MERSIA

MERSIA
Kau Lebih Menarik



“Jadi ini tempat kesukaanmu, Princess Lou?” tegur Jonas sambil tersenyum menghampiri Lou yang duduk termenung di kursi. Wanita itu sangat anggun dan cantik dibalut gaun satin berwarna mustard, kedua jemari tangannya saling menangkup dengan gelisah. Jonas tahu bahasa tubuh seseorang, ia mendalaminya selama dua tahun ketika berkuliah.


“Duke Jonas.” Lou sopan berdiri menyambut tamu tak diundang yang bertandang di rumah kaca.


“Selamat sore, Lou. Kau terlihat agak pucat. Jika kau sakit baiknya beristirahat saja di kamar.” Saran Jonas sambil mendudukkan tubuhnya dengan pelan diikuti oleh sang putri berwajah teduh dan sendu.


“Aku sudah bosan berada di dalam kamar.” Lirih Lou menunduk, meremas jemarinya.


“Kau masih sakit sejak tiga minggu lalu?” tanya Jonas dengan suara bariton yang melembut.


Lou menoleh mendapati sepasang manik biru menatapnya dalam, ia lalu membuang muka ke kiri. Kali ini rasa gelisah berbeda menerpa perasaannya.


“Tidak baru tiga hari lalu, Duke Jonas. Aku mendapatkan siklusku.” Ujarnya dengan polos.


Jonas mendengar itu seraya menarik napas lega, entah mengapa ia melakukan itu. Bahkan berita yang baru saja didengarnya adalah hal paling menggembirakan selama beberapa hari terakhir.


“Aku turut menyesal mendengarnya.” Hibur Jonas berlawanan arah dengan perasaannya.


Lou menggeleng lemah, wanita cantik itu semakin sendu. Tangan Jonas telurur ke samping dan menepuk bahu Lou dengan sangat pelan.


“Terima kasih.” Singkat Lou sekilas menatap wajah Jonas, namun ia tidak berani berlama-lama. Ada yang berbeda dibandingkan pertemuan mereka yang pertama. Pria di sebelah terlihat lebih perhatian.


Keduanya kemudian terdiam, mereka menikmati hari menjelang senja. Sesekali Lou melirik Jonas yang terlihat memikirkan sesuatu.


Lou berdeham, Jonas menoleh dan mengernyitkan alisnya.


“Ada apa, Princess Lou?” tanyanya.


Lou mengulum bibirnya dengan pandangan menelisik ke arah saudara sepupu suaminya.


“Maafkan aku, Duke Jonas. Tapi di antara semua orang kerajaan hanya kau terlihat yang sangat santai.” Ujarnya dengan polos namun juga sangat hati-hati.


Jonas mengenduskan tawa seraya mengangkat bahunya. “Jika pertanyaanmu tentang pekerjaanku, aku sedang cuti panjang. Jadi, aku hanya kesana dan kemari mengurus bisnis keluarga.”


Lou tersenyum tipis dan mengangguk. Bukan hal yang aneh bagi Lou mendengar anggota keluarga kerajaan memiliki sebuah bisnis. Bahkan mereka –lah menguasai bisnis seantero negeri, sama halnya yang terjadi di Mersia. Di mana Cyrus yang masih muda telah terlatih mengurus bisnis kerajaan, dan Onyx sibuk dengan tugasnya pewaris tahta.


“Bagaimana dengan menikah?” todong Lou seketika. Ia tidak tahu hendak bertanya kemana tentang kehidupan pribadi pria bersuit hitam dengan kemeja flamingo berkanji dan juga sangat rapi.


Jonas tergelak tawa, suara bariton itu tidak bercanda ketika tertawa. Sangat hidup, dan membuai indera Lou. Sudah lama ia tidak mendengarkan suara tawa yang lepas, tidak ada di Swedia. Bahkan Philip tidak pernah tergelak tawa lepas, hanya sebuah senyuman lebar tapi bagi Lou itu lebih dari cukup. Dulu, sebelum ia mendengar suara tawa pria di sebelahnya.


“Aku belum menikah, Lou. Sekalipun aku belum pernah bersaksi di depan Tuhan dengan seorang wanita. Usiaku memang sudah menginjak 36 tahun, tapi bagiku itu bukan sebuah keharusan untuk terburu-buru menikah. Terlebih aku tidak memiliki seorang kekasih. Bukan berarti aku tidak “laku”. Hanya saja aku tidak gampang menyukai seorang wanita, aku memilih sangat teliti dari yang banyak. Begini, jika kau ingin tahu -” Kata Jonas menoleh memandang wanita cantik dengan manik hijaunya yang sangat indah.


“Aku penasaran.” Lou tersipu seraya menggigit bibirnya.


Jonas tersenyum lebar. “Sekitar 7 tahun lalu aku memiliki seorang kekasih, kami berpacaran selama tiga tahun. Kau sudah tahu jika tugasku memimpin pasukan perdamaian yang selalu berdinas keluar dari Swedia, dan pekerjaanku tidak pernah sebentar. Ketika aku ditugaskan untuk ke Timur Tengah, dia memutuskan hubungan kami. Di saat yang sama aku sudah berpikir akan melamarnya, tapi waktunya sangat tidak tepat. Aku tidak mungkin mengikat seseorang yang ingin melepaskan diri. Inggrid, nama wanita itu. Dia memiliki rambut ikal sepertimu.” Jonas menoleh dan mendapati Lou merona.


“Pasti sangat berat, Duke Jonas.” Lou bersimpati.


Jonas malah menggeleng. “Itu hanya masa lalu, Tuan Putri. Sekarang kita berada di masa depan. Masa lalu hanya sebagai pembelajaran. Kau masih muda, Lou. Bolehkah aku memanggilmu dengan nama tengah?”


“Iya, silahkan.” Sahut Lou dengan cepat dan sopan. Semakin banyak kata keluar dari bibir Jonas, semakin tertarik Lou menanti kelanjutan cerita pria tersebut.


“Menurutku kau masih sangat muda, Lou. 23 tahun, bukan?”


Lou mengangguk.


“Sistem monarki mengikat lebih kuat kepada para wanita dibandingkan kami para pria. Kalian diharuskan menikah sejak dini, kecuali kakakmu. Dia berbeda dengan putri kerajaan manapun. Maafkan aku, Lou. Tapi itu juga yang sangat disukai oleh Philip.” Ujarnya Jonas jujur.


“Apakah kau juga menyukai kakakku?” Lou melebarkan manik hijaunya walau sedikit nyeri berdenyut di dalam sana, tapi ia menyadari akan posisinya sebagai putri kedua yang tidak banyak tampil di muka umum. Berbeda dengan Hiver, yang sejak kecil telah disanjung akan menjadi seorang ratu pertama di Mersia. Nama besarnya mengalahkan nama Onix, namun seiring waktu Hiver memperlihatkan diri sebagai kakak yang mensupport sang pewaris tahta sebenarnya.


Jonas terkekeh “Tidak. Aku cukup tahu Princess Marjorie Hiver dari cerita Philip. Kau lebih menarik, Lou.”


Jantung Lou berdetak aneh, ia tidak pernah mendengar perkataan selugas yang Jonas ucapkan. Bahkan dari suaminya sendiri.



Orion tertawa-tawa melihat tingkah konyol istrinya yang menari di ruang tengah villa mereka. Gaun maxynya diangkat sambil berputar-putar, berjingkrak, mengibaskan surai hitamnya.


“Ayo, Bintang Jatuh. Menarilah denganku.” Teriak Hiver mengalahkan suara Whitney Houston menyanyikan lagu terbaiknya.


Orion yang terduduk di lengan sofa menggeleng kuat dengan gigi taring tampak semua.


“Aku tidak tahu, Marjorie.” Jawab Orion menguatkan lipatan tangannya di dada.


“oh, I wanna dance with somebody, I wanna feel the heat with somebody.” Marjorie mengikuti lirik dengan suaranya yang merdu, Orion membulatkan manik biru gelapnya. Suara istrinya sungguh enak didengar.


“Lumayan.” Sanjung Orion ketika Hiver memegang jemari tangannya. Ia menggeleng tidak ingin bergabung dengan kegilaan mendadak yang dialami istrinya. Sebuah spontanitas ketika mereka habis bersantap malam, dan adalah ide Hiver yang meminta Orion membelikan sebuah alat pengeras suara agar suasana villa mereka tidak sunyi senyap.


“Serius lumayan?” Hiver menaikkan alisnya sambil tersenyum.


Orion menggeleng. “Tidak. Sangat bagus, suaramu bagus, Marjorie. Aku pikir kau hanya pintar melukis. Tidak dalam menyanyi. Kecuali tarianmu yang berlebihan.” Katanya lalu tertawa.


“Aku hanya berbuat seperti ini di depan suamiku. Aku tidak mungkin berani di tempat lain, kecuali dengan Onyx, Lou dan Cyrus.”


“Aku tahu, Marjorie. Bahkan ketika kita kembali ke Perancis kau boleh melakukan hal seperti ini di rumah.” Ujar Orion.


“Tidak. Aku malu dengan para pelayan mansion.” Hiver tidak bergoyang lagi. Kini ia berdiri sedikit ngos-ngosan membiarkan Orion menyeka keringatnya di pelipis.


“Kita bisa meliburkan mereka, demi melihatmu bergoyang bebas.” ujar Orion pengertian.


“Boleh?” tanya Hiver seperti anak kecil dijanjikan sebuah kado yang indah. Manik hijaunya mengerjap indah dan manja.


Orion mengangguk sambil mencubit dagu istrinya. “Tentu saja boleh, Marjorie.” Katanya sambil menarik tubuh Hiver untuk duduk di sofa.


“Terima kasih.” Sahut Hiver riang dan meraih sekaleng minuman dingin di atas meja. Bunyi katup terbuka kaleng berbarengan dengan desisan uap soda membaur di udara.


“Ini sangat menyegarkan.” Sambung Hiver.


Orion mengacak surai hitam istrinya dengan gemas. Wanita cantik miliknya itu hanya terkekeh indah hanya karena sebuah sentuhan sederhana.


“Marjorie.” Orion menatap wanita yang menguarkan aroma orange yang lembut, terlebih ketika berkeringat. Kini Orion mati-matian melawan keinginan untuk tidak membopong tubuh istrinya naik ke lantai dua.


“Ya, ada apa?” sahut Hiver menaruh kaleng cola berisi separuh di atas meja depan mereka.


“Marjorie, katakan apa saja yang kau inginkan. Aku akan berusaha memenuhinya.” Orion mengecup jemari tangan Hiver lembut.


“Apa maksudnya, Orion?” alis Hiver berkerut juga bibirnya.


“Tidak.” Manik sangat biru dan kental itu menghujam jantung Hiver.


“Hei, Bintang Jatuh. Jangan membuatku bingung.” Giliran Hiver mencubit pipi Orion.


Pria bersurai emas pucat terkekeh semanis madu, tubuhnya dibalut kemeja biru berbahan denim, dua kancing atas sengaja tak terpasang demi memamerkan kulit putihnya. “Aku tahu siapa dirimu, Marjorie. Hidup di dalam istana dengan banyak aturan yang harus kau patuhi. Tapi itu dulu. Sekarang kau hanya seorang wanita biasa, karena memilih aku yang tidak mempunyai apa-apa. Itu pula yang membuat kau bebas menentukan keinginanmu, Marjorie.”


“Hmmm… Tidak ada yang kuinginkan, sepertinya semua telah kudapatkan. Kebebasan dan suami yang pengertian.” Sergah Hiver dengan antusias.


“Bukan begitu, Marjorie. Aku tidak ingin menikah denganmu dan hidup monoton. Aku melihat keluarga besarku berkeliling dunia, berwisata bersama. Aku tidak pernah menikmati hal tersebut, karena jujur aku tidak suka


berpindah-pindah tempat.”


Hiver tertawa kecil. “Tidak usah memaksakan diri, Orion. Nekat terbang ke Mersia saja sudah hal luar biasa bagimu, sekarang kita berada di Bali. Apalagi? Aku pikir semua sudah cukup. Aku tidak ingin meminta hal muluk-muluk kepada pria yang sangat betah berada di satu tempat. Asal jangan serahkan aku kepada kehidupan lamaku. Bukan aku membenci Mersia dan rakyatnya, tapi kumpulan orang yang tak berhati dan berkuasa yang setiap saat mengekang kami.”


“Jadi, seperti ini saja sudah cukup?” tanya Orion memastikan.


“Ya, ini sudah lebih dari cukup. Aku menikmati kebebasanku denganmu, kau juga bukan pria seperti River.” Kata Hiver spontan menangkup bibirnya.


Orion membelalak. “Kau membandingkanku dengan River, ckckck.” Semburnya langsung menggelitik pinggang istrinya.


Orion mendengus mengerucutkan bibir delimanya. “Apa coba bedanya, aku dan River?” tanyanya sambil menarik tubuh Hiver untuk kembali duduk.


Hiver tersengal-sengal pelan meraih kaleng sodanya dan meneguk hingga habis.


“Dulu, waktu kami remaja. Dia banyak perintah, maksudku River melarang hal yang tidak bagus menurutnya. Sebenarnya bukan sebuah larangan yang mengekang, aku hanya meminta sarannya tentang sesuatu yang ingin aku beli atau sebuah keputusan penting tentang tugasku sebagai putri. Tapi ketika aku mendengarkan nasehatnya, tak lama kemudian datang kado dari River.” Tutur Hiver pelan sambil bersiap untuk diserang si vampir cantik dan rupawan.


“Begitu?” tanya Orion sendu.


“Tidak.. tidak.” Hiver sontak menggeleng.


Orion menangkup pipi Hiver dengan tatapan lembutnya. “Aku melewatkan masa remajamu dengan menjauh. Sementara River selalu ada untukmu, memberikan berbagai macam hadiah.”


“Tidak, kau selalu memberiku hadiah.” Kata Hiver tertawa seraya mengulum bibirnya.


“Buku.” Singkat Orion ikut tertawa.


Hiver mengangguk kuat. “Ya, kau memberiku kado ulang tahun berupa buku-buku tentang pelukis hebat dunia. Aku sempat bermimpi sehebat mereka, tapi sayangnya aku adalah seorang putri.”


“Tidak ada kata terlambat mengejar mimpimu, Marjorie.” Kata Orion tenang dan penuh keyakinan.


“Aku?” tanya Hiver tidak percaya diri.


Orion mengangguk. “Ya, Marjorie. Bersamaku, kau bebas mengejar impianmu yang tertunda. Aku akan mendukungmu, selama kita terus bersama. Hidup kita tidak boleh monoton hingga menua, kau harus meraih cita-citamu.”


Hiver menggenggam jemari ramping kekasih hatinya. “Sebenarnya semua terkubur seiring tugasku menjadi putri, impian menjadi seorang pelukis hebat digantikan ingin hidup bebas dan dicintai oleh seorang pria. Aku sudah


mendapatkan darimu, Bintang Jatuh. Tapi kau berulangkali mengatakan untuk tidak hidup monoton, jadi baiklah aku akan memulai dari awal. Kita akan terus bersama, hanya Tuhan yang bisa memisahkan hingga ketika aku menua dan kau tetap secantik ini.” sanjung Hiver membuat Orion tergelak tawa keras.


“Marjorie, aku sangat mencintaimu.” Ucap Orion seraya mendekap erat istrinya.



Lou bergerak gelisah di tempat tidur. Di sampingnya telah terlelap pria yang selalu setia menemani tanpa ada sentuhan intim. Sepertinya dimulai beberapa minggu lalu. Lou tidak mungkin bertanya kepada Philip cara pria itu menyalurkan gairahnya. Jika membandingkan masa bulan madu mereka yang menggebu-gebu, kini mereka tak lebih hanya sepasang teman tidur saja. Padahal Lou sedang dalam masa subur, andaikata mereka ingin mewujudkan keinginan berjuta rakyat Swedia ini adalah waktu yang tepat. Sayang Philip berubah, dan Lou tidak akan pernah berinisiatif untuk memulai untuk menggoda pria yang lebih dari Mersia di akhir tahun.


Dengan sangat perlahan Lou turun dari tempat tidur. Sejenak ia menoleh melihat sosok Philip yang sama sekali tidak terganggu dengan gerakannya. Setelah sangat yakin jika Philip masih terlelap dalam tidur damai, Lou berjalan mengambil ponselnya di atas meja. Semenit kemudian tubuh Lou menghilang masuk ke dalam walking closet yang sangat mewah. Berikutnya Lou duduk di atas sofa tanpa sandaran berwarna emas, yang berada di tengah ruangan yang sangat luas tersebut.


Lou menunduk melihat tangannya gemetar menyalakan ponsel, waktu terasa sangat lama menunggu logo benda canggih itu muncul di layar.


Tertera pukul 1.33 am di ponselnya, sangat larut dan pasti dingin sedang menerpa Swedia di jam-jam seperti ini. Beribu bimbang berkecamuk di hati Lou ketika menatap satu nama tertera di kontaknya.


Duke Jonas Sandeberg.


Lou menarik napas panjang sebelum mengetikkan kata menjadi kalimat yang menghantarkan ke jurang.


Tidur? Aku tidak bisa tidur, Duke Jonas.


Gemetar jemari tangan Lou semakin menghebat menunggu balasan yang tidak mungkin hadir.


Tidak pernah jantung Lou berdebar sehebat seperti yang dirasakannya saat itu. Memorinya mengacak dengan sendiri, mengabur bersama kewarasan yang separuh kehilangan jalan.


Lou terpekik kecil ketika melihat satu-satunya notifikasi muncul di layar ponselnya.


30 menit lagi, temui aku di rumah kaca, Lou.


Manik hijau milik Lou memburam, sambil mengetikkan kata singkat “Ya”. Setelah itu tanpa berpikir panjang ia beranjak menuju lemari bagian pakaiannya, dan memilih celana kain berwarna putih gading, turtle neck senada dan terakhir melengkapi penampilannya dengan long coat berwarna emerald.


Jantungnya berdebar semakin hebat ketika berdiri di ambang pintu, melihat sosok Philip masih dengan posisi semula seperti beberapa menit yang lalu.


“Tuhan, lindungi aku.” Lou bermonolog mengumpulkan keberaniannya melangkahkan kaki sepelan angin berhembus di dalam kamar tidur mereka.


Lou baru bisa bernapas setelah berjalan sebanyak lima langkah dari pintu luar kamar tidur.


“Haaaaahhhhhh.” Bahu Lou naik turun, menarik napas secara pendek-pendek. Sejenak ia menoleh melihat pintu bertinggi tiga meter tetap tertutup dan berdiri dengan kokoh. Bola matanya menyapu selasar yang berpermadani indah namun sunyi senyap tanpa ada pengawal ataupun pelayan yang membuat sosok wanita berambut ikal semakin mantap berjalan dengan tergesa meninggalkan tempatnya berdiri.


~~


Di kegelapan yang samar di kamar tidur, Philip terduduk menangkup kepalanya. Selama 30 menit ia terdiam dengan napas berat keluar dari mulutnya, beberapa kali Philip terlihat menggelengkan kepala dengan perlahan.


“Aku harus memastikannya.” Ucapnya lalu berdiri.


Tubuh tinggi berorot berpakaian sangat casual menyusuri jalan yang sama ditempuh oleh wanita cantik yang beberapa waktu lalu meninggalkan peraduan mereka.


“Yang Mulia.” Sapa seorang pengawal menghampiri Philip ketika ia berada tidak jauh dari rumah kaca.


Philip mengangguk. “Mereka di dalam?” tanyanya dengan pelan dan bijak.


“Ya, Yang Mulia. Duke Jonas datang sekitar 20 menit yang lalu.” jawab pengawal tersebut dengan sopan.


Philip melihat pengawal lainnya yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.


“Seperti yang aku perintahkan, keberadaan kalian tidak boleh terlihat oleh Princess Lou.” Ucap Philip mengingatkan.


“Baik, Yang Mulia.”


Philip hanya mengangguk sekali kemudian meneruskan langkah kakinya menuju rumah kaca. Seorang pengawal membukakan pintu dengan sangat pelan, tak ada suara sama sekali yang ditimbulkan ketika daun pintu itu terbuka.


Langkah Philip hanya sebanyak lima langkah di dalam rumah kaca, keberadaannya masih sangat jauh dari tempat favoritnya Lou, hingga masih aman untuk mendengarkan suara riang perbincangan kedua orang yang ia restui untuk saling mendekatkan diri.


“Bahagiakan dia.” Perkataan Philip kembali terngiang-ngiang saat pertemuan terakhir ia bersama dengan kakak sepupunya.


Philip mengembuskan napas panjang kemudian membalikkan badan.


Kembali langkah kakinya terhenti sesaat terlintas sosok cantik yang mengisi hatinya. Sontak tangan Philip mencengkeram dadanya dengan kuat.


“Ya, aku siap mati di tanganmu.” Gumam lirih Philip membayangkan Hiver menancapkan belati paling tajam di jantungnya.


###







alo kesayangan💕,


kemana coba jalan pikiran author menulis novel ini?


ada yang bisa menebak?


ada yang tidak menyukai jalan ceritanya, kalian free to go loh. upsss..


kalau aku sempat, next masih Mersia, biar pas di chapter 30.


gak berasa yah, dh 30 aja ini Mersia.


lagi encer nih bund, wkwkwkwk.


love,


D😘