MERSIA

MERSIA
Wait For Me



Hiver gelisah mondar-mandir menunggu King Robert, papanya yang sedang rapat dengan Dewan Kerajaan. Masa depannya berada di tangan orang-orang di dalam ruangan Arthur. Nama Arthur sendiri di ambil dari merupakan nama raja Mersia, tiga generasi  sebelum kepemimpinan King Robert Finlay.


“Yang Mulia, apakah anda bisa duduk sembari menunggu sang raja?” Blancet Edward, salah satu asistennya bertubuh kurus dengan tinggi badan 173 cm, gadis berusia sepantaran dengan Princess Marilyn Lou itu pernah menjadi model lokal kemudian berhasil lulus seleksi menjadi pegawai kerajaan.


Dengan wajah tegang Hiver menggeleng “Aku tidak bisa. Miss Edward.” Jawabnya dengan berbisik seraya mengarahkan pandangan kepada staff kerajaan yang sedang memperhatikan setiap gerak-geriknya.


Blancet Edward tersenyum ramah “Saya serius, Yang Mulia. Mereka menatap Yang Mulia. Beberapa dari staff itu adalah mata-mata Dewan Kerajaan.” Ucapnya mengingatkan sang putri cantik yang tidak bisa menyembunyikan risau hatinya.


Hiver justru tidak gentar, ia malah menatap ke arah staff kerajaan yang berdiri di seberang pintu dalam satu formasi barisan yang rapi. Para pria dan wanita yang mengenakan sepasang suit berwarna hitam spontan menundukkan kepala.


“Ada baiknya Yang Mulia menunggu Sang Raja di ruangannya. Tadi saya sudah meminta waktu kepada sekretaris King Robert selama sejam untuk berbincang dengan Yang Mulia.” Blancet berusaha bernegoisasi mengingat tugas utamanya adalah menjaga martabat putri pertama Kerajaan Mersia.


Sejenak Hiver menatap asistennya, tak lama kemudian ia mengangguk.


“Baiklah, aku akan menunggu King Robert di ruangannya.” Ucapnya seraya menarik napas dalam-dalam. Paru-parunya perlu oksigen baru untuk bisa menghadapi satu hari yang menegangkan semua inderanya.


Usai mengatakan itu Hiver berbalik diikuti Blancet yang tersenyum lebar karena berhasil meluluhkan hati sang putri dengan mudah.


“Bagaimana jika aku harus menikah dengan Prince Philip yang playboy itu, Miss Edward?” gumam lirih Hiver ketika mendudukkan diri pada sofa antik di ruangan kerja sang raja.


Blancet gadis bersurai hitam kemerahan ikut duduk di sebelah sambil memangku dua map penting.


“Prince Philip sangat serasi dengan Yang Mulia. Beliau pria yang sangat tampan, pewaris tahta Kerajaan Swedia.” Tutur Blancet jujur. Bagi


pegawai kerajaan rendahan sepertinya melihat pangeran Swedia adalah hal yang sangat luar biasa. Sebuah paket komplit yang bisa mewujudkan semua impian wanita manapun di Bumi.


Hiver menggeleng muram, hatinya tidak bisa berdusta jika tidak memiliki perasaan apapun kepada pria sangat maskulin itu.


“Ya, dia memang sempurna, Miss Edward. Tapi aku tidak mempunyai perasaan kepadanya. Prince Philip juga tampan, tubuhnya berotot, sangat jantan.” Hiver menghentikan perkataannya ketika mendengar cekikikan pelan asistennya. Ia pun melirik Blancet.


Sang putri lalu mendengus “Kau terlihat bahagia, Miss Edward.” sindirnya


Blancet menangkup bibirnya lalu berdeham rendah “Maafkan aku, Yang Mulia. Tapi apa yang anda katakan sangat benar. Prince Philip adalah


perwujudan dewa, tampan dan sekaligus seksi. Kami pernah membaca berita yang mengulik


kehidupan **** calon suami, Yang Mulia.”


“Apa katanya?” Hiver menegakkan tubuhnya.


Blancet menggigit bibirnya menatap sang putri, Hiver seraya mengangguk sekali.


“Isi berita itu mengatakan jika Prince Philip bisa berkali-kali dalam semalam.” Ungkap Blancet lalu kembali tertawa pelan dengan kepala tertunduk.


Hiver memutar matanya dengan malas “Wajar dia memiliki banyak wanita, jika gairahnya sebesar itu. Aku tidak memiliki pengalaman bercinta lalu berhadapan dengan predator seperti dia. Tubuhku akan hancur di tempat tidur.” Sungutnya yang di respon tawa agak keras dari Blancet.


“Yang Mulia kalah. Saya tinggal bersama dengan Harry, wala dia masih kuliah tapi waktu senggangnya dipakai untuk bekerja sebagai part


timer. Yeah, setidaknya dia pria bertanggung jawab.” Blancet mencondongkan badan ke arah Hiver.


“Dan seksnya sangat hebat, Yang Mulia.” Ujarnya seraya terkekeh.


Wajah Hiver seketika memerah.


“Kau meracuniku, Miss Edward.” Hiver meremas kain roknya.


Blancet tersenyum ramah “Maafkan saya, Yang Mulia. Seandainya benar tidak jalan lain selain menikah dengan Prince Philip, baiknya Yang Mulia membuka hati Dewa Swedia tersebut. **** bisa dibicarakan, cinta nanti akan tumbuh dengan sendirinya. Saya sudah melihat langsung, bagaimana perilaku Prince Philip ketika berkunjung seminggu yang lalu di Palace. Beliau sangat ramah dan hampir sama dengan King Robert.”


Hiver menggeleng lemah “Tidak ada yang sama dengan King Robert, Miss Edward. Papa bukan tipe pemaksa, bukan playboy. Bukan juga seorang perayu yang ulung.”


Blancet mengangguk dengan tegas “Ya, benar. Tidak ada yang sama dengan King Robert.” Akunya lalu mengembuskan napas panjang dan dalam.


Sebuah ketukan pelan di pintu kemudian sosok sekretaris sang raja masuk ke dalam ruangan “Maafkan, Yang Mulia. Saya hanya akan menyampaikan jika King Robert sudah menyelesaikan rapatnya. Sebentar lagi akan tiba.” Kata Wallace dengan penuh hormat.


Blancet dengan cepat beranjak dari duduknya.


“Kalau begitu saya tunggu Yang Mulia di luar.” Ucapnya kepada Hiver.


“Terima kasih, Miss Edward.” sahut Hiver dengan ramah.


Wallace dan Blancet pamit meninggalkan sang putri yang kembali muram ditinggalkan sendirian di ruangan kerja papanya.


Jantungnya bergemuruh menunggu kedatangan King Robert. Sebenarnya di atas meja terdapat buletin mingguan kerajaan yang bisa Hiver baca, sayangnya ia tidak memiliki minat sedikitpun.


“Pa.” seru Hiver ketika melihat sosok tinggi dibalut dengan suit berwarna dark brown berjalan masuk.


Finlay tersenyum lembut seraya memeluk tubuh anak gadisnya, tak lupa ia mengecup kening Hiver.


“Bagaimana, pa?” Hiver menggenggam tangan Finlay sambil mendudukkan tubuh di atas sofa.


Pria bermanik sama dengan Hiver menatap dalam, tak lama kemudian Finlay menggeleng lemah.


“Papa tidak bisa berbuat apapun, darlin’. Dewan Kerajaan terlanjur menerima investasi Philip sebanyak trillion Poundsterling. Tidak seberapa


banyak uang tersebut untuk pembangunan pelabuhan baru Mersia, mungkin hanya sekitar 30


persen dan sisanya mereka bagi untuk masuk ke kantong. Demi Tuhan, darlin’. Tadi papa sangat marah di dalam ruangan terkutuk itu. Lama-lama papa bubarkan saja dewan tidak berguna itu.”


“Pa.” Hiver mengerang lirih, manik hijaunya perlahan berembun.


“Maafkan papa, darlin’. Sepertinya kau akan menjadi permaisuri dari kerajaan Swedia.”


Hiver menggigit bibirnya sambil menggeleng kepala dengan pelan “Hiver tidak mencintainya, pa. Hiver sekalipun tidak pernah bermimpi


ingin menjadi seorang permaisuri apalagi dari seorang raja seperti Philip. Reputasinya tidak bagus.”


Finlay tersenyum bijak dan kembali napasnya tenang “Terkadang media melebih-lebihkan dalam membuat satu berita. Tadi papa tidak berkutik


ketika dewan kerajaan mengatakan jika Princess Marjorie tidak memiliki dan tidak pernah punya kekasih, jadi tidak ada yang perlu ditunggu untuk menolak lamaran dari Prince Philip. Terlebih usia Princess Marjorie sebentar lagi akan menginjak 28 tahun.” tutur lembut sang raja sambil mengusap pipi anaknya.


“Terus kenapa kalau Hiver berusia 28 tahun, pa? tanyany sendu.


Finlay menarik tubuh Hiver ke dalam dekapannya “Sebenarnya bukan masalah besar buat papa dan mama. Bagi kami, Hiver tetap gadis kecil papa


yang suka melukis. Tapi jika mengulang perkataan dewan terkutuk itu, yang mengatakan jika tidak ada dalam sejarah seorang putri Mersia terlambat menikah. Pada umumnya menikah di usia yang sangat muda. Ah, mereka tidak tahu jika dunia


telah berkembang.”


“Apa yang harus Hiver lakukan, pa?” tanyanya lirih yang tidak bisa menampakkan amarah ketika berada di dalam dekapan sang papa melainkan rajukan sambil mencari ketenangan jiwa.


Finlay tersenyum simpul “Menerima, darlin’. Hanya itu yang bisa kita lakukan sekarang. Andai saja papa telah banyak berbuat baik di sepanjang usia ini, semoga Tuhan mengabulkan satu saja permintaan papa yaitu “anakku Marjorie Hiver hidup berbahagia dengan suaminya”. Dia akan memberikanmu kebahagiaan, darlin’. Philip adalah calon pemimpin yang hebat, dia butuh pendamping yang bisa mengimbangi kebesaran namanya. Dan hanya putriku yang memiliki itu semua. Jadi tidak heran jika Philip begitu gencar melakukan pendekatan ke Mersia. Pangeran Swedia itu tidak berpikir panjang menggelontorkan uang sedemikian banyak hanya untuk menyuap Dewan Kerajaan. Maafkan


papa, darlin’. Sebenarnya papa sangat bisa mengembalikan uang sebanyak itu kepada Prince Philip, tapi argumentasi dewan kerajaan..”


Hiver menggeleng, menginterupsi “Sudah, pa. Hiver tidak bisa lagi mendengar usia dan kehidupan asmara berangka nol besar itu diungkit terus menerus. Ya, mungkin ini sudah jalan hidup Hiver. Jika hidup dengan Prince Philip bisa membahagiakan banyak orang, itu akan Hiver tempuh walau dengan hati yang tidak lapang. Semoga saja doa papa dikabulkan Tuhan.” katanya dengan parau seraya merebahkan kepala di dada Finlay.


Hiver menangis dalam hati, ia tidak berani membasahi pakaian sang raja dengan air mata. Ayah dan anak itu lalu terdiam lama saling menghibur tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.



Hari-hari Hiver menjadi kelam, sekelam hatinya yang tetap mengunjungi kantor sesuai jadwal. Ia memilih keluar dari Palace. Pembicaraan


tentang pesta pertunangannya sangat gencar berhembus di sana membuatnya sangat bosan dan muak. Walau King Rober sudah memperingatkan agar berita tersebut tidak tersebar keluar ke media bahkan ke keluarga para staff kerajaan.


Dengan itu Hiver bisa bernapas lega ketika berada di kantor atau di manapun ia melakukan pekerjaan amalnya tanpa ada pertanyaan media


mengenai pertunangannya dengan Prince Philip. King Robert menjaga hati Hiver yang masih berduka, terutama yaitu memberikan keleluasan kepada anaknya untuk mempersiapkan diri.


“Ada beberapa surat di atas meja, Yang Mulia. Dan amplop berwarna celery berasal dari Mr. Bluette.” Ucap Alice sopan menunjuk ke arah tiga amplop di atas meja. Ketiga amplop tersebut merupakan hal yang sangat penting selebihnya tidak lolos seleksi untuk berada di tangan sang putri.


“Terima kasih, Alice.” Sahut Hiver dengan lembut seraya menganggukkan kepala.


“Baik, Yang Mulia. Saya akan kembali ke meja, jika Yan Mulia memerlukan sesuatu jangan segan untuk menekan angka satu di telepon.” Alice mengingatkan.


“Iya.” Singkat Hiver yang terlihat anggun dengan suit hitam bermotif kotak-kotak dan surai hitamnya dibiarkan terurai.


Hiver mengabaikan dua suratnya lainnya, tangannya yang gemetar samar meraih amplop berwarna hijau kemudian membukanya dengan tidak sabaran.


~~


Dear Princess Hiver,


Aku menempuh jalan terakhir untuk bisa berhubungan denganmu, yakni menulis surat. Langkah ini aku ambil karena deretan asistenmu tersebut mem-pingpongku kesana kemari. Sungguh, mereka hebat dalam melatih kesabaran.


Hiver,


Apa yang kau ucapkan saat di pesta telah merubah segalanya. Duniaku tidak sama lagi, Hiv.


Kini aku tak lebih dari seorang pecundang yang tidak bisa berbuat apa-apa. Maksudku, kenapa semua harus terungkap setelah aku menikah ?


Well, jujur jika aku hendak mendekatimu ketika Carole pergi dari apartemen. Aku hendak mengungkapkan perasaan pada akhir pekan yang


telah kita sepakati bersama dan kedua orang tuaku mengambil jalan untuk menikahkan kami.


Itu hari yang buruk bagiku, Hiv. Aku mengamuk ketika mendengar perkataan papa dan mama. Sementara Carole tidak bisa menenangkan


diriku yang terlanjur emosi. Seperti yang kau ketahui, tetap saja kami menikah.


Harusnya kau menerima panggilanku, Hiv. Dan kita bisa merencanakan misi untuk kabur bersama, aku rela meninggalkan semua ini demi dirimu.


Aku pikir kita bisa hidup berbahagia tanpa harta dan tahta itu, kita saling mengerti satu sama lain. Kau mengenalku dengan baik, akupun begitu. Semua hal tentangmu aku sangat tahu, Hiv. Kecuali satu, aku tidak tahu jika kau mencintaiku.


Princess Hiver, jawab dengan jujur. Kapan kau mulai mencintaiku ?


Sejak kapan kau merasakannya, Hiv? Sementara aku tumbuh dewasa dengan perasaan was-was jika suatu hari putri Mersia –ku di ambil oleh


seorang pangeran dari kerajaan tersohor.


Sebenarnya semua adalah salahku yang tidak memiliki kepercayaan diri untuk bersaing dengan para pangeran yang mendekatimu. Aku berkecil hati dengan perbedaan derajat di antara kita. Walau papa adalah orang yang memiliki kekayaan berlimpah ruah, tapi tetap saja tidak bisa mengganti darah merah di dalam tubuhku dengan darah biru seperti kalian.


Oh Hiver –ku.


Aku sangat merindukanmu.


Sekarang, aku ingin kembali ke masa kau berulang tahun yang ketujuh. Saat itu mengenakan kostum balerina yang sangat indah, Hiv. Di situlah aku mulai jatuh cinta kepadamu. Aku membawa perasaan itu hingga sekarang, detik di mana kau membaca surat ini.


Perasaanku kepadamu justru semakin membesar setelah pesta pernikahan. Lucu bukan, Hiv ? Aku menikah dengan wanita lain, sementara hatiku berada di Mersia yang dingin itu.


Hey Hiv,


Maukah kau menungguku ? Tidak lama, mungkin hanya sekitar setahun. Itu opsi paling panjang bisa juga lebih pendek. Aku hanya perlu membujuk kedua orang tuaku dan memberikan apa saja yang diinginkan Carole di dunia kecuali


bentuk ragaku di sampingnya.


Aku tidak bisa, Hiv. Menjalani pernikahan dengan wanita ini, sementara angan-anganku berada pada masa depan kita berdua.


Aku membayangkan, Hiv.


Melihat manik hijaumu yang mengerjap indah di pagi hari. Aku akan mati dengan bahagia dan tenang jika itu terjadi.


Jadi tolong, tunggulah aku.


R.


###



alo kesayangan💕,


happy satnite y'all


selamat berkencan bagi yang memiliki pasangan.


bagi yang belum tetaplah berusaha dan menanti..


semoga Yang Terbaik sedang dalam perjalanan..


besok mau di Up apa?


love,


D😘