MERSIA

MERSIA
Sundown



Hiver menatap gugusan awan putih dengan lara, kini ia terbang puluhan ribu kaki di atas permukaan laut menuju Swedia. Lou membutuhkannya. Dua hari yang lalu, Philip mengabarkan jika istrinya, yang tak lain adik kandung Hiver sedang sakit. Philip tidak menjelaskan dengan rinci keadaan Lou, itu pula yang membuat Hiver tidak memiliki nafsu makan selama dua hari terakhir. Dan bagian paling menjengkelkannya adalah Philip memberikan undangan resmi kerajaan kepada Hiver seorang, tanpa ada Orion.


Hiver sempat melayangkan protes kepada Philip lewat pesan namun pewaris tahta itu tidak bergeming dan membalas dengan kalimat singkat “Undangan tidak bisa direvisi”. Hiver dengan berat hati menerimanya, namun yang mengherankan sikap Orion justru tenang ketika mendengar kabar itu. Jika mengingat kemarahan Orion di Dundas tanpa aba-aba memukul Philip tidak sebanding dengan perubahan sikap pria bersurai emas pucat itu yang justru tidak banyak bicara, malah hanya mengangguk ketika Hiver menjabarkan rencana kepergiannya.


Orion menakutkan ketika diam dan dingin, hubungan mereka seakan mundur beberapa bulan. Kecuali pelukan Orion yang tetap hadir ketika mereka tidur bersama. Pun tadi, Orion hanya mengantarnya hingga ke samping mobil, melambaikan tangan sebentar kemudian berdiri dengan tatapan mata yang datar.


Bukan hanya sekali Hiver menanyakan perubahan sikap Orion, jawabnya dengan kata yang sama.


“Tidak ada apa-apa, Marjorie”


Hiver serba salah, ia berada di antara dua pilihan. Lou, adiknya dan Orion. Posisi sebagai seorang kakak yang mempunyai utang budi sangat besar terhadap Lou, di sisi lain ada pria yang mengisi hatinya juga butuh untuk diperhatikan. Hiver harus ke Swedia, dengan hati bimbang karena harus berpisah dengan Orion. Terlebih pria itu menjelma bak kutub utara ditinggalkan olehnya.



“Nyonya Filante, apakah anda membutuhkan sesuatu?” sapa pramugari dengan sopan kepada Hiver.


“Apakah kalian memiliki jus dan biskuit?” tanya Hiver ramah. Ia masih melihat botol mineralnya masih terisi separuh di depan, hal pertama yang Hiver minta sesaat setelah pesawat pribadi itu lepas landas.


“Tentu saja, Nyonya Filante. Tuan Orion sudah meminta kami untuk menyiapkan kesukaan nyonya sehari yang lalu.”


Hiver tertegun dengan perasaan rindu yang membuncah.


“Strawberry dan biskuit coklat.” Hiver menjawab singkat. Ia tidak ingin membuat pramugari itu menunggu lama, segera kedua wanita cantik itu mengangguk dan meninggalkan Hiver.


Sang putri yang berpakaian formal hari itu karena sepengetahuan dirinya, ia akan di jemput di bandara pribadi milik Kerajaan Swedia. Hiver telah meminta tidak ada acara kerajaan resmi dan melibatkan banyak orang yang harus diikuti, selain menemui adiknya. Sebenarnya jarak antara Lyon dan Swedia hanya menempuh waktu selama 4 jam, Hiver bisa saja kembali nanti malam namun tidak semudah itu menolak undangan Philip. Jelas tertera pada lembaran surat bertinta emas  menerangkan  bahwa Hiver wajib menghadiri jamuan makan malam dan makan siang besok di Kerajaan Swedia.


“Terima kasih.” Kata Hiver sopan kepada pramugari yang mengantarkan pesanannya.


“Silahkan memencet tombol ini jika membutuhkan sesuatu, Nyonya Filante.” Pramugari bermanik biru muda itu tersenyum simpul.


“Baiklah, terima kasih Miss Jen.” Hiver menyebut nama pramugari berambut berwarna sama dengannya. Wanita berusia akhir 20an itu mengangguk dan beranjak pelan meninggalkan Hiver.


Hiver melihat jus berwarna merah indah di depannya, ia meraih gelas tinggi itu dan menyesap isinya dengan elegan.


“Manis.” Gumamnya kemudian mengambil ponsel yang juga berada di atas meja. Seutas senyuman merekah di bibir Hiver ketika melihat background ponselnya, tadi malam ia sempat menggantinya dengan foto berdua dengan Orion. Hiver sangat menyukai foto tersebut, dimana ia dan Orion terlihat sangat canggung berdiri berdampingan.


Foto itu diambil ketika mereka menikah, Orion bisa saja memiliki perasaan cinta namun tidak bagi Hiver. Wajah Hiver menegang dan kikuk di foto itu. Namun sangat lucu jika ia mengingat momen pernikahan mereka.


Saat itu hanya Orion menjadi pilihan Hiver untuk melarikan diri dari pinangan pria yang beberapa jam lagi akan ditemuinya. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya, jika Hiver akan jatuh mencinta kepada sang penyelamat, Orion yang berhati sedingin kutub, wajah tanpa ekspresi. Dan mungkin saja pria itu masih belum tahu tentang perasaan Hiver.


Dan coba tebak bagaimana perasaan Hiver sekarang, berpisah dengan pria dicintainya. Ya, mengalahkan sakitnya melihat River menikah dengan Carole. Semakin jauh ia melangkah menjauh dari Orion, semakin perih jantungnya


berdetak.


Sedang apa?


Hiver mengetik dua kata di ponselnya, kemudian masih meragu untuk menekan tombol kirim. Hiver melirik jam pada ponselnya, ia sangat tahu Orion pasti sedang bekerja, apalagi tanpa kehadirannya di mansion mereka.


Hiver menghapus pesannya sambil mengembuskan napas panjang.


Aku rindu..


Hiver menggeleng keras kemudian dia buru-buru menghapus tulisan di ponsel.


Tidak! Otak Hiver bekerja cepat, andaikata perasaan mereka sama, kemungkinan besar Orion akan menerbangkan helicopternya menuju Swedia. Pun putri Mersia itu mengurungkan niat untuk mengirimkan pesan kepada suaminya. Walau rindu semakin menyesaki setiap relung hati, apa daya Hiver hanya bisa kembali menatap wajah Orion yang tersenyum samar di layar ponselnya.



“Lou.” Hiver memeluk adiknya dengan erat. Setelah mendarat dan di jemput dengan limousine, 20 menit kemudian Hiver tiba di Royal House of Sweden, tempat tinggal Lou.


Kedatangan Hiver di Swedia merupakan kali pertama, sekilas tadi ia melihat Stockholm yang memiliki suasana hampir sama dengan kota tempatnya tinggal sekarang, Lyon. Kecuali mungkin beberapa bangunan ikonik yang membedakan kedua kota besar itu.


“Princess Hiver.” Lou membalas pelukan kakaknya dan enggan dilepaskannya.


Kakak beradik itu dipertemukan di sebuah bangunan kaca yang memiliki taman dan air mancur yang sangat indah, Hiver terkagum-kagum ketika memasuki ruangan tersebut. Semestinya sesuai jadwal, Hiver baru akan bertemu dengan Lou dan Philip ketika jamuan makan nanti malam. Namun Lou mengirimkan pesan kepada Hiver agar menyempatkan diri menemuinya di dalam ruangan kaca dan indah itu.


“Prince Philip mengatakan kau sakit, sayang.” Hiver menangkup wajah adiknya yang memerah karena tangisan.


“Aku hanya kelelahan.” Balas Lou yang tidak bisa berbohong kepada kakaknya.


“Sayang, jangan terlalu memforsir tenagamu. Itu tidak baik.” Ucap Hiver lembut yang membuat Lou semakin tersedu.


“Princess Lou, ada apa? Apakah dia menyakitimu?” tanya Hiver dengan wajah tegang dan sangat serius. Seketika terbersit keinginan untuk menghubungi Orion untuk menghancurkan Kerajaan Swedia jika Lou mengiyakan


pertanyaannya.


Lagi Lou menggeleng lemah, air matanya terus jatuh.


“Aku hanya merindukan mama, papa, Onyx dan Cyrus. Aku merindukanmu, big sis. Aku merindukan mama.” kembali Lou mengulang rasa rindunya kepada wanita yang melahirkannya.


“Mama merindukanmu juga, sayang. Kau adalah anak kesayangan mama.” perkataan Hiver justru membuat adiknya semakin tersedu sedan.


“Aku merindukan Mersia, Princess Hiver.” tangisan Lou seperti serigala betina yang kehilangan keluarga dalam pertempuran antar klan


penguasa.


“Adikku.” Hiver mengelus punggung Lou dengan lembut. Kini hatinya di landa perasaan bersalah yang sangat besar. Harusnya dia berada di dalam istana megah ini, bukan Lou yang manja dan belum sepenuhnya kuat menahan rindu. Tapi jika itu terjadi, Hiver tidak akan pernah bisa merasakan indahnya cinta dari pria berwajah cantik itu. Sungguh dilematis, dua pilihan yang sulit. Dan ia tidak mungkin memilih hidup tanpa Orion.


“Andai Princess Hiver menikah dengan Yang Mulia, semua akan lebih mudah. Dia sangat mencintaimu, big sis. Hampir setiap malam dia menanyakan seperti apa seorang Princess Hiver dari kecil hingga sekarang. Aku harus bagaimana, Big Sis?” tutur Lou sambil terisak.


Hiver termenung memikirkan permasalahan Lou. Ya, adiknya sedang sakit bukan raga namun hati dan berbagai macam pikiran yang menumpuk di kepala. Mereka salah mengenai Lou yang nekat menerima pinangan Prince Philip. Adiknya tidak bisa menerima perubahan drastis kehidupannya di Swedia.


“Aku akan berbicara dengan Prince Philip.” Gumam pelan Hiver dengan mata yang kini tidak terhibur dengan indahnya berbagai rupa bunga di taman kaca tersebut. Bisa dipastikan Lou merasakan hal yang sama, tidak ada yang bisa menghibur hatinya di tempat ini. Semegah dan seindah apapun tidak ada yang bisa mendamaikan risau Lou yang malang.



Hiver baru saja hendak masuk ke dalam kendaraan yang disiapkan olehnya, dan satu tangan menahannya. Ia menoleh dengan manik hijau membulat.


“Prince Philip.” Hiver menyebut nama pria itu dengan suara tercekat di tenggorokan.


Hiver tidak bisa menggambarkan mimik muka pewaris tahta itu, ada rona bahagia dan pula sorot manik lion yang pilu.


“Ikut denganku.” Pinta Philip terdengar memerintah.


“Baiklah jika itu keinginanmu, ijinkan aku untuk menemanimu.” Tanpa menunggu persetujuan Hiver, Philip terlebih naik ke atas mobil. Putri Mersia justru tercengang melihat tingkah Philip yang seenaknya.


Ia menoleh memerhatikan orang-orang yang menatapnya, para pengawal berpakaian rapi berwarna hitam seakan tidak peduli dan dua orang sedang berbicara pada alat komunikasinya.


“Naiklah.” Perintah Philip menyentak kesadaran Hiver.


Tanpa banyak pertanyaan Hiver duduk di sebelah Philip dengan tubuhnya yang mendadak mendingin dan merinding. Ia tidak bisa membayangkan keadaan Lou yang harus menghabiskan waktu dengan pria yang tidak dicintainya.


Hiver terdiam dan berkali-kali menghela napas pelan seiring kendaraan mewah itu meluncur mulus meninggalkan Royal House of Sweden.


“Hiver.” gumaman rendah dan berat membuat Hiver spontan menoleh menatap Philip.


“Prince Philip, aku ingin bicara denganmu.” Seketika Hiver mengingat curahan dan tangisan adiknya.


“Apakah kau ingin mengatakan jika merindukanku?” tanya Philip diikuti senyuman manis. Kini wajah pewaris tahta itu lebih hidup, dari sebelumnya.


Hiver mendengus sepelan mungkin “Jangan bercanda, Prince Philip. Aku sangat serius dan tidak ingin membahas tentang diriku, tapi Lou, istrimu.”


Manik lion itu menyala dan memicing “Ada apa dengan Lou? Oh, kalian sudah bertemu, bukan? Bagaimana keadaannya?” ujarnya dengan senyuman menyeringai.


Hiver menggerutu dalam hati, kesal muncul ketika melihat ekspresi Philip yang seakan tidak peduli dengan perasaan Lou.


“Kau apakan adikku? Huh? Dia terlihat tertekan hidup bersamamu, Prince Philip? Bisakah kau sedikit berbaik hati dengannya.”


“Apa?” sergah Philip dengan cepat. Keningnya berkerut.


“Ya, Lou merindukan kami semua. Kau membuatnya kelelahan, tolong berlaku lembutlah kepada Lou. Dia anak yang sangat manja di keluarga kami, berikan sedikit kasih sayangmu kepadanya.” kata Hiver sedikit emosi.


“Hei, Princess Hiver. Tenang.” Philip menaikkan tangan dan meminta Hiver menurunkan volume suaranya.


Hiver menatap Philip dengan sorot mata tajam, bukannya Philip merasa gentar malah pria bertubuh besar dibalut dengan suit hitam yang rapi itu justru tertawa bahagia. Sekarang Hiver semakin kesal dengan sikap Philip.


“Apakah kau pikir aku berbuat kasar kepada Lou? Tidak, aku bahkan tidak pernah menyentuhnya. Ya, kami sekamar tapi tidak sedikitpun aku melakukan hal yang ada di pikiranmu, Princess Hiver.”


“Apa?” Hiver menggigau lemah dan mencari jawaban dari sorot mata sang pangeran.


“Ya, aku tidak pernah menyentuh adikmu yang berharga itu. Jujur, aku pria yang sangat normal dan untuk kebutuhan seksku, tidak perlu melampiaskannya kepada Lou. Dia bukan dirimu, Hiver. Lou tidak akan pernah menjadi Princess Marjorie Hiver. Walau dia menyandang status istri sekaligus calon permaisuri kerajaan ini, bukan berarti aku harus menyukainya seperti perasaanku kepadamu.” kata Philip tanpa rasa bersalah.


“Kau gila!” pekik Hiver dengan manik hijau memburam. Jadi ini yang membuat adiknya berduka, Philip tidak melihat keberadaan Lou.


“Ya, aku gila! Sejak awal harusnya kau tidak menolakku dan pergi dengan pria itu di hari pertunangan kita. Dan semua orang tidak akan menderita seperti ini, Hiver. Terutama Lou, adikmu itu tidak perlu masuk di antara kita. Karena aku bisa membuatmu bahagia, mencintaimu dengan sepenuh hati. Lihat! Bukan hanya Lou yang menderita, tapi aku juga!”


Tubuh Hiver gemetar, kini ia ikut menitikkan air mata yang sama dengan Lou tadi siang.


“Princess Hiver.” sepasang tangan kokoh hendak mencapai tubuhnya.


“Tidak, jangan sentuh aku. Tolong, aku milik seseorang.” Hiver menggeleng seraya menghapus air matanya.


Philip serba salah namun ia mengurungkan diri dengan menarik tangannya kembali.


Hiver membuang muka, ia tidak kuasa menatap wajah pilu Philip.


“Tuan, bisakah menghentikan kendaraanmu di sini.” Pinta Hiver kepada sopir yang menjadi saksi hidup perdebatannya dengan sang pewaris tahta.


“Hiver.” Kata Philip melemah.


Wanita cantik itu menatap tanpa suara ke arah pria di sebelahnya.


Philip mengangguk lemah “Baiklah jika itu maumu.” Ucapnya sambil mengangguk pelan.


“Sir, tolong berhenti di sini.” Perintah Philip kepada pengemudi mobil mewah itu. Kendaraan itupun berhenti dengan mulus.


Tanpa menoleh Hiver turun di jalan yang tidak diketahuinya. Sebuah jembatan panjang dengan pemandangan langit memerah. Senja yang indah menghampiri kota itu. Di tepi trotoar dan berpegangan pada pembatas jembatan Hiver mengambil udara banyak-banyak menganti sesak yang ia rasakan selama di dalam mobil.


Ponsel di tangan Hiver bergetar, seketika ia melihat notifikasi di layarnya. Jantung Hiver melonjak dan berdebar melihat nama Orion tertera di ponselnya.



Senja di danau sangat indah, Marjorie. Tapi hari ini sangat berbeda, karena tidak ada kamu di sini. Indahnya jadi berkurang banyak.


Apa kabarmu di sana?


Hiver bernapas pendek-pendek, setetes air mata meluncur bebas di pipi pualamnya. Dengan tangan gemetar, ia mengambil gambar pemandangan di depannya.



Lihat, langitnya juga memerah, Orion. Dan, yah aku baik di sini. Hanya saja sekarang aku sangat ingin berada di sampingmu.


~~


Di seberang jalan sebuah mobil mewah berhenti menunggu Hiver, sepasang mata berwarna kuning menatap penuh cinta dan rindu. Philip tidak bisa melepaskan pandangannya, sedetikpun dari sosok sang putri.


###





alo kesayangan💕,


besok aku akan gowes jauh jika tidak hujan


aku tidak bisa berjanji mengupdate sebuah chapter..


just in case, aku tidak lelah, aku akan menulis Mersia untuk menemani weekend kalian.


love,


D😘