
"Marjorie." lirih Orion ketika melihat sosok wanita cantik berjalan masuk ke dalam ruangan intensif.
"Mon Epoux, bagaimana keadaanmu?" senyum merekah indah dengan manik hijau berkaca-kaca nampak jelas di wajah Hiver. Ia kemudian mengelus lembut lengan Orion.
"Sehat, sangat sehat." kelakarnya dibarengin tawa yang samar. "Aku merindukanmu, Marjorie."
"Aku pun merindukanmu, Orion. Sangat merindukanmu." sahut Hiver cepat bersamaan dengan meluruhnya dua bulir cairan bening membasahi pipinya.
"Dokternya jahat." keluh Orion.
Hiver mengiyakan perkataan suaminya, team dokter memintanya bersabar lebih lama semalam untuk bertemu dengan pria bersurai emas pucat itu. "Demi kebaikanmu. Sayang."
Hati Orion menghangat mendengar Hiver menggunakan bahasa ibu mereka. Orion paham bahasa tersebut, namun jarang menggunakannya. "Iya, aku tahu. Apa kata dokter, Marjorie?"
Hiver mendudukkan tubuhnya di kursi samping hospital bed. "Apakah daddy tidak mengatakan sesuatu?"
"Tidak." singkatnya sambil menggengam pelan jemari istrinya. Kulit mereka memiliki warna yang berbeda, satunya putih pucat dan milik Hiver putih yang segar. Itu menandakan jika Hiver dalam kondisi sehat, sementara ia masih dalam tahap pemulihan pasca operasi.
Hiver mendesah singkat dan dalam. "Kita akan masih berada di rumah sakit setidaknya tiga minggu ke depan. Mom dan daddy tidak ingin membiarkanmu lepas dari pengamatan dokter. Walau operasi berjalan lancar, namun kemungkinan tubuhmu menolak sangatlah besar."
"Mereka hanya berlebihan, Marjorie." desah Orion memejamkan manik biru gelapnya sesaat. "Kau tahu jika aku bosan berada di tempat ini? Aku merindukan rumah kita. Dokter bisa datang ke rumah dan memeriksaku."
"Tidak!" tegas Hiver menggelengkan kepala. "Walau aku tahu kau mampu mendatangkan dokter setiap hari ke rumah, namun tetap saja berbeda dengan lengkapnya fasilitas di sini, Orion."
"Jadi tiga minggu?" tanya Orion pasrah.
"Di rumah sakit, kemudian kita harus tinggal dengan mom."
"Apa?" Orion kaget, ia ingin mendudukkan tubuhnya namun harus pasrah untuk kembali terbaring. Ia memegang perutnya dengan ******* panjang. "Tuhan sedang menghukumku."
"Kenapa mengatakan hal seperti itu, Orion Filante? Ini bukan hukuman namun ujian bagi kau sendiri, aku sebagai istrimu, orang tua kita, saudara-saudaramu. Ya, ini adalah ujian kesabaran bagi kita semua."
Orion terkesima mendengar penuturan halus Hiver. Jujur sejak ia dirawat di rukah sakit, ia melihat kepribadian Hiver lebih bijaksana dan tabah. "Aku pikir dengan rajin berolahraga akan membuatku tetap sehat, rupanya kebiasan melewatkan jam makan, kurang cairan, tidak banyak tidur, membuat imunku melemah. Maafkan aku, Marjorie"
"Tidak ada yang salah, semua telah berlalu. Tugasku ke depannya adalah menemani dan mengingatkan untuk hidup lebih sehat."
Tatapan manik biru gelap itu menyayu. "Kau tidak akan meninggalkanmu, Marjorie? Sebagai pasien transpalantasi hati yang memiliki kemungkinan usia tidak panjang."
"Astaga, Tuan Bintang Jatuh! Jangan sia-siakan hati yang didonorkan itu dengan bersikap pesimis. Kau memiliki peluang hidup lebih panjang. Pendonor itu menginginkan kita bersama dan hidup lebih lama." Hiver mengambil kendali percakapan dengan bersikap tegas.
"Bagaimana keadaan orang itu? Apakah dia mengenal kita? Maksudku, dia ingin kita hidup bersama lebih lama. Apakah aku boleh bertemu dengannya?" Orion sangat antusias jika membahasa penolongnya.
"Sehat, orang tersebut terlihat seperti hanya sedang kena maag akut. Dia akan keluar rumah sakit besok siang dan akan menjalani pemulihan di rumahnya. Ya, dia mengenal aku dan dirimu, kita berdua adalah orang terkenal bukan? Dan satu lagi, orang tersebut tidak ingin bertemu." tandas Hiver.
Orion terlihat tidak puas akan jawaban putri cantik itu. "Apakah daddy memberikannya sedikit penghargaan, Marjorie?"
Hiver tergelak tawa keras, Orion memicingkan matanya. "Apakah perkataanku salah? Hei, Marjorie." serunya.
"Sangat salah, Orion-ku. Pendonormu tidak butuh uang, dia memiliki segalanya. Orang tersebut juga memiliki hati yang besar yang bisa dibagikan kepadamu. Jiwa kemanusiannya sangat tinggi, makanya tadi aku sudah mengatakan jika kau harus hidup tanpa rasa pesimis. Jangan berpikir aku akan meninggalkanmu dengan kondisi seperti ini. Apakah kau lupa perkataanmu saat kita menikah? Bahwa kita akan selama-lamanya. Sepatah kata pun melekat di hati dan ingatanku, apalagi semua kalimat-kalimat panjang yang kau ungkap setelah di pendam selama berpuluh tahun. Kau telah mengikatku dengan kuat, kau membuatku jatuh cinta kepada dirimu yang dingin namun rupanya itu tidak berlaku setelah kita menikah. Kau adalah pria romantis, selera humormu yang aneh, dan satu aku tahu jelas.. kau sangat mencintaiku. Aku tidak akan pernah menyia-yiakan seorang pria sepertimu. Aku mencintaimu dalam suka dan duka, Orion Filante." Hiver menarik napas panjang ketika usai berbicara untuk menyakinkan suaminya. Di saat itu ia melihat hidung tajam Orion memerah, manik biru itu berkaca-kaca.
"Melihatmu seperti ini, aku merasakan jika diriku terlalu biasa untuk mendapatkan wanita sehebat dirimu, Marjorie."
Hiver merebahkan kepalanya pada jemari ramping Orion. "Tidakkah kau tahu perkataan yang mengatakan 'jodoh adalah cerminan satu sama lain'. Diriku tumbuh dengan julukan "Princess Hiver sedingin Mersia" dan hanya seorang Orion Filante yang lebih dingin bisa meluluhkan Putri Mersia. Godaan apapun di dunia ini tidak bisa membuatku berpaling dari dirimu, Tuan Filante."
...
Tepat tiga minggu pasca Orion menjalani transpalantasi hati, kini kondisinya semakin membaik. Di samping dengan pola hidup yang semakin mengutamakan kesehatan dan pola makan yang teratur, Orion juga harus mengkomsumsi obat imunosupresan seumur hidup. Obat tersebut menekan sistem kekebalan tubuh untuk menerima organ baru dan mengatasi penyakit autoimun yang membuatnya harus menjalani operasi transpalantasi hati.
Sikap pesimis Orion sudah hilang, kini ia kembali menjadi dirinya yang semula. Keinginan terbesar Orion saat ini adalah memberikan keturunan kepada Hiver, hingga siang itu sebelum mengakhiri masa rawatnya di rumah sakit, mereka mendatangi dokter kandungan dan memeriksakan kesehatan masing-masing.
"Kita berdua sehat." ujar Hiver bergelayut di lengan suaminya ketika keluar dari ruang praktek dokter kandungan. Wajah cantiknya berseri-seri dengan hati sangat bahagia.
"Aku tidak ingin kali ini gagal." sahut Orion.
Dan memerahlah raut wajah sang putri. "Iya." angguknya tersipu.
"Bagaimana kabar Lou, Marjorie? Apakah mereka telah menikah atau mungkin sudah mendahului kita untuk memiliki keturunan."
Hiver menggeleng. "Lou dan Duke Jonas belum menikah dan belum ada kabar gembira dari Afrika. Cyrus mengatakan jika mereka menunda keinginan untuk menikah hingga dirimu sembuh total. Lou ingin kita menghadiri pesta pernikahannya di sana, dan itu berarti 6 bulan kemudian hal tersebut baru akan terwujud. Kau tidak boleh terbang, bukan begitu kata Dokter Alain?"
Orion tersenyum yang membuat hati Hiver jumpalitan. Dunianya telah kembali, Orion pulih hanya saja banyak yang perlu diperhatikannya untuk bisa beraktifitas dalam batasan tertentu, ya termasuk melakukan hubungan suami istri.
"Kau akhirnya bisa peduli dengan Lou." Hiver bergumam riang, kali ini mereka tidak kembali ke ruang rawat inap Orion yang benar-benar sangat membosankan itu. Ketika keduanya masuk ke dalam lift, dengan lincah Hiver menekan tombol angka 1. Tepatnya, lantai di mana di bawah sana sopir keluarga Orion telah menanti mereka.
"Hei, sejak kapan aku tidak peduli dengan adik-adikmu, Marjorie? Aku menyayangi mereka seperti halnya aku dengan saudaraku. Kau asal tuduh." celetuk Orion namun tetap saja manis terdengar di telinga Hiver. Perkataan Orion diikuti cubitan kecil mendarat di pipi Hiver.
Orion melirik dengan seringaian di bibirnya. "Kagum?"
Hiver mengangguk sambil tersenyum tipis itupun bibir bawahnya digigit pelan. "Kau terlihat dingin, wajahmu menyiratkan ketenangan dan sosokmu misterius, aku terkagum seperti seseorang yang tidak mengenal Orion Filante. Kau menakjubkan! Aku kemudian disadarkan bahwa pria dingin itu adalah suamiku sendiri."
Orion tertawa keras di dalam lift. "Apakah selama aku sakit kau mengambil kursus merayu, Marjorie?" gemasnya lalu memeluk erat Hiver.
Sang putri melihat Orion tertawa lepas justru merasakan haru bahagia. Matanya berkaca-kaca sambil mencium wangi maskulin earthy si Bintang Jatuh. "Aku tidak belajar hal ini, Orion. Hanya saja aku tidak akan lagi menahan semua perasaanku, pemikiranku, kegilaanku kepadamu. Aku ingin menikmati setiap momen kebersamaan kita sebaik-baiknya. Entah aku atau dirimu yang terlebih dahulu pergi, setidaknya kita membuat banyak kenangan indah bersama-sama. Kemudian salah satu di antara kita yang tersisa, hidup dengan kenangan itu hingga tiba waktunya menyusul ke sana."
Gelak tawa Orion terhenti. Tangannya menangkup wajah Hiver, sepasang mata biru gelap menatap lekat sang putri. "Marjorie, Ya.. kita buat banyak kenangan indah bersama." Orion melepas tangannya alih-alih kemudian mendekap erat tubuh Hiver. "Aku mencintaimu, Marjorie."
"Aku mencintaimu lebih, Orion Filante. Hanya ada kamu kemarin, sekarang dan di masa depan kita. Hiduplah lebih lama bersamaku hingga ratusan tahun."
...
Philip sedang bersantai di Chateu-nya, seperti biasa ia menikmati sore yang indah sambil membaca buku tentang politik. Putra mahkota tersebut mengenakan kimono berbahan sutra terbaik, kulit dadanya sengaja terbuka, bekas pisau bedah masih tergores jelas menghiasi perut kotaknya.
Bola mata berwarna lion itu melirik cepat ketika melihat dua pelayan tergopoh-gopoh dengan raut wajah yang pias. Sontak pengawal Philip mencegat dua pelayan wanita itu, sayup-sayup Philip mendengar perkataan salah satu wanita itu.
Philip mendesah panjang dan acuh, ia tidak terpengaruh. Sang putra mahkota sama sekali tidak bergerak dari kursi panjang tempatnya bersandar dengan santai.
"Yang Mulia." kata salah satu pengawalnya dengan serius.
Philip hanya menanggapi dengan dehaman berat.
"Yang Mulia." panggil pengawalnya sekali lagi.
Philip menurunkan buku dan menatap pria mengenakan jas rapi itu. "Biarkan King Sigvard ke sini." sahutnya masih tetap tidak peduli.
Tak perlu lama, sekitar 9 orang berjalan dengan tubuh tegap diikuti seorang pria paruh baya mengenakan suit licin dengan wajahnya terlihat menakutkan. Philip berdecih sambil memutar matanya dengan malas.
"Kau sepertinya sudah gila, Philip!" hardik King Sigvard memulai percakapan dengan pewarisnya.
Philip hanya mendekap buku tebal dan menatap lurus kepada ayahandanya yang sedang berkacak pinggang. "Yang Mulia jauh-jauh ke sini hanya ingin mengatakan itu?"
King Sigvard mendekati Philip dengan cepat merebut buku dari tangan Philip dan memukulkan buku tersebut dengan kuat di pipi putranya. Philip tidak menangkis, malah membiarkan buku itu membuat pipinya memerah dalam seketika. "Hanya itu kekuatan, Yang Mulia?"
King Sigvard tidak mengulangi perbuatannya, buku tersebut malah dilemparkannya jauh-jauh. "Aku sudah kehabisan kata-kata dalam menghadapimu, Philip." murka pria paruh baya tersebut.
Philip menahan sang pelayan yang hendak menghampirinya sambil membawa obat dan handuk dingin. "Suka tidak suka, seperti inilah aku. Apakah Yang Mulia ingin membatalkan statusku sebagai pewaris tahta?"
Sang raja menatap tajam dengan wajah memerah marah."Kau ingin ayah dikudeta oleh rakyat jika melakukan itu?"
Pemuda bertubuh tinggi besar tersebut berdiri sambil merapikan kimono sutranya. King Sigvard malah menarik paksa kembali hingga nampak jelas bekas operasi Philip. "Kau memang gila, Philip. Aku menyuruhmu membalas dendam bukan memberikan hatimu yang berharga itu kepada seorang rakyat jelata. Pria itu pernah menghina kerajaan kita, merendahkan Swedia yang bisa dibeli dengan uangnya itu. Cih!"
Philip mundur dan menalikan kimononya. "Dia memang kaya, Yang Mulia. Itu yang perlu kita ketahui semua, bahwa keluarga mereka bisa membeli kerajaan Swedia."
"Harusnya kau meminta separuh dari kekayaannya untuk membayar harga lebih separuh hatimu itu, Philip!"
Philip tertawa ringan. "Tidak semua bisa dinilai dengan uang, Yang Mulia. Dan aku tidak melakukan ini demi Orion melainkan untuk wanita yang kucintai. Aku ingin melihatnya hidup bahagia, Yang Mulia. Karena kebahagian Princess Hiver adalah Orion, maka pria itu harus tetap hidup. Andai petaka itu terjadi, Orion tidak bisa diselamatkan, aku tidak yakin bisa menjadi penggantinya. Princess Hiver akan berduka sepanjang usia, dan dia tidak akan pernah membuka hatinya untuk pria lain. Tapi, tahu apa Yang Mulia tentang cinta dan pengorbanan. Ayahanda tidak pernah menjatuhkan hati dengan hebat kepada satu wanita, karena wanita manapun tunduk di bawah kakimu. Semua gampang Yang Mulia dapatkan. Berbeda denganku, ada satu wanita yang kucintai namun dia pula yang tidak bisa kumiliki. Aku memang berada di sini, tidak di samping Princess Hiver. Tapi dengan bangga aku bisa mengatakan jika cintaku lebih besar kepada wanita cantik itu."
"Kau gila." kembali King Sigvard mengulang perkataannya. Namun kali ini intonasi suaranya lebih rendah dan parau.
"Ya, aku gila. Tapi percaya tidak, Yang Mulia? Setelah melakukan operasi tersebut, hatiku lebih lega. Tidak seberat kemarin, aku merasakan sebagian hatiku telah berpindah tempat kepada Orion. Separuhnya telah tumbuh di sana mencintai Princes Hiver, ya.. aku sangat lega."
###
alo kesayangan💕,
sisa 1 chapter kisah Orion, Hiver dan Philip sebelum pindah ke kisah para prince..
siap gak kalian melepas Orion?
love,
D😘