
Tubuh Lou bergetar melihat Philip semakin menghampiri tempat tidur, tangannya meremas selimut. Jantung berdebar, bulir kecil peluh keluar
dari pori-porinya. Lou menelan saliva membasahi tenggorokannya yang mendadak kering kerontang.
Philip menghempaskan badannya di atas tempat tidur, Lou kaget. Jantung berusia 23 tahun melemah di depan pria dewasa berbadan tinggi
besar.
Philip menoleh melihat wajah ketakutan Lou seraya mendengus sinis “Tenang. Aku tidak akan bercinta denganmu. Kau bukanlah Hiver.” katanya
datar sambil menarik selimut lalu membelakangi Lou.
Entah Lou harus bersedih atau senang mendengar perkataan dingin Philip namun sepertinya pria itu serius. Lou tetap memerhatikan punggung polos berotot milik pria yang mengikatnya dalam tali pernikahan. Sebuah pernikahan yang tidak pernah ia inginkan sebelumnya, Loh bahkan tidak mengenal dalam pria yang dinikahinya, kecuali perasaan cinta yang sangat besar kepada Hiver.
Lou mengetahui perihal perasaan Philip lewat dua saudara laki-lakinya yang terkenal banyak bicara, berbeda dengan sang kakak perempuan yang cenderung tertutup. Keputusan menikah dengan Orion masih menjadi tanda tanya besar di hati Lou, terlebih ketika melihat kemesraan yang ditampakkan Hiver dan suaminya ketika berkunjung ke Perancis Selatan.
Sedikit ada harapan muncul di benak Lou terhadap pernikahannya dengan Philip, tentu saja ia yakini akan bertahan hingga selamanya. Lou tidak bodoh, ia banyak belajar sejarah tentang sistem kepemimpinan monarki. Umumnya sebuah pernikahan terjadi bukan karena kedua pewaris itu
saling jatuh cinta, melainkan melalui sistem perjodohan. Walau seperti itu, mereka tetap bersama sampai ajal memisahkan.
“Menurutmu Princess Hiver sudah tidur?”
Baru saja Lou hendak merebahkan badan, dan suara berat itu kembali mengagetkannya.
Tubuh Philip berbalik dengan sorot mata terlihat sendu, Lou terbata tak tahu harus menjawab apa.
“Kau adiknya, kau pasti tahu jadwal tidur Hiver.” tanya Philip antusias, ia melupakan jika Lou adalah istrinya. Sikapnya justru seperti tuan
kepada seorang mata-mata berbayar.
“Kau berbicara kepadaku?” Lou bertanya balik, ia kaget dengan perubahan nada bicara Philip tidak sedingin dan sekasar tadi.
Manik lion itu memutar malas menanggapi perkataan Lou.
“Tentu saja kepadamu, hanya kita berdua di ruangan ini. Aku ulang pertanyaanku, Princess Lou. Apakah Hiver sudah tidur?”
Lou menarik napas yang sangat pelan, dan berharap Philip tidak mendengar suara yang berembus dari indera pernapasannya.
“Princess Hiver tidur tepat waktu, jam 10 malam. Jika tidak memiliki tugas di luar, Yang Mulia.” Jawab Lou sedikit ragu dan masih tidak percaya dengan dirinya yang sangat lancar membalas perkataan Philip.
Philip sedikit riang. Sejenak ia diam memikirkan pertanyaan berikutnya.
“Sekarang baru jam 9 lewat, berarti Hiver belum tidur. Aku pernah memberinya telepon genggam dan entah kemana dia membuang benda itu.
Apakah Hiver masih menjadi orang yang anti teknologi?” tanya Philip terdengar akrab.
Lou mencoba memahami posisinya, ia tak lebih adik dari wanita yang dicintai Philip. Tidak ada yang perlu ditakutkan malam ini, mungkin
juga selanjutnya.
Wanita bersurai coklat itu menarik selimut hingga ke leher, menenggelamkan tubuhnya dalam kelembutan kain sutra yang seharusnya menjadi
saksi bisu malam pertama pasangan pengantin baru itu. Kurang lebih Lou telah menyiapkan
diri andaikata Philip menginginkan hal tersebut, karena sudah menjadi tugasnya sebagai seorang istri.
Sayang, atau Lou harus mengucapkan rasa syukur hal itu tidak terjadi. Jujur, ia tidak pernah memiliki pengalaman dekat dengan pria selain dengan kedua saudaranya.
“Kak Hiver memiliki ponsel pribadi yang hanya digunakan untuk menghubungi kami sekeluarga.” Terang Lou pelan.
“Bolehkah aku meminta nomer ponselnya, sekarang aku juga adalah keluarga Mersia.” Tuntut Philip semakin semangat.
Lou terdiam memikirkan banyaknya nasehat Hiver. salah satunya untuk tidak mempercayai Philip. Lou boleh memberikan tubuh, tapi jangan hati. Ia akan terluka, kata Hiver.
Betul kata putri pertama King Robert, belum apa-apa Lou sudah merasakan kecewa.
“Jadi, kau akan memberikan nomer Hiver?” suara berat itu kembali mengagetkan Lou.
“Maafkan aku, Yang Mulia. Sepertinya kau harus memintanya secara langsung. Aku takut Princess
Hiver akan marah jika aku melakukan itu.”
Philip mendesah panjang, kemudian kembali membalikkan badannya.
“Hiver ada di kastilnya, bukan?” Philip menggeram rendah. Berusaha memejamkan mata, mengingat setiap kesempatan kebersamaannya dengan
Hiver. Wajah dingin, senyum samar, manik hijau dan perkataan datar bahkan tangan halus Hiver saat menampar pipinya, semua itu adalah pengantar tidur sang pewaris tahta.
“Iya, Princess Hiver dan suaminya di Dundas.” Jawab Lou diikuti lampu di atas nakas dimatikan oleh Philip.
…
Orion berjalan pelan menghampiri sosok indah menatap kegelapan malam, gaun tidurnya berkibas di tiup angin, bak bidadari dengan
surai hitamnya.
“Marjorie.” Tegur Orion pelan sambil berdiri tepat di sebelah istrinya. Wanita yang tadi siang berani melanggar aturan dengan mengecup pipinya di muka umum.
“Ya.” Lirih Hiver menyahut, kedua tangan spontan memeluk lengan Orion.
“Kau memikirkan Lou?” tanya Orion seraya mengecup puncak kepala Hiver, wanita kini itu bersandar di lengannya.
Mata Hiver mendadak panas, air matanya jatuh di pipi. Tangannyamengendur kemudian bergerak sedikit masuk ke dalam pelukan Orion. Pria berwangi maskulin earthy membalas pelukannya, bahkan mengusap surainya dengan lembut,
hembusan napas memanaskan puncak kepala ketika Orion memberikan kecupan singkat di sana.
“Harusnya dia tidak melakukan ini, Orion. Harusnya aku..” Hiver memotong perkataannya seraya menaikkan kepala, menatap wajah cantik si pria bermanik biru gelap.
Orion menggeleng “Kau tidak memikirkan diriku, Marjorie? Andai kau bersama dengannya, aku menikah dengan siapa? Sementara hanya ada satu wanita yang kuimpikan, hanya dirimu.” Ucapnya jujur.
Giliran Hiver menggeleng dan menatap Orion, pria bersurai emas menampakkan kesedihan pada rautnya.
“Bagaimana kau bisa memiliki perasaan sedalam ini dan memendamnya lama. Aku tidak pernah habis pikir, Orion.” Tangan Hiver yang gemetar menyapu wajah indah Orion.
Sejenak Orion memejamkan mata menikmati sentuhan wanitanya, semua nyata bukan mimpi yang berpuluh tahun diinginkan dari kejauhan.
“Aku bisa memecahkan sebuah rumus rumit di dalam kepalaku. Aku bisa membuat game petualangan yang sedemikian hebat dan kerennya, tapi tentang cinta aku tidak pernah memiliki kekuatan untuk mengungkapkan, hanya bisa
melihatmu dari dekat tanpa bersuara, Marjorie. Pada masa aku merasakan cinta ini, kau melihat saudaraku, River. Perhatian dan waktumu hanya untuknya, seluruh tawa dan candamu karenanya. Aku tidak memiliki kemampuan berbicara seperti saudara-saudaraku kepada orang lain. Kalau kau ingin tahu dari mana aku mendapatkan kepribadian unik ini, Marjorie.” Orion mengambil napas sambil menarik tubuh Hiver semakin merapat dengan badannya. Mungkin saja deru jantungnya bisa terdengar jelas di telinga Hiver.
“Ya?” Hiver mengerjapkan manik hijaunya, bibir Orion begitu dekat dan aroma manis tercium ketika pria indah itu bersuara.
“Kakek dari mama, aku seperti dirinya. Tidak banyak bicara, tapi dengan orang yang dicintainya akan lebih santai dan menjadi cerewet. Kenapa?
Ya, karena kami mempercayai orang itu. Kau memiliki jiwaku, Marjorie.”
“Tuhan.” pekik pelan Hiver.
Orion tersenyum lalu mengecup kening Hiver “Jadi, tolong jangan berandai-andai, Marjorie. Cerita kita sudah berada di jalannya, aku tidak akan mungkin melepaskanmu, demi apapun itu.”
Hiver tak kuasa mendengar suara mendayu yang membuat jantungnya berdetak hebat. Kepalanya menunduk dan kembali mencium wangi dada
Orion. Pria yang mengungkapkan perasaannya dengan gamblang, kaki Hiver seakan tak menjejak pada lantai. Ia melayang, setinggi tubuh Orion karena pria itu tidak melepaskan pelukannya.
“Marjorie, apakah kau menyesal menikah denganku?”
Orion mengembuskan napas lega, lalu mengoyangkan ke kanan dan ke kiri tubuh yang melengket dengannya.
“Berdansalah denganku, Marjorie. Kita merayakan cinta.” Suara Orion mendayu menenangkan, Hiver semakin tidak ingin melepaskan pelukan. Bahkan jika boleh, ia ingin tidur sepanjang malam dalam dada hangat Orion.
Pria yang membuatnya kembali merasakan cinta.
…
Hampir tengah hari di Dundas, Hiver berjalan di sekitar kastil. Beberapa pelayan menemaninya walau dari kejauhan. Sialnya, pagi yang seharusnya menjadi satu episode romantisme Hiver dan Orion, harus berakhir lebih cepat oleh pekerjaan yang tidak bisa di tunda. Siapa lagi jika bukan pemilik saham terbesar Bluette Corporation. Perusahaan yang merajai bisnis teknologi dunia, bersama dengan River, Orion menguasai dunia.
Ada kendala pada game terbaru yang di launching Bluette, dan kantor pusat membutuhkan Orion, otak dari segalanya. Apa daya Hiver selain memberikan suaminya kepada perusahaan itu, walau sepenuhnya ia tidak rela.
Hiver pernah mengatakan kepada Orion, jika kesempatan di Mersia akan digunakan untuk memperkenalkan hal yang tidak diketahui pria itu. Bahkan Dundas merupakan hal baru bagi Orion, berbeda dengan River yang sering berkunjung di kastil itu. Jika mereka berjalan 300 meter ke arah selatan Dundas, mereka akan menemukan sebuah air terjun, Hiver ingin mengajak Orion kesana.
Mungkin nanti atau besok, setidaknya mereka masih memiliki waktu tiga hari sebelum kembali ke Perancis. Kesempatan itu ingin digunakan Hiver dengan sebaik mungkin dengan prianya.
Langkah Hiver terhenti ketika melihat primroses liar tumbuh di sudut jalan berbatu, ia berjongkok dan memegang bunga bermekaran dengan senyuman tipis tersungging di bibirnya.
“Indah seperti dirimu.” Suara berat dan rendah mengagetkan Hiver. Kakinya melemah tidak bisa menopang tubuh. Ia kemudian jatuh terduduk pada separuh jalan berbatu dan rumput hijau yang masih basah.
Tangan kokoh terulur membantu Hiver namun di tepisnya. Ia kemudian berdiri walau sedikit susah payah, bergerak mundur menjauh dari sosok dominan itu.
“Untuk apa kau ke sini?” tanya Hiver dengan dingin. Tangannya sibuk mengepakkan bagian bawah gaunnya yang berwarna lime.
Philip tertawa kecil, manik lionnya melembut dan berseri. Seakan semalam ia mencapai kepuasan tertinggi manusia, terka Hiver.
“Tentu saja menemui kakak iparku. Apakah kalian akan menepi di sini, tidak ikut dalam beberapa acara kerajaan.” Basa-basi Philip yang sepenuhnya hanya ingin berbincang dengan wanita cantik itu.
Hiver mengamati penampilan pria yang menikahi adiknya. Philip terlihat santai dengan kemeja berwarna biru muda dan celana panjang kain berwarna broken white, entah alasan apa yang diberikan kepada pihak Palace hingga
berhasil sampai di Dundas tanpa pemberitahuan sebelumnya.
“Itu penting buatmu dan Lou, tidak bagi kami. Kau melarikan diri dari Palace, Prince Philip. Apa kata pihak istana mengetahui jika kau akan ke Dundas? Demi Tuhan, Tuan Bernadotte. Kita bukan orang biasa, segala
gerak-gerik diperhatikan. Ada aturan yang harus ditaati, ada norma-norma yang membatasi perilaku kita sebagai anggota kerajaan.” Tutur panjang Hiver tanpa senyuman dan rasa senang terpancar pada wajahnya melainkan musim dingin kembali menghampiri keduanya.
Philip masih tersenyum bahagia, ia menikmati setiap kata yang keluar dari bibir Hiver. Philip sangat yakin jika perkataan Hiver barusan adalah terpanjang yang pernah ia dengar.
“Aku tahu, Princess Hiver. Kita di didik dengan ilmu yang sama, mungkin lebih ketat dan lebih banyak kepadaku. Tapi rindu yang membawaku ke sini, aku ingin melihatmu.”
“Tidak!” sahut Hiver dengan suara naik satu oktaf dan sangat cepat. Ia menggeleng kepala dengan kuat.
Philip melangkah maju.
Wajah Hiver menegang “ Ini gila, Tuan Bernadotte. Tolong sadarlah dengan posisimu.” Suara Hiver meninggi kemudian tenggelam. Maniknya memburam, kepalanya masih menggeleng lemah.
“Ya, aku tahu posisiku. Tujuanku menikah dengan Lou agar bisa melihatmu, Hiver. Tolong, berbaik hatilah kepadaku.” Philip meminta dengan raut wajahnya yang memelas.
“Kau gila!” ucap Hiver, suaranya bergetar pun sedikit tubuhnya. Ia kemudian menaiki repumputan dan bergegas kembali ke kastil. Ia teramat jauh berjalan, hingga mencapai tepian pembatas kastil yakni deretan pohon pinus
Corsican. Butuh ratusan langkah untuk mencapai pintu samping kastil, sungguh ia harus bersusah payah.
“Princess Hiver, jangan seperti ini karena kita adalah keluarga, jika kau berlaku baik kepadaku maka Lou juga akan mendapatkan yang terbaik.”
Bak robot tubuh Hiver mendadak berhenti. Ia menoleh kepada pria bertubuh tinggi besar yang menyamai langkahnya.
“Apa?”
Philip mengulum bibir dan mengangguk “Ya, kalau kau baik denganku, Lou akan bahagia di Swedia. Aku ingin kau memberikan nomer ponselmu, agar aku bisa mengabarkan kabar Lou.”
Putri cantik itu menatap Philip dengan gamang.
“Lou bisa langsung mengabarkan keadaannya kepadaku.” Sahut Hiver.
“Tidak, nantinya Lou tidak memiliki ponsel pribadi. Ia akan seperti dirimu yang memiliki asisten yang sangat banyak, hanya hal baik yang akan dikabarkan oleh orang-orang itu. Ketika Lou sakit, beritanya tidak bisa sampai kepada orang lain kecuali melalui diriku, Princess Hiver.”
Hiver memandang Philip, pria itu berbicara dengan tegas dan penuh percaya diri. Justru kini ia berjalan mendekat ke arah pria itu, tangan Hiver menjulur ke atas.
“Berikan ponselmu, Prince Philip.”
Desahan senang keluar dari bibir Philip, dengan cepat ia mengambil ponselnya dari saku celana sebelum Hiver berubah pikiran.
Tangan Hiver sedikit gemetar ketika menekan layar ponsel Philip, setiap angkanya muncul membuatnya semakin gundah. Serba salah, ia ingin menjauh sejauh-jauhnya dengan pria di depannya, tapi Hiver mengingat adiknya yang bak permata polos kini telah jatuh di tangan Kerajaan Swedia. Sungguh, Hiver tidak tega membayangkan takdir yang dijalani Lou, sementara ia memilih melarikan diri ke Perancis.
“Terima kasih, Princess Hiver.” bibir Philip tersenyum dengan bahagia.
Hiver tidak peduli dengan kebahagiaan Philip, ia kemudian membalikkan badan. Tubuhnya tersentak melihat pria mengenakan sweater coklat berlari seringan kapas menuju ke arahnya.
Sosok Orion melewati tubuh Hiver, dalam kecepatan pesawat tempur semua hal terjadi. Tinju Orion bersarang di perut Philip, tubuh tinggi besar itu terhempas ke belakang sejauh dua meter dari tempatnya semula.
“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan dengan istriku, tuan. Tapi ini sudah di batas kesabaranku sebagai suaminya, dan peringatan pertama bagimu. Jika kau mendekati Marjorie lagi, aku tidak segan mencabut nyawamu.” Ucap Orion dengan tenang, sementara Philip melap darah segar yang keluar dari sudut bibirnya.
Tangan Hiver semakin gemetar, ia menatap tubuh ringkih Orion.
“Siapa dirimu sebenarnya, Orion?” bisik Hiver yang suaranya terbawa oleh angin.
###
alo kesayangan💕,
hujan sepanjang hari di sini, sendu dan syahdu tapi aku memilih menulis Mersia untuk kalian.
oh yah aku ingat apa yang ingin kukatakan.
dulu aku tidak percaya diri menulis masing-masing keluarga yang berawal dr Radit Girindrawardhana.
tapi akhirnya aku jg bersyukur, karena jika ada yang ingin plagiat, mereka harus mengambil beberapa novel.
wkkwkkwk,
mungkin gak ada sih yang berniat seperti itu..
btw, aku sudah memberikan Mersia berapa hari terakhir ini,
Senin kita kembali ke jalan yang benar..
Axel, Kai dan Jace menanti ❤.
so, have a nice weeekend y'all.
love,
D😘