
"Silahkan masuk." kata pria jangkung melebarkan daun pintu, Serenade melangkah bimbang, kemudian matanya tertuju pada pria yang mengenakan piyama sutra dengan logo khusus di bagian dada.
"Sepertinya kita baru bertemu tadi siang." tegur Cyrus ramah. "Jangan sungkan."
"Kalian tidur bersama?" tanya Serenade memandang bergantian Onyx dan Cyrus.
"Kamar ini sangat luas untuk ditempati sendiri." dalih Onyx sambil menutup pintu.
Serenade mengedarkan pandangan pada presidential suite yang didominasi dengan warna pine dan putih, terdapat dua tempat tidur berjarak, satu set sofa terletak di dekat jendela. Sungguh sebuah kamar yang menenangkan sebanding dengan harga ribuan dollar yang harus dibayar hanya untuk beristirahat selama semalam.
"Hei." panggil Cyrus sambil mengacungkan 3 kaleng soda dan menaruhnya di atas meja. Serenade duduk tanpa dipersilahkan, sikap menerima dari kedua pria itu yang membuatnya berinisiatif untuk lebih santai. Ini semua karena Justin yang berdiri di depan bangunan apartemennya, mendadak Serenade kebingungan mencari tempat yang aman untuk menghindari pria playboy itu. Di saat yang sama Onyx menanyakan keberadaannya, tanpa berpikir panjang Serenade menjelaskan kesulitan yang ia hadapi. Dan di sinilah Serenade sekarang berada sekamar dengan para pangeran Mersia. Sebuah kejadian langka dan pastinya melanggar normalitas, seorang tanpa status sosial memasuki kamar tidur sang pewaris tahta Kerajaan Mersia.
"Jadi, coba ceritakan tentang pria itu." ucap Onyx duduk di sofa sambil meraih kaleng soda dan membukanya pelan. Ia belum sempat berganti pakaian, masih mengenakan suit saat dinner date dengan Serenade.
Serenade sekilas terlihat cemberut kemudian ia sadar diri jika gerak-geriknya membuat kedua pangeran rupawan itu terkekeh ringan. "Maafkan saya, Yang Mulia."
"Kita adalah teman, Nada. Bersikaplah seperti dirimu yang biasanya." lontar Cyrus bersikap sangat santai, ia bahkan mengenakan menutup mata yang beralih fungsi menjadi penahan rambut di puncak kepalanya.
"Tidak ada yang spesial, Justin hanya teman biasa yang berharap lebih. Hanya itu, dan aku tidak pernah memikirkan jika dia akan menemukan apartemenku. Entah siapa yang memberitahunya." geleng pelan Serenade diikuti helaan napas frustasi.
"Apakah dia jahat?" suara Onyx meninggi dan tajam. Alisnya terangkat, bola mata coklatnya melebar nanar. "Sejauh apa dia mengganggumu?"
Cyrus memilih diam, pandangannya mengarah ke Serenade, tepatnya menunggu penjelasan wanita cantik incaran sang kakak.
"Setahuku dia tidak jahat, Yang Mulia. Hanya seorang pria yang memiliki banyak wanita, dan mungkin aku salah satu wanita buruannya. Hampir 2 tahun ia mencari perhatian tapi aku tidak pernah menggubrisnya. Maaf, mungkin aku juga yang bersikap berlebihan."
"Tidak." Onyx memotong perkataan Serenade dengan tegas. "Jika hubungan kalian tidak baik, kemudian dia muncul di depan apartemenmu pada jam 10 malam sama dengan dia tidak menghargai privasimu, Nada."
Cyrus mengiyakan, pria bermanik hijau itu menganggukkan sebanyak kepala dua kali. "Ya, kau harus mencari tempat tinggal baru." usulnya.
Serenade termenung sembari memikirkan perkataannya, pun dengan perkataan kedua pria tersebut. Andai saja Justin tahu jika Serenade lebih memilih bersama dengan dua pria dari Mersia dibandingkan dirinya, tentu saja Justin lebih gencar menerornya. Betul, ia butuh sebuah tempat tinggal baru.
"Sudah ada rencana akan tinggal di mana?" tanya Onyx ramah.
"Belum tahu, aku harus memberitahu daddy terlebih dahulu. Bisa saja aku tinggal di apartemen daddy untuk sementara waktu."
"Huh? Daddy-mu memiliki apartemen di New York dan kau memilih tinggal di tempat lain?" seru Cyrus semakin meleburkan diri. Pria bersurai coklat halus itu tampak menggelengkan kepala.
Serenade tersenyum simpul. "Aku hanya ingin hidup mandiri, dan apartemen daddy agak jauh dari tempatku selalu latihan."
"Kau sungguh berbeda, Nada. Banyak orang tidak mau ambil pusing dengan mencari tempat tinggal terlebih di kota New York." timpal Onyx.
Serenade menggeleng. "Bukan begitu maksudku, Tante Angel, adik dari daddy jika dia tahu bahwa aku tinggal di apartemen, Tante Angel akan selalu datang membawa Naomi untuk diajarkan main piano. Naomi adalah keponakanku berusia 5 tahun. Naomi tidak memiliki bakat di seni, Tante Angel hanya memaksakan keinginannya, aku tidak menyukai idenya itu. Maafkan aku menceritakan hal remeh seperti ini." ujarnya beralasan.
Onyx dan Cryrus tertawa bersamaan, pelan tidak terbahak-bahak. Tawa seorang aristokrat memiliki nada tersendiri, tidak lepas namun tetap enak didengar di telinga.
"Jangan sungkan." Cyrus kembali mengingatkan.
"Nada, maaf jika aku meninggalkanmu sebentar. Aku perlu mengganti pakaianku, oh iya kau juga harus mengganti gaunmu itu dengan pakaian yang lebih santai." Onyx berdiri sambil mengamati Serenade mengenakan gaun dan long coat berwarna grey dari bahan wool.
"Tidak perlu." tolak Serenade mengibaskan tangannya sekali.
"Kita bisa mencarikanmu pakaian, asistenku bisa melakukan itu." tawar Onyx sambil tersenyum lebar. ia enggan meninggalkan wanita cantik bersurai kuning emas tersebut sedetik pun. Bahkan hanya untuk berganti pakaian.
Serenade diam, mulutnya agak dikulum, otaknya bekerja. Ia sendiri yang mengiyakan ajakan Onyx untuk melarikan diri ke hotel berbintang lima tersebut. Onyx meyakinkan bahwa ia tidak sendiri, ada Cyrus bersamanya.
"Ya?" tanya Onyx kembali, meminta persetujuan.
Serenade menghela napas ringan seraya mengangguk. Onyx lagi-lagi tersenyum. Ribuan gadis bisa pingsan hanya dengan satu senyuman sederhana itu.
"Serahkan kepada asistenku." Onyx mengambil ponselnya sambil berjalan ke arah pintu berwarna pine.
"Kalian membawa asisten?" selidik Serenade, tak terpikirkan jika ia akan seintim ini dengan anggota Kerajaan Mersia. Termasuk memasuki wilayah pribadinya.
"Tentu. Mereka berada di lantai bawah, asisten beserta pengawal. Tentu kau tidak melihatnya tadi, mereka seperti bunglon, menyamar menyesuaikan tempat." jelas Cyrus lalu tertawa.
"Aku baru tahu." Serenade bergumam, ia melirik ke arah pintu tempat menghilangnya sosok jangkung Alistaire Onyx.
"Dia menyukaimu." celetuk Cyrus memecah keheningan sesaat.
"Hah?" Serenade menoleh, manik birunya melebar.
"Onyx calon pemimpin Mersia, dia terlihat sempurna baik budi pekerti, berwibawa, tidak punya catatan buruk di manapun, tapi minus dalam urusan hati." tutur Cyrus enteng.
"Aku." kata Serenade bingung, tepatnya tidak tahu menimpali perkataan Cyrus.
"Aku dengar kau belum memiliki seorang kekasih?" berondong Cyrus tidak menyiakan kesempatan.
Mulut Serenade ternganga dengan kepala menggeleng lemah.
Serenade tersipu, pipinya panas. "Aku." suaranya memudar.
Cyrus tertawa, ia selalu terlihat bahagia dan riang di mata Serenade. "Kau cukup mengatakan "ya" dan kami akan.."
Perkataan Cyrus terpotong ketika melihat kepala Onyx menyembul dari daun pintu. "Sebentar lagi pakaian untuk Serenade dan makanan akan datang, aku memesan pizza." serunya penuh semangat.
Serenade melihat surai Onyx yang basah mengkilat dari kejauhan, ia berangan-angan hendak tinggi kemudian jatuh dengan sendirinay di dalam sana. Dadanya memanas, kemudian kepalanya menggeleng sangat pelan. Pewaris tahta itu terlalu indah, kulit putih pualam, senyum menggoda, wajah innocent tidak menyiratkan usia yang sesungguhnya. Andai saja perkataan Cyrus benar adanya, Serenade tidak bisa membayangkan jalan bersisian dengan pria sehebat Onyx. Ia meragu memiliki kepercayaan diri sebesar itu.
...
"Cyrus memiliki energi yang sepertinya tidak pernah terkuras, ia adik kesayangan kami semua, terkesan semaunya namun dibalik itu dia mampu mengerjakan banyak hal. Terlebih membantuku, kami terlihat berbeda dalam sikap, mungkin karena Cyrus bisa hidup sesuai dengan jiwanya, sementara aku.." sejenak Onyx menoleh dengan bibir tersenyum. Serenade mengangguk. "Kau tahu sendiri seperti apa, Nada."
Penuturan lembut Onyx membuat Serenade membalas dengan senyuman tak kalah indahnya. Jam telah menunjukkan pukul 3 pagi, Cyrus telah tumbang di sofa sementara keduanya masih betah mengobrol tanpa arah. Entah berapa kali kedua pangeran itu menyakinkan Serenade untuk beristirahat, tapi siapa juga wanita yang bisa tidur lelap sekamar dengan dua pria dengan kesempurnaan yang berbeda. Tidak akan ada yang mampu untuk itu.
"Princess Hiver pendiam, aku tidak mengenal Princess Maryln." tutur Serenade melanjutkan perbincangan tentang anggota keluarga Onyx, setelah mereka sebelum itu membahas keluarga Serenade.
"Lou terlihat pemalu namun bisa menonjol di saat-saat genting. Sekarang Lou memilih tinggal di Afrika, dia hidup bahagia dengan suami dan anaknya. Marc tidak pendiam, tapi dingin. menurutku justru Orion lebih dingin dibandingkan Marc." tutur Onyx riang, tidak ada kuapan kantuk dari mulutnya melainkan mata terus terjaga selama Serenade di sampingnya.
"Iya, Orion seperti itu. Tapi aku sangat mencintaiku kakakku, dia tidak pernah lupa untuk mengirimkan kado-kado indah ketika aku berulang tahun." ungkap Serenade berseri.
"Dia kakak yang baik dan juga suami hebat buat Marc. Cinta tidak bisa ditebak, bukan?" cetus Onyx parau. Ia menatap wajah cantik Serenade yang tersipu.
"Aku kurang tahu jalan cerita percintaan mereka, Yang Mulia."
"Nada, berapa kali aku katakan untuk memanggil namaku." tegas Onyx bersamaan tarikan napas Cyrus yang menimbulkan bunyi dengkuran.
Serenade tertawa menutup bibirnya, Onyx mendengus geli. "Sepertinya adikku kelelahan. Entah apa yang dikerjakannya ketika kita sedang makan malam bersama tadi.
"Bertemu temannya, mungkin?" tebak Serenade.
"Dia memiliki banyak kenalan, percayalah itu. Mungkin juga bertemu dengan wanita, Cyrus seorang yang flamboyan. Berbeda denganku." ujar Onyx merendah.
Perlahan debar tak karuan itu menghampiri Serenade, seiring dua pasang mata mereka saling bertatapan. Onyx merapatkan jarak, tubuh kekarnya condong ke arah kepala Serenade. Wangi anggur manis menguar dari napas berat Onyx, Serenade perlahan memejamkan matanya. Bahkan ia menahan napas dengan dada memanas di dini hari yang cukup dingin di luar sana.
Sepersekian milimeter lagi dan kedua bibir akan bertemu, kuasa Tuhan menghentikan kegiatan keduanya lewat igauan Cyrus yang membentak dalam ketikdaksadarannya. "Kamu!"
Onyx dan Serenade menyentak tubuh masing-masing ke belakang. Keduanya berpandangan kikuk, Onyx-lah yang pertama kali tersenyum dan terkekeh pelan. "Maafkan aku, Nada." ucapnya sopan.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan." gumam Serenade seraya menarik bantalan kursi dan memeluknya. Ada rasa kecewa pula malu menyergap dirinya. Selama 26 tahun usianya, ia adalah tipe perempuan yang sangat berhati-hati terhadap lawan jenis. Memberikan peluang, bahkan untuk jalan bersama pun sangat Serenade hindari. Ia memiliki banyak teman wanita dan memilih menghabiskan waktu dengan mereka dibandingkan bergaul dengan lelaki muda seusianya yang hanya tahu hidup penuh kesenangan sesaat.
Namun entah kenapa, hampir saja Serenade memberikan ciuman pertamanya kepada Onyx. Ya benar, Serenade berusia 26 tahun dan belum pernah merasakan itu semua.
...
Manik biru itu mengembara di setiap sudut ruangan yang hanya berisi dengan perabotan utama. Setelah berdiskusi panjang dengan Axel beserta Sky, Serenade akhirnya pindah di apartemen orang tuanya. Tentu dengan catatan Tante Angelica tidak tahu menahu dengan berita kepindahannya tersebut. Serenade juga memberikan penolakan terhadap layanan sopir pribadi yang telah disediakan Axel, ia bersikeras memilih menggunakan transportasi umum dan taksi untik segala aktifitasnya selama di kota besar tersebut.
Memiliki kendaraan pribadi adalah hal kecil Bagi Serenade, ia bukan seorang musisi kere. Bahkan ia bisa mengganti kendaraan seperti usia maskara favoritnya. Namun Sky, sang mama berhasil mendidik Serenade untuk mandiri dan bebas menentukan pilihan hidup. Sudut pandangnya susah untuk dialihkan bahkan ketika berhadapan dengan Axel sendiri. Selama usia belia hingga sekolah menengah, Serenade mendapatkan fasilitas terbaik dari Axel, dan itu pula yang membuatnya ingin melepaskan diri dan mencoba peruntungan di kota New York. Setidaknya 7 tahun kemudian Serenade bisa membuktikan bahwa ia berhasil. Harta dari mendiang papanya tidak pernah ia sentuh, hanya ketika berkuliah ia masih bersandar kepada kedua orang tuanya.
Namun kini, Serenade harus kembali pasrah dengan keputusan Sky karena Justin sialan tersebut. Mau tidak mau Serenadd kembali ke apartemen Axel yang sangat jarang ditempati berhubung sang daddy lebih banyak berada di Los Angeles.
Sepertinya akan Serenade menempati apartemen tersebut dalam waktu panjang kecuali ia memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya dalam waktu dekat.
Bicara tentang pria yang hampir menciumnya empat hari lalu, hmm.. Onyx telah kembali ke Mersia pada siang hari saatmereka berpisah di pelataran parkir bawah tanah. Jujur Serenade merindukan perbincangan mereka di malam itu, dimana waktu itu ia bisa melihat sosok Onyx yang sebenarnya, bukan Onyx yang dikenalnya ketika mereka masih anak-anak dan hebatnya pemikiran pria itu sangat jauh berkembang dan dewasa dibandingkan Justin.
Sial! kenapa juga Serenade selalu membandingkan pria sehebat Onyx dengan Justin yang tidak memiliki apapaun kecuali hasrat menggebu-gebu itu terhadap kaumnya. Pria yang tidak memiliki misi ke depan, setidaknya itu di pikiran Serenade.
Ponsel bergetar di genggaman Serenade mengakhiri sumpah serapahnya kepada si pemuja gila itu. Bola mata berwarna biru yang menjadi ciri khas keluarganya terlihat melebar tak biasa.
Bagaimana dengan malam yang kau habiskan dengan Onyx dan Cyrus, Nada? Bukankah aku berpesan untuk menjaga hatimu untukku? Nada Yang Cantik, menikmati hari dengan bersenang-senang, sementara aku di Swedia menahan rindu sebesar Himalaya.
###
alo kesayangan💕,
selamat datang November, yang dulu aku selalu mengatakan "Movember"
mungkin ada readers yang mengalami patah hati tahun ini, hmm.. mungkin ini saatnya kamu untik move on ke arah yang lebih baik.
Movember hujan akan lebih sering turun, jaga kesehatan, ladies...
love,
D😘