MERSIA

MERSIA
Mrs. Filante



Hiver duduk bersisian dengan Orion, keduanya berada di ruang keluarga Palace Mersia. Dua pasang orang tua duduk berhadapan dengan mereka.


“Apakah kalian ingin menikah?” tanya sang raja membuka percakapan setelah memanggil Hiver dan Orion untuk menyusul ke ruangan keluarga.


Orion menoleh menatap gadis cantik yang tersenyum tipis dengan manik hijau yang bersinar. Orion kembali mengarahkan pandangannya kepada King Robert, Queen Summer, Adrien dan Isla, mamanya.


“Ya, Yang Mulia.” Singkat padat jawaban Orion.


 King Robert mengembuskan napas lega dan


memandang tiga orang di sebelahnya. Tangannya menggenggam erat jemari Adrien. Sementara Summer dan Isla spontan berpelukan.


“Akhirnya, keluarga kita bersatu.” Kata King Robert penuh suka cita.


Hiver tersipu dan tertunduk malu, sesaat tadi ia sempat mengerling kepada pria bersurai emas pucat di sebelahnya. Mereka tidak banyak berbicara usai Orion mengatakan keinginannya


untuk mempersunting Hiver. Hingga kehadiran staff kerajaan yang meminta mereka untuk ke ruangan keluarga.


“Kapan?” giliran Adrien yang bertanya setelah keempat orang tua itu larut dalam perasaan bahagia.


Hiver berdebar kencang menanti jawaban Orion, ia tidak berani mengeluarkan sepatah kalimat dan menyerahkan segalanya ke tangan pria penyelamatnya dari cengkeraman Prince Philip


Bernadotte. Hiver tidak peduli dengan siapa ia akan menikah, selama bukan pria pewaris tahta tersebut. Hiver tidak tahu akan landasan Orion meminangnya, walau sejarah di antara keduanya tidak mulus, setidaknya ia lebih mengenal Orion dengan baik, semoga saja begitu juga sebaliknya.


“Besok pagi.” jawab tegas Orion membuat keempat orang tuanya kaget.


Hiver menoleh dan akhirnya ia mempunyai alasan untuk memegang tangan Orion.


“Orion. Kau tidak bercanda, bukan? Anakku, apa yang kau katakan sangat tidak masuk akal. Calon istrimu adalah seorang putri dari Mersia. Putri pertama.” Tutur Adrien dengan lembut dan


menenangkan atmosfer tegang akibat perkataan anaknya.


King Robert menepuk punggung tangan Adrien sebanyak dua kali.


“Jangan terlalu dibesar-besarkan, saudaraku. Kita bukan orang lain. Hiver dan Orion memiliki strata yang sama.” ucapnya.


Kali ini tangan Orion terjalin dengan jemari Hiver. keduanya berpandangan sebelum Hiver menundukkan wajahnya.


“Maafkan kelancangan saya, Yang Mulia. Tapi saya tidak mau menunda keinginan untuk menikah dengan Marjorie. Saya tidak ingin membuang kesempatan ini. Menurutku ini momen yang sempurna untuk melakukan sebuah perayaan sederhana. Kita semua berkumpul di Mersia. Dan saya ingin mengikat Hiver secepatnya agar tidak ada pinangan lain yang menghampirinya.” Tutur Orion dengan penuh keyakinan. Banyak hal yang menjadi pertimbangannya, termasuk saudara kembarnya sendiri.


“Jadi besok? Sebuah pernikahan sederhana tanpa ada persiapan?” pertanyaan King Robert seolah menuntut sekaligus meminta ketegasan Orion. Pria muda yang tidak pernah ia sangka akan meminang putri sulungnya.


Semua orang tahu jika Hiver berteman dekat dengan River, bukan dengan Orion. Tapi melihat ketegasan setiap perkataan putra pertama sahabatnya itu, King Robert bisa membaca keteguhan hati Orion.


Satu hal yang membuat King


Robert sangat menyukai Orion, yakni pemuda itu tidak segan memanggil putrinya dengan nama depannya. Nama ibu kandung King Robert.


“The sooner the better.” Orion mantap menjawab pertanyaan sang raja.


King Robert tergelak tawa seraya merangkul bahu Adrien.


“Sepertinya malam ini panjang untuk kita semua.” Ucapnya dengan riang seraya berdiri dari duduknya.


“Sahabatku, apa cuma seperti ini? Semudah ini?” Adrien melayangkan protes tidak percaya karena King Robert dengan gampangnya mengiyakan permintaan Orion.


Sang raja mengangguk, bergantian menatap Orion dan Hiver dengan seksama.


“Mereka anak-anak kita yang ingin menikah, jadi mudahkanlah. Ayo teman, kita menggelar rapat dengan para staffku di ruangan lainnya. Dan kalian berdua bisa tetap berada di sini.” Kata King Robert menatap istrinya dan Isla yang semringah sekaligus berkaca-kaca. Tampak kebahagiaan besar hadir di tengah mereka usai badai menerjang Mersia dari dalam. Ya, semua kejadian serba mendadak karena kegilaan dari Dewan Kerajaan.


King Robert tidak peduli dengan Dewan Kerajaan bersikeras mengajaknya untuk berdiskusi tentang hubungan Mersia dengan Kerajaan Swedia. Ia telah meminta maaf dengan sebaik-baiknya kepada raja dan ratu Swedia termasuk Prince Philip. Tidak yang perlu dipikirkan lagi, terlebih


sekarang pria yang menginterupsi pesta pertunangan Hiver, tak lain Orion mengutarakan keinginannya untuk menikahi putri sulungnya.


Hiver tidak membantah, dan King Robert melihat wajah putrinya yang bersemu merah setiap kali mendengar perkataan Orion. Bisa ditebak jika ada sesuatu yang istimewa di antara keduanya.


Ruangan luas dan tertutup itu menjadi lengang, para orang tua telah keluar, menyisakan Orion dan Hiver yang masih duduk bersisian dan berjarak.


“Kau haus?” Hiver berbasa-basi karena sedikit canggung dengan pria yang baru saja meminangnya di depan King Robert, ayahnya.


Orion tersenyum dan mengangguk, bersamaan dengan itu Hiver mengulurkan secangkir teh.


“Kau tak perlu melakukan ini, Marjorie. Aku bisa mengambilnya sendiri.” Ucapnya namun tetap menerima cangkir berbahan emas berukir tersebut dan meneguk isinya hingga habis.


 Hiver tersipu dengan aliran darah berdesir setiap manik biru tua itu memandangnya.


“Mendekatlah.”pinta Orion seraya melirik bagian sebelahnya yang masih kosong. Jika Hiver melakukan itu, mereka saling menempel satu sama lain.


Orion mengambil ponsel pintarnya dari saku jas, di saat itu pula Hiver mendekat dengan dada berdebar kencang.


Orion sekilas melirik sambil mengulum senyuman “Apa kau memiliki brand perhiasan yang disukai?” tanyanya sembari menekan layar ponselnya tanpa menoleh kepada gadis cantik yang merapat dengan tubuhnya. Orion bisa mencium wangi orange dan vanilla menguar lembut dari tubuh Hiver, wangi yang sangat disukai juga dirindukannya setelah pertemuan mereka di mansion.


“Jika kau ingin memberiku perhiasan untuk acara besok, sepertinya tidak perlu, Orion.” Tolak Hiver dengan halus ketika melihat layar ponsel pria bersurai emas pucat menampilkan brand


perhiasan yang sangat ternama.


Manik biru itu mengerling “Itu hal pertama yang aku berikan kepadamu, dan...” Orion menghentikan perkataannya dan memandang wajah cantik Hiver.


“Apa?” Hiver bertanya sambil melebarkan manik hijaunya.


“Dan aku ingin kau pakai hingga selamanya.” Imbuh Orion, Hiver menautkan kedua tangannya dengan erat, wajahnya merona.


Hiver terdiam dan mengikuti setiap tangan ramping Orion yang mengetuk layar ponselnya.


“Marjorie, katakan tidak jika kau tidak ingin menjalani semua ini. Belum terlambat untuk membatalkannya.” Gumamnya pelan dan


lembut.


Hiver menatap seksama setiap garis tegas rahang Orion, hidungnya yang tinggi, alisnya yang tebal, bibir berwarna strawberry pucat dan pembawaannya yang sangat tenang. Hiver butuh ketenangan, dan itu ia dapatkan dari pria di sebelahnya.


Tangan Hiver menyusup pada lengan Orion, bersamaan pria itu mendesah lega.


“Aku tidak menyukai perhiasaan yang menyilaukan mata, aku menyukai perhiasan yang sederhana dan unik. Sepertinya ini." Hiver menunjuk kepada cincin berlian yang sangat simpel potongannya.


“Serius?” tanya Orion menyakinkan Hiver, gadis bermanik hijau yang merebahkan kepala pada lengannya.


Hiver mendongak seraya menganggukkan kepala, tetap dengan wajahnya yang memerah. Orion membelai surai hitam sang putri.


“Iya. Itu saja.” jawab putri Mersia yang sedang menikmati ketenangan baru dalam hidupnya.


Orion berdeham pelan “Marjorie, maafkan jika pernikahan seorang putri kerajaan sebesar Mersia seharusnya sangat mewah dan penuh kejutan. Sebenarnya aku mampu untuk melakukan itu semua."


"Tidak perlu. Aku tidak butuh itu semua, Orion. Kejadian hari ini sudah cukup mengejutkan bagiku. Tidak perlu ada kejutan lainnya, dan aku tidak memiliki pernikahan impian seperti para putri kerajaan pada umumnya." Sanggah Hiver.


Orion melihat kesungguhan perkataan Hiver lewat manik hijau indah itu.



...


Palace Mersia, pukul 11 lewat 20 menit menjelang siang, Hiver resmi menjadi istri dari Orion Filante. Pria yang sama sekali tidak pernah terpikirkan akan menjadi suaminya.


Pria tampan yang surai emas pucatnya diikat rapi ke belakang, tubuh tinggi ringkihnya dibalut tuxedo hitam dengan dasi kupu-kupu. Sementara Hiver mengenakan gaun sutra bertali spagetti berwarna putih tulang. Surai hitamnya dibiarkan terurai, dan wajahnya hanya di hias senatural mungkin, tanpa ada mahkota di kepala.


Perayaan sederhana putri Kerajaan Mersia dan putra sulung Blueette Corporation hanya di hadiri oleh keluarga inti kedua mempelai, semuanya datang kecuali River beserta Carole. Pasangan suami istri itu sejak semalam tidak bisa dihubungi, kabarnya mereka berada di sebuah pulau terpencil di Filipina.


Media telah mencium kabar tentang pernikahan Hiver dengan pemegang saham terbesar Bluette Corporation. Pertunangan yang batal dengan Prince Philip tidak tersebar kepada para pencari berita, tentu semua karena peran dua orang tua yang hebat untuk meredam kemungkinan tersebut terjadi.


Usai mendapatkan ucapan selamat kepada pasangan yang entah mereka berbahagia sepenuhnya atau tidak, para keluarga berpindah tempat ke ruangan Arthur di mana mereka akan bersantap siang dan bercengkerama dengan akrab.


Orion dan Hiver kemudian memilih untuk berjalan keluar dari bangunan palace. Cuaca sangat dingin, namun keduanya telah menggunakan coat panjang dan jemari tangan saling bertautan membuat suhu 5 derajat tak berarti bagi mereka.


"Helicopternya masih di sini." Hiver menatap kendaraan pria yang datang menyelamatkan sekaligus sekarang memberikannya status sebagai istri.


Orion yang berdiri tepat di sebelah Hiver, tersenyum tipis.


"Nantinya ini kendaraan yang membawa kita kembali ke danau, Marjorie."


Sontak Hiver menggelengkan kepala, Orion tertawa dengan manisnya. Gigi indahnya menampakkan diri, Hiver tertunduk dengan dada berdentum hebat.


"Aku belum mau mati." Hiver tertunduk melihat sepatunya telah berhiaskan salju tipis.


Tangan ramping dan kuat mengeratkan tautannya, Hiver melirik dan melihat wajah Orion tersenyum geli.


"Tapi aku ingin membawamu ke mansion secepatnya." pukas Orion, Hiver menggigit bibir bawahnya menndengar suara lembut mendayu pria yang memberikan cincin pertunangan dan pernikahan sesuai yang ditunjuknya semalam. Cincin indah dan sederhana itu tiba tadi pagi, pukul 8 di Mersia. Kemudian melingkar indah di jemari manis Hiver 40 menit yang lalu.


"Ya. Aku ingin menepi dari Mersia." Hiver menyetujui permintaan Orion.


"Mari kita berjalan sambil berbicara, Marjorie."


Pasangan suami istri tersebut berjalan pelan, pada bebatuan kasar yang basah dan tersusun rapi. Orion memimpin langkah sekaligus menahan tubuh Hiver agar tidak tergelincir karena salju yang mencair. Demi pernikahan sederhana putri pertama Mersia, sejak pagi buta semua tumpukan salju di sekeliling Palace dilelehkan. Walau sepertinya beberapa jam lagi akan kembali memenuhi setiap sudutnya.


"Kau kedinginan?" tanya Hiver memastikan keadaan Orion. Sedikitpun pria berkulit putih pucat itu tidak mengeluh dengan cuaca dingin Mersia. Berbeda dengan saudara kembarnya yang tidak menghadiri acara sederhana mereka .


Orion mengulas senyuman, kelopak manik biru itu menyipit.


"Tidak Marjorie. Aku menyukai semua musim. Tapi cuaca di mansion kita adalah yang terbaik."


Manik hijau Hiver mengembang ketika mendengar kata "kita" terlebih pada hunian favoritnya setelah Palace dan Dundas.


"Kita?" Hiver menaikkan ujung bibirnya ke atas, ketika matanya bertemu dengan manik biru Orion, ia menundukkan pandangan.


Orion berdeham "Mulai sekarang milikku adalah milikmu juga." ucapnya menghentikan langkah seraya mengusap salju yang meleleh di pipi Hiver.


Mungkin hanya Hiver yang merasakan wajahnya merah memanas di tengah cuaca sedingin 5 derajat celcius. Setiap sentuhan kecil di tangan dan sekarang di wajah dari Orion mengandung candu dan aliran listrik bertegangan rendah. Menyentak jantung Hiver.


Mereka telah berjalan lambat hampir seperempat luas halaman Palace, Hiver melihat beberapa pengawal kerajaan dan pelayan menanti kedatangan mereka di pintu samping.


"Saatnya menghadapi keluarga, tapi nantinya kita akan berbincang lagi, Marjorie. Kau bahkan belum mengatakan kemana kita akan pergi berbulan madu." kata Orion ringan, namun menggoyahkan tungkai Hiver seketika itu juga.


Hiver merenung dalam langkah kaki mereka yang semakin mendekat kepada barisan rapi para pengawal dan pelayan Palace.


"Sepertinya aku hanya butuh berada di danau." kata Hiver ketika memasuki bangunan Palace. Suhu yang sangat kontras dengan udara luar, kehangatan perlahan menerpa kulit keduanya, Orion paham dengan situasi tersebut bergerak membantu Hiver melepaskan coat tebal yang sedikit basah karena salju.


"Aku senang mendengarnya, Marjorie. Tapi berhubung cuaca sedang dingin di Eropa, mungkin kita bisa menunggu salju meleleh lalu pergi berwisata. Hmmm.. maksudku berbulan madu." ralat Orion seraya menyerahkan kedua coatnya kepada seorang pelayan.


Hiver terus memerhatikan setiap gerak gerik, susunan kata Orion. Sangat lembut, ringan dan tenang. Namun ketika pria bersurai emas pucat itu tertawa, dia menjelma seperti bunga. Bagaimana mungkin seorang pria memiliki itu semua, bahkan Hiver tidak bisa menyamai keindahan Orion.


"Kau terlihat tegang ketika aku mengucapkan bulan madu, Marjorie." gurau ringan Orion seraya menautkan kedua jemari mereka.


Hiver gagap, untuk mengusir serba salah dan debaran jantung yang terus memompa cepat, iapun membalas senyuman para pelayan berbaris rapi di tepi koridor luas.


"Kenapa? Kau takut, Marjorie?" sambung Orion mencandai wanita yang sekarang menjadi istrinya. Wajah cantik itu terus menerus memerah, mungkin sejak semalam.


Hiver tidak menjawab, sesungguhnya ia tidak memiliki jawaban dari pertanyaan Orion.


Orion mendesah pelan sekilas menoleh menatap istrinya. Ya, istrinya. Ia -lah pemilik tunggal wanita cantik yang sangat sederhana sekaligus memukau. Marjorie Hiver layaknya bintang kejora, berpendar indah dengan kuatnya di kegelapan malam, kilaunya tetap hadir di angkasa mana kala jutaan bintang lainnya tertutup oleh awan.


"Sama." kata Orion lembut. Hiver menoleh dan mendapatkan senyuman manis itu lagi.


Orion mengangguk dengan manik biru gelap menyala "Aku juga takut, Marjorie. Apakah tidak masalah bagimu jika kita saling mempelajari satu sama lain terlebih dahulu. Pertama aku tidak ingin mengambil keuntungan dengan posisimu sekarang dan aku bukan pria yang suka memanfaatkan sebuah kesempatan."


"Posisi apa?" tanya Hiver memotong pembicaraan Orion.


"Posisimu sebagai istriku."


Hiver salah dengan menanyakan hal singkat namun jawabannya melumerkan hati, melemahkan setiap sendi.


Orion kembali berdeham mengembalikan pikiran Hiver untuk kembali fokus kepada pria tampan sekaligus cantik tersebut.


"Kedua, kita punya banyak waktu untuk itu dan ketika saatnya tiba aku ingin kedua hati kita sudah saling terbuka untuk menerima satu sama lain, bukan karena penuntasan gairah yang memuncak dan tak lama kemudian redup. Aku ingin semua masa lalu kau tinggalkan, Marjorie. Aku tahu perasaanmu terhadap River, kemudian ketakutanmu terhadap pangeran tersebut. Aku sadar jika aku adalah pilihan lain sebagai pelarian dari kejaran Philip. Perlu kau ketahui jika aku melakukan pernikahan ini dengan senang hati, karena apa yang kita lakukan barusan di depan semua keluarga dan Tuhan bukan hal yang main-main. Aku sangat serius, Marjorie."


Manik Hiver berkabut mendengar penuturan Orion yang lembut dan tenang, bak irama lagu klasik mendayu kemudian meninggi, melambungkan isi hati dan pikiran.


"Apakah kau juga butuh waktu untuk melupakan wanita yang kau sukai itu, Orion? Wanita yang kau katakan saat di tengah danau."


Orion memegang bahu Hiver dengan pelan, tangan hangat dan ramping membelai kulitnya sekaligus memanaskan aliran darah.


Pemilik manik biru gelap itu mencondongkan turun kepalanya ke arah pipi kanan Hiver.


"Aku hanya menyukai satu wanita dalam hidupku. Dan kaulah orangnya, Nyonya Filante."


###




alo kesayangan💕,


walau aku tidak membalas komen kalian, aku berupaya mengabulkan keinginan yang meminta sambungan "Mersia"


semoga kalian menyukainya.


have a heavenly weekend, guys.


love,


D😘