
Hiver terpekur, matanya sudah bengkak hampir sebesar buah tomat. Tangannya tak lepas dari genggaman pria yang sangat familiar. Ya, sang putra mahkota terbang dari Mersia ke Kota Lyon sesaat ia mendengarkan kabar bahwa Orion dilarikan ke rumah sakit.
“Marc.” Panggil Onyx menggoyangkan tangan kakaknya. Hiver enggan mendongak. Ia khusyuk dengan kesedihannya.
“Hei, Marc. Kau harus semangat.” Onyx meraih wajah sang kakak untuk menatapnya. Benar saja, wajah cantik Hiver tenggelam oleh warna kemerahan, mata bengkak pun sama dengan hidungnya.
“Bagaimana aku bisa semangat, sementara suamiku masih di dalam ruang gawat darurat. Hati dan jiwaku ada di dalam saja, Onyx.” Hiver terisak perih, ia tidak peduli jika keluarga besar Orion menatapnya iba dan mungkin berlebihan.
“Oh kakakku yang malang.” Onyx merengkuh tubuh ringkih Hiver yang kembali terisak. Ia menoleh ke arah Cyrus, tepat ketika adiknya memandang ke arah mereka.
“Bawa Big Sis pulang.” Kata Cyrus pelan, sementara ia sebenarnya sedang berbicara dengan River. Keduanya menatap Hiver penuh kekhawatiran.
Rupanya perkataan Cyrus terdengar oleh sang kakak yang tengah bersedih. “Tidak. Aku tidak akan meninggalkan tempat ini hingga suamiku sadar. Aku akan selalu bersamanya.” Ucap tegas Hiver menggelengkan kepala.
Di koridor perawatan itu hanya berisikan anggota keluarga Orion beserta Hiver dan adiknya. Rumah sakit terlengkap dan paling bonafit di pusat kota Lyon adalah milik Bluette Corporation. Tadinya sengaja di bangun untuk merawat para generasi tua keluarga Orion, kini malah generasi terakhir-lah yang terlebih dahulu merasakan perkembangan teknologi di bidang kesehatan tersebut.
“Tapi kau harus beristirahat, Marc.” Bujuk Onyx sambil mengelus lembut punggung kakaknya.
“Aku tidak bisa tidur dengan kondisi hati seperti ini, kecuali kalian meminta dokter untuk menyuntikkan satu dosis bius total hingga aku tidak sadarkan diri. Tapi tolong, jangan pernah melakukan itu.”
Onyx menghela napas, tersentuh melihat keadaan Hiver yang sangat memprihatinkan. “Kutub Utara akan baik-baik saja, Marc.” Hiburnya.
Hiver menatap adiknya. “Orion tidak pernah sakit, dia sangat kuat. Bahkan sangat lincah ketika sedang berlatih. Kau tidak pernah melihatnya, suamiku adalah pria yang hebat.” Katanya sambil terisak pelan.
Onyx tersenyum. “Ternyata cinta bisa tumbuh sekuat ini ya, Marc. Aku sangat salah ketika kau menikah dengan Orion, Marc. Aku pikir kau hanya sekadar melarikan diri Prince Philip, melarikan dari tekanan Dewan Kerajaan.”
“Aku mencintainya, aku mencintai Orion dengan segenap jiwa dan ragaku. Kami tengah merayakan ulang tahunku yang ke 29, aku bahkan berjanji kepadanya akan mengganti hari-hari sepi yang telah dijalaninya sebelum aku hadir. Aku tulus dengan sepenuh hati akan perkataanku, Onyx. Setiap melihat Orion yang tertawa lepas, aku merasa bersalah atas 27 tahun usiaku yang hanya melihatnya menyendiri. Dia mencintaiku sejak kecil.”
Bola mata berwarna coklat Onyx membulat. “Orion?” tanyanya.
“Ya. Orion.” Singkat Hiver sambil mengusap air matanya. Ia menegakkan tubuh, mengurai pelukan adiknya.
Onyx membantu sang kakak merapikan surai hitam yang acak-acakan, kemudian wajahnya yang sembab dikeringkan dengan sapu tangan miliknya. “Aku tidak percaya.” Ucapnya sambil menggelengkan kepala.
Hiver melipat bibir sambil mengangguk. “Setelah kami menikah, semuanya menjadi jelas. Baik Orion dan River masing-masing memiliki perasaan cinta yang besar. Cuma Orion memilih untuk memendam perasaannya.”
“River.” Onyx memandang ke arah dua pria yang berdiri saling berbincang dengan suara pelan. “Aku tahu jika dia menyukaimu, Marc. Sayangnya dia telah memiliki tunangan. Dan kini River telah menikah, tadi aku sempat mendengarkan kabar jika istrinya tengah berbadan dua. Apakah itu benar?”
Hiver hanya mengangguk pelan, tidak ada rasa kesal seperti biasa ketika seseorang mengungkit berita kehamilan Carole. Pikirannya hanya terpusat kepada seseorang yang tengah menjalani pemeriksaan intensif oleh team dokter.
“Apakah hubungan kalian baik-baik saja? kau dan River, maksudku. Aku harus bertanya hal seperti ini karena sejak menikah kau tertutup, Marc. Kau melepaskan diri dari Mersia, sementara kami berdua sibuk dengan urusan kerajaan. Tepatnya aku-lah yang sangat sibuk.”
Hiver yang terlihat lebih tegar kini menarik napas sekilas memandang ke arah River, sahabatnya. “Maafkan aku, Onyx. Setelah menikah aku mengikuti arus kehidupan suamiku. Walau Orion selalu mengingatkan tentang Mersia, namun aku tidak pernah tertarik untuk terikat kembali. Ada dirimu dan Cyrus yang mewarisi semuanya.”
Kembali Hiver menarik napas panjang. “Tentang River, dia sering muncul dengan tiba-tiba di rumah kami, dan ketika aku berkunjung ke rumah daddy, River terus membuntuti dengan berbagai macam perkataan yang memintaku untuk menunggunya.”
Onyx berdecih sekilas mengatupkan matanya dan menggelengkan kepala. “Kau membuatnya gila, Princess Marjorie Hiver. River tidak sadar jika dia tengah bersaing dengan saudara kembarnya sendiri hanya karena persoalan hati. Aku mungkin lebih baik mengalah dibandingkan harus bersitegang dengan saudaraku sendiri dalam memperebutkan seorang wanita.”
“Tidak ada yang diperebutkan. Kami telah mendapatkan pasangan masing-masing. Aku tidak mungkin meninggalkan Orion demi River.” sanggah Hiver dengan cepat.
Onyx berdecak kagum. “Dia sangat hebat, Marc. Bisa membuatmu jatuh cinta seperti ini. Aku dan Cyrus masih mengingat dengan jelas bagaimana kau meraung, tertawa sambil menangis karena seorang River akan menikah.”
Spontan Hiver memukul lengan sang pewaris tahta Kerajaan Mersia. “Itu hanya cerita masa lalu, mungkin aku telah lupa.” Kilahnya sambil cemberut.
Onyx tertawa. “Mungkin, berarti belum.” Sifat jahilnya muncul ketika Hiver telah menguasai diri. Sang putri lebih tegar dibandingkan beberapa saat lalu. Hanya Onyx yang mampu meredakan tangisnya, pun River sempat berusaha namun tidak berhasil.
“Diam, Prince Alistaire Onyx!” Hiver bersungut sambil melihat Cyrus dan River berjalan menuju tempatnya.
River berdiri di samping Cyrus namun menatap dengan sangat dalam ke arah Hiver.
“Aku ingin mengajakmu ke kafe rumah sakit ini, Big Sis.” Cyrus langsung menarik tangan Hiver untuk berdiri.
“Aku tidak bisa meninggalkan Orion.” Tolak Hiver sambil menggeleng lemah. Pun sikapnya menjadi perhatian River yang kemudian terlihat mendesah panjang.
“Aku memaksa, Big Sis. Kau juga tidak meninggalkan jauh tempat ini. Kita hanya akan naik lift ke lantai lima.” Cyrus merangkul bahu Hiver dan dengan perlahan menyeret sang kakak. “Kau butuh udara segar, Princess Hiver. Tadi River sempat menjelaskan fasilitas rumah sakit ini.”
…
Cyrus mengukir sebuah senyuman simpul ketika melihat Hiver akhirnya bisa mengisi perutnya dengan sepotong hotdog. “Kau kelaparan, Big Sis.” Ujarnya sambil terkekeh.
Manik Hiver menatap lurus ke arah Cyrus. “Aku belum sempat memakan kue buatan Orion dan dia jatuh pingsan. Juru masak rumah juga telah memasakkan berbagai makanan kesukaan kami.” Erangnya seraya memandang ke arah bangunan di luar jendela kaca.
Cyrus menepuk lengan kakaknya. “Tentu saja kau lapar, Big Sis. Ini sudah semalam kau menangis.”
Hiver terdiam bahkan matanya tidak berkedip. “Selama itu juga mereka memeriksa Orion.”
“Dia akan baik-baik saja, Big Sis. Rumah sakit ini adalah yang terbaik di Eropa.” River menimpali dengan optimis. “River sempat mengatakan jika Orion tidak pernah mau memeriksakan kesehatannya secara rutin. Tapi semoga hanya kelelahan karena bekerja.”
Hiver menarik napasnya dalam-dalam, ia sudah tidak berminat untuk menyantap hotdog kedua yang masih mengisi piringnya. “River yang memberikannya banyak pekerjaan. Aku tidak tahu bagaimana dia sebelum kami menikah, mungkin dalam 24 jam setiap harinya lebih banyak dipakai untuk bekerja, maksudku Orion. Kau lihat sendiri bentuk tubuh suamiku, tinggi dan kurus. Bahkan pergelangan tangan kami hampir sama besarnya.”
“Di luar tinggi badan Orion yang hampir sama denganku, dia seharusnya menjadi seorang wanita. Kau masih ingat julukan kita kepadanya, bukan? Putra Bluette yang tercantik.” Kata Cyrus lalu terbahak tawa. Manik hijaunya cerah, berbanding terbalik dengan milik Hiver justru mengental seperti danau di samping mansion luas miliknya.
“Iya.” Singkat Hiver kemudian berdiri.
“Hei, Big Sis. Mau kemana?” sontak River menangkap tangan kakaknya.
“Kembali di depan ruangan Orion. Mungkin team dokter…”
“Tidak. Kau harus menyelesaikan makan dan minumanmu terlebih dahulu. Aku pun masih belum selesai makan, Princess Hiver.” perintah Cyrus menarik kembali tangan kakaknya untuk kembali duduk.
Kakak beradik itupun kemudian melanjutkan makan pagi yang disaksikan oleh beberapa pegawai kafe, ruangan tersebut lengang, sengaja dikosongkan hanya untuk melayani anggota keluarga pemilik bangunan tinggi bertingkat 15 tersebut. Terbilang sangat besar dikarenakan bangunan tersebut hanya berfungsi sebagai rumah sakit yang mana pada umumnya di Kota Lyon tidak memiliki pusat pelayanan kesehatan dengan bangunan tinggi lebih dari lima lantai.
“River mengatakan sesuatu kepadaku.” Cyrus memecah kesunyian di antara mereka. Pun Hiver menatap Cyrus sedikit tertarik dengan perkataan sang adik bungsu.
“Sesuatu seperti apa?”
Hiver tidak sedang bergairah membalas sifat jahil Cyrus, ia tahu jika adiknya hanya ingin membangkitkan mood Hiver yang sedang terjun bebas.
Selang berapa menit usai mereka menghabiskan makanan masing-masing, keduanya beranjak sambil bergenggaman tangan. Cyrus memerhatikan sorot mata Hiver yang sangat redup, hanya sedikit cahaya kehidupan terpatri di sana.
“River mengatakan jika ini pertama kali melihatmu menangis tersedu-sedu dan tanpa henti.” Ucapan Cyrus membuat Hiver tertarik. Sang putri menoleh dalam langkah kaki mereka yang seirama.
“Terus itu membuatnya heran?”
Cyrus mencebik sambil menaikkan bahunya. “Aku tidak tahu. Tapi sepertinya dia sangat prihatin melihatmu terus menangis.”
Hiver memejamkan mata sambil menggeleng. “Terus di mana letak pentingnya berita yang kau akan katakan, Cyrus?”
“Aku pikir bukan berita, Big Sis. Tapi analisaku mengatakan jika River tersadarkan bahwa kau sangat mencintai saudara kembarnya. Menurutmu demi apa kau terus mengeluarkan air mata sejak semalam tanpa tidur jika bukan perasaanmu yang sangat besar kepada si Bintang Jatuh.” Jelas Cyrus sambil menekan tombol pintu lift.
Tadinya Hiver sudah lebih tenang, kembali manik hijaunya berkabut. Sontak Cyrus mendekapnya. “Jangan menangis, Princess Marjorie.”
Hiver malah semakin sesunggukan di dalam pelukan Cyrus. “Orion selalu memanggilku dengan sebutan “Marjorie”. Hanya dia yang memanggilku dengan nama depan, dan aku sangat menyukainya. Cyrus, aku ingin cepat sampai ke bawah. Aku sangat merindukannya. Aku merindukan suamiku.”
Cyrus terdiam sambil mengusap punggung Hiver dengan lembut. Tak ada yang bisa mengalahkan cinta sebesar yang menguasai perasaan Hiver saat ini. Pun Hiver-lah yang menarik tangan Cyrus ketika pintu lift terbuka. Dengan tergesa-gesa Hiver berjalan menuju tempat semula yang ditinggalkannya. Ketika Hiver mendapati selasar lebar yang diisi deretan kursi di sebelah kanan serta keluarga Orion yang menyambutnya dengan tatapan sedih.
Jantung Hiver bertalu kencang, terlebih ketika Adrien menjemputnya. “Dokter telah selesai dan Orion bisa dikunjungi.”
“Daddy.” Hiver mengerang dan mencengkeram lengan Cyrus.
Adrien tersenyum bijak dan mengarahkan tubuh Hiver menuju pintu ruang perawatan tempat Orion masih terbaring di dalam sana. “Masuklah ke dalam dan bicaralah dengan suamimu.”
Hiver melupakan semuanya, termasuk membalas ucapan Adrien. Yang ia tahu hanya terus melangkahkan kakinya dengan secepat mungkin.
Dadanya sakit ketika melihat alat-alat medis lengkap mengelilingi Orion. Di dalam ruang yang sama telah menanti dua pria paruh baya berseragam putih.
Hiver berjalan mendekat, Orion melemparkan senyuman lebar. “Marjorie.” Ucapnya dengan tenang.
Hiver menggeleng dengan mata berkaca-kaca. “Orion, aku sangat merindukanmu.” Tangan Hiver membelai pipi kekasih hatinya yang tidak menampakkan sedikitpun sakitnya.
“Maafkan aku telah merusak perayaan ulang tahunmu, Marjorie.” Orion menerima kecupan berkali-kali di wajahnya dari Hiver.
“Lupakan tentang hari itu, Orion.” Sergah Hiver menggeleng kuat.
Dehaman pelan membuat pasangan itu menghentikan kemesraan mereka. Salah satu dokter yang memegang papan tipis dengan kertas di atasnya, terlihat menarik napas panjang sebelum menjelaskan diagnosa terhadap sang pasien.
“Nyonya Filante, maafkan kami karena berita ini sebenarnya telah diketahui oleh keluarga besar Tuan Adrien. Hanya anda yang belum mengetahuinya.” Kata dokter tersebut dengan lambat-lambat.
Hiver sekilas menoleh menatap Orion, pria berwajah cantik itu tetap tenang dan tanpa hentinya mengulas senyuman.
“Bagaiamana dengan keadaan suami saya?” tanya Hiver kepada kedua dokter itu dengan tidak sabaran.
Sejenak sang dokter menatap Orion dan si pasien hanya mengangguk sebagai isyarat agar meneruskan penjelasannya.
Orion menepuk punggung tangan Hiver dengan pelan.
“Setelah kami melakukan pemeriksaan secara mendalam, kami dari team dokter menemukan bahwa Tuan Filante menderita penyakit inflamasi kronis.” Kata sang dokter.
Alis Hiver mengeryit. “Inflamasi kronis?”
Kedua dokter tersebut mengangguk.
“Inflamasi kronis yang juga disebut dengan penyakit lupus. Karena penyakit tersebut Tuan Filante mengalami peradangan pada bagian hati.”
Hiver tersentak dan kemudian memeluk tubuh Orion dengan posesif. “Tolong, jangan pernah meninggalkanku sendiri, Orion. Demi Tuhan, jangan pernah lakukan itu!” pekiknya dengan histeris.
###
Prince Alistaire Onyx
Prince Malcomm Cyrus
Princess Marjorie Hiver
Orion Filante Bluette
alo kesayangan💕,
mungkin ada yang kangen dengan Prince Philip.. cukup puaslah dulu dengan dua pangeran dari Mersia. Bertahanlah kalian menunggu tayang Mersia yang berada di ujung2 season pertama Mersia, happy ending kah or sad? sebelum drama para pangeran segera dimulai..
Mungkin beberapa hari aku akan publish satu cerpen di akun WP. jika kalian ingin mengepoi or follow, cek saja akun "jacevon"
Selasa aku g bisa menulis, mungkin Rabu yah Ladies..
love,
D😘
[judul chapter dari lagu berjudul sama, Cry Me a River by Ella Fitzgerald]