MERSIA

MERSIA
Melanjutkan Hidup



"Selalu ingatkan istrimu untuk tidak memforsir tenaga dan pikirannya dalam bekerja, Orion." ujar Isla sambil mengalunkan tangannya pada punggung Orion.


Pria berwajah cantik sekaligus tampan itu menunduk sambil mengulas senyuman. "Tentu saja, Mom. Marjorie memiliki jadwal kerja yang santai. Apalagi setelah semua lukisannya selesai." jelas Orion seraya mengecup puncak kepala sang mama.


Isla menyenderkan kepala di dada anaknya sembari menatap lukisan besar di depan mereka. "Ini indah." gumamnya.


"Marjorie berbakat, bukan?" tanya Orion lembut.


Isla berdeham pendek. "Ya, istrimu seperti Yang Mulia Ratu. Satu-satunya yang mewarisi bakat Summer, adik-adik Hiver lahir di Mersia, berbeda dirinya yang lahir di Perancis. Jika mom mengingat masa-masa berat Summer semasa di Pulau Porquerolles."


Orion mengangguk kecil, ia masih mengingat dengan jelas kehidupan Hiver dan Summer selama di pulau itu. "Orion sangat suka ketika mom dan dad mengajak kami untuk bertemu Marjorie."


Isla mendongak sambil mengerutkan alisnya. "Kenapa kau lebih suka memanggil Princess Hiver dengan Marjorie, Sayang?"


"Karena Orion ingin berbeda dengan yang lain. Jangan menciptakan jurang lebih lebar dengan sebuah panggilan kebangsawanan, Marjorie tidak menyukainya." akunya sambil tersenyum tipis.


"Ya, mom ingat kau memanggilnya Princess Marjorie. Itupun jarang sekali kau membahasnya. Kau sangat pendiam. Setelah menikah kau baru lebih terbuka, Orion."


"Banyak kupikirkan, Mom. Maksud Orion, dari kecil telah memiliki beban berat yaitu keinginan untuk menyamai daddy. Kami hanya selisih 3 angka dari jumlah IQ. Orion ingin menyamai daddy dalam segala pencapaian hidupnya. Makanya sejak kecil Orion terus belajar dan belajar. Mungkin mom tidak tahu, tapi ini yang kupikirkan sejak tahu pekerjaan daddy, seperti apa perjuangan daddy. Orion tidak ingin menyiakan sedikitpun waktu pada sesuatu yang merusak konsenstrasiku."


'Kami tidak tahu itu, Kid. Mom dan daddy pikir kau hanya menyukai belajar dan menjadi pribadi yang tertutup."


"Tidak, Mom. Kadang Orion ingin seperti River dan Autumm yang bersenang-senang menikmati setiap hari dengan bermain, tapi kepala lebih dominan dibandingkan hati."


Isla tertawa kecil. "Kau sangat flat, Sayang. Persis seperti daddy ketika kecil."


"Butuh pengorbanan untuk mencapai impian, Mom. Untuk jadi seperti sekarang, Orion harus mengesampingkan masa kecil dan remaja. Orion tidak menyesal, Mom. Andai saja Orion tumbuh seperti halnya anak kebanyakan, Orion tidak bisa berada di titik ini.


Isla menatap wajah berseri Orion. Tidak ada orang tahu jika setahun yang lalu anaknya menjalani operasi transplantasi hati, dan sebuah mukjizat bagi keluarga besarnya ketika mendapatkan berita dari team dokter yang mengatakan peluang hidup panjang Orion sangat besar. Itu berkat perubahan pola hidup yang semakin mengutamakan kesehatannya.


"Titik bersama dengan Hiver pastinya." imbuh Islah.


"Ya, Mom. Hidupku hanya untuknya. Maafkan aku mengatakan ini."


"Tidak, Sayang. Kau telah berada di jalan yang benar. Selama 30 tahun kau menjadi anak yang membanggakan bagi mom dan daddy. Sudah waktunya kau memikirkan keluargamu. Mom melihat perjuangan Hiver ketika kau sakit, dia seorang malaikat, Sayang. Benar-benar seorang malaikat dari Kerajaan Mersia, bukan sekadar putri biasa."


"Marjorie mencintaiku." sambung Orion.


"Ya, dia sangat mencintaimu, Kid. Padahal sejak awal kami tidak percaya perasaanmu kepada Princess Hiver. Kau cukup nekat datang ke Mersia menggagalkan pertunangannya dengan Prince Philip. Tuhan, kisah kalian cukup rumit. Ya, hampir sama dengan kisah sang ratu." gumam Isla pelan.


"Tentang pria itu, Mom?"


"Ya, pria itu. Jason Cyrus Udayana, Pamanmu mengenalnya dengan baik, jika kau arti kalimat itu, Sayang. Ada dua pria dalam hidup Queen Summer, begitupun dalam kisah Pincess Hiver."


"Berbeda, Mom." sanggah Orion cepat.


"Apa yang membuatnya berbeda?" tanya Isla sambil melepaskan pelukan, ia kini mengamati seksama wajah putra yang berbeda jika dibandingkan dengan saudara-saudaranya.


Orion mengukir senyuman simpul. "Aku sangat tahu Marjorie, Mom. Dia bukan tipe wanita membagi perasaannya, hanya ada satu pria di dalam hatinya. Berbeda, Marjorie berbeda dengan ibunda ratu." jawabnya optimis. Orion sangat tahu kisah masa lalu orang tua istrinya, mungkin semua orang tahu termasuk River dan Autumm. Namun, tidak pasti apakah ingatan saat mereka kecil masih tersimpan pada memori saudara Orion. Berbeda dengan dirinya yang mengingat segala hal. Ia cukup paham pertemuan pertama antara Hiver dan King Robert sangat menggugah hati puluhan tahun yang lalu.


"Mom berdoa itu benar adanya, Sayang. Semoga kalian bertiga, maksud mommy dengan pangeran itu bisa berteman baik tanpa ada perasaan lain. Bagaimanapun semua orang perlu melanjutkan hidup bukan bergerak di tempat dan saling menunggu."


"Tentu saja, Mom. Oh iya, Prince Philip sebentar lagi akan datang." timpal Orion seraya tersenyum manis.


Isla melebarkan bola matanya sementara Orion kembali merangkul tubuh kecil sang mama. "Marjorie sengaja mengundangnya, itupun atas persetujuanku, Mom."


...



Philip menarik turun atasan suitnya yang bermotif gingham berwarna coklat dan putih. "Sempurna." gumamnya mengagumi diri sendiri lalu tersenyum lebar. Kini pandangan manik lionnya menatap tajam ke arah luar kendaraan. Tampak sebentar lagi kendaraan yang ditumpanginya akan tiba di galeri terbesar di Kota Lyon.


Kali ini kedatangan Philip ke kota itu dalam rangka menghadiri pameran lukisan Princess Hiver, tentu saja wanita cantik itulah yang mengirimkannya sebuah undangan khusus ke Swedia. Hari ini merupakan pembukaan resmi pameran tunggal  hasil karya Hiver, jauh sebelumnya wanita itu telah mewanti-wanti kepada Philip untuk tidak memberikan kejutan berupa buket bunga. Hiver tidak ingin hal tersebut menjadi bahan bagi para awak media yang pastinya telah menunggu sebuah hal besar terjadi hari itu.


"Kita telah sampai, Yang Mulia." kata Johan dari kursi depan, asistennya menoleh dari kursi depan hanya ingin memberikan informasi tersebut.


Philip hanya mengangguk tegas sekali kepada Johan. Ia tidak serta merta turun dari kendaraan, para pengawalnya terlihat sibuk dengan alat komunikasi masing-masing. Mereka harus memastikan keselamatan sang putra mahkota, walau sepengetahuan Philip tempat itu telah sangat steril dengan pengamanan dari pihak penyelenggara.


"Silahkan, Yang Mulia." pintu mobil terbuka yang sebelumnya diketuk pelan sebanyak dua kali.


Philip berdeham pendek kemudian keluar dari kendaraannya. Karpet merah membentang dari tempatnya berdiri hingga ke puncak tangga. Tidak banyak orang menjemputnya, hanya beberapa orang dari pihak Hiver terihat menunggu kedatangannya. Philip menyakini bahwa hari pertama pembukaan pameran dikhususkan untuk kalangan tertentu termasuk keluarga dan kolega dekat, termasuk dirinya yang sengaja terbang dari Swedia ke Lion.


"Selamat datang, Yang Mulia." sapa River.


Philip baru saja memerhatikan pria satunya yang berdiri dari barisan. Di samping River terdapat lima pria bertubuh tinggi dan mengenakan suit licin, hanya saja River terlihat lebih muda dibandingkan orang-orang yang menyapanya dengan sangat ramah.


"Hari yang cerah di Lion." Philip tersenyum lebar dan menyalami River, kemudian pria lainnya.


"Musim panas." imbuh River sekilas menengadah ke atas, langit biru seperti warna bola matanya.


"Aku tidak melihatmu tadi, Tuan Phoenix." kata Philip sambil berjalan menaiki tangga beton yang sangat kokoh dan berusia ratusan tahun tersebut.


River tersenyum. "Mungkin Yang Mulia sudah melupakanku."


Philip tidak bisa menahan kekehan tawanya. "Aku tidak melupakan, mungkin pikiranku masih berada di Swedia." ujarnya ramah.


"Atau mungkin telah sampai ke dalam museum, Yang Mulia. Hiver berada di dalam, menunggumu."


Kedua pria tersebut kemudian tertawa lebih lepas.


"Bagaimana rasanya menjadi seorang ayah, Tuan Phoenix? Berita kelahiran putri kalian sampai di kerajaan kami."


Sorot mata River melembut. "Luar biasa, Yang Mulia. Aurorette adalah anak yang sangat menggemaskan, saya sampai melupakan banyak hal sejak dia lahir."


"Termasuk perasaan terhadap Hiver?" sindir halus Philip yang dibarengi tawa. Jujur, ia hanya melontarkan kalimat candaan nampaknya lawan bicaranya menanggapi santai juga.


"Saya telah lama melepaskan perasaanku kepada Hiver, Yang Mulia. Ya, ketika melihat Orion jatuh sakit dan bagaimana Hiver menemaninya. Di saat itu saya tersadarkan dengan sendirinya bahwa Hiver telah jauh dari jangkauan tanganku."


"Kau telah menikah, Teman. Sedekat apapun kalian sebelum itu, tetap saja ada batasan baginya untuk menjaga sikap. Dan jujur, aku mengejarnya walau aku tahu Hiver telah menikah. Ya, kita berdua mengejarnya dengan ego yang tinggi. Aku banyak berbuat jahat di masa itu."


"Tunggu dulu. Bagaimana Yang Mulia bisa tahu jika saya memiliki perasaan kepada Hiver. Maksudnya.."


Philip menepuk bahu River pelan sambil tersenyum lebar. "Aku harus tahu semua pesaingku, bukan? Tapi itu semua hanya masa lalu. Sekarang kita di sini, melanjutkan hidup." ujarnya positif sambil melayangkan pandangan di dekat pintu terdapat dua wartawan sedang menunggu mereka.


"Oh itu wartawan dari dua tabloid seni dan infotaintment, Yang Mulia. Silahkan berjalan terus masuk ke dalam." ucap River seakan paham tatapan pria berbadan tegap dan terlatih. Dari tubuh itu berasal separuh hati lebih yang berhasil menyelamatkan nyawa Orion. Philip adalah penolong bagi keluarga Bleuette, sebuah budi baik yang tidak bisa dinilai dalam bentuk materi.


"Aku akan singgah sebentar, mereka pastinya telah menunggu sejak pagi buta hanya ingin mendapatkan sedikit berita tentangku." sahut Philip dengan bijaksana.


"Silahkan, Yang Mulia."


Lontaran pertanyaan mengalir dengan lancarnya dari dua wartawan tersebut, seringkali Philip menjawabnya terlihat serius kadang pula disertai dengan tawa pelan. Untungnya kedua wartawan tersebut adalah pria berusia 40 tahunan, andai saja mereka adalah wanita berusia berapapun, tentu tidak bisa menahan pesona sang pewaris tahta yang begitu sangat memikat hati.


"Pertanyaan terakhir, Yang Mulia. Terlebih dahulu saya meminta maaf dengan apa yang saya hendak tanyakan. Namun tidak sekali saya mendengar selentingan kabar bahwa Yang Mulia pernah hampir bertunangan dengan Princess Hiver, apakah itu benar adanya?" tanya sang wartawan sepelan dan tanpa mengurangi rasa hormatnya kepada sang pewaris tahta.


River mendengar perkataan Philip ikut takjub. Ia menghela napas panjang ketika Philip menganggukkan kepalanya dengan tegas. "Masa depan Swedia sangat cerah memiliki Yang Mulia."


Philip terkekeh pelan. "Hal itu masih lama, Teman. King Sigvard masih berjaya, malah sekarang beliau sedang tergila-gila dengan sepakbola dan bisa bermain selama 2 kali 90 menit. Jantungnya masih kuat walau ayah kami terkenal sangat arogan dan pemarah."


...



Philip tidak menemukan Hiver, tadi ia sempat mendengar jikalau wanita cantik itu sedang berbincang dengan adik-adiknya yang sengaja datang dari Mersia. Sambil menunggu ia menikmati lukisan-lukisan hasil karya Hiver yang menakjubkan dan membuat hati Philip menemukan kedamaian yang sangat menenangkan.


Tak lama kemudian ia mendapati sosok pria berpakaian rapi duduk di kursi panjang di dalam galeri. Philip menghampirinya dengan langkah kaki tidak sabaran. "Hai." ia pula pertama kali menyapa.


Pemilik surai emas pucat itu mendongak dan spontan berdiri menyalami Philip. "Maaf, aku tidak menyadari kedatanganmu."


"Kau terlihat sehat." puji Philip menepuk bahu Orion dengan pelan.


"Berkatmu." singkat Orion sambil tersenyum lebar. Gigi taringnya sangat jelas namun tidak seperti hendak ingin memangsa pengagum nomer satu Hiver.


Mata Philip melebar heran. "Kau mengetahuinya?"


"Ya, aku tahu setelah 7 bulan operasi tersebut. Bukan Hiver yang mengatakannya melainkan saudara kembarku, Autumm. Sebenarnya aku ingin mengirimkan surat kepadamu, sebuah ucapan terima kasih yang tulus."


Philip menarik napas pendek lalu menggelengkan kepala. "Tidak. Kau tidak perlu melakukan itu, Orion. Semua telah setimpal atas perbuatan burukku di masa lalu. Sudah, tolong jangan membahasnya hari ini." elaknya kemudian mengarahkan perhatian kepada lukisan yang sangat besar di depannya.


"Lihat, ini yang paling indah." seru Philip bergerak mendekat ke arah lukisan. Ia tersenyum mendapati Orion mengikutinya.


"Marjorie melukis ini selama 2 bulan." imbuh Orion menerangkan.


"Aku ingin memilikinya." sahut Philip sepenuh hati. Ia menoleh ke arah Orion. Pria jangkung bertubuh ringkih itu terlihat mengedikkan bahunya.


"Sebelum orang lain mendapatkannya."


"Aku ingin memiliki semua lukisan di galeri ini."


"Hah?" Orion melongo. Alis indahnya naik ke atas mengecilkan keningnya.


"Boleh, bukan? Setidaknya kali ini biarkan aku bersikap lebih kaya dari dirimu, Orion. Aku juga tidak akan mengambilnya sampai masa pameran selesai, jadi biarkan orang datang berkunjung namun pemilik semua lukisan ini adalah diriku."


"Kau memperlihatkan sisi aroganmu." sindir Orion sambil mengulas senyuman. "


"Kali ini saja." sahut Philip puas.


Orion mengeluarkan suara ******* pendek dan halus. "Biarkan asistenmu bertemu dengan bagian pemasaran. "


Philip hanya menoleh di mana Johan berdiri tidak jauh darunya, hanya memberi kode dan pria itu menganggukkan kepala dengan sopan. "Beres."


Kemudian kedua pria tersebut terdiam dan berpindah ke lukisan sebelahnya. "Dia sungguh berbakat." gumam Philip terpana.


"Ya. Dan aku masih belajar mengerti apa makna setiap lukisannya."


"Hei, kecuali ini. Aku tidak ingin mengambilnya." seru Philip ketika mendapati sebuah lukisan pria berpakaian serba putih dengan surai berwarna emas pucat yang terlihat misterius dan dingin.


Orion mendadak tergelak tawa. "Aku lupa jika Marjorie memamerkan lukisan ini. Padahal aku sudah melarangnya. Dia mengambilnya dari ruang kerjaku."


Philip terdiam sejenak kemudian bersuara. "Aku juga ingin dilukis seperti ini oleh Hiver." ujarnya seketika.


"Tidak boleh." Orion menolak sambil menautkan alisnya. "Apakah kau masih mencintai istriku?"


Philip mendengus. "Sedikit informasi, aku sudah melanjutkan hidupku. Walau belum menetapkan pilihan dari puluhan putri cantik yang disodorkan oleh pihak kerajaan, terkadang aku memilih satu gadis untuk dijadikan teman tidur." ungkapnya tanpa segan.


Orion meringis. "Bertobatlah." sindirnya dibalas gelak tawa oleh Philip.


Tap tap tap..


Bunyi sepatu beradu dengan lantai membuat kedua pria itu menoleh.


"Di situ rupanya kalian." sapa Hiver seraya melebarkan senyumannya.


"Princess Hiver." Philip semringah menyambut kedatangan wanita cantik yang mengenakan gaun selutut berwarna peach.


"Apa saja yang kalian bicarakan?" tanya Hiver sementara Philip dengan sopan mengecup punggung jemarinya. Sebuah tata cara menyapa ala monarki.


"Banyak, termasuk Philip berkeinginan membeli semua lukisanmu, Marjorie." jawab Orion.


"Ya, benar. Asistenku sepertinya telah menemui bagian pemasaran pameran ini. Apakah ini tidak masalah bagimu?" tanya Philip menatap wajah Hiver melongo dan terlihat syok.


"Marjorie." Orion menepuk pelan punggung istrinya.


Hiver menggeleng cepat menguasai diri. "Wow, aku tidak menyangka hal ini akan terjadi. Tapi, aku tidak bisa melarangmu, Prince Philip. Mereka adalah anak-anakku, hasil karyaku."


"Aku akan menempatkannya di tempat terbaik di Swedia. Sebuah bangunan khusus yang mungkin nantinya akan menjadi tempat umum bagi orang-orang yang ingin melihatnya. Aku tidak pelit membagi hal yang aku sukai."


"Hati pun kau berikan." Orion menyahut.


"Philip mengangguk. "Hanya kepadamu, demi wanita cantik ini." ujarnya tak lepas mengamati sosok Hiver.


"Terima kasih." Hiver memegang lengan Philip sambil menganggukkan kepala.


Philip menyeringai. "Apakah boleh tanda balas jasa kalian dengan memberikan namaku kepadanya?" tanyanya sambil mengerling ke arah perut membuncit milik Hiver.


"Tidak!" serempak Orion dan Hiver menolak permintaan Philip.


"Hei, kenapa kalian sangat pelit kepadaku?" serunya sambil menekukkan bibirnya ke bawah.


Orion merenggut sementara Hiver terkekeh menutup bibirnya.


"Tidak boleh, bayi yang dikandung Marjorie berjenis kelamin perempuan. Ya, kami sedang menanti seorang putri yang sangat cantik."


FIN


###





Tamat, pesan dan kesan akan Up besok dan info chapter Mersia selanjutnya ❤️