
Hiro menjadi pusat perhatian anggota keluarga Autumm. Pria berusia 32 tahun itu berusaha tampil menyakinkan di depan orang-orang memiliki dunia, dan juga memiliki paras tak tercela. Sama halnya dengan wanita yang disukainya, Autumm yang cantik duduk bersama dengan kedua saudaranya. Pria yang mengenakan suit biru adalah CEO dari Bluette Corporation dan satunya si bungsu yang sedikit berbeda dengan para saudaranya. Kaia memiliki surai hitam sama halnya dengan sang mama.
Di kursi satunya tampak pasangan yang tak hentinya menjadi perbincangan media di Eropa. Orion dan sang putri berwajah datar, sejak kedatangan Hiro tak sekalipun Hiver terlihat tersenyum kepadanya. Hanya Orion yang mengajaknya berbincang itupun sebentar sebelum orang tua Autumm hadir dan mulai bertanya tentang kehidupan pribadi sang tamu.
Hiro Chevalier, lahir dari ibu berasal dari Jepang dan ayah Perancis. Ia anak kedua dari tiga bersaudara, dan hanya Hiro yang belum menikah. Keluarganya bukan dari kalangan dengan strata sosial yang tinggi, ayahnya bekerja sebagai pengawai negeri sipil dan ibu full time mengurus segala kebutuhan rumah tangga.
Ketekunan Hiro menggeluti hobby di bidang kuliner membuahkan hasil, ia mendapatkan gelar sebagai chef dan kini ia telah memiliki beberapa cabang restoran di Eropa dan tiga di Asia. Hiro berhasil mengangkat derajat ekonomi keluarganya, kini kedua orang tuanya bisa menikmati hari tua dengan tenang tanpa memikirkan hal pelik namun sangat mendasar. Apalagi jika bukan soal ekonomi.
Ya semua terpenuhi, kecuali desakan orang tua Hiro untuk mengakhiri masa lajang adalah hal yang membosankan baginya, terlebih sejak ia berpisah dengan Estelle, mantan kekasihnya. Pikiran Himari Chevalier, mamanya sedikit kuno. Bagi Himari, kesuksesan Hiro harus berbanding lurus dengan kehidupan asmara. Hiro lebih banyak menutup rapat telinga ketika Himari berkhotbah tentang jodoh dan pernikahan, ia telah kenyang akan hal itu. Hingga suatu hari restorannya “The
Chevalier” kedatangan seorang wanita cantik bersurai emas pucat dengan manik biru yang terang. Wanita cantik itu duduk sendiri menyantap menu makan siangnya.
Hati Hiro berdegup kencang setelah sekian lama, wanita itu seperti bidadari yang anggun dalam balutan pakaian yang menunjukkan dari mana dia
berasal. Mungkin Hiro lebih banyak terpaku dengan makanan, hingga ia tidak mengenal Autumm Terra Bluette. Seorang wanita cantik yang menjadi pengunjung restorannya hari itu adalah seseorang yang bisa membeli kota Paris hanya dengan satu jentikan jemari tangan.
Dari kunjungan itu, Hiro mengetahui jika Autumm memiliki butik di ujung blok di pusat kota, dengan berbekal rasa keingintahuan yang sangat tinggi, ia
mendatangi Terra B. Hiro tidak tanggung-tanggung menggesek kartunya, dan
berujung sebuah perkenalan yang manis dengan si pemilik butik.
Sayang, Hiro berkecil hati untuk melakukan pendekatan lebih dari sekadar rekan sejawat yang memiliki usaha di kota yang sama. Autumm terlalu berkelas, bayangkan saja pelanggan butiknya adalah sekelompok orang-orang ternama. Lingkup sosialnya bukan hanya dari kalangan selebriti di Perancis melainkan seantero
dunia Autumm memiliki jejaring yang sangat kuat.
“Hiro.” Isla menyapa dengan suaranya yang manis. Pemuda yang dipanggil mengangguk kecil, sambil bergumam sopan.
“Sudah menjadi tradisi di keluarga kami dalam menentukan pasangan.” Potong wanita bersurai hitam itu sambil mengulas senyuman tipis.
Jantung Hiro berdegup kencang, muncul ketakutan di hatinya akan mendengar sebuah penolakan dari orang tua Autumm.
“Baik Autumm, maupun saudaranya bebas menentukan pasangan.” Sambung Isla disambut tarikan napas lega dari Hiro.
“Terima kasih. Nyonya Pranaja.” Balas Hiro dengan sopan.
“Mom, kami belum mau menikah. Hiro masih mengenalkan dirinya kepada kita, tolong jangan membebani dia dengan pertanyaan dan perkataan yang menyudutkan.” Protes Autumm kepada Isla. Sang mama yang terlihat tidak menua bahkan terlihat sepantaran dengan anak-anaknya menyunggingkan senyuman simpul.
Hiro menggeleng sambil melampaikan tangan menginterupsi perkataan Autumm “Maaf jika saya lancang, tapi kemungkinan besar kita akan
mengarah kesana, bukan?” tanyanya yang berhasil membungkam Autumm. Wanita cantik yang belum menyandang status sebagai kekasihnya tampak tertegun. Hiro belum sempat
berbincang dari hati ke hati, mereka langsung dihadapkan keluarga besar Bluette yang nampaknya sengaja berkumpul padahari itu.
Wajah Autumm merona merah, Kaia sang adik tertawa kecil dan menggamit tangan kakaknya.
“Dia sungguh gentleman, kak.” Bisiknya dengan riang.
Autumm menggigit bibir seraya mengangguk malu. Sementara itu River tidak terlalu peduli dengan pembicaraan formal antara calon kekasih
saudari kembarnya dengan orang yang berkumpul di ruangan itu. Fokusnya mengarah kepada Hiver, wanita cantik sekaligus putri Mersia yang sesaat lalu mengakui perasaan cintanya terhadap Orion. Hati River seakan di sambar kilat dan terbakar hangus dalam sekejap mata, ia bisa melihat ekspresi Hiver yang sangat bersungguh-sungguh dengan perkataannya.
Demi Tuhan. River bahkan meninggalkan Carole di Washington demi bertemu dengan Hiver di kediaman orang tuanya. Walau sebenarnya River
tidak peduli, jika Carole masih ingin melanjutkan wisata belanjanya di kota itu. Bahkan Carole berniar terbang ke Texas dan Hollywood bersama dengan kenalannya. Sungguh, River tidak peduli kemana istrinya akan pergi. Bagi River yang terpenting adalah mendapatkan perhatian dari Hiver.
Sial! Ia malah mendapatkan pengakuan perasaan Hiver kepada Orion, saudaranya yang lebih dingin dari gugusan gunung es di Kutub Utara. Beribu pertanyaan muncul di kepala River, termasuk sejauh mana hubungan kedua pasangan itu. Tentu
saja tidak jauh dari persoalan ranjang.
“Sudah selesai.” Tepukan di bahu River dari Autumm membuatnya tersadar jika kedua orang tuanya sudah beranjak meninggalkan ruangan tengah. Spontan ia menatap ke arah Hiver yang sangat acuh dan tanpa pamit meninggalkannya.
“Hiv.” Panggil River bergegas mengejar Hiver yang berjalan berdampingan dengan Orion, sangat menjengkelkan baginya melihat dua jemari tangan Hiver dan Orion saling bertautan dengan erat.
“River, berhentilah mengejar istriku.” Ucap Orion dengan suaranya yang tajam dan dingin ketika River berhasil menyamai langkah mereka.
River mendengus kasar “Aku tidak peduli, Orion. Hiver adalah sahabatku yang kau ambil. Tidak ada kekuatan untuk memutuskan tali pertemanan
kami, bahkan jika kalian telah menikah. Hiver tetap sahabatku.” Balasnya dengan sinis. Hiver memandang dengan alis berkerut seraya menggelengkan kepala.
“Aku ingin beristirahat, Riv. Sejak pagi kami di sini.” Hiver memberikan alasan ketika melihat pintu kamar tidur suaminya yang ditempati ketika belum pindah ke mansion atau ketika berkunjung di Lyon.
“Hiv, pembicaraan kita belum selesai.” Ujar River sedikit memelas. Ya, kini ia tidak memiliki harga diri di depan Hiver, wanita yang notabene adalah istri dari saudara kembarnya.
Bukannya menyahut, Hiver memilih mempercepat langkah kaki hingga mencapai depan pintu kamar di cat dengan warna putih.
“River, tolong. Hari ini bukan untuk membahas perasaanmu, dan lainnya. Tadi ada Autumm yang perlu diberikan ucapan selamat dengan kehadiran Hiro di sini.”
River mendesah kasar seraya menatap wajah dingin dan datar Orion dengan dalam “Sudah, bukan? Autumm sekarang menjadi orang paling bahagia di rumah ini. Oh well, semua orang berbahagia di rumah ini kecuali diriku. Apakah
kau sudah lupa, bagaimana diriku bisa berakhir menikah dengan Carole? Saat itu, aku sedang berusaha untuk menjalin hubungan dengan Hiver. Siapa yang salah? Hah? Orang tua kita!”
Bahkan suara River yang tegas membuat Orion hanya bisa menggelengkan kepala dengan pelan. Sementara Hiver tahu jika pernyataan lantang River ditujukan kepada dirinya, tapi tetap saja ia tidak mau memikirkan hal yang telah terjadi.
Orion memegang kedua bahu River, berusaha menenangkan saudaranya.
“Jangan sampai perkataan tadi di dengar oleh daddy dan mom. Itu akan melukai hati kedua orang tua kita, River. Sebenarnya aku malas membahas ini salah siapa, cuma dari sudut pandangku sebagai orang yang tak berpihak
kepada siapapun. Mutlak ini adalah kesalahanmu yang tidak mencari Carole, membiarkan masalah kalian berlarut-larut. Kau ingin memulai sebuah hubungan dengan Marjorie, namun kisah lamamu belum selesai. Jangan salahkan Carol yang datang ke sini dan wajar jika kedua pihak orang tua menyepakati sebuah pernikahan di antara kalian. Dan.. ketika kau telah menikah, otomatis kau tidak memiliki hak lagi untuk mendekati Marjorie. Apalagi sekarang dia adalah istriku. Kau baru bisa mendapatkannya setelah aku meninggal, River.” Pukas Orion dengan panjang. Penjelasannya terdengar sangat logis dan rinci membuat River mati kutu.
Orion melepaskan tangannya dari bahu River, sauadaranya berdiri mematung tanpa suara.
“Masuklah, Marjorie.” Orion membukakan pintu untuk istrinya. Hiver tidak berani menaikkan kepala, tanpa bicara ia menuruti keinginan Orion.
“Hiv, aku tidak akan menyerah!” teriakan River melemahkan tubuh Hiver, tampak sang putri cantik itu mengepalkan tangan seraya meneruskan langkah kakinya tanpa menoleh sedikitpun.
…
Kerajaan Swedia..
Bunyi pintu dikuakkan dengan keras membuat Lou hampir pingsan di atas tempat tidur, sosok tinggi besar berjalan dengan cepat mendekatinya dengan sorot manik lionnya yang tajam.
“Aku mendengar kabar jika kau sakit, Princess Lou. Apakah itu benar?” tanya Philip terlihat sangat khawatir. Kini pria bersuit sangat rapi
itu tanpa permisi memegang kening Lou untuk mengecek suhu tubuh.
“Sedikit hangat.” Sambung Philip menarik tangannya.
Lou terdiam memerhatikan pria yang menjadi suaminya, terhitung 32 hari mereka telah menikah dan yah, tidak ada sesuatu yang hebat terjadi di antara mereka kecuali tampil bersama di berbagai acara kerajaan.
“Aku sedang menstruasi, Yang Mulia. Terkadang jika siklusku datang kerap terjadi seperti ini. Mungkin terlalu lelah dengan padatnya acara
yang aku hadiri.” Lou menjelaskan sambil membenarkan posisi tubuhnya yang sedang bersandar di sofa ruang tidur sangat mewah.
Philip terdiam berusaha mencerna perkataan Lou, kemudian pemilik manik lion itu menganggukkan kepala tanda mengerti.
“Jadi bukan sesuatu yang parah?” tanya Philip.
Lou mengerutkan kening sambil menggeleng “Tentu saja bukan, Yang Mulia. Ini hanya akan berlangsung beberapa hari dan aku akan kembali
seperti semula.”
Philip mendorong rambutnya ke belakang dengan lembut. Tak lama kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan menekan kontak yang sangat ingin
dihubunginya. Sekilas ia menoleh ke arah Lou kemudian menarik napas yang panjang.
“Yang Mulia, apa yang kau lakukan?” Lou sedikit terpekik dan berupaya bangun dari tempat tidur.
“Tolong, bersandiwaralah sekali ini demi diriku, Princess Lou. Aku sungguh merindukan kakakmu. Tolong bawa dia ke sini.” Pinta Philip dengan tatapan yang menghiba. Sorot matanya menyendu, memelas kepada Lou.
Lou tersentuh. Ia tidak pernah melihat pewaris tahta Kerajaan Swedia itu selemah seperti saat ini.
“Princess Hiver akan marah jika ini ketahuan, Yang Mulia.” Sergah Lou.
“Please. Sekali ini saja, berbaik hatilah kepadaku.” Sekali lagi suara Philip memelas. Tampaknya sang penerus tahta bersungguh-sungguh dengan
permintaannya.
Kembali Lou merasakan kekalahan terhadap saudaranya sendiri, perasaan Philip kepada Hiver teramat besar. Terbukti, Philip tidak pernah
menyentuh Lou lebih dari sekadar kemesraan di muka umum dan tadi yang baru saja terjadi, pria bersuara bariton tegas itu menyentuh keningnya untuk kali pertama dalam sejarah.
Lou hanya mengangguk lemah sebagai jawaban atas permintaan Philip. Usai mendapatkan persetujuan kini Lou terabaikan, Philip terdiam sambil mengetikkan sesuatu pada layar ponselnya.
Princess Lou sedang sakit, apakah kau tidak berniat berkunjung ke Swedia untuk melihatnya? Bukan penyakit yang serius, tetapi dokter kerajaan
sedang melakukan pemeriksaan yang lebih mendalam. Hiver, istriku merindukanmu.
Dan aku juga, tambah Philip dalam hati seraya tersenyum lebar.
…
Orion sedang menunggu Hiver yang sedang menjalankan rutinitas malamnya, yakni memakai segala macam pelembab wajah dan badan. Wanginya sangat harum dan Orion terbiasa menciumnya bahkan membuatnya tidak ingin
melepaskan Hiver selama mereka tidur.
“Marjorie.” Gumam Orion pelan.
“Ya.” Hiver menatap ke arah pria bersurai emas pucat dengan bantuan cermin meja rias.
“Apakah ada sesuatu yang ingin kau katakan kepadaku?”tanya Orion dengan manis. Suaranya mendayu dan lembut.
“Sesuatu?” Balas Hiver dengan cepat bersamaan dengan ia menyelesaikan rutinitasnya. Wangi bunga yang lembut perlahan menguar di indera
Orion seiring Hiver naik ke atas tempat tidur.
“Ya, sesuatu.” Kata Orion sambil tersenyum. Ia harus berpura-pura tidak mendengarkan perkataan Hiver yang mengatakan perasaannya di depan River.
“Aku tidak mengerti, Orion. Aku tidak tahu kemana arah pembicaraan ini. Apakah ada sesuatu yang perlu diperjelas? Tentang River?” Hiver bertanya balik seraya masuk ke dalam selimut.
Orion menarik napas pendek kemudian menyerah “Sudahlah, Marjorie. Mungkin belum saatnya.” Tukas si pria menarik tubuhnya untuk lurus di atas tempat tidur.
“Hei.” Hiver menggoyangkan tangan Orion.
“Aku bisa menunggu, Marjorie.” Sebuah usapan lembut di pipi Hiver dari Orion.
“Orion Filante, jangan tidur dulu.” Hiver melayangkan protes lemah namun tidak juga tega ketika melihat Orion berusaha membuka matanya yang terlihat sudah sangat berat.
“Kemarilah.” Orion membuka tangan memberikan akses agar Hiver masuk ke dalam rengkuhannya.
Hiver bergerak sangat pelan, bahkan ketika kepalanya rebah pada lengan Orion. Wangi maskulin earthy membanjiri dada Hiver, kini ia
merasakan nyaman dan tenang di tempat semestinya berada.
“Bonne nuit, Marjorie.” Orion mengucapkan kata selamat malam disertai dengan kecupan di kening Hiver. Suara lembut itu perlahan hilang
kemudian berganti dengan tarikan napas teratur dari Orion.
Sang putri sungguh tidak terima dengan sosok indah yang memeluknya, Orion telah terbang entah ke gugusan mimpi indah sementara ia masih asyik menyaksikan setiap gerakan kecil dari bola mata yang terpejam di depannya.
Hiver merona dan tergoda. Kembali ia diingatkan ketika mengatakan hal besar di depan River tadi siang.
Aku mencintainya. Aku mencintai suamiku.
Dada Hiver memanas, terlebih jarak bibir merah delima di depannya sangatlah dekat dan begitu sangat menggoda untuk di cecap rasa manisnya.
Sebuah perasaan yang sangat besar menggelegak di dalam dada Hiver. Nalarnya sedang berjuang mati-matian untuk menahan tingkah bodoh yang bisa saja ia lakukan saat ini. Contoh, Hiver sangat ingin menangkup wajah terlelap bak malaikat tersebut kemudian menciumi setiap centinya. Sebuah perilaku yang memberikan bukti nyata atas kepemilikan utuh pada diri Orion.
Tuhan, tidak ! Hiver terpekik dalam hati.
“Hmmmm..” gumaman panjang membuat Hiver sedikit menyentak kemudian ia berpura-pura memejamkan mata. Hanya sedetik, ia kembali memandangi Orion. Hatinya membuncah tak karuan.
“Je’ t aime, mon epoux.” Bisiknya sangat pelan.
Manik hijau Hiver melebar, sepasang tangan semakin menguncinya dengan erat. Tampak samar Hiver melihat bibir merah delima itu tersenyum. Ya, Orion tersenyum tipis. Entah si pria cantik itu mendengar perkataan Hiver ataukah
sedang memimpikan hal indah di alam sana.
###
Je T aime, mon epoux : aku mencintaimu, suamiku
Hiro Chevalier
Autumm Terra
Marjorie Hiver
Orion Filante
alo kesayangan💕,
banyak yang aku kerjakan tadi, hmm.. mgkn lebih mengurus kebutuhan pribadi dan rumah. malamnya, aku gowes..
hujan-hujanan..
nih fotonya,
semoga yang kangen Jogja bisa semakin kangen, eh..
oh yah, buat Lila yang lagi sakit di Sidoarjo, cepat sembuh..
we miss u ❤
love,
D😘