
"Mau kemana?" teriak Jeanne ketika melihat anak satu-satunya sedang menuntun sepeda dari tempat parkir. Mereka hanya punya dua kendaraan yait satu mobil tipe Peugeot 206 tahun 2000 berwarna putih beserta sepeda yang sering dipakai Hawaii.
"Ke istana," Hawaii menoleh dan berteriak. Jeanne yang berdiri di ambang pintu terlihat kesal.
"Mama pikir orang itu sudah tidak ada di sana," teriak Jeanne lagi.
Kini giliran Hawaii yang merenggut, meremas kuat-kuat stang sepedanya. "Aku punya keperluan, Mamo. Aku janji akan pulang secepatnya dan tidak usah khawatir," jawabnya kemudian melambaikan tangan dengan terpaksa.
"Ya, berhati-hatilah," Jeanne pasrah, ia membalas dengan melambaikan tangannya.
"Sudahlah, biarkan Hawaii melakukan apa yang disukainya. Dia sudah remaja, Nak," suara dari dalam rumah mengingatkan Jeanne.
"Pa, Hawaii masih muda. Di sini dia tidak punya teman sebaya, takutnya jika berteman dengan pria dewasa dan membuatnya lupa diri," balas Jeanne menengok ke dalam. Tampak Thierry, sang ayah sedang duduk sambil membaca koran hari ini.
"Pada usia yang sama kau telah berkencan dengan Christopher Debois. Sebelumnya dengan Leo,"
"Papa, ingatanmu sangat tajam," Jeanne mendengus pelan. Ia lalu menghela napas panjang. Wanita paruh baya itu terlihat bersedekap sambil bersandar di dekat pintu. "Andai saja aku menikah dengan salah satu pria itu, hidupku tidak akan sesusah ini, Pa,"
Thierry menurunkan koran yang dibacanya. "Kau tidak akan memiliki putri secantik Hawaii jika menikah dengan mereka. Benjamin seorang baj*ngan, tapi dia mewariskan wajahnya yang tampan itu ke Hawaii,"
"Karena wajahnya itu yang membuatku tergila-gila. Aku pikir saat itu memenangkan lotre, mendapatkan pria tampan walau ia hanya seorang penjaga pantai merangkap pemandu wisata," desah Jeanne mengingat masa lalu.
Ia melihat ke jalanan, sosok Hawaii semakin menjauh.
"Papa tahu rumah yang sering didatangi oleh Hawaii?" tanya Jeanne penasaran.
Thierry menggeleng. "Papa tidak tahu, Jean,"
Jeanne mendesah sambil menggeleng. Kini ia memandang bangunan terpisah dari rumah utama. Bangunan-bangunan tua yang kayunya mulai lapuk di makan rayap. "Semoga kita mendapatkan pinjaman itu, Pa. Sebelum penginapan kita rata dengan tanah karena rayap dan bocor," keluhnya.
"Papa berdoa untuk itu, Nak. Biar bagaimanapun, penginapan ini adalah satu-satunya milik keluarga kita. Banyak turis melihat papan nama penginapan di depan namun mereka mengurungkan niat untuk bermalam bahkan itu saat musim panas. Mereka tidak melihat bocornya, tapi bau kayu lapuk bisa mengakibatkan gangguan pernapasan," tutur Thierry terdengar penuh sesal.
"Pihak bank akan memberikan jawaban besok. Papa tidak usah menemaniku ke kota. Ada Hawaii, semoga anak itu mau," timpal Jeanne kembali masuk ke dalam rumah. Bangunan kayu berlantai dua, sedikit lebih baik kondisinya dari rumah-rumah kecil yang disewakannya.
...
Hawaii berdiri dari kursi yang disiapkan penjaga mansion ketika melihat mobil mewah berwarna hitam masuk melewati gerbang. Ia gugup sambil menggenggam surat yang akan diserahkannya.
Jantungnya semakin berdebar ketika melihat Mr. Benoit sedang berbicara dengan pria yang duduk di sebelah sopir. Tak lama kemudian mobil bergerak pelan dan berhenti tepat di samping Hawaii berdiri.
"Hai, sudah lama menunggu?" sapa akrab dari wanita yang duduk di kursi belakang. "Naiklah,"
Pintu mobil terbuka, wanita cantik bersurai hitam terlihat bergeser ke samping memberikan ruang untuk Hawaii.
Hawaii bergerak ragu, ia tidak menyangka jika wanita cantik yang ia yakini sebagai kakak dari Tuan Alistaire sangat ramah. "Ayo," panggil wanita tercantik yang pernah Hawaii temui.
"Kata Mr. Benoit kau telah menunggu hampir sejam. Perkenalkan saya Marc. Kakak dari Tuan Alistaire," Hiver mengulurkan tangannya ke arah gadis belia di sampingnya.
"Hawaii," sahutnya kikuk menjabat tangan dingin Hiver. Ia hanya menatap sebentar raut wajah Marc, juga melirik perut wanita cantik itu yang sepertinya tidak lama lagi akan melahirkan.
"Aku tidak tahu jika On.. maksudnya Alistaire memiliki teman di sini," kata Hiver hampir keceplosan. Sedikit informasi dari Mr. Benoit membuatnya bisa mengambil peran untuk menyamarkan identitas adiknya.
"Saya ditolong oleh Tuan Alistaire, Nyonya Filante" balas Hawaii memberanikan diri walau dari bahasa tubuh menunjukkan jika ia sangat canggung.
"Apa ini?" Hiver menunjuk amplop di tangan Hawaii.
"Eh," Hawaii menggigit bibirnya, menoleh ke arah Hiver. "Saya ingin menitipkan surat ini untuk Tuan Alistaire. Maaf saya tidak tahu alamat Tuan Alistaire di Skotlandia. Para penjaga istana ini juga tidak ada yang tahu, Nyonya Filante," jawabnya polos.
"Hahahahaha," suara gelak keras terdengar dari kursi depan.
"Orion!" tegur Hiver.
Hawaii tertegun ketika pria bersurai emas pucat yang duduk di depan membalik ke belakang. "Adik, ini bukan istana. Hanya rumah biasa,"
Hawaii kaget dengan perkataan lembut dari pria berwajah cantik itu. Ia menoleh memandang Hiver. Seketika ia tidak percaya diri berada di dalam mobil dengan orang-orang berwajah rupawan.
"Itu suamiku Orion Filante, Hawaii. Oh ya, kau ingin aku menyampaikan surat ini?"
"Jika Nyonya Filante berkenan," jawab Hawaii.
Hiver tersenyum dan mengambil surat berwarna merah muda dari tangan Hawaii. "Pasti akan aku sampaikan secepatnya. Kamu tidak terburu-buru, bukan? Anak kami Marion masih di Lyon karena kami hanya pulang ke sini selama dua hari sebelum terbang ke Mer.. Skotlandia untuk melahirkan. Jadi temani aku sore ini, Hawaii. Please?"
Hawaii mengangguk sangat cepat. Ia tidak menyangka jika dirinya yang tak berguna dibutuhkan oleh wanita secantik kakak Tuan Alistaire. "Nyonya Filante, kalau boleh jujur, Anda dan Tuan Alistaire sangat mirip hanya berbeda di warna mata saja," ucap Hawaii sangat pelan. Ia takut jika perkataannya memberi reaksi dari pria berwajah cantik itu.
"Saya masih memiliki adik setelah Alistaire. Mereka kembar, tapi kami semua memiliki warna rambut hitam karena Mama berasal dari Asia. Ya, kau pasti akan mengenal mereka semua jika pertemananmu dengan adikku berjalan lancar," ujar Hiver dengan suara renyahnya.
Hawaii mendengar itu justru menunduk dengan pipi bersemu kemerahan.
...
Onyx meraih ponsel di atas meja nakas, ia baru saja selesai membersihkan diri. Ia baru memegang ponsel pribadinya setelah semua tugas hariannya sebagai pewaris tahta tuntas.
Kita perlu bicara.
Alis Onyx terangkat sebelah ketika membaca pesan Hiver. Ia pun langsung menekan tombol menghubungkan panggilan.
"Onyx Alistaire, aku menunggumu dari tadi," Hiver menyembur Onyx dengan kalimat pendek bahkan ia belum sempat mengucapkan sapaan.
"Ada apa, Marc?" Onyx duduk di tepi tempat tidurnya.
"Hawaii mencarimu,"
"Hah? Hawaii?" Onyx mengerutkan alisnya.
"Ya, dia menunggu sejam di pos penjaga hanya untuk menitipkan surat. Anak cantik itu mengirimkan surat. Aneh, dia tidak tahu siapa dirimu, Tuan Alistaire," Hiver tertawa. "Adekku, ini sangat lucu. Tidak ada satupun yang memanggilmu dengan panggilan "Tuan Alistaire". Dari mana kau dapatkan ide nama itu?"
Onyx berdecih lalu tertawa kecil. "Seketika itu juga. Dia anak yang sangat cerewet, bukan?"
"Ya, awalnya Hawaii masih canggung dan pendiam. Tapi setelah itu saat di rumah ia banyak bicara, kau pasti sangat terhibur dengan kehadirannya. Hawaii mengatakan jika kalian selama dua hari sarapan bersama di dermaga. Kau menyukainya, Prince Alistaire Onyx? Tapi sayangnya dia tidak tahu tentang dirimu, juga tentang kita apalagi Mersia. Sangat polos, wajar usianya masih sangat muda,"
"Marc, Hawaii masih anak-anak," tepis Onyx.
"Nada menolakmu, jangan terlalu bersedih,"
"Aku tidak bersedih, Marc. Kecewa boleh, bukan?" kilah Onyx.
"Ya, tapi ingatlah jika Philip yang dipilih Nada. Oh iya, suratnya boleh aku buka?"
"Marc! Tolong, kau bisa mengirimnya lewat pos cepat,"
Onyx menggeleng sambil mengeraskan rahangnya. Ia tidak melawan jika Hiver telah berkeinginan kuat seperti itu.
"Kenapa diam?" protes Onyx ketika tidak mendengar suara apapun dari kakaknya.
Tawa Hiver kembali terdengar. "Aku sudah membacanya. Sekarang aku bacakan untukmu. Anggap saja ini acara radio, suaraku sangat bagus sebagai pembaca acara,"
"Sesukamu, Marc. Bacakan saja cepat," Onyx geram akan sifat Hiver yang sangat jahil.
Dear Tuan Alistaire..
Maafkan, saya tidak datang saat sarapan hari ketiga kita. Grandma Jane masuk rumah sakit, tapi sekarang sudah kembali ke penginapan. Bukan hal yang serius, penglihatannya tidak baik dan tekanan darah rendah. Hanya itu.
Tuan Alistaire seharusnya mengatakan sehari sebelumnya jika akan kembali ke Skotlandia. Tahu tidak jika titipkan surat ini lewat Nyonya Filante karena saya tidak tahu alamat Tuan di Skotlandia. Jika surat ini sampai, Tuan Alistaire harus memberiku alamat anda di sana. Sangat tidak enak jika setiap saat mengirimkan suratku harus melalui kakak anda.
Oh iya, walau selama dua hari bersama Tuan Alistaire saya tidak melihat anda memegang ponsel bukan berarti anda tidak punya, bukan? Jika saya sudah punya nomer ponsel Tuan, saya akan meminjam ponsel Grandpa jadi kita bisa berbicara sebentar ketika anda tidak sibuk. Ya, saya dan mama tidak punya ponsel karena papa menghancurkannya sebelum kami kembali ke Perancis. Mama juga tidak berniat memilikinya dalam waktu dekat. Sepertinya mama ingin hidup tenang tanpa bayang-bayang papa. [Seperti biasa saya banyak bicara]
Selama dua hari mengenal Tuan Alistaire sungguh sangat menyenangkan. Saya tidak pernah bosan menghabiskan waktu di dermaga. Tahu tidak, Tuan? Anda benar-benar seperti dewa. Selama saya tinggal di Amerika tidak pernah sekalipun melihat pria seperti anda. Cara anda berbicara, cara anda bersikap, cara anda berjalan semuanya tertata dengan sangat sempurna.
Tuan Alistaire, terakhir..
Jika Anda tidak sibuk dan sudah memiliki cuti, tolong berkunjunglah kembali ke sini. Saya akan selalu menunggu.
Hawaii Capucine.
...
"Apakah Nona akan ke festival?" tanya Reseipsionis kepada Serenade berinisiatif menitipkan pesan ke bagian penerima tamu untuk melaundry baju kotornya yang di kamar.
"Ya," sahut Serenade jengah karena melihat reseipsionis hotel memerhatikan penampilannya.
"Pertama saya minta maaf. Tapi sebaiknya anda mengenakan pakaian yang lebih terbuka, Nona Rajendra," saran receipsionis bernama Linda. "Sekarang tengah musim panas, nanti Nona akan kepanasan di luar. Apalagi berjalan menuju lokasi festival,"
Serenade memastikan penampilan kembali. Hoodie tipis berwarna hitam di dalamnya ia mengenakan kaos beserta celana denim dan sepatu kasual. "Tidak apa-apa, Linda. Saya pikir ini penampilan terbaik untuk hari ini. Terima kasih sudah peduli," kata Serenade itu sambil tersenyum tipis.
"Maafkan saya, Nona Rajendra," Linda terlihat gelisah dengan perasaan bersalah.
"Tidak apa-apa, Linda. Saya berangkat," pamit Serenade berbasa-basi.
Linda akhirnya bisa tersenyum lepas. "Semoga Nona bisa melihat pangeran kami, Yang Mulia Prince Philip. Katanya beliau yang akan meresmikan Festival Film tersebut,"
Berita yang disampaikan Linda bukan hal baru bagi Serenade. Tepatnya semalam Serenade mendengarkan pembicaraan di restoran. Kemanapun ia pergi, Philip menjadi topik utama pembahasan orang-orang.
"Semoga," sahut Serenade lemah. Ia tidak percaya diri.
Kini ia berbalik dan mulai melangkah dengan berat. Kakinya bergerak seakan menyeret jangkar kapal pesiar, inchi demi inchi dengan dada perih oleh gugup dan rasa rindu. Namun setidaknya ia berusaha bertahan di Swedia, bukan kembali ke New York dengan rasa penyesalan.
Serenade hanya perlu berjalan kaki menuju Kulturhuset Stadsteatern dari hotel tempatnya menginap. Semakin mendekat dengan bangunan kaca yang merupakan pusat kebudayaan terbesar di Eropa Timur itu, semakin bergemuruh pula dada Serenade.
Tengggorokan mengering, lutut melemah membuat Serenade memasuki kafe yang menjual makanan juga minuman untuk pengunjung. Sementara menunggu pesanannya, ia berdiri sambil melihat orang yang lalu lalang memasuki Kulturhuset Stadsteatern.
Sangat ramai, Serenade tidak pernah melihat orang berjubelan seperti saat itu sejak ia menginjakkan Swedia.
"Miss Nada," panggil pegawai kafe. "Minumannya,"
"Terima kasih," Serenade menghabiskan apple juice dalam waktu singkat. Kini ia lebih tenang dan bertenaga untuk menghadapi apapun yang akan terjadi.
10 menit kemudian ia berhasil menemukan teater terbesar di bangunan itu. Serenade menarik napas ketika melewati bagian pemeriksaan tiket, rupanya di dalam mulai terisi dengan pengunjung yang akan mendengarkan sambutan dari Prince Philip dan berbagai acara di ruangan itu.
Serenade memilih kursi di barisan 9, nomer 250. kapasitas teaternya sendiri lebih dari 500 kursi. Hanya berselang kurang 30 menit kemudian dan semua kursi telah terisi kecuali dua baris kursi VVIP paling di depan. Syukurnya Serenade terbiasa dengan banyak orang dengan beraneka ragam wewangian hingga ia tidak merasa terganggu dengan orang sekitarnya.
Pembawa acara sudah membuka acara dengan menggunakan bahasa Swensk, bukan menggunakan bahasa Inggris. Serenade pasrah dengan ketidakberdayaannya. Semua orang tiba-tiba terdiam kemudian menoleh ke arah pintu masuk. Para pria-pria mengenakan pakaian rapi memasuki ruang teater.
Pun Serenade memerhatikan dengan seksama, sambil membetulkan hoodienya.
Manik birunya menangkap sosok tegap, kokoh yang mengenakan suit coklat berbahan wol dengan halter neck berwarna putih. "Philip," teriaknya dalam hati.
Setiap gerak langkah kaki Philip menjadi pusat perhatian Serenade. Ia menggigit bibir hingga memutih, air matanya tidak bisa dibendung lagi. Philip terlihat berbincang dengan panitia penyelenggara sebelum duduk di kursi yang berada di baris terdepan.
Serenade mengusap air mata, walau orang-orang di samping sama dengan dirinya yang terpaku pada obyek yang sama namun ia juga mempunyai harga diri untuk tidak berlama-lama bersikap melankolis.
Tampak panitia menunjuk ke arah pengunjung teater, Philip membalikkan badan dan memandang ke arah ratusan orang yang sedang bertepuk tangan dengan riuh. Pewaris tahta itu melambaikan tangannya. Kemudian membeku, tangan Philip di udara.
Serenade menunduk, menarik turun hoodienya menutupi kepala hingga mata. Suasana mendadak lengang, sepi. Kini yang hanya terdengar derap sepatu menginjak lantai teater.
Wangi parfum yang sangat dihapal Serenade semakin mendekat.
"Nada, Serenade Rajendra," suara berat terdengar lembut memanggilnya. "My Lady,"
###
alo kesayanganπ,
kejutan πππ
chapter ini aku dedikasikan buat kalian yang mau mudik tapi penasaran ma Philip dan Nada. contohnya:
dan kalau aku rajin up novel dikiranya mau nikah, buru-buru jadi TKI ke Jepang. Ono-ono wae, Ladies ππ.
love,
Dπ