MERSIA

MERSIA
One Step Back



"Jadi seperti itu." Serenade termenung meresapi informasi yang didapatkan dari dua dayang-dayangnya. Dari Seema dan Emilia, ia mendapatkan berbagai macam berita tentang Princess Stephani. Yang tak lain merupakan adik dari suami Lady Elizabeth, sahabat akrabnya.


Wanita muda berusia 18 tahun itu, rupanya telah berada di Mersia selama tiga hari terakhir. Sangat lumrah adanya kunjungan seperti itu di antara dua kerajaan sahabat. Terlebih jika menyodorkan sebuah kesepakatan yakni perjodohan kedua pewaris. Jadi bisa Serenade simpulkan jika Princess Stephani merupakan rivalnya dalam mendapatkan hati Alistaire Onyx.


Seema mengatakan bukan hanya Stephani yang menjadi tamu spesial di Mersia, beberapa putri dari kerajaan lain juga hadir demi mengenal lebih dekat sang pewaris tahta. Namun Princess Stephani merupakan kandidat kuat karena telah mendapatkan persetujuan dari Dewan Kerajaan. Mendengar semua itu membuat nyali Serenade ciut, walau sebelum ini ia merasakan jika angin kuat tengah berpihak kepadanya. Tentu saja dengan semua hal yang telah Onyx lakukan kepadanya termasuk kedatangan sang pewaris tahta ke kota New York.


"Nona Serenade, kita ke kamar untuk memperbaiki riasan." tuntun Amelia sebelum pesta dimulai.


Palace Mersia memiliki ratusan kamar, dan seharusnya wanita cantik berambut emas itu menjadi salah satu penghuni sementara di Palace dari belasan kandidat permaisuri putra mahkota lainnya.


Serenade memasuki ruangan yang lebih megah dari kamar tidurnya di kastil. Ia takjub melihat detail setiap sudut ruangan tersebut.


"Seharusnya ini kamar Nona Serenade." ucap pelan Seema yang ikut menuntun Serenade menuju meja rias.


"Aku menebaknya seperti itu." timpal Serenade seraya tersenyum simpul.


"Ini salah satu kamar terbaik di Palace, Nona Serenade. Tapi Nona lebih memilih Dundas, tapi menurutku juga lebih baik dibandingkan berdampingan kamar dengan para putri yang juga tertarik kepada Yang Mulia Prince Onyx. Sedikit informasi jika mereka itu hilir mudik ketika mendengar Prince Onyx akan lewat atau berada di sayap timur Palace. Putri-putri tersebut terlihat palsu bahkan membentuk kelompok kecil kemudian saling menjatuhkan demi mendapatkan perhatian Yang Mulia."


Serenade terkekeh mendengar penjelasan Amelia yang secara terang-terangan tanpa menyimpan informasi sedikitpun. "Persaingan." gumamnya perlahan.


"Tentu, Nona. Tidak ada wanita muda di dunia ini yang tidak ingin menjadi seorang permaisuri dari Prince Onyx yang sangat tampan." serobot Amelia terlalu bersemangat. Ia menampakkan sisi aslinya kepada Serenade. Bahkan mereka baru berkenalan tadi pagi ketika menyambut Serenade di Dundas.


"Ya, Prince Onyx tampan," gumam Serenade mengiyakan. Ia sangat setuju dengan perkataan Amelia dan semua putri yang menjadi saingannya. Tadi siang Onyx sempurna dengan tampilan suit kotak berwarna ivory, bak peragawan dengan tubuhnya yang jangkung 191 cm. Dan Mersia membuat putra mahkota itu lebih nyata keberadaannya.


"Benar, bukan?" tanya Seema ikut terprovokasi.


Serenade mendengus geli sambil menunduk walau sekilas. "Ya, benar."


Seema dan Amelia berpandangan dengan senyuman merekah lebar. Kedua terlihat sangat senang membahas ketampanan Prince Onyx.


"Yang Mulia adalah idola para wanita, Nona Serenade. Banyak yang memuja namun kami tidak tahu mengapa Yang Mulia tidak pernah mendekati seorang wanita." tutur Seema sembari memperbaiki rambut Serenade.


"Menunggu yang terbaik." celetuk Amelia.


Serenade hanya terdiam dan tidak lantas jumawa dengan posisinya. Di luar sana banyak putri dari segala penjuru pula memiliki paras cantik sedang berupaya berebut perhatian dari Prince Onyx. Terlebih kepada seorang gadis muda yang tadi sore berjalan bersama dengan sang pewaris tahta. Mereka tampak sempurna dengan aura tahta terpancar dengan hebatnya.


...



Seakan kembali ke masa lalu, begitu Serenade menyimpulkan ketika berada di dalam ballroom megah dikelilingi oleh orang-orang berbusana layaknya menghadiri sebuah pesta di abad ke-19. Para wanita mengenakan gaun mengembang, rambut digelung indah, dan para pria mengenakan sepasang suit rapi dan sepatu yang mengkilat. Serenade berbeda mengenakan gaun lurus berbahan tile berwarna coconut, syukurnya ia tidak sendiri, beberapa wanita muda dan cantik juga nampak mengenakan gaun modern.


Serenade merasakan nyaman berada di sebelah Orion, Dewa Penolong dari segala kesuntukan. Ia tidak bisa berharap banyak kepada Prince Onyx, pria yang merayakan ulang tahun itu hanya menghampiri dan menyapanya ketika mereka bertemu sesaat yang lalu, selebihnya Onyx disibukkan dengan para putri yang berebutan meminta waktu berbincang atau kesempatan berdansa.


"Seperti inilah para bangsawan ketika berpesta." Orion bergumam sambil mengerling Serenade yang sedang memegang gelas red wine-nya.


Alunan musik klasik yang selama 60 menit terakhir mengalun kini berganti dengan lagu tradisional Skotlandia. Para penari yang merupakan tamu-tamu kerajaan membentuk lingkaran besar dan menghentakkan kaki tanpa takut sepatu yang digunakan akan rusak. Suasana lebih hidup dan bingar dari sebelumnya, teriakan riang keluar dari bibir para penari.


"Tidak turun?" Orion kini bertanya ketika perkataan sebelumnya tidak mendapat tanggapan serius dari Serenade.


"Tidak, aku tidak tahu berdansa." Serenade mengulum bibirnya dengan kelopak mata menyendu.


"Sama," singkat Orion lalu tergelak tawa. "Lihat istriku, Marjorie. Dia sangat lihai berdansa bersama dengan Cyrus. Sepertinya mereka lebih dulu pintar menari dibandingkan berjalan."


Serenade mengarahkan pandangan kepada wanita yang sangat cantik dibandingkan wanita lainnya di ruang besar itu, Princess Hiver mengenakan gaun mengembang berwarna lime, hampir sewarna dengan maniknya. Mereka tadi telah bertemu, dan Serenade sangat mengagumi istri dari kakaknya itu.


"Kau sangat beruntung, Kak. Princess Hiver adalah wanita yang memiliki kecantikan luar dan dalam." sanjung Serenade dengan tulus.


"Dan seorang ibu yang kuat dan penyayang. Dia sedang hamil namun tidak ingin dilarang untuk melakukan hal yang disenanginya. Termasuk menari dan melukis." Orion tidak mau kalah dalam memuja istrinya. Serenade memerhatikan sang kakak yang menatap lembut ke arah wanitanya. Sorot penuh cinta, sama halnya ketika kedua orang tuanya saling bertatapan mesra.


Kemudian keduanya terdiam ketika melihat Onyx menggandeng Princess Stephani ke tengah lingkaran lalu menari dengan sangat lincah walau si wanita muda dari Luxembourg itu harus mengangkat roknya pada bagian luar.


"Mereka serasi." kata Serenade hampir tak terdengar. Entah mengapa saat itu ia tidak merasakan cemburu yang berlebihan. Berbeda dengan putri-putri lainnya yang sedang menatap sengit ke arah Princess Stephani.


"Itu hanya formalitas, Adikku. Bagian dari pesta malam ini jika kau penasaran," hibur Orion yang merasakan nada bicara Serenade berubah.


Serenade tercengang sesaat lalu mengambil udara banyak-banyak lewat hidungnya. Bukannya udara segar yang didapatkan melainkan aroma parfum beraneka ragam memenuhi isi dadanya yang perlahan sesak.


"Berdansa dengan putri terpilih?" tanya Serenade.


Orion menggeleng lalu tersenyum manis. "Ketika Dewan Kerajaan mengirimkan undangan ke Kerajaan Luxembourg, di dalam surat tersebut telah dijelaskan susunan acara jika Princess Stephani datang ke Mersia. Apapun itu telah tertulis di dalam surat harus dilaksanakan, ya.. termasuk apa yang kita lihat sekarang, Nada,"


"Apakah nanti akan muncul di berita?" Serenade mengangkat gelasnya dan menelan sedikit cairan merah itu.


"Kurang tahu," Orion mengedikkan bahu. "Kembali tergantung kepada kesepakatan kedua kerajaan,"


Serenade menghela napas. Ia merasakan tidak berdaya pada posisinya sekarang. Serenade tidak tahu jika menerima undangan pesta Onyx akan menjerumuskan diri ke dalam pusaran air yang tidak bisa ia lawan.


"Aku merasa tidak berarti," bisik Serenade, sorot matanya menemukan awan gelap. Wanita bersurai emas itu menunduk sambil mencengkeram kuat-kuat gelasnya.


"Serenade Rajendra," panggil Orion dengan nada lantang bersamaan rengkuhan tangan mendekap tubuh sang adik yang kehilangan pendar pada manik birunya.


"Hmm," manik biru Serenade menyiratkan luka. "Apakah boleh kita meninggalkan ruangan ini?"


"Ayo!" Orion membalikkan tubuh Serenade ke arah pintu keluar yang paling dekat. Ia tidak mempedulikan orang-orang yang sama bosannnya dengan pesta itu, kakak beradik itu dengan lancang keluar dari ballroom tanpa menunggu pesta usai.


"Aku pernah menghadiri pernikahan kakak dari Princess Stephani. Justru di Luxembourg aku menilai jika mereka lebih modern dibandingkan dengan Mersia. Mereka berpesta layaknya pesta di Amerika, tidak dengan gaun yang seperti itu, sangat tidak nyaman untuk bergerak."


Orion terbahak lepas mendengar curahan hati adiknya yang terdengar sangat kesal. "Itu karena Dewan Kerajaan ini memiliki kekuatan yang besar. Onyx adalah tipe pewaris yang mengikuti segala kata mereka. Ya, mereka tak lain para Dewan Kerajaan. Berbeda dengan King Robert, tidak ada yang berani menekan bahkan sekelas Dewan Kerajaan sekalipun. Itu mengapa aku bisa menikahi Marjorie, semua karena restu dari King Robert," papar Orion.


Serenade berhenti melangkah dan menatap lekat-lekat wajah Orion. "Jadi buat apa aku kesini, Kak?"


"Biarkan Onyx memikirkan jalan keluarnya. Apakah kau mencintainya?" tanya Orion dengan lembut bahkan mengalahkan hembusan angin yang menerpa tubuh mereka.


Serenade terdiam. Ia berpikir, lalu menggeleng ragu. "Aku tidak tahu. Aku ke Mersia karena ingin mengenal lebih jauh tentang Onyx, karena saat ini aku berada di persimpangan jalan. Ada pria lain juga sedang mendekatiku,"


"Ternyata adikku memiliki banyak pria," goda Orion.


"Hanya dua orang, Kak. Semua masih abu-abu, begitupun dengan Onyx. Justru setelah melihatnya dengan Princess Stephani dan mendengar perkataan Kak Orion tentang Dewan Kerajaan membuatku mundur selangkah. Banyak hal yang dikorbankan jika Prince Onyx nekat mendekatiku lebih jauh." ucap Serenade lalu menertawai perkataannya sendiri.


"Aku terlalu sombong mengatakan itu kepada Kak Orion. Seakan-akan Prince Onyx tulus mendekatiku, menjadikan diriku kandidat calon permaisurinya," sambung Serenade lalu saliva tercekat di lehernya sendiri.


"Bagaimana jika memang adik iparku menyukaimu dan kau adalah satu-satunya yang dia inginkan?" hibur Orion kepada Serenade yang bimbang.


"Entahlah, Kak. Biarkan semua ini berjalan sebagaimana mestinya. Besok ada hari baru, dan Kak Orion telah berjanji akan menemaniku menikmati Mersia. Aku tidak ingin menambah beban di pikiran untuk saat ini. Setidaknya banyak hal aku tahu dengan kedatanganku ke Mersia," pungkas Serenade kini lebih tegas.


Orion mengangguk pelan. "Lihat siapa yang datang." katanya kepada sosok pria jangkung berjalan menuju taman bunga. Serenade ikut memandang ke arah yang sama.


"Aku kembali ke dalam, Marjorie pasti mencariku." Orion sekilas mengusap surai emas Serenade lalu melangkah lebar ke arah datangnya Onyx. "Titip adikku." katanya ketika mereka saling berpapasan. Onyx nampak menganggukkan kepala sebagai tanda tanggung jawab berpindah kepadanya.


Wangi hutan sehabis hujan, pohon pinus dan musk berpendar ketika Onyx semakin mendekat hingga tiba tepat di hadapan Serenade.


"Aku mencarimu, Nada." Onyx mengawali pembicaraan dengan sebuah kesah dan sesal. Alis hitamnya melengkung ke bawah menyiratkan kesedihan.


Serenade tersenyum. "Maafkan aku, Yang Mulia. Aku terlalu asyik dengan Kak Orion hingga mengajaknya keluar untuk mencari angin segar di taman bunga. Bagaimana dengan pestanya?"


Kembali Onyx mendesah pendek. "Membosankan."


Serenade tertawa geli, rupanya yang merayakan pesta sendiri pun merasakan hal yang sama dengannnya. "Terus apa yang tidak membuatmu bosan?"


"Kamu." tatap Onyx dengan serius.


Serenade tersentak, manik biru miliknya meledak mendengar perkataan Onyx yang singkat. "Aku belum memberikan kado untukmu, Yang Mulia." terengah dan terbata Serenade mengalihkan pembicaraan.


"Di mana kadoku? Dundas?" tanya Onyx tertarik.


"Iya di Dundas, hanya kado kecil dan sederhana." tukas Serenade semakin tidak percaya diri dengan piringan hitam berisi lagu-lagu terbaru yang ia ciptakan sebulan yang lalu. Serenade memantapkan diri jika album pertama miliknya diberikan kepada Onyx sebagai kado ulang tahun.


"Kita ke Dundas, Nada. Aku akan mengantarmu. Jangan tanyakan bagaimana dengan kelanjutan pesta di dalam sana, yang jelas aku tidak mau masuk ke sana dan berpura-pura menikmatinya." lirih Onyx menjabarkan perasaannya.


"Baiklah." Serenade tidak menolak ketika melihat sorot lelah terpatri jelas dari manik coklat milik Onyx.


"Lewat sini." Onyx menunjukkan jalan bukan dari tempatnya datang. Malah menyisiri sisi taman bunga yang luas.


"Yang Mulia!"


Baru sekitar dua langkah, terdengar panggilan lantang yang membuat Serenade dan Onyx menoleh dengan cepat.


Di sana sosok wanita belia diiringi para dayang-dayang berjalan dengan tergesa-gesa. Serenade menghela napas panjang ketika memejamkan matanya dengan rapat-rapat.


Bukan selangkah ia berjalan mundur malam itu, bisa jadi semua kembali ke titik nol yang sepertinya susah untuk diulang kembali.


###



alo kesayanganπŸ’•,


selamat natal buat kalian yang merayakan, happy holidays...


berhubung dengan banyaknya pekerjaan akhir taon ini, dan aku juga harus menikmati libur taon baru.. so, ini update novel terakhir di taon 2021, yeahhh...


πŸ˜…πŸ˜…


aku akan libur selama 2 minggu, kurang lebihnya..


dan jangan merindukanku, wkwkwkk


aku akan menyempatkan waktu posting di IG, mungkin foto cast novel atau quotes..


so, sampai berjumpa di tahun 2022


sehat, sukses, sentosa, berbahagia! AAMIIN PALING SERIUS β€οΈπŸ™πŸ»


love,


DπŸ₯³πŸŽ„πŸŽ‰