
Serenade meraba perhiasan pemberian Philip Bernadotte, tekstur berlian dengan cutting terbaik dunia menjadi kado termahal yang pernah ia terima. Pewaris tahta itu sangat royal, Serenade jadi segan. Namun ia tak mungkin mengembalikan kalung indah tersebut, tentu akan melukai hati Philip.
Sesungguhnya ia dilema dengan kenyataan yang di hadapinya. Dua pangeran sekaligus pewaris tahta tengah mendekatinya. Ini terkesan murahan jika Serenade ungkapkan.
Jujur jika kedua pria tersebut memiliki ciri khas yang berbeda. Ketika bersama dengan Onyx, Serenade merasakan debar layaknya seorang gadis belia yang mengenal pria. Di sisi lain ketika bersama dengan Philip, ia merasakan berada di tangan yang tepat, pria bertubuh tinggi besar itu melindunginya.
Sebut saja Serenade terkesan gampangan, walau Sky dan Axel memberikan pendapat bahwa Serenade telah mengambil langkah yang tepat, memilah yang terbaik. Nyatanya dua pria pilihan itu adalah terbaik dari segala kemungkinan di dunia.
Serenade bergerak menaruh perhiasan tersebut ke dalam lemari brankas milik Axel, ketika usai menguncinya terdengar bunyi panggilan masuk yang membuatnya berlari mengambil benda canggih mengeluarkan simponi ciptaannya.
"Yang Mulia! Ada apa gerangan menelepon hamba?" seru Serenade riang, lawan bicaranya tergelak renyah. Hal yang sangat Serenade rindukan.
Berhentilah mencandaiku, Nada. Hei, aku ada di New York. Aku punya tiket konser Ad3le di Griffith Observatory.
Serenade terpekik keras, ia menatap layar ponsel, tertera nama Princess Elizabeth. "Serius? Bukannya konser itu terbatas, hanya untuk para artis papan atas di Hollywood dan orang-orang kaya!"
Princess Elizabeth mendesah pelan. Kita juga orang papan atas, Darling. Kita berhak sejajar dengan mereka.
"Dirimu." Serenade merendah. Hatinya gamang, baru kemarin ia membaca berita tentang konser penyanyi Inggris tersebut setelah vakum selama 6 tahun lamanya. Tiket konser hanya diperuntukkan untuk kalangan tertentu, dan sold out. Tentu saja Serenade bisa menjadi bagian kalangan tersebut walau ia tidak bisa menyandingkan dirinya dengan para pesohor dan orang-orang old money.
Ayolah, Bestie. Jika kau mengatakan "ya" dan kita akan terbang ke Hollywood saat ini juga. Kau bisa bertemu dengan orang tuamu.
Elizabeth terdengar penuh semangat, bahkan menggebu-gebu.
Kau tahu ini saatnya aku bebas dari segala urusan kerajaan. Henri memberiku waktu bersenang-senang.
"Apakah kau bersama dengan Prince Henri?" tanya Serenade sembari berjalan menuju lemari pakaian. Kini ia tergugah sepenuhnya dengan ajakan Elizabeth.
Tentu saja sendiri, suamiku memiliki banyak tanggung jawab di Luxembourg. Jadi aku menjemputmu, sejam lagi, Darling? Semua sudah diatur, hanya duduk dan menikmatinya.
"Ya. Aku akan mengirimkan alamat apartemenku yang baru. Aku merindukanmu, dan banyak hal ingin kubicarakan."
Wah, aku jadi penasaran Nona Rajendra. Aku beri waktu 60 menit untuk bersiap-siap. Love you, Darling.
Sereande tersenyum lebar mendengarkan perkataan terakhir sahabatnya. "Aku mencintaimu lebih, Yang Mulia."
...
Elizabeth baru melepaskan genggaman tangannya ketika mereka benar-benar sampai di dalam kabin private jet. "Aku ingin bersenang-senang." seru istri dari Prince Henri sambil merentangkan tangannya ke udara sedikit lagi mencapai atap pesawat.
"Apakah menjadi istri seorang pangeran membuatmu tertekan, Yang Mulia?" tanya Serenade lalu terkekeh.
Wanita cantik bertubuh tinggi semampai dibalut dengan sepasang suit berwarna broken white tampak mengerucutkan bibirnya. "Eliza, Darling." sungutnya sambil duduk di depan Serenade.
"Kenapa semua orang yang memiliki titel sepertimu tidak menyukai dipanggil dengan "Yang Mulia"? Apakah aneh atau ada alasan lain?" tanya Serenade menatap ke depan kemudian menunduk ketika melihat notifikasi pesan dari Sky, sang mama.
"Nada, kita sudah berteman cukup lama. Hanya karena aku menikah dengan Henri bukan berarti pertemanan kita berakhir dan berganti kaku seperti ini. Ayolah, kembalikan kegilaan yang pernah kita lewati bersama 7 yang tahun lalu. Aku tidak tertekan di Luxembourg, sebenarnya sangat menyenangkan termasuk memiliki suami yang tampan dan menggairahkan." Elizabeth tergelak hingga daun telinganya memerah pun dengan pipinya.
"Kau bahagia, Eliza Sayang." Serenade mengulurkan tangan dan menggenggam jemari tangan sahabatnya.
"Tentu! Aku sangat bahagia. Tapi demi ke Amerika aku harus membujuk Henri, dan akhirnya dia luluh memberikan aku waktu selama tiga hari. Aku katakan kepada Henri jika aku merindukan apartemenku di New York dan hal pertama aku lakukan ketika membuka pintu flat adalah meneleponmu." senandung Elizabeth sembari mengguncangkan genggaman tangan akibatnya tubuh Serenade jadi ikut bergoyang.
Keduanya tertawa lepas layaknya remaja berusia belasan yang tidak memiliki kekhawatiran tentang kerasnya dunia. "Oh yah, siapa yang kau panggil dengan sebutan Yang Mulia lainnya, Darling? Aku masih mengingat malam pesta pernikahanku, kau berbicara lama dengan Prince Philip Bernadotte dan Prince Alistaire Onyx. Mereka adalah pria-pria yang mengagumkan. Dan menurut Henri, keduanya masih belum menemukan calon pendamping."
"Jadi benar." Serenade bergumam.
"Benar apanya?" tuntut Elizabeth.
Serenade melipat bibir sambil menggeleng. "Tidak ada." jawabnya lirih. Terbayang dua sosok pria yang sedang merebut perhatiannya, dua pilihan yang sangat sulit.
Keduanya kemudian terdiam ketika pesawat mulai proses take off, baik Serenade dan Elizabeth menatap keluar jendela memerhatikan kota New York perlahan mengecil di bawah sana.
"Ini sungguh menyenangkan, tapi kau harus mengunjungiku lagi di Luxe. Mungkin di negeri kami, kau menemukan pria idamanmu, Darl." suara Elizabeth membuat Serenade berhenti melayangkan pandangan dari jendela.
"Aku tidak tertarik." sahutnya pelan.
Mulut Elizabeth menganga, kedua bola matanya membulat. "Apa aku tidak salah dengar? Darling, kau sudah menjadi musisi hebat, bahkan levelnya jauh dari kami teman-temanmu. Jika kau betah sendiri, lama-lama hanya Justin yang tertarik kepadamu. Itupun setelah dia memiliki istri kedua mungkin juga ketiga." seloroh Elizabeth membuat Serenade tersenyum kecut.
Serenade dan Elizabeth memiliki hubungan yang sangat dekat. Mereka hampir tidak memiliki rahasia, semua hal dibicarakan secara terbuka, termasuk kegilaan Justin dan terkadang Serenade membahas rasa penasarannya terhadap hidup sang papa yang sangat singkat, Micah Rajendra. Namun entah mengapa hari itu Serenade tidak bisa membicarakan kepada Elizabeth tentang dua pangeran yang sedang berlomba untuk meminangnya.
"Apa yang kau tunggu, Serenade Rajendra? Lupakan Justin, di bawah sana New York dan mungkin di kota lain, banyak pria mengagumimu, Darling. Kau gadis yang sangat cantik, berbakat, pria-pria itu tidak perlu berpikir dua kali ketika melihatmu. Tidak ada cela sedikit pun." sanjung Elizabeth.
Aku tidak menunggu, tapi ditunggu, Serenade membatin dengan pongahnya. Serenade menyembunyikan kebahagiaan itu dalam sebuah senyuman dengan bibir yang saling mengatup rapat.
"Bagaimana rasanya menikah dengan seorang pangeran?" tanya Serenade mengalihkan pembicaraan.
Wajah Elizabeth kontan berpijar bahagia. "Sangat bahagia!" serunya lalu mengambil napas. "Kau tahu dulu jika aku tidak tertarik dengan perjodohan tiba-tiba itu. Tapi siapa yang bisa menolak ketika seorang pangeran mengincarmu, hmm.. maksudku keluarga kerajaan. Henri sangat berbeda dari berita yang aku baca, nyatanya dia sosok yang sangat peyayang dan menghargai wanita. Bukan seorang pewaris tahta yang arogan dan gila pesta. Tidak ada yang perlu kukahawatirkan lagi, seperti sewa apartemen dan penampilanku akan buruk ketika tampil di sebuah konser murahan. Aku melepaskan karier musikku, Darling. Kelak aku hanya akan bermain cello di depan penerus kami."
"Kau sama sekali tidak pernah membayar sewa apartemen, Eliza." Serenade tidak bisa menahan diri untuk tidak menggerutu. Mereka berempat. Elizabeth, Hannah, Yara dan Serenade sendiri berasal dari keluarga menengah atas. Bahkan Elizabeth memiliki titel Lady di depan namanya, ia masih memiliki darah bangsawan walau tidak kental. Tetap saja banyak hal privilage Elizabeth dapatkan dari itu.
"Aku berlebihan." tawa Elizabeth. "Tapi kau tahu sendiri aku dulunya selalu memacari pria-pria yang payah dan miskin."
"Dan membiayainya." potong Serenade.
"Itulah hidup. Aku dulu berpikir jika menikah dengan salah satu pria itu, dan hidup pas-pasan bahkan untuk membayar sewa apartemen pun kami harus berjuang. Di pikiranku saat itu mungkin dengan hidup susah aku bisa lebih merasakan arti hidup yang sesungguhnya. Setelah menikah aku sadar, ternyata hidup sesungguhnya ketika bersama dengan pria yang kau cintai. Ya, aku sangat mencintai Henri. Pangeran itu hanya titel, di dalam kamar tidur kami dia hanya seorang pria biasa dengan segudang romantisme dan wawasan hebat tentang dunia. Itu mengapa aku mendorongmu untuk menjatuhkan pilihan, Darling. Walau kau bahagia dengan kesendirian, tapi bahagia itu akan berkali-kali lipat jika membaginya dengan seseorang yang kau cintai."
...
Serenade merebahkan badan di atas tempat tidur, ia baru saja menyelesaikan sesi latihan di ruang musik yang dulunya dibangun oleh Axel. Serenade masih berada di Hollywood, sementara Elizabeth telah kembali ke Luxembourg. Konser penyanyi idola mereka berjalan dengan sangat hebat, dan membuat Serenade terinspirasi untuk menciptakan beberapa aransemen baru. Selama berjam-jam ia berlatih hingga Sky sendiri, sang mama yang menyeret Serenade menuju ke ruang makan. Berbagai nasehat keluar beruntun dari wanita paruh baya yang Serenade sangat cintai.
"Ahhh." ******* panjang keluar dari bibir Serenade ketika meregangkan badan di atas tempat tidur. Jam menunjukan pukul empat sore, namun matanya terlalu berat untuk melakukan hal selain terlelap. Serenade tidak sadar untuk beberapa lama hingga bunyi telepon menganggu tidur sorenya.
Tanpa melihat nama Serenade menjawab panggilan telepon. "Halo." sapanya dengan lembut dan pelan.
Apakah aku mengganggu tidurmu, Nada? suara renyah diiringi tawa pelan membuat Serenade menarik ponsel dari telinganya. Nama Prince Alistaire Onyx tertera jelas di layar persegi!
"Yang Mulia, maafkan aku!" Serenade terpekik pelan sambil terbangun. Tangan kirinya dipakai untuk merapikan rambutnya yang acak-acakan.
Apa kabar? Beberapa hari ini aku sangat sibuk. Onyx menjeda pembicaraannya.
"Kabarku baik, Onyx. Sekarang aku di California, rumah orang tua." tutur Serenade lancar. Ia berinisiatif menyebut nama panggilan pria tersebut.
Apakah kau sibuk? Maksudku bulan depan.
Manik biru Serenade menengadah menatap langit-langit rumah, ia sedang berpikir. "Sepertinya tidak ada hal penting. Ada apa?"
Onyx berdeham seraya menghela napas perlahan. Pertengahan bulan depan akan ada perayaan di Mersia. Aku mengundangmu, Nada. Jadi, tolong katakan YA akan ajakanku ini.
Sopan dan intim. Onyx bisa menundukkan hati siapapun dengan gaya bicara seperti sekarang, termasuk Serenade.
"Itu akan menjadi kunjungan pertama kali bagiku ke Mersia." balas Serenade dengan hati-hati.
Serenade! Terima kasih banyak. Onyx tidak dapat menutupi kebahagiaannya dengan seruan riang dan juga lantang di telinga lawan bicaranya.
Serenade meremas sprei untuk menutupi kegugupan hati yang melanda. Mendengar suara Onyx yang bertutur kata sopan, di saat itu pula Serenade mengingat semua perkataan Elizabeth.
Ia harus membuka hati, memberikan kesempatan untuk mengenal lebih jauh pria-pria yang menghuni isi kepalanya.
Aku akan mengatur segalanya. Dan satu lagi, aku sangat merindukanmu, Serenade. Aku menjadi orang yang paling tidak sabar menunggu bulan depan.
###
alo kesayangan๐,
finally aku UP, seminggu lalu ada kerjaan yang harus membuatku tidak punya waktu untuk menulis. maaf ๐.
dan lagi, aku sedang menyicil membuat buku, ya novel cetak. semoga membagi waktu dengan berbagai plan-plan tak kesampaian ๐
oh ya, aku terinspirasi dengan konser Adele coba kalian cari di Youtube, aku nontonnya di Vidio.
love,
D๐