
"Aku seorang Mafia, Yang Mulia," kata Kai menunggu respon tunangan keponakannya. Walau gestur tubuh terlihat tenang namun mata Philip berkedut melebar. Kai tersenyum miring, ia melanjutkan misinya.
"Nada lahir sebelum waktunya, tragedi membuatnya cepat hadir di dunia. Sejak bayi ia dipisahkan dari Sky, mamanya. Hidupnya sudah berat sejak kecil, Yang Mulia," Kai menggunakan intonasi ringan sambil memikirkan kejadian 20 tahun yang lalu seakan baru saja kemarin tragedi itu terjadi. Kai masih muda, ia masih hidup dengan semaunya namun tragedi tersebut merubah pandangan hidup Kai dan keluarganya.
"Secara garis besar saya mengetahui tentang tragedi itu, Paman Kai," Philip menanggapi perkataan Kai dengan sopan.
"Kami menyimpan cerita itu dan tidak pernah membicarakannya lagi. Sky sudah menemukan Axel yang mengisi peran sebagai suami Sky dan ayah bagi Nada. Sebenarnya inti dari pembicaraan ini adalah Nada telah mengalami cobaan sejak kecil, dia tumbuh seperti sekarang karena peran keluarga kami. Tapi yang aku lihat dari mata kepalaku di pesta, tidak sedikit orang-orang menatap Nada dengan pandangan tidak suka,"
Alis Philip berkedut sedikit manik lionnya bergerak. "Itu hanya sepupu jauh bukan keluarga inti," dalih sang pewaris tahta dengan hati-hati.
Kai menggeleng, bibirnya saling mengatup. "Bukan hanya mereka,"
"Siapa?" tanya Philip.
Helaan napas Kai terdengar berat, manik biru lautannya menyiratkan kekhawatiran. "Seseorang yang memiliki posisi penting di kerajaan ini. Itu saja yang bisa aku katakan,"
"Aku akan mencari tahu tentang itu," balas Philip dengan cepat.
"Menurutku itu tidak perlu, Yang Mulia. Tugasmu hanya menjaga Nada dengan baik, pastikan orang yang berada didekatnya adalah orang-orang pilihan, orang-orang yang kau percayai. Nada tidak memiliki teman yang banyak, beberapa teman akrabnya juga punya kesibukan hingga nantinya dia di Swedia tidak membawa orang kepercayaan yang akan menemani kesehariannya. Jika boleh.. aku bisa memberikan dua pengawal pribadi untuk Nada," todong Kai di akhir kalimatnya.
Philip mencoba mencerna dengan akal sehatnya, sebagian besar ia sadar jika sedang dipengaruhi oleh Paman Kai tapi di sisi lain ia memikirkan Serenade ketika jauh dari pengamatannya. Pria paruh baya di depannya ini tidak akan mengecewakan jika diberikan kepercayaan besar.
"Seberapa hebat dua orang itu? Pengawalku adalah tentara-tentara yang terlatih," ucap Philip.
Kai tersenyum tipis sisi kanan bibirnya naik sedikit. "Kami tidak butuh senjata untuk menyelesaikan sesuatu, Yang Mulia. Ini bukan soal keselamatan Nada tapi aku ingin dia memiliki orang yang ditemaninya berbagi sesuatu hal yang tidak bisa diceritakan kepadamu,"
"Hal apa saja yang disembunyikan Nada dariku?" tanya Philip. Alis kanannya yang terangkat.
"Entahlah, apa saja bisa bukan? Hal kecil yang tidak perlu Yang Mulia tahu tapi mungkin membuatnya risau," dalih Kai.
"Benar juga Nada tidak memiliki teman di sini, mungkin dia akan kesepian jika aku sedang sibuk," Philip mulai terpengaruh akan perkataan Kai.
"Yang Mulia akan menempati tahta tertinggi di kerajaan ini. Kita sebagai pria terkadang berlebihan ketika berjanji.. seperti mengatakan akan selalu menemani di setiap saat. Itu kata-kata indah yang sangat susah diterapkan. Setelah menikah banyak janji dan kata-kata yang dilanggar atau diingkari sadar atau tidak,"
Philip melayangkan pandangan ke arah Serenade, wanita bersurai emas itu terlihat sedang menikmati waktu berbincang dengan keluarganya. "Sejauh ini aku berusaha menepati semua perkataanku,"
"Perjalanan masih panjang, Yang Mulia,"
Philip menarik napas panjang mendengar perkataan. "Aku tidak ingin Nada menceritakan hal yang tidak kuketahui kepada seorang pengawal pria," ungkap Philip.
"Dua pengawal yang akan menemani Nada salah satunya adalah seorang wanita, Yang Mulia. Seorang gadis muda tepatnya berusia 18 tahun, dia dekat dengan Nada," kata Kai lalu tersenyum dengan sorot mata yang melembut.
Alis Philip justru mengerut. "Bukankah itu terlalu muda untuk dijadikan sebagai pengawal pribadi,"
Kai menggeleng sangat pelan. "Jangan ragukan tentang kemampuannya, Yang Mulia,"
"Hmm.." Philip berdeham. Ia sedikit khawatir namun sorot mata Kai memancarkan kepastian. "Baiklah. Hal lain apa yang harus kuketahui, Paman?"
"Dua pengawal yang akan kukirim akan memiliki identitas baru. Pengawal wanita aku titipkan di sini selama 3 tahun adalah anakku sendiri, Yang Mulia. Ya, adik sepupu Nada,"
Manik lion Philip membulat. "Adik sepupu?" suaranya membeo.
Kai kembali tersenyum. "Ya, Kaluna Rose namanya. Tapi aku ingin identitas aslinya tidak diketahui oleh siapapun selain dirimu,"
Philip menarik napas lalu mengangguk-angguk tanda mengerti. Ia menjulurkan tangannya ke depan. "Swedia menunggu kontrak resmi dari..."
"Black Panther," sambung Kai menjabat tangan pewaris tahta Kerajaan Swedia itu dengan mantap.
...
Hawaii menunggu kedatangan Onyx, pria itu telah berjanji akan menjemputnya untuk makan malam bersama dengan keluarga Kerajaan Mersia. Sebentar lagi Hawaii akan bertemu Raja dan Ratu beserta saudara Onyx yang tak lain Cyrus, Hiver beserta suaminya. Saat siang tadi Hiver sempat mengunjungi Hawaii sekaligus beserta para dayang-dayang membawakan pakaian ke kamarnya.
Hiver adalah sosok idola Hawaii, seorang putri Mersia dengan wajah memukau pula diiringi dengan perilaku dan bahasa yang sepadan. Hiver menenangkan Hawaii yang sedang kebingungan dan gugup menghadapi kehidupan yang berbeda dengan kesehariannya. Di Mersia semua tampak menyilaukan mata dari hal terkecil hingga pilar-pilar setinggi 40 meter di bagian depan Palace.
Pula orang-orang yang berpakaian formal berjalan dengan langkah tegap dan pasti. Tidak ada satu pun Hawaii temukan orang mengenakan pakaian santai seperti keseharian di keluarganya. Di Lyon Hawaii sering bertemu dengan pria juga wanita yang berbusana sesuai trend, terlihat modis namun tetap saja berbeda di Kerajaan Mersia. Mereka yang berkutat dengan kehidupan di dalam kerajaan memiliki penampilan berkelas, perkataan yang tertata berbeda dengan mamanya yang tidak segan meneriakkan nama Hawaii dengan kencang-kencang.
Mengingat sang mama, Hawaii mencari ponsel di dalam tas kecil yang dibawanya dari Perancis. Hawaii menemukan ponselnya, ia melihat beberapa notifikasi panggilan dan pesan dari Jeanne, mamanya. Gadis bersurai keriting itu mengabaikan pesan teks Jeanne dan langsung menyambungkan panggilan suara.
"Demi Tuhan, Mon Treasor," pekik Jeanne mendahului Hawaii yang baru saja ingin menyapa mamanya.
"Maafkan aku, Mamo. Aku baik-baik saja itu yang penting. Cyrus mengantarkan aku dengan baik, aku juga sudah bertemu dengan Prince Onyx dan Princess Hiver," Hawaii menjelaskan beberapa kejadian yang dilewatinya hari itu.
"Tuhan, Hawaii Capucine! Seperti apa di sana? Kerajaan Mersia seperti apa, Sayang? Kau tidak pingsan, bukan? Kau tidak melakukan hal yang memalukan, Nak? Tolong jaga sikapmu. Arrgh, Mama tidak bisa makan memikirkan anak satu-satuku," perkataan Jeanne terdengar histeris mengingatkan Hawaii.
"Mamo aku takut," erang Hawaii. Ketenangan sesaat yang didapatkan dari percakapan singkatnya dengan Princess Hiver telah menguap.
"Tuhan!" desah Jeanne. "Apa yang harus Mama lakukan?"
"Aku tidak tahu, Mamo. Aku akan bertemu dengan Raja dan Ratu, kami akan makan malam bersama. Princess Hiver mengatakan Raja sangat bijaksana, begitupun dengan Ratu penuh dengan kasih sayang," jelas Hawaii.
"Apa yang akan kau kenakan, Hawaii Capucine? Perkataan Mama sudah benar dengan keinginan membeli pakaian bagus untuk kejadian seperti ini. Dan wahhh! Anakku akan menjadi seorang putri karena bertemu dengan pangeran. Tuhan!" pekik bahagia Jeanne.
Hawaii menggelengkan kepala, manik hazelnya berkaca-kaca, dadanya berdenyut sakit, sementara pipinya memerah. "Perkataan Prince Onyx masih tersirat, ia belum mengatakan cinta kecuali mengatakan jika aku miliknya," ujarnya dengan polos.
"Itu sama saja, Sayang! Tidak semua kata cinta itu harus dikatakan dengan jelas. Yang penting perasaanmu berbalas, Anakku. Kau akan meninggalkan Mama," kata Jeanne mendadak drama.
Hawaii yang sedang duduk di salah satu kursi di dalam kamar tidur Onyx mendadak termenung. Sontak Hawaii mengingat tentang perkuliahannya, masa-masa awal di kampus menarik minatnya. Walau penginapan, danau terkadang suram dan membosankan bagi Hawaii, kini merupakan hal yang paling dirindukannya setelah pelukan Jeanne.
"Banyak hal yang ingin kubicarakan dengan Prince Onyx," kata Hawaii dengan pelan. Bersamaan ucapannya berakhir, pintu kamar terbuka lebar. Sosok Onyx yang tinggi jangkung mengenakan suit rapi berjalan masuk membuat jantung Hawaii berdenyut perih dan bahagia.
Kini manik hazelnya menyala terang dan tertuju pada satu sosok tampan dan sempurna. Tungkai-tungkai panjang berjalan dengan elok, kedua tangan mengayun pelan, bibir berwarna plum mengkal menyunggingkan senyuman simpul. Khas Tuan Alistaire yang dikenalnya di tepi danau.
"Yang Mulia," lirih Hawaii memanggil pria pujaannya, ia berdiri menyambut kehadiran Onyx.
"Maafkan aku meninggalkanmu lama," tangan Onyx terjulur dan menyentuh pipi kanan Hawaii. Elusan lembut membuat gadis belia itu memejamkan mata.
"Tidak lama Yang Mulia, aku nyaman di dalam kamar besar ini," jawab Hawaii menggantungkan tangannya yang sangat ingin menyentuh lengan kokoh milik Onyx.
"Aku merindukanmu," kata Onyx tiba-tiba. Pria jangkung menarik tubuh Hawaii masuk ke dalam pelukannya.
Hawaii tidak siap dengan kejutan di sore hari itu. Tubuhnya meleleh dalam dekapan, manik hazelnya memburam bahagia. Ia tidak pernah menyangka sosok setenang Tuan Alistaire memiliki sisi yang romantis.
"Yang Mulia," bisik Hawaii.
Onyx menghela napas sangat pelan. "Tadi aku dipanggil oleh Dewan Kerajaan, mereka menanyakan perihal dirimu,"
Hawaii tersentak, ia hendak melepaskan diri dari pelukan Onyx, pria itu mempertahankan posisinya. "Saya sungguh tidak layak berada di sini, Yang Mulia,"
"Tolong jangan berkata seperti itu, Hawaii. 15 tahun terakhir aku mendengarkan semua perkataan dan perintah dari Dewan Kerajaan. Hari ini untuk pertama kali aku melawan mereka," tutur Onyx memandang wajah Hawaii, sorot mata wanita muda itu menyiratkan kekhawatiran dan gugup.
"Raja belum bertitah namun tadi siang Papa menyiratkan dukungan," sambung Onyx.
Hawaii mengangguk paham. "Jadi?"
Onyx tersenyum "Bukankah aku sudah mengatakannya tadi pagi? Hawaii Capucine adalah milikku dan seterusnya. Seharusnya aku minta maaf kepadamu karena terlambat menyadari perasaanku,"
Manik hazel indah itu mengerjap. "Aku yang terlalu agresif, Yang Mulia. Aku terlalu penasaran akan sosok dirimu. Yang Mulia sangat berbeda dengan pemuda-pemuda yang kukenal. Berbeda dengan Papa. Aku membencinya,"
"Sttt," Onyx meletakkan jari telunjuknya di bibir Hawaii. Kepalanya menggeleng diiringi senyuman manis. "Seorang anak tidak boleh merutuki orang tuanya, Sayang. Mereka memiliki alasan tersendiri mungkin juga pribadi yang berubah karena keadaan. Bersabarlah lebih banyak,"
Bibir Hawaii mengerucut, kedua bola matanya basah mendengar perkataan Onyx yang lemah lembut mengajarinya seperti Grandma. Hanya ada satu orang di rumah Hawaii yang membahas Benjamin Murphy dengan lemah lembut disertai nasehat yang menyentuh. Sayangnya, benci lebih hebat berkecamuk di dada Hawaii. Ia sulit berdamai dengan traumanya.
"Maafkan saya, Yang Mulia,"
"Hawaii Capucine, semua yang terjadi ada sebab dan akibatnya," Onyx yang berubah menjadi pria ter-romantis sejagad Mersia kini memainkan rambut Hawaii yang jatuh di pipi. "Apakah kau akan mengenakan gaun ini untuk makan malam bersama?"
Hawaii tertunduk memandang dress sepanjang betis berwarna coral. Sebuah pilihan pakaian jika ia masih di tepi danau takkan pernah ia kenakan. Di sini, Hawaii justru merasa kurang. Ia takut apa yang dipakainya akan menjadi bahan pembicaraan, ia serba salah. Sambil menunggu ia mencoba beberapa gaun namun tetap merasa ada tak lengkap.
"Bagaimana menurut, Yang Mulia?" tanya Hawaii penuh cemas.
Onyx melangkah mundur dan menatap penampilan Hawaii. "Kau cantik, Hawaii. Apapun yang kau kenakan terlihat menarik,"
"Saya tidak percaya diri, ada yang kurang," sahut Hawaii melemah dengan tatapannya sayu.
"Kau menggemaskan," Onyx tertawa dan kembali memeluk Hawaii yang kehilangan rasa percaya diri. "Tidak ada yang kurang, Hawaii. Kau sempurna, cantik. Selama di Mersia kau cukup menjadi dirimu sama seperti ketika di danau. Aku merindukan dirimu yang itu,"
Hawaii tersipu, Onyx mengatakan dirinya 'cantik' sebanyak dua kali. Perlahan rasa percaya dirinya meningkat drastis. Hawaii yang murung telah hilang berganti wanita muda yang menggerakkan kedua tangannya mengalungi leher sang pewaris tahta Kerajaan Mersia.
"Sejak dini hari ketika melihatmu, Tuan Alistaire..." ucap Hawaii dengan lancar. Maniknya melebar sementara Onyx justru mengangkat kedua alisnya.
"Ya?" timpal Onyx.
Hawaii tersenyum kecil tapi terlihat licik. "Ini adalah hal yang paling ingin kulakukan, Tuan Alistaire," katanya sambil mengambil napas dalam-dalam.
"Apa?" Onyx terlihat kebingungan. Dadanya bertalu cepat. Memandang dari jauh dan dada berdebar sungguh sangat berbeda jika dalam pelukan merasakan hal yang sama. Tubuh kuatnya yang terlatih pun bisa melemah karena tindakan Hawaii.
Hawaii memperdalam senyumannya di saat yang sama menarik turun kepala Onyx. Hawaii-lah yang pertama kali menyatukan bibir mereka. Hawaii pula yang berani memberikan ******* ringan pada bibir Onyx yang kaget dan kaku.
"Hawaii Capucine memberikan ciuman pertamanya kepada Tuan Alistaire," Hawaii berkata pelan sambil menarik diri ke belakang. Ia melihat Onyx layaknya pohon mati yang tak bergerak. "Yang Mulia," panggil Hawaii sambil menyentuh lengan pria itu.
Akhirnya bola mata Onyx bergerak dengan sentuhan Hawaii, seketika itu ia kembali berpijak ke bumi. Rautnya memanas dan merona, bibirnya bergetar.
"Hawaii demi leluhur Kerajaan Mersia, demi nyawa yang masih menghuni tubuhku.. aku tidak akan pernah melepaskanmu," kata Onyx menggetarkan kedua kaki Hawaii hingga ke dada.
Onyx menangkap lengan Hawaii dan memegangnya kuat. Ia menunduk lalu berbisik lirih.
"Hawaii Capucine, kau baru saja mengambil ciuman pertamaku,"
###
Alo Kesayangan💕,
Mersia sepertinya terbit dua kali sebulan yah😂
aku gak mau ngomong macam-macam tar diseneni kalian 😅
love,
D😘