MERSIA

MERSIA
Funny Fiance



Syukurnya tubuh Onyx memiliki kekuatan yang sangat besar, hingga perkataan yang terlontar dari bibir Hawaii hanya membuatnya tersentak. Hawaii tidak bisa diprediksi.


"Sayang!" Onyx berdiri dalam pekikan dan senyuman lebar di bibirnya.


"Ya?" Hawaii juga ikut berdiri. Suaranya terdengar merajuk manja sekaligus menggoda. "Mana?" lagi wanita muda bersurai ikal menyorongkan jemari lentiknya.


Onyx tergelak sambil memegang perutnya. Mata berwarna coklat terang itu hampir hilang karena tawa.


"Tidak. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi," Onyx merogoh saku jaket kulitnya. Hawaii menanti dengan tidak sabaran. Kelopak mata Hawaii berkedip dan tangannya masih menengadah.


Mata Hawaii melebar ketika melihat dengan jelas kotak berwarna biru berbahan beledu berada di cengkeraman tangan Onyx.


"Indah," lirih Hawaii bersuara.


"Ini baru kotaknya, Sayang," timpal Onyx seraya mengambil napas. Ia harus menunduk ketika berbicara dengan Hawaii.


"Tunggu dulu," Hawaii menahan tangan Onyx ketika pria itu hendak berlutut di depannya. Tangan Hawaii yang gemetar sekaligus mendadak dingin ditariknya kemudian ke belakang tubuh.


"Ada apa?" Onyx tetap tenang sementara Hawaii terlihat gagap.


"Sebelum melakukan itu, berjanjilah terlebih dahulu, Tuan Alistaire... Bahwa kau mencintaiku dengan sepenuh hati," tangan Hawaii kembali memegang lengan Onyx. Kini tangannya bukan berada di level gemetar melainkan tremor. Sungguh ia tidak bisa menenangkan gejolak yang menguasai dirinya!


"Hawaii Capucine, Sayangku. Tentu saja aku mencintaimu," suara lembut Onyx sekaligus tangkupan tangan di pipi sebelah kanan membuat Hawaii hampir terjatuh ke rumput. Onyx menahan tubuh kekasihnya dengan menariknya masuk dalam dekapan.


Hawaii menggeleng. "Ini tidak bisa dilanjutkan," erangnya lemah.


"Aku melamarmu?"


"Hah?" Hawaii merespon dengan terpekik. "Tidak.. Tidak!" gelengnya kuat sambil mencengkeram jaket Onyx pada bagian lengan.


"Terus apa?" Onyx tersenyum geli melihat tingkah Hawaii.


Bibir kecil Hawaii mengerucut. "Maksudku Yang Mulia tidak boleh meneruskan berkata lemah lembut dan menyanjungku... Aku bisa pingsan. Tahu tidak jika aku juga lemah,"


Onyx menggigit bibirnya, ia menahan tawa dan luapan rasa bahagia mendengar perkataan Hawaii. "Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, Hawaii Capucine,"


"Yang Mulia!" pekikan Hawaii sepertinya terdengar sampai ke tempat sang pilot dan seorang pengawal yang sedang duduk menunggu mereka. "Bagaimana bisa seorang Tuan Alistaire bisa mengeluarkan banyak kata cinta hari ini,"


"Aku bahagia, Hawaii. Sangat bahagia. Di kepalaku sekarang terisi dengan masa depan bersamamu. Aku siap menjalani tugasku dalam susah dan bahkan sangat berat tapi bersamamu. Aku akan sangat terhibur menghabiskan usia dengan wanita seperti dirimu," sorot mata Onyx meneduh ketika menyuarakan isi hati dan kepalanya yang sedang sejalan.


Hawaii tertunduk, lehernya tercekat oleh bahagia yang membuncah. Pun manik hazel itu berkaca-kaca kemudian jatuh dalam rintik yang pelan.


"Perkataan Tuan Alistaire adalah janji," suara Hawaii serak dan bergetar menimpali perkataan pria pujaannya. "Aku akan menemanimu melewati semua ujian hidup, Tuan Alistaire. Mungkin usiaku masih teramat muda tapi aku pun berjanji mendedikasikan hidupku, hatiku, seluruh jiwaku kepadamu... dan Mersia,"


Ketika Hawaii menyebut kata Mersia, air matanya tumpah. Ia sadar jika tugas dan beban yang menantinya bukan suatu hal yang main-main.


"Kamu siap melepaskan masa mudamu, Sayang? Di mana para gadis bebas berpesta, berpetualang keliling dunia," Onyx memastikan kembali kesiapan Hawaii.


"Aku istimewa, Tuan Alistaire. Itu yang membedakan diriku dan mereka. Tuhan memilihku. Tuhan mempertemukan aku denganmu. Saat pertemuan kita yang pertama, sebelumnya sama sekali tidak pernah memikirkan pria seperti apa yang kuinginkan namun seperti ada suara yang membisik pria seperti ini adalah tipeku. Ya, aku siap," tengadah Hawaii berkata panjang penuh kesungguhan.


"Aku seperti mendengarkan seorang wanita berusia 30 tahun," Onyx tertawa hidungnya terangkat dan matanya menyipit.


"Hantu laut merasukiku," Hawaii menoleh ke arah samping. Laut biru menjadi saksi bisu percakapan mereka.


Onyx mengangguk. "Baiklah, kalau begitu aku melanjutkan tugasku," katanya sambil melangkah mundur kemudian berlutut di depan Hawaii.


Wanita muda bersurai ikal tidak bisa menyembunyikan ekspresi kagetnya. Kedua tangan menangkup bibir kecilnya. Sepasang mata hazel memburam dan jantung berdegup kencang. Ia menunggu!


Onyx mendongak bersamaan kotak persegi di tangannya terbuka. Ia melihat jelas bola mata berwarna hazel milik Hawaii meluruhkan rintik tebal. Onyx tidak pernah berlatih di dalam kamar untuk melamar gadis polos yang penuh semangat itu. Momen hari itu merupakan percobaan pertama dan terakhir.


"Banyak hal yang belum kau ketahui tentang diriku, Hawaii. Aku pun begitu. Kita akan belajar satu sama lain dengan memegang teguh janji untuk sehidup semati. Maka dengan ini, Miss Hawaii Capucine wanita yang paling kucintai... terimalah diriku sebagai pendampingmu. Menikahlah denganku,"


...


Hans tergesa-gesa memasuki ruangan kerja sang putra mahkota. Ekspresi pertama yang didapatkan Hans adalah tarikan alis kanan Philip yang naik menimbulkan kerutan dalam di dahinya.


"Ada apa?" tanya Philip mendahului Hans.


Pengawal merangkap orang kepercayaan Philip meletakkan koran di atas meja.


Mata Philip membelalak membaca judul halaman koran tersebut.


"PEWARIS TAHTA MEMILIKI ANAK DI LUAR NIKAH"


"Siapa yang mengeluarkan berita sampah seperti ini?" geram Philip meremas bagian pinggir koran yang menampilkan penuh foto wajahnya.


"Kita akan menggugat koran ini, Yang Mulia," balas Hans. Wajahnya terlihat tegang melihat kemarahan Philip yang masih ditahannya.


"Isu-isu seperti ini sudah lama tidak dipakai, hal yang tidak masuk akal. Kenapa harus sekarang muncul kembali?"


"Tidak tahu, Yang Mulia,"


Philip mengetatkan rahangnya, mata memejam sambil berpikir. "Nada di New York tapi cepat atau lambat berita ini sampai di telinganya. Aku akan berangkat malam ini menyusul tunanganku. Aku tidak mau Nada percaya dengan berita seperti itu. Kau harus menyelesaikan urusan dengan koran ini, cari sampai ke akar-akarnya,"


"Baik, Yang Mulia,"


...


"Kau ingin memesan minuman lain?" tawar Serenade kepada Kaluna.


Gadis belia berusia 18 tahun itu hanya melirik kemudian menggeleng.


Serenade menghela napas kemudian menaikkan tangannya. Tidak butuh lama seorang pelayan restoran menghampiri mereka.


"Saya ingin menambah satu Spring Rolls," kata Serenade kepada si pelayan.


"Satu Fish Chips dan Lemonade Slushie," serobot Kaluna.


"Hanya itu?" Serenade memastikan pesanan Kaluna. Ia tidak mau tertipu dengan adiknya lagi.


"Ya, hanya itu, Yang Mulia," jawab Kaluna meletakkan ponselnya kemudian menatap Serenade dengan seringaian khas yang diwariskan sang papa.


"Hush," Serenade mengingatkan Kaluna untuk tidak sesumbar selama di kota itu.


"Ian, hanya itu pesanan kami," Serenade menatap pelayan dengan ramah.


"Thank's," Kaluna menaikkan tangannya seakan memberi kode atau lambaikan kepada Ian, pria yang diperkirakan berusia akhir 20an.


Serenade memerhatikan sikap Kaluna sambil menggelengkan kepala. "Kau terlihat gampang tergoda dengan pria yang jauh dari usiamu,"


Kaluna menyeringai lalu tertawa. "Maafkan aku, Yang Mulia-kakak sepupuku yang sangat cantik,"


Serenade hanya berdecih pelan. Ia sangat yakin jika tingkah laku bebas selama di New York tidak menjadi perhatian para pencari berita. Ia bisa berkamuflase menutupi rambut keemasannya dengan wig hitam. Tentu saja itu atas saran dari Kaluna.


"Tapi jika boleh jujur, Prince Philip sangat tampan dan seksi," celetuk Kaluna tanpa beban.


Serenade tersenyum mendengar perkataan adiknya. "Kau tergoda?"


Kaluna mengangguk. "Tentu saja,"


Serenade merangkul bahu Kaluna dengan akrab. "Dia bisa jadi milikmu, Philip-ku yang berharga..."


Kaluna mencibir ketika beradu mata dengan tatapan tajam milik Serenade. "Aku bisa melangkahi mayatmu, Kak," ucap Kaluna seakan tahu kalimat Serenade selanjutnya.


"Dasar," sungut Serenade sambil melepaskan rangkulannya. Ia kemudian tertawa, suara Kaluna bahkan lebih keras. Beberapa orang menoleh melihat kedua wanita cantik bersurai hitam yang sedang tertawa lepas.


"Pesona pria dewasa itu sangat luar biasa, Yang Mulia. Ketika melihat sosok Prince Philip yang nyata di hadapanku saat itu juga tubuhku ingin melompat ke pelukannya. Kau sungguh beruntung membuatnya jatuh cinta,"


"Yang Mulia pernah tergila-gila dengan Princess Hiver,"


"Aku tahu, Papa dan Mami Isla yang menceritakannya langsung. Tapi itu masa lalu, Kak. Kau memilikinya di masa sekarang dan masa depan. Mungkin pada masa Princess Hiver, Prince Philip belum seperti yang sekarang. Tahu tidak, pangeran yang memiliki masa lalu seperti Prince Philip justru lebih menarik dibandingkan pria yang hidupnya berjalan datar. Sungguh menantang dan sebuah prestasi bukan? Menaklukkan seorang Philip Bernadotte,"


Serenade tertawa kecil, kali ini ia menghindari tatapan pengunjung restoran.


"Aku merasa tidak menaklukkannya, semua terjadi dengan natural," kilah Serenade. Ia lalu mengesap teh yang menjadi kebiasaannya di Swedia setiap sore.


"Secara tidak langsung,"


Serenade menarik tangan Kaluna lalu menggenggamnya. "Terima kasih mau menemaniku,"


"Seharusnya aku melanjutkan pendidikan tapi Papa memintaku ke Swedia. Aku harus memberikan alasan logis di depan Prince Philip agar dia percaya. Dua tahun kata Papa setelah waktu itu Lady Serenade Bernadotte sudah beradaptasi dengan kehidupan di Royal House, sudah tahu siapa orang-orang yang bisa dipercayai. Dan tentu saja sudah memiliki anak,"


Wajah Serenade sontak bersemu merah. "Anak?" cicitnya.


Giliran Kaluna menyorongkan badannya ke samping. "Kalian sudah pernah melakukannya? Aku tahu kalau kalian sering tidur bersama," bisiknya tepat di telinga Serenade.


"Belum," aku Serenade.


"Amatir!"


Serenade tergelak lalu meremas lengan Kaluna yang berotot. "Memangnya kau pernah?" selidik Serenade.


"Papa akan membunuh pria yang berani menyentuhku. Tidak, maksudku.. Kau tidur dengan pria terseksi dunia, Kakakku. Ah, demi Tuhan!"


Serenade akhirnya tidak bisa lagi menahan tawanya. Ia kembali tertawa, pun ia merangkul adik sepupunya. Kaluna Rose, pengawal sekaligus orang kepercayaannya selama dua tahun ke depan.


...


Benjamin Murphy memandang layar ponselnya lalu menekan tombol menghubungkan. Beberapa kali ia mencoba namun nomer yang ia tuju membuatnya naik darah seketika.


Tangan pria berusia awal 40 tahun itu terlihat gemetar menahan amarah ketika merangkai pesan yang akan dikirim kepada orang yang mengabaikan panggilan telefonnya.


Jeanne, kau bersikap sombong sekarang. Kau pikir aku tidak tahu jika anakku satu-satunya telah menjadi tunangan Prince Alistaire Onyx. Aku tidak akan membiarkan kau menikmati kehidupan mewah itu sendiri. Hawaii adalah darah dagingku, aku pun berhak mendapatkan apa yang kau terima.


......................