MERSIA

MERSIA
Royal Wedding



“Kau sangat tegas dan dingin kepada Philip.” Ucap Hiver ketika mereka telah berada di dalam kamar tidur.


Seisi Palace sedang sibuk, Hiver belum sempat bertemu dengan anggota keluarganya kecuali calon mempelai pria yang sepertinya sangat betah berada di Mersia.


Dalam tradisi kerajaan, mungkin perbuatan Philip bisa dikatakan tabu. Tadi Hiver sempat menanyakan kepentingan pewaris Kerajaan Swedia itu di Mersia, staff kerajaan mengatakan Philip memiliki janji temu dengan beberapa orang.


“Dia membuatmu menangis. Itu tidak bisa kumaafkan, Marjorie.” Sahut Orion sambil mengikat surainya. Kini ia terlihat lebih santai, padahal kehadiran mereka di Mersia cukup membuat orang-orang di bandara seketika ramai


dan membuatnya jengah. Orion tidak terbiasa mendapatkan perhatian yang berlebihan, kilatan blitz kamera serta sorakan senang terhadap dirinya.


Kedatangan Orion dan sang putri rupanya tercium oleh media, terbukti ketika mereka keluar dari pintu VIP, puluhan kamera telah menanti seraya mengambil gambar dan bukan hanya itu banyak orang  yang ikut serta ingin melihat langsung


pasangan kontroversial di Kerajaan Mersia.


Pernikahan Hiver dan Orion mendobrak tradisi turun temurun di Kerajaan Mersia, sebelumnya setiap anggota kerajaan terlebih keturunan langsung harus melewati rangkaian prosedur yang panjang. Namun Mersia di bawah kepemimpinan King Robert mengalami banyak perubahan, tradisi ketat menjadi longgar terbukti dengan pernikahan Princess Hiver dan Orion, kemudian yang berikutnya adalah Royal Wedding dua kerajaan yang persiapannya hanya berlangsung selama dua bulan.


“Maafkan aku, Orion.” Hiver menyahut. Seketika ia membuang pandangan mata ke arah kanan, Orion dengan santainya membuka baju di depan Hiver.


Mereka telah menikah selama 10 minggu, namun Hiver belum terbiasa melihat Orion berganti pakaian di depan mata, memamerkan tubuhnya yang tidak berotot cenderung ceking. Walau Orion berbeda dengan pria lainnya, Hiver justru


menyukainya.


Menyukai? Ya, aku menyukainya. Tegas Hiver dalam hati.


Ternyata benar kata orang kalau cinta dan benci itu hanya dipisahkan oleh seutas benang tipis, walau sejatinya Hiver tidak pernah membenci


Orion. Bahasa yang tepat adalah mereka tidak akrab. Ada benteng kasat mata yang dibangun Orion kepada orang di sekelilingnya, membuat Hiver menjaga jarak dengan anak laki-laki


bersurai emas pucat itu.


“Tidak perlu, Marjorie.”Orion berjalan menuju kursi di dalam ruang tidur milik sang putri. Jika dibandingkan dengan kamar tidur di mansion,


ukuran ruang peristirahatan sang putri dua kali lebih luas. Sesaat Orion memikirkan untuk


merenovasi kamar tidurnya, atau pindah ke sisi timur mansion.


Manik hijau Hiver mengikuti tubuh Orion yang duduk dengan pelan di sebelah, pria itu meraih teh


di atas meja dan meneguk isi cangkirnya.


Hiver mendesah, tiba-tiba ia didera rasa lelah. Mungkin pertemuan singkat dengan Philip menguras segala energinya.


“Aku tidak tahu bagaimana menghadapi Philip setelah ini, Orion. Dia akan berada di Mersia, sebelum membawa Lou ke kerajaannya. Setelah itu aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Lou.” Kesah Hiver seraya bernapas berat.


Orion mengelus pipi Hiver lalu mengecupnya ringan, tubuh Hiver sedikit menyentak maniknya melebar.


“Orion.” Erangnya.


Pria berwajah cantik itu tertawa kecil “Hilangkan risaumu, Marjorie. Dia tidak akan berani macam-macam. Jika dia berani bertindak di luar


kendali terhadap Lou, aku akan menggoyang kerajaannya. Dan aku punya seseorang yang bisa membuatnya gentar bertingkah aneh.” Sahut Orion lembut kemudian menepuk punggung Hiver.


“Siapa?”


Orion membulatkan manik biru gelapnya “Seseorang.”


“Begitu?” Hiver kembali bertanya.


Tawa manis Orion terdengar kemudian menenangkan Hiver “Kau sepertinya tidak percaya akan kekuatan suamimu sendiri, Marjorie.”


Sang putri sontak menggelengkan kepala “Bukan begitu, Orion.”


“Terus?” sergah Orion dengan cepat.


Hiver terpaku dengan wajah Orion yang semakin ditatap semakin ingin berlama-lama untuk terhanyut oleh derasnya arus seorang pria yang sangat dingin. Ia tidak pernah bosan, sedikitpun.


“Tidak ada yang bisa menghentikan orang seperti Philip. Aku takut dia menggoyang Mersia lewat Lou sebagai balasan sakit hatinya. Harusnya King


Robert menolak lamaran Philip.” Ucapnya dengan suara parau.


“Ya, King Robert tentu saja memiliki perasaan bersalah kepada Philip. Tidak memberi jawaban melainkan menanyakan langsung kepada Lou,


dan Lou menerima pinangan Philip. Jangan pikirkan hal yang telah terjadi, Marjorie. Kita juga tinggal di Perancis, bukan di Swedia. Tentu saja kau boleh setiap saat ke Mersia. Sepertinya aku bisa tinggal di sini, maksudku ikut bersamamu.”


Hiver menganga, tak lama kemudian Orion mencubit pipinya.


“Kenapa?” tanya Orion sambil mengulas senyuman yang satu lagi sangat disukai Hiver.


Hiver menggeleng kepala berkali-kali. Sensasi panas muncul di dada yang menjalar dari pipinya.


“Aku pikir kau hanya bisa tinggal di mansion, Orion.”


Orion menarik napas pelan seraya menyandarkan tubuhnya ke belakang.


“Kau salah, Marjorie.”


“Salah?” tanya Hiver seperti anak kecil yang polos, mungkin sedikit bodoh.


Orion memejamkan mata, dari tempat Hiver duduk ia termangu pada pemandangan indah dari pria yang menasbihkan diri sebagai suaminya.


Ya, seorang suami yang belum pernah mengambil haknya. Hanya kecupan pipi dan sebuah ciuman pertama di taman belakang. Hebatnya, hanya dengan itu Hiver bisa merasakan sesuatu yang lebih kuat kepada Orion.


“Bersamamu, aku bisa tinggal di manapun, Marjorie.” Sahutnya tulus.


Hiver tercengang, dadanya semakin berdebar melihat sosok tenang di sampingnya.



Royal wedding ceremony dihelat ketika musim semi mulai menghampiri Mersia. Snowdropps menampakkan kuncup kuningnya yang indah, primroses liar kembali bersemi, bak harapan kepada pernikahan Princess Maryln Lou dan Prince Philip Bernadotte yang menjadi perhatian semua orang, bukan hanya dari belahan benua


Eropa. Melainkan seluruh penjuru dunia memberitakan tentang kedua kerajaan yang


akhirnya dipersatukan oleh dua keturunannya dalam satu janji suci nan sakral.


Setidaknya itu dipikiran orang lain, berbeda dengan pria yang mengenakan tuksedo hitam dimana sorot matanya berusaha tidak terlalu sering menatap ke arah wanita cantik mengenakan blus sepasang berwarna grape.


Seharusnya wanita yang berdiri di sebelah Philip adalah Hiver, bukan adiknya. Sedikitpun mereka tidak berbincang lebih dari kata “I do” sesaat lalu di depan pemuka agama. Selebihnya lebih banyak senyuman palsu terpasang di bibir keduanya, seakan Philip dan Lou adalah sepasang kekasih yang akhirnya menikah dengan bahagia.


Hati Philip mengarah sepenuhnya kepada Hiver, wanita cantik itu sedang berbincang dengan adik-adiknya. Datar, senyuman samar tapi tidak


membosankan terpampang di wajah wanita bersurai hitam yang di sanggul sederhana


dan dihiasi topi sewarna dengan pakaiannya.


Philip menanti saat sang kakak dari wanita yang dipersuntingnya mendapat giliran untuk mengucapkan kata selamat, rupanya antrian orang lebih penting dari kerajaan lain harus menjeda kesenangannya. Ia sungguh tidak sabar menatap wajah cantik itu dari dekat, jemari tangan lembut yang semestinya adalah permaisuri Kerajaan Swedia kelak.


“Selamat atas pernikahannya, Prince Philip.” Sapa pria paruh baya yang berdiri di depannya. Seketika perhatian Philip mengarah ke depan, sosok Hiver di simpannya dalam hati.


Bersamaan saat itu di dalam ruangan megah Palace Mersia, Hiver tertegun melihat sosok pria yang sangat ingin dihindarinya setelah sang mempelai pria. River berjalan menghampiri tanpa menggamit wanita yang di temaninya hadir di


Mersia. Tadi sebelum acara di mulai, Hiver melihat kehadiran River dan Carole, menempati kursi yang disiapkan untuk keluarga Bluette.


“Dia datang.” Suara Hiver bergetar memberikan informasi kepada Onyx dan Cyrus.


“Prince Onyx, Prince Cyrus.” Sapa River berjabat tangan dengan formal, mengikuti protokol kerajaan yang tidak boleh berlebihan bahkan


mereka adalah teman yang sangat akrab.


“Mr. River Phoenix.” Bergantian Onyx dan Cyrus menyalami River sambil tersenyum.


River mengarahkan pandangan kepada wanita cantik yang selalu tidak berlebihan dalam bersolek. Sosok yang dirindukannya setiap hari, wanita yang berada tak jauh dari kota Lyon namun sangat susah untuk ditemui. Terlebih ada Orion


yang menjadi penghalang mereka dan juga Carole.


“Tuan Putri Hiver.” River meraih jemari Hiver dan


mengecupnya, sangat singkat berbeda jauh dengan keinginan hati yang ingin mendekap


erat tubuh pemilik wajah dingin itu.


Hiver bisu, hanya mengangguk pelan dengan senyuman tipis terurai di bibirnya. Hati River sakit melihat perubahan sikap wanita yang telah


menjadi sahabatnya selama berpuluh tahun.


“Aku tidak melihat Nyonya Phoenix.” Ujar Cyrus sopan, menginterupsi perhatian River kepada sang putri yang dingin. Dua bulan hidup bersama dengan Orion rupanya merubah Hiver menjadi wanita yang sama persis dengan saudara kembarnya.


River berusaha tersenyum menanggapi perkataan Cyrus yang sangat ia tahu maksud dari pernyataan singkat itu. Yakni ingin menyadarkan posisinya, bahwa River telah memiliki seorang istri.


“Dia bertemu dengan beberapa temannya, Prince Cyrus. Saya bergerak kesini karena ingin menyapa kalian.” Sahutnya lebih sopan disertai sebuah


senyuman simpul.


Onyx melihat keinginan besar River yang tampak ingin berbincang dengan Hiver, iapun kemudian bergeser ke kersi bagian kiri dan menyilakan River mengambil tempat duduknya.


River dengan cepat menempati kursi beledu emas tsrsebut, kursi-kursi khusus kerajaan yang hanya dipakai dalam acara bersejarah, termasuk hari ini.


“Aku merindukanmu.” River menurunkan volume suaranya sepelan mungkin.


Hiver sedikit menoleh kemudian menatap ke depan “Simpan kata-katamu, Tuan Phoenix. Jangan sampai ucapanmu tadi terdengar oleh orang lain. Kedua adikku itu tidak ada masalah, mereka tahu apa yang terjadi.”


River mengerti akan posisinya, ia kemudian memilih diam namun enggan pergi dari sisi Hiver. Setidaknya dengan duduk berdampingan seperti ini telah menambal sedikit rongga hatinya oleh perasaan rindu.


Onyx beranjak dari tempat duduk diikuti oleh Cyrus, mereka menaati permintaan staff kerajaan untuk berbincang dengan beberapa tamu penting. Tinggal mereka, yang dulunya merupakan sahabat baik kini menjadi sosok asing.


“Kapan kau akan berkunjung ke rumah daddy lagi, Hiv? Kau tidak memberitahuku, padahal kalian bermalam di sana.” River membuka percakapan


santai ketika kedua adik Hiver meninggalkan mereka.


Hiver berusaha sopan dengan mengulas senyuman tipis “Kau sedang di Amerika.” Singkatnya.


“Aku tahu, Hiv. Kalian sengaja mencari waktu yang tepat untuk menginap di rumah daddy. Haruskah kita seperti ini selamanya? Aku tidak mau, Hiv.”


Hiver menoleh seraya mengukir senyuman simpul “Maafkan aku, Tuan Phoenix. Sepertinya suamiku telah datang. Mungkin lain waktu kita bisa


berbincang lagi.” ucapnya sambil berdiri menyambut pria bersurai emas pucat


dengan sorot manik biru gelapnya menatap tajam ke arah River.


Orion tidak membuang waktu, ia langsung menggamit istrinya dengan pelan. Sorot matanya melembut menatap Hiver.


“Kami akan bertemu dengan kedua mempelai, River. Maafkan jika aku menginterupsi pembicaraan kalian.”


Hiver menundukkan kepala tersenyum geli mendengar perkataan Orion yang sangat formal kepada saudara kembarnya. Protokol membatasi segala gerak-gerik bahkan bahasa orang-orang yang menginjakkan kaki di Palacd. Tidak ada jalan lain kecuali menaatinya.


“Baiklah kalau begitu.” River berdiri dan kembali menatap Hiver walau wanita cantik itu kemudian membuang pandangannya setelah sekilas bertatapan mata.


River memegang bahu saudara kembarnya, Orion kembali menatap River “Ada apa?”


“Apakah kita akan bertemu di rumah daddy?” tanya River, yang enggan melepaskan saudaranya. Maksudnya, istri dari saudara kembarnya.


Orion menggeleng “Aku lupa mengatakan kepadamu, jika kami berniat untuk sementara waktu menetap di Mersia. Istriku masih sangat rindu dengan papa, mama, Onyx dan Cyrus. Tentu saja dengan Lou, yang akan pindah ke Swedia


tak lama setelah hari ini.” ucapnya bijak.


River melebarkan matanya, secara bergantian ia menatap Hiver dan Orion tidak percaya.


“Apa?” tanya River kembali memastikan pendengarannya.


Orion meremas lengan saudaranya “Ya, kami akan tinggal di sini. Demi Marjorie.” Jawabnya dengan suara yang lebih tegas.


Tanpa menunggu perkataan River lagi, Orion berjalan sementara di depan sana Philip telah tersenyum lebar menanti kedatangan Hiver.


Sang putri menggelengkan kepala pelan, berusaha fokus dengan berbagai tekanan hati yang harus di hadapinya, River kemudian Philip. Pria-pria


yang pernah mempunyai kesempatan untuk hidup bersamanya, mereka seolah tidak patah langkah dalam mengejarnya.


“Orion, Aku tidak ingin tinggal lama di Mersia. Aku ingin kembali ke mansion.” Ujarnya mendongak kemudian berjinjit mengecup pipi Orion tepat di depan mata Prince Philip Bernadotte.


###




alo kesayangan💕,


sedikit sibuk wara-wiri gak jelas


jadi g sempat nulis


maafin yah.


perasaan tuh mau nulis sesuatu di pesan


tapi giliran nulis jadi lupa..


wkwkwkk


semoga bisa nyempatin UP d weekend


i hope so,


krn mau ngejar virtual run lagi


😠😒..


dh itu aja.


happy weekend


love Jogja n You,


D😘