MERSIA

MERSIA
Make You Feel My Love




Pagi itu hujan masih turun di Danau Lac d’Aiguebelette, Perancis. Sosok Hiver termenung bersandar di bay window, manik hijaunya memandang setiap tetesan air hujan yang semakin membasahi taman bunga suaminya. Pria


dingin itu kini sedang di ruang kerjanya, seperti biasa tenggelam dengan pekerjaan. Hiver bisa berpikir jahat kepada River yang masih pagi buta


telah menelepon Orion, seakan sesuatu yang penting harus dikerjakan.


River melakukan itu kepada Orion hampir setiap hari, selama 4 hari belakangan. Dan satu lagi, mereka hanya bertemu ketika waktu santap siang dan Orion baru akan keluar dari tempat kerjanya pada pukul 8 malam.


Di saat seperti ini Hiver memiliki banyak waktu untuk membaca, dan melamun. Buku yang di ambil di sisi jendela sejak tadi di tutupnya, kini


angannya kembali mengembara ke Swedia. Sebuah peristiwa yang mati-matian Hiver kubur dalam hati.


~~


Tubuh Hiver gemetar ketika sepasang tangan kokoh merengkuhnya. Dada berotot itu panas, wangi maskulin menggoda indera, Hiver bisa mendengar deruan jantung Philip memompa dengan kencang.


“Tuhan.” desah Philip meresapi kemesraan hasil negoisasinya dengan wanita di dalam pelukan. Bahkan tubuhnya bergetar menyambut penyatuan dua tubuh dalam dekapan yang seharusnya tidak terjadi.


Tidak ! Hanya ini kesempatan Philip, satu-satunya. Merasakan Hiver dalam pelukan.


Semua tampak sempurna, tubuh besar Philip bisa melindungi tubuh ringkih Hiver dari serangan apapun yang bisa saja terjadi malam itu. Mungkin sebuah meteor berdiameter kecil sudi jatuh di rumah kaca, dan pastinya Philip senang hati memilih mati bersama dengan wanita yang dicintainya.


Sayangnya itu tidak akan terjadi. Tuhan sedang tidak berbaik hati dengan Philip dan perasaannya. Ini lebih siksaan yang tak berkesudahan. Philip sangat tahu jika mereka tidak punya masa depan, sungguh sebuah dosa meminta para pasangan mereka berpulang ke tangan Tuhan, dan ia akan memiliki kesempatan untuk mengejar putri pertama Kerajaan Mersia.


Mendengar permintaan Hiver yang menginginkan Philip mencurahkan kasih sayang kepada Lou, membuatnya sesak. Ia sama sekali tidak ada di dalam hati Hiver, malah sebuah perkataan wanita itu yang menyadarkan akan posisinya.


“Wangimu sangat enak di cium, sayang.” gumam Philip kepada wanita bersurai hitam yang tertunduk entah apa yang menjadi perhatiannya dengan jarak sedekat ini.


Hiver terdiam. Kedua tangannya lunglai di sisi tubuh. Bohong jika dadanya tidak ikut berdebar, walau tidak sehebat ketika berada dalam pelukan Orion. Mereka berbeda, terlebih Hiver memiliki perasaan yang hanya tertuju kepada satu pria.


“Princess Hiver, andai saja waktu bisa di ulang.” Kata Philip sangat lembut. Suara bariton itu bisa mendayu juga, Hiver terkaget hingga menaikkan kepalanya. Tinggi Philip hampir sama dengan Orion, jarak pandangan hanya sekitar sejengkal tangan sang pewaris tahta.


Hiver menggeleng “Tidak ada itu. Waktu tidak bisa di ulang, Prince Philip. Kita hanya bisa bergerak ke depan seiring bumi berputar, apa yang terjadi di masa lalu hanya akan menjadi kenangan.”


“Sebuah kenangan buruk melihatmu berjalan dalam genggaman tangan pria itu. Setelah hari itu, beberapa kali aku bermimpi hal yang sama. Aku salah, sayang.” gumam Philip ketika tatapan mata mereka bertemu dengan sangat intens.


Hiver melihat secercah senyuman terbit di bibir Philip, manik lion itu menyayu.


“Aku harusnya tidak menikahi Lou demi sebuah perasaan kecewa dan dendam kepada kepada pria itu. Tapi jika aku tidak melakukannya, aku tidak akan bisa memelukmu seerat ini. Jika aku berada di keluarga Mersia, kita masih bisa bertemu. Tapi sayangnya kau malah memintaku untuk mencintai Lou. Ini sangat berat, sayangku.” Kata Philip sendu dengan dada bergemuruh.


“Tidak ada negoisasi, Prince Philip. Kau telah mengambil bayarannya.” Sahut Hiver mengingatkan.


Di dalam pikirannya ada dua sosok bergantian muncul, yakni Orion yang diselingkuhinya. Ya, jika perbuatannya sekarang masuk dalam kategori tersebut. Dan Lou, adiknya yang tersiksa karena Philip.


“Aku tahu, dan sekarang menikmatinya. 30 menit itu sangat pendek.” Desah Philip seraya mengetatkan pelukan. Tidak pernah sekalipun ia memeluk seorang wanita seerat seperti dengan Hiver tanpa melibatkan gairah. Sekarang tidak ada perasaan itu, melainkan cinta yang terlampiaskan dalam satu pelukan.


“Tidak ada penambahan waktu.” Sahut Hiver kembali menunduk. Ia harus menghindari tatapan Philip yang semakin menajam menuju hatinya.


Philip tertawa kecil, Hiver melihat sepasang gigi taring yang tumpul namun posisinya lebih keluar dari deretan gigi lainnya. Berbeda dengan vampir miliknya yang berada di Perancis, sangat tajam dan indah untuk dilihat.


“Aku tahu, Princess Hiver. Ini adalah 30 menit paling berharga dalam hidupku, malah kau mengajakku berdebat. Tolong berikan aku kedamaian, maksudku jangan membantah di setiap perkataanku. Bisa, bukan bersikap baiklah dan penuh kasih sayang selama 30 menit? Jika tidak bisa mencintaiku sebagai pria, anggap aku sebagai seorang kakak bagimu yang butuh sentuhan kasih sayang. Hanya 30 menit, Princess Hiver.” tukas Philip terdengar memelas.


Kembali Hiver menatap sorot lion terluka itu. Philip terlihat benar-benar tak berdaya akan perasaannya, pewaris tahta itu kurang lebih sama ketika River melihat Hiver. Terbersit perasaan geli di benak Hiver, bagaimana mungkin dirinya yang tidak pernah berpacaran bisa melukai dua pria sekaligus.


“Apakah ada yang lucu?” tanya Philip ikut tersenyum melihat kedua ujung bibir Hiver naik ke atas.


“Aku hanya mengingat diriku, Tuan Bernadotte. Seorang putri yang tidak pernah berpacaran, namun bisa melukai dirimu dan pria lainnya.” Bisik Hiver.


Philip mengangguk “Ya, rupanya sang putri memiliki hati, aku pikir sama sekali tidak berperasaan hingga tidak mengetahui jika yang apa kau lakukan itu menyakiti kami berdua. Aku dan River Phoenix, bukan?”


Hiver mendengus seraya tersenyum manis.


“Ya, dia adalah sahabatku.”


Hati Philip berbunga ketika melihat senyuman wanita dicintainya, kini ia tidak membutuhkan mesin canggih untuk kembali ke masa lalu, melainkan mesin untuk menghentikan waktu saat itu juga.


Philip berdeham “Satu lagi lucu jika kau memiliki selera humormu yang aneh, sayang.” ucapnya lembut.


Manik hijau Hiver melebar “Apa?” tanyanya antusias. Ia sungguh telah melupakan jika suami adiknya -lah yang sedang memeluk dengan sangat romantis.


Barisan gigi putih Philip berkilauan bak mutiara menyilaukan mata “Kami akan kau temui hingga tua kelak. River adalah saudara kembar pria itu dan aku adalah suami dari Lou. Sungguh benar kalimat yang mengatakan jika rasa duka lebih mengikat daripada sebuah kebahagiaan. Satu kebahagiaan akan sirna ketika akan muncul kebahagiaan lainnya, berbeda dengan duka. Kehilangan dirimu adalah duka terbesar dalam hidupku yang tidak akan sembuh oleh waktu.” Ucap Philip yang intonasinya semula riang kemudian sendu. Ia pun berdeham, karena sesak kembali naik ke tenggorokan.


“Maafkan aku, Prince Philip.” Tukas Hiver sambil menggeleng lemah.


“Tidak apa-apa, Hiver. Tuhan menggariskan takdir seperti ini untukku, walau aku sangat ingin menentangnya. Ya, ada Lou. Dia akan mendampingiku seumur hidup, aku berjanji membuatnya bahagia.” Kata Philip serius.


Hiver menghela napas lega “Terima kasih, Prince Philip Bernadotte. Terima kasih.” Ucapnya penuh syukur.


Pelukan Philip melonggar pun tidak lepas, sorot manik lion menatap sangat dalam ke manik Hiver.


“Jika bersama dengan Lou akan membuatmu bahagia, sayang. Aku pasti mengambil jalan itu, dan ini mungkin satu-satunya cara memperlihatkan rasa cintaku kepadamu. Seperti apapun hidup kita ke depan, sebahagia apapun kau melihatku di singgasana Kerajaan Swedia bersama Lou, kau selalu mempunyai tempat di sini.” Philip mengarahkan jemari tangan Hiver ke dada kerasnya. Tepat di antara pertengahan dua paru-paru, walau ia sangat tahu jika letak hati manusia bukan di tempat itu. Ya, memang Hiver bukan berada di hati melainkan di setiap detak jantungnya, setiap memompa ada nama wanita itu ikut tersemat.


Kehijauan danau itu berkabut, kini Hiver tahu sebesar apa perasaan Philip kepadanya.


“Jangan menangis.” Kata Philip dengan  suara baritonnya yang serak.


Hiver menggigit bibirnya menatap wajah Philip “Bukan aku yang menangis tapi dirimu.” Ucapnya melihat manik lion itu mengeluarkan cairan bening.


“Tuhan.” pekik pelan Philip seraya menarik kembali Hiver masuk ke dalam pelukannya.


Kali ini tangan Hiver tidak lagi lunglai di sisi tubuh melainkan ke punggung Philip, mengusap dengan lembut berupaya menenangkan pria bertubuh besar yang kehilangan segala kekuatan, ego dan kebesaran namanya yang disanjung se antero dunia. Philip kini tak lebih dari seorang manusia biasa yang sedang bermanja dengan penyebab lukanya.


~~


Lou berjalan di samping tubuh tinggi besar Philip, ia sedikit heran dengan permintaan pria itu 4 hari yang lalu yang mengajaknya berbulan madu walau letaknya masih berada di Swedia. Walau Lou berharap sebuah bulan madu yang tertutup tanpa iring-iringan mobil pengawal kerajaan, namun ini sebuah kemajuan sangat bagus akan hubungannya dengan pria yang memberikannya status sebagai seorang istri.


Tidak bisa Lou tampik jika Philip banyak berubah, mungkin sejak kakaknya berkunjung di Swedia. Philip semakin perhatian kepadanya, dan tidak adalagi pertanyaan tentang masa kecil Hiver dilontarkan pria itu. Hanya saja Philip lebih banyak termenung di sudut jendela sambil melihat langit malam, ia pun tidak berani bertanya apa yang sedang pria itu pikirkan.


“Kau menyukainya, Lou?” tanya Philip membuat wanita cantik itu tersentak.


“A..aku menyukainya, Yang Mulia.” Jawab Lou dengan terbata sambil melayangkan pandangan pada kastil besar yang berada di tepian laut Halland, Swedia.


Philip tertawa melihat wajah Lou memerah.


“Ini sangat indah, bukan?” kembali Philip bertanya sambil ke arah laut yang memiliki beberapa pulau kecil yang tidak berpenghuni. Dan semuanya adalah milik kerajaan Swedia.


“Ya, indah.” Balas Lou lembut seraya berdiri di samping suaminya.


Philip mengerling menatap wajah Lou yang berbintik tapi cantik. Hanya sebentar kemudian ia kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Philip berdeham pendek.


Sungguh berbeda, sayang. Kau dan adikmu. Sungguh kecantikan yang berbeda.


“Di sini kau bisa melepaskan segala bebanmu, Lou. Ya, dari tugas dan aturan kerajaan. Kau bebas melakukan hal apapun selama di sini.” Kata Philip tanpa berbalik ke arah lawan bicaranya.


Lou tersenyum melihat wajah Philip dari samping, pria itu tampak hebat ketika berbicara dengan suara yang tidak berlebihan. Jangan salahkan pula jika Lou makin menyukai Philip, semua tumbuh dengan seiring waktu kebersamaan mereka. Terlebih dengan sikap manis Philip beberapa terakhir kepadanya, Lou pun semakin memuja.


“Tapi kau akan berada di sini juga, bukan?” tanya Lou masih menatap Philip. Dan hal dinantikannya kesampaian pula.


Philip menoleh dengan senyuman di bibirnya, pria tampan itu mengangguk.


Lou menunduk dengan jantung berdebar kencang.


Philip mendekat dan mengusap lengan Lou “Kita harus memberikan penerus bagi kerajaan ini, Lou.” Sambungnya seraya berjongkok tepat di depan kaki Lou.


Pewaris tahta itu tersenyum geli melihat kedua kaki Lou yang terbungkus jeans goyah. Namun ia tidak melanjutkan kesenangannya melihat wanita itu lemah di dekatnya. Philip justru meraih tali sepatu Lou yang terlepas dari ikatan.


“Terima kasih, Yang Mulia.” Ucap Lou dengan lembut.


Philip tersentak, ia mendengar suara Hiver. Pun dengan cepat ia menengadah menatap wajah asal suara yang membawanya ke malam di rumah kaca. Sekilas ia melihat raut Hiver dalam dua detik, kemudian kembali ke wujud aslinya. Princess Maryln Lou sedang tersenyum sangat indah dengan wajah merona merah menatapnya.


Philip hanya bisa membalas senyuman istrinya sebelum ia kembali tertunduk menatap sepasang sepatu sport yang telah terikat dengan sempurna.


Ini susah, Princess Hiver. Aku bahkan bisa merasakan bahagia hingga ke langit hanya dengan melihat wajahmu yang datar. Jika kau tersenyum, langit itupun runtuh bersamaan dengan hatiku. Sungguh, aku merindukanmu.



Orion melangkah sangat pelan mendekat ke arah sosok dewi yang sedang tertidur di bay window. Hampir tak ada suara oleh langkah kakinya, juga ia di bantu oleh bunyi air jatuh di luar jendela. Senyumnya semakin mengembang ketika berhasil berjongkok di samping kepala wanitanya.


Sangat cantik, katanya dalam hati.


Kau pasti sangat bosan menungguku bekerja, Marjorie.


Sepasang mata indah itu terbuka dengan sendirinya tanpa ada gangguan dari Orion.


“Kau sudah selesai?” tanya Hiver menatap wajah Orion berseri.


“Bahkan masih jauh dari selesai, Marjorie.” Dari tadi ia menahan diri untuk tidak mengusap surai hitam istrinya, kini Orion menuntaskannya. Jemarinya menyisir kepala Hiver dengan lembut, wanita cantik itu kembali memejamkan mata walau hanya sebentar.


“Jangan katakan jika sudah masuk jam makan siang, Orion.” Hiver tersentak dan terbangun.


Wajah rupawan dan cantik itu mengangguk seraya memegang jemari tangan Hiver.


“Ya ampun, aku tidur sangat lama.” ucap Hiver dengan sesal.


Orion terkekeh pelan dengan suara semanis madu.


“Kau pasti sangat bosan dengan rutinitasmu di sini, Marjorie.” Ucapnya seraya mengembuskan napas panjang.


“Tidak, aku menyukainya. Lebih 20 tahun lamanya aku sibuk dengan pekerjaan dan acara kerajaan, Orion. Aku sangat menikmati kehidupanku yang sekarang, aku sangat menyukainya.” Sergah Hiver berhadap-hadapan dengan Orion.


Orion tersenyum “Apakah kau juga menyukaiku?”


“Ah!” tanpa sadar kata itu keluar dari bibir Hiver. Jantungnya bergemuruh sangat hebat, di tengah perasaan yang menderanya, Hiver menatap pria


berwajah cantik dengan suaranya yang lembut mendayu.


Hiver tersipu, tersenyum malu-malu.


“Kau tidak perlu menjawabnya.” Orion mendahului Hiver bersuara. Ia menggenggam jemari tangan istrinya dan melangkah bersama keluar dari


ruangan baca.


“Nanti sore kita akan ke Lyon, Marjorie. Kantor membutuhkanku. Tapi berjanjilah untuk menemaniku hingga ke kantor.” kicau Orion seolah melupakan pertanyaannya.


Hiver memegang tangan Orion dengan jemarinya yang masih terbebas dari genggaman pria itu.


“Ada apa, Marjorie?” tanya Orion menghentikan langkahnya.


“Aku belum menjawab pertanyaanmu, Orion.” Bisiknya dengan wajah masih memerah.


Orion tertawa. Hiver meleleh.


“Tidak perlu.” Kata Orion kembali melangkahkan kaki.


“Kenapa?” cicit Hiver yang pasrah dalam genggaman suaminya.


Kembali Orion menghentikan langkah kaki di pertengahan tangga berkarpet lembut itu. Pria bersurai emas pucat dengan manik biru gelap mengurai tautan tangan mereka.


Jemari ramping Orion naik ke wajah Hiver, menangkup sisi kanan pipi sang putri.


“Karena aku sudah tahu jawabannya. Dan jika kau menjawabnya, bukan ruang makan kita datangi melainkan kamar tidur, Marjorie. Tapi bukan itu yang aku inginkan, aku masih ingin berpacaran denganmu. Mungkin di Lyon, kita bisa bertemu dengan dokter kandungan.”


Hiver menggeleng, jantungnya sudah rontok sesaat Orion menyelesaikan perkataannya.


“Jadi?” igau Hiver.


Orion tertawa manis seraya mengedikkan bahu.


“Kau ingin makan atau ke kamar tidur, Marjorie?” tanyanya dengan seringaian vampirnya yang memikat hati.


Hiver menyentuh tangan Orion di pipinya yang memanas oleh satu sentuhan sederhana.


“Pacaran. Aku ingin memiliki seorang kekasih.” Sahutnya seraya menggigit bibir.


“Baiklah. Mari kita makan siang, hari ini menunya sangat enak. Aku juga sudah  mengabarkan mommy jika kita akan ke rumah, tentu saja mom akan menyambut dengan makanan Asia yang sangat enak.” kata Orion kembali menautkan jemari tangan dengan Hiver


“Aku mencintaimu, Orion.” Ucap Hiver setulus hati.


Orion tersenyum dalam langkah kaki mereka yang bergerak seirama.


“Ya, istriku. Akupun juga begitu.”


###






alo kesayangan💕,


hei aku kembali.. bagaimana dengan libur pergantian tahun kalian?


oh ya, sebenarnya aku gak kemana-mana.. masih di kota gudeg, tapi lebih banyak waktu aku habiskan dengan berolahraga, beberes rumah, dan membaca di aplikasi Kas***.


part ini merupakan permintaan penjaga GCku, yaitu Olin di Purwodadi. dia pengen aku jabarkan momen Hiver dan Philip berpelukan.


but, jangan minta Mersia lagi besok ya Lin, wkwkkwk..


so, see ya..


mungkin ak akan menjenguk Sky Navarro dulu.


love,


D😘