
Rasa penasaran membuat Serenade terus melangkahkan kakinya menyusuri lorong panjang di kastil megah itu. Tepatnya tadi pagi Serenade tiba di Montrose, Skotlandia. Ia menolak ditempatkan di Palace sebagai tamu istimewa sang putra mahkota. Serenade memilih Kastil Dundas sebagai tempat beristirahat selama kunjungannya di Mersia.
Setelah menerima undangan dari Onyx, Serenade mengadakan riset informasi tentang perayaan yang akan diadakan di Mersia. Setelah mencari tahu, ia mendapatkan berita jika pertengahan musim semi adalah merupakan perayaan ulang tahun sang pewaris tahta, Prince Alistaire Onyx. Serenade bersyukur melakukan hal tersebut, hingga ia mempunyai waktu untuk menyiapkan kado istimewa untuk pria rupawan juga telah dikenalnya sejak kecil.
Serenade menoleh ke belakang, dua wanita muda mengikutinya kemanapun ia melangkah. Para dayang-dayang berpakaian rapi yang ditugaskan untuk menemani sekaligus memberikan berbagai informasi yang ingin diketahui oleh Serenade.
"Di ruangan ini ada grand piano." celetuk Serenade ketika melewati ruangan musik. Ia berdiri sejenak sebelum akhirnya menghampiri grand piano berwarna hitam yang terletak di cerukan ruangan.
Serenade hanya meraba bagian atas piano lalu tersenyum takjub. "Ini D-270 di produksi tahun 1877," ucapnya pelan. Ia kembali menoleh ke arah dayang-dayang dengan senyuman lebar terukir di bibirnya. Wanita-wanita muda itu hanya mengangguk lalu menunduk patuh. Serenade tidak merendahkan, namun wanita-wanita itu bisa ia dipastikan tidak paham dengan apa yang dikatakannya tentang grand piano yang berasal dari abad ke-19.
"Silahkan Nona Serenade." kata wanita belia berambut coklat tua menunjuk ke arah sampingnya. Sebuah isyarat agar mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju ruang makan.
Penerbangan selama tujuh jam dari New York ke Mersia membuat Serenade mengalami jet lag. Setibanya di Dundas ia menyempatkan diri untuk tidur kurang lebih dua jam kemudian bangun dan membersihkan diri. Ia mendapatkan kamar yang sangat nyaman dengan jendela-jendela besar menyajikan pemandangan rumput hijau terpotong rapi menyerupai permadani indah yang disinari matahari musim semi.
Kali ini Serenade membiarkan dua wanita muda itu berjalan di depannya, melangkah dengan kedua tangan berada di atas perut. Sebelum itu Serenade belajar dari berbagai sumber tentang tata krama dan cara bersikap sebagai seorang aristoktrat. Ia pun mengikuti cara para dayang-dayang meletakkan tangannya.
Ketika sampai di ruang makan, di sana telah menunggu dayang-dayang lainnya beserta makanan memenuhi meja panjang dengan taplak meja berwarna putih. Lantai ruangan terbentang permadani berwarna merah, lukisan-lukisan para raja dan ratu di masa kejayaannya memenuhi dinding dengan wallpaper berwarna emerald green.
Kursi kayu dengan bantalan hijau tepat di depan perapian berwarna putih telah disiapkan oleh pelayan, Serenade berjalan lalu menduduki kursinya. Ia memandangi menu makanan yang berbagai macam dan bisa dikatakan semua jenis makanan sangat menggugah seleranya. Betul, ia sangat lapar setelah jetlag-nya teratasi dengan beristirahat dan berendam air hangat.
"Nona Serenade ingin menyantap menu yang mana?" tanya pelayan sambil membungkukkan badan. Serenade mendongak menatap pria muda mengenakan kemaja putih dengan vest hitam senada dengan celana bahannya.
Melihat alis Serenade bertaut pelayan pria itu tersenyum. "Kami akan membantu menyiapkan makanan ke atas piring."
Seketika itu juga Serenade melebarkan manik birunya. Tangan terkibas panik. Ia lupa akan tata krama yang dipelajarinya. "Oh tidak, maaf saya bisa sendiri. Tolong." pintanya gagap.
Pelayan pria itu tersenyum lalu mengangguk. "Baik, silahkan Nona." balasnya kemudian melangkah mundur dari tempatnya berdiri.
Serenade meraih gelas berisi air putih dan menenggaknya setengah. Ia lalu menarik napas meredakan kepanikannya. Serenade merasa gagal sebelum berperang, ia belum menginjakkan kaki di Palace namun telah melakukan kesalahan kecil selama di Dundas.
Dari berbagai masakan di atas meja, Serenade memilih Spanish Paella mengisi piringnya. Ia hanya menebak jika sang pewaris tahta mengetahui kesukaannya terhadap masakan amerika latin tentu saja setelah masakan Asia. Serenade baru menyuap sebanyak tiga kali ketika mendengar seruan pelan para dayang-dayang yang berdiri dalam barisan rapi di belakangnya.
"Yang Mulia." serempak suara ke arah pria jangkung mengenakan suit berwarna ivory bermotif kotak.
Serenade hendak berdiri, Onyx menggelengkan kepala sambil melangkahkan lebar hingga duduk tepat di hadapannya.
"Maafkan aku terlambat." Onyx membuka percakapan sambil tersenyum. Sangat jelas jika pria tampan itu sedang bahagia melihat tamunya yang cantik.
Sementara Serenade masih terkesima dengan kedatangan tiba-tiba pria di depannya. Onyx sama sekali tidak mengabarkan jika mereka akan bersantap siang bersama.
"Bagaimana penerbanganmu?" tanya Onyx duduk tegap sementara dua pelayan mengisi piringnya dan mengisi gelas dengan wine kesukaannya.
"Lancar, aku sempat beristirahat selama terbang dan sedikit jetlag setelah mendarat di Mersia." jawab Serenade dengan lancar. Ia menyimpan rahasia kecil jika sejak beberapa malam terakhir ia tidak merasakan tidur yang lelap dan cukup karena memikirkan perjalanannya ke Mersia.
"Sekarang jetlag-nya telah mereda. Aku tidur pulas setelah sampai di sini. Aku menemukan surat darimu di atas meja yang memintaku untuk beristirahat. Terima kasih." tambah Serenade mengumbar senyuman tulusnya.
"Aku yang berterima kasih telah memenuhi undanganku ke Mersia. Padahal aku tahu kau sangat sibuk di Amerika." ucap Onyx memulai makan siangnya. Menu pilihannya adalah Smoked Haddock Chowder, ia hanya perlu mengangguk dan makanan langsung tersaji mengisi piringnya.
"Tidak juga. Konser bulan lalu merupakan project besarku untuk tahun ini. Setelah ini aku akan beristirahat lama, mungkin menerima bermain di mini konser yang tidak memerlukan persiapan berbulan-bulan lamanya. Daddy selalu mengatakan untuk menikmati hidup, bukan hanya bermain musik." tutur Serenade membuka diri.
"Berarti kau bisa lebih lama di sini." seru Onyx menanggapi perkataan Serenade.
"Hanya selama pembicaraan kita sebelumnya, Yang Mulia."
Manik coklat Onyx melebar, bibirnya cemberut, kepalanya menggeleng pelan.
"Kita berada di Mersia." Serenade mengerti akan mimik dan isyarat pria di depannya.
"Baiklah." Onyx menuruti. Di Mersia bahkan tembok pun bisa mendengar pembicaraan mereka, dan di ruangan itu terdapat belasan pelayan yang bisa saja beberapa dari orang tersebut adalah telinga dari Dewan Kerajaan.
"Pestanya nanti malam, tapi kau bisa datang sebelum matahari tenggelam. Hiver dan Orion akan tiba sore hari di Mersia," informasi yang Onyx sampaikan membuat Serenade hampir melompat dari kursinya.
"Tuhan!" Serenade terpekik namun ditahannya. Kembali mengingat ia berada di mana, hingga ekspresi kebahagiaannya harus dipendam dalam-dalam.
"Mereka tidak mengabarimu?" Onyx menaikkan sepasang alis hitamnya.
"Tidak ada yang tahu jika aku terbang ke Mersia kecuali mama, daddy dan kedua adikku."
"Mereka akan menghadiri pesta nanti malam, dan semua orang tahu jika Marion adalah kesenangan Raja dan Ratu. Beberapa kali Raja membujuk Hiver untuk kembali ke Mersia. Ya, kastil ini adalah milik Hiver, andai saja mereka mau kembali." tutur Onyx dengan sorot mata yang lembut.
Serenade menggapai gelasnya, ia tidak biasa ditatap intens oleh seorang pria berwajah rupawan dan juga memiliki kekuasaan tak terkira. "Kastil ini indah, tidak terlalu jauh dari Palace dan sangat tenang. Mersia sangat berbeda dengan New York. Kau tahu sendiri, bukan?"
"Semua ada kelebihan masing-masing. Tidak ada yang sempurna, Nada." suara Onyx terdengar bijak.
Serenade tersenyum tipis. "Aku melihat ada grand piano berasal dari abad ke-19 di ruangan musik." katanya membuka pembahasan yang lain.
Barisan gigi putih Onyx terpampang jelas, rautnya bersih dan berseri. "Ya, dan itu berfungsi dengan baik. Kau boleh menggunakannya selama berada di sini. Dulu piano itu milik Lou, hanya dia yang bisa memainkannya walau tidak sehebat dirimu, Nada,"
"Terima kasih, tapi aku menolaknya, Yang Mulia. Hidupku telah dipenuhi dengan bermain musik, percayalah kemampuanku tidak akan hilang hanya karena menikmati waktuku selama di sini," seloroh Serenade membuat Onyx terkekeh.
"Aku sangat yakin dengan perkataanmu itu, Nada. Katakan saja kemana kau akan pergi dan aku akan berusaha menemanimu. Atau jika aku berhalangan, ada Cyrus. Dia lebih gampang untuk kemana-mana, tidak terlalu terikat dengan kerajaan," lanjut Onyx sambil tersenyum manis. Ia melihat sosok pria yang berjalan mendekat namun sebuah isyarat tangan membuatnya berhenti melangkah.
Onyx berdiri, Serenade juga ikut mengangkat tubuhnya. "Aku harus kembali ke Palace." kata pewaris tahta itu berjalan, Serenade ikut melangkah walau keduanya dipisahkan oleh sebuah meja makan yang panjang. Ketika melewati ujung meja, keduanya bertemu dan bertatapan.
"Iya, kita akan bertemu nanti malam," Serenade mengiyakan.
Tanpa mempedulikan orang-orang di ruangan tersebut, Onyx menunduk dan memberikan kecupan singkat di pipi Serenade. "Selamat datang di Mersia, Nada," ucapnya lalu kembali menegakkan tubuh tingginya.
Serenade tidak bisa menjawab, ia hanya mengangguk lemah dengan dada bertalu kencang.
"Sampai bertemu nanti malam," Onyx mengingatkan, sepertinya juga tidak sabar dengan pesta ulang tahunnya yang ke 28 tahun. Sebuah usia yang cukup matang untuk dirinya menjatuhkan pilihan kepada seorang wanita. Di antara banyaknya kandidat calon permaisurinya kelak, besar harapan Onyx mendapatkan hati sang pianis cantik.
...
Serenade telah terbiasa diikuti oleh dua wanita muda di belakangnya, ia pun mulai akrab dengan Seema dan Amelia. Keduanya tidak hanya melayani segala kebutuhan Serenade, bahkan ikut membantunya berdandan dan mereka bisa memberikan pendapat tentang riasan tamu istimewa Prince Alistaire Onyx.
Ketiga berjalan pelan, beberapa orang memperhatikan kedatangan mereka. Serenade berusaha kuat untuk tidak pingsan di tengah koridor berkarpet merah tersebut. Tiba-tiba manik birunya menyala ketika melihat sosok pria bersurai emas pucat melambaikan tangan tanpa peduli dengan sopan santun yang berlaku di Palace.
Lonjakan adrenalin bahagia ketika melihat kakak sepupunya tersenyum lebar, sesaat itu pula hati Serenade menghangat secara luar biasa. Kini ia tidak merasa asing berada di Mersia ketika melihat Orion Filante, kakaknya.
"Masuklah kesini." kata Orion ketika Serenade mencapai tempat kakaknya. Pintu tinggi itu terkuak oleh bantuan seorang pelayan. "Aku mendengar berita kedatanganmu dari orang kerajaan."
Orion merentangkan tangan. "Sudah lama tidak bertemu denganmu ma Petite Soeur." Serenade memeluk pria bertubuh jangkung kurus itu. (ma petite soeur : adik kecilku)
"Maafkan aku dan adik-adikku, Kak." sesal Serenade sembari menatap lekat-lekat kakaknya. Mereka memiliki manik biru yang sama, rambut pun hampir menyerupai. Keduanya memiliki gen terbaik dari sang kakek, Hugo Chan Navarro.
"Aku juga jarang bertemu dengan kalian, banyak bertapa di France." Orion mengacak surai Serenade sambil memperlihatkan gigi taringnya.
Serenade mengamati penampilan formal dan cara bersikap sang kakak yang lebih terbuka. Ia masih mengingat dengan jelas gaya berpakaian Orion yang cenderung kasual dan terkadang tidak mengenal tempat.
"Tapi aku tetap adik kecilmu." rajuk Serenade bermanja kepada Orion.
Pria pemilik wajah cantik itu mendesah lalu tertawa. "Ya, adikku. Dan sepertinya akan lebih dekat lagi. Onyx tertarik denganmu, bukan?"
"Kami hanya berteman," kelit Serenade lalu mengerucutkan bibirnya.
Orion mengangkat bahu sambil meledek. "Teman yang bisa membuat jantung berdebar kencang,"
"Kak Orion!" seru Hiver makin merajuk. "Sungguh kami hanya berteman,"
Elakan Serenade malah makin membuat Orion terbahak. "Apapun itu, aku berharap tebakanku -lah yang terjadi,"
Serenade menggeleng pasrah, walau sambutan sang kakak lebih banyak bercanda namun sekarang ia tidak punya kekhawatiran selama berada di Mersia. Serenade telah memiliki tempat untuk berbagi atau didatangi.
"Aku terima dulu." Orion mengangkat ponsel ke udara, tampaknya sang kakak mendapatkan panggilan masuk. Serenade mengangguk lalu mengabaikan sang kakak yang sedang berbincang dengan teleponnya. Sembari menunggu Serenade berjalan menuju jendela tinggi dengan tirai panjang berwarna merah.
Tubuhnya sedikit tersentak ketika melihat di luar tampak Onyx sedang berjalan sangat lambat dengan seorang wanita cantik dan juga masih belia.
Siapa dia? batin Serenade dipenuhi pertanyaan. Matanya melihat setiap gerak-gerik hanya berupa ekspresi wajah yang riang dari Onyx dan wanita tersebut terpampang jelas tanpa suara disebabkan dinding Palace sangat tebal.
Tangan Serenade menyentuh jendela kaca bersekat kayu tersebut. Ia tidak ingin berpikir jauh, termasuk mengatakan jika seolah-olah kedua orang di luar sana sengaja memamerkan kejadian tersebut kepada Serenade.
"Beliau adalah Princess Stephani Adelaine, adik kandung dari Prince Henri of Luxembourg." suara lembut yang rupanya Seema tergerak dengan sendirinya untuk memberikan informasi penting tersebut kepada Serenade.
Serenade mengigit bibirnya sedikit. Raut wajahnya tidak secerah beberapa menit yang lalu. "Adik dari Prince Henri? itu berarti adik ipar dari Lady Elizabeth." gumamnya sangat pelan.
Seema dan Amelia bersamaan menganggukkan kepala. "Ya, benar, Nona Serenade," sahut Seema yang membuat hati Serenade semakin gusar.
###
[terkadang aku malas cari foto cast novel, jadi maaf jika Nada tidak muncul di sini]
alo kesayangan💕,
selamat malam senin kalian, akhirnya aku mengupdate Mersia setelah beberapa hari lalu di DM ma salah satu readers untuk tidak ingkar janji.
maaf yah, always ingkar..
upps..
next masih Mersia 😌
love,
D😘
ada yang rindu?