MERSIA

MERSIA
You Deserve To Be Happy



“Mereka terlihat sangat bahagia.” Kata Lou seraya tersenyum setelah melihat foto-foto di ponsel Jonas selama di Afrika.


“Terkadang seseorang memilih menampakkan kebahagiaan dibandingkan kesedihannya, Lou. Jika melihat sendiri kehidupan mereka di sana, di daerah konflik yang tiap hari terjadi insiden tembak menembak dan bom, kau pasti tidak bisa menarik sebuah senyuman setulus ini.” Tutur Jonas.


“Sungguh menyeramkan dan suram tapi mereka nampak tidak tertekan, Duke Jonas.”


Pria menumbuhkan janggut mengukir sebuah senyuman tipis sembari mengangkat alisnya.


“Kau sangat polos, Lou. Jika kau menyelami arti sorot mata mereka, ada kesedihan dan keputusasaan yang mendalam. Aku melihat hal yang sama dari matamu.” Kata Jonas.


“Aku?” Lou membulatkan manik hijaunya.


“Ya, Princess Lou. Di setiap pertemuan kita kau selalu berpura-pura bahagia, tapi di dalam hatimu menyimpan banyak hal. Bagaimana pernikahanmu dengan adikku?” todong Jonas yang merasa jika sudah waktunya untuk mengajak berbicara lebih serius dengan Lou. Setelah dua minggu terakhir mereka selalu bertemu, yang semuanya dipermudah oleh Philip. Dimana, sentero Royal House seakan tutup mata dan telinga melihat keakraban dirinya bersama dengan Lou. Tentu saja kabar itu ditutupi sampai ke telinga sang raja dan ratu.


Lou tidak menjawab, bahunya tegang, tangannya terjalin bahkan Jonas melihat wanita cantik itu mencubit dirinya sendiri.


“Lou, tidak apa-apa jika kau belum ingin mengatakan kepadaku.” Jonas menangkup jemari tangan Lou dengan tangannya.


“Aku tidak tahu harus memulai dari mana, Duke Jonas.” Lou tertunduk terpaku pada satu tangan kokoh menggenggam jemarinya, kini jantungnya berdetak tak seperti biasanya.


“Begini..” Jonas mengeratkan jemarinya hingga Lou menaikkan wajah yang memerah. Jonas tersenyum lembut begitupun tatapannya.


“Bagaimana hubunganmu dengan Philip?” tanya Jonas.


Lou yang hendak menarik tangannya, justru mendapatkan genggaman yang lebih erat. “Yang Mulia sekarang lebih sibuk, terkadang masuk ke kamar sekitar jam 1 malam dan berangkat lebih pagi.” sahutnya lemah.


Jonas melirik ke arah tanaman saat menghela napas panjang. “Tapi apakah kalian masih ada waktu untuk berbincang bersama?” tanyanya sambil menahan diri untuk tidak menggerutu atau mengumpat kepada sang pewaris tahta.


“Ketika pagi, ia masih menanyakan kabarku. Dan ketika sarapan bersama Philip membahas pekerjaannya yang perlu aku ketahui. Hanya itu.” aku Lou berusaha tabah.


“Bagaimana dengan urusan tempat tidur kalian? Maafkan aku menyinggung masalah ini, Lou.”


Lou tersenyum getir sambil menggeleng lemah. “Sepertinya dia tidak berminat lagi denganku, hubungan kami memburuk dengan kesibukan Philip dengan urusan kerajaan.”


Oh Tuhan. Tidak begini, Philip. Bukan begini caranya untuk melepaskan istrimu. Jonas bermonolog sambil menepuk punggung tangan Lou.


“Aku tidak apa-apa, Joe. Ini adalah takdir yang harus kujalani.” Kata Lou pasrah namun tak ikhlas.


Jonas meringis. “Seumur hidup? Tidak? Kau masih sangat muda, kau pasti punya banyak keinginan ataupun impian.”


Lou tercenung sambil berpikir. Agak lama hingga remasan tangan Jonas membuatnya kaget dan menatap wajah pria dewasa nan tampan sambil membelalakkan matanya.


“Dulu aku hanya ingin menyelesaikan program magister secepatnya dan lamaran Philip datang. Aku pikir dengan menyelesaikan kuliah jurusan ilmu pemerintahan bisa membantu Onyx dalam menjalankan Mersia. Dan sebenarnya aku sangat suka menghadiri sejumlah acara kemanusian selama di sini, tapi untuk sementara tidak ada jadwal seperti itu untukku. Sekarang yang ada hanya berbagai pesta dan bertemu dengan delegasi kerajaan yang berkunjung di Royal House.” Ujar Lou sambil memandangi Jonas yang memiliki wajah teduh dan menenangkan.


“Kau bosan?” todong Jonas.


“Iya. Aku tidak tahu jika menjadi istri seorang pewaris tahta ternyata sangat membosankan, tidak bisa kemana-mana. Aku merindukan Mersia tapi tidak bisa kembali tanpa ada persetujuan kedua kerajaan. Ini sangat mengekang, Joe.” Ujar Lou jujur dengan perasaannya. Setidaknya hanya Jonas yang bisa mendengarkannya dengan tulus selama di Swedia. Lou tidak mungkin bisa menelepon King Robert di Mersia dan mengabarkan bahwa Philip mengabaikan dirinya.


Jonas berdeham keras, tapi tangan mereka masih betah saling menggenggam. Perhatian mereka sebenarnya lebih terfokus kepada jemari tangan yang semakin mengisi, bukan kepada Philip dan masalah Lou.


“Apakah hidup di luar itu menyenangkan?” tanya Lou sambil beradu pandangan dengan si manik biru yang melebar, mengisap segala keraguan hatinya.


Mata Jonas berkedut dan spontan tertarik. “Di luar? Maksudmu seperti perjalanan dinas militerku di negara konflik?”


Lou mengangguk pelan. “Iya, di luar dari semua kenyamanan ini, Duke Jonas. Ketika aku berada di Mersia, kami bebas kemana saja. Maksudku bepergian dengan Cyrus terkadang bersama dengan Onyx dan Hiver. Tapi di sini nyata aku mendapatkan segalanya, namun satu-satunya tempat yang bisa membuat paru-paru bernapas lega hanya rumah kaca ini. Selebihnya tidak ada.” Ujar Lou semakin terbuka, ia kepalang tanggung menceritakan segala hal yang membuatnya berada di dalam jurang dilema.


“Bahkan di dalam pelukan Philip?” tanya Jonas seraya menyeringai dan menggoda wanita cantik yang terus memerah wajahnya. Jujur ia bisa menghabiskan sepanjang hari waktunya hanya demi mendengarkan curahan hati Lou yang manis.


Lou merenggut dan membuang muka. “Kau belum menjawab pertanyaanku, Duke Jonas.” Katanya dibuat-buat tegas hanya karena kesal terhadap pria yang membuat hatinya berdebar.


“Oh itu. Aku mempunyai teman sekolah, dia wanita dan jatuh cinta dengan seorang pria yang merupakan penduduk asli suku Maasai. Mereka tinggal di pedesaan hidup secara berkelompok, tidak ada kemewahan di tempat itu, Lou. Bahkan rumah tempat tinggal temanku itu berdindingkan tanah bercampur dengan kotoran sapi. Sangat tradisional tapi temamku hidup bahagia, sangat bahagia dengan pria dicintainya.”


“Kotoran sapi?” sergah Lou dengan cepat dan antusias.


 “Di sana, para kaum wanita -lah yang membangun rumah, dari ranting, tanah liat bercampur dengan kotoran hewan. Hasil bangunan rumah mereka sangat kuat, terlebih Afrika bukan negara yang sering gempa, bukan? Kendala mereka adalah kurangnya air bersih.” terang Jonas dengan bijak menyampaikan ilmu yang diketahuinya.


“Bagaimana dengan prianya? Apakah mereka berburu?”


Jonas mengangguk. “Ya, para pria berburu singa.”


Manik hijau itu membulat sangat lebar. “Singa? Bukankah itu dilarang?”


Jonas terkekeh. “Sudahlah kita jangan membahas itu, hukum Internasional tidak bisa dibenturkan dengan hukum adat. Fokus kita sekarang adalah dirimu. Andai saja kau memiliki kekuatan untuk pergi dari Swedia, kau akan kemana, Princess Lou?”


Lou menarik napas panjang sambil mengulum senyuman. “Ke suatu tempat yang berbeda dengan hidup kujalani selama 23 tahun. Mungkin negara seperti Afrika, kemudian mengajarkan anak-anak dk sana untuk membaca atau hal yang tidak mereka ketahui. Tapi aku tidak mau tinggal di rumah yang berdindingkan tanah.” Katanya lalu tergelak tawa yang renyah.


“Aku tidak mungkin membiarkanmu hidup seperti itu, Lou.” Jonas dengan cepat menimpali.


“Apa hubungannya perkataanku denganmu, Joe?” tanya Lou dengan alis berkerut dan jantung berdetak kencang.


Tangan Jonas membawa naik jemari tangan Lou ke atas dan mengecupnya dengan perlahan. Lou gemetar akan perbuatan tiba-tiba pria tampan itu.


“Kau mengutarakan impianmu kepadaku, berarti hanya aku yang bisa mewujudkannya. Kau tahu jika aku bisa meninggalkan semuanya untukmu, Lou. Hidup di luar sana, menjauh dari tugas kerajaan yang tidak akan pernah habis hingga aku menua. Jika aku bertahan di sini, suatu hari aku pasti akan menjadi inti dari kerajaan ini, besar kemungkinan menjadi dewan penasihat anak-anak kalian.” Ujar Jonas dengan suara gemetar dan sedih. Ia sudah kepalang basah dan memutuskan untuk mengambil kesempatan yang sedang terbuka lebar, tawaran Philip untuk membahagiakan Lou dan kini Lou sendiri yang mulai membuka hatinya.


“Itu tidak akan terjadi.” Lou menggeleng kuat-kuat dengan wajah tegang. “Lebih baik aku hidup di tengah hutan Afrika melihat langsung singa yang mungkin bisa menyantap tubuhku, dibandingkan hidup bersama dengan Philip yang tidak memiliki perasaan. Aku membuang waktuku.” Lou mengakhiri perkataannya dari tegas menjadi lemah.


“Berarti kita sepakat?” tanya Jonas tidak melepaskan sedikitpun kesempatan emas yang berada di depannya.


Lou memandangi wajah Jonas, tidak ada keraguan terpancar sedikitpun di sana. Pria itu teguh, terlatih di medan perang, sepertinya sudah tahu akan bahaya denganvmengambil kesepakatan dengan dirinya.


“Aku menyukaimu, Princess Lou. Aku jatuh hati kepadamu sejak pertemuan kita yang pertama. Awalnya aku pikir hanya bisa berteman denganmu, tapi lama kelamaan aku menjadi ketergantungan untuk bertemu dan mendengarkan ceritamu tentang berbagai hal. Kau candu yang beracun, tapi aku siap dengan segalanya. Termasuk menghadapi dua kerajaan.” Ucap Jonas lugas dan yakin.


Sudah! Ini dia, orang yang menginginkanku. Pria yang menggetarkan seluruh indera dalam waktu bersamaan. Duke Jonas Sandeberg, sosok dewasa yang menjanjikan kehidupan yang kuinginkan.


Lou mengangguk pelan dengan hati menggelepar bahagia, ia sama sekali tidak mengingat sosok lain yang memiliki dirinya. Tubuhnya melebur dalam sukacita seiring jemari tangannya dikecup dalam-dalam oleh Jonas.



Philip sengaja masuk ke dalam ruang ganti sementara ia telah mengenakan suit terbaiknya. Philip sengaja menunggu Lou selesai membersihkan diri dan berpakaian, kurang lebih ia hapal dengan keseharian istrinya.


“Ada apa, Yang Mulia?” tegur Lou ketika Philip masuk di ruangan berganti pakaian. Ia baru saja mematut penampilannya pada cermin besar berbingkai emas dan sosok pria mengenakan atasan suit putih dan celana hitam menginterupsi ketenangannya. Walau Philip terlihat sangat tampan pagi itu, namun Lou terlanjur telah melepaskan perasaannya.


“Kita perlu bicara.” Philip mendominasi menarik tangan Lou untuk duduk di sofa tanpa sandaran dan tangan.


Lou mengikuti perintah dengan duduk anggun sementara Philip tetap berdiri sambil mengamati tiap inchi wajahnya. Lou kikuk dan berdebar takut. Hatinya semakin was-was manakala Philip hanya terdiam dan terus menatapnya dengan bibir terkulum.


“Yang Mulia!” Lou terpekik semenit kemudian saat Philip duduk bersimpuh di depannya.


“Maafkan aku, Lou.” Gumam Philip sambil memegang jemari istrinya.


Lou kebingungan melihat sikap Philip yang merunduk berperan sebagia seorang hamba di hadapannya.


“Yang Mulia, berdirilah. Ini tidak boleh terjadi, kau adalah seorang pewaris tahta seharusnya berada di atas.”


“Tidak.” Philip menggeleng dengan mata sendunya yang mendongak menatap Lou.


“Yang Mulia.” Lou mengerang dengan maniknya yang memburam.


“Jangan menangis, Lou. Ini perintahku.” Philip menekankan kata-katanya yang langsung didengarkan oleh Lou. Tampak wanita bersurai ikal itu menggeleng menahan diri agar ia tidak menjatuhkan air mata.


Philip mengecup sekali jemari tangan Lou kemudian menarik napas dalam tanpa melepaskan pandangannya dari raut muka Lou yang sangat cantik bahkan dalam kondisi hati yang tidak jelas.


Lou menggigit bibirnya, ia ketakutan dan air matanya kini merebak dan jatuh di pipi.


“Maafkan aku, Yang Mulia.” Lou terisak, tubuhnya bergetar karena takut dan kesedihan yang mendalam.


Philip pun bangkit dan duduk di sebelah Lou. Ia merangkul tubuh istrinya yang awalnya sedikit menolak untuk disentuh intim walau Philip hanya bertujuan untuk mendamaikan hati gundah gulana Lou.


“Aku yang salah, Lou. Bukan kau ataupun Joe. Aku –lah yang salah.” Kata Philip lembut namun isakan tangis Lou semakin mengeras.


Philip menepuk lengan Lou dengan perlahan. “Aku yang membiarkan kalian dekat, karena aku sadar bahwa aku tidak bisa membahagiakanmu, Lou. Awalnya aku pikir bisa hidup denganmu, mulai membuka hati seperti permintaan Hiver. Tapi aku tidak bisa, jujur ini sangat sulit.”


Lou menoleh dengan mata merah dan rahang mengeras. “Jadi, bulan madu dan semuanya hanya karena Princess Hiver? Kau jahat!” pekiknya lagi dan memukul dada Philip berkali-kali.


Philip merengkuh tubuh Lou yang tidak bisa menyakitinya hanya dengan pukulan lemah seperti itu. “Ya, aku jahat. Sangat jahat. Aku yang meminta Jonas untuk menemanimu, dan dia pula yang mengatakan jika sangat menyukai istriku. Ini sangat gila, Lou. Dalam 150 tahun sejarah kerajaan kita, tidak ada perceraian antara raja dan ratu, begitupun pada pewaris tahta.”


Lou berontak dan mendorong tubuh Philip hingga ia berhasil melepaskan diri. Dengan tubuh terhuyung, Lou bergerak mundur menjauhi Philip.


“Bercerai.. bercerai.” Lou mengulang perkataan yang membuat air matanya tak henti berjatuhan. Ia belum ada persiapan untuk hal ini, namun segala sesuatunya sudah tercium oleh pria yang terus berjalan mendekat dan berusaha kembali memegang tangannya.


“Ya, Lou. Aku akan membatalkan pernikahan kita, sebelum semuanya terlanjur kusut.” Kata Philip ketika Lou terpojok pada sudut ruangan dan tidak bisa bergerak kemanapun.


“Aku membencimu!” teriak Lou dengan wajah memerah. Philip hanya bisa mengangguk dan sama sekali tidak terpancing.


“Joe tidak ada dalam kesepakatan ini, Lou. Dia murni mencintaimu, kemarin siang kami bertemu dan dia mengutarakan semua rencana hidup kalian. Terdengar sangat realistis.” Sahutnya ringan, Lou semakin berang.


“Ya, kami memiliki rencana indah. Setelah aku menyerah menghadapimu, Prince Philip Yang Tidak Memiliki Hati! Awalnya aku belajar membuka hatiku untukmu, aku jatuh cinta kepadamu. Namun setelah aku mendapatkan siklusku, kau berubah. Mau tidak mau aku bertanya-tanya dalam hati apa penyebab atas perubahan sikapmu. Syukurnya ada Jonas menenemaniku, hampir setiap hari.” Kata Lou berapi-api. Ia melupakan jika dirinya sedang berhadapan dengan sang calon raja dan juga suaminya.


Philip mengusap air mata Lou yang jatuh berderai. “Kau sangat muda, Lou. Perasaan suka dan cinta yang kau rasakan muncul karena kewajibanmu sebagai wanita yang kupersunting dan juga bentuk tanggung jawabmu terhadap Mersia. Kau tidak pernah mencintaiku dengan tulus, berbeda halnya kau membuka hati kepada Jonas. Dia adalah cintamu yang sesungguhnya. Bukan aku, sayang.” ucapnya membuat tubuh Lou duduk tersimpuh di atas permadani.


Lou terus terisak sementara Philip terus menemaninya sambil berjongkok.


“Princess Hiver akan membunuhmu jika mengetahui hal ini.” tutur Lou terbata-bata ketika ia bisa mengendalikan diri.


“Aku siap mati di tangan kakakmu, Lou.” sahutnya dengan lemah.


Lou menggeleng mendapati manik lion suaminya menyendu.


“Kau sangat mencintainya dan kau membiarkan aku pergi. Kau tidak akan memiliki siapapun sekarang, Yang Mulia.”


Philip tersenyum dan mengangguk. “Setidaknya aku tidak menjadi penghalang cintamu dan Joe. Kalian berhak bahagia, dan pergilah sejauh-jauhnya dari kerajaan ini. Aku bisa menghadapi semua celaan dan penghakiman tanpa akhir dari rakyat Swedia dan Mersia. Maafkan aku yang tidak berperasaan membawamu masuk ke dalam sebuah hubungan yang rumit. Mengukir sejarah kelam antara dua kerajaan. Kisah kita akan ditulis dalam buku sejarah, seorang pewaris tahta menceraikan istrinya pada pernikahan yang baru menginjak usia empat bulan.” Philip terdengar menyesal tapi tidak ingin penderitaan semakin dalam bagi mereka berdua.


Lou mendesah putus asa dan iba. “Andai saja kau mau berbicara seperti ini denganku, Yang Mulia. Mungkin saja kita bisa mempertahankan semuanya, tapi aku akan tersiksa seumur hidup mengetahui jika kau memendam cinta yang besar kepada kakak kandungku.”


“Tidak, Lou. Kau berhak bahagia, hidupmu masih panjang. Sementara hidupku sebentar lagi berakhir.”


Lou tertawa dengan mata berkabut. “Princess Hiver memiliki skill menembak yang lihai, Yang Mulia.”


Philip ikut tertawa. “Baguslah, setidaknya aku tidak perlu merasakan sakit yang lama dalam mengakhiri perjalanan hidup.”


Lou meninju dada Philip sangat keras hingga pria berbadan besar dan penuh otot itu terjungkal ke belakang.


“Jangan lemah seperti itu, Yang Mulia. Kemungkinan besar kau masih akan tetap hidup. Jika kesempatan itu ada, apa yang akan kau lakukan?  Apakah kau ingin merebut kakakku dari suaminya? Orion bukan tandinganmu.” Ujarnya memperingatkan Philip.


Sepasang manik lion mengerjap dan menatap Lou dengan bersahabat. Ia kembali tertawa sambil berdiri sekaligus menarik tangan Lou untuk ikut menegakkan tubuhnya.


“Kau tahu, Lou. Kita sepertinya perlu bertengkar untuk bisa akrab seperti ini.” ucap Philip sambil merapikan surai Lou yang berantakan.


“Tingkahmu seperti Onyx.” Lou tersentuh mendapati dirinya diperhatikan oleh pria yang tidak lama lagi melepaskan status istri dan calon permaisurinya.


Philip mengembuskan napas panjang. “Aku sekarang menganggapmu sebagai adik, Lou. Kalaupun nanti aku masih hidup, aku hanya ingin menepi dari tempat ini, Swedia masih memiliki raja dan ratu yang sangat sehat jadi tugasku masih lama akan datang. Kita akan mencari kebahagiaan masing-masing, kau tinggal menyakinkan kedua orang tuamu dan hiduplah penuh suka ria dengan Jonas. Dia adalah kakakku, dia jauh lebih dewasa dalam pola pikir dibandingkan diriku yang bodoh ini. Kau akan baik-baik saja di tangannya, Lou. Aku jamin itu.”


Tangis Lou kembali meledak ketika mendengarkan perkataan Philip yang sedang memeluknya. Dalam hati Lou menghitung mundur akan sebuah bencana besar yang akan terjadi di Eropa, kabar tentang perpisahannya dengan Prince Philip Bernadotte.



Hiver berteriak histeris ketika membuka tautan berita di emailnya.


PRINCE PHILIP BERNADOTTE MEMBATALKAN PERNIKAHANNYA DENGAN PRINCESS MARYLN LOU DISEBABKAN SANG PEWARIS TAHTA MENGAKUI JIKA DIA MEMILIKI CINTA YANG BESAR TERHADAP WANITA LAIN YANG TIDAK INGIN DISEBUTKAN NAMANYA.


PHILIP MENGAKUI JIKA DIA TIDAK BISA MELEPASKAN PERASAANNYA KEPADA WANITA TERSEBUT, BAHKAN KETIKA BERSAMA DENGAN PRINCESS MARYLN, WAJAH WANITA TERSEBUT KERAP KALI MUNCUL DI PELUPUK MATANYA.


BRAK!!


Hiver melemparkan ponselnya hingga pecah tak berbentuk menghantam tembok villa. Orion bergerak memeluk tubuh istrinya tersengal-sengal karena amarah.


“Marjorie.” Orion berusaha menenangkan Hiver yang tidak bisa menguasai diri lagi.


“Dia gila! Aku akan menghabisinya dengan tanganku sendiri, Orion.”  Hiver terpekik marah, dadanya naik turun teramat sakit di setiap detaknya.


Manik hijau Hiver merah dan nanar. Berair dan tajam. Orion menangkup wajah Hiver dengan tatapan yang berbeda, ia tetap lembut seperti biasanya.


“Tenangkan dirimu, Marjorie. Setelah emosimu reda, kita akan berkemas dan terbang ke Swedia hari ini juga. Masalah ini sangat rumit, tapi tetaplah dalam kontrol emosi yang terjaga. Baik papa, mama dan adik-adikmu sekarang sedang berduka dan kecewa dengan kabar berita ini. Sebagai kakak pertama, dan wanita yang dimaksudkan Philip dalam berita, seharusnya lebih bisa menahan diri. Aku akan mengatur sebuah pertemuan dengan Philip, dan mencari tahu duduk perkara yangsebenar-benarnya. Hanya satu yang bisa kujanjikan kepadamu,


Marjorie. Jika tujuan Philip membatalkan pernikahan dengan Lou agar dia bisa mendapatkanmu, bukan kau yang dihadapinya melainkan aku. Jadi, aku tidak akan berdiam diri begitu saja, Marjorie. Aku yang akan mengakhiri hidupnya.”


###





Marjorie marah👻



alo kesayangan💕,


kisruh kisruh 😎


gimana kalau kek gini, masih kuat gak kalian?


yang mau ikut ke Swedia menghajar Philip mana suaranya??


btw ini 2700an kata loh, wkwkwkwk.


kuat bener menulis dan membuat kalian jengkel.


don't hate me, please😍


oh yah, terkait regulasi baru di MT yang mengakibatkan mungkin beberapa author menghentikan novelnya, but khusus di lapak sini akan tetap setia sampai akhir chapter 3 novel yang running walau updatenya makan waktu lama, sorry✌🏻


love,


D😘