MERSIA

MERSIA
Pulang



Bahkan di tengah samudera pun, jarak ribuan kilometer,


Aku pasti bisa menemukanmu.


Dirimu kutandai dengan hati,


Kau pasti pulang,


Aku yakin itu.


"Yang Mulia tidak ingin mengecek keadaan Nona Rajendra?" tanya Hans tiga hari setelah kepulangan Serenade ke New York.


Philip yang sedang mengecek isi map mendongak sejenak kemudian kembali pada kertas di atas meja. "Untuk apa, Hans?" tanyanya dengan suara berat.


Ada hening sesaat, Hans kemudian menjawab. "Yang Mulia sudah melepaskan Nona Rajendra. Segampang itu? Bukankah Nona Rajendra adalah kesempatan terakhir, Yang Mulia?"


Philip menutup map berwarna kuning keemasan lalu kedua tengannya terlipat di atas meja. "Nada telah memilih, Hans. Aku belajar dari Hiver, tidak ingin mengejar wanita yang kucintai, wanita yang tak mencintaiku," kilahnya.


"Tapi," desah Hans. Ia menjadi salah satu akan raut sendu Philip selama tiga hari terakhir. Seolah masa lalu terulang kembali, ketika Hiver lepas dari genggaman. Putri Mersia yang hampir menjadi tunangannya.


Philip memasang senyuman yang dipaksakannya. Ia berdiri, memasukkan tangannya ke dalam saku celana. "Aku jatuh cinta ketika pertama kali melihatnya. Rambutnya berkilau keemasan, bola mata biru itu menghipnotisku, tubuhnya tinggi semampai, wanginya menggoda. Aku mencintai Nada, sangat. Semakin melihatnya, semakin tenggelam aku dalam impian untuk memilikinya. Tidak pernah sekalipun aku membawa wanita sebebas Nada di Royal Palace. Tidak ada wanita kutemani berjalan di sekitar Royal Palace selain Nada. Kami terlihat serasi, aku sangat menginginkan dia menjadi pendampingku, Hans. Tapi.."


"Berusahalah, Yang Mulia," Hans berdiri di samping Philip yang menatap nanar keluar dari jendela parlemen, tempatnya berkantor siang itu.


"Aku sudah berusaha, Hans. Saatnya aku meredakan semuanya. Perasaan ini, mimpi-mimpiku. Oh Tuhan, aku merindukannya,"


Hans mengembuskan napas berat mendengar perkataan Philip. "Saya akan meminta orang kita untuk mengecek keadaan Nona Rajendra di New York. Sekadar memastikan keadaannya,"


Philip menggeleng. "Tidak usah, bisa saja sekarang Onyx telah berada di sana. Mereka telah bersama, yang kau rencanakan itu tidak berguna lagi. Tolong, jangan melakukan sesuatu di luar perintahku, Hans,"


"Baik, Yang Mulia," Hans patuh, ia pun tidak mengeluarkan perkataan lagi selain menemani sang putra mahkota yang terlihat larut dengan isi kepalanya.


...


Derap kaki terdengar selaras menuju mobil yang disiapkan. Philip berjalan dalam pengawalan puluhan orang usai menuntaskan Konferensi tentang Climate Change di kota London, Inggris.


"Yang Mulia baik-baik saja?" tanya Hans memastikan keadaan Philip.


"Hmm.." Philip menjawab hanya dengan geraman lalu naik ke dalam mobil. Hampir tengah malam ia meninggalkan ballroom hotel tempat pesta yang di gelar. Di mana awalnya semua bersikap formal kemudian lebih lepas oleh pengaruh berbagai terbaik yang disediakan oleh pihak penyelenggara.


"Ada apa, Yang Mulia?" tanya Hans setelah memasang seatbelt-nya. Ia selalu duduk di kursi depan sebagai asisten utama sang putra mahkota. Sementara para pengawal menggunakan kendaraan lain yang mengapit mobil pewaris tahta Kerajaan Swedia menuju landasan pacu. Malam itu juga Philip harus kembali ke Stockholm.


Philip memegang dahinya. "Aku banyak minum. Di dalam aku bertemu dengan Onyx. Dia juga banyak minum. Kami hadir di Inggris untuk konferensi tentang perubahanan cuaca tapi berakhir dengan berpesta, semoga dunia tidak tahu tentang ini," erangnya terdengar menyesal.


Hans tersenyum mendengar keluhan Philip. "Yang Mulia tidak bertanya tentang keadaan Nona Rajendra,"


Philip mengatupkan matanya. Terdengar ******* panjang dari bibirnya. Untung dirinya tidak gampang mabuk hingga masih bisa berjalan dengan tegap ketika keluar dari ballroom hotel. Kendali tubuhnya sangat bagus, begitu pun dengan Onyx.


"Pembicaraan kami mengambang. Tidak sekalipun ia membahas Nada. Aneh. Maksudku, seharusnya ia memamerkan hubungannya dengan Nada. Misalnya memberitahu kabar kapan mereka akan mengadakan pesta pertunangan. Wanita seperti Nada tidak bisa dibiarkan menunggu lama.. agar tidak lepas," Philip mulai melantur.


Hans paham kondisi dengan Philip, ia pun mengirimkan pesan kepada pihak pesawat yang akan membawa mereka kembali ke Swedia untuk menyiapkan air lemon dan beberapa hal penting lainnya. Setidaknya hal itu efektif menghilangkan hangover sang pewaris tahta.


"Lebih baik Yang Mulia beristirahat," saran Hans.


Philip mengerang panjang. "Aku tidak akan menyentuh minuman itu lagi. Aku pikir telah melupakan perasaanku, tapi ketika melihat Onyx.. ingatan tentang Nada semuanya kembali muncul. Kenapa rasa sakit yang kedua ini lebih berat dibandingkan yang pertama? Apa karena semua hatiku telah habis bahkan untuk diriku sendiri. Aku bahkan tidak bisa mengasihi diriku, Hans. Aku lelah berpura-pura dewasa, bijak dan kokoh. Aku manusia biasa, hanya manusia biasa,"


Hans memejamkan mata sambil menghela napas. "Entah berapa banyak minuman Anda habiskan, Yang Mulia,"


"Banyak... banyak, seperti samudera. Kau tahu jika bola mata Nada sewarna dengan lautan. Sangat indah,"


...


Hawaii memandang ke arah danau Lac d'Aiguebelette dengan sorot mata hampa. Tidak ada yang menarik yang terjadi selama beberapa hari terakhir. Ia kembali ke rutinitas yang sama sebelum mengalami kecelakaan perahu. Bisa dikatakan mendung menggelayuti seisi penginapan tua itu. Pinjaman yang diharapkan oleh Jeanne ditolak oleh pihak bank.


Patah arang, seperti itu keadaan Hawaii sekeluarga. Tabungan Grandpa Thierry tidak banyak, hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari. Tadi pagi Jeanne mengatakan jika is sedang mencari pekerjaan di dekat tempat tinggal mereka.


Hawaii pun menemukan lowongan kerja sebagai pelayan di Les Belle Restaurant. Jaraknya cukup dekat dari penginapan mereka, Hawaii hanya perlu mengayuh sepedanya sejauh 1 mil. Ia bahkan bisa berjalan kaki ke restoran itu. Hawaii masih menimbang kesempatan alasannya Jeanne belum memberikan ijin untuk bekerja sementara Grandpa memberi dukungan penuh, pemilik Les Belle adalah teman dekatnya dan sepertinya mereka sangat membutuhkan pelayan.


"Hawaii," panggil Jeanne mengagetkan gadis bersurai keriting itu. Suara Jeanne naik dua oktaf, Hawaii sontak berdiri sambil menekan dadanya yang sakit.


"Ada paket untukmu, tadi ada mobil hitam singgah di depan penginapan. Yang membawa ini adalah seorang pria mengenakan jas berwarna hitam, sangat rapi. Lihat," Jeanne menyerahkan kotak persegi dibungkus kertas kado berwarna merah muda.


Hawaii memerhatikan kotak berdiameter 20 centimeter tersebut. Ia pun menimang juga menggoyangkannya. "Ini bukan bom, Mamo?"


Jeanne meringis. "Apalagi yang mau di bom di penginapan yang tinggal menunggu dua musim dan semuanya akan rubuh. Sini biar Mama yang buka,"


Hawaii mengembalikan kotak persegi tersebut. Jeanne duduk di sebelah sang anak yang menunggu dengan ekspresi kebingungan.


"Apa ini? Ponsel?" Jeanne membelalak ketika melihat isi kotak, Hawaii terpekik. "Ada suratnya,"


Jantung Hawaii meledak, isi kepalanya memanas seketika. "Mamo!" serunya merebut surat berwarna biru dari tangan Jeanne.


"Astaga, kau kenapa?" Jeanne menggeleng melihat tingkah anak satu-satunya yang kini berlari masuk ke dalam rumah. "Hei, ponselnya," Jeanne menyusul Hawaii.


Si gadis berambut keriting berbibir mungil itu terlihat mendekap surat berwarna biru di kursi ruang tamu. Dadanya naik turun, hatinya penuh suka cita. "Akhhhhhhhh," pekiknya senang.


Dengan pelan Hawaii membuka surat, Jeanne penasaran ikut duduk di sebelah anaknya.


Hawai menarik kertas terlipat, dan ketika membuka ada selembar kecil yang berada di tengah surat. Jeanne mengambilnya dengan tangan gemetar. Memandang anaknya dengan bola mata melebar. "Ini cek, Hawaii. Demi Tuhan, baca surat itu," perintahnya tidak sabar.


Hawaii membentangkan surat ke depan. Ia mengambil udara panjang sebelum memulai, Jeanne melirik ikut membaca.


Dear Hawaii,


Suratmu telah sampai di sini. Aku tidak menyangka kau akan membalasnya. Dan akhirnya kau bertemu Marc dan Orion, mereka adalah kakakku. Sayangnya, mereka sudah di sini jadi kau tidak pergi bermain ke sana saat kau kesepian di penginapan.


Di dalam paket yang aku kirimkan, ada satu ponsel yang Marc belikan untukmu. Marc bersikeras memberikanmu ponsel itu, coba periksa daftar kontaknya. Marc pastinya telah memasukkan nomerku.


Oh ya, Hawaii..


Aku tahu jika keluarga kalian sedang kesulitan, jadi tolong cek atas nama Orion Filante dipergunakan dengan sebaik-baiknya.


Dan nanti akan ada pihak dari Universitas Jean Moulin Lyon menghubungimu. Melihat kemampuanmu berbicara kau sangat cocok mengambil jurusan Hukum. Tapi kembali kepada bakatmu, kecuali jangan pernah mengambil jalan menjadi seorang model. Ya, walau kau memiliki wajah yang menarik, tapi dunia seperti itu menurutku tidak sesuai dengan dirimu.


Sebenarnya tidak perlu mendapatkan cuti untuk kembali ke sana, hanya pekerjaanku sangat banyak.


Regards,


Alistaire.


"Ma," kata pertama yang keluar dari bibir Hawaii. Manik hazelnya berlinang air mata bahagia. Ia pun memeluk tubuh Jeanne, ibu dan anak itu berpelukan sambil bertangisan.


"Sangat banyak, Hawaii. Lebih banyak dari yang kita butuhkan," kata Jeanne terbata kemudian menunjukkan cek kepada Hawaii yang masih tersedu-sedu.


Hawaii menggelengkan kepala berkali-kali, air matanya berjatuhan. "Mamo, aku takut. Ini sangat banyak,"


"Iya, kau benar. Coba kau menghubunginya, temanmu itu," Jeanne setuju, ia menyerahkan ponsel keluaran terbaru itu ke Hawai.


Hawaii cukup paham jika Alistaire saat siang hari masih bekerja, ia pun berinisiatif mengirimkan pesan singkat.


Siapa sebenarnya dirimu, Tuan Alistaire?


...


"Tiket untuk peresmian ini habis hanya dalam hitungan 10 menit lewat situs kami, Yang Mulia," terang Victor selaku ketua penyelenggara Festival Film Stockholm.


"Sebuah pencapaian yang luar biasa," kata Philip sambil tersenyum simpul.


"Ya, bisa dikatakan Yang Mulia memiliki banyak penggemar," canda Victor tetap sopan.


Philip tertawa. "Berarti saya harus menyapa mereka," katanya santai menanggapi candaan Viktor.


"Silahkan Yang Mulia," Victor justru semakin senang jika sang pewaris tahta melakukan hal tersebut.


Ketika Philip membalikkan badan dan orang di dalam teater tersebut langsung bertepuk tangan dan bersiul. Philip melambaikan tangannya sambil memerhatikan orang-orang yang semakin riuh. Kemudian ia terpaku pada satu sosok, ia sangat mengenalnya bahkan ketika ciri khasnya ditutup sedemikian rupa.


Wajah itu, ya wajah mungil itu. Tubuh Philip menegang, dadanya berdebar tidak karuan, perutnya seketika mulas. Ia bisa melihat sosok itu merosot dari kursi untuk menghindari tatapannya. Bahkan wanita itu semakin menutupi wajahnya dengan hoodie hitam.


Suasana hening ketika Philip menaiki tangga teater menuju wanita yang tak bisa ia lupakan. Wanita yang membuatnya lepas kendali ketika di Inggris. Semakin mendekat semakin luar biasa rasa mendera Philip.


"Nada, Serenade Rajendra," katanya dengan lembut. Semua orang terdiam bak sedang menonton film paling romantis yang pernah ada. "My Lady,"


Wanita bertudung hitam itu mencuri pandang. Manis birunya terlihat memerah kemudian kembali menunduk. Saat itu pula Philip meraih jemari Serenade.


"Mari kita pulang," ucap Philip menarik pelan tangan Serenade untuk berdiri.


Philip melayangkan pandangan kepada orang-orang di teater dengan kedua ujung bibirnya menukik ke atas. "Maafkan kami," ucapnya dengan tulus kemudian membalas anggukan kepala dari orang-orang tersebut.


Tangan Serenade membeku dalam genggaman panas Philip. Kedua orang itu melangkahkan kaki dengan cepat, pula para pengawal kerajaan memberikan akses agar sang putra mahkota bisa keluar dari gedung tersebut dalam waktu singkat.


Philip melirik wanita yang tertunduk sambil menutup wajahnya. Bukan ratusan orang melihat momen langka itu melainkan ribuan orang menjadi saksi sang pewaris tahta menuntun seorang wanita menuju kendaraan yang telah disiapkan.


Tak sekali pun Philip melepaskan genggaman tangannya, bahkan ketika sampai di Royal Palace. Philip meminta akses tercepat untuk sampai ke apartemennya. Waktu seakan berjalan lama ketika ia menyusuri koridor panjang dan berkarpet itu.


"Akhirnya," Philip menarik napas lega ketika melihat pintu Royal Apartemen miliknya.


Serenade menaikkan kepala yang sepanjang jalan pulang lebih banyak tertunduk, pun begitu selama di dalam mobil.


"Terima kasih," kata Philip kepada penjaga yang membukakan pintu. Suasana hatinya berjuta kali lipat baiknya dibandingkan kemarin.


Tiga langkah kaki di dalam ruangan ia berhenti dan melepaskan genggaman tangannya. "Ahhhh, Tuhan!" suaranya berat lalu Philip mengembuskan napas panjang.


Philip menghampiri Serenade, menaikkan kepala Serenade yang kembali tertunduk, melepaskan tudung hitam yang menutupi surai indah berwarna emas, salah satu kesukaannya.


"Demi Tuhan, My Lady," Philip menggelengkan kepala menatap wajah Serenade. Wajah wanita cantik memerah, bola mata berwarna biru indah itu banjir oleh air mata.


Philip menangkup wajah mungil Serenade menatapnya lekat-lekat. Mereka saling berpandangan dalam diam. Hanya dua pasang mata yang berbicara, Serenade kalah. Ia terus menjatuhkan air mata. Philip menggeleng sambil mengulum senyuman.


"Serenade Rajendra..." panggilnya lembut, manik lionnya menatap teduh, sementara dadanya semakin bergemuruh dengan hebatnya.


"Ya," singkat Serenade lalu menggigit bibirnya.


Philip membelai pipi Serenade pelan. "Apakah diriku?"


Bibir Serenade menukik ke bawah. Kepalanya lalu mengangguk. "Maafkan aku,"


"Tuhan," pekik Philip menarik Serenade masuk ke dalam pelukannya. Tangis sang pianis pun pecah dalam dekapan.


"Terima kasih sudah pulang, My Lady," kata Philip penuh bahagia. Sebuah rasa bahagia yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Sebuah perasaan yang membuat manik lionnya mengeluarkan bulir kristal pada sudutnya. Ia tidak pernah menangis, demi cinta. Kecuali yang satu ini, hanya ini.. yang terakhir.


###






alo kesayangan💕,


Mungkin ini update terakhir sebelum lebaran, ya.. mungkin kalau aku gak kesambet eh selow.


Genk yang tidak mudik mana suaranya?


Aku juga tidak, entah ini lebaran ke berapa jauh dari keluarga dan aku sudah terbiasa.


Terima kasih kalian sudah menunggu dan selalu menunggu aku yang sok sibuk dengan RL.


Aku akan menulis selama libur lebaran, percaya saja.


mungkin bisa mengerjakan novel lain, even salah satu temanku mengatakan "worth it gak kamu nulis tapi gak dapat apa-apa"


Ya jujur memang tidak sepadan dengan duit, tapi aku anggap menulis sebagai pelarian dan pelampiasan dari kepala yang dipenuhi dengan cerita.


aku pikir jika ada yang baca novel ini dan mereka terhibur, aku sudah senang 😁.


Maaf Lahir Batin ya, guys..


tetap mengutamakan keselamatan dan kesehatan ketika mudik atau di jalan.


see yaaa..


Love,


D🙏🏻.