
"Sepertinya semua orang pernah berada di persimpangan jalan, orang-orang kebingungan memilih jalan terbaik yang mana harus di tempuh," kata Hiver sambil tersenyum tipis.
Serenade tertunduk sambil menganggukkan kepala. Kalimat Hiver mengambarkan situasi yang sedang dihadapinya. "Betul," gumamnya.
Hiver menoleh sedikit memerhatikan raut Serenade. "Aku pernah merasakannya, Nada. Dulu, aku berteman baik dengan River,"
Serenade menaikkan kepala dan membalas tatapan Hiver. Wajahnya tidak memancarkan ekspresi apapun. "Aku tahu jika kalian sangat dekat,"
Manik hijau Hiver menyipit lalu tertawa ringan. "River adalah cinta pertamaku. Tapi kami tidak pernah mengungkapkan perasaan, selalu berada di tempat dengan waktu yang salah. Aku mengharapkan River ketika Philip mendekat,"
Tubuh Serenade menegang mendengar nama pangeran Swedia dilapalkan dengan lembut oleh Hiver.
"Hanya sebuah harapan karena saat itu River telah bertunangan," Hiver memotong perkataannya sendiri lalu tertawa. Kepala bersurai hitam itu menggeleng-geleng. "Betapa bodohnya aku dulu, Nada,"
"Kak Hiver tidak bodoh," protes Serenade tidak setuju dengan perkataan istri Orion, kakak sepupunya.
"Cinta membuat bodoh. Bertahun-tahun aku terpaku kepada River bahkan seorang Philip aku abaikan. Aku tidak ingin menikah dengan seorang pangeran. Di hari kami seharusnya bertunangan, aku dengan Philip, di hari itu juga Orion datang menjadi dewa penolong. Yah tadi aku bilang aku terpaku dengan River hingga orang lain tidak pernah aku perhitungkan keberadaannya. Termasuk keberadaan Orion yang memendam perasaan tanpa ada orang yang tahu. Selebihnya adalah sejarah, kami menikah dan sebentar akan memiliki adik laki-laki untuk Marion,"
"Selamat, Kak," sahut Serenade dengan tulus.
"Terima kasih, My Dear," Hiver merangkul sejenak tubuh Serenade. Mereka bertatapan sambil melemparkan senyuman terbaik.
"Kembali ke Philip. Membandingkan Philip yang dulu dengan sekarang seperti jeruk dan buah anggur. Dulu dia seperti jeruk memiliki permukaan kasar, jika diselami dia memiliki hati yang manis. Sekarang dia adalah buah anggur kemudian berproses menjadi wine terbaik. Matang secara bersikap dan berpikir. Sebagai orang yang melihat proses itu, aku sangat kagum,"
"Prince Philip seperti Kak Hiver katakan. Saya telah melihatnya langsung. Beliau sangat bijaksana dan memiliki aura hebat,"
Hiver menghela napas seraya mengangguk. "Jangan berprasangka buruk terhadapku, Nada. Aku sangat mencintai Orion. Sama sekali tidak ada penyesalan dengan jalan yang kupilih. Aku menceritakan Philip..."
"Terdengar seperti memuja," sambung Serenade ketika Hiver berhenti sambil memikirkan kata-kata selanjutnya.
Hiver mengangguk. "Ya, benar. Mungkin orang yang mendengarnya seperti itu. Tapi aku hanya ingin menceritakan Philip sebagai orang yang sangat mengenalnya, tidak ada yang ditambahkan karena seperti itulah seorang Philip. Dia adalah teman dekat dari suamiku dan aku menganggapnya kakak yang sangat baik kepada adiknya,"
Serenade terkesima mendengarkan penjelasan Hiver. "Bagi Kak Hiver seperti itu, bagaimana dengan Prince Philip sendiri? Maksud saya, mungkin Prince Philip masih mencintai.."
Perkataan Serenade di potong Hiver dengan tepukan pelan pada paha. Wanita berwajah cantik sekaligus dingin itu menggelengkan kepala. "Tidak. Philip bukan tipe pria yang mengumbar perasaannya. Ia hanya akan mencintai satu wanita dalam satu periode. Jadi, saat ini dia sedang mendekatimu bukan berarti ia masih memiliki perasaan kepadaku. Kau salah, Nada. Perasaan Philip telah lama hilang kepada seorang Hiver,"
"Aku berpikir seperti itu," ucap Serenade dengan lemah. "Prince Philip menyimpan lukisan-lukisan Kak Hiver di Royal House,"
Hiver mengulum senyuman dan menggeleng. "Philip adalah pengemar terbaikku," ia kemudian tertawa lepas.
Alis Serenade sedikit terangkat melihat gerak-gerik Hiver. "Penggemar?" cicitnya.
"Ya, pengemar yang selalu membeli bukan satu dua lukisan. Dia sangat murah hati terhadap seni," terang Hiver sambil memandang ke depan. Ia melihat pohon rambutan yang sedang berbuah.
"Kakak sudah menceritakan tentang Prince Philip, terus bagaimana dengan Prince Onyx." cetus Serenade setelah menunggu wanita di sampingnya melanjutkan pembicaraan.
"Oh iya," manik hijau itu melebar dan berseri ketika menoleh memandang Serenade.
Serenade tersenyum lebar menampakkan gigi dan lesung pipinya. "Ya, adik Anda, Yang Mulia" katanya sopan.
Hiver mengembuskan napas sebelum bercerita. "Mungkin saja kau adalah cinta pertama Onyx, Nada. Adikku tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita mana pun sebelum tertarik denganmu. Jadi Onyx bisa saja terkesan kaku dan tidak tahu melakukan sesuatu yang bisa membuatmu tertarik,"
Serenade merenungkan perkataan Hiver. Ia mengigit bibirnya mengingat semua kejadian yang terjadi di Mersia. "Kami sempat berkuda saat di Dundas," timpal Serenade.
"Aku tahu itu, Nada,"
"Saat di Mersia, Prince Onyx sangat sibuk dengan berbagai macam kegiatannya. Saya memaklumi karena dia adalah pewaris tahta Kerajaan Mersia. Prince Onyx pastinya telah memiliki jadwal yang tertata dalam rentang waktu berapa minggu mungkin juga sebulan ke depan,"
"Ya betul. Kami memiliki jadwal yang sangat padat, jika bukan memikirkan rakyat tentu saja Onyx akan bersikap semaunya saja," ujar Hiver membenarkan perkataan Serenade. "Aku tidak perlu banyak membicarakan Onyx, orangnya ada di Lyon. Kau bisa bertemu dan bercerita banyak hal sekaligus mempelajarinya. Jika aku berada di posisimu, pastinya juga akan sangat kebingungan. Berada di antara dua pangeran, tidak ada yang memiliki nasib seperti dirimu, Nada,"
"Hanya Tuhan yang tahu apa yang bergolak di dalam kepala," kekeh Serenade.
Hiver menepuk lembut tangan Serenade. "Keistimewaan wanita adalah memiliki perasaan yang lebih peka dibandingkan para pria. Aku yakin salah satu dari dua pangeran itu, ada yang lebih memikat hatimu. Tidak mungkin mereka menempati posisi yang sama. Benar bukan?"
"Semoga saja hatiku tidak salah,"
"Bawa serta logika maka tidak akan ada yang bisa mengecewakanmu, Nada." tutup Hiver sambil mengedipkan manik hijaunya sebelum berdiri dengan menahan perutnya yang membesar.
"Terima kasih, Kak. Sudah menemaniku berbicara, sekarang perasaanku jauh lebih lega,"
Hiver sejenak memandang Serenade. Manik hijau ikut berbicara sebelum bibir berwarna plum itu bergerak. "Kau tahu, Nada..."
Serenade menaikkan alisnya, menanti ucapan selanjutnya wanita yang memiliki sejuta pesona, hal itu yang membuat pria sedingin Orion berubah menjadi pribadi yang berbeda.
"Entah itu Onyx ataupun Philip yang nantinya akan kamu pilih. Bagiku sama saja karena mereka mereka adalah orang-orang yang aku sayangi. Dan percaya saja, mereka adalah putra terbaik Mersia dan Swedia, tidak terpilih pun tidak akan membuat hati mereka hancur, mereka akan melanjutkan hidup sambil menunggu datangnya wanita yang tepat," hibur Hiver memberikan semangat kepada Serenade.
"Seperti itu?" tanya Serenade berjalan di samping Hiver.
"Aku mengenal mereka, Nada,"
...
Serenade merasa bersalah ketika pagi tiba, semalam ia tidak bertemu dengan Onyx karena hingga usai makan malam bersama yang dihadiri oleh keluarga besarnya, pewaris tahta Mersia itu belum menampakkan diri. Orang-orang pun masih bercengkerama hingga larut malam di berbagai ruangan mansion mewah itu. Adalah Pamannya yang berambut sama dengan sang mama yang membangunkan Serenade yang sedang tertidur di kursi.
Setelah mengumpulkan kesadarannya, Serenade membersihkan diri dengan air hangat. Berpakaian rapi dan sopan walau ia berada di rumah keluarganya namun ada orang lain dan sangat penting yang akan ditemui di pagi buta. Serenade berharap jika Onyx juga telah bangun, sama seperti dirinya.
"Mau kemana?" tegur River ketika berpapasan dengan Serenade menuju sisi timur rumah. Tempat di mana kamar-kamar para tamu berada. Ia sendiri menempati kamar di lantai dua, bersebelahan dengan kamar tidur Mama dan Daddy-nya.
"Bertemu dengan Onyx," Jawab Serenade memerhatikan penampilan River yang mengenakan pakaian olahraga.
River mengerutkan alisnya, juga membalas tatapan Serenade. "Hanya kamu orang yang sudah mandi jam 6 pagi di rumah ini, Nada. Tepatnya serapi ini, pasti Onyx adalah orang istimewa bagimu," ledek River mengganggu adiknya.
Serenade cemberut kemudian berinisiatif mengacuhkan River yang masih kerap mengganggunya, sama seperti saat mereka masih belia. "Aku tidak mungkin bertemu dengan calon raja dengan rambut acak-acakan,"
River tertawa. "Pangeranmu sudah bangun, aku melihatnya berjalan menuju gym,"
Serenade menatap lekat kakak sepupunya, pria yang berbeda dengan Orion baik raut wajah dan sifat walau mereka dilahirkan pada hari yang bersamaan.
"Marion?" kening Serenade berkerut.
River mengangkat bahu. "Marion juga anakku," kilahnya yang membuat Serenade semakin berpikir yang tidak-tidak.
"Lebih baik aku menemui Onyx daripada pembicaraan kita semakin panjang," pamit Serenade berbalik arah ke samping.
"Pangeran Mersia itu adalah kekasihmu yah, Nada?" teriak River terdengar jelas oleh Serenade namun enggan membalasnya. Ia terus berjalan menuju pintu samping, melewati beranda lebar dan menuruni anak tangga dengan melompat.
Langkah kaki yang tadinya menuju bangunan di dekat kolam pun diurungkannya ketika melihat sosok jangkung yang berdiri di lapangan tennis. Sambil berlari-lari kecil Serenade menghampiri Onyx. Kedatangannya pun disadari oleh pria mengenakan kaos putih polos dan celana pendek berwarna abu-abu.
"Selamat pagi, Yang Mulia," sapa Serenade dengan riang.
Onyx meringis dengan bibir melengkung, lebih tepat tersenyum walau mengeluarkan suara desisan. "Kita di Lyon, Nada," katanya mengingatkan.
Serenade tertawa sambil mengangguk-anggukkan kepala. "Iya, maafkan aku,"
"Selamat pagi, Nada. Bagaimana tidurmu?" tanya Onyx memerhatikan Serenade lebih terbuka dan riang dibandingkan saat mereka di Mersia.
"Lelap, aku tidak sadar sampai pagi tadi. Seharusnya aku menunggumu, tapi rasa kantuk lebih kuat dan menggoda," dalih Serenade kembali memandang gaya kasual Onyx. Ia menyukai tampilan Onyx seperti sekarang, sama ketika mereka bertemu di New York. Tidak ada batasan, tanpa ada pengawal dan protokol yang harus dipatuhi.
"Aku baru sampai di sini jam 12 lewat 10. Marc mengatakan jika kau sudah tidur," tutur Onyx.
"Paman Kai membangunkanku dan menyuruh pindah ke kamar, tadinya aku bergabung dengan orang-orang yang sedang mengobrol. Mungkin lelah dan juga mengantuk hingga jatuh tertidur," ungkap Serenade. "Kau akan bermain tennis?"
Onyx melipat bibir lalu mengangguk. "Ya, bersama dengan Orion. Aku menunggunya," jawabnya sambil menengok ke arah bangunan besar dan megah berjarak 300 meter dari lapangan tennis. "Kau bisa bermain?"
"Ya, aku bisa. Walau tidak sehebat Serena Williams," sahut Serenade dan terbahak tawa.
"Jika dirimu sehebat Serena pastinya kau akan jadi atlet, bukan seorang pianis. Sambil menunggu Orion kita bisa berlatih. Bagaimana?" ajak Onyx.
"Bisa. Tapi aku mengenakan sepatu kets, bukan sepatu tennis. Tidak apa-apa?" Serenade menunjukkan sepatu dengan menaikkan kakinya.
Onyx berdeham sambil berpikir sesaat. "Apa kau nyaman bergerak dengan sepatu seperti itu?"
Serenade mengangkat bahu dan bibir tersenyum dengan bibir merapat. "Tidak ada apa-apa. Aku nyaman daripada kembali ke dalam rumah dan meminjam sepatu Kaia,"
"Baiklah," Onyx berjalan menuju tempat raket dan bola berada. Serenade mengikuti dengan dada berdebar. Ia ingin menanyakan sesuatu yang penting.
"Onyx," panggil Serenade.
Badan jangkung itu berbalik dengan alis terangkat. "Ya, ada apa?"
Serenade tersenyum dan mengambil udara banyak-banyak. "Apa jadwalmu hari ini?" tanyanya lebih akrab.
"Hmm.. jam 11 aku akan bertemu dengan orang dari Monaco. Mungkin akan berlangsung hingga sore. Dan aku tidak akan pulang ke sini setelah itu. Aku akan ke rumah Orion di danau," terang Onyx.
"Kerajaan Monaco? Untuk apa ke danau?" tanya Serenade.
"Ya, dengan Prince Louis. Aku ingin berlibur di danau, Nada. Mungkin sekitar tiga hari sebelum kembali ke Mersia. Ada apa?"
Serenade terdiam sebentar kemudian menatap Onyx. Wajah rupawan, putih, bersih tanpa bulu maskulin. "Aku ingin bicara denganmu," jawabnya lantang. Ia memantapkan hatinya.
"Kau ingin bersama ke rumah danau, atau kita bertemu di kota? Makan malam bersama?" Onyx menawarkan kesempatan.
Serenade menggeleng. "Yang Mulia pasti lelah dengan pertemuan sepanjang hari. Nanti aku akan menunggu di mansion Kak Orion. Siang aku dan mama akan berbelanja dan sepertinya bisa meminta sopir untuk mengantarku ke danau,"
Onyx mengacak surai emas Serenade. "Aku akan memelukmu di sini jika sekali memanggilku dengan sebutan itu,"
Serenade menarik raket dari tangan Onyx. "Tidak, aku akan memanggil dengan Onyx. Selama tidak berada di Mersia," katanya sambil berjalan mundur menuju sisi sebelah lapangan.
"Kapan kembali ke Mersia, Nada?" teriak Onyx sambil memantul-mantulkan bola di lapangan. Ia menatap pemandangan indah di depan yang sedang memasang kuda-kuda untuk menerima bola.
"Ketika kau menikah, Onyx," jawab Serenade setengah berteriak.
Onyx tertawa. "Denganku?"
###
alo kesayangan💕,
Kai dh berakhir, jadi sisa dua novel.. Jace bakal ending dan sisa fokus ke Mersia.
tahu gak jika beberapa teman di WAG, terutama Olin dari Purwodadi ketakutan jika semua novel tamat katanya aku akan menghilang. entah apa alasannya dia berkata seperti itu.
aku pernah mengatakan jika ingin berhenti menulis, ingin fokus ma real life dreams dan job, tapi baru sekitar 2 minggu jeda dan kepalaku sudah penuh dengan dialog dan cerita.
hmmm.. berat juga meninggalkan pelarian yang disukai, bukan?
hari ini aku akan vaksin booster, Bestie
semoga semua lancar yah,
then kalian juga sehat-sehat semua.
kalau ada yang kena gejala omicron, komen di chapter..
aku kasih resep ben cepat sembuh 😂🤭
love,
D😘