
Tungkai panjang bergerak selaras, tubuh luwes tersebut mendapatkan perhatian dari banyaknya orang dilaluinya.
"Yang Mulia, lewat di sini." kata pria yang menjadi pemandu sejak kedatangan Onyx di Istana dengan ornamen ukiran emas pada dinding dan atapnya . Pria yang bertugas mengantar Onyx mengenakan sebuah alat komunikasi yang menempel di telinga, sesekali dia terlihat berbisik sambil menutup mulutnya.
Ya, pria bertubuh jangkung dengan balutan suit mahal berwarna prussian blue tak lain adalah putra mahkota Kerajaan Mersia, Prince Alistaire Onyx. Hari itu ia sedang berada di Luxembourg, Jerman dalam rangka menghadiri pesta pernikahan Prince Henri dengan Lady Elizabeth. Pangeran Luxembourg tersebut telah melangsungkan pernikahannya tadi siang, dan malam ini adalah pesta yang dikhususkan untuk teman-teman dekat sang mempelai pria.
Onyx berteman baik dengan Henri, bisa dikatakan sejak keduanya bertemu sekitar 5 tahun yang lalu. Sekarang Onyx menginjak usia 27 tahun, sementara Henri berusia 28 tahun. Keduanya dipertemukan pada sebuah acara kemanusiaan dan sejak itu mereka sering meluangkan waktu untuk bertemu atau berbagi kabar lewat telepon dan email.
"Silahkan masuk, Yang Mulia." pria berpakaian rapi tersebut mempersilahkan Onyx masuk setelah dua pintu besar terbuka lebar untuknya. Onyx tersenyum miring sambil menggelengkan kepala ketika melihat suasana ballroom yang sangat jauh dari pesta kerajaan pada umumnya. Ballroom tersebut tak lebih seperti sebuah pub murahan di kawasan Queens, New York yang dihiasi dengan lampu berkelap-kelip tanpa henti.
"Gila." Onyx terkekeh sembari mencari teman baiknya di tengah banyak tamu yang berusia hampir sebaya dengannya. Tidak ada orang tua di ruangan besar itu, Henri mengkhususkan pesta yang dimulai pada jam 10 malam itu untuk teman-temannya.
Ony melihat sosok tinggi mengenakan mahkota dari balon berwarna emas, ia pun bergegas menghampiri pria yang mengenakan suit berwarna putih bersih.
"Prince Henri." Onyx berseru setelah mereka saling bertemu pandang.
Mempelai pria yang memiliki ketampanan khas bangsa Arya dengan cepat melebarkan kedua tangannya. "Alistaire Yang Agung, Temanku." serunya kemudian terbahak tawa keras.
"Kau membuktikan ucapanmu, Istana Luxembourg kau sulap menjadi pub ilegal." Onyx tertawa ketika membalas pelukan temannya.
"Seperti perkataanku, sebuah pesta gila sampai pagi." teriaknya yang masih kalah dengan suara musik yang hingar bingar.
"Kau sungguh pemberontak, Henri." Onyx menggeleng dan takjub. "Di mana istrimu?"
Tangan Henri menunjuk asal ke bagian kanan. "Sepertinya Elizabeth di sana bersama dengan teman-temannya. Teman kuliahnya di Amerika."
Onyx tidak bisa menemukan Elizabeth, wanita yang hanya pernah ia lihat dari foto kiriman Henri. Ya, ketika pria itu mengatakan akan menikah seorang lady pilihan Dewan Kerajaan. Henri sendiri tidak pernah berkencan serius dengan satu wanita, ia seperti kupu-kupu yang hinggap pada satu bunga ke bunga lainnya. Onyx berbeda, walau dirinya suka berpesta namun tidak pernah membawa satu gadis sekadar untuk menemaninya tidur.
"Seharusnya kau pergi berbulan madu." sindir Onyx usai mengambil gelas berisi wine dari pelayan yang menunggu dengan setia.
"Dua hari lagi, Teman. Masih di Jerman. Sungguh membosankan. Sementara aku ingin mengajak Elizabeth ke Italia." lontar Henri menegak habis isi gelasnya. Stamina pewaris tahta itu sedang bagus-bagusnya, mungkin beberapa hari lalu telah menantikan pesta malam ini.
"Apakah kau telah membuka hati untuknya?" canda Onyx, matanya yang berwarna coklat itu menyipit penuh arti.
"Belum, mungkin nanti setelah melihatnya tanpa mengenakan apapun selama berhari-hari. Aku akan melakukan hal itu hingga aku berhasil memberikan kabar baik untuk Luxembourg." cerocosnya tanpa malu jika perkataan barusan sangat tidak mencerminkan diri sebagai seorang pewaris tahta. Sepertinya tidak ada yang peduli, semua orang tengah berpesta dengan cara masing-masing.
"Kau gila, Teman. Lady Elizabeth sangat cantik di foto yang kau kirim. Dan undangan pernikahan kalian yang dikirim ke Mersia. Pernikahanmu membuat King Robert sering menatapku lama, mungkin beliau berpikir akan menjodohkanku dengan seorang lady."
"Tidak usah jauh-jauh jika kau menginginkan seorang lady atau putri, aku memiliki adik." usul Henri seraya tergelak tawa keras.
"Sepertinya kau telah mabuk." Onyx menepuk dua kali bahu temannya.
"Stephani tidak ada di pesta ini. Aku melarangnya ikut bergabung, banyak pangeran akan mengincarnya sementara dia masih 18 berusia tahun."
"Sangat muda."
Henri tiba-tiba merangkul Onyx dan berbisik. "Tapi usia tersebut sudah boleh untuk dinikahi. Jika kau serius dengan perkataanku, kita bisa membicarakannya nanti. Kau masih tetap bertahan dengan status biksu-mu, bukan?"
"Aku bukan biksu, hanya tidak memiliki waktu untuk berpacaran."
"Kau tidak perlu berpacaran untuk tidur dengan seorang wanita." bujuk Henri yang sangat bisa dipastikan jika pria itu telah meracau karena pengaruh minuman beralkohol.
"Aku belum berpikir sejauh itu." elak Onyx menggelengkan kepala berkali-kali.
"Kau tidak tertarik dengan pria, bukan? Jika benar kau seorang penyuka sesama jenis, aku batalkan pernikahanku dengan Elizabeth. Dan kita akan menikah keesokan harinya di sini. Negara kami melegalkan pernikahan sesama jenis, Teman."
Mendengar perkataan Henri, sesaat itu juga Onyx merasakan geli akan sentuhan temannya. Onyx bergerak ke samping sekaligus mengurai rangkulan tangan Henri pada bahunya. "Apakah kau ingin duduk atau aku meminta para pengawal datang dan membopong kembali ke kamar tidur?"
"Duduk. Aku ingin duduk." ujar Henri sedikit oleng. "Aku bisa kembali bugar setelah beristirahat selama 15 menit."
Onyx membantu temannya untuk duduk di sofa. Henri menghempaskan tubuhnya hingga ia terbatuk mengeluarkan sendawa alkohol yang keras. "Istirahatlah, Yang Mulia." ujarnya sempat mencandai Henri yang langsung menyeringai.
"Kau berkelilinglah di pesta, beberapa sepupuku yang cantik ada di sini. Oh iya, teman-teman Elizabeth menarik dan punya talenta. Bersenang-senanglah malam ini." Henri kembali terkekeh dan menunjuk.
"Baiklah, aku akan menikmati pestamu." Onyx menepuk sekali bahu Henri kemudian membalikkan badan.
Pewaris tahta Mersia itu tidak begitu tertarik dengan perkataan temannya, yaitu mencari wanita cantik di keremangan lampu. Baginya semua tampak cantik, para kaum hawa di ruangan itu. Para wanita mengenakan gaun indah sekaligus memamerkan aset terbaiknya, entah itu bagian atas atau kaki yang jenjang mengenakan sepatu cinderella.
Tepukan keras pada bagian punggung menyentak lamunan Onyx di saat yang sama bola matanya bak hewan pemangsa mencari sosok kenalannya. "Oh Tuhan, kau juga datang ke pesta ini? Sungguh hebat!" sorak Onyx spontan memeluk pria bertubuh tinggi besar.
"Prince Henri adalah duta persahabatan." sambut Philip menepuk punggung Onyx sebelum lawannya mengurai pelukan.
"Apakah kau menghadiri prosesi pernikahannya? Atau sama denganku hanya menghadiri pesta gila ini saja, Prince Philip?" ucap Onyx layaknya mereka adalah teman yang dekat.
Philip tersenyum tipis. "Tidak, hanya pesta ini. Melihat pesta ini aku mendapatkan ide untuk melakukan hal yang sama kelak ketika aku menikah."
"Wow!" seru Onyx sambil membulatkan manik coklatnya. Ia mendenguskan tawa. "Apakah Yang Mulia Prince Philip telah menemukan pengganti kakak kami?"
Philip mengedikkan bahu. "Apa kabarnya Marjorie?"
Onyx mengangkat kedua tangannya seakan meminta ampun. "Marc sedang berbahagia dengan kelucuan putrinya. Aku mendengarkan kabar jika mereka sedang memikirkan adik untuk Marion. Kau belum melupakan kakakku?"
Philip memicingkan manik lionnya seraya tertawa kecil. "Tentu saja aku tidak bisa melupakan Marjorie. Namun bukan berarti aku bisa dengan gampangnya jatuh cinta lagi, tidak ada yang mendesak."
"Kau sungguh keras kepala, Prince Philip."
Onyx mendengus mendengarkan perkataan pria yang pernah menikahi adiknya Maryln Lou, hanya karena perkara gagal mempersunting Princess Marjorie Hiver. "Sungguh aneh." celetuknya.
"Tidak aneh. Tapi aku suka melihat tatapan memuja dari wanita-wanita cantik itu. Kentara dari gerak tubuh dan isyarat mata jika mereka ingin dipilih. Kau tahu, bukan? Perasaan yang melambung sesaat."
Onyx membelalak. "Aku tidak pernah memikirkan hal seperti itu. Mungkin dirimu saja yang memerhatikan respon setiap wanita yang berdiri di dekatmu, Prince Philip. Tapi pastinya Marc tidak pernah membuatmu melambung dengan sosokmu ini"
"Marjorie tidak perlu menatapku, ia dari kejauhan pun sudah membuatku kehilangan akal sehat. Tapi itu dulu, aku tidak ingin mengingat kembali kejadian 3 tahun yang lalu. Pertemuan kami yang terakhir di Lyon. Hatiku ada di Orion, besar dan tumbuh mengganti miliknya yang telah rusak, sudah cukup membuatku berbahagia dan melanjutkan hidup. Bagaimana apakah ada yang menarik perhatianmu sejauh ini?"
"Aku baru bertemu dengan Henri, belum sempat menemukan hal menarik selain cerita masa lalu itu, Prince Philip."
Di saat yang sama lampu berkelap-kelip dengan warna pastel itu berhenti menyilaukan mata. Kini lampu ballroom menyala namun tidak begitu terang, kemudian padam dan sebuah lampu terang hanya terpaku pada bagian tengah ruangan, yakni kepada satu grand piano berwarna putih.
"Wow, sebuah pertunjukan bagus. Aku pikir semalam suntuk kita akan mendengar musik EDM." komentar Philip sambil mengganti gelas kosongnya dengan yang baru ketika satu pelayan melewati mereka.
"Henri mempunyai kegilaan yang hampir sama denganmu." sahut Onyx yang semakin membelalakkan mata ketika melihat sosok seorang gadis mengenakan gaun berwarna putih gading bermotifkan bunga tulip.
"Dia cantik." Philip bergumam dan tak juga melepaskan pandangan dari gadis yang dengan anggunnya duduk di belakang piano.
"Selamat malam, lagu berikut adalah persembahan untuk sahabatku Lady Elizabeth dan Prince Henri. Semoga kalian berdua selalu dalam cinta yang besar." suara merdu menyapa para tamu yang hampir semuanya menunggu pertunjukkan tunggal dan bisa dikatakan tanpa persiapan sempurna.
Dua pria yang berdiri bersisian dengan gelas wine di tangan pun menunggu tanpa bersuara, hingga dentingan piano membius indera para tamu pesta. Selang 2 menit berikutnya, Prince Henri maju ke depan dan menggamit Lady Elizabeth dengan penuh kasih sayang. Semoga saja itu bukan sandiwara yang ditampakkannya kepada semua orang.
Kedua mempelai tersebut kemudian berdansa pelan dan romantis. Satu lagu berakhir diiringi tepukan tangan yang meriah. Rupanya maestro cantik itu belum menyudahi konsernya, ia terus melanjutkan ke lagu kedua dan orang-orang pun ikut berdansa
"Kau tidak ingin berdansa?" tanya Philip.
"Denganmu? Tidak, terima kasih." tolak Onyx sambil menyeringai kesal.
Philip tertawa sambil membekap mulutnya. "Aku tidak tahu jika adik dari Marjorie mempunyai selera humor yang aneh. Bayangkan jika kita berdua berdansa di tengah, berita itu akan menghancurkan dunia. Maksudku, banyak wanita cantik sedang menatap ke sini, tidakkah kau ingin mencoba peruntunganmu malam ini?"
"Tidak, terima kasih. Kecuali gadis yang di sana." ucap Onyx menatap kagum kepada pianis cantik itu.
Philip menyikut Onyx. "Hei, gadis itu adalah buruanku!" sahutnya tidak mau mengalah.
Onyx menatap tajam pangeran Swedia tersebut. "Terus kenapa? Apakah kita perlu bersaing mendapatkannya?"
"Tdak perlu bersaing, gadis itu pasti akan memilihku." Philip melancarkan serangan. Kedua pria tersebut sama-sama petarung dan calon pemimpin kerajaan masing-masing. Keduanya tampan dan memiliki postur tubuh sempurna, tidak ada cela bagi Philip dan Onyx.
Pertarungan sengit kedua pria tersebut masih berlanjut hingga sang pianis mengakhiri konsernya. Di saat semua orang bertepuk tangan dengan gegap gempita, justru Philip dan Onyx bergerak menghampiri si gadis bergaun putih gading.
Si pianis cantik tertegun dengan kedatangan dua pangeran bertubuh tinggi menjulang. Dua pesona berbeda namun menyilaukan mata.
"Sebuah pertunjukan yang hebat. Kau sungguh bertalenta." Sapa Philip mendahului Onyx yang baru ingin mengeluarkan kata sapaan yang lebih memikat.
"Terima kasih, Yang Mulia." Si pianis menunduk sambil menyilangkan kaki ke belakang. Philip sempat menoleh dengan senyum terkulum melihat kesopanan si pianis.
"Jika boleh kami tahu, siapa gerangan pianis yang memukau malam ini?" Onyx mengulurkan tangannya dan saat itu juga mendapatkan sambutan jemari tangan yang lembut.
"Yang Mulia Prince Alistaire Onyx, anda berlaku sangat sopan. Padahal saat kecil, kita pernah bertemu."
"Hah!" kontan Onyx menganga kaget. "Kapan?"
Sang pianis yang rambutnya digelung indah kemudian tersipu. "Ya, Yang Mulia. Hanya sekali kita pernah bertemu. Walau sebenarnya kita memiliki ikatan keluarga yang sangat dekat."
Philip membisu, ia merasa dikalahkan oleh kedekatan Onyx dengan gadis buruannya.
"Demi Tuhan, siapakah dirimu?" Onyx tidak bisa menahan diri untuk berseru. Philip sontak menyikutnya.
"Orion Filante adalah saudara sepupuku. Kedua mama kami bersaudara. Ya, saya Serenade Rajendra."
###
alo kesayangan💕,
oh hai, finally Mersia kembali berjalan..
Philip kalian tidak akan menghilang namun muncul di part kedua, hahahaha..
perseteruan para pangeran dalam mendapatkan pendamping.. mungkin seperti itu.
Serenade, sengaja aku munculkan karena ide salah satu readers, inilah saatnya.
kisah mereka berputar, sampai kalian mumet sendiri 😂
love,
D😘