MERSIA

MERSIA
Take a Breath



“Operasinya akan berjalan lancar.” Gumam Cyrus yang sedang merangkul Hiver.


Tatapan mata Hiver tidak lepas dari pintu operasi yang sejak tadi membawa masuk Orion dan di tempat yang sama


sang pendonor menjalani proses sama.


“Aku tidak bisa bernapas.” Hiver mendongak menatap adiknya yang sedang tersenyum tipis.


“Kalau tidak bernapas, kau sudah tidak bisa berdiri, Princess Hiver.” balas Cyrus yang kini tertawa pelan. Ia tidak mungkin mengeraskan suaranya di saat semua keluarga Orion berada di tempat yang sama.


“Maksudku aku tidak bisa merasakan diriku bernapas. Jantungku bertalu kencang sejak bangun dini hari tadi.”


“Operasi ini akan berjalan lama, Big Sis. Ada baiknya kau gunakan untuk beristirahat.” Saran Cyrus sambil mengeratkan tangan pada bahu kakaknya.


“Aku tidak bisa tidur.” Sahut Hiver lemah. Ia jujur jika tidak mempunyai rencana sambil menunggu jalannya waktu operasi Orion. Yang dipikirkan Hiver adalah semua berjalan lancar bagi kedua pria di dalam ruangan tersebut. Sayangnya, Hiver tidak sempat bertemu dengan Philip karena pewaris tahta tersebut terlebih dahulu masuk ke dalam ruang operasi dan ia harus menemani Orion.


Pikiran Hiver sempat bercabang, Orion dan Philip. Sebenarnya Orion selalu terlihat tenang, apalagi setelah pembicaraan semalam, pria itu lebih banyak diam dan termenung. Hiver mendapatkan sebuah kecupan di pipi dari Orion sebelum pria itu masuk ke dalam ruang operasi. Kecupan tersebut mengingatkan Hiver saat Orion yang terkenal sangat dingin tanpa aba-aba mencium pipinya di tengah danau.


Sempat pikiran buruk muncul di kepala Hiver jika prosedur medis ini tidak berhasil, sebuah hal besar akan terjadi. Philip bukan pria biasa seperti orang kebanyakan di luar sana. Pria tersebut adalah seorang pewaris tahta, masa depan Kerajaan Swedia berada di tangan sang pendonor yang sangat sulit ditebak jalan pikirannya. Kemunculan Philip di koridor rumah sakit hampir meruntuhkan dada Hiver,  Well, sebelum ini Hiver tidak pernah berpikir jika Philip adalah pria yang akan mendonorkan hatinya kepada Orion. Sedikitpun tidak pernah terlintas hal tersebut.


Kini Hiver berandai-andai, dan ketakutannya sedikit semakin menjadi beberapa hari terakhir. Ia hanya menyimpannya dalam hati, Cyrus baru tiba semalam hingga ia tidak memiliki teman untuk berkeluh kesah. Hiver sedang menjaga jarak dengan River, tahu sendiri jika Carole kini melengket bak perangko dengan suaminya.


"Bagaimana jika kita melakukan perawatan bersama." bisik Cyrus membujuk sang kakak yang sangat keras kepala mengenai hal satu ini, yakni meninggalkan rumah sakit.


"Perawatan?" tanya Hiver membeo.


"Ya, perawatan tubuh dan wajah. Lihat penampilanmu, Big Sis." kini Cyrus memegang kedua lengan Hiver. Putra bungsu King Robert tersebut mengamati penampilan biasa Hiver. Sangat jauh dibandingkan keseharian Hiver ketika berada di lingkungan Palace. Wanita cantik yang pucat dengan pakaian gaun panjang berwarna coffee tersebut berpenampilan layaknya seorang istri dari pasien yang tidak pernah menyentuh meja rias dan walking closet.


"Apakah aku perlu?"


Dengan cepat Cyrus mengangguk dan memegang jemari tangan Hiver.


"Saya akan meminjam Hiver ke hotelku, Om." kata Cyrus kepada Adrien. Papa dari Orion terlihat kaget namun secepatnya ia mengiyakan permintaan lucu Cyrus.


"Silahkan, Hiver sangat butuh istirahat yang tenang." jawab Adrien sambil menatap wajah Hiver yang terlihat linglung. "Ikutlah dengan Cyrus, ada daddy dan mom menunggu Orion. Tenangkan pikiranmu, semua akan berjalan dengan baik, nak."


Perkataan Adrien seperti air es menyiram bara api yang berkobar di dada Hiver. "Daddy." lirih Hiver dengan manik berkaca-kaca.


"Pergilah, Orion akan baik-baik saja, begitupun dengan Prince Philip." tandas Adrien sekali lagi. Hiver pun hanya mengangguk lemah sementara Cyrus menautkan jemari semakin erat.


Setelah berpamitan kepada keluarga Orion dan sebelum Hiver berubah pikiran, Cyrus menggiring kakak pertamanya meninggalkan bangunan rumah sakit dengan tergesa-gesa. Tak perlu memikirkan kendaraan yang akan mengantarkan mereka ke hotel tempatnya menginap, seorang sopir pribadi untuk putra bungsu Kerajaan Mersia selalu sedia 24 jam di sekitarnya kemanapun ia pergi.


"Kembali ke Le Royal." perintah Cyrus kepada sopir pribadinya.


Tubuh Hiver terlihat kaku duduk di kursi mobil, pandangan matanya terpaku pada bangunan rumah sakit.


"Big Sis, tarik napasmu dalam-dalam. Ada baiknya kau menerima pekerjaan membalas pesan yang masuk di email princessmarjorie@mersia.com. Ya, sekadar pengalih perhatian. Sejujurnya, papa dan mama mengkhawatirkan keadaanmu, kami semua."


Hiver mengalihkan perhatian kepada Cyrus, adiknya terlihat murung yang kemudian menaruh tangan berotot di wajahnya. Cyrus dengan lembut membelai wajah Hiver. "Orion akan membaik, dia pria yang kuat hanya saja dingin. Kau tahu sendiri dengan siapa kau menikah, Big Sis. Pastinya si Bintang Jatuh selalu menunjukkan perasaaan cintanya kepadamu, namun tidak dengan sakitnya. Orion akan kembali seperti semula, hanya membutuhkan waktu untuk recovery. Jika Prince Philip termasuk hal yang mengganggu pikiranmu, lepaskan. Dia adalah seorang Viking sejati, bahkan bencana besar pun takkan bisa melepaskan rohnya dari raga sekuat itu, apalagi hanya sebuah sayatan kecil di hatinya."


"Apakah perkataanmu bisa kuyakini, Cyrus?" ucap Hiver sedikit lebih bertenaga dibandingkan sebelumnya.


"Demi Mersia, percayalah aku sekali ini. Le Royal memiliki fasilitas spa terbaik dan kita akan memilih pakaian bagus untukmu." Cyrus menekankan perkataannya, ia tidak akan melepaskan kesempatan mengembalikan kakaknya menjadi wanita yang memiliki pesona mematikan. Terbukti dua pria hebat sedang berada di ujung pisau operasi dan memiliki perasaan sama besarnya kepada sang kakak.


"Baiklah, manjakan kakakmu sekali ini, Prince Cyrus."


Senyum lebar terukir di bibir Cyrus. "Aku ahlinya, Princess Marjorie Hiver."


...


Setelah berhasil diculik Cyrus selama 24 jam di kamar president suite-nya, Hiver sedang melangkahkan kakinya dengan lebih ringan menyusuri koridor rumah sakit, dan masih dengan setia sang adik bungsu menggenggam jemari tangannya. Hiver mengenakan jumsuit berwarna sand keluaran terbaru dari designer terkemuka dunia, itupun merupakan pilihan Cyrus. Wajahnya di poles dengan makeup tipis, tidak sepucat dan pias seperti tampilan Hiver sehari-hari. Kabar baiknya jika operasi Orion berjalan lancar walau harus menghabiskan waktu selama 10 jam di ruang operasi. Hiver diminta untuk tetap berada di hotel hingga pagi tiba, hal itu disampaikan langsung oleh kedua orang tua Orion.


4 jam paska operasi selesai, Orion sadar walau hanya membuka mata sesaat namun kemudian ia kembali terlelap panjang akan pengaruh obat bius. Berbeda dengan sang putra mahkota, 2 jam setelah memberikan 55 persen hatinya kepada Orion, ia sadar dan mencari Hiver. Untungnya ada River yang bertugas menjadi pendamping Philip dan memberikan penjelasan jika wanita yang dicintainya sedang beristirahat di hotel. Ya, Hiver tahu informasi tersebut dari keluarga Orion, tidak ada yang perlu ditutupi oleh semua orang. Walau tanpa pertanyaan mencecar, Keluarga Orion sangat tahu jika Philip memiliki perasaan yang sangat besar kepada Hiver.


"Siapa yang ingin kau temui terlebih dahulu?" tanya Cyrus ketika mencapai ruang perawatan Orion yang bersebelahan dengan ruangan tempat Philip. Tak lupa sebelum itu, Hiver memberikan pelukan erat kepada Isla, sang mama mertua. Wajah-wajah risau keluarga suaminya telah hilang, kini terpampang ketenangan dan seutas senyuman tipis tersungging di bibir orang-orang yang sempat memberikan sepatah kata semangat untuk Hiver.


"Philip, aku ingin menemuinya. Orion masih dalam pengamatan intensif oleh team dokter." jawab Hiver berjalan menuju pintu tempat Philip di rawat untuk masa pemulihan.


"Baiklah, gunakan waktumu. Aku akan menunggu di luar, Big Sis." ujar Cyrus melayangkan pandangan ke arah pria Asia yang setahunya adalah suami dari saudara kembar Orion. Cyrus tidak berminat mendekat ke arah River, pria yang dulunya sangat akrab dengan Hiver, kini berubah menjadi pria tanpa taji ketika berada di dekat istrinya.


Hiver masuk ke dalam kamar rawat Philip setelah Cyrus sendiri membukakan pintu kemudian menutupnya. Ia tidak peduli jika langkah kakinya memasuki ruangan itu disaksikan oleh keluarga besar Orion.


"Tuhan." lirih Hiver melihat sosok Philip terbaring di atas hospital bed, pria itu terlihat tertidur dengan jarum infus tertanam di lengan kanannya yang kokoh.


Hiver sejenak berdiri di samping tempat Philip terbaring. Ia menatap intens raut wajah pria yang menjadi malaikat penolong bagi suaminya. Bukannya menarik kursi, Hiver malah duduk di tepian hospital bed kemudian meraih jemari tangan pria yang tidak merasakan kehadirannya. "Terima kasih, terima kasih. Aku tidak tahu apa yang terjadi jika kau tidak datang ke sini, Philip." kata wanita cantik itu dengan lembut.


Jemari tangan Philip bereaksi dan mungkin tidurnya terganggu akan kalimat Hiver. Perlahan manik lion itu terbuka dan mengerjap seakan tidak percaya.


"Hiver." suara Philip parau dengan tatapan memuja ke arah sang putri. "Kau sangat cantik hari ini. Apakah aku telah mati? Dan kini aku berada di surga?"


Hiver menggeleng dengan senyuman tipis. "Kita berdua masih hidup, Tuan Bernadotte. Begitupun dengan Orion namun aku belum menengoknya, kondisinya masih rentan untuk dibezuk. Mungkin nanti sore, tapi aku tahu jika kau melaluinya dengan sangat kuat. Sungguh benar perkataan Cyrus, jikalau kau adalah Viking sejati."


"Apa kata Cyrus?" Philip menekan tombol yang membuat tempat tidurnya agak naik sehingga ia tidak perlu bersusah payah untuk memandangi wajah cantik wanita yang mengisi setiap relung hatinya.


"Cyrus terlalu melebih-lebihkan. Aku pernah hampir mati di tanganmu, saat itu aku siap menyerahkan segalanya." kilah Philip.


Tatapan manik berbeda warna itu menjadi intens, entah apa yang menggerakkan Hiver hingga mencondongkan kepala mendekat ke arah Philip.


Cup!


Sebuah kecupan singkat mendarat di pipi Philip. "Terima kasih, Prince Philip. Aku tidak tahu dengan apa kami membalas kebaikanmu."


Philip terlihat sedikit kaget namun sedetik kemudian ia bisa menguasai diri. Philip tersenyum bahagia kemudian menaikkan jemari tangan Hiver ke atas dan mengecupnya lebih lama. "Aku tidak membutuhkan ucapan terima kasih, Hiver. Apa yang kulakukan adalah untuk melihatmu bahagia dan melanjutkan hidup. Sebuah hati akan tumbuh kembali di sini." ujarnya sambil membawa jemari tangan lentik Hiver di bawah tulang rusuk kanannya.


"Sakit?" tanya Hiver berhati-hati meletakkan jemarinya.


"Aku tidak merasakan sakit, maksudku obat biusnya masih bekerja. Aku hanya merasakan satu hal saat ini." manik lion itu menyipit dan terlihat jahil.


Hiver terkekeh mendapati wajah Philip yang dulunya menjengkelkan namun kini ia bisa menarik napas lega ketika melihat ekspresi tersebut. Pria itu sangat sehat dan baik-baik saja. "Apa yang kau rasakan, Tuan Bernadotte?" tanyanya ikut menyipitkan manik hijaunya.


"Cinta. Selalu hanya ada cinta ketika kau berada di dekatku, Princess Hiver. Apapun kejadiannya aku hanya terpaku pada perasaan itu."


"Tuan Bernadotte." Hiver mengerang lirih dengan gelengan kepala yang pelan. Wajahnya menyiratkan sendu dan iba.


"Sayang, tolong jangan terbebani dengan perasaaan ini. Ini adalah masalahku, aku-lah yang tidak bisa melepaskan perasaan cintaku kepadamu. Aku mengatakan ini bukan berharap kau membalasnya Tidak." Philip menggeleng dan kembali mengecup jemari tangan Hiver.


Philip menarik napas panjang dan tetap menatap Hiver. "Kau tahu berapa banyak hatiku pindah kepada Orion?"


"55 persen." jawab Hiver.


"Ya, sebanyak itu. Dan kini aku hanya memiliki 45 persen hati yang tersisa. Sebagian besar hatiku kini berada di tubuh Orion."


"Apakah kau akan baik-baik saja?" tanya Hiver dengan sorot khawatir.


Philip justru tergelak tawa keras, ia mengabaikan jika bagian perutnya masih perlu beberapa waktu untuk sepenuhnya sembuh. "Aku harus membatasi aktivitasku 3 hingga 4 bulan ke depan. Tapi itu bukan masalah besar, aku sedang menjauh dari Royal House, tidak ada yang perlu kukerjakan dalam waktu dekat."


"Kau adalah putra mahkota paling santai di muka bumi." kelakar Hiver kini ikut tertawa. Entah sejak kapan kecanggungan mencair di antara mereka.


"Aku tidak peduli, Hiver. King Sigvard akan hidup lama, kau tahu jika beliau adalah Viking sejati. Aku bisa saja baru akan naik tahta di usia 50 tahun."


"Kau akan tetap penuh kharisma dan pula bijaksana pada usia itu, Tuan Bernadotte."


Wajah Philip berseri-seri akan kata sanjungan dari Hiver. "Aku telah melakukan yang terbaik untukmu, Sayang. Semoga saja apa yang kuberikan sepadan dengan segala hal yang pernah membuatmu terluka di masa lalu. Orion akan cepat kembali pulih, ia kini separuh Viking juga. Hiduplah dengan penuh rasa bahagia, Princess Hiver. Pintaku, jangan menjauh dari dirimu yang sebenarnya, kita semua tahu jika kau adalah seorang putri dari Mersia. Tampillah di muka umum lebih sering, aku perlu melihat lambaian tangan dengan wajahmu yang ceria ketika di sorot kamera. Kita tidak bisa menghilangkan hal yang mengakar kuat di darah biru ini, Sayang. Jalani keduanya, hidupmu dengan Orion dan juga Mersia." papar sang putra mahkota dengan tulus.


"Bagaimana dengan dirimu? Kau tidak mendapatkan apapun."


"Aku?" tanya Philip mengadukan maniknya kembali dengan bola mata berwarna hijau itu.


"Ya, kamu." Hiver mengangguk.


"Apa yang bisa kuharapkan, Hiver? Kamu? Tidak, aku tidak pernah berpikir akan merebutmu dari Orion. Aku tahu jika kau sangat mencintainya. Aku telah menitipkan sedikit bagian tubuhku pada Orion, cintai itu dan kita berdua melanjutkan hidup masing-masing."


"Cukup itu?" tanya Hiver seakan tidak percaya akan ketulusan hati seorang Prince Philip Bernadotte.


"Ya, hanya itu untuk kehidupan ini. Jika saja reinkarnasi benar adanya, di masa itu aku tidak akan berbuat kesalahan lagi, Sayang. Aku juga akan meminta kepada Tuhan agar tidak memberiku sebuah keluarga seperti yang kumiliki saat ini. Tak mengapa lahir di tengah keluarga petani dan aku akan berjuang mencarimu di manapun kau berada, bahkan jika kau masih di Mersia. Aku akan memperjuangkan perasaan cintaku."


Hiver meringsek mendekat dan dengan gerakan yang sangat pelan sang putri memeluk tubuh kekar pria tersebut. "Tidak, kau tidak perlu melakukan itu. Aku yang akan mencarimu, Prince Philip."


###




alo kesayangan💕,


mataku redup sambil merevisi typo dan segala bentuk kejahatan non verbal yang tidak kusengaja😂. oh ya, sepertinya aku akan memulai menulis rutin..


tapi tidak daily..


Senin akan kembali k Kai


Rabu Jace


Jumat Mersia


weekend aku libur di MT, ada satu novel terbengkalai di WP..


segitu aja infonya..


have a heavenly Sunday, ladies...


love,


D😘