MERSIA

MERSIA
I Just Want You



"Tepatnya itu kamarku," Serenade menunjuk ke arah bangunan hotel di seberang kanal.


"Itu sungguh lucu, My Lady," Philip mengeratkan pelukan pada perut Serenade yang duduk di atas pahanya. "Kau tahu, aku suka duduk di sini sambil memandang aktifitas di kanal. Mungkin saja pada hari yang sama kita saling memandang," katanya lalu terkekeh ringan.


"Saya baru sadar jika Kerajaan Swedia, Royal Palace itu sangat besar, lalu seorang Prince Philip Bernadotte sangat berkuasa dan dicintai ketika berada di seberang kanal itu, Yang Mulia," kata Serenade malu-malu. Ia belum terbiasa sedekat ini, seintim ini dengan Philip pula ia tidak bisa berbohong jika dirinya juga enggan berjauhan. Serenade selalu menginginkan kontak fisik walau itu sekadar tangan yang saling menggenggam.


Philip mengecup bahu Serenade. Ia bisa melihat rona merah yang menjadi pewarna alami pipi wanitanya. "Sekarang aku hanya butuh satu cinta,"


Serenade menggigit bibirnya yang tersenyum. Sedari tadi dadanya tak mau kompromi, terus memanas dan berdebar ngilu karena perasaan bahagia yang membuncah.


"Saya tidak harus bagaimana bersikap, ini pertama kali merasakan jatuh cinta. Dan seperti ini rasanya,"


"Seperti apa? Rasanya?" tanya Philip dengan suara bariton namun juga lembut.


Serenade berdeham. "Indah, bahagia, nyeri, ada perasaan sedih juga perasaan takut jika hanya bertepuk sebelah tangan. Berada di pelukan Yang Mulia seperti ini, semuanya bercampur jadi satu,"


"Perasaanmu tidak bertepuk sebelah tangan, Kekasihku,"


Lidah Serenade kelu akan kalimat magis dari Philip. Rasa bahagia meledak di dada, maniknya pun kembali berkabut tebal. Ia sungguh sangat bahagia, dahaga selama berada ketidakpastian telah usai. Danau hatinya melimpah ruah akan kebahagiaan.


"Sebelum ini aku gegabah dalam urusan percintaan. Jadi ketika mendekatimu aku sangat berhati-hati. Kecuali ketika tahu kau ada di Mersia, jujur aku cemburu," aku Philip, ia menyenderkan kepalanya pada punggung Serenade.


"Yang Mulia bisa cemburu juga," Serenade menyentuh jemari tangan Philip yang sedang memeluknya. Panas yang nyaman, ia menyukainya.


"Aku manusia biasa, My Lady. Jujur, pada malam di Luxembourg, aku jatuh cinta ketika melihat sosokmu memainkan melodi yang indah. Tidak ada alasan untuk cinta pada pandangan pertama, semua terjadi dalam seketika. Sayangnya malam itu, kau lebih tertarik kepada Onyx. Benar, bukan?"


"Yang Mulia," Serenade merajuk. Philip terkekeh pelan.


"Bahkan sebelum kau menginjak Swedia, perasaanmu lebih condong ke Onyx. Jika boleh tahu, apa yang membuatmu berubah?" tanya Philip tenang dengan suara beratnya.


"Banyak hal," sahut Serenade.


"Apa saja itu?" Philip meraih jemari Serenade dan mengecupnya.


Dada Serenade bergolak, tubuhnya menjadi sangat sensitif setiap Philip menyentuhnya.


"Yang Mulia memberikan semua waktu untukku. Selama di Swedia, aku melihat banyak hal baru tentang Yang Mulia. Hal positif, tentu saja. Karena kita banyak menghabiskan waktu bersama. Diam-diam saya jadi suka berada di dekat Yang Mulia," ungkap Serenade. Ia menunduk sementara Philip kini mendekapnya erat. Kedua tangan pria itu kini berada di tulang selangka Serenade.


"Jika suka, kenapa cepat kembali ke New York? Kepergianmu membuatku goyah. Aku pikir kau telah membulatkan hati kepada Onyx. Oh, Sayang," desah Philip.


Manik Serenade berkaca-kaca, ia merasakan dengan jelas isi hati Philip. Pria itu sangat mencintainya. "Maafkan saya, Yang Mulia. Sore hari itu saya bertemu dengan King Sigvard,"


"Apa?!" Philip melepaskan pelukan, kini ia membalikkan tubuh Serenade, keduanya saling berpandangan. Sorot mana lion itu menajam, alisnya berkerut sedikit. "Kenapa tidak memberitahuku tentang pertemuan kalian, My Lady? Orang tua itu selalu saja ikut campur,"


Jemari Serenade gemetar ketika menjulur menyentuh wajah Philip. Ini pertama kali ia melakukannya. "King Sigvard takut Yang Mulia salah dalam menaruh hati,"'


Philip memegang jemari Serenade. "Apa yang diceritakannya?" tanyanya menuntut penjelasan.


Serenade mengulas senyuman. "Semuanya, termasuk pernikahan Yang Mulia dengan Princess Lou, dan bagaimana pernikahan itu berakhir. Juga tentang Princess Hiver, donor hati Yang Mulia untuk kakakku,"


Philip mendadak cemas, tatapannya menyendu. "Nada," ucapnya menggenggam kedua tangan wanita bersurai emas itu. "Itu masa lalu,"


"Ya, saya tahu," Serenade mengeratkan jemari digenggaman Philip. "Walau perkataan King Sigvard sempat mempengaruhiku. Jika Yang Mulia bisa merasakan cemburu, saya justru tidak bisa ketika mengetahui wanita itu adalah Princess Hiver. Saya sendiri sebagai wanita sangat menyukainya, kami pernah bertemu setelah kepulanganku dari Swedia. Princess Hiver bercerita tentang Yang Mulia dan Onyx. Pada saat itu perasaanku yang meragu bisa memutuskan dengan jernih. Saya suka dengan Prince Onyx tapi sebatas itu saja, berbeda dengan perasaan kepada Yang Mulia. Bukan kasihan namun saya tidak percaya diri, sangat tidak percaya diri. Tapi di sisi lain Yang Mulia berhasil memikatku,"


"Aku hanya melakukan yang terbaik menurutku. Padahal aku sangat ingin memelukmu, justru kaulah yang terlebih dahulu memelukku,"


Serenade menggigit bibirnya dan tersipu. "Penasaran dengan rasanya," akunya.


Philip tergelak bahagia. "Seperti ini?" katanya lalu mendekap tubuh Serenade.


Serenade mengiyakan. "Iya, diriku serasa terbakar berada di pelukan Yang Mulia," sahutnya kemudian manik birunya membelalak ketika melihat seorang pria berjalan masuk ke dalam ruangan pribadi milik Philip. "Ada orang," bisiknya di telinga sang pewaris tahta.


Philip menoleh tanpa melepaskan pelukan. Serenade agak segan memamerkan kemesraannya dengan Philip kepada pria yang dikenalnya sebagai orang kepercayaan pewaris tahta tersebut.


"Ada apa?" tanya Philip terlebih dahulu.


Hans membungkuk hormat dengan jarak tiga meter dari Philip. "Maafkan saya Yang Mulia, tapi Yang Mulia dan Lady Serenade mendapatkan undangan makan malam dari Drottningholm Palace,"


Philip mendengus pendek, ia memutar matanya ketika mengarahkan pandangan ke arah Hans, asistennya. "Ya, kami akan kesana,"


"Baik, Yang Mulia," jawab Hans mengangguk. "Saya akan mengabarkan ini ke pihak Drottningholm,"


Philip kembali memfokuskan dirinya kepada Serenade. "Sebaiknya kita bersiap," ucapnya sambil membelai wajah Serenade.


"Tuhan, lihat penampilanku Yang Mulia," pekik pelan Serenade menyadari pakaiannya yang sangat kontras dengan orang di depannya. Ia masih mengenakan hoodie murahan dan tipis itu, Serenade membelinya di toko sebelah hotel tempatnya menginap. Ia sungguh tidak layak berpakaian seperti itu ketika berada di dalam Royal House.


"Tidak apa-apa, My Lady. Kita tidak mungkin berpakaian seperti ini ke Drottningholm," kata Philip. Ia lalu menghela napas panjang sambil memandang Serenade.


"Saya takut, Yang Mulia," ungkap Serenade dengan wajah cemasnya.


Philip tersenyum tipis. "Tidak. Selama ada aku kau tidak perlu takut. Terlebih Ayah dan Ibunda Permaisuri tidak akan berbuat macam-macam. Dengan mengundangmu ke Drottningholm itu berarti mereka merestui kita,"


"Jadi kabar pertemuan kita sudah sampai di Palace?" tanya Serenade berdiri di samping Philip.


...


Hawaii terus menatap layar ponselnya tanpa berkedip kemudian ia menyerah. Hampir 12 jam usai mengirimkan pesan pertamanya kepada Tuan Alistaire namun hingga menjelang pagi pun ia belum mendapatkan balasan. Come on! Perbedaan waktu antara Perancis dengan Skotlandia hanya selisih sejam dan pria sok sibuk itu belum juga membalas pesannya.


Hawaii tidak bisa tidur, ia memilih menanti dan tidak berkeinginan untuk mencari tahu tentang orang-orang berada yang baru dikenalnya lewat data pencarian di internet. Walau Hawaii tidak mengetahui Alistaire apakah sebuah nama depan atau nama belakang, setidaknya ia punya nama lengkap salah satu penolongnya. Orion Filante. Ya, pria berwajah cantik dengan surai emas pucat itu adalah pemilik mansion mewah dan luas tersebut. Halamannya bukan hanya sekitar rerumputan hijau yang membentang lebar di bagian kiri kanan bangunan namun melainkan hutan dengan pepohonan tinggi yang tak berujung. Tentu saja mansion sebesar itu dimiliki oleh seorang yang bisa dengan gampang Hawaii dapatkan informasinya di internet. Pun Hawai mengakui jika Orion Filante pastilah seorang yang sangat kaya raya hingga sangat gampang mengisi selembar cek senilai setengah juta Euro.


Hawaii bergidik membayangkan orang-orang yang baru dikenalnya itu. Mungkin saja Jeanne, sang mama juga sama dengan dirinya tidak bisa tidur memikirkan cek senilai setengah juta Euro di bawah bantalnya. Bukan hanya bisa merenovasi penginapan tua tersebut tapi dengan dana sebanyak itu mereka mampu membangun dari awal sebuah penginapan yang jauh lebih bagus dan modern.


Namun Hawaii bersikeras untuk tidak memakai cek tersebut sebelum mendapatkan penjelasan dari Tuan Alistaire. Tidak bermaksud mengembalikan, karena mereka juga sangat membutuhkannya. Hawaii hanya tidak ingin melandasi pertemanannya dengan Alistaire karena uang. Ia murni menyukai pria dewasa itu. Suka dan tertarik selalu ingin bertemu, seakan Tuan Alistaire adalah medan magnet besar dan Hawaii sebuah paku kecil yang karatan teronggok dari pinggiran danau.


Hawaii mendesah panjang ketika melihat tidak ada sesuatu yang baru dari layar ponselnya. Sambil menguap besar ia menggenggam erat ponsel dan perlahan memejamkan bola matanya.


...


Onyx terbangun ketika pagi masih sangat dingin, Mersia selalu saja dingin bahkan ketika musim panas tiba di negeri itu. Umumnya Onyx akan bergegas untuk berolahraga pagi sebelum beraktifitas, namun siang nanti ia akan berkuda dengan Cyrus. Onyx ingin memanfaatkan akhir pekannya berbicara dengan Cyrus. Penasehat pribadinya tentang cinta.


Saat ini bisa dikatakan Onyx sedang gundah, ia belum bisa melupakan kekecewaannya karena Serenade namun di sisi lain ada seorang gadis belia yang acapkali mengusik konsentrasinya. Onyx selalu teringat akan Hawaii, walau bukan perasaan yang sama ketika menyukai Serenade. Hawaii seperti hembusan angin yang menyegarkan, ketika bersama gadis belia itu, ia melupakan banyak hal termasuk kekecewaannya.


Onyx meraih ponsel pribadinya dan membawanya menuju balkon kamar. Ia membuka lebar-lebar daun pintu ganda tersebut hingga angin dingin dengan leluasa masuk ke dalam kamar. Sama seperti saudaranya yang lain, ia pun sangat mencintai dingin dan lembabnya udara Mersia.


Hawaii Capucine


Siapa sebenarnya dirimu, Tuan Alistaire?


Onyx membaca pesan Hawaii yang dikirimnya sejak dua hari yang lalu. Onyx teramat sibuk hingga untuk memeriksa ponsel pun ia tidak sempat.


Alih-alih Onyx membalas pesan, ia memilih mengirimkan surat elektronik atau email ke Hawaii.


Dear Hawaii,


Maafkan aku terlambat membalas pesanmu, seperti yang aku tulis di surat sebelumnya jika aku memiliki banyak pekerjaan. Nomer yang kau simpan ini adalah nomer pribadiku, aku memiliki nomer lain khusus untuk urusan pekerjaan. Jadi ketika aku pulang dengan tubuh lelah, aku tidak punya waktu untuk mengecek ponsel ini.


Oh ya, kembali kepada pertanyaanmu.


Siapa aku sebenarnya?


Hawaii, terlepas siapa aku di Skotlandia atau apapun pekerjaanku di sini. Aku tetap Tuan Alistaire yang kau kenal di danau Lac d'Aiguebelette. Aku adalah orang yang sama dan kita berteman, bukan?


Hawaii, kau memiliki ponsel sekarang tapi aku berharap kau tidak perlu mencari tahu tentang diriku. Aku terlalu percaya diri mengatakan ini, tetapi pada umumnya wanita di usiamu memiliki tingkat keingintahuan yang sangat tinggi. Tidak ada yang perlu kau ketahui, aku hanya seorang pekerja biasa dan melayani banyak orang. Hanya saja Marc sangat beruntung mendapatkan suami sekaya Orion.


Jika ada hal yang ingin kau tanyakan, kita bisa berbalas pesan. Aku janji akan lebih sering membawa ponsel ini. Oh ya, apakah sudah ada kabar dari Universitas Jean Moulin Lyon? Bagaimana dengan proses renovasi penginapan Granda Thierry? Semoga semua berjalan lancar. Dan sepertinya kau harus belajar mengemudi dan mendapatkan SIM. Bukankah kau harus ke Lyon untuk berkuliah, itu akan memudahkanmu jika menggunakan kendaraan sendiri. Aku tahu jika sekarang kau mampu untuk memiliki sebuah mobil.


Di sini, masih pagi juga berkabut. Lihat aku menyertakan foto pemandangan dari kamar tidurku.



Regards,


Alistaire.


###






...[Prince Philip mengucapkan Selamat Idul Fitri 1443H, Mohon Maaf Lahir dan Batin]...


Alo Kesayangan💕,


Minal Aidin Wal Faidzin, Ladies 🙏🏻


Sepertinya banyak readers yang gak kemana-mana, stay at home atau mungkin kalian sudah berada di kampung sendiri, kota sendiri, orang tua berada di kota yang sama. Hmm.. Bagaimana hari raya kalian, dan yang liburan sudah kemana saja?


Aku menetapi janji, bukan?


Saat libur lebaran mengupdate Mersia.


Sedikit info buat kalian jika ada yang bertanya, apakah author di RL seorang yang romantis ke pasangan?


jawabnya, tidak 🤣


aku bukan tipe orang yang bermulut manis malah sengit.


Love,


D😘