MERSIA

MERSIA
First Date



Dalam langkah tenang Hiver berjalan menuju kantornya, seorang putri pun memiliki bangunan khusus tempatnya berkantor. Bak kota


pemerintahan parlementer, pun Mersia yang memiliki bangunan perkantoran sesuai dengan bagiannya masing-masing.


Perkantoran kerajaan Mersia berada berpusat di tengah kota. Bangunan lama dan kokoh tanpa penanda nama hanya design depan kantor yang membedakan, dimulai tempat bekerja sang raja, pewaris tahta dan Hiver. Para anggota kerajaan tidak berkantor layaknya pegawai umumnya, khusus untuk sang putri hanya diwajibkan datang pada hari Senin dan Kamis. Selebihnya Hiver akan berada di Palace atau menghadiri berbagai


acara kemanusiaan.


Mersia sangat damai di bawah kepemimpinan King Robert, tidak ada huru-hara berarti hanya kelompok pemuda mabuk di bar yang sering mengisi koran lokal pada berita kriminal yang pajang pada papan baca di setiap sudut kota dan pelosok negeri.


Hal itu pula yang memudahkan tugas-tugas Hiver, Onyx dan si kembar, hanya perlu menghadiri kegiatan kemanusiaan dan pesta demi eksistensi


Mersia di dalam dan luar negeri.


“Princess Hiver.” asistennya di kantor yang bernama Alice bergerak mendekati.


“Ya, Alice.”


Alice menimbang perkataan dalam langkah kaki selaras di sisi putri Mersia.


“Anda mendapatkan beberapa hadiah.”


Kaki mengenakan stiletto berwarna coffee menghentikan langkah dan menoleh ke arah Alice, wanita berbadan tinggi berisi itu tersenyum


dengan penuh hormat.


“Dari mana?”


Tangan Alice terangkat setinggi perut membentuk anak panah menuju ke depan.


“Anda akan lihat sendiri di dalam ruangan, Yang Mulia.”


Hiver tidak ingin bertanya lanjut terlebih bukan hanya ia dan Alice di koridor itu, orang-orang terlihat antusias melihat kedatangan sang


putri. Orang-orang menatap dengan senyum lebar dengan tangan mengatup di depan tubuh.


Betapa kagetnya Hiver ketika pintu ruangannya terbuka, wangi semerbak bunga menguar keras dan tajam pada inderanya. Puluhan pot berisi berbagai macam bunga memenuhi ruangan selebar 40 meter persegi tersebut.


“Tuhan, ada apa ini?” Hiver dilanda syok melihat wadah-wadah dari anyaman rota berisi poenis, rose, tulip, dahlia dan puluhan jenis bunga


lainnya berderetan rapi dan hanya menyisakan jalanan kecil untuk mencapai meja


kantor.


“Ini hadiahnya, Yang Mulia. Di tambah 1 kado di atas meja.” Terang Alice menunjuk ke arah yang dimaksud. Sebuah kotak lebar berukir kembali


memenuhi meja kerja Hiver.


Kali ini Hiver bergerak cepat dengan langkah kaki yang lebar demi menuntaskan rasa penasarannya. Ia termangu pada 1 tangkai bunga mawar merah di atas bingkisan.


Sungguh sangat berlebihan pikir Hiver. Di saat yang sama dadanya bergemuruh mendapatkan kejutan hebat di hari senin menjelang siang itu.


Ruangan kantornya di sulap menjadi toko bunga, tidak ada yang pernah melakukan ini sebelumnya. Ini yang pertama kali dari seorang pengagum atau mungkin bisa dikatakan seorang pria sedang berusaha meluluhkan hati Marjorie Hiver.


Tangan lentik ramping dan putih itu perlahan mengangkat setangkai mawar dan mencuri wangi dengan inderanya.


Wangi, sangat wangi.


Usai melakukan itu, giliran bingkisan berwarna kuning berukir emas dengan hati-hati ia buka.


Sebuah amplop kecil di atas kotak beledu persegi empat. Di bawahnya masih ada kotak lainnya. Hiver lebih tertarik membuka amplop kecil yang memiliki pola ukiran berbeda dengan milik Mersia.


~~


Princess Marjorie Hiver,


Mungkin saat ini kau menikmati wangi bunga di suatu tempat, tapi percayalah mereka yang berjumlah ribuan itu tidak bisa menandingi


keindahanmu. Ya, kau adalah bunga terindah yang pernah aku lihat. Kecantikanmu membuat


malam-malamku tidak pernah tenang lagi. Aku selalu mengingatmu dan penuh harap sebuah pertemuan terjadi di antara kita.


Dengan itu, aku mengirimkan sebuah undangan berbincang santai 3 malam lagi setelah malam ini. Mobil kami akan menjemput di Palace Mersia pada jam yang ditentukan. Di dalam kotak tak seberapa itu, sebuah perhiasan sederhana dan gaun yang mungkin sudi kiranya Princess Marjorie Hiver kenakan pada malam kita sepakati bersama.


With Love,


Prince Philip Bernadotte, Duke af Vasterbotten.


~~


Tubuh Hiver terhempas berat di atas kursi, tangannya masih menggenggam surat itu dengan erat.


“Apakah anda baik-baik saja, Princess Marjorie?” Alice memecah keheningan di dalam ruangan berwangi semerbak itu.


Hiver menoleh, manik hijaunya menatap wanita yang mengenakan blus putih dengan celana berwarna coklat muda, pun rambutnya berwarna sama yang dibiarkan tergerai.


“Tolong bagikan bunga ini kepada orang di kantor.” Pinta Hiver kepada Alice.


“Semuanya?” tanya Alice heran.


Hiver menjawab dengan anggukan kepala lemah “Anggap ini hadiah Valentine di bulan Oktober.” Jawabnya dengan seutas senyuman simpul


tersungging di bibirnya.


“Baiklah jika itu keinginan, Yang Mulia.”


“Sisakan 1 itu, Mrs. Alice.” Hiver menunjuk pada setangkai mawar yang sesaat lalu di hirup wanginya. Alice mengangguk kemudian pamit untuk keluar. Hiver menebak jika Alice sedang mencari tenaga bantuan untuk mengeluarkan puluhan pot bunga dari ruangannya.


Tinggallah Hiver dengan perasaan yang tidak karuan, tangannya lalu meraih kotak persegi berwarna merah dengan wangi harum yang samar, mungkin hanya kalah semerbak dengan ruangan berparfum natural bunga.



Isi kotak tersebut adalah sepasang anting emas dihiasi dengan seed pearl berwarna teal , sebuah hadiah yang sangat antik diberikan oleh


pangeran Swedia tersebut. Setidaknya ada 4 generasi sebelum kehadiran Hiver dan Philip di muka Bumi dan anting itu telah menjadi koleksi perhiasan milik keluarga kerajaan Swedia. Philip sangar murah hati dengan memberikan benda bersejarah dan tak bernilai seperti itu kepadanya.


“Tuhan.” Hiver bergumam pelan, tangannya mendadak dingin dengan debar jantung melonjak ritmenya. Ia tidak biasa merasakan ini,


mendapatkan kejutan beserta undangan makan malam dari seorang pria. Bisa dikatakan


ini pertama kali dalam hidupnya, seorang pangeran dengan penuh keberanian melakukan


hal tersebut. Sebuah cerita tentang kepribadian Prince Philip telah terjawab dengan sendirinya.



Gaun berwarna gold berbahan sutra terbaik bergoyang selaras dengan langkah kaki Hiver, ada 3 orang pengawal menemaninya, dua dari Palace


dan satu pengawal menunggu di depan restoran. Pria bersuit hitam itu adalah pengawal khusus pria yang menyediakan limusin mewah hingga gaun beserta anting antik yang menghiasi telinga Hiver.


Lime Grass, restoran dengan bintang 3 Michelin menjadi tempat yang ditentukan oleh Philip Bernadotte untuk makan bersama. Hiver melayangkan pandangan pada meja-meja kosong dan lengang, hanya ada satu tempat yang terisi


oleh pengunjung.


Pria bersuit dark navy langsung berdiri menyambut kedatangan Hiver, sebuah senyuman mengembang indah dengan gigi putih berbaris rapi menambah ketampanan sempurna Prince Philip.


“Kau sangat cantik, Princess Marjorie Hiver.” tanpa segan Philip menarikkan kursi untuk Hiver. Setelah itu meraih jemari lentik teman kencannya dan mengecup dengan dalam.


Senyuman hangat semakin mengembang tatkala melihat anting pemberiannya dipakai Hiver.


“Sempurna.” Ucapnya sembari kembali ke tempat duduknya.


“Jadi ini adalah kencan pertama kita, Hiver.” ucap Philip dengan penuh bunga di dadanya. Gadis di depannya tersenyum tipis sembari meraih gelas


berisikan wine dari tahun 1972.


“Bisa dikatakan seperti itu, Prince Philip. Walau sebenarnya aku sangat tidak ingin datang malam ini. Namun rupanya dirimu telah menyurati


King Robert untuk mengosongkan jadwalku. Sangat licik.”


Manik lion itu menyipit dengan ujung bibir kanan naik ke atas “Aku hanya menyurati calon ayah mertuaku untuk memberikan waktu berkencan denganmu, Hiver.”


“Dan kau selalu berhasil mendapatkan keinginanmu, tuan.”


“Bisa dikatakan seperti itu, termasuk dirimu kelak. Kau akan menjadi permaisuri di kerajaan kami. Dan kita akan hidup berbahagia seperti


King Robert dan Queen Summer. Kau pastinya ingin hidup seperti kedua orang tuamu, sayang?”


Philip tidak menghentikan ucapannya walau para pelayan sedang meletakkan piring-piring berisi hidangan spesial milik Lime Grass.


“Maafkan jika aku lancang memesankan makanan ini, tapi menurut asisten sang putri jika ini adalah kesukaanmu.”


Hiver menatap piring putih berisikan menu Hundred Hand Slap, daging wagyu bagian sirloin terpanggang dengan medium rare. Benar ini adalah kesukaan hiver.


“Wine ini juga adalah kesukaanku, Prince Philip.” Hiver mengayunkan lembut gelasnya sebelum cairan berwarna pekat itu membasahi tenggorokannya.


Philip tersenyum bijak menatap Hiver, wanita yang


dicintainya hanya dalam beberapa kali pertemuan. Pesona Hiver sangat berbeda dengan wanita yang menjadi teman kencannya.


“Aku tidak ingin salah pada kencan pertama kita, sayang.”


Hiver menatap pria yang fokus mengiris steaknya, sangat elegan dengan postur tubuh terlatih.


“Aku berharap tidak ada pertemuan berikutnya.” ucap Hiver diikuti dengan senyuman manis dan ramah.


Philip menanggapinya dengan sebuah gelengan pelan “Sangat salah jika kau mengatakan itu, calon istriku. Kita pasti akan bertemu kembali,


jika kau mengatakan tidak, bisa jadi pertemuan berikutnya akan terjadi di depan altar. Kau dan aku menikah di depan Tuhan, dan tak akan ada kekuatan yang bisa memisahkan hingga maut menjemput.” Tuturnya dengan tegas sekaligus sarat akan keyakinan.


Lutut Hiver goyah mendengarnya “Bisa jadi aku adalah kegagalan pertamamu Prince Philip. Karena di hidup ini tidak semua bisa kita


dapatkan, baik aku dan dirimu hanya manusia biasa di luar tahta yang dimiliki.” Ujarnya berusaha mengandaskan impian pria sempurna di depannya.


Kembali Philip menggeleng dengan bibir kanan naik ke atas “Semakin kau mengatakan itu, sayang. Semakin besar keinginanku. Aku sungguh mencintaimu, harus berapa kali aku katakan perasaan ini hingga kau percaya? Jujur aku tidak pernah sesusah ini mendapatkan seorang wanita, tapi aku percaya untuk mendapatkan cinta sejati yang menjadi pasangan hidup memanglah susah-susah gampang.”


Hiver tertawa samar akan ketegasan hati Philip, sungguh seorang komandan perang menjadi teman makan malamnya. Philip mempunyai target


besar yakni memenangkan hati Hiver.


“Aku tidak sedang jatuh hati kepadamu, tuan.” isi piringnya habis sambil menolak serangan cinta seorang Philip Bernadotte. Pria kharismatik


dengan manik langka yang terus-terusan menatap lembut ke arah Hiver.


“Malam ini tidak, Princess Hiver. Besok masih ada, kita masih punya banyak waktu. Aku akan terus berusaha hingga kau mengatakan “Ya”. Aku tidak peduli harus terbang selama 2 jam setiap hari untukmu, sayang.”


Perkataan Philip di respon tawa ringan oleh Hiver. Kening Philip berkerut samar lalu ikut tertawa dengan suara yang rendah. Hiver sangat yakin jika wanita manapun berhadapan dengan Philip akan bertekuk lutut hanya dengan menerima sebuah kerlingan manik lion. Apalagi jika berbincang seperti ini, suara bariton Philip membuai indera, perkataannya tersusun rapi dan penuh


ketegasan di saat yang sama mendayu merayu hati.


“Apakah kau melupakan pekerjaanmu, dengar-dengar sebentar lagi kau akan naik tahta, Prince Philip.”


Alis hitam melengkung itu berkedut dengan bahu dinaikkan “Belum, sayang. Aku harus menikah terlebih dahulu, memiliki anak 2 atau 3 baru akan


naik tahta. Kau sanggup bukan, melahirkan anak sebanyak itu untukku?”


Kepala Hiver terfokus ke depan, manik hijaunya menatap lurus ke arah Philip yang menjadi dukun malam itu. Sebuah kalimat baru saja tercetus yang mungkin akan menjadi mimpi buruknya malam itu.


“Sebuah mimpi yang terlalu besar, maafkan aku Prince Philip. Tapi aku tidak bisa. Kehidupanku tidak semudah yang kau ucapkan itu. Jika boleh


jujur, aku belum pernah merasakan indahnya cinta. Jika aku menikah denganmu tanpa perasaan itu, hidupku tidak bisa sebahagia raja dan ratu kami.”


Pemilik manik kuning itu menegakkan tubuhnya dengan kedua tangan saling menangkup “Maka bukalah hatimu untukku, Princess Marjorie Hiver. Dan aku akan mengajarkanmu tentang cinta, kita akan berpacaran sebelum akhirnya menikah.


Bukankah itu terdengar mudah, sayang.”


“Apakah semudah itu?” Hiver bertanya melampiaskan hatinya yang gamang, sedikit tergoda akan perkataan pria di depannya. Dewa Swedia yang sangat menarik hati. Sosok yang mengaburkan hatinya terhadap River.


“Ya semudah itu, calon istriku. Hanya semudah itu. Tolong pikirkan dengan baik, hingga kita pertemuan kita berikutnya.” Philip mencondongkan tubuh lalu meraih jemari Hiver dan kembali mengecupnya dengan dalam.



Hiver membiarkan jendela limousine yang ditumpanginya turun dengan separuh, ia butuh udara dingin yang banyak untuk mengembalikan posisi hatinya yang sempat memanas hanya karena sebuah jamuan makan malam dengan Prince Philip.


Setelah meninggalkan restoran itu dengan sendiri-sendiri -ini dilakukan agar pertemuan keduanya tidak tercium oleh media -Hiver merutuk dalam hati. Ia goyah, hampir saja mengatakan “kita menikah saja” andaikata pertemuan itu masih berlangsung selama 60 menit ke depan.


Matanya terpaku pada langit yang gelap, di saat yang sama sebuah kilatan di langit berbentuk garis tajam ke bawah.


Bintang jatuh.


Alih-alih berdoa Hiver malah membuka handbag dan mengambil ponselnya. Tampak di layar beberapa notifikasi pesan dan panggilan tak


terjawab.


River mengirimkan pesan pun menelepon pada saat yang sama ia hampir luluh pada penguasa kerajaan Swedia.


Baby, sedang apa ?


Alis Hiver mengerut dalam ‘Baby?’. River tidak pernah sekalipun memanggilnya dengan kata itu.


Riv, apakah benar ini dirimu? Kau tidak salah kirim pesan, bukan ?


Tangan Hiver gemetar menanti balasan dari temannya.


Hei, aku menunggu lama pesanku dibalas. Ya, ini benar aku, River. Mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan sebutan itu. My baby Hiver.


###




alo kesayangan^^,


entah apa yang aku tulis ini..


someday bakal ku revisi, kerjaan dan menulis berjalan bersamaan..


ditambah orang2 ramai di chat..


tadinya aku mau UP Kai, tapi otakku tak bisa berfokus kesana..


sorry to Kai's fans..


mungkin besok yah.


love,


D