MERSIA

MERSIA
Please, Don't Hurt Me



“Ada apa?” tanya Philip melihat Johan berjalan ke arahnya dengan raut tegang. Philip sedang berjemur di area kolam, ia hanya bertelanjang dada membiarkan sinar matahari membakar kulitnya.


“Yang Mulia.” Johan serius dan merendahkan tubuh ketika menyodorkan map berwarna kuning emas.


“Apa ini?” Philip menegakkan tubuh kemudian membuka map dengan perlahan. Manik lionnya membaca dengan seksama, ia mencerna tulisan yang tertoreh di atas kertas.


Selang berapa menit kemudian, tanpa berkata apapun Philip berjalan meninggalkan area kolam renang. Wajahnya tegang, sama dengan raut muka Johan yang kini ikut berderap di belakang tubuhnya.


“Biarkan aku menenangkan diri terlebih dahulu.” Ujar Philip ketika mencapai pintu kamar tidurnya. Ia masih bertelanjang dada, namun dipastikan tak ada satupun maid yang berani menatap tubuh kekarnya selama perjalanan dari halaman hingga lantai dua chateu indah tersebut.


“Baik, Yang Mulia.” Johan menganggukkan kepala dan bersikap sangat sopan.


Seorang maid membukakan pintu kamar dan Philip berjalan masuk sambil mencengkeram kertas yang di ambilnya dari isi map. Setelah duduk di sofa yang mengarah ke jendela, kembali Philip membaca dengan lambat-lambat setiap tulisan membentang di dalam kertas. Terbit bulir peluh di pelipisnya, ia yakinkan bukan karena hasil berjemur melainkan karena dadanya memompa cepat pula hatinya ikut tergores pilu.


“Hiver-ku yang malang.” Pandangan Philip ke luar jendela. Ia merenung dengan pikiran sedang bekerja keras. “Apa yang harus aku lakukan?” gumamnya melirih.


Philip mendesah panjang, kepala beberapa kali terlihat menggeleng dan mengangguk.


Ini kesempatanmu, Prince Philip Bernadotte. Bisik kegelapan dalam hatinya.


“Begitu?” sahut Philip mengajak Sang Kegelapan berbincang.


Tentu. Bukankah kau menunggu kesempatan ini datang, Yang Mulia? Penyakit rivalmu membutuhkan keajaiban untuk tetap bertahan hidup. Tunggulah hingga masa itu tiba, dan wanita pujaanmu akan menjadi pendamping sempurna di tahta Kerajaan Swedia. Bagaimana dengan ide brilian ini?


Suara Kegelapan terus memprovokasi isi kepala Philip.


“Hiver tidak menyukai kehidupan monarki. Dunia kami berbeda namun cintaku sangat besar kepadanya.”


Terus untuk apa kau menepi di chateu ini, Yang Mulia? Jika bukan menenangkan hatimu yang terus mendambakan Princess Hiver. Ini kesempatanmu untuk berjuang. Buat putri cantik itu jatuh cinta di tengah dukanya. Kau bisa, bukan? Seorang Bernadotte memiliki sejuta pesona yang tidak bisa ditolak oleh para kaum hawa.


Philip menggeleng pelan. “Ya, semua kaum hawa kecuali Hiver. Andai saja itu berlaku kepada semua wanita, aku tidak perlu susah payah menikahi adiknya. Kau tahu jika aku menghancurkan semua kesempatan baik.”


Kau terdengar menyesal. Bisik Sang Kegelapan.


“Tentu saja aku menyesal. Aku telah merusak Princess Lou hanya karena sakit hati terhadap Hiver.”


Dengan jelas Sang Kegelapan tertawa meledek di dalam sana. Philip masih membeku dalam renungan panjang dan tatapan mata yang nanar.


Tubuh yang indah, bukan Yang Mulia? Darah perawan.


“Demi Tuhan, berhentilah mengingatkan aku pada masa lalu yang ingin aku lupakan. Kesalahan terbesarku adalah menodai gadis polos itu.”


Dia telah bersama dengan kakak sepupumu. Begitulah wanita, akan cepat melupakan tragedi ketika pria baru telah mengisi hatinya. Mereka telah menikmati indahnya hidup bersama di tengah hutan Afrika, sementara kau bersembunyi di sini dan tidak memiliki nyali untuk merebut perhatian Princess Hiver.


“Brengs*k!” tangan Philip memukul sofa dengan serempat kekuatannya.


Kau tidak bisa mengendalikan amarahmu, Yang Mulia. Syukurnya, hanya kita berdua di sini. Reputasimu yang perlahan membaik di rakyat harus tetap kau jaga.


Desahan halus keluar dari mulut sang putra mahkota. “Aku mengumpat kepadamu. Kau adalah penggoda dari kewarasanku. Biarkan aku berpikir, ini bukan sebuah hal yang mudah. Tinggalkan aku sendiri.” Philip menggerutu dan bertingkah seperti orang yang kehilangan akal sehat. Terus berbincang pada dirinya sendiri, sisi gelap dirinya yang arogan.


Ketika tubuhnya mendingin, amarah telah mereda, juga dengan hati lebih tenang yang tadinya sempat membimbang, kini Philip bergerak ke arah kamar mandi. Ia mendapati segala sesuatu keperluan untuk membersihkan diri telah disiapkan oleh para maid. Padahal ia telah meminta kepada maid untuk tidak memperlakukannya seperti keseharian Philip di Royal Palace.


Di sana Philip memiliki maid pria yang bertugas menggosokkan punggungnya ketika mandi, lain lagi dengan maid yang membuka dan memasangkan sepatu. Sekalipun Philip tidak pernah merendahkan tubuhnya melakukan hal seperti itu sejak ia ditasbihkan sebagai pewaris tahta. Kecuali di chateu, ya.. hanya di tempat ini ia bebas bertelanjang dada, memakai pakaian yang ia suka, melakukan hal yang ia senangi tanpa mempedulikan jadwal.


Hidup bebas sungguh menggoda, namun Philip


tidak mungkin bisa melarikan diri dari tanggung jawab besar yang sedang menantinya.


Ketika pewaris tahta telah berpakaian lebih rapi, pintu kamar di buka dan rupanya Johan dengan setianya menunggu bersama dua orang maid.


“Yang Mulia.” Sapa Johan.


“Syukur kau masih di sini. Kita akan kembali ke kota, banyak hal yang perlu kau urus.” Kata Philip sambil berjalan lambat. Ia sekilas menoleh dan mendapati Johan yang mengangguk.


“Satu lagi, semua yang aku perintahkan tidak boleh ketahuan oleh siapapun. Hanya beberapa orang berkaitan dengan tindakan ini, Johan.” Titah Philip serius.


“Baik, Yang Mulia.”



Entah siapa yang sakit sedang terbaring hospital bed pasien, terdapat dua manusia menempati tempat tidur yang seharusnya hanya muat dengan satu orang. Adalah Hiver yang tidak bisa menjauh dari Orion, setiap detik menjadi sangat berharga baginya untuk dilewatkan dengan sang pemilik jiwa.


“Orion.” Hiver tak hentinya memanggil nama pria yang sedang mengusap kepalanya.


“Ada apa, Marjorie?” tanya si pemilik manik biru gelap itu tidak cahayanya tak sehidup seperti bulan yang lalu. Jauh sebelum vonis dokter, Orion


terlihat sangat sehat dan ceria. Kini pria berwajah tampan sekaligus cantik itu harus menghabiskan waktu di dalam ruang perawatan intensif rumah sakit milik orang tuanya. Semua orang menginginkan kesembuhan Orion, kecuali si pasien berulangkali telah meminta untuk kembali ke mansionnya.


Sebuah permintaan yang mustahil diwujudkan, karena Hiver berada di kudu keluarga besar Orion. Hiver penuh harap suaminya mendapatkan keajaiban dari Tuhan.


Dokter memberikan harapan hidup lebih panjang dari vonis penyakitnya yang telah memasuki stadium akhir, yakni Orion harus menjalani transplantasi hati. Sayangnya, sampai sekarang ia belum mendapatkan donor yang tepat. Peluang itu sedikit pupus, ketika dua dari saudara Orion tidak memiliki kecocokan kecuali Autumm. Namun, yang lebih menyedihkannya karena Autumm tidak bisa memberikan kurang lebih dari setengah kapasitas organ hati yang dibutuhkan Orion karena ia sedang mengandung anak pertamanya.


Kini mereka sedang menguji kecocokan dari para calon pendonor, beberapa dari keluarga terdekat bahkan orang lain yang rela membagi organ penting tubuhnya dengan bayaran yang tidak sedikit.


“Apakah mualmu sudah reda?” tanya Hiver menatap wajah Orion yang terlihat  pucat. Di bagian bawah matanya terdapat lingkaran hitam yang jelas, walau sebenarnya pria itu telah banyak beristirahat. Hati Hiver perih melihat perjuangan suaminya yang tetap tegar tanpa mengeluhkan rasa sakit. Yang nyatanya, dalam sehari Orion bisa muntah lebih dari lima kali, tubuhnya kini lebih ringkih dari biasanya. Surai emas pucat mulai rontok di atas bantal yang membuat Hiver dan Orion hanya bisa terdiam melihat hal tersebut.


“Aku merasa lebih baik sekarang.” Jawab Orion lembut. Bibirnya tersenyum tulus berusaha menenangkan hati sedih Hiver.


Hiver menggenggam jemari Orion yang terbebas dari jarum infus. “Kita akan melewati ini.” harap Hiver optimis.


Orion hanya tersenyum menjawab perkataan istrinya. Kedua manik berbeda warna tersebut saling menatap dengan lekat, tak ada rasa bosan untuk saling menyelami isi kepala dan perasaan masing-masing.


“Walau kecil, kemungkinan itu selalu ada.” Hiver terus berusaha meyakinkan Orion yang semakin hari semakin pasrah dengan penyakitnya. Hiver tahu jika semangat juang Orion melemah karena tak ada yang bisa ia harapkan lagi dari keluarganya. Yang seharusnya peluang kecocokan organ itu sangat tinggi.


“Apakah aku boleh memegang tab-ku? Ada yang ingin aku kerjakan, Marjorie.”


Hiver membelai rahang Orion yang semakin cekung ke dalam, ketampanan sekaligus wajah cantiknya digerus penyakit yang mematikan. “Apa yang ingin kau lakukan dengan tabmu? Aku harus tahu, karena kau dilarang untuk berpikir keras, Orion.” bujuknya dengan pelan.


Orion tercenung dan tetap tenang. Ia memandang dengan sorot penuh cinta seperti biasanya kepada Hiver. “Aku sepertinya perlu membuat surat warisan, Marjorie.” Tuturnya dengan lemah.


Mata Hiver melotot, amarah dengan cepat merajai tubuhnya sesaat mendengar perkataan Orion. Kedua tangan Hiver naik ke depan bersamaan ia mengambil napas dalam dan kedua manis hijaunya terpejam. “Jangan sakiti aku dengan kalimat seperti itu, Mon Epoux. Jujur, aku tidak bisa membayangkan dunia ini tanpamu. Kau memiliki detak jantungku, dan cobalah untuk berpikir jika kau tiada itu berarti akupun tak bisa melanjutkan hidup. Jangan, Orion.”penolakan Hiver dibarengi gelengan kepala yang kuat dan manik hijau memerah, suaranya parau menahan tangis.


Tubuh ringkih itu tersentak, Orion juga menahan kesedihannya terbukti hidung terpahat sempurna itu terlihat memerah dan bibirnya ber ah uh, gugup.


Hiver dengan cepat meraih jemari tangan Orion dan mengecupnya. “Kita akan berusaha, Orion. Semua orang sedang berusaha mencarikan donor yang tepat untukmu.”


“Peluang hidupnya 5 tahun.” Timpal Orion pesimis.


“Minimal 5 tahun, jika proses transplantasinya berjalan lancar. Demi aku, Orion. Demi istrimu, berjuanglah sekali ini saja untuk tetap hidup. Tolong jangan lemah seperti ini.” desak Hiver namun juga menghiba.


Tok Tok! Ketukan pelan pada daun pintu menghalangi Orion untuk membalas perkataan Hiver.


“Permisi, kami akan melakukan pemeriksaan terhadap Tuan Filante.” Ujar Dokter Alain bersama teamnya.


Mau tidak mau Hiver beranjak turun dari hospital bed. “Silahkan, Dok. Saya akan menunggu di depan.” Sejenak Hiver memandang ke arah Orion, kemudian ia menyunggingkan senyuman indah hanya kepada pria itu seorang.


“Sampai nanti, Mon Epoux.”


Orion membalas dengan sebuah senyuman tipis dan anggukan lemah. “Sampai nanti, Marjorie.”



Hiver sedikit lega meninggalkan Orion di ruang perawatan, ia berganti tugas dengan sang papa yang tak lain Adrien. Pria itu mengerti dengan sifat keras hati Orion, yang terkadang Hiver agak kewalahan menghadapi perubahan sikap suaminya sendiri.


Seperti halnya pembicaraan sesaat lalu, perkataan Orion yang telah memikirkan warisan. Buku kuduk Hiver masih meremang, ia menahan emosinya untuk tidak meledak di depan Orion. Walau, ia sangat ingin mengeluarkan segunung kata-kata yang tak wajar.


Tidak. Hiver tidak akan pernah bisa berkata kasar kepada suaminya. Apalagi kondisi Orion seperti sekarang yang hanya membutuhkan dukungan besar dari semua orang.


“Kau di sini.” Tegur Hiver kepada pria mengenakan suit rapi berwarna navy. “Tidak bekerja?” tanyanya kembali sambil duduk di samping River.


“Aku tidak bisa berkonsentrasi, Hiv.” Sahut River sejenak memerhatikan sahabatnya yang kini sangat jarang berdandan. Tetap cantik pastinya, Hiver tidak membutuhkan alat makeup untuk memukau para pria terlebih kepada seorang River Phoenix.


Hiver mendesah lemah ketika menyandarkan tubuhnya ke belakang. River menatap prihatin melihat wanita cantik itu yang sekalipun tidak pernah keluar dari bangunan rumah sakit. “Kau tidak ingin pulang ke rumah daddy, Hiv? Beristirahatlah sehari. Di rumah daddy, ada terapis yang bisa memberikan massage yang enak. Kau harus mencobanya, Hiv.” Saran River terdengar sangat tulus. Berkat penyakit Orion, hubungan keduanya membaik, tidak adalagi perseteruan tentang hati dan masa lalu. Semua orang hanya terfokus kepada perkembangan Orion.


“Tidak, terima kasih. Aku tidak bisa menjauh dari Orion.” Tolak Hiver sekilas menoleh menatap wajah tak bersemangat milik River.


River menghela napas berat dan mengarahkan pandangan pada tembok di depan mereka yang berwarna putih, sama sekali tidak menarik menurutnya.


“Kau sangat mencintainya, Hiv.” River mengeja perkataannya dengan lambat.


“Ya.” singkat Hiver sambil meremas jemari tangannya.


“Maafkan aku selama setahun terakhir tidak bisa membuat kalian merasakan hidup yang tenang, Hiv. Aku sangat bersalah jika mengingat semua perbuatan bodohku selama ini. Secara tak sadar aku mengedepankan ego, dibandingkan perasaanmu dan Orion. Seharusnya aku ikut berbahagia melihat kau membuka hati kepada Orion. Dia adalah saudara kembarku. Oh Tuhan, My bad, Hiv.” Sesal River dengan wajah sendu dan nada suara yang tidak stabil.


“Kau sudah bicara hal ini dengan Orion?” tanya Hiver mencoba tenang.


River menggeleng lemah. “Belum. Aku melihat secara emosional Orion belum bisa di ajak berbicara hal seperti ini, Hiv.”


“Jangan. Kondisi Orion sangat tidak stabil, Riv. Ia akan mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal kepadamu.” imbuh Hiver. Melihat Orion memikirkan hal seperti surat wasiat sudah membuat Hiver sangat ketakutan.


“Ya, aku tidak akan melakukan itu. Aku sangat tahu Orion.” Perkataan River diiringi kerlingan tajam ke arah ujung koridor. Hiver terperanjat, ia mengucek matanya hanya untuk memastikan dua pria bertubuh tinggi besar berjalan menuju ke arah mereka yang sedang duduk.


“Hiver.” River menyikut tubuh sahabatnya seraya berdiri dengan cepat.


Pemilik raut tegas itu kini berdiri di depan tubuh Hiver yang digamit oleh River. Terus terang Hiver tidak pernah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Prince Philip Bernadotte dalam kondisi seperti ini.


“Kau… untuk apa kesini?” gemetar parau suara Hiver memandang wajah Philip.


Sorot manik lion itu melembut terpaku kepada satu wajah yang sangat dirindukannya. “Princess Hiver, maafkan kelancanganku berkunjung tanpa pemberitahuan sebelumnya.” Tutur Philip dengan suara bariton dalamnya.


“Aku tidak membutuhkanmu.” Hiver melawan, walau dengan sisa pertahanan terakhirnya.


“Tidak, Sayang. Kau membutuhkanku.” sanggah Philip mengangsurkan berkas ke tangan Hiver yang gemetar. “Itu adalah hasil lab yang menjelaskan bahwa aku memiliki kecocokan dengan Orion. Aku siap menjadi pendonor hati untuk suamimu, Hiver.”


###






alo kesayangan💕,


kalian tahu? aku harus browsing sana sini untuk cerita ini,, jika ada komplain "why this n that" sorry aku hanya berimajinasi dan perpaduan google.


Apakah Philip tulus? kalian bisa menebak, gak?


chapter ini menemani kalian sahur, jangan kendor puasanya, Ladies. [aku kek ngomong ma anak SD] 😂


love,


D😘