
"Ini seperti jatuh cinta pada pandangan pertama," Queen Summer menepuk lembut pipi Hawaii. Wanita paruh baya memancarkan aura bersahaja yang sangat kuat terlihat tersenyum penuh kasih sayang. Hawaii tersipu lalu mengangguk dengan menundukkan pandangannya.
"Duduklah di dekatku," kata Queen Summer lagi sambil menggamit lengan Hawaii.
"Terima kasih, Yang Mulia," pelan Hawaii menyahut.
Ruangan makan malam di Palace Mersia seluas 200 meter persegi tanpa jendela, Onyx sebelumnya telah menjelaskan jika mereka akan bersantap di lantai dua, tepatnya di bagian timur bangunan Palace. Hawaii menyimpulkan jika ruangan tersebut diperuntukkan untuk keluarga kerajaan bukan ruangan makan yang seluas lapangan yang ia lihat di lantai dasar Palace.
"Saya paham kau pasti masih canggung dengan suasana di sini," kata Queen Summer lembut. Tangannya mengelus lengan Hawaii yang gemetar samar. "Kita berdua memiliki latar belakang yang hampir sama. Saya bukan seorang putri bangsawan, My Dear. Tapi takdir mempertemukanku dengan Dia,"
Queen Summer melayangkan pandangan ke arah King Robert, sebuah tatapan penuh cinta dan penghormatan. Hawaii melihatnya lalu tertunduk. Ia hanya melihat tatapan seperti itu ketika Grandpa menatap Grandma-nya.
"Seperti dirimu bertemu dengan anakku," Queen Summer tersenyum. Dari sorot manik hitam itu Hawaii percaya jika wanita telah memberikan restunya.
"Di Perancis," singkat Hawaii. Ia takut sekaligus malu bertutur lebih, lidahnya kelu walau banyak hal yang ingin ditanyakan tentang Prince Onyx.
"Hiver telah menjelaskan banyak tentang dirimu, Sayang. Saya dan Robert telah mengetahui siapa sebenarnya Miss Hawaii Capucine beserta keluarganya," Queen Summer mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Saya berasal dari keluarga sangat sederhana, Yang Mulia," aku Hawaii membuat Queen Summer mengelus punggungnya dengan lembut. Ia merasakan kasih sayang tulus dari wanita paruh baya yang baru ditemuinya hari itu.
"Saya juga berasal dari keluarga yang tidak sempurna, Sayang. Ahhh.. Jika mengingat masa lalu, banyak kenangan yang menjadikan saya seperti ini sekarang. Tapi seperti apapun keluarga kita dilahirkan mereka adalah tempat kembali,"
Hawaii mengangguk. "Ya, Yang Mulia,"
"Onyx mengatakan jika Hawaii masih di Mersia hingga hari Kamis, itu berarti kita masih punya waktu untuk menghabiskan waktu bersama. Saya suka melukis, My Dear,"
"Yang Mulia, saya lebih tertarik pada ilmu pasti, sangat lemah berkaitan dengan seni dan kreatifitas," sahut Hawaii dengan jujur.
"Tidak apa-apa, My Dear. Semua orang memiliki kelebihan masing-masing. Besok sore luangkan waktumu untuk minum teh bersamaku, kau pasti ingin tahu banyak tentang Onyx," tawar Queen Summer, manik hazel Hawaii melebar, ia pun langsung mengangguk senang.
"Dengan senang hati, Yang Mulia," kata Hawaii riang yang tertahan. Sebelum duduk di kursi ia memandang ke arah Onyx dan bertepatan pria pewaris tahta itu juga menatapnya dengan sorot yang mendebarkan jantung. Ah, Hawaii sudah merindukan pelukan hangat Tuan Alistaire-nya!
...
Prince Philip Bernadotte, Duke af Vasterbotten adalah putra pertama dari King Sigvard dan Queen Inggrid. Selain itu Prince Philip memiliki tiga saudara perempuan yakni Princes Christina, Princess Desiree dan Princess Margaretha. Ketiga saudara perempuan Prince Philip telah menikah dan telah memiliki keturunan masing-masing. Sejauh ini Christina, Desiree dan Margaretha memberikan dukungan terbaik pada hubungan Philip dengan Serenade.
Dalam pengamatan Philip ketiga saudara perempuannya tulus kepada Serenade, mereka bahkan beberapa kali menghabiskan waktu bersama di Royal House. Sesuatu hal yang tidak mungkin jika ada salah satu dari saudaranya memiliki pandangan atau maksud tidak baik terhadap Serenade. Philip sangat tahu tentang adik-adiknya, mereka tidak pernah mau mencampuri kehidupan pribadi Philip dan selalu mendukung dengan siapapun ia menjalin hubungan spesial.
Mengingat keselamatan dan ketenangan Serenade tidak menyurutkan Philip untuk menerima orang Black Panther. Tepat lima hari setelah pesta pertunangannya, siang itu ia menunggu kedatangan kedua orang yang akan disisipkan dalam jajaran para pengawalnya.
"Yang Mulia," suara akrab memanggil Philip yang tengah memeriksa berkas di atas meja kerjanya.
Philip menengadah dan mendapati Hans berjalan diikuti oleh satu pria dan seorang wanita muda. Perhatian Philip ke arah wanita muda bertubuh tinggi dengan surai gelapnya.
"Yang Mulia, mereka ini adalah Mr. Thomas Leno dan Nona Kaluna," kata Hans memperkenalkan orang yang dibawanya.
Philip berdiri dan berjalan menghampiri tamunya. Sekilas ia menilai Thomas, pria bertubuh tinggi dan ramping. Philip memastikan jika Thomas adalah pengawal yang lincah, sorot matanya terlihat sopan namun itu hanya kamuflase.
"Saya Thomas, Yang Mulia," pria berusia 30an itu membungkuk hormat, Philip mengulurkan tangan dengan sigap Thomas menjabat tangan.
"Philip," suara bariton sang pewaris tahta terdengar ramah, ia bahkan tersenyum kepada kedua orang yang baru ditemuinya.
"Saya Kaluna, Yang Mulia," giliran wanita muda dengan manik coklat terang berinisiatif mengulurkan tangan ke depan. Sosok penuh percaya diri di usia mudanya, tidak menampakkan sedikit pun gentar di depan Philip.
"Philip Bernadotte," balas Philip menyebut nama lengkapnya. Ia bermaksud mengintimidasi wanita muda itu.
"Kaluna Rose, biasanya orang memanggil dengan nama Rose tapi di sini cukup dengan Kaluna atau Luna, Yang Mulia," jelas wanita muda bertubuh tinggi menanggapi dengan sopan.
Philip merasa cukup dengan intimidasinya yang tidak membuahkan hasil. "Hans, kau bisa mengajak Thomas berjalan memperlihatkan Royal House sekaligus mengenalkan dia ke pasukan. Kaluna biar aku yang membawanya ke Nada,"
Hans kontan mengangguk. "Baik, Yang Mulia. Kami permisi lebih dulu," katanya membungkukkan badan diikuti oleh Thomas. Kedua pria bertubuh tinggi berjalan mundur sebanyak dua langkah kemudian berbalik menuju pintu.
Setelah kepergian Hans dan Thomas, Philip mengajak Kaluna duduk di kursi tamu yang berada di ruangan sama.
"Kaluna, apa aku bisa mempercayaimu?" tanya Philip. Sebuah kalimat pendek yang membuat alis Kaluna berkedut ke atas. Wanita muda itu tidak menyangka perkataan seperti yang keluar dari sang pewaris tahta.
Kaluna menelan saliva dan mengatur napas. Ia memandang pria dominan yang sedari tadi menunjukkan kekuasaannya. "Saya bisa saja menolak perintah Papa, Yang Mulia. Tapi ke Swedia adalah satu-satunya cara untuk membuktikan kepada organisasi kami bahwa seorang Kaluna Rose bisa dipandang bukan sebelah mata. Saya tumbuh dengan dua matahari kembar di keluarga, Yang Mulia. Saya juga ingin membuktikan diri,"
"Hmm," Philip mengangguk-angguk. Ia merasakan semangat Kaluna sepertinya tidak dapat dibendung oleh siapapun.
"Aku hanya ingin segala sesuatu terbuka, apapun itu. Jangan hanya menyimpannya dengan Nada," tambahnya sambil berdiri. Sejenak Philip memandang wajah Kaluna yang sangat berbeda dengan Paman Kai. Dari warna surai saja sudah sangat berbeda belum lagi hal lain seperti warna kulit.
"Apa aku bisa mempercayaimu?" tekan Philip sekali lagi. Ia mengulurkan tangannya ke arah Kaluna.
"Saya berjanji akan menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya, Yang Mulia," Kaluna menjabat tangan Philip dengan erat. Bibirnya lalu mengatup sambil mengangguk, pria di depannya terlihat tersenyum tipis.
"Aku sangat mencintai kakakmu, Kaluna," kata Philip sambil berjalan, Kaluna berada di sisinya mendengarkan.
"Saya dengar dari Papa seperti itu," timpal Kaluna.
Philip tertawa mendengarkan perkataan polos Kaluna. Ia sekilas melirik wanita muda itu. "Apakah kau memiliki kekasih?" tanyanya akrab.
"Tidak, sepertinya saya belum tertarik untuk itu," balas Kaluna dengan cepat.
Philip lagi-lagi tertawa ketika mencapai pintu. "Swedia memiliki banyak pria tampan seusiamu, sayangnya aku tidak memiliki adik laki-laki,"
"Saya tidak suka pria muda," kilah Kaluna. Philip mengerutkan alis.
"Aha.. ini bisa menjadi bahan pembicaraan kita sampai di kamar Nada," seru Philip kemudian kembali tertawa. Kaluna hanya bisa tersenyum simpul menatap pria pewaris tahta itu dengan penuh kagum.
...
Tentu saja Hawaii tidak tidur di kamar bersama dengan Onyx. Hawaii menempati di kamar tamu kerajaan yang berbeda lantai dengan kamar tidur sang pewaris tahta. Aturan keras yang dilayangkan Dewan Kerajaan ketika mendengar tamu putra mahkota akan menghabiskan waktu bersama di kamar yang sama. Apa daya Hawaii selain menerima dan menahan keinginan untuk melihat Tuan Alistaire-nya yang tampan ketika terlelap.
"Apakah mereka akan menunggu?" tanya Hawaii melihat pilot helicopter setelah mereka mencapai bagian depan villa.
"Ya, mereka akan menunggu," jawab Onyx. Ia tersenyum manis lalu merangkul pundak Hawaii. "Apa kau ingin masuk?" tawar Onyx memamerkan bangunan villa yang begitu asri. Satu-satunya bangunan di tengah hamparan rumput hijau dan di depannya laut biru yang memukau.
"Lihat, Yang Mulia. Pemandangan seindah ini," seru Hawaii menolak ajakan Onyx untuk menghindari sengatan matahari dengan berteduh di dalam villa.
"Ya, ini indah," cicit Onyx yang kini tangannya ditarik Hawaii mendekati tebing yang tak begitu tinggi. Mereka bisa melihat dengan jelas bibir pantai berpasir putih di bawah sana.
"Duduklah," Hawaii serta merta duduk di atas rumput tanpa mempedulikan roknya yang berwarna putih gading akan kotor.
Onyx yang biasanya memerintah kini patuh akan keinginan Hawaii. Ia mengacak puncak kepala wanita bersurai ikal yang sedang mengulum senyuman.
"Apakah kau pernah ke sini sebelumnya, Tuan Alistaire?" tanya Hawaii serta merta mengalunkan tangan di lengan Onyx.
"Dulu pernah, kami berempat. Saat itu aku masih berumur 15 tahun,"
"Wah, masih sangat muda," pekik senang Hawaii. Kemudian bibirnya mengerucut. "Apakah aku boleh melihat foto-foto Yang Mulia waktu kecil dan remaja?"
"Tentu saja, semua foto berada di ruangan khusus. Besok kita kesana," Onyx menoleh sekilas kemudian memandang ke depan.
Hawaii tersipu. "Terima kasih," singkatnya sambil mengeratkan pelukan tangannya. Di tempat itu ia tidak perlu mematuhi aturan kerajaan dan menjaga sikap untuk tidak menyentuh sang pewaris tahta.
"Bagaimana pendapatmu tentang Mersia?" tanya Onyx tiba-tiba saja terdengar seperti melontarkan kekhawatirannya.
"Ada apa dengan Mersia?" Hawaii balik bertanya, alisnya saling bertaut, bibir mungilnya mengerucut.
Onyx mengangkat bahu. Ia berdeham dan menegakkan badan. "Apa kau menyukainya? Suasananya mungkin juga orang-orangnya? Bisa jadi aturan ketatnya membuatmu tidak nyaman,"
Hawaii yang baru berusia 20 tahun awal nampak melipat bibir dan menggeleng kuat. "Ya, aku suka di Mersia. Di sini aku bisa melihatmu kapanpun,Tuan Alistaire,"
Onyx mendengus geli, ia merasa tersanjung. "Tapi di sini jauh dari Mama, Grandpa dan Grandma," imbuh Onyx menunggu reaksi kekasihnya. Ya, kekasih polos penuh semangat yang baru saja tiga hari menginjakkan kaki di Mersia. Selama itu juga mereka menjalani sebuah hubungan yang istimewa.
Hawaii memandang raut Onyx, tenang dan rupawan. "Mereka semua ada di sini," ujar si gadis berambut ikal sambil menyentuh letak jantungnya.
Onyx tersenyum tipis, ia membelai pipi Hawaii dengan lembut.
"Hidupku seperti yang kau lihat, Hawaii,"
"Di dalam istana megah dan ketika di luar di puja oleh banyak orang dan wanita tentu saja," celoteh Hawaii, maniknya mengerling, bibirnya lagi-lagi mengerucut.
Onyx menarik napas lalu menggeleng. "Aku terlalu sibuk untuk memikirkan wanita, sebelum dirimu hanya ada satu.."
"Pacar?" sambung Hawaii.
"Bukan," Onyx menggeleng. "Wanita yang kusukai,"
"Ya, hari ini kau harus menceritakannya kepadaku, Yang Mulia," Hawaii menuntut, kilatan matanya jelas menunjukkan rasa cemburu.
"Aku baru tiga hari seperti tersadarkan, Sayang," sorot manik coklat Onyx menyayu.
Hawaii membetulkan duduknya, ia memiringkan badan dan tangan tak lepas dari lengan Onyx.
"Ketika cinta tidak bertepuk sebelah tangan seperti kamu memperlakukanku. Aku menyukainya, aku tersanjung. Berbeda ketika hanya satu pihak yang berusaha, pihak yang satunya mungkin akan terganggu. Ya, cinta itu bukan paksaan. Dulu aku percaya diri dengan wanita itu, aku pasti akan disukai ketika berusaha mendekatinya. Mungkin dia terganggu dengan perbuatanku,"
Pelan-pelan tangan Hawaii terlepas. "Yang Mulia, masih mengingatnya? Hmm.. wanita itu?"
"Aku hanya merasa bersalah telah mengganggu hidupnya," Onyx menghela napas lalu tersenyum.
"Tuan Alistaire," lirih Hawaii memanggil nama pria pujaannya. Manik hazelnya mulai berkabut karena sedih dan cemburu.
"Hawaii Capucine-ku, jangan menangis. Aku menceritakan hal ini bukan berarti aku masih menyimpan perasaan kepada dia. Bukan itu maksudku," Onyx berusaha menjelaskan. Hawaii menarik napas panjang, sekuat paru-parunya menyimpan oksigen dalam kapasitas besar.
"Sudahlah...," potong Hawaii. Ia menutup bibir Onyx untuk tidak melanjutkan kalimat yang justru menyesakkan dadanya.
"Tuan Alistaire, aku bisa hidup jauh dari Mama. Aku bahkan tidak memikirkan kuliahku setelah dua hari di sini. Aku hanya menunggu waktu-waktu seperti ini, saat kita bisa bertemu. Aku tertarik denganmu, aku suka berada di dekatmu, aku selalu ingin memelukmu, melihat wajahmu, menciummu. Aku sepertinya gila jika tidak melihatmu sehari saja. Aku mencintaimu hingga lupa dengan segalanya. Seperti inilah aku dengan kegilaanku kepada pria pertama yang mengenalkanku tentang cinta. Aku ralat, pria pertama dan hanya satu-satunya di dalam hidupku. Aku tidak berminat dengan pria lain, hanya satu yaitu kamu, Tuan Alistaire. Kegilaanku ini bukan bertambah karena takut melepaskan seorang putra mahkota. Tidak... Sejak melihatmu di danau, sejak itu pula aku selalu ingin datang berkunjung. Aku sangat mencintaimu,"
Wajah Onyx memerah, tidak pernah semerah ini dalam hidupnya. Ia tidak bisa menanggapi perkataan Hawaii, ia sibuk dengan efek perkataan kekasihnya. Jantungnya mungkin sudah meledak dan menjadi jutaan kupu-kupu yang sedang terbang di dalam perutnya. Ia pikir perasaan seperti itu hanya dirasakan oleh para wanita di dalam novel roman. Buktinya tidak!
Hawaii menarik kedua jemari tangan Onyx. Ia mematutkan kedua mata pada manik coklat Onyx. "Jadi....," Hawaii mengambil napas terlebih dahulu kemudian lanjut berbicara.
"Jadi.. Yang Mulia Prince Alistaire Onyx... kapan kau akan mengeluarkan kotak cincin dari saku jaketmu? Aku tahu karena merasakannya sejak tadi," Hawaii melepaskan tangan kanan dan menengadahkan jemarinya.
"Berikan kotaknya, Tuan Alistaire. Dan biar aku yang melamarmu,"
###
aku datang dan tidak berkata panjang... sehat selalu Ladies..
D😘