
“Apa yang kau katakan kepada Lou?” sembur Philip kepada Jonas, kakak sepupunya di ruang kerja setelah mengecek keadaan Lou yang sepenuhnya telah beristirahat. Istrinya hampir pingsan di rumah kaca ketika sedang
berbicara dengan Jonas, pria yang kini tersenyum tanpa perasaan bersalah.
Jonas mengedikkan bahu bersamaan dengan alisnya naik. “Ini dan itu, Yang Mulia.” Ucapnya lalu terkekeh.
Philip mendengus kesal, manik lionnya menajam ke arah Jonas.
“Sepertinya kau sudah jatuh hati kepadanya, Philip. Kau bisa marah juga.” Kata Jonas menepuk bahu adik sepupunya. Ia berjalan menuju sofa beledu coklat beraksen emas dan menghempaskan tubuhnya dengan santai.
“Joe.” Geram Philip mengeraskan rahangnya, menahan kekesalannya tidak menjadi amarah.
“Ada apa, Yang Mulia? Kemarilah, kita itu sangat dekat adikku. Semua bisa dibicarakan dengan baik-baik, terlebih kau baru saja pulang.” Jonas menepuk tempat duduk di sebelahnya. Philip yang berdiri seakan menguasai ruangan kerjanya, bergerak mengikuti keinginan Jonas.
Benar kata pria bersuit abu itu, jika mereka sangat akrab. Sejak kecil Philip telah bersama dengan Jonas, yang merupakan kakak sepupunya. Di antara anak-anak berdarah biru seperti Philip, hanya Jonas yang memiliki pola pikir bebas. Selebihnya saudara Philip dan sepupunya terlalu konservatif, patuh kepada aturan kerajaan. Sementara Philip ingin merasakan hidup layaknya remaja yang bebas, bersama dengan Jonas mereka lepas bereskpresi. Bisa dikatakan dimana ada Jonas di situ ada Philip. Mereka bersekolah di tempat sama, sekolah kerajaan walau Jonas terpaut tiga angkatan di atas Philip, bukan sebuah penghalang untuk berbbuat kenakalan tersembunyi mereka berhenti.
“Apa yang kau katakan kepada Lou?” kembali Philip bertanya ketika bokongnya mendarat di sofa.
Jonas tertawa geli sambil menggelengkan kepala.
“Sedikit membahas kakaknya.” Celetuknya ringan.
“Joe!” Philip menggeram sambil meninju saudaranya. Jonas tertawa-tawa seraya merangkul bahu Philip.
“Santai, Yang Mulia.”
Mata Philip melotot, bibirnya mengerucut.
“Santai? Kau membuat Lou hampir pingsan. Kami sedang menunggu kehamilannya, malah kau membuat mentalnya terpuruk. Bagaimana jika Lou sakit?”
Jonas mengerutkan alisnya sambil menatap Philip lekat-lekat.
“Kau mencintainya? Maksudku, biasanya kau membela seseorang jika mempunyai perasaan.”
Philip menghela napas dan menatap datar ke depannya.
“Dia istriku, calon permaisuri kerajaan ini. Seluruh rakyat sedang menunggu kabar gembira dari kami. Sang penerusku, semoga saja Lou mengandung bayi laki-laki sebagai anak pertama kami. Dan tugasnya menjadi lebih
mudah.”
“Tapi kau tidak mencintainya, kau hanya menjalankan tugasmu sebagai calon raja. Ini bukan dirimu, adikku.” Sergah Jonas menggelengkan kepala.
Philip menangkup wajahnya dan menghela napas berat dan panjang. Sekilas kemudian menatap Jonas dengan tatapan lion yang seperti terluka.
“Aku melakukan kesalahan, Joe.” Ujarnya pendek. Bibirnya terkatup dengan gelengan kepala yang pelan dan berkali-kali. Ia tampak sangat menyesali segala apa yang telah terjadi.
“Sudah bisa ditebak. Ya, kau melakukan hal yang sangat salah. Sebenarnya apa yang membuatmu melakukan ini?” tanya Jonas. Ia tidak pernah salah dalam menebak jalan pikiran dan hati adik sepupunya. Jonas mengenal
luar dan dalam sang pewaris tahta yang sekarang terlihat sangat kalut.
“Tapi aku tidak bisa mundur, semua telah menjadi bubur. Aku sudah berjanji kepada Hiver untuk membahagiakan adiknya. Aku harus menepati janjiku, demi Princess Hiver.” ujar Philip dengan murung.
Jonas menggeleng, dengan sangat pelan. “Kau bertemu dengannya? Kapan? Aku tidak bisa membayangkan perasaanmu bertemu dengan DIA. Princess Marjorie Hiver yang hampir setiap hari ketika kita remaja kau sanjung
setinggi langit. Cintamu, kasihmu, putri paling sempurna di matamu. Ya, akupun mengakui kecantikannya, tapi setelah melihat Lou aku lebih memilih istrimu.” Ungkap jujur Jonas tanpa menjaga perasaan Philip. Iapun sadar jika ucapannya tidak bisa melukai perasaan pria itu.
“Ya, Lou sangat cantik. Tapi Hiver memiliki pesona berbeda dibandingkan Lou dan seluruh wanita yang kukenal. Dia unik dan langka, tidak ada tatapan memuja dan cenderung dingin di semua fotonya. Ketika berbicara dengannya, aku seperti berada di sebuah dimensi lain. Hanya aku dan dia, tanpa ada orang lain terjebak dalam suatu dunia yang tidak ingin kutinggalkan. Aku sangat mencintainya, dan ketika memeluknya. Hatiku sangat sesak, sakit tapi juga sangat bahagia.” Lirih Philip mencurahkan perasaan kepada Jonas, satu-satunya orang yang bisa mengerti posisi dan isi hatinya.
Jonas tersenyum sedikit, sebenarnya hanya ingin menghibur ketimbang ikut larut oleh perasaan sedih sang pewaris tahta.
“Aku sudah berusaha keras, Joe. Memenangkan hati Hiver, namun Hiver memilih pria yang dikenalnya sejak kecil. Sedikit lagi, aku berhasil mendapatkan gadis yang kuinginkan.” Keluh Philip, ia menatap Jonas dengan mata singa yang sedang berkaca-kaca.
Jonas menepuk punggung Philip.
“Tapi seharusnya kau mengikhlaskan, bukan menikah adik kandungnya. Kau bisa menunda tekanan pihak kerajaan untuk mendapatkan calon permaisuri. Atau memilih seorang putri dari kerajaan lain asalkan bukan dari Mersia. Cukup sudah berhubungan dengan mereka. Sungguh, aku tidak habis pikir, Prince Philip Bernadotte.”
Philip memandang ke dinding tebal yang bahkan meriam kuno tidak bisa menembusnya dalam sekali tembakan. “Aku terpengaruh dengan raja, membalas dendam kepada Mersia dan pria yang menikahi Hiver. Setelah Hiver sendiri yang memohon agar aku menyayangi adiknya, membuat mataku terbuka melihat keberadaan Lou. Dia gadis yang sangat polos, pasrah dengan perjodohan kami. Aku bersikap lembut kepadanya, mulai memperhatikannya.”
“Apakah kau mencintainya?” sergah Jonas memotong pembicaraan Philip. Keduanya kemudian saling berpandangan. Jonas menuntut penjelasan, sementara Philip terlihat putus asa.
Jonas menarik napas panjang. “Tidak. Kau hanya berbelas kasihan kepada putri cantik itu, Philip.” ujarnya menyimpulkan.
“Apa yang harus aku lakukan, Joe? Semua telah terjadi, kami sudah menikah. Seluruh penjuru dunia yang mengetahui kerajaan ini, paham dengan siapa aku menikah, putri kedua Mersia. Benar apa yang dikatakan Hiver, jika tidak ada jalan untuk kembali. Hanya satu yang bisa kulakukan adalah menerima pernikahan ini, menjadi raja, memberikan kasih sayang kepada Lou, kurang lebihnya menjalani sisa waktu hidupku dengan damai. Mungkin kelak kami akan dikaruniai beberapa anak, mendidik dan mempersiapkan masa depannya. Dan tidak akan menekan anak-anak kami menjadi manusia arogan seperti diriku.”
“Kau terdengar bijak, tapi aku menangkap jika kau sedang menghibur dirimu. Andai saja aku di posisimu, aku akan mencintai Lou dengan sepenuh hati. Dia sangat cantik dan anggun. Wajahnya berbinar, sorot matanya sangat hidup ketika berbincang dengannya.” Kata Jonas penuh kekaguman yang tulus.
Philip menggeleng sambil mendengus ringan. “Jangan bilang kau jatuh cinta kepada istriku, Duke Jonas. Aku sangat paham diirimu yang jarang memuja seorang wanita kecuali kau mempunyai hati kepadanya.”
Jonas hanya mengangguk sekali sambil tersenyum. “Ya, aku menyukainya. Pikirkan adikku, bisa saja aku adalah jalan keluar dari semua permasalahanmu. Tidak masalah jika namaku hancur demi menolongmu, kau telah memberikan kehidupan untukku.” Kata Jonas sambil membuka kancing kemeja dan memperlihatkan bekas luka tembakan yang tidak hanya satu peluru pernah bersarang di dada sebelah kanan.
…
Orion mengusap pipi Hiver yang meringkuk dalam pelukannya.
“Marjorie.” Suara Orion selembut sutra mengalun di telinga wanita cantik yang mengerjapkan mata ketika mendengar namanya dipanggil.
“Kau tidak ingin mempraktekkan kepintaranmu memasak?” tanya Orion seraya mengecup pipi kekasihnya.
Hiver menggigit bibirnya, wajahnya memerah. “Aku tidak banyak tahu.” Akunya sambil terpaku pada manik biru gelap Orion.
“Aku akan menemanimu.” Sahut Orion sambil melirik ke arah jendela kaca yang memantulkan cahaya terang.
“Baiklah.” Hiver berbisik pelan, dan dadanya terus berdentum hebat mendapati pagi pertama mereka di Pulau Bali lebih indah daripada hari-hari sebelumnya. Ia telah menjadi milik seorang pria yang sangat lembut namun bersembunyi dari sifat sedingin kutub utara.
Satu malam mereka lewati dengan memadu kasih, sebuah momen sakral dimana harus menunggu lama sampai hati Hiver sepenuhnya tertuju kepada Orion. Hiver diperlakukan sangat lembut oleh Orion, seperti kepribadian pria itu. Mengingat segalanya membuat muka Hiver merah padam, tangannya menekan dada Orion yang hangat.
“Ada apa, Marjorie?” tanya Orion dengan bibir menyeringai ke kanan, gigi bertaring tajam itu terlihat sangat menggoda. Entah berapa kali gigi itu menancap pelan di tubuh Hiver dalam semalam. Tak terhitung, dan mungkin beberapa masih menyisakan bekas.
Orion mengernyit ketika melihat wajah Hiver memerah. “Tidak ada-apa, Orion. Hanya aku belum terbiasa dengan pagi setelah apa yang terjadi semalam.” Ujar Hiver seraya mengulum senyuman malu-malu.
“Aku juga. Kau adalah wanita pertamaku, begitupun dirimu. Kejadian semalam adalah sepasang amatiran yang memadu kasih, kau ada guruku begitupun diriku. Ketika aku terbangun sejam yang lalu, aku terus memandangi wajahmu, Marjorie.”
“Sejam lalu?” Hiver membeo.
Orion tersenyum indah, Hiver mendapatkan serangan jantung kecil.
“Ya, sejam lalu. Walau tahu matahari beranjak meninggi, tapi aku tetap memandangi wajah seorang wanita cantik yang sedang tertidur. Aku mendapatkanmu, Marjorie.”
“Aku mendapatkanmu, Bintang Jatuh.” Sanjung Hiver meraba pipi putih Orion.
Orion tertawa pelan seraya mengecup sebanyak tiga kali kening istrinya. “Bintang Jatuh dari kutub, bukan?”
Orion mendesah panjang kemudian menarik tubuh Hiver terduduk bersamanya. “Je t’aime tellement, Mon Amour.”
Hiver menunduk ketika Orion memasangkan jubah tidurnya berbahan sutra menutupi gaun tidurnya yang berwarna madu, hampir sewarna dengan surai orion yang lembut.
“Apakah kau mengingat ketika kakimu terluka, Marjorie?" tanya Orion sambil memegang pinggang istrinya.
Manik hijau Hiver melebar seraya mengangguk. “Tentu saja aku ingat. Kita tidur bersama untuk pertama kali, dan kau adalah pria pertama yang aku temani tidur di usiaku yang dewasa.”
“Pagi ini aku menggendongmu ke bawah, atau kau ingin mandi terlebih dahulu.” Orion berbinar menawarkan pertolongan yang mungkin dibutuhkan Marjorie.
“Aku butuh mandi.” Cicitnya tertunduk menatap tungkai telanjang Orion. Pria cantik dan rupawan itu hanya mengenakan boxer berwarna indigo blue.
“Mandi bersama?” tawar Orion menggoda Hiver.
“Aku malu.”
Orion mengusap pipi Hiver sambil mengangguk. “Baiklah, Marjorie. Kamar mandi atas adalah milikmu. Aku akan mandi di bawah, panggil saja jika kau membutuhkanku.” Ujarnya berjalan menuju lemari pakaian.
“Kau ingin mengenakan pakaian apa hari ini, Marjorie?” Orion menoleh dengan lirik manik biru yang menusuk di dada Hiver.
“Bi.. bikini dan gaun pantai. Aku pikir kita baiknya bersantap pagi di tepi pantai sambil sedikit berjemur.” Ucap Hiver tergagap.
Orion mengerti keinginan Hiver dan mengambil sepasang bikini berwarna hitam dan gaun berwarna hijau motif floral. Tak lupa Orion mengambil sepasang pakaian untuknya dan menaruhnya di atas tempat tidur, dan milik Hiver
diletakkan di pangkuan wanita cantik yang enggan bergerak sebelum ada perintahnya.
“Kemarilah.” Orion menggendong Hiver menuju kamar mandi. Mendudukkan dengan pelan di atas closet, mengisi bathup dengan air hangat.
Hiver hanya terdiam menyaksikan dirinya diperlakukan penuh perhatian dari Orion. “Terima kasih, Orion.”
“Hey, Marjorie. Aku adalah suamimu, sudah menjadi tugasku mengurusmu. Aku harus bertanggung jawab atas segalanya, termasuk memanjakanmu. Ingatkan aku berpuluh tahun kemudian ketika melupakan hal kecil seperti ini.” kata si pria dingin yang memiliki cinta yang sangat besar.
Manik hijau Hiver berkabut oleh perasaan bahagia, bersamaan kembali mendarat sebuah kecupan di pipinya.
Tak berapa lama kemudian Hiver yang berjalan lambat-lambat menuruni tangga, Orion yang berdiri di belakang meja dapur spontan menoleh.
“Tidak usah.” Sergah Hiver ketika Orion hendak menjemputnya. Ia tidak mau terlalu bermanja kepada Orion, pria itu terlalu hebat dalam menyiapkan segala tentang dirinya. Sementara Hiver ingin terbiasa dengan perubahan tubuhnya dan menjadi lebih kuat.
“Kau bisa memasak, Orion?” tanya Hiver membelalakkan mata melihat dua cheese sandwich, telur mata sapi dan irisan avocado yang sangat menggugah selera.
Orion menaikkan bahunya dengan santai. “Sedikit. Karena aku pernah tinggal sendiri di asrama, mau tidak mau aku belajar menyiapkan makanan jika sedang malas makan di Diner. Bagaimana dengan kau, Marjorie?”
Hiver bergumam sambil menatap makanan yang disiapkan Orion. “Sedikit juga. Ketika remaja kami belajar memasak, walau tidak begitu mendalam. Maksudku cookies dan menyajikan teh seduh.” Tuturnya polos yang membuat Orion tertawa lepas.
“Aku sangat paham dari mana istriku berasal.” Orion menepuk puncak kepala Hiver.
“Maafkan aku.”
Orion menggeleng sambil memegang dua piring, Hiver berjalan di depan dan mendapati di bawah pohon telah terbentang tikar dengan meja berisikan dua gelas jus berwarna orange.
“Selama itukah aku mandi?” Hiver bergumam seraya menoleh menatap penuh kekaguman kepada Orion.
“Asal kau tahu saja jika aku telah terbiasa dengan semua keseharianmu, Marjorie.” Orion meletakkan dua piring di atas meja setelah Hiver memberikan tempat dengan menyingkirkan minuman mereka.
“Tidak biasanya.” Celetuk Hiver ketika melihat ponsel Orion berada di samping luar tempatnya duduk.
“Oh itu. Tadi mama mengirimkan pesan dan katanya ingin membicarakan sesuatu, tapi aku mengatakan jika sedang menyiapkan sarapan untuk kita. Tunggulah sebentar, ponsel itu akan berdering.” Sahut Orion menggigit
sandwichnya.
Bunyi debur ombak membasahi bibir pantai menjadi pemandangan indah keduanya. Beberapa kali ekor mata Hiver mendapati Orion sedang menatapnya dengan senyuman lebar tersungging di bibir berwarna delima.
Hiver tersentak kaget ketika mendengar bunyi dering dari benda di sebelahnya. Ia pun seraya menyodorkan ponsel tersebut kepada Orion.
Pria jangkung berbadan ringkih berdiri berjalan sebanyak tiga langkah ke depan dari tempat mereka duduk bersama. Sementara Orion menyapa sang mama dengan penuh kerinduan, Hiver hanya bisa termangu menatap pria yang memiliki hatinya.
“Jadi Autumm telah dilamar Hiro?” tanya Orion sedikit antusias namun tidak berseru mengulang perkataan mamanya. Orion menoleh ke arah Hiver dengan manik biru gelap melebar bahagia.
“Aku mencintaimu.” Bibir Orion bergerak tanpa suara, Hiver menjatuhkan garpunya yang sedang mengambil sepotong avocado iris.
Hiver mengangguk seraya menangkup kedua jemarinya membentuk tanda hati.
Orion terkekeh kecil, Hiver bisa melihat semburat merah muncul di pipi suaminya.
Apakah kau bahagia mendengar saudarimu dilamar, Orion? Walau mereka belum menentukan tanggal pernikahan, tapi daddy dan mommy sangat bahagia melihat Autumm berani melangkah ke arah jenjang yang lebih serius.
Kali ini Orion mengabaikan laut biru beserta ombaknya yang mengalunkan bunyi debur lamat-lamat karena airnya sedang surut, si pria bersurai emas pucat berdiri tepat di hadapan seorang putri yang sedang tersipu dan merona. Orion memandang lekat-lekat ke arah Hiver.
“Ya, Mom. Aku sangat bahagia.”
###
alo kesayangan💕,
slow banget yah upload novelnya, maaf..
reality lifenya ada aja sih, ini dan itu.
jika ada yang pengen adegan ranjang 😑 di sini, sayang sekali aku tidak bisa menulis itu.
novelku tentang cinta tulus, bukan yang ada genre sarunya.. semoga kalian memahami🐣
love,
D😘
[Menteri Pendidikan Kerajaan Mersia]