MERSIA

MERSIA
Responsibility



Hari-hari River menjadi cerah dan ceria, alasannya adalah ia kembali dekat dengan Princess Hiver, sahabat sekaligus temannya sejak kecil. Adalah


inisiatif River untuk memulai menyambung tali pertemanan yang sempat lama merenggang. Misi River kali ini sekaligus untuk memenangkan hati sang putri.


Tangannya sempat gemetar ketika menekan layar dan menuliskan kata “baby” kepada Hiver. Butuh kekuatan besar mengumpul di hati untuk


melakukan itu. River sempat tercenung lama di dalam kamar tidurnya, sebelum akhirnya ia mengirimkan pesan itu kepada Hiver.


Menginjak hari kelima sejak pertama kali River memanggil Hiver dengan kata "baby". Mereka semakin intens berkirim pesan, kesibukan Hiver yang membuat River tidak leluasa untuk menelepon. Ya, sebatas kata dibalas pula dengan kata dari Mersia. Hal seperti itu saja sudah sangat


disyukuri River, bukan kenapa hubungan mereka semakin membaik dan lebih mesra.


Mesra dari pihak River, ralatnya. Hiver tidak, walau sangat lancar membalas pesan dan menerima panggilan “my baby Hiver”, putri Mersia itu masih bersikap seperti biasanya.


Baby, kau masih di Edinburgh ?


River menuliskan pesan kepada Hiver ketika meetingnya telah berakhir dan mendapati pesan yang ia kirim sebelumnya belum terbalaskan.


Tadi pagi River masih sempat berbalas pesan dengan Hiver, gadis itu mengatakan jika sedang dalam perjalanan menuju Edinburgh menggunakan mobil. Bukan menggunakan chopper Palace, alasannya kendaraan udara digunakan oleh sang raja dan adiknya.


Sembari menunggu balasan, River menyibukkan diri dengan beberapa dokumen penting yang menunggu persetujuannya.


Ketika ponselnya berdenting dengan nada khusus, seketika itu pula River menghentikan pekerjaannya.


Riv, aku masih di Edinburgh sekarang dalam perjalanan pulang. Kau masih di kantor ?


Seutas senyum menghiasi wajah River. Pria bersurai coklat itu seraya menyandarkan punggung dengan santai pada kursi kerjanya. Hal yang paling dinanti telah membalas pesan.


Masih, aku menunggumu.


Tak sabar menunggu pesan balasan Hiver, pimpinan Bluette Corp itupun mengetikkan sesuatu di layar ponselnya.


Kau sangat sibuk, tuan putri. Sebenarnya kapan kau ada waktu untukku ?


Kursi putar berwarna hitam dari kulit menjadi saksi kegelisahan River yang menunggu balasan Hiver. Untungnya kursi tersebut buatan dari


perusahaan terkenal dengan kualitas produknya hingga digoyangkan sekuat apapun tidak


menimbulkan bunyi deritan.


Beberapa menit berselang ponsel di tangan River berbunyi dengan nada khusus.


Hai Riv, maaf barusan aku meminta asistenku untuk pindah ke mobil satunya. Sekarang hanya aku dan Mr. Timo yang berada di mobil.


River terkekeh. Demi menelepon dirinya, Hiver bahkan memindahkan asistennya dan menyisakan Mr. Timo yang merupakan kepercayaan sang


raja.


“Aku mengganggumu, Princess Hiver.”


Jika boleh jujur sebenarnya mereka sama-sama sibuk dengan rutinitas harian. Dan hal yang membuat River sedikit kesal, yakni tidak ada waktu yang pas untuk mereka saling berbincang lama. Selalu ada jeda yang membuat mereka


kembali ke awal.


Sebenarnya bukan kembali ke awal seperti lima hari yang lalu melainkan terkadang ada satu momen River hendak mendekati Hiver lebih jauh, dan kesibukan pun mulai menjeratnya. Dan ketika malam tiba, mereka bergantian memiliki kesibukan yang lebih panjang.


Tidak, Riv. Kau sama sekali tidak menggangguku. Aku menyukai kita seperti ini. Temanku akhirnya kembali.


River tersenyum kecut mendengar suara riang di telinganya. Sama sekali ia tidak ingin lagi menjadi teman Putri Mersia itu, 27 tahun mereka tumbuh


sebagai teman, bahkan seakrab saudara.


“Apakah kau menyukaiku, baby?” suara nyaris berbisik, dadanya bergemuruh akan detakannya di atas normal.


Helaan suara halus Hiver mengakibatkan desiran darah River melaju lebih cepat.


Tentu saja aku menyukaimu, Riv. Kau sangat tahu diriku jika tidak pernah membencimu. Kau adalah laki-laki yang sangat mengenalku, paling aku percaya setelah keluargaku.


River memainkan surai coklatnya sambil mendengarkan perkataan Hiver.


“Apakah aku boleh bertanya lagi kepadamu, baby. Apakah kau masih mau menjawab?” tanya River yang mengabaikan perasaan kecewa atas jawaban gadis berparas dingin dan cantik itu.


Katakan, Riv.


Desahan lembut keluar di bibir Hiver melonjakkan desiran dada River. Bahkan ia punya kekuatan untuk terbang ke Mersia saat itu juga dan


melihat langsung bahkan memeluk gadis yang dirindukannya.


“Apakah putri seperti dirimu bisa menikah dengan orang biasa, seseorang yang tidak memiliki mahkota. Andaikata ada seorang yang biasa


memiliki perasaan besar kepadamu, apakah kau akan menerimanya? Apakah kau memiliki kriteria pria pendamping hidup? Aku bertanya kepada Hiver yang dewasa bukan kepada gadis remaja yang aku ajar merokok.”


Hiver terderai tawa, River membayangkan wajah gadis cantik itu. Sesuai namanya, Hiver seperti musim dingin di Mersia. Dingin menembus


tulang, di saat sama kau jatuh mencinta dengan dalam.


Kenapa kau menanyakan ini, Riv ? Kenapa tidak menghubungi langsung King Robert, bertanya langsung apakah anak pertamanya bisa menikah


dengan pria selain seorang putra mahkota. Hahaha, kau lucu River Phoenix. Aku lihat


dulu siapa pria yang mempunyai perasaan besar itu, apakah dia tidak memiliki wanita lain ? Perlu kau ketahui, Riv. Aku berkaca dari kisah cinta King Robert, walau susah mendapatkan pria seperti papa, tapi aku menginginkan seorang laki-laki


memiliki jiwa pejuang yang tinggi. Cinta harus diperjuangkan, Riv. Menunggu pun termasuk berjuang, ya sebuah perjuangan bahwa suatu hari penantian itu bukanlah sesuatu yang hal sia-sia untuk dijalani.


Suara tenang dan mengalir begitu saja menuturkan isi hatinya, River tidak bisa menebak seperti apa mimik Hiver sekarang. Namun ia


sangat yakin jika perkataan Hiver menyindirnya. Apakah Hiver tahu jika pria yang mencintai besar itu adalah dirinya.


“Hiv, aku akan ke Mersia akhir pekan ini. Bagaimana jika kita bertemu di Dundas?” tawar River memutuskan jika pembicaraan seserius ini tidak bisa diselesaikan lewat telepon.


Butuh berapa detik baru terdengar suara parau dari Hiver


Ya, Riv. Aku akan menunggu kedatanganmu.


River memejamkan mata menghayati setiap rasa bahagia yang bermunculan di dada.


“Sampai ketemu lusa, my baby.” Janji River mengakhiri sesi panggilan telepon yang mendekatkan beberapa ratus kilometer antara Lyon dan Mersia.



River memarkirkan kendaraan di depan mansion orang tuanya, karena pekerjaan ia kembali melewatkan makan malam bersama dengan keluarganya. Jam mewah bertengger di tangan menunjukkan pukul 20.25 waktu Lyon ketika River berdiri di depan pintu yang telah terbuka. Sejak Carole pergi, River sepenuhnya kembali ke mansion orang tuanya. Kembali tinggal bersama dengan dua saudarinya.


Sebenarnya River membagi waktu ketika Carole masih ada, hanya ketika 3 malam akhir pekan ia berada di apartemen selebihnya menginap di mansion.


Suara tawa terhenti ketika River berjalan memasuki ruangan tamu kedua, mansion orang tuanya memiliki tiga tempat untuk menerima tamu.


Tubuh tinggi kekar dibalut coat biru menghentikan langkah ketika melihat Autumm, Kaia dan Carole berada di sofa. River menatap dengan alis bertaut pada Carole, gadis mengenakan v-neck sweater langsung berdiri menyambutnya.


“River.” Panggil Adrien mengalihkan fokus River kepada Carole. Ia lalu berbalik kepada pria paruh baya berdiri tidak jauh dari tangga.


“Ya, dad.” River mengacuhkan keberadaan Carole dan memilih berjalan menghampiri Adrien.


Adrien langsung merangkul bahu River “Kita bicara di kamar papa, ada mamamu menunggu di sana.” Ucapnya memimpin langkah.


River melipat bibir dengan hati tidak karuan, ia melihat mamanya duduk di sofa dengan wajah tegang. Mau tidak mau ia pun juga ikut duduk


di salah satu single sofa, Adrien bersebelahan dengan Isla.


“River tidak tahu apa maksud daddy dan mommy memanggilku. Dan kenapa ada Carole di luar? Apakah mama yang mengundangnya?” tanya River menunggu dengan hati yang was-was.


Isla menggeleng samar “Tunanganmu datang sendiri, sayang. Mama tidak pernah mencampuri hubungan kalian. Ya kan, kak?” ujarnya menoleh


kepada suaminya. Adrien berdeham rendah.


bertengkar pada malam itu. Tapi sekalipun kau tidak mencarinya, River. Padahal Carole berada


di rumah orang tuanya. Kenapa kau seolah membiarkan masalahnya mendingin tanpa ada solusi.” Bijak Adrien menasehati anaknya.


Kali ini River menggelengkan kepala “Daddy, Carole yang meninggalkan apartemen. Bukan River, kenapa harus River yang membujuknya, jika


ingin kembali dia bisa melakukannya. Semua atas keinginannya, dad. Terus untuk apa dia kesini?”


Adrien menatap anaknya “Carole ingin memperbaiki hubungan kalian. Dia merasa sangat bersalah, kiddos. Carole tidak tahu bagaimana menghubungi, telepon dan pesannya kau abaikan. Jangan begitu kepada wanita yang kau cintai,


River.”


Bibir River terlipat lalu melengkung ke bawah.


Dulu, dad. Sekarang cinta besar itu sebentar lagi aku miliki.


“Daddy, berpikir jika sudah saatnya kalian menikah. Carole sudah lama tinggal bersamamu, keluarga besar kita juga sering bertanya.”


Kedua tangan River mengepal kuat-kuat, kesal mulai merajai hati dan pikiran sehatnya. Ia pun memandang bergantian Adrien dan Isla, kedua


orang tuanya.


“Apakah dia hamil?” tanya River terbata dengan mata menajam, setajam hatinya yang meruncing.


Isla menangkup bibirnya, Adrien tersenyum lalu menggeleng.


“Carole tidak hamil, kid. Menikah bukan berarti wanita itu harus hamil atau tidak, tapi ini tentang sebuah tanggung jawab, River. Kalian sudah


lama bersama, berapa banyak yang dikorbankan Carole untuk menemanimu, sebagai pria kau harus melakukan sesuatu. Bukankah kalian sudah bertunangan. Sekarang saatnya, River.”


River mendengus dengan mata memutar malas “Daddy, berapa banyak juga River korbankan demi dirinya. Dia sekarang di posisi itu berkat campur tangan River. River tidak mau hitung-hitungan materi tapi banyak waktu yang River berikan untuknya. Banyak orang River tinggalkan demi Carole. Setelah dia pergi, River mulai mengurai sesuatu yang kusut. Tidak pernah River selega dan sebahagia ini, dad.”


Adrien bertatapan dengan Isla lalu kembali menatap River yang mengeraskan rahang dengan manik biru yang sendu.


“Maafkan, daddy dan mommymu. Tapi kami tadi sudah sepakat dengan Carole dan orang tuanya agar secepatnya menggelar pesta pernikahan. Lebih baik menikah, dibandingkan kalian terus bertengkar tapi tetap kembali lagi. Apa yang kalian tunggu, Carole mencintaimu, River. Bukankah daddy pernah katakan untuk memilih wanita yang mencintaimu, dan mau meninggalkan impiannya untuk hidup bersama. Ya, Carole orangnya, River.”


Alis River berkerut, bibirnya digigit, maniknya memburam.


“Tuhan! Kenapa daddy melakukan ini! kenapa!” teriak lepas River histeris, tangannya meninju meja kaca di depannya hingga pecah


berantakan.



Setiap Jumat malam anggota inti Kerajaan Mersia berkumpul di ruang keluarga, itu merupakan jadwal tetap yang telah menjadi tradisi selama bertahun-tahun. Jika tak salah sejak Cyrus dan Lou menginjak usia 5 tahun.


Berbagai macam kue, buah kesukaan anak-anak King Robert dan Queen Summer tersajikan dalam ruangan megah dan mewah itu. Khusus untuk satu dalam dari seminggu dihabiskan untuk membicarakan hari-hari yang telah dilalui. Segala masalah, pekerjaan hingga kehidupan asmara menjadi topik utama.


“Pa, tolong abaikan undangan dari Prince Philip.” Hiver mengutarakan kegelisahan hati karena pendekatan pangeran Swedia itu semakin gencar. Hampir setiap hari ia mendapatkan bingkisan kado dari pria bermanik lion.


Robert Finlay, sang raja terkekeh sementara dua anak laki-lakinya bersiul menggoda Hiver.


“Sudah pa, diterima saja. Apa coba kurangnya pangeran sesempurna itu?” Cyrus mengompori dibalas tatapan tajam dari Hiver.


“Kurang banyak.” Sungut Hiver di respon derai tawa oleh anggota keluarganya.


Onyx merangkul Hiver “Kau ingin memiliki dua suami, Princess Marjorie Hiver.” godanya, Hiver spontan mencebik.


“Papa, tolong jangan dengarkan mereka.” Protes Hiver bertingkah manja. Dua wanita lainnya memilih terkekeh. Summer sedang mengepang


surai Lou, tidak tertarik mengganggu Hiver. Onyx dan Cyrus sudah cukup membuat Hiver kewalahan.


Robert Finlay menaikkan bahunya, maniknya melembut menatap Hiver “Darlin’, semua papa serahkan kepadamu, jika kau ingin menikah dengan siapapun papa pasti setuju. Tapi jujur Philip sangat menyukaimu. Berbagai macam


pendekatan Kerajaan Swedia lakukan, beberapa perjanjian bisnis yang sangat menguntungkan Mersia ditawarkan oleh mereka. Tetap papa tidak menanggapinya dengan serius. Semua kembali kepadamu, darlin’. Kekasih papa ini mau menikah dengan pria seperti apa? Jika Philip tidak masuk dalam kriteria, seperti apa pria idamanmu, Marjorie Hiver?"


“Big sis menyukai pria yang bermanik biru.” Celetuk Cyrus.


Mata Hiver melotot kepada Cyrus, si jahil itu tergelak tawa keras.


“Mama sampai lupa, omong-omong keluarga Bluette akan menikahkan anaknya.” Ujar Summer dengan senyuman mengembang lebar.


Seketika ruangan keluarga itu menjadi sunyi senyap.


“Siapa yang akan menikah, My Lady?” Robert Finlay bertanya kala keempat anaknya tidak ada satupun yang berani bersuara.


Summer mengembuskan napas dalam dan menatap satu persatu anaknya “River, ya River Phoenix akan menikah dengan Carole, tunangannya.”


Tubuh Hiver membeku, pun hatinya.


Cyrus bergerak cepat dan berdiri menarik tangan Hiver yang lunglai.


“Pa, ma. Cyrus meminjam big sis.” Ucapnya sekaligus memeluk pinggang Hiver.


Robert Finlay dan Summer hanya mengangguk, membiarkan Hiver di bawa Cyrus keluar dari ruangan keluarga.


Langkah Hiver terseret tak bertenaga, tangan kanannya dan tangan kiri Cyrus terjalin dengan kuat, mungkin juga dirinya meremas kuat


tangan adiknya.


Hiver pasrah ketika Cyrus membawanya masuk ke kamar tidur pribadi adiknya.


Ketika pintu tertutup, tubuhnya merosot ke lantai. Kedua tangannya bertumpu pada marmer dingin, sedingin hatinya juga sedingin cuaca di luar sana.


“Cyrus.” Lirih Hiver mulai menangis. Manik hijau itu memerah bak darah.


Cyrus menggeleng kuat lalu memeluk tubuh Hiver yang tersengal akan tangisan yang di tahan untuk tidak tumpah ruah.


Bunyi pintu terbuka dan menutup membuat Hiver dan Cyrus berbalik, sosok tinggi berjalan tergesa.


Hiver langsung berdiri dan berhambur ke dalam pelukan Onyx.


“Apa yang harus aku lakukan padamu, Marc?” Kesedihan Hiver menjadi kesedihan Onyx dan Cyrus. Ketiganya berpelukan, saling


menguatkan seorang gadis dingin yang pertama kali menangis dalam hidupnya.


###


Carole



River



Hiver



alo kesayangan💕,


haruskah besok masih Hiver?


atau Axel? Kai? Jace?


keputusan di tangan kalian..


love,


D😘