MERSIA

MERSIA
Rindu Pertemuan



"Semua yang terjadi di sini akan tetap menjadi rahasia kita berdua. Semua perkataan, candaan, sikapku yang terbuka seperti ini, kamu pun begitu. Akan kita simpan baik-baik dalam hati. Semua yang terjadi di sini tidak akan terulang lagi. Kelak kita akan bertemu dalam suasana canggung, formal. Sekadar berjabat tangan atau mungkin saling melempar senyum. Begitulah nanti kehidupan kita, Nada. Semoga kau kuat menjalaninya," kata Onyx sambil menggenggam jemari Serenade ketika hendak melepas kepergian wanita bersurai emas itu di halaman mansion.


"Aku akan mengingat semuanya dengan baik-baik, Onyx. Terima kasih atas segalanya," Serenade memandang raut Onyx. Mungkin benar ini terakhir kali mereka sedekat ini, termasuk leluasa memandang pewaris tahta Kerajaan Mersia itu.


Onyx meraih kedua jemari tangan Serenade dan mengecupnya lembut dan lama. "Hmm.. bagaimanapun kita sebenarnya adalah keluarga, mungkin ini cara Tuhan hanya mengenalkan namun tidak menyatukan. Kita diminta untuk menemukan orang lain, orang baru untuk masuk ke dalam ke kehidupan masing-masing. Kita berhak untuk bahagia, jadi tolong hubungi Philip katakan yang sebenarnya, Nada,"


"Ya, nanti ketika aku kembali di New York. Sampai bertemu dengan dunia yang berbeda, Onyx. Terima kasih," Serenade memberikan pelukan hangat kepada Onyx. Mereka saling menepuk punggung kemudian melepaskan dengan pandangan mata yang sendu.


"Hati-hati di jalan, Nada," kata Onyx, Serenade menoleh tersenyum sangat manis dan indah. Wanita cantik itu melambaikan tangannya dan kemudian sosoknya semakin menjauh. Hati Onyx sakit, sesak.


Tubuh Onyx tersentak dari tidur. "Mimpi itu lagi," gumamnya sambil menghela napas panjang. Perlahan bola mata mengarah ke jendela. "Sudah pagi," gumamnya.


Ia kemudian beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi. 20 menit kemudian Onyx keluar dengan tampilan lebih segar. Wajah yang bersih, gigi beraroma mint, surai hitam yang sedikit basah. Ia memutuskan mengganti pakaian tidurnya dengan sepasang hoodie dan celana jogger berwarna teal.


"Selamat pagi, Yang Mulia," sapa Paul ketika Onyx keluar dari kamarnya. Seperti biasa pria itu menunggu Onyx di depan pintu. Ia tidak pernah meminta untuk dilayani sedemikian rupa di mansion kakak iparnya namun tetap saja para pelayan melakukannya tanpa perintah.


"Selamat pagi, Paul," Onyx menyapa balik sambil tersenyum simpul. Ia seharusnya pulang nanti siang, jika mengikuti jadwal liburannya yang semula. Namun Onyx memutuskan untuk memperpanjang masa bersantainya selama dua hari ke depan.


"Bagaimana tidur, Yang Mulia?" tanya Paul berjalan selangkah di belakang Onyx.


"Begitulah, sudah 2 malam tidurku tidak bisa lelap. Selalu bermimpi hal yang sama, padahal sebelum ini aku jarang bermimpi," keluh Onyx kemudian mendesah.


"Banyak pikiran salah satunya, Yang Mulia," cetus Paul dengan pelan. Ia tidak ingin membuat pangeran itu tersinggung dengan perkataannya yang lancang.


"Ya, sepertinya begitu. Dan itu pula alasan untuj menambah hari untuk bersantai di sini. Aku tidak ingin kembali ke Mersia dengan kesibukan padat sementara pikiranku belum sepenuhnya bisa berpikir jernih," papar Onyx setelah mencapai di lantai satu. Ia berhenti sebelum akhirnya ingatannya berfungsi dengan baik.


"Kami sudah menyiapkan sarapan di dermaga," kata Paul mengingatkan.


Telunjuk Onyx mengacung lalu tertawa kecil. "Aku sendiri yang meminta sarapan di dermaga. Aku lupa jadwalku sendiri,"


Paul tersenyum sambil mempersilahkan Onyx. "Hanya Yang Mulia yang meminta makan di luar, bahkan Tuan Filante dan Nyonya tidak pernah melakukan ini,"


Onyx tertawa pelan. Ia menoleh memandang Paul. "Karena hanya di sini aku bisa melakukan apapun. Bahkan sebelum Marc menjadi nyonya, mansion Tuan Filante tempat pelarianku,"


Paul mengangguk patuh. "Kami sangat senang jika Yang Mulia berkunjung. Selain Yang Mulia, saudara Tuan Filante seperti Tuan River sangat jarang ke sini. Mereka lebih memilih bertemu di Lyon," terangnya sopan.


"Tempat ini senyaman Mersia tanpa orang-orang yang memiliki kepentingan," putus Onyx ketika langkah-langkah kaki panjangnya tiba di dermaga.



Cuaca pagi itu lebih cerah dibandingkan kemarin pada jam yang sama masih diselimuti oleh kabut. Pun kemarin Onyx masih dalam suasana berduka, ia masih merasakan kecewa pula kehilangan hingga ia lebih memilih menghabiskan waktu di dalam mansion.


"Terima kasih," kata Onyx kepada pelayan yang menuangkan kopi ke cangkirnya. Pelan dan tenang ia menikmati sarapannya pagi itu, setenang danau di depan.


Bunyi dengungan dan air danau tiba-tiba menjadi berombak, Onyx terperangah melihat perahu yang melintas di tengah danau.


"Tuhan," pekik salah satu pelayan ketika perahu itu tiba-tiba berhenti dan terhempas.


Spontan Onyx berdiri lalu berlari menaiki jet ski diikuti dua pelayan lebih muda mengendarai speed boat menuju perahu yang mengalami insiden.


Jetski berwarna hitam itu membelah danau dengan kecepatan penuh kemudian melambat ketika mencapai perahu yang mogok.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Onyx kepada wanita muda yang terduduk dengan tubuh gemetar.


Tak ada respon dari wanita muda yang tertunduk, kedua jemarinya mengepal. Onyx menepuk punggung wanita itu dengan pelan.


"Hei, kau tidak apa-apa?" tanyanya kembali.


"Enggg.." Erangan lemah keluar dari wanita muda itu. Onyx berjongkok, saat itu pula wanita bersurai coklat dan keriting menengadah.


Pupil Onyx melebar, ia tidak menyangka jika wanita itu memiliki paras yang menarik seperti boneka hidup. Wajah kecil, hidung mancung, round lips, rambut indah, sepasang bola mata berwarna hazel.


"Mungkin sedikit lecet," wanita muda itu memperlihatkan lututnya.


"Ini harus diobati, kau memiliki kotak P3K?" tanya Onyx.


Wanita itu menggeleng sambil menggigit bibirnya. "Ini perahu tua milik Grandpa. Seharusnya saya tidak nekat membawanya. Tidak ada kotak P3K di sini," sahutnya dengan suara lembut. Ia tersenyum manis walau lututnya terluka.


"Di speed boat ada, Yang.." suara yang ikut dalam pembicaraan Onyx dengan wanita yang belum diketahui namanya.


Onyx menoleh ketika si pelayan bersuara. Ia menggeleng agar pelayan tidak menyebut dua kata panggilannya.


"Tuan Alistaire," ralat si pelayan dengan cepat.


"Kau bisa berdiri?" Onyx mengulurkan tangannya. "Sepertinya perahu Grandpa-mu harus diperbaiki. Kita pindah di kapal satunya dan aku akan membersihkan lukamu,"


Wanita muda itu menerima uluran tangan Onyx. Kembali ia tersenyum dengan manik ikut menyipit.


"Aku melihat perahumu sangat kencang kemudian terhempas. Apakah ada yang sakit selain lututmu?" Onyx membantu wanita itu berpindah ke speed boat.


"Terima kasih, Tuan Alistaire. Paha, mungkin akan memar," ucap si wanita muda riang. "Saya belum memperkenalkan diri,"


Onyx mengarahkan agar wanita muda itu duduk di bangku. "Ya, kau bisa memanggilku Alistaire," katanya menyamarkan identitasnya.


"Hawaii Capucine," ucap si wanita muda bersurai keriting sembari mengulurkan tangannya.


Alis Onyx berkerut sambil memandangi si pemilik suara riang. "Serius itu namamu?" tanyanya tidak yakin namun ia menjabat jemari tangan Hawaii.


"Anda bisa memanggilku Hawaii. Saya lahir di Hawai, kami maksudnya saya dan Mama baru pindah ke Perancis 3 minggu. Mama dan Papa berpisah, jadi Mama kembali di kota kelahirannya. Grandpa memiliki penginapan kecil di sana," tunjuk Hawaii ke kejauhan, Onyx memicingkan matanya untuk paham titik yang dimaksud wanita itu.


"Terima kasih," balas Onyx, ia membuka kotak berwarna putih dan mengeluarkan apa yang dibutuhkannya.


Hawaii memerhatikan pria tampan itu membersihkan luka di lututnya sekaligus menempelkan plester.


"Anda seperti Dewa, Tuan Alistaire," sanjung Hawaii.


Onyx terdiam juga tersenyum mendengarkan perkataan riang Hawaii.


"Apakah istana itu adalah milik Anda, Tuan Alistaire?" tengok Hawaii ke pinggir kirinya. Beberapa pelayan terlihat berdiri menunggu Tuannya yang sibuk memberikan pertolongan kepada gadis muda yang mengenakan mini dress berwarna putih.


Onyx berdiri usai menempelkan plester di lutut Hawaii. "Bukan, itu rumah kakakku. Sama seperti dirimu yang berasal dari Hawai, aku dari Skotlandia dan ke sini untuk mengunjungi kakakku, Marjorie. Berapa usiamu, Hawaii?" tanya Onyx santai, ia bisa menebak jika lawan bicaranya berusia di bawahnya.


"19 tahun," jawab Hawaii sambil tersenyum.


Lagi-lagi Onyx terpaku dengan senyuman dan sifat riang Hawaii. "Huh? 19 tahun?" manik coklatnya melebar. "Kau masih sekolah?"


Hawaii memamerkan giginya, seakan tertangkap basah melakukan hal salah. "Saya baru berencana akan berkuliah di sini. Anda tidak tahu apa yang telah kami lewati. Papa yang keras, juga Mama. Mereka hanya bertengkar siang dan malam selama di Hawai. Tadinya Mama ingin kami tinggal di Lyon, tapi sekarang saya lihat Mama lebih tertarik mengurus penginapan milik Grandpa. Hmm.. Itu berarti hanya saya yang akan ke Lyon," jelasnya lalu tersenyum polos.


Onyx melipat bibir, ia mendapatkan banyak informasi dari Hawaii dalam waktu kurang dari 30 menit. "Kau sudah sarapan? Aku sedang sarapan di dermaga saat perahumu bermasalah,"


Manik hazel milik Hawaii berseri. "Anda ingin mengajakku sarapan, Tuan Alistaire? Kebetulan saya belum sarapan,"


Onyx mengangguk lalu mengembuskan napas panjang. Ia terlihat menggeleng mendapati sikap Hawaii yang tidak mengenal kata segan dan sangat Amerika. Gadis-gadis Amerika yang bebas dalam bersikap.


"Duduklah, aku akan membawa kita ke dermaga. Perahu Grandpa-mu akan kami perbaiki, itu akan memakan waktu jadi nanti aku akan mengantarmu pulang," kata Onyx menyalakan mesin speed boat.


"Terima kasih, Tuan Alistaire," seru Hawaii senang. "Oh yah, Tuan Alistaire,"


"Hmm..."deham Onyx sambil mengemudikan speed boat milik Orion dengan sangat pelan.


Hawaii mengabaikan perintah Onyx untuk tetap duduk, sambil tertatih menuju dekat kemudi. Onyx memberikan lirikan kesal karena Hawaii tidak menurutinya.


"Hehe.." Hawaii berpegangan pada cover cabin. "Tuan Alistaire, aku belum menjelaskan nama Capucine kepada Anda. Capucine adalah nama aktris Perancis, dia juga seorang model terkenal pada jamannya. Mama sewaktu muda pernah menjadi model. Menurut Anda apakah saya bisa menjadi model? Jika saya jadi model, Mama tidak perlu bekerja. Kami tidak akan susah lagi," ujarnya optimis dan polos.


Onyx melirik wajah Hawaii yang cantik dan berseri tanpa dosa. Tak ada kebohongan dari semua perkataan yang keluar dari bibirnya kecil merah merona itu.


"Kau penuh semangat, Hawaii" kata Onyx pelan. Ia mengacak surai keriting halus milik si gadis yang tak hentinya menceritakan kehidupannya.


"Saya bertekad untuk hidup lebih baik di sini, meninggalkan semua kepahitan hidup selama di Amerika. Bukankah hidup harus bergerak ke depan, Tuan Alistaire?"


...


Sementara di dalam pesawat, penerbangan menuju New York. Serenade sedang termenung, memikirkan perasaannya. Ia berhasil memberikan jawaban atas penantian Onyx, namun ia tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.


Blank, tidak ada ide yang berkembang di dalam pikiran Serenade. Pun ia tidak tahu bagaimana cara untuk menghubungi pria yang dirindukannya. Selama sisa hari di Lyon ia habiskan terpaku dengan ponsel, mengetikkan berbagai pesan kepada Philip yang satu pun tidak ada berhasil terkirim. Selain itu ia kini menjadi penggemar pewaris tahta Kerajaan Swedia, setiap saat Serenade mencari berita terbaru tentang Philip.


Serenade banksn mengikuti akun sosial media resmi milik Kerajaan Swedia hanya untuk mengetahui perkembangan di sana.


Pada unggahan terbaru ia bisa melihat gambar sang putra mahkota sedang berfoto dengan delegasi negara Afrika yang sedang berkunjung ke Swedia. Tampan, aura kepemimpinan, berkuasa terpancar dari sosok mengenakan suit berwarna khaki.


Serenade menekan dadanya, ia berdebar kencang hanya karena satu foto yang entah berapa kali ia pandangi hari ini.


"Apa yang harus kulakukan?" lirih Serenade lalu mendesah.


"Bagaimana jika perasaanku hanya bertepuk sebelah tangan. Philip memiliki banyak wanita, King Sigvard bisa kapan saja menjodohkannya dengan putri dari keluarga terpandang. Apalah aku ini?" monolog Seranade, manik birunya menyendu.


Ia membelai layar ponselnya, tepat pada pipi Philip. "Kini aku merasa telah melepaskan semua peluang. Kesalahpahamanmu saat di Stockholm. Dan aku telah menutup kesempatan dengan Onyx,"


Kembali Serenade menghela napas, hatinya kesepian dan dihinggapi perih. "Aku terlalu rakus.. ya.. aku salah,"


Bulir air mata jatuh tepat pada wajah Philip di layar ponsel, sambil menahan tangis Serenade mengusap bekas air matanya. "Bagaimana ini, Yang Mulia? Aku takut tapi aku juga merindu. Sangat rindu,"


###



Hawaii Capucine





Alo Kesayangan💕,


Maafkan aku atas chapter kemarin, para TeamOnyx bersedih dan didominasi oleh kalian yang komen. Entah kemana semua Team Philip 😌 wkwkwkk.


Hei, jangan bersedih..


Hidup harus terus berjalan, bukan?


love,


D😘


[oh yah, Jogja hujan sore ini.. syahdu]