MERSIA

MERSIA
Leave Me Alone



"River!" Orion berteriak lantang seraya berdiri. Hiver memegang lengan pria bersurai emas pucat itu dengan pandangan tak lepas ke arah River.


"Ya, bukannya begitu baby? Kau mencintaiku. Bahkan aku masih mengingat dengan jelas saat kau mengatakan aku mencintaimu."


"River, berhenti!" kembali suara Orion meninggi bersamaan River berjalan mendekat.


River mencibir diikuti desisan marah "Kau mengambil wanitaku, Orion! Sangat jelas Hiver mencintaiku dan kenapa justru kau yang menikah dengannya! Tolong, sandiwara apa yang kalian jalani. Huh!" sergahnya tak mau kalah.


Genggaman tangan Hiver menguat di lengan Orion, ia berada di tengah pertengkaran antar saudara yang pastinya pertama kali terjadi dalam sepanjang usia mereka.


Ada perasaan bersalah begitu kuat muncul di hati Hiver. Demi menjauh dari Philip, ia akhirnya merusak hubungan River dan Orion.


"Kami tidak bersandiwara." Orion melihat wajah Hiver yang memucat.


"Terus apa? Bagaimana mungkin orang yang saling membenci berakhir menikah. Dalam waktu yang sangat singkat semua berubah. Hiv, aku masih ingat kau bahkan menolak untuk mengetahui nomer ponsel Orion."


Pemilik nama yang disebut Orion melebarkan mata biru gelap, seraya menatap wajah istrinya.


Hiver gelalapan dan menggeleng. Orion justru tersenyum simpul.


"Sampai sekarangpun Marjorie sepertinya tidak tahu nomer ponselku." Orion menantang dan tak gentar akan ledakan emosi saudara kembarnya.


"Orion!" teriak River bersamaan dengan memukul meja makan, perlengkapan masak pun bergetar walau tak ada yang melompat jatuh dan pecah.


River mengarahkan pandangan pada Hiver yang terlihat sangat ketakutan akan perbuatannya. Rahang River mengeras melihat bagaimana intim kedua orang yang dulunya tidak pernah akur.


"Aku perlu bicara dengan Hiver. Berdua." tegas River sambil menatap Orion.


Hati Hiver bimbang dan takut. Ia tidak pernah melihat River meninggikan volume suara, apalagi menggebrak meja dengan tinjunya.


Hiver mendongak dan berpandangan dengan Orion.


Hati River semakin tersengat cemburu melihat saudara dan wanita yang dicintainya saling menatap dengan lekat.


"Biarkan aku bicara sebentar dengan River." pinta Hiver meminta izin kepada Orion. Tangan menepuk lembut lengan pria yang menikahinya dua hari yang lalu.


Tatapan Orion silih berganti ke River dan Hiver, berapa waktu kemudian ia menghela napas dalam sambil menganggukkan kepala.


"Kau boleh bicara dengan Marjorie, tapi tahan tanganmu untuk tidak menyentuhnya. Marjorie bukan temanmu lagi melainkan sekarang adalah istriku." kata Orion dengan tegas kepada River yang spontan memutar matanya dengan malas.


Hiver yang mendongak menatap wajah Orion yang sedikit memerah seolah memakai blush on disebabkan rasa kesal terhadap saudara kembarnya.


Hiver sangat ingin memeluk Orion saat itu juga, entah mengapa muncul perasaan yang tak pernah hadir sebelumnya. Harusnya Hiver menenangkan River yang notabene sahabatnya, jelas pria itu sedang marah besar. Tapi, hati Hiver justru tersentuh dengan wajah Orion yang sendu.


"Pergilah, Marjorie." tangan ramping Orion membelai wajah Hiver dengan lembut, selembut suaranya.


Hiver sempat meremas kemeja Orion sebelum tangannya di tarik paksa oleh River. Sang putri menoleh menatap Orion yang tersenyum tanpa menampakkan gigi drakulanya. Hiver tahu jika Orion tidak sepenuhnya ikhlas melepaskannya.


River membawa Hiver ke taman belakang mansion, mendudukkan wanita cantik bersurai hitam pada bangku besi bercat putih.


Sejenak River menatap Hiver dengan sangat lekat, hingga pandangannya menembus jantung wanita yang dipegang kedua bahunya.


River menegakkan tubuh seraya melipat kedua tangan di dada. Hiver menaikkan kepala, manik hijau itu menatap kosong.


"Kegilaan macam apa yang kalian pertontonkan ini, Hiv? Begitu aku mengetahui kabar Orion menikah denganmu, saat itu pula aku angkat kaki dari negara sialan itu! Aku terlambat untuk menghentikan pernikahan kalian. Oh Tuhan! Baby, apa yang merasukimu hingga mau menikah dengan Orion?"


Bibir Hiver bergetar hendak menyanggah perkataan River, tangannya meremas roknya. Ia sangat ingin menoleh ke belakang atau ke lantai atas, ruangan kerja Orion. Penuh harap, pria yang selalu memberikan ketenangan mengirimkan sebuah senyuman penyemangat hati.


River berjongkok di depan lutut Hiver. Wanita cantik itu diam membisu.


"Aku berinisiatif terbang ke Asia demi menghindar dari pemberitaan putri pertama Kerajaan Mersia bertunangan dengan pewaris tahta Kerajaan Swedia. Ya, di sana tidak sinyal telepon. Aku sengaja. Aku mencoba menepi, Hiv. Rupanya keputusanmu berseberangan dengan permintaanku untuk menunggu. Kau memilih seorang pangeran yang terbaik yang pernah mendekatimu. Aku bisa apa, kecuali melepaskanmu. Dan lihat, apa yang terjadi?" tutur panjang River seraya mengulurkan tangannya hendak menyentuh pipi Hiver.


Sang putri menolak, ia memundurkan tubuhnya.


River mendengus kasar lalu duduk di sebelah Hiver.


"Kau sungguh berbeda, Hiv. Apakah Orion membagi kebekuan hatinya kepadamu? Ini bukan Hiver yang kukenal selama 27 tahun. Bukan Hiver yang memberikan lukisan wajah di setiap ulang tahunku. Dari gambar paling sederhana karena kau masih kecil hingga sekelas seorang pelukis ternama, semua tersimpan di ruangan milikku. Kemana perginya, Hiver -ku?" intonasi suara River akhirnya melembut, amarahnya menguap.


Hiver menoleh dengan manik hijau yang berkaca.


"Aku masih sama, Riv. Sebelum kau menikah. Sekarang aku semakin berbeda karena menikah dengan Orion."


River terdiam, kedua tangan mengepal di samping tubuhnya.


"Bukankah aku katakan di dalam surat untuk menungguku, Hiv. Bukan menikahi saudara kembarku. Orion, Hiv! Dia Orion, pria terakhir di muka bumi yang menyukaimu." seru River


"Kau salah, Riv. Jika dia tidak menyukaiku, pastinya tidak akan muncul di Mersia meninggalkan mansion ini."


River tergelak tawa seraya menoleh ke lantai atas, ia melihat dengan jelas sosok saudara kembarnya yang berdiri dengan wajah datar. Hiver melakukan hal yang sama, jemari ramping Orion melambai sangat pelan ke arahnya.


Entah, pada saat itu juga Hiver ingin berlari ke lantai atas dan memeluk Orion dengan erat.


Dehaman keras River menyentak lamunan Hiver, iapun kembali memfokuskan diri pada pria di sebelahnya.


"Bagaimana jika Orion sengaja melakukan hal ini agar mendekatkan orang yang tak disukainya berada dalam jangkauan. Ya, agar dia bisa bersikap sewenang-wenang kepadamu, Hiv." River memperalat Hiver, wanita yang merespon perkataannya dengan sorot mata hijau yang tajam.


"River Phoenix, sadarkah engkau jika pria yang kau tuduh adalah saudara kembarmu sendiri? Kalian berbagi kandungan selama 9 bulan, memakan nutrisi yang sama. Walau karakter kalian berbeda, tapi ucapanmu sangat tidak rasional. Orion tidak sejahat itu." balas Hiver walau tidak menaikkan suara, hanya sedikit sinis dalam perkataan.


River tergelak tawa, kepalanya menggeleng kuat tidak percaya.


"Demi Tuhan, Hiv. Apa yang terjadi kepadamu? Hah? Kemana roh tubuh ini? Sahabatku, wanita yang paling kucintai di muka bumi. Tak terhitung negara kita datangi bersama, Hiv. Aku sangat mengenalmu, kaupun sangat mengenalku. Dulu, kita menjadikan Orion sebagai bahan bercandaan, kini justru kau yang jadi pembelanya. Aku tidak salah dengar, bukan?"


"Ya, Riv. Kau tidak salah dengar. Orion adalah suamiku, itu faktanya. Sebagai istri aku pasti membelanya dari perkataan jahat bahkan itu dari saudara kembarnya sendiri."


"Apa?" teriak River spontan berdiri dan berjalan dua langkah ke depan. Kepalan tangannya memutih. Tak lama ia memutar badan dan menatap Hiver dengan mata biru terangnya yang berembun.


"Princess Marjorie Hiver. Tolong kembalilah seperti semula. Jika kau ingin membalas dendam karena aku menikahi Carole, bukan seperti ini caranya. Ambil pisau paling tajam lalu tusukkan tepat di jantungku. Aku rela mati di tanganmu, baby. Dibandingkan melihatmu hidup bersama dengan saudara kembarku. Tidak, Hiv! Kau putri yang tidak memiliki hati, sayang." River bersimpuh tepat di depan Hiver. Menangis, pria bersurai coklat terang itu tersedu-sedu dengan kepala menunduk.


Tangan gemetar Hiver menggapai surai River mengelusnya dengan pelan. Putri Mersia itupun ikut menjatuhkan air mata.


River menaikkan kepalanya, menggeleng dengan lemah.


"Aku mencintaimu, Hiv. Sejak dulu. Aku selalu mencintaimu walau ada Carole di sisiku. Ya, aku jahat membiarkanmu memendam perasaan selama itu. Aku tidak percaya diri untuk mengatakan cinta. Kau sempurna, Hiv. Semua pangeran di dunia memujamu, apalah artinya seorang pria yang menjadi sahabatmu dibandingkan mereka."


Tangan Hiver mengelus pipi River, tulangnya menonjol ketika marah pun ketika bersedih. Itu ciri khas seorang River Phoenix. Tampan dan sangat maskulin.


Tangan kokoh River memegang kedua jemari Hiver yang masih bertengger di pipinya.


"Hiv, dengarkan aku." Mata biru itu mengental menatap di hijaunya manik Hiver.


Tatapan River menghipnotis Hiver, ia kemudian terdiam menunggu.


River menarik napas panjang "Baiklah, Princess Hiver. Bertahanlah di sini, tapi tolong jangan larut dengan Orion. Karena aku akan kembali kepadamu, begitupun dirimu. Kita adalah orang-orang yang salah dalam menemukan pasangan hidup. Aku janji secepatnya akan mengurai kekusutan ini, Hiv. Andai saja, Orion.." suara River tercekat, air matanya kembali jatuh.


"Riv." Hiver mengerang lirih.


River menggeleng kuat dan kembali mengambil udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi setiap rongga paru-paru.


"Andai saja kau hamil dengan Orion, perasaanku tidak akan pernah berubah. Aku akan mencintaimu sama seperti pertama kali aku merasakan cinta ini, sama seperti kau membisikkan kata itu di pesta pernikahanku, sama seperti sekarang. Selamanya, aku mencintaimu. Princess Hiver, hanya kau satu-satunya."


Tangan Hiver lunglai, jatuh di atas paha membawa serta jemari kokoh River. Dadanya sesak, sebuah tetesan air mata jatuh perlahan kemudian menjadi deras bak hujan di akhir bulan November.


"Tinggalkan aku, Riv."


...


Tubuh kekar berotot berjalan dengan tegap dan penuh percaya diri. Orang-orang menyambutnya dengan penghormatan yang sangat tinggi, seolah melupakan jika beberapa hari lalu ia telah dipermalukan dengan pesta pertunangan yang batal dengan sang putri.


Ya, Philip kembali ke Mersia kali ini berita kedatangannya terpampang jelas di semua media cetak maupun digital. Berita-berita yang memberikan keterangan jelas akan maksud kedatangan pewaris Kerajaan Swedia di Mersia, yakni ingin bertemu dengan King Robert Finlay.


King Robert menyambut Philip dengan hangat, entah sandiwara atau bersikap profesional demi hubungan baik dua kerajaan.


"Apa kabar King Sigvard dan ratu?" tanya King Robert ramah sambil menyilakan tamunya duduk di kursi beledu merah.


Philip tersenyum simpul "Sangat baik, Yang Mulia. Apalagi ayah mengetahui dengan rencana kunjungan saya ke Mersia."


King Robert menganggukkan kepalanya dengan bijak.


"Sungguh senang mendengarnya, Prince Philip."


Pewaris tahta itu kembali mengurai senyuman tipsi "Yang Mulia, sebenarnya kedatangan saya kali ini ingin memperbaiki hubungan dua kerajaan. Dan sebelum ini kami sangat ingin mendekatkan diri dengan Mersia. Ya, sayangnya tidak berhasil. Maaf, belum berhasil. Tapi besar harapan kami jika kali ini benar terjadi hubungan dua kerajaan yang semakin erat." ucap Philip menjeda perkataannya sembari menatap manik hijau yang sama persis dengan wanita yang menghancurkan hati sekaligus dirindukannya itu.


King Robert tersenyum "Ya, tentu saja. Bukankah semua orang menginginkan ikatan yang kuat satu sama lain, Prince Philip."


Philip mengangguk setuju.


" Benar sekali Yang Mulia, maka dengan itu King Robert Finlay of Mersia, perkenankan saya Prince Philip Bernadotte, Duke af Vasterbotten melamar Princess Maryln Lou of Mersia."


...


Orion tersentak di tempat tidur ketika menyadari teman tidurnya tidak berada di sebelah. Iapun langsung menyalakan lampu nakas dan melihat jam antik kecil di tempat yang sama.


Pukul 2.36am. Masih terlalu pagi dan Hiver telah terbangun. Tatapan matanya menatap setiap sudut kamar dan tidak ada tetesan air jatuh terdengar dari kamar mandi yang berada di pojok kanan.


Orion bergegas keluar dari kamar tidur, mengabaikan kakinya yang perlu mengenakan sandal rumah yang empuk. Ia terus berlari pada koridor mansionnya yang luas hingga mencapai tangga.


Surai emas pucatnya bergoyang karena angin yang ditimbulkan tubuhnya bergerak ringan menuruni 19 anak tangga. Sungguh, sekarang ia jadi membenci tangga tersebut yang memperlambat pergerakan dirinya.


Dada Orion melega ketika melihat sosok Hiver sedang berdiri di depan kolam air mancur di taman belakang. Ia baru saja melangkah sekali dan wanita bersurai hitam itu menoleh dengan senyuman lebar di bibir.


Setidaknya wajah Hiver mulai cerah, tidak seperti kemarin setelah kepulangan River.


Di lantai dua mansion, tepatnya di ruangan kerjanya. Orion melihat setiap gerak gerik River dan Hiver. Ia melihat dengan jelas ketika River marah, kemudian menangis dan mendengarkan setiap perkataan saudara kembarnya dengan baik-baik. Kemudian semuanya tersimpan di memori Orion.


"Aku terbangun dan tidak mendapatimu di tempat tidur, Marjorie." Orion berdiri di sebelah Hiver tanpa berani menyentuh istrinya. Melihat Hiver yang sedikit menjauh usai tragedi kemarin membuat Orion memberikan ruang untuk putri Mersia tersebut.


Orion bahkan tidak bertanya sedikitpun pada sesuatu yang diketahuinya dengan baik. Ia membiarkan Hiver menelaah sendiri, tidak juga bersikap memiliki dengan menekan agar sang putri mengingat status pernikahan mereka. Ya, sebuah pernikahan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.


"Aku terbangun, Orion." jawabnya membalikkan badan menatap pria yang kembali mengenakan pakaian tidur serba putih. Orion adalah malaikat yang sedang melaksanakan dinas malamnya.


Orion tersenyum tipis, sedikit gigi taringnya nampak "Lain kali bangunkan aku, Marjorie. Tentunya aku akan menemanimu di sini." ucapnya dengan nada yang lembut mendayu.


Hiver tertegun menatap wajah indah Orion, pun kemudian ia menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Kedua tangan menggapai bagian depan piyama tidur Orion.


"Marjorie." suara indah itu kembali mengalun di telinga Hiver. Tenang, ia menemukannya. Setelah hampir sejam berdiri di taman mengharapkan kehadiran perasaan tersebut.


Hiver menatap Orion dengan intens, hatinya mendadak merasakan rindu pada pria yang tidur bersamanya, pada pria yang diremas kemeja tidurnya.


"Orion, cium aku." pinta Hiver merapatkan tubuh bersamaan dengan itu kedua tangan kokoh memeluk pinggangnya, sedetik kemudian keduanya berpagutan dengan lembut.


###






alo kesayangan💕,


aku menunaikan janjiku bukan?


part nano-nano


wkwwkwkwkk...


sampai ketemu kapan-kapan yah


jangan teriak Mersia di novel lain.


[btw, jangan patah semangat hanya karena aku tidak membalas komen kalian, author kaleng-kaleng ini punya real life juga yang perlu diperhatikan.. kalau balas berarti lagi seloowwwww bgt. tapi pasti kalian lebih seneng aku UP novel daripada balas komen bukan? wkwkwkk]


love,


D😘