
“Ya, Yang Mulia.” Philip dengan lambat-lambat dan sangat sopan ketika mendengar sapaan mantan ibu mertuanya yang tak lain Queen Summer of Mersia.
“Philip.” Summer dengan lembut menyebut nama Philip yang sedang berdiri di ruang tengah chateu –nya. Sepasang manik lion tajam itu memandang
ke arah luar, pria berbadan besar dan tampan itu rupanya mulai mencintai kehijauan yang menyelimuti tempat tinggalnya.
“Yang Mulia.” Sahut Philip penuh hormat, bahkan lewat panggilan suara. Semasa ia menikahi Lou, ia hanya beberapa kali berbincang dengan wanita paruh baya tersebut. Itupun dalam acara formal, seperti makan bersama kerajaan.
“Philip, saya sebagai ibu kandung dari Lou meminta maaf sebesar-besarnya. Bagaimana mengatakannya..Ya, saya sudah mengetahui hubungan Lou dengan Jonas. Anak itu meminta ijin kepada kami jika ingin ke Afrika. Dari sana saya mengetahui alasan sebenarnya pembatalan
pernikahan kalian. Ini belum diketahui oleh King Robert, dan mungkin belum saatnya dia tahu.”
“Tidak perlu, Yang Mulia. Maafkan saya menyela perkataan anda. Tapi sungguh ini tidak perlu dibahas lagi, semua telah berlalu. Bilamana Lou ingin ke Afrika dan hidup di dekat Jonas, sepenuhnya adalah urusan pribadi mereka. Saya tidak akan mengusik bahkan mendoakan Lou dan Jonas hidup bahagia. Keduanya adalah orang yang dekat denganku, Yang Mulia."
"Bukan hanya itu, Philip. Ya, saya mengerti tentang keputusanmu membatalkan pernikahan bukan sepenuhnya karena Lou dan Jonas memiliki hubungan istimewa. Melainkan perasaanmu kepada Hiver yang sangat besar. Benar tidak dengan perkataanku, Prince Philip ?" tanya Summer meluluhlantakkan dada Philip. Ibarat seorang anak kecil kedapatan membuka lemari penyimpanan makanan dan mengambil sebatang cokelat yang akan menambah koleksi lubang giginya.
"Yang Mulia." Philip mengerang sambil mencengkeram jeruji besi pengaman jendela.
"Saya datang sebagai temanmu. Bagaimana jika kita saling bicara dengan terbuka ? tawar Summer, membujuk sang pewaris tahta.
Tanpa sadar Philip menganggukkan kepala. "Baiklah, Yang Mulia."
"Begini.. Sebenarnya saya tergerak sendiri untuk menghubungimu, Philip. Kau mengingatkanku kepada seseorang. Ya, seseorang yang berasal dari masa laluku, dan begitu menyita waktu. Aku berharap kau tidak menempuh jalan yang sama dengannya."
"Si... Maafkan saya, Yang Mulia." Philip hampir saja menanyakan hal yang sangat pribadi dengan permaisuri dari Kerajaan Mersia, yang tak lain adalah ibunda dari Lou.
Helaaan napas lembut membelai telinga Philip. Ia bisa menebak jika wanita paruh baya itu sedang tersenyum.
"Apa rencanamu selanjutnya, Philip? Kau adalah pria yang bebas, seorang pewaris tahta. Tapi Hiver..."
"Sudah menikah. Saya tahu itu, Yang Mulia. Perlu anda tahu jika sekarang saya berada di luar Royal House, menepikan diri dari semua hal. Termasuk raja dan ratu yang sangat kecewa dengan pembatalan pernikahan kami. Lebih tepatnya saya belum tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi Hiver telah jauh dari jangkauan tangan, dia telah hidup bahagia." ucapan Philip melemah disertai butiran kristal sangat kecil terbit di sudut kelopak matanya. Ia menangis, di depan ibu kandung wanita yang dicintainya.
"Iya, Hiver telah menikah dengan Orion. Anak kami satu itu selama 27 tahun hidup bersama adalah seorang gadis yang menolak pernikahan antar dua kerajaan. Sepertinya Hiver tidak begitu menyukai kehidupan monarki hingga kau datang mengajukan sebuah pertunangan. Selebihnya kau tahu sendiri seperti apa." ujar Summer seraya menghela napas panjang
"Andai saja saya hanya seorang yang biasa, mungkin Hiver telah menjadi pendamping hidupku, Yang Mulia. Kami akan hidup menepi di tengah perkebunan, di dataran tinggi yang dingin seperti letak chateu ini." desah Philip seraya menatap pohon Cedars yang meliuk tertiup oleh angin. Tampaknya hujan hari itu akan menerpa Osterland.
"Jangan berkecil hati seperti itu, Philip. Seseorang yang baik pasti akan dipertemukan denganmu, yang membalas perasaanmu dengan sepenuhnya." hibur Summer namun Philip malah menghela napas panjang.
"Terima kasih, Yang Mulia. Namun saya masih belum memikirkan hal itu."
"Apakah kau akan mengirimkan surat kepada Hiver ?" tanya Summer dengan hati-hati.
Philip mendengus sangat pelan sambil menjauhkan ponselnya agar Summer tidak mendengar tingkah tidak sopannya itu.
"Tidak, Yang Mulia. Saya sangat mengetahui sifat putri pertama anda. Hiver dengan kecepatan jet suaminya, akan terbang ke Swedia dan merobek surat tersebut di depan mata kepalaku sendiri." ujar Philip kemudian terkekeh ringan dan menggeleng.
Summer sejenak terdiam kemudian helaan napasnya terdengar lebih panjang.
"Philip, jika kau butuh seseorang yang lebih dewasa untuk diajak bertukar pikiran. Kau bisa menghubungiku. Namun ada baiknya kau mengirimkan pesan terlebih dahulu." kata Summer prihatin selayaknya seorang ibu yang mengkhawatirkan anak-anaknya.
Senyum Philip mengembang, hatinya terhibur. "Tentu saja, Yang Mulia. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk menelepon."
Semenit kemudian keduanya berbasa-basi untuk mengakhiri percakapan.
Philip mengembuskan napas panjang. Pagi itu merupakan hari pertama ia merasakan titik-titik bahagia di relung hatinya sejak kedatangan singkat Princess Hiver.
Apa kabarmu? Apakah kau baik-baik saja di sana?
...
Pasangan dimabuk asmara terlihat berjalan bergandengan tangan dengan mesra menyusuri Jalan Rue de Brest, Lyon. Sesekali Hiver merebahkan kepalanya di lengan Orion hingga mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang berpapasan dengan mereka. Yang mengenal keduanya dengan spontan mengambil gambar secara terang-terangan, Orion terlihat tidak mempermasalahkan bahkan beberapa kali ia mengulas senyuman saat tahu dirinya sedang diabadikan.
"Lucu." ungkap Hiver memandang patisserie yang berada di sudut jalan. Bangunan berwarna maroon dengan kaca bening hingga menampilkan bagian dalam yang berisikan berbagai macam roti dan coklat.
"Kau ingin mencobanya, Marjorie?" tanya Orion berdiri di depan kacang bening hingga ia melihat pantulan tubuh mereka yang sangat kontras. Hari itu Hiver mengenakan sweater wol berwarna abu dan celana hitam dipadu sneakers. Sementara Orion dengan kaos putih dipadu denim biru terang. Surai emas pucatnya di kepang oleh Hiver.
"Iya." singkat Hiver langsung menarik tangan kekasihnya masuk ke dalam patisserie.
Wangi roti terpanggang bercampur aroma coklat memenuhi tempat itu, Orion dan Hiver memejamkan mata menikmati sensasi Theobromine yang membuat perasaan semakin bahagia.
"Coba lihat, Marjorie." Orion mengambil bungkusan pipih dari kertas daur ulang berwarna coklat.
Manik hijau Hiver beradu dengan bola mata biru gelap milik Orion. "Coklatnya berasal dari Indonesia." ujarnya sambil tersenyum lebar.
Orion mengangguk kuat dengan kekehan manis keluar dari bibirnya. "Jika aku tidak salah, kau tidak terlalu menyukai coklat."
"Siapa yang mengatakan itu?" Hiver mendengus sambil mengerutkan alisnya.
"Dulu waktu beranjak remaja kau menolak coklat pemberian River."
"Kau terlalu jenius, aku bahkan telah melupakan hal itu, Orion. Tapi seingatku waktu remaja, aku sangat menghindari coklat ketika jadwal bulanan hampir tiba." jelas Hiver kemudian tersipu.
Orion pun larut dengan ekspresi wajah istrinya. Ia tertawa ringan kemudian mengambil beberapa jenis coklat lain dari rak dan menaruh di keranjang.
"Kau jerawatan?" Ujar Orion mendekati rak stainless berisikan berbagai macam roti yang enak.
Hiver ikut memilih apa yang menjadi kesukaannya sekilas melirik wajah cantik dan kepang rambut Orion yang lucu. Hiver terkekeh kecil.
"Tidak banyak. Hanya pada saat momen tertentu. Kalian bertiga satupun tidak ada yang jerawatan, aku sangat iri saat kita masih remaja." ucap sambil Hiver meletakkan roti bun pilihannya di keranjang.
Orion hanya mencebik samar akan perkataan istrinya. Ia kemudian beranjak pada etalase dark cokelat dengan berbagai macam isian.
"Aku pikir kita harus membelikan orang-orang di rumah." Orion melirik Hiver yang setia mengekorinya. Wanita cantik yang menjadi perhatian para pegawai patisserie itu terlihat mengangguk.
"Mom, dad, Autumm, Kaia." Hiver menyebutkan satu persatu anggota keluarganya yang sebentar lagi akan mereka temui. Orion sengaja berangkat pagi dari kediaman mereka menuju ke kota. Hiver tentu saja sangat senang, ini merupakan kesempatan pertama mereka berjalan di pusat kota.
"Kau melupakan River dan Carole." Imbuh Orion menahan senyuman gelinya.
"Mereka bisa membeli sendiri." Sungut Hiver sambil menunjukkan kepada pelayan yang salah tingkah akan wujud asli seorang putri.
"Aku yang akan membelikan River dan istrinya. Apakah kau takut Carole tidak menyukai pilihanmu, Marjorie?" Orion iseng menanyakan hal lucu itu hanya untuk memancing istrinya.
"Kau sangat lucu, Marjorie." Orion terkikik. "Bertahanlah semalam melihat musuhmu, istriku."
Hiver berdecak kesal. Bukan karena candaan suaminya, melainkan pertemuan dengan wanita yang menjadi istri sahabatnya. Carole, wanita yang berprofesi sebagai artis itu masih berpikir jika Hiver ingin mengambil River. Carole tidak tahu jika Orion lebih menarik dibandingkan River yang tidak pernah konsisten. Andai River memiliki sifat itu, tentu saja mereka telah bersama sejak dahulu kala.
Untungnya itu tidak terjadi. Bersama Orion, Hiver menemukan banyak hal menarik dari pria sedingin kutub utara. Perasaan cinta yang muncul bak benih tanaman, kemudian membesar dan kokoh.
Tak ada yang bisa memisahkan mereka.
...
Hiver berusaha bersikap tenang dan tampil elegan selama makan malam bersama dengan keluarga besar suaminya. Ya, benar-benar semuanya berkumpul. Tiga generasi berada di halaman samping, duduk rapi di depan meja panjang yang memuat puluhan orang dengan berbagai masakan tersaji indah di atas meja.
Tawa, canda, menghiasi sore menjelang malam hari itu. Beberapa kali nama Hiver naik sebagai bahan pembicaraan. Untungnya Orion menyelamatkannya, apalagi ketika pertanyaan mengenai keturunan.
"Keluargaku yang kucintai, malam ini kami akan memberikan sebuah kabar gembira." seru wanita yang tadinya menanyakan "hasil bulan madu Hiver dan Orion". Siapa lagi jika bukan artis beracun yang dinikahi River, Carole Deneuve.
Kasak kusuk dan wajah ceria dari beberapa orang di meja menanti dengan jantung berdebar kencang.
"Ya, saya hamil." aku Carole membuat hampir semua orang terpekik bahagia. Isla spontan beranjak meninggalkan kursinya, memutari meja panjang dan menghampiri Carole.
"Ini berita yang sangat luar biasa, sayangku." Isla terisak memeluk Carole dengan erat. Sementara antrian keluarga Orion mengular untuk memberikan ucapan selamat kepada wanita itu.
Kecuali Hiver dan Orion.
Keduanya tetap berada di kursi, dan River menatap Hiver dengan gerak tubuh yang salah tingkah. Beberapa kali River terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bahkan ia menggeleng lemah dengan tatapan sendu ke arah Hiver.
"Selamat, Riv." ucap Hiver pelan kemudian beranjak dari kursinya. Tubuhnya tiba-tiba saja gerah melihat orang-orang bereaksi penuh sukacita kepada Carole.
"Hiv, tolong." River menggeleng dan sendu.
Hiver tidak peduli, ia terus berjalan meninggalkan meja panjang dan orang-orang tersebut. Hiver merasa tersisihkan.
"Marjorie." tangan Hiver digenggam ketika mencapai tangga menuju beranda mansion megah milik orang tua suaminya.
Hiver menoleh dengan wajah memerah dan manik hijau yang berkaca-kaca. "Dia mengalahkanku, Orion." ucapnya pelan.
Orion tersenyum tipis sambil mengangukkan kepala. Kini gilirannya membimbing Hiver masuk ke dalam rumah, melewati beberapa ruangan menuju kebun buah miliknya.
"Duduklah." Perintah Orion lembut kepada Hiver yang tidak jadi menjatuhkan air mata. Putri Mersia itu terlihat sangat dingin dan pucat.
"Marjorie, lihat aku." Orion menangkup wajah istrinya yang semula tertunduk dengan meremas kedua jemari tangannya.
"Kenapa hal seperti itu merusak hatimu, Marjorie? Bukankah itu sebuah berita bahagia. Setidaknya untukku." ujar Orion seraya menyalakan manik biru gelapnya.
"Kenapa?" tanya Hiver lemah tanpa tenaga. Ia bahkan belum sempat menyentuh menu pilihannya yang sangat enak itu, dan Carole merusak selera makannya.
Terkutuklah kau ! Hiver bermonolog seraya menikmati wajah Orion yang manis.
"Karena dengan itu, River tidak akan lagi mengejarmu. Sungguh menyenangkan, berkumpul dan mendapatkan berita dari Carole. Mungkin aku harus memikirkan hadiah untuk Carole. Hmm.. sesuatu yang mahal." ujar Orion dengan santai.
Hiver mengerucutkan bibirnya dan berusaha membuang muka.
"Kenapa kau bersikap seperti ini, Marjorie?" kembali Orion menanyakan hal sama yang dilontarkannya beberapa menit lalu. "Apakah kau cemburu karena Carole lebih dahulu hamil?"
Hiver mengangguk. Manik biru gelap Orion membesar dan suara tawa manis memekakkan rongga dada Hiver.
"Kau sangat lucu, Marjorie." Orion membetulkan atasan suitnya yang berwarna putih gading. Tak lama kemudian ia kembali merengkuh tubuh Hiver dengan lembut.
"Bintang jatuh." Hiver bergumam menikmati aroma tubuh Orion yang sukses membuat hatinya tenang dalam seketika.
"Ya, Marjorie."
Hiver mendesah panjang dan meringkuk dalam pelukan Orion. "Apakah kau melihat tatapan kemenangan Carole yang ditujukan kepadaku saat mommy memeluknya? Mata Carole seakan mengatakan kamu kalah. Aku tidak menyangka jika River mendapatkan wanita seperti itu. Aku cemburu, karena Carole mendapatkan perhatian sebesar itu dari semua orang. Momennya sungguh pas, aku tidak mungkin mendapatkan waktu seperti ini lagi."
"Aku melihatnya, Marjorie. Tapi itulah Carole, mungkin sejak kecil dia di didik untuk menjadi seorang pemenang walau dengan berbagai cara. Bersabarlah dengannya. Jika kau hamil, kita akan membuat pesta selama tiga hari tiga malam di danau. Dan mungkin saja di Mersia akan merayakannya dengan sebuah parade besar-besaran." seloroh Orion membuat Hiver tertawa.
"Itu sangat berlebihan, Orion. Dan ya, papa pasti bisa melakukan itu. Sekarang hanya kita yang menjadi harapan Mersia." tukas Hiver lemah. Ia mendongak dengan wajahnya yang terlihat sangat rapuh.
"Apakah kau ingin mengakhiri masa pacaran kita, Marjorie? Keputusan ada di tanganmu. Namun jika kau menanyakan hal itu kepadaku, terus terang aku tidak ingin menjadikan sebuah kehamilan sebagai ajang untuk mencari perhatian keluarga. Aku ingin hidup denganmu menikmati setiap harinya, mengokohkan pondasi rumah tangga kita agar tak goyah hingga tua kelak.Persoalan hamil atau belum aku kembalikan kepadamu, karena dirimu -lah yang mengandung anak kita selama 9 bulan, dan tugasku menemanimu melewati proses itu." ujar Orion dengan bijak.
"Aku?" tanya Hiver membeo dan jantungnya kini berisik gaduh hanya dengan penuturan panjang Orion.
"Ya kamu, Marjorie."
###
alo kesayangan💕,
kemarin aku telah menulis Mersia, separuh jalan kehapus.. wkwkwk
aduhaiiii, hati ini mangkel setengah mati.
apa daya mengulang dari awal.
aku senang dari beberapa readers sejatiku mengatakan "menulislah ketika kamu sempat, kak. jangan dipaksakan."
sayang deh...
[oh ya, ada yang minta agar Hiver tidak jatuh cinta kepada dua pria, hmmm.. kasih jawaban gak ya?]
love,
D😘