
Philip mengulum senyuman sembari menunggu sang pianis cantik yang sedang berbicara dengan Orion lewat panggilan telepon. Wajah Serenade memerah karena marah yang tertahan namun ia tak bisa melampiaskan kekesalannya ke siapapun.
Philip tidak asal dalam menjalankan misinya, ia terlebih dahulu meminta izin kepada Orion. Dan syukurnya Orion memberikan kesempatan tersebut. Bahkan Philip tidak perlu menjabarkan kepada temannya itu jika ia mengenal dengan baik Serenade.
Sepertinya Orion sangat mempercayai Philip, hanya mengatakan jika ingin memperkenalkan Swedia kepada Serenade dan suami dari Princess Hiver tersebut hanya mengatakan "jaga adikku". Dan 15 menit yang lalu, ia berhasil mendaratkan pesawat di bandara kerajaan tanpa kendala apapun. Ya, kecuali Serenade yang langsung menghubungi Orion sesaat ketika pesawat mendarat, walau sebenarnya pianis bertalenta itu bisa melakukannya selama perjalanan menuju Swedia.
"Bagaimana?" tanya Philip ketika Serenade menghampirinya. Mereka masih berada di tengah landasan pacu, wanita bersurai emas itu enggan naik ke atas mobil yang telah menunggu sebelum urusan dengan Orion selesai.
Serenade merenggut sambil memijat pelipis. Ia mengembuskan udara dari bibirnya hingga surainya ikut tertiup. "Mau bagaimana lagi, saya telah berada di Stockholm," sahutnya pasrah.
Philip tersenyum dengan bibir terbuka, seakan ingin tertawa tapi ia mengurungkan niatnya. "Mari, My Lady. Kita menuju Royal House," katanya sembari mempersilahkan Serenade menuju kendaraan mewah berwarna hitam.
Serenade melawan, ia masih berdiri dengan manik biru yang berkilat-kilat. "Royal House, Yang Mulia. Yang benar saja? Lihat penampilanku? Dan saya tidak pantas menjadi tamu kerajaan, ini menyalahi aturan kerajaan,"
Philip menggelengkan kepala sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang. "Sebenarnya siapa yang menjadi Putra Mahkota di sini? Tamuku berarti semua berada di bawah tanggung jawabku, Nada. Jangan pikirkan hal yang lain," sergahnya dengan tegas namun tidak terkesan arogan. Philip hanya berusaha meyakinkan Serenade bahwa tidak ada kekuatan yang bisa menghalangi segala keinginannya sebagai pewaris kerajaan.
Serenade menatap manik lion Philip, mencari jawaban dan berikutnya ia menyerah. "Aku mengikuti segala kehendakmu, Yang Mulia,"
Philip mendengus senang, ia berjalan terlebih dulu menuju kendaraan dan Serenade mengikutinya. Di landasan pacu terdapat tiga kendaraan dan Philip menaiki mobil kedua, mobil lain adalah kendaraan bagi para pengawalnya.
"Aku tidak akan membatasi dan memberikan minimal waktu berkunjung di Swedia, Nada. Jika kau menginginkan pulang ke New York besok, aku sendiri yang akan mengantarmu dengan selamat. Tapi untuk hari ini biarkan aku menjamumu dengan baik," kata Philip ketika kendaraan meninggalkan landasan pacu.
Serenade menoleh dan melihat sorot mata Philip menatapnya penuh kesungguhan.
...
Mungkin hanya Serenade yang berjalan mengikuti putra mahkota Kerajaan Swedia dengan mengenakan sepatu Nike Air Jordan. Untungnya tubuhnya terbalut sepasang suit celana berwarna titanium yang sangat nyaman dan juga sopan. Philip tidak mempermasalahkan dengan penampilan Serenade, pun pewaris kerajaan itu sangat santai melangkah dengan pakaian pilotnya. Tidak ada satu pun orang menyela mereka, walau banyak pelayan dan orang mengenakan pakaian lebih bagus melihat kedatangannya. Yang bisa saja mereka adalah orang-orang kerajaan yang menduduki posisi penting namun seorang pun tidak ada yang berani mendekat.
"Kau lelah?" tanya Philip.
"Tidak, Yang Mulia," jawab Serenade dengan sopan.
"Aku bisa menempatkanmu di Drottningholm Palace, tapi aku tidak mau kau terganggu dengan keluargaku. Ya, karena mereka semua berada di sana," terang Philip.
"Yang Mulia tinggal di sini?" tanya Serenade.
"Royal House memiliki nama lain yaitu House of Bernadotte, jadi sudah seharusnya aku berada di sini, bukan?" jawab Philip penuh wibawa.
"Ini sangat luas," gumam Serenade sementara ia menyembunyikan rasa takjubnya. Royal House memiliki design interior yang berbeda dengan The Palace of Mersia. Keduanya memiliki ciri khas yang menakjubkan dan antik.
"600 kamar," singkat Philip. "Sekarang kita berada di sisi timur," terangnya sambil melihat bola mata Serenade membelalak.
Philip terus berjalan sambil tertawa sangat pelan. "Raja dan Ratu menjadikan Royal House tempat bekerja dan menjamu para tamu kerajaan. Tetapi kedua orang tua beserta saudaraku lebih banyak di Drottningholm Palace, di sana adalah tempat tinggal kami yang sebenarnya,"
"Oh,"
Philip tersenyum tipis. "Beberapa bagian dari Royal House terbuka untuk umum untuk pariwisata, contohnya Bernadotte Gallery,"
"Yang Mulia memiliki galeri?" tanya Serenade semakin takjub.
"Pertama Bernadotte bukan hanya aku, My Lady. Melainkan para pewaris sebelum diriku, juga menyandang nama Bernadotte di belakang namanya. Di Galeri Bernadotte terdapat lukisan dari abad lampau, dan aku juga memiliki ruangan tersendiri untuk lukisan era Picasso hingga era sekarang. Besok aku akan membawamu," janji Philip tulus.
Serenade terkagum hingga kehilangan kata-kata. Ia mengangguk kepala mengiyakan segala perkataan Prince Philip of Bernadotte.
"Ini adalah kamar tidurmu, Nada." kata Philip ketika berada di depan pintu yang dijaga oleh dua orang pengawal berpakaian serba biru. "Di dalam akan ada beberapa pegawai wanita Royal House yang akan menyiapkan segala kebutuhanmu. Jika kau menginginkan waktu untuk sendiri, kau boleh meminta mereka untuk keluar,"
"Baik, Yang Mulia,"
Philip melihat sebentar jam tangannya kemudian memandang paras cantik Serenade. "Kita akan malam bersama, aku akan menjemputmu di sini,"
"Yang Mulia," Serenade mengerang dan menggeleng. "Anda tidak perlu melakukan itu, saya bisa..."
"Aku akan menjemputmu," potong Philip bersikukuh. "Lihat di ujung sana, itu adalah kamarku tidurku. Sengaja aku menempatkanmu di sini, agar kau bisa mengangguku kapanpun itu,"
Serenade memejamkan mata dan kembali mengangguk. Tak ada yang bisa dilakukannya selain menerima keputusan pria di depannya.
"Beristirahatlah, My Lady," kata Philip sambil mengusap lembut kepala Serenade. Ia tersenyum sejenak kemudian berjalan meninggalkan Serenade.
...
Philip menjemputnya tepat pada pukul 7.30 malam. Di luar masih terang, tadi Serenade sempat melihat matahari bersinar memantulkan cahaya kemerahan pada air kanal di depan istana. Ada lima dayang-dayang ditugaskan untuk menemani Serenade di kamar, walau sempat ia meminta wanita-wanita berusia 30 tahunan itu keluar dari kamar ketika ingin tidur tanpa ada orang lain.
Butuh sejam lamanya Serenade didandani oleh perias khusus kerajaan, semua kebutuhan pakaiannya terpenuhi di dalam lemari dan Serenade sangsi jika kopernya tidak pernah turun dari pesawat. Terbukti ia tidak melihat wujud kopernya di dalam kamar tidur seluas ruang tamu milik orang tuanya di Hollywood.
Kini Serenade berjalan lambat mengikuti pria yang menggamit lengannya, entah kemana tujuan mereka. Tapi yang pasti janji makan malam akan dipenuhi oleh Philip.
"Apakah kita akan makan malam bersama dengan Raja?" tanya Serenade mengingat busana yang mereka pakai sangat formal. Ia mengenakan gaun panjang berwarna blush dihiasi manik swarovski yang berkilau indah.
"Belum, khusus untuk malam ini hanya kita berdua di tempat spesial," jawab Philip yang sangat tampan dan berwibawa malam itu.
"Tempat spesial?" cicit Serenade.
"Ya, yang kau lihat nanti adalah salah satu tempat kesukaanku di Royal House. Kau akan menyukainya," tukas Philip.
Rupanya tempat kesukaan pewaris tahta Kerajaan Swedia adalah sebuah rumah kaca penuh dengan bunga yang berada di dalam Royal House, kenyataan itu Serenade tahu ketika beberapa menit kemudian.
"Tempat ini luar biasa," seru Serenade, tatkala ia melihat meja bundar dihiasi lilin bergagang emas di tengah rumah kaca. Hanya terdapat dua kursi berhadapan dengan menu makan malam mereka beserta dua gelas berisi red wine mengisi meja bundar tersebut.
"Aku sudah katakan jika kau akan menyukainya," Philip menolak pelayan yang menarikkan kursi untuk Serenade. Justru sang pewaris tahta itu menyiapkan tempat duduk untuk putri cantik bersurai emas yang digelung sederhana.
"Apakah Yang Mulia suka kesini?" tanya Serenade sambil mengamati tanaman-tanaman indah yang sangat jarang ia temukan di New York. Serenade seperti berada di dunia Disney yang indah, istana, pangeran, mungkin sebentar lagi para peri beterbangan di sekitarnya.
"Tidak juga, hanya sesekali. Namun dulu pernah rumah kaca ini menjadi tempat favoritku,"
"Dulu?" Serenade tidak ingin menyudahi sesi tanya jawab dengan Philip. Walau ia terkesan diculik untuk sampai ke Swedia, bukankah ini waktunya untuk lebih banyak tahu salah satu kandidat. Kalian tahu sendiri, siapa kandidat satunya.
"Beberapa tahun yang lalu," Philip memulai sesi makan malam romantis yang ia ciptakan dengan mengesap pelan red wine-nya.
"Saat bersama dengan Princess Maryln Lou?" Serenade melanjutkan pertanyaan.
Philip menggeleng pelan. "Tidak pernah, kami tidak pernah bersama di tempat ini. Namun seingatku Lou sangat suka kemari, di sini pula dia bertemu dengan Duke Jonas, suaminya,"
Serenade menaikkan alisnya sambil berpikir, ia berusaha menyambung informasi yang ia dapatkan dari portal media dengan perkataan Philip."Berarti Yang Mulia kesini hanya menenangkan pikiran,"
Philip tersenyum tipis. "Bisa dikatakan begitu. Waktu di Hollywood aku menjelaskan tentang pernikahanku dengan Lou yang telah lama berakhir. Ya, kami masih bisa membatalkan pernikahan tersebut. Selain terhitung belum lama, hingga mudah untuk menyelesaikannya dengan baik-baik. Tidak ada yang bisa mempertahankan pernikahan tersebut, dan aku juga tahu jika Jonas saudaraku sangat jatuh cinta kepada Lou. Aku sungguh berterima kasih kepadanya, berkat dia, Lou kini telah bahagia. Saat itu aku tidak bisa memberikan sedikitpun rasa nyaman kepada Lou. Masa itu aku masih mengingat seseorang,"
Tadinya Serenade hendak mengiris steaknya, kemudian mengurungkan niat. "Yang Mulia memiliki kekasih namun memilih menikah dengan Princess Maryln?" Serenade tertarik, hingga rasa laparnya berkurang banyak, terlebih tadi sore ia sempat menyantap kudapan yang disiapkan oleh pelayan di kamarnya.
"Khusus malam ini aku akan menjawab semua pertanyaanmu, My Lady. Hanya untuk tahu lebih banyak tentang wanita itu, tapi maaf sebelumnya aku tidak bisa menyebutkan namanya..." Philip menarik napas sambil menatap lurus ke depannya. Wanita yang menjadi teman kencannya sangat indah di terpa cahaya lampu dan lilin yang temaram. Ia juga telah melihat dengan jelas wajah cantik itu ketika Serenade keluar dari kamar tidurnya. Jantungnya berdegup kencang selama berjalan menggamit Serenade menuju ke rumah kaca.
"Aku pernah mencintai seorang wanita sebelum mengenalmu, Nada. Kami pernah berada di sini," Philip melayangkan pandangan kepada satu titik tak jauh dari meja. "Di sana aku memeluknya selama 30 menit. Aku sungguh bahagia malam itu,"
Melihat ekspresi Philip yang sendu lalu tersenyum membuat Serenade dihinggapi rasa cemburu, keinginan untuk tahu banyak tentang wanita yang tidak dipilih oleh Philip semakin membuncah. "Kenapa tidak melamarnya, Anda bisa melakukan itu, Yang Mulia," pancing Serenade.
Philip tertawa tanpa suara, sebuah tawa hanya berupa dengusan. " Dia.. Dia tidak mencintaiku, perasaan ini hanya bertepuk sebelah tangan, My Lady,"
"Yang Mulia!" pekik Serenade. "Kau memiliki segalanya,"
"Dulu aku seorang pangeran yang suka bertindak gegabah, aku yang di depanmu berbeda dengan aku beberapa tahun yang lalu. Dia membenciku, sebuah kebencian yang membuatnya memilih pria lain. Jangan tanya dia berada di mana sekarang, tentu saja bersama dengan keluarga yang hangat dan sangat mencintainya. Dan jika kau ingin bertanya, apakah aku masih memiliki perasaan kepada wanita itu," jeda Philip sambil melihat Serenade menganggukkan kepala secepat kilat. Ia tertawa ringan.
"Jika aku masih mencintainya, dirimu takkan berada di sini, My Lady. Aku mengajakmu ke rumah kaca bukan berarti ingin mengenang wanita itu. Tapi setelah beberapa kali aku menghabiskan waktu di sini, aku jadi tahu jika tempat ini merupakan surga kecil di Royal House, tempat ini tenang. Itu mengapa aku ingin mengenalkan tempat ini kepada wanita yang aku cintai," kata Philip dengan pandangan manik lionnya yang teduh. Sebuah tatapan yang membuat jantung Serenade berdenyut perih dan sekaligus indah.
Serenade memilin bahan gaunnya pada bagian paha, ia serba salah dan mendamba lebih. Kata-kata Philip membuai inderanya, ia menginginkan lebih kalimat memuja dari pria itu.
Sayangnya Philip tidak mengeluarkan kata-kata lagi, kecuali memandang dalam-dalam teman kencannya. Tidak ada sunyi ketika keduanya milih untuk diam, nyanyian hewan yang hidup di dalam rumah kaca dan air mancur di kolam menjadi pengiring malam yang syahdu.
"Yang Mulia.." Serenade memanggil. Ia gugup bertatapan dengan sang pewaris tahta.
"Ya, Nada,"
Serenade berdiri tanpa menyentuh makanannya. Philip juga ikut berdiri. "Kau tidak menghabiskan makananmu?" tanyanya dengan bibir sedikit mengerut.
Serenade melap telapak tangannya di gaun, seakan ada debu menempel hingga ia perlu membersihkannya. Ia mengulurkan tangan ke arah Philip. Pria itu spontan memegang jemari tangan Serenade.
"Ada apa ini?" Philip menggenggam jemari Serenade yang gemetaran.
Manik biru Serenade memburam dan mengerjap menatap wajah Philip. "Apakah Yang Mulia tidak ingin memelukku selama 30 menit?"|
Philip semakin bingung hingga kepalanya sedikit dimiringkan. Ia masih bisa tersenyum walau ribuan pelangi tiba-tiba saja hadir di dalam rumah kaca miliknya. "Apakah ini sebuah pelukan perpisahan?" tanya sambil merapatkan tubuh pada gadis cantik berwangi manis.
Serenade menengadah, ia mengunci manik lion itu dengan manik birunya. "Bukan, yang Mulia,"
###
alo kesayangan💕,
Setelah didesak para pembaca Mersia, aku kebut menulis hari ini, untungnya tidak ada pekerjaan dan cuaca hujan sepanjang hari membuat semua berjalan lancar.
Tahu tidak jika aku menulis itu, aku tidak mengetahui jalan cerita yang akan ditulis..
Maksudnya aku cuma duduk di depan PC, mulai mengetik dan semua mengalir mengikuti isi kepala.
jadi hal yang aku tulis itu bukan hasil pemikiran beberapa hari sebelumnya,
melainkan berkembang saat mengetik sebuah chapter..
Mersia chapter ini aku dedikasikan buat yang berani DM aku di Inst*gram..
selamat bermalam minggu kalian..
love,
D😘