
Philip merenung di sofa sambill memandang kanal dari balik jendela kamarnya. Ia hanya tidur selama 4 jam, terbangun dua jam yang lalu sejak bagian timur Royal House yang tadinya hanya diterangi oleh cahaya lampu jalan kini perlahan digantikan dengan sinar matahari pagi.
Hanya karena sebuah pelukan selama 30 menit membuatnya terbangun dan bertanya dalam hati, maksud dari perbuatan Serenade kepadanya. Karena setelah itu mereka hanya makan malam biasa dengan pembicaraan kasual hingga pukul sebelas malam.
Pun Philip sangat pintar memancing Serenade untuk menceritakan kecintaannya itu terhadap musik. Sepanjang malam Serenade meluapkan dengan jelas perjalanan kariernya hingga mencapai gelar maestro piano di usia yang terbilang masih muda.
Philip yang bodoh, ia tidak mencari tahu alasan Serenade tiba-tiba berinisiatif memeluknya hingga dirinya pula yang tersiksa dengan rasa penasaran. Philip juga tidak mengungkit apa yang telah Serenade lakukan selama di Mersia. Ia selalu mengingatkan dirinya untuk berhati-hati dalam bertindak menyangkut pendekatannya terhadap Serenade. Jika ia kalah terhadap dengan Onyx ataupun sebaliknya, setidaknya ia tidak melakukan hal curang atau berlebihan. Tentang penculikan Serenade ke Swedia, ia menganggap jika ia pun berhak mendapatkan kesempatan yang sama dengan rivalnya, Prince Alistaire Onyx.
Kota tua Stockholm perlahan memulai aktifitasnya, begitupun dengan pewaris tahta itu kini beranjak menuju kamar ganti. Piyama satinnya ditanggalkan dan diganti dengan pakaian olahraga, Philip tidak perlu keluar dari pintu besar kamar tidur untuk melatih ototnya, ia hanya perlu membuka pintu di samping yang mengarahkan ke ruang gym pribadi miliknya.
Ketika sedang melakukan pemanasan, Hans masuk melewati pintu yang sama dilewati Philip. "Ada apa?" Philip menghentikan kegiatannya, berkacak pinggang dengan alis berkerut.
"Hanya mengecek keadaan, Yang Mulia. Tadi pelayan mengatakan jika tidak menemukan Yang Mulia di kamar, bukankah ini terlalu pagi untuk berolahraga?" jawab Hans. Sebagai orang kepercayaan Philip, ia sangat tahu jadwal tuannya.
"Aku tidak bisa tidur lama," Philip memilih untuk berjalan ringan di atas treadmill. Hans berdiri di sampingnya dengan tegap. "Temani aku berolahraga," pintanya melirik ke arah treadmill sebelah. Hans patuh akan perkataan sang putra mahkota walau pagi itu ia telah mengenakan pakaian setelannya yang rapi.
"Apa karena makan malam bersama dengan Lady Serenade?"
Dari tempat yang berbeda Philip masih bisa melihat pemandangan kanal dan bangunan di seberang yang merupakan hotel berbintang lima yang masih kepunyaan Royal House. "Dia memelukku, sama lamanya ketika Hiver melakukan itu lima tahun yang lalu,"
Hans berjalan di atas mesin treadmill, ia memilih tidak menaikkan kecepatan alat olahraga tersebut. Hans berjalan santai agar bisa napasnya tetap normal menanggapi perkataan Philip. "Apakah Lady Serenade tidak tertarik kepada Yang Mulia? Apakah tadi malam setelah berpelukan Lady Serenade mengatakan jika hari ini akan pulang ke New York?"
Philip mengerang lirih. "Aku tidak tahu, aku kembali membahas seorang wanita yang aku cintai namun tidak dapat kumiliki memelukku di rumah kaca dan dia lalu menawarkan pelukan. Dia tidak mengatakan soal kepulangannya, semoga tidak hari ini. Sewaktu di New York aku pernah membahasnya sedikit tentang Hiver, Serenade terlihat tertarik ketika aku mengungkitnya,"
"Kami menutup sisi barat untuk Yang Mulia dan Lady Serenade hari ini. Yang Mulia kapan saja bisa berkunjung ke galeri," balas Hans.
"Jam 11 sebelum makan siang, Nada akan sarapan di kamarnya. Aku menjadwalkannya perawatan badan untuk Nada pagi ini," Philip tersenyum membayangkan Serenade menikmati fasilitas yang sering Ibunda Ratu dan saudara perempuannya dapatkan.
"Yang Mulia memanjakan Lady Serenade,"
Philip menaikkan kecepatan treadmill. "Tentu saja, aku ingin memberikan yang terbaik untuknya. Jika aku beruntung dia akan menjadi pendamping hidupku, Hans. Jika tidak, Serenade akan bernasib sama seperti Hiver. Wanita yang pernah aku cintai dan memiliki takdir bahagia tapi bukan aku yang memberikannya,"
Hans menatap calon raja Swedia itu dengan iba. "Tetaplah optimis, Yang Mulia,"
Philip mengangguk sementara kakinya bergantian menapaki bagian atas mesin treadmill. "Ya, aku tetap optimis bagaimana pun hasilnya nanti. Tapi aku percaya jika Serenade adalah kesempatan terakhirku, jika ini tidak berhasil aku akan menikahi wanita sembarang yang dipilihkan oleh Raja. Sebuah pernikahan hanya untuk mendapatkan pewaris tahta,"
...
"Baginda Raja, saya hendak menyampaikan sesuatu," kata Sir Redfern ketika King Sigvard Bernadotte meletakkan cangkir tehnya. Ia sedang sarapan dan seperti biasanya, Sir Redfern akan bergabung bersantap bersama sekaligus menjabarkan hal-hal penting terkait kerajaan.
"Ya," singkat King Sigvard memilih biskuit rendah kalori untuk dirinya yang sedang menjalani diet.
Sir Redfern menyodorkan map berwarna kuning berukir emas. "Silahkan Baginda Raja lihat terlebih dahulu,"
Pria tegap dengan rambut menampakkan helai abu-abu itu membuka map. Ia teliti membaca dan mengamati gambar di dalamnya. Selama 15 menit ia mempelajari isi map yang membuatnya sangat tertarik. King Sigvard berdeham panjang ketika menutup map kuning tersebut.
"Jadi anak nakal itu membawa seorang wanita ke Royal House?" tanya King Sigvard kepada Sir Redfern
"Ya, Yang Mulia. Semalam mereka makan malam bersama di rumah kaca," jelas Sir Redfern yang telah mendampingi King Sigvard selama puluhan tahun.
"Mereka berpelukan di foto, tapi wanita itu juga sedang didekati oleh pewaris Mersia," King Sigvard mengembuskan napas panjang. "Kebodohan apalagi yang kau lakukan Prince Philip. Kenapa dia selalu berhubungan dengan Mersia? Aku susah payah menjalin hubungan baik dengan King Robert, sekarang dia memilih bersaing dengan putra mahkota Kerajaan Mersia," keluh King Sigvard sambil mengepalkan tangan di atas meja.
"Prince Philip dan Prince Onyx bertemu dengan Nona Serenade di Luxembourg. Sepertinya mereka memiliki selera yang sama terhadap wanita. Bagaimana pendapat Baginda Raja tentang Nona Serenade?" tanya Sir Redfern.
King Sigvard sekilas melirik map kuning yang baru saja ia pelajari. "Wanita yang cukup menarik, berasal dari keluarga terpandang. Sayangnya bukan seorang putri kerajaan. Philip adalah satu-satunya anak lelaki dari Inggrid, permaisuriku. Tapi jujur aku tidak tahu dengan seleranya, Sofia Holmberg yang terburuk dari semua wanita yang pernah anak itu kencani,"
Sir Redfern hanya manggut-manggut mendengarkan perkataan King Sigvard, ia memilih tidak melebarkan pembahasan termasuk Sofia Holmberg yang buruk, karena Prince Philip lebih beruntung dan lebih menggunakan akalnya dibandingkan pria di sampingnya. King Sigvard menjadikan gundik seorang wanita lebih buruk dari Sofia Holmberg. Hal itu merupakan salah satu rahasia yang harus dibawa mati oleh Sir Redfern.
"Aturkan jadwal bertemu dengan wanita itu, Red. Setelah pertemuan di parlemen, aku tahu jika Philip tidak melepaskan pengawasannya dari wanita itu, tapi buat dia sibuk selama 30 menit. Kau pasti bisa melakukan itu, Teman," pinta King Sigvard sambil memikirkan hal yang akan dikatakannya kepada wanita yang menjadi idaman pewarisnya.
...
Serenade mengagumi lukisan besar yang menggambarkan raja terdahulu dari abad 16 terlihat sedang bercengkerama dengan para selirnya. Wanita-wanita bersurai ikal digelung indah lengkap dengan gaunnya yang mengembang seperti para wanita yang hadir di pesta ulang tahun Prince Onyx.
"Kau terlihat tertarik dengan lukisan ini, Nada?" Philip berdiri di dekat Serenade. Wangi segar dan rempah menguar dari tubuh Serenade yang telah menjalani sesi perawatan tubuh selama 3 jam.
"Jika Yang Mulia berada di era lukisan ini, apakah Yang Mulia akan melakukan hal yang sama?" tanya Serenade mendongak menatap wajah Philip yang tenang.
"Hal sama apa, Nada?" Philip bertanya dengan intonasi lembut, alis hitamnya naik dengan ujung bibir kanannya sedikit naik.
"Menjadi raja dengan memiliki banyak selir," tukas Serenade.
Philip tertawa. "Kemungkinan itu besar jika aku hidup di abad 16, di mana seorang raja memiliki kebebasan dan kekuatan yang hebat. Alasannya kebanyakan raja-raja tersebut melakukan hal tersebut karena mereka tidak dapat menikahi wanita yang dicintainya. Permaisuri yang menemani raja adalah wanita pilihan dari orang tua raja tersebut sebelum naik tahta. Misalnya diriku, sebelum naik tahta telah disiapkan seorang gadis dari kerajaan atau keluarga terpandang sebagai pendamping. Raja-raja terdahulu tidak memililiki usia panjang, hingga banyak raja muda bertahta. Permaisuri adalah simbol kerajaan, sebagai alat pencetak putra mahkota. Selir-selir yang banyak itu tempat sebenarnya seorang raja melampiaskan segala hal, tidak menutup kemungkinan jika ia menikahi wanita yang dicintainya dan menjadikannya selir," terang Philip tanpa terburu-buru.
"Itu masa lalu, My Lady. Walau ayahanda alias raja sekarang menyimpan selirnya sedemikian rapat, tetap saja aku tahu jika Ratu bukan wanita satu-satunya. Aku memiliki masa lalu yang brutal, aku memiliki banyak wanita sebagai selingan. Di antara banyak wanita itu, tidak ada satupun ingin kujadikan teman hidup. Kecuali satu..."
Entah kenapa setiap Philip membahas wanita misterius itu, hatinya tersayat sembilu. "Dia yang di rumah kaca," tebaknya.
Philip menoleh kemudian mengangguk. "Ya, dia,"
Serenade menghela napas karena dadanya sesak. "Yang Mulia tidak ingin menceritakan wanita-di-rumah-kaca itu kepadaku? Seperti apa dia?"
Sejenak Philip memandang Serenade lebih dalam. "Untuk apa, Nada? Semua telah berlalu, yang perlu kau ketahui jika kami berteman baik. Tadi malam aku telah menegaskan jika tidak ada perasaan yang tersimpan kepadanya. Kejadian rumah kaca itu sudah lama, My Lady,"
Serenade mendesah kecewa, keinginannya untuk tahu banyak tentang wanita yang hampir saja menjadi permaisuri di Swedia pun akhirnya kandas. "Sayang sekali," ucapnya lirih.
Tangan Philip hendak merangkul tubuh Serenade, sebuah spontanitas yang kemudian ia urungkan. Di ujung ruangan galeri 4 pengawal kerajaan mengawasi setiap gerak-gerik mereka. "Tidak ada yang sayang, semua ada hikmahnya. Jika saja aku berhasil mendapatkannya, aku mungkin akan menjadi pria yang sangat bahagia di atas perasaannya yang terluka. Ingat, dia tidak mencintaiku. Aku bukan cinta yang dicarinya,"
Serenade menunduk mendengar curahan hati Philip. Ia menghibur sang putra mahkota dengan menggamit tangan kokohnya. Philip tersenyum lalu tertawa kecil. "Lihat, aku menceritakan hal yang tidak pernah aku ungkap kepada siapapun, Nada,"
"Itu berarti Yang Mulia mempercayaiku," Serenade memutuskan.
"Tentu aku mempercayaimu, My Lady. Kau tahu bukan tentang perasaanku kepadamu? Ketika aku melihatmu di Luxembourg, malam itu. Kau bercahaya di bawah sorotan lampu sedang memainkan salah satu simponi yang aku sukai. Aku terkesima, dan yang paling membuatku jatuh cinta ketika kita sempat berbincang banyak. Pada saat itu, aku berkata dalam hati 'mungkin ini wanita yang dikirimkan Tuhan kepadaku'. Walau aku tahu bukan hanya diriku yang memujamu. Salah satunya adalah Onyx,"
Ketika Philip menyebut nama Onyx, saat itu pula tangan Serenade melepaskan gamitan tangannya. Philip hanya bisa tersenyum tipis kemudian menganggukkan kepala. "Sebenarnya masih ada ruangan yang ingin aku tunjukkan, tapi sayang aku tidak bisa melanjutkan tur galeri ini, setelah makan siang aku harus ke Gedung Parlemen. Tapi aku berjanji, kita akan malam bersama di luar, bukan di Royal House,"
"Terdengar menyenangkan," timpal Serenade.
"Setelah makan malam kita bisa berjalan di depan Royal House, aku sudah lama tidak melakukan itu. Tenang saja, kawasannya akan bersih dari media dan pengunjung lainnya. Kita menikmati fasilitas penutupan Royal House untuk wisatawan yang berlaku hingga besok pagi,"
"Jadi sekarang kita akan makan siang?" tanya Serenade.
"Ya, kita akan makan siang di ruang makan di Archivo. Kita akan berjalan melewati hall barat untuk mencapainya. Mari, My Lady," ajak Philip dengan sopan.
...
Serenade menghabiskan sore dengan membaca buku di perpustakaan sembari menunggu malam. Ia menggunakan ponselnya secara sembunyi-sembunyi ketika Philip mengabarkan jika jam makan malam mereka akan mundur pada pukul 8 malam.Setidaknya masih banyak waktu untuk mempersiapkan diri hingga Serenade masih enggan untuk meninggalkan perpustakaan yang menurutnya cukup lengkap kecuali kebanyakan buku menggunakan bahasa Swedia.
Serenade tidak sendiri, ada dua dayang-dayang menemaninya dan dua pengawal yang ditugaskan menjaga di dekat pintu masuk. Tidak ada yang perlu Serenade khawatirkan, ia pun larut dengan buku tentang sejarah Kerajaan Swedia. Ia jadi banyak tahu tentang silsilah para pendahulu King Sigvard Bernadotte. Saking asyiknya, Serenade tidak sadar jika seseorang yang lain hadir di dalam perpustakaan. Sekitar lima menit ia menjadi pusat perhatian orang tersebut hingga akhirnya pria itu berdeham pelan.
Serenade menoleh ke asal suara. Spontan ia berdiri, membekap bibirnya yang terpekik. Kakinya lemas dipaksa tegap. "Yang Mu..lia Raja..." katanya tergagap lalu membungkuk tak berani menaikkan kepalanya.
King Sigvard duduk pada kursi yang disiapkan oleh pelayan. Ia mendesah ketika telah duduk dengan sempurna, sementara Serenade masih berdiri dengan tangan terkatup dan gemetar.
"Duduklah Nona Serenade, ada banyak hal yang ingin kukatakan kepadamu sebelum anakku datang,"
###
alo kesayangan💕,
aku datang lagi, cepat yah?
hahahahah...
lagi encer keknya dan lagi selow pastinya..
Nada ma Philip d Swedia hingga anggota Team Onyx terdiam..
berpikir positif aja ladies
kalau Nada gak nikah ma Onyx
kalian masih bisa bersaing mendapatkannya..
semangka nanas jambu melon, wkwkwkwk
happy monday..
love,
D😘