MERSIA

MERSIA
Rindu Yang Bertuan



Pagi yang lembab menyapa Kastil Dundas, bahkan jam telah menunjukkan pukul delapan, cuaca masih dingin namun tidak menghalangi burung-burung terbang rendah untuk mencari makanan. Seharusnya di Kota New York pada pukul delapan pagi, orang-orang telah keluar dari apartemen mengejar kereta atau berjalan dengan segelas kopi menuju kantor masing-masing. Sungguh berbeda dengan kehidupan di Mersia, Serenade masih mengenakan jubah tidurnya sembari duduk di tepian tempat tidur.


Jujur ia tidak bisa tidur semalaman walau telah mencoba keras memejamkan mata. Kesal hati dengan kejadian Princess Stephani memboikot Alistaire Onyx sangat membekas di ingatan Serenade. Ia merasa tidak diperlakukan ramah oleh adik ipar sahabatnya sendiri.


Ya, tentu saja Stephani tidak mengetahui jika Serenade berteman baik dengan istri pewaris tahta Kerajaan Luxembourg. Mungkin di pikiran Stephani, Serenade hanya seorang gadis Amerika yang tergila-gila ingin menjadi permaisuri di Mersia. Serenade juga adalah rivalnya untuk mendapatkan Alistaire Onyx yang tampan.


Serenade menggelengkan kepala, ia memang lahir di California, Amerika namun orang tuanya memiliki darah Asia yang kental. Serenade tidak segampang itu melupakan asal usulnya, dan betapa ia sangat mencintai negeri tempat mendiang papanya lahir. Jadi salahlah jika seseorang mengatakan Serenade seorang american yang tergiur oleh kisah hidup seperti legenda Cinderella yang menemukan pangerannya.


Tok tok! Bunyi pintu diketuk sepelan mungkin membuat Serenade menoleh ke arah daun pintu ganda berwarna putih gading.


"Kami masuk, Nona Serenade." bunyi suara yang sangat dikenal Serenade.


"Selamat pagi." Serenade menyapa terlebih dahulu dengan ramah. Ia berdiri melihat kedua dayang-dayang berpakaian rapi dengan wajahnya yang segar. Seema dan Emilia terlihat membawa dua nampan berisi sarapan dan tiga jenis minuman.


Sebelum tidur semalam, Serenade menyempatkan diri meminta kedua wanita itu untuk membawakan sarapannya ke kamar. Ia menghindari duduk sendiri di ruang makan yang sangat luas itu.


"Terima kasih." Serenade menghampiri meja berbentuk oval tempat Seema dan Emelia menaruh menu sarapannya.


"Nona, silahkan sarapan terlebih dahulu. Kami akan menyiapkan air mandi hangat dan wewangian untuk nona yang kurang tidur," ujar Seema sambil tersenyum tipis.


"Apakah jelas jika aku tidak bisa tidur?" tanya Serenade meraih gelas berisi orange juice.


"Kelopak mata cekung dan wajah nona yang pucat," imbuh Emelia.


Serenade menghela napas pendek. "Benar, aku tidak bisa tidur,"


"Setelah mandi baiknya nona beristirahat dua atau tiga jam. Janji berjalan-jalan dengan Tuan Orion juga menjelang siang," Seema mengingatkan jadwal Serenade.


"Jam 11, mungkin aku bisa mengatur ulang jadwalnya. Tapi apakah akan menjadi pembahasan di Mersia jika salah satu tamu Prince Onyx lebih memilih untuk tidur dibandingkan berjalan-jalan menikmati pemandangan atau berusaha mendekati putra mahkota?" cetus Serenade yang tidak terlalu bergairah untuk menyentuh avocado toast dan menu lainnya.


Seema dan Emelia tertawa ringan. "Salah satu kunci bertahan hidup di dalam kerajaan adalah menutup telinga dan membuka mulut. Berani berbicara dan bertindak, Nona Serenade. Tidak ada aturan yang mengatakan bahwa tamu Prince Onyx tidak boleh tidur ketika mengantuk. Itu melanggar hak asasi manusia," sekelas Emelia bisa berbicara layaknya bagian Humas Kerajaan Mersia. Bisa jadi wanita itu memiliki latar belakang pendidikan yang memadai.


"Wow." Serenade tidak bisa menutupi rasa kagumnya kepada Emelia. Wanita itu hanya menunduk lalu mengibaskan tangannya.


"Baiknya saya menyiapkan air bathup, Nona," Emelia merendahkan diri setelah sempat berbicara lebih dari batasnya sebagai seorang dayang-dayang.


"Dia menyelesaikan diploma hukum tapi tidak melanjutkan kuliah karena ketertarikan dengan kehidupan kerajaan sangat besar, Nona Serenade," jelas Seema ketika Emelia telah pergi.


"Sayang sekali," Serenade bergumam yang kini memilih untuk mandi terlebih dahulu kemudian menyantap sarapan. "Terima kasih buat kalian, andai saja tidak ada kalian berdua sepertinya aku akan kesepian dan tidak memiliki teman untuk berbagi selama berada di Mersia," Serenade menambahkan perkataannya.


"Itu telah menjadi tugas kami, Nona. Apakah anda ingin mengetahui informasi terbaru tentang Yang Mulia Prince Onyx?"


Serenade menghela napas dengan hati yang masih kesal dan gamang. "Ada apa?" tanyanya.


Seema terdiam beberapa saat sebelum membuka bibirnya. Sebenarnya ia tidak ingin menambah buruk suasana hati wanita cantik yang berprofesi seorang pianis itu.


"Yang Mulia berolahraga pagi dengan Princess Stephani. Kami mendengarnya dari Palace, Princess Stephani yang ikut bergabung di gym ketika Yang Mulia sedang berolahraga,"


Lengkap sudah kekecewaan Serenade pagi itu. Syukur ia tidak berharap Onyx akan mendatanginya untuk sekadar sarapan bersama. Ia telah merencanakan menghabiskan pagi di dalam kamar tidur nan luas itu, sembari memikirkan waktu yang tersisa sebelum kembali ke New York. Ia sepertinya tidak memiliki harapan banyak baik kepada Onyx maupun hal besar lainnya.


***



Orion membawa Serenade ke Kilt Rock, pantai dengan tebing tinggi dengan panorama air terjun yang sangat indah dimana airnya mengalir langsung menuju ke laut.


"Sudah lama aku ingin kesini," Kata Orion melirik adiknya yang lebih banyak diam sepanjang perjalanan. "Ada apa?"


Orion membenahi surai emas pucatnya sembari menatap khawatir ke arah Serenade. Gadis cantik itu hanya menggeleng lemah sambil menikmati pemandangan di depan mata.


"Besok aku akan pulang, Kak," kata Serenade lalu mengembuskan napas kecewa.


"Bukannya lusa kamu akan pulang, Nada? Padahal aku merencanakan ke tempat lebih indah daripada ini. Cyrus juga akan bergabung, dia menitipkan pesan lewat Marjorie," ucap Orio dengan kening berkerut. "Ada yang hal yang kau sembunyikan adikku?"


"Aku tidak bisa tidur," keluh Serenade menatap Orion sendu dengan bibir cemberut.


Orion mengulum bibirnya seraya mengangguk. "Masih memikirkan Onyx dan Stephani?" tanyanya sambil menepuk pelan punggung adiknya.


"Mungkin," Serenade terlalu malu mengakui hal yang mengganggu jam tidur dan perasaannya selama beberapa jam terakhir.


"Mereka tidak akan menikah, Adikku. Percayalah kakakmu ini. Onyx hanya menjalani perannya, dia tipikal pangeran penurut di depan orang, namun dia memiliki keinginan sendiri. Jadi jangan terlalu berpikir macam-macam," hibur Orion.


Serenade diam, perkataan Orion bak embun pagi yang segar membasahi hatinya.


"Kau mencintai Onyx? Tidak susah jika kalian saling mencintai," kata Orion lagi.


Serenade cemberut. "Kak Orion, ini bukan perkara cinta atau tidak. Seharusnya aku belajar banyak tentang kehidupan kerajaan tapi bukan hal itu kudapatkan melainkan Onyx dan wanita muda itu..." pianis cantik itu menghela napas, enggan meneruskan keluhannya.


"Jadi benar ingin mempersiapkan diri menjadi seorang permaisuri?" jenaka Orion timbul menggoda adiknya.


Serenade berdecih sambil memalingkan wajahnya gusar. "Setidaknya kedatanganku kesini mendapatkan banyak pengalaman dan informasi. Tidak ada seorang pun yang menawarkan aku tur di Palace."


"Marjorie bisa memberikanmu spesial tur, Nada. Tidak perlu menggerutu, Adikku." Orion pelan membujuk Serenade yang bersikap kekanak-kanakan. Ia paham jika Serenade sangat jarang menunjukkan sikap itu di depan orang. Itu dikarenakan Serenade adalah anak sulung, ditambah kemandirian telah tertanam sejak dini sehingga tidak memiliki tempat untuk merajuk dan bermanja.


"Sepulang dari sini," pinta Serenade sembari memeluk lengan Orion.


"Aku coba mengabarkan Marjorie," Orion mengambil ponselnya dari saku celana. Serenade mencuri lihat layar ponsel Orion, sang kakak terlihat tidak mempermasalahkan perbuatan itu.


Manik biru Serenade melebar maksimal ketika Orion membalas pesan dari pria yang dikenalnya.


Maaf terlambat membalas pesanmu, aku sedang menemani adikku, Nada berjalan-jalan di Mersia.


Serenade bertanya-tanya dalam hati kedekatan Orion dengan pria tersebut. Keduanya seperti teman lama tanpa ada segan dan jarak.


"Sebentar," Manik biru Orion menyipit ketika melihat panggilan video dari pria yang baru saja ia balas pesannya.


Serenade berjalan ke samping dua langkah, membiarkan Orion menerima panggilan video dari Prince Philip.


Jantung Serenade mendadak bertalu kencang, telapak tangannya mengeluarkan air yang tak banyak. Hanya sedikit basah.


Serenade menggenggam kuat besi pembatas tempat mereka berdiri. Ia melirik ke sebelah, dengan jelas sosok Philip duduk santai sambil tersenyum tipis. Pria itu belum melihatnya.


Aku ingin mengenal adikmu, Mate. Makanya aku melakukan panggilan video. Suara Philip terdengar sangat santai, namun membuat dada Serenade meledak saat itu juga.


Orion tanpa bertanya berjalan ke samping dan merangkul bahu Serenade hingga keduanya masuk ke dalam layar ponsel. "Kenalkan Yang Mulia, ini adalah Serenade Rajendra, adikku. Seorang pianis hebat, tinggal di New York, berusia 26 tahun,"


Serenade menatap lurus dan melihat reaksi Philip tersenyum lebar sebelum menggigit bibirnya dengan seksi.


Hai, halo. Saya Philip dari Swedia teman kakakmu. Kalian terlihat sama persis, rambut, wajah, warna bola mata. Akting Philip bisa Serenade berikan angka sembilan. Hampir sempurna dengan kepura-puraan mereka yang tidak saling mengenal.


"Yang Mulia." suara Serenade lebih terdengar ******* lirih melihat sosok berwibawa dan wajah tenang milik Philip. Nampak lebih dewasa dengan kumis tipis di atas bibir penuhnya.


Philip kembali melambaikan tangan. Hai.


"Apakah kami benar-benar sama?" Orion melirik Serenade yang terpaku dengan sosok di layar posel.


Ya, kalian sama walau bukan adik kandung, bukan? Aku tahu semua anggota keluargamu, Mate.


"Adik sepupu. Tapi gen dari kakek kami yang membuat aku dan Nada terlihat sama," Jawab Orion lembut. Ia sama sekali tidak tahu menahu dengan lakon yang dijalankan oleh Philip dan Serenade.


Nada masih sendiri? Bertunangan? Atau sudah menikah? Pertanyaan Philip membuat Serenade merenggut samar.


Sekali lagi Orion melirik adiknya kemudian kembali ke layar ponsel. "Untuk sementara Nada masih sendiri, Philip. Tapi sepertinya Onyx menaruh hati,"


Oh ya? cetus di bibir Philip lalu tersenyum.


Ori mengangkat bahu lalu mendengus geli. "Onyx yang mengundangnya ke Mersia,"


Bagaimana jika aku mengundangmu ke Swedia, Nona? Apakah dirimu tidak keberatan mengenal kerajaan kami juga? Tanya Philip dengan sopan.


Orion menyikut lengan sang adik. "Ayo dijawab." desaknya.


Serenade diam sambil melihat Philip yang tersenyum simpul menunggu jawabannya.


Hanya dua jam lebih terbang dari Mersia ke Stockholm. Sangat dekat, Nada.


Merasa dinantikan, Serenade berusaha menjawab dengan hati-hati. Terlebih ia tidak ingin sandiwara mereka terbongkar di depan pria jenius seperti Orion.


"Berikan saya waktu untuk memikirkan undangan Yang Mulia. Saya masih di Mersia hingga besok,"


Philip mengangguk dengan bijak, tak nampak sedikit pun raut kekecewaan akan jawaban Serenade.


Bagaimana kabar Hiver? Philip mengalihkan pembahasan namun dua pasang mata masih betah untuk saling menatap. Ada yang menyala dan turun ke sukma, mungkin itu sebuah rindu yang bertuan.


...


Serenade merasakan bahagia setelah memakai baju tidurnya. Ia telah membersihkan diri dengan berendam air hangat beraroma bunga yang disiapkan oleh Seema dan Emelia.


Jujur jika Serenade sedikit terlena dengan segala yang ia dapatkan di Mersia. Bahkan untuk urusan kecil seperti hal mandi dan sebagainya, semuanya telah disiapkan bahkan sebelum ia meminta.


Seperti sekarang ia mendapatkan pijitan lembut dengan menggunakan body oil di tangan dan kaki dari kedua dayang-dayangnya. Minyak almond merelaksasi tubuh Serenade setelah puas dengan perjalanannya dengan Orion, kemudian sepulang dari Kilt Rock ia mendapatkan tour beserta makan malam istimewa bersama dengan Raja dan Ratu, kecuali Onyx. Pewaris tahta itu sedang sibuk, dan Serenade sendiri pun tidak berani bertanya banyak. Semakin ingin mengetahui berarti semakin ia akan menerima kabar yang mengecewakan hati.


"Sepertinya ada orang yang mengetuk pintu," kata Seema menghentikan pijatan pada kaki Serenade. Wanita itu mendongak menatap Serenade kemudian ke arah pintu. "Saya buka pintunya, Nona."


Emelia pun berhenti lalu membantu Serenade memasang jubah berbahan sutra untuk menutupi tubuh indah sang pianis.


"Yang Mulia," suara Seema terdengar pekikan yang tertahan di dada. Serenade dan Emelia saling berpandangan kemudian melihat ke arah pintu.


Tubuh jangkung Onyx berjalan tergesa-gesa menghampiri Serenade. Gurat lelah tersirat jelas di wajah rupawan pewaris tahta Mersia.


"Onyx," Serenade lirih memanggil pria yang berjalan semakin mendekat.


Detik berikutnya kedua dayang-dayang Serenade terpekik ketika melihat Prince Alistaire Onyx tanpa permisi terlebih dahulu spontan memeluk Serenade. "Seharian aku tidak melihatmu, Nada. Kau tahu betapa aku merindukanmu. Kau berada di negeriku namun seolah kau berada di Asia sana, negara orang tua kita. Maafkan aku mengabaikanmu, sungguh ini bukan keinginanku. Aku bahkan masih merindukanmu walau kau berada di dalam pelukanku. Aku merindukanmu, Serenade Rajendra." Onyx mengulang perkataan yang menyesakkan dada.


Apakah Serenade merasakan rindu? Jika iya, Serenade sendiri bingung kepada siapa ia merasakan rindu itu sekarang.


###





[sengaja topless biar kalian mupeng, nh hadiah taon baru dari aku 🤣🤣]


alo kesayangan💕,


aku kembali setelah hampir 3 minggu, bukan? 🤭😅


ada yang komen di instagram jika ingin Mersia lebih dulu di update, padahal aku ingin menulis Kai.. biar dia cepat selesai.


Mac-ku sampai ngambek karena tidak dipakai selama aku libur menulis, jadinya menulis pakai hape dibantu keyboard wireless😅


oh yah, 2022 nih Ladies


pengen apa tahun ini?


aku sih pengennya bikin novel buku 😌


kangen kangen kangen menulis dan kalian..


love,


D😘