hijau itu terbuka sedikit, Orion seraya memamerkan senyuman manis kepada wanitanya.


“Aku malas.” Singkat Hiver.


Orion menurunkan kepalanya hingga mencapai telinga Hiver.


“Aku mencintaimu, Marjorie.”


Hiver tersentak, matanya terbuka selebar-lebarnya. Wajah Orion tepat di depan matanya, sang vampir menampakkan gigi-gigi taringnya. Hiver kembali memejamkan mata.


“Tuhan, katakan ini mimpi. Ini hanya mimpi.” Gumamnya komat-kamit. Tangan Hiver mencengkeram selimut pada bagian dada.


Suara tawa manis Orion menjawab segalanya. Hiver kembali membuka matanya.


“Jadi bukan mimpi?” Hiver mendadak bodoh dengan wajah memerah.


Orion mengangguk sambil tersenyum.


“Bangunlah, Marjorie.” Tangan rampingnya meraih jemari lentik Hiver dan segera menariknya pelan untuk turun dari tempat tidur. Hiver bergerak


sesuai arahan tangan Orion yang menuntunnya masuk ke dalam kamar mandi.


“Bersihkan dirimu, aku akan menunggu dan kita akan turun bersama-sama.” Orion mengelus punggung Hiver sebanyak tiga kali, dan sebuah


senyuman yang tak lepas dari bibirnya kemudian hilang ketika pintu kamar mandi tertutup.


Orion berdiri tepat di depan daun pintu, kedua tangan menangkup wajah, menahan napas dengan dada bergemuruh.


“Tuhan, aku mengucapkannya.” Ucapnya sambil kembali berjalan ke arah tempat tidur. Orion linglung berdiri di tepian tempat tidur, ia bingung.


Otaknya mendadak tidak bekerja. Kosong.


Sekitar lima menit Orion terdiam, kemudian isi kepalanya kembali bekerja dengan normal. Ia lalu merapikan tempat tidur, mencari kesibukan sebagai pengalih perhatian dari kejadian tadi.


Pria bersurai emas pucat bergerak cekatan melakukan pekerjaan hariannya, yaitu merapikan tempat tidur yang telah menjadi kebiasaan sejak


dini. Salah satu hal yang aneh lagi tentang Orion yaitu, ia tidak menyukai jika ada orang lain menyentuh tempat tidurnya. Namun lucunya sejak menikah, ia malah berbagi dengan Hiver. Bahkan menyukainya.


Tak lama kemudian terlihat masuk Orion ke dalam walking closet yang berisikan pakaian sang putri, dan memilah pakaian yang pantas dipakai Hiver.


Selama dua minggu bersama, Orion melihat Hiver menyukai mengenakan gaun panjang yang santai ketika siang, terkadang pula sepasang t-shirt dan celana kain panjang. Sungguh berbeda dengan sosoknya yang sangat anggun ketika menghadiri berbagai acara. Orion bukan pemburu berita tentang sang putri Mersia, namun beberapa kali muncul dan menjadi perhatiannya.


Wangi sabun menguar membuat Orion menoleh, sosok Hiver mengenakan bathrobe dengan surainya terbungkus handuk.


“Kau mencuci rambutmu?” tanya Orion membawa pakaian pilihan beserta dalaman untuk Hiver.


“Dengan air hangat.” Jawab Hiver seraya menerima pakaiannya.


“Aku akan membantumu mengeringkannya, Marjorie.” Ucap Orion kemudian duduk di sofa di tengah walking closet dengan santai.


Hiver menautkan alisnya dengan dada berdebar kencang. Sang putri memerhatikan Orion dengan lekat.


“Apakah kau akan berada di sini, Orion? Sementara kau tahu jika aku akan memakai pakaian?” tanya Hiver gugup. Orion menoleh dan mengangguk.


“Berpakaianlah, anggap aku tidak ada. Kau bisa melakukannya di belakangku.”


Sejenak Hiver terpaku memandangi sikap Orion yang sepertinya tidak ingin dibantah, pria mengenakan kemeja biru dengan celana berwarna gading itu duduk tenang bahkan angin kencang pun tidak akan membuatnya meninggalkan ruangan tersebut.


Sambil memegang sangat erat gaun berbahan katun sewarna dengan kemeja Orion, Hiver bergerak menuju bagian belakang sofa berwarna abu dengan dada berdebar kencang.


 “Marjorie, apakah kau masih memikirkan Lou?” tanya Orion pelan tanpa berbalik. Sementara Hiver


tersentak ketika mengenakan dalaman dan hampir terjatuh. Untungnya ruangan tersebut dialasi dengan karpet yang tebal dan lembut di kaki, sangat cukup untuk menahan tubuhnya.


“Ya. Aku sebenarnya ingin menghindari bertatapan dengan Lou. Itu membuat hatiku hancur, Orion. Aku membayangkan adikku yang masih belia dan


harus bersanding dengan pria itu. Philip, dia sungguh gila.” Hiver menggerutu sembari bersusah payah menaikkan resleting gaunnya.


Orion menoleh, dan tersenyum melihat sikap aneh Hiver. Spontan ia pun berdiri dan membantu wanita cantik yang terlihat risih memperlihatkan


punggungnya.


Orion memerhatikan dalaman Hiver yang kontras dengan kulit putihnya. Semua yang melekat di tubuh sang putri adalah pilihannya. Pun ia


sangat puas memiliki seseorang yang bisa menerima semua bentuk perhatiannya.


“Kita lihat saja nanti, Marjorie.” Ujar Orion membawa Hiver menuju meja rias yang juga berada di ruangan tersebut. Dengan cekatan Orion menyalakan hair dryer.


Hiver memerhatikan pekerjaan Orion, pria yang memiliki segalanya. Jangan salahkan jika kehadiran River di hati Hiver yang perlahan


memudar, kini ia telah memiliki pria yang menjadikannya seorang ratu dengan penuh


ketulusan hati.


“Orion.” Hiver menatap pria di belakangnya lewat pantulan cermin berlekuk antik khas abad ke 18.


“Ya, Marjorie. Apa yang ingin kau katakan?” suara Orion naik setengah oktaf menyaingi suara hairdryer.


Hiver tersenyum melihat keseriusan Orion mengeringkan rambutnya. Tentu saja pria itu sangat pintar menggunakan alat pengering, Orion


memiliki rambut bahkan lebih panjang dari milik Hiver.


“Kau telah berjanji untuk menyelamatkan Lou dan Mersia jika Philip berbuat yang tidak-tidak. Aku ingin Kerajaan Swedia hancur jika mereka


melukai adikku. Bukan rakyatnya, melainkan si putra mahkota.” Geram Hiver mengingat raut wajah Philip yang sangat menjengkelkan dan sorot matanya yang nakal.


Orion tersenyum simpul sambil mengangguk.


Hiver menghela napas panjang “ Kau sudah berjanji kepada kami, Orion. Adik-adikku mengandalkanmu. Entah kenapa mereka menjadi bergantung kepada seorang yang dingin sepertimu.”


Pria berwajah cantik itu terdiam dengan ******* senyum di bibirnya, kembali menyisir rambut Hiver ketika telah kering sempurna.


Sekarang aku adalah pria yang bertanggung jawab terhadap masa depanmu, masa depan adik-adikmu, dan Onyx adalah pewaris Kerajaan Mersia, ketika dia meminta bantuanku,


aku mengiyakannya. Jadi tenang saja, Marjorie. Detik inipun aku bisa melakukan hal itu, jika kau mau. Tapi kita tidak mungkin melakukan hal sebesar itu tanpa ada asal muasalnya. Itu tindakan yang gegabah. Sebagai kakak, seharusnya memberikan dukungan kepada Lou. Ajarkan dia menghadapi Philip. Mungkin kau punya sedikit pengetahuan yang bisa dibagi kepadanya.”  kata Orion panjang kemudian menepuk pelan lengan Hiver untuk berdiri.


“Pengalaman apa? Rumah tangga? Kita baru saja menikah, belum ada yang bisa dibagikan. Kita baru berciuman sekali, selebih itu tidak ada. Sementara Philip pastinya akan melompati Lou pada malam pertama mereka.” Hiver menggeram


sekaligus sedikit terluka membayangkan Lou yang cantik hancur di tangan Philip.


Orion menggenggam jemari Hiver sambil berjalan pelan meninggalkan walking closet.


“Apa yang kita jalani bergerak perlahan, Marjorie. Aku ingin kau membuka hatimu untukku, aku tidak berharap bisa dicintai sebesar perasaanmu


terhadap River. Cukup dengan berada di sampingku hingga tua. Hanya itu.” kata Orion dengan suara sehalus sutra tapi menghujam tepat di hati Hiver.


Hiver menguatkan genggaman tangannya.


“Aku sudah membuka hatiku.” ucap Hiver pelan.


Orion mengerling dengan senyuman manis di bibirnya.


“Terima kasih, Marjorie.” Sahutnya seraya menaikkan jemari Hiver tepat di depan bibirnya kemudiannya mengecupnya dengan lama.



Philip yang sedang berbincang dengan Dewan Kerajaan Mersia, sontak menghentikan pembicaraannya ketika melihat sosok yang teramat dirindukannya berjalan dengan sangat anggun. Wanita cantik itu nampak memasang muka tegang.


“Maafkan saya. Pembicaraan kita berakhir sekarang, saya hendak menyapa sang putri.” Tutur Philip sopan. Dua pria berusia 50 tahun akhir


hanya mengangguk lebih sopan dan menyilakan Philip menghampiri Hiver.


Hiver yang melintas di koridor sayap timur Palace secara tidak sengaja bertemu dengan Philip, pria yang tampaknya menjadikan Mersia sebagai rumah keduanya. Pria itu baru akan menikah dua minggu lagi namun terlalu sering menunjukkan dirinya tanpa segan.


“Princess Hiver, apa kabarmu?” tanya Philip mencegat Hiver dan mengulurkan tangannya ke depan. Hiver menatap tajam Philip seraya melihat


ke arah ruangan di sebelah kiri. Ia memilih berjalan ke depan menuju pintu dan mengabaikan Philip.


Hiver tahu Philip akan mengejarnya hingga masuk ke dalam ke ruangan Glasglow. Nama ruangan yang berdiameter 60 meter persegi.


“Berhentilah berbasa-basi, Tuan Bernadotte. Apa yang kau lakukan ini? Melamar adikku?” Hiver membalikkan badan dan melihat senyuman


bahagia Philip. Pria itu tampak tidak merasa bersalah dan seolah tidak ada pesta pernikahan yang akan dilangsungkan.


“Rupanya seorang putri yang dingin sepertimu bisa marah juga. Ya benar, aku akan menikahi adikmu. Princess Maryln Lou of Mersia. Dia sangat cantik, Hiver. Tapi bagiku kau adalah segalanya. Wajah seperti Lou sangat banyak menjadi wanitaku, tapi tidak ada satupun yang membuatku tergila-gila kecuali kepadamu. Alasanku melakukan ini karena aku ingin melihatmu dari dekat, kisah kita belum usai, sayang. Selama aku masih bernapas, semua ini takkan berakhir.”


Hiver menggemertakkan giginya.


“Kau gila! Kau tidak mencintaiku, Prince Philip. Ini hanya nafsu, kau adalah seorang petarung. Kau tidak akan berpuas diri sebelum mangsamu takluk tak berdaya. Tapi aku bukan seorang mangsa.”


Philip maju selangkah, refleks Hiver juga mundur sebanyak itu pula.


“Setiap kerajaan memiliki kisah kelam, sayang. Seperti kedua orang tuaku, mungkin juga kedua orang tuamu. Di generasi ini, giliran kita. Kau


pikir usai menikah aku tidak mencari tahu tentang siapa pria yang menghancurkan pesta pertunangan kita? hahaha.. Kau menikahi pria yang salah, sayang. Orion Filante adalah pelarian sakit hatimu karena kisah cinta yang berakhir


dengan saudaranya, CEO Bluette. Ya, River Phoenix Bluette, teman kecilmu. Kau rupanya


jahat juga, sayang. Seharusnya kau menikah denganku, itu karena sifat kita hampir sama. Seorang putri yang sangat anggun di puja-puja di luar sana, tapi sekarang lihat inilah sifatmu yang asli seperti seekor macan betina yang terluka. Kau


tidak terima jika aku menikahi adikmu, sayang? Tahu tidak jika aku melakukan hal yang sangat terpuji, menjadikan putri ketiga Mersia kelak sebagai ratu di Swedia. Dan segala yang pernah kau ucapkan dulu tentang aku yang memiliki


wanita lain, sangat benar, Princess Hiver.”


PLAK !


Hiver menampar pipi Philip dengan segala kekuatannya. Pria bermanik singa itu sedikit kaget kemudian terbahak tawa yang sangat keras.


“Oh Tuhan, aku mencintai-Mu dengan sepenuh hati. Lihatlah hamba-Mu yang cantik ini baru saja menamparku dengan tangannya yang lembut di pipi.” Philip masih tertawa-tawa.


Hiver semakin membenci pria yang akan menikahi adiknya.


“Aku sangat tidak menyukaimu, Tuan Bernadotte!” Teriak Hiver menggema di dalam ruangan Glasglow.


Philip tersenyum sambil melebarkan manik singanya.


“Semakin kau berteriak seperti itu membuatku semakin bahagia, sayang. Berarti aku berhasil membuatmu gusar. Tenang saja, Princess


Hiver ini baru permulaan dari semua rencana balas dendamku. Sering-seringlah berkunjung ke Swedia untuk memastikan kabar Lou karena aku tidak bisa menjamin keselamatannya.”


Manik hijau Hiver berkabut, tubuhnya bergetar.


“Kau benar-benar bukan manusia.” Erang Hiver menangkup bibirnya sambil menggelengkan kepala.


Philip tertegun, hatinya tertusuk melihat Hiver yang menangis di depannya. Ia sudah melewati batas mempermainkan emosi wanita yang


dicintainya.


“Hiver.” Philip bergerak maju. Hiver tetap menghindar dengan melangkah mundur.


“Tolong, diamlah di situ.” Tangan kanan Hiver naik memberi isyarat agar Philip menghentikan langkah kakinya.


Bunyi pintu setinggi tiga meter berderit halus, dengan cepat Hiver mengarahkan pandangannya kesana. Sosok pria penyelamatnya berdiri dengan


wajahnya yang sangat dingin.


Hiver tergesa sedikit berlari mendekat ke arah Orion.


“Orion.” Isak Hiver seraya memeluk tubuh Orion.


Pria bersurai emas pucat menatap sangat tajam serta ke arah Philip. Kedua pria pemilik kekuatan berbeda tersebut saling mengirimkan sinyal


tanda bahaya dan saling mengancam.


Orion yang menenangkan Hiver dengan usapan lembut pada punggung tampak tersenyum tak terbaca kepada Philip.


“Adik ipar, tolong tetap berada di posisimu. Marjorie adalah istriku. Jika kau melakukan hal ini lagi, membuat istriku menangis, tujuh tetua kerajaan Swedia aku buat meraung di neraka. Dan dirimu, tidak akan pernah bisa menjadi seorang raja pada sebuah kerajaan yang hanya tinggal sebagai sejarah.”


###





alo kesayangan💕,


sebenarnya ak kelar menulis ini jam 9 malam..


tapi tidak ingin meng UP hanya sebentar muncul tanda merahnya.


jadinya ak atur jam 00.05 UP..


semoga kalian bisa memahaminya 😌


love,


D😘