MERSIA

MERSIA
How Could an Angel Break My Heart



"Aku tidak memerlukan itu semua." gumam Lou melihat para dayang-dayang mengemasi pakaiannya. Lou menoleh kepada Joanna Novotty, sekretarisnya. Sebentar lagi akan menjadi mantan sekretaris.


"Mrs. Novotty." panggil Lou kepada wanita berseragam rapi berwarna navy.


"Ya, Yang Mulia." tanya Joanna dengan penuh penghormatan.


Lou terdiam kemudian menatap Joanna agak lama, mencari kata yang tepat.


"Bisakah pakaian-pakaian ini tetap berada di Swedia?"


Joanna menatap prihatin Lou, semua orang sedang membicarakan drama pernikahan sang putra mahkota yang berakhir tragis. Simpati pun berdatangan kepada Princess Lou, korban dari pernikahan mereka yang seumur jagung.


"Kami hanya mengikuti perintah Prince Philip, beliau ingin mengosongkan ruangan ini, Yang Mulia."


Lou menghela napas pendek lalu mengangguk pelan. "Aku belum tahu apa yang terjadi setelah ini. Tapi pasti Yang Mulia lebih tahu segalanya." tuturnya lembut seraya berdiri.


"Maafkan aku, Mrs. Novotty. Aku ingin berjalan ke rumah kaca, sendiri." Lou menegaskan kata sendiri, agar tidak ada yang mengikutinya.


Joanna membungkukkan badannya dalam satu anggukan kepala. "Baik, Yang Mulia."


Lou pun berjalan dengan anggun, meninggalkan ruangan besar tersebut. Beberapa dayang bersimpati namun hanya bisa menatap sekilas karena mereka tahu jika ada aturan ketat yang berlaku di Royal House. Perbedaan tingkatan status, yang sebenarnya Lou tidak pernah mempermasalahkan hal itu.


Lou terisak ketika sampai di rumah kaca. Ia membekap mulutnya walau tidak ada orang yang mendengarkan. Lou sendiri di tempat indah itu, tempat ternyaman yang sebentar lagi akan ia tinggalkan.


Semua hal terjadi sangat cepat, usai konferensi Philip di media yang menimbulkan goncangan besar di Kerajaan Swedia, keduanya dipanggil untuk bertemu dengan Raja dan Ratu.


Untuk pertama kali dalam hidup Lou, ia melihat seorang raja yang sangat marah kepada pewaris tahtanya hingga memukul telak tepat di rahang Philip. Semua sumpah serapah dikeluarkan King Sigvard tak membuat Philip menarik ucapannya. Philip bersikukuh untuk membatalkan pernikahan antara dua kerajaan. Lou tidak banyak berkata-kata, pun tidak bisa menolong bahkan menyentuh Philip ketika pria itu terluka.


Philip menolak Lou, bahkan semalam Philip tidak kembali ke kamar seperti biasanya. Mereka tidak pernah bertemu lagi sejak kejadian kemarin sore. Sungguh lucu, di tengah badai luar biasa menerpa dua kerajaan, Lou masih bisa tertidur dengan nyenyak. Dan Joanna -lah yang membangunkannya tadi pagi, dan menyampaikan beberapa pesan tertulis dari Philip.


Sang pewaris tahta Kerajaan Swedia telah mengurus segalanya, termasuk mengabarkan perpisahan mereka kepada King Robert dan Queen Summer. Philip meminta maaf atas semua kesalahan yang dia perbuat, termasuk mengorbankan Lou.


Ah.. Semuanya tidak tahu, jika Philip termasuk korban dari perpisahan ini. Mereka berdua adalah korban dari permasalahan hati yang salah menetap.


Lou masih terisak pilu sambil berjalan menuju kursi kesukaannya. Baru kali ini ia bisa menumpahkan air mata, semalam ia menghabiskan waktu untuk menunggu Philip sampai tertidur dengan sendirinya. Hingga pagi tadi semua hal dijelaskan oleh Joanna.


Lou tidak menyangka hal kecil yang disetujuinya bertiga dengan Philip dan Jonas, berdampak sedemikian besar. Kemarahan raja dan ratu, kekecewaan rakyat Swedia yang semuanya mengarah kepada Philip. Sementara Lou dan Jonas -lah yang beruntung dari tragedi besar ini.


Hati Lou terluka disebabkan perasaan bersalah kepada Philip. Ia sangat ingin bertemu, meminta maaf dan sedikit menghibur pria malang itu. Joanna sempat mengatakan jika Philip tetap bekerja dan tidak bisa diganggu sama sekali. Pupus sudah keinginan Lou untuk bertemu dengan Philip, pun ia tidak bisa menghubungi Jonas untuk sementara waktu. Mereka harus menjaga rahasia hubungan terlarang yang mengorbankan nama baik Philip.


Mungkin saja ada pelangi selepas badai besar menghantam Swedia. Ya, Princess Maryln Lou berharap dan berdoa untuk itu.


...



Philip berdiri menatap pemandangan indah yang tak berhasil mendamaikan hatinya. Ia berhasil merampungkan semua pekerjaan di Royal House sebelum sore tiba dan terbang menuju Chateu miliknya yang berada jauh dari semua hal dihindari Philip.


Ia berhasil menekankan dan meyakinkan pihak Dewan Kerajaan Swedia tentang keputusannya untuk berpisah dengan Lou. Pernyataan Philip di depan media tidak bisa ia ralat, tidak ada jalan untuk kembali untuk memperbaiki perkataannya. Philip masih mengingat dengan jelas geraman tertahan King Robert di telinga ketika menjelaskan semua hal, sangat menakutkan. Nyalinya ciut, bahkan perkataan King Robert mengalahkan pukulan ayahnya, King Sigvard Bernadotte.


Tidak perlu berlama-lama mengurus sesuatunya. Kau tidak perlu menginjakkan kaki kembali ke Mersia, Prince Philip. Anakku, Cyrus yang akan menjemput saudara kembarnya.


Philip berada di dalam pusaran badai, baik tubuh dan pikirannya terombang-ambing tak menentu, berputar kesana dan kemari hingga ia sendiri mual, muak. Philip tidak pernah berada dalam posisi rentan seperti yang dihadapinya sekarang. Bahkan ketika Hiver menikah, Philip masih memiliki seluruh keluarga dan rakyatnya.


Coba lihat kondisi 7 bulan kemudian, tidak ada satupun orang bersimpati. Philip melawan seantero Kerajaan Swedia, bahkan saudara-saudaranya mengirimkan kata sindiran dan umpatan.


Kau gila, Philip. Kau telah mendapatkan adiknya, buat apa kau masih memiliki perasaan untuk Princess Hiver !


Playboy sepertimu tidak layak menjadi seorang raja.


Dalam situasi seperti ini, Philip merasakan jika ia tidak memiliki seseorang yang bisa diandalkan. Bahkan saudara kandungnya pun berseberangan pikiran. Satu-satunya yang Philip harapkan adalah pria yang membuat Lou jatuh hati. Namun ia enggan mengabari Jonas.


Pria berbadan besar itu bosan dengan pemandangan alam yang akan setia menemaninya selama di pengasingan. Philip pun bergerak ke meja kerja dan melihat ponsel berkedap-kedip, tertera nama seseorang yang sangat ia hindari.


Sofia Holmberg.


Philip melihat tanpa berniat mengangkat panggilan wanita itu. Sampai pada panggilan kelima, dengan menggemertakkan gigi Philip menggeser tombol hijau ke atas.


Oh My King.. Akhirnya kau menjawab panggilan teleponku.


Philip meringis menahan diri untuk tidak melemparkan makian kepada mantannya. Philip sangat tidak menyukai panggilan raja kepada dirinya yang belum mendapatkan mahkota.


"Ada apa, Sofia?" tanya Philip dengan datar.


Hahaha.. Aku merindukanmu, Cintaku. Aku melihat berita di sini. Kau tahu, jika kau sangat terkenal sampai di Pulau Bahama. Seketika aku ingin secepatnya terbang kembali ke Stockholm, mengambil posisiku. Ya, tempatku yang seharusnya Prince Philip Bernadotte. Aku adalah wanita yang kau cintai itu, bukan? Akhirnya kau sadar, Phil.


Philip menggeram menandakan ia marah. "Aku telah memberikan banyak uang sebagai kompensasi agar kau tidak menggangu hidupku lagi, Sofia. Semua telah kujelaskan sangat detil di dalam surat perjanjian yang kau tandatangani. Aku pikir kau hanya berhalusinasi dengan mengatakan hal tersebut. Kisah kita sudah usai, Sofia."


Kau sangat jahat, Phil. Hanya dirimu yang ada di hatiku. Aku akui jika terlahir bukan dari sebuah kerajaan sebesar Mersia, tapi aku sangat-sangat mencintaimu. Masa remajaku telah kuserahkan kepadamu. Berkali-kali aku katakan jika aku layak mendampingimu bertahta hingga puluhan tahun. Aku layak menjadi seorang permaisuri.


Desisan Philip semakin panjang, ia pun memejamkan mata agar tidak ikut terpancing untuk mengutarakan sifat-sifat Sofia yang membuatnya tak bisa bertahan menjalin hubungan dengan wanita itu.


"Justru aku mencintai seorang wanita yang tidak tertarik menjadi seorang permaisuri. Jadi tolong simpan kata-kata tadi untuk dirimu sendiri, Sofia. Dan jangan pernah menghubungiku." kata Philip sebelum memutuskan panggilan secara sepihak. Dan langsung memblokir nomer Sofia.


"Bre**ek!" Philip mengumpat, rahangnya menonjol karena teramat kesal terhadap Sofia. Wanita yang mendapatkan uang sangat banyak untuk mengakhiri hubungan percintaan mereka sebelum menikahi Lou.


Manik lionnya melebar ketika melihat satu panggilan masuk dari nomer telepon di pusat kota. Philip menimbang-nimbang sebelum akhirnya ia pun menerima panggilan yang tidak masuk dalam kontak teleponnya.


"Halo." Philip terbiasa menyapa duluan, bahkan dari nomer tak ia kenal. Philip paham jika hanya beberapa orang yang memiliki akses ke ponsel pribadinya, termasuk Sofia.


Tidak ada suara di ujung telepon membuat Philip kehilangan kesabaran. "Apakah ini dari media? Cih! Kalian sungguh tidak mempunyai sopan santun mengejarku seperti ini. Aku bisa menggugat kalian dan menjebloskan ke dalam penjara."


Suara napas dihembuskan membuat Philip yakin jika panggilan masih tersambung.


"Aku akan memutuskan panggilan ini." ancam Philip sambil melihat nomer telepon yang menghubunginya. Bukan hal susah mendapatkan lokasi penelepon gelapnya, terlebih jika berada di Stockholm. Segampang menjentikkan jemari.


Ini aku, Hiver. Aku ingin bertemu denganmu, Tuan Bernadotte.


Jantung Philip berhenti sepersekian detik, dadanya mulai tersengat sakit seakan menandai tempat belati Hiver akan bersarang.


Philip tersenyum dengan manik lion memburam. "Ya, Hiver. Aku akan menemuimu." katanya dengan suasana hati yang berubah drastis.


Tidak. Aku yang akan mendatangimu.


...


Orion berkali-kali mencium jemari istrinya sepanjang perjalanan menuju Chateu Philip, tempat yang disepakati untuk bertemu.


"Jangan terlalu tegang. Marjorie, lihat aku." pinta Orion lembut, saat itu juga Hiver menoleh menatapnya dengan raut muka tanpa sedikitpun senyuman.


Orion menggeleng, manik biru gelapnya menyipit. "Jangan seperti ini, Marjorie. Ada dua pihak yang perlu kau mintai keterangan, tidak melulu Philip yang bersalah."


Hiver mengatupkan mata sambil mengetatkan giginya. "Aku tidak peduli, Orion. Dia pernah berjanji kepadaku untuk membahagiakan Lou. Dia sudah berjanji." tuturnya dengan muka memerah karena amarah yang tertahan selama beberapa jam terakhir.


Orion menarik tubuh Hiver untuk kembali dalam dekapannya. Setidaknya hanya itu yang bisa mendamaikan Hiver. Orion sedikit bersusah payah menenangkan Hiver sejak mengetahui berita Philip mengajukan pembatalan pernikahannya dengan Lou.


Perjalanan pun semakin panjang, ketika pesawatnya harus mendarat di Turki karena cuaca buruk. Kembali Orion harus menyakinkan Hiver untuk tidak larut oleh emosi, dan tetap berusaha berpikir jernih menyikapi masalah Philip dan Lou. Bisa ditebak hasilnya. Ya, Orion tidak berhasil.


"Aku ingin merobek-robek hatinya." gumam Hiver dalam pelukan hangat Orion.


Hiver terdiam sambil memikirkan perkataan Orion. Walau ia mengada-ada, tapi emosi dalam hatinya harus keluar berbentuk berbagai sumpah serapah. Ya, Hiver tidak akan melakukan hal bodoh tersebut.


"Philip mungkin sadar jika dia tidak bisa membahagiakan Lou."


Hiver mendesah panjang sambil menggelengkan kepala dengan lemah. "Sebentar lagi kita akan sampai, Orion." Ucapnya menegakkan tubuh ketika melihat ujung dari jalan satu arah mengarah pada lampu-lampu menyala terang di sekitar chateu.


Orion menyisir surai Hiver dengan tangan, terakhirnya mengecup lama pipi istrinya.


"Aku akan menunggumu." bisiknya di telinga Hiver.


...


Jantung Philip bertalu kencang melihat mobil sedan berhenti di halaman chateu, matanya tak lepas setiap pergerakan dari kendaraan tersebut. Termasuk sosok pria bersurai emas pucat menyala oleh sinar lampu yang keluar dari pintu belakang.


Orion sejenak menatapnya, sebelum akhirnya membungkukkan badan dan membawa serta bidadari tanpa senyuman namun tetap sangat cantik.


Betapa aku merindukanmu.


Kedua orang tersebut berpandangan sebelum saling melepaskan. Hiver berjalan menatap lurus ke arah Philip, sementara Orion mengekori namun tetap menyisakan jarak yang jauh.


Philip menarik napas sangat sangat panjang setelah Hiver semakin mendekat. Dewi kematian tidak menyisakan sedikitpun kasih sayang di wajahnya. Tekadnya tampak sudah sangat bulat untuk mencabut nyawa Philip.


Plak !


Tamparan sangat kuat pada rahang Philip yang belum sembuh oleh pukulan King Robert.


"Apakah kau ingin masuk?" Tanya Philip mengabaikan denyut perih di pipi.


Manik hijau Hiver berkilat. "Tidak!"


"Baiklah." Philip yang semula berdiri di depan pintu kini berjalan ke arah samping chateu. Ia melirik Hiver yang setia mengikuti beserta manik hijau tajam.


Mereka berhenti di depan bangku taman, Philip sekilas melirik dan melihat Orion berdiri di sudut bangunan.


"Duduk?" Philip menawarkan disambut gelengan kepala kuat dari Hiver.


"Kau pikir aku ingin datang berwisata di sini?" sembur Hiver memulai aksinya.


Philip tersenyum. "Tentu saja tidak." ucapnya pada wanita yang sangat murka.


"Terus kenapa kau beramah tamah, sangat basi." sergah Hiver dengan sengit.


"Aku hanya berusaha menjadi tuan rumah yang baik. Setidaknya mungkin hal ini yang terakhir bisa kulakukan kepadamu, Hiver." kata Philip seraya menghela napas dalam.


"Lihat di atas meja." sambungnya menoleh ke arah meja samping bangku taman. Sebuah belati berkilat tergeletak di atas meja, ujungnya sangat runcing. Tatapan mata Hiver pun ikut tertuju kepada benda tersebut.


Philip bergerak meraih belatinya. "Aku pernah berjanji, bukan? Sekarang aku siap, Hiver." ucapnya sambil meletakkan benda tajam itu di tangan Hiver yang gemetar.


"Kenapa? Apakah kau ragu? Aku telah menyakiti perasaan Lou, kini dia patah hati dengan perpisahan kami. Aku berhak mendapatkan hukuman, Hiver."


Hiver terpancing, jemari lentiknya kini menggenggam erat pegangan belati. Manik hijaunya menyala menatap Philip yang terus mengulas senyuman.


"Apakah ini lucu bagimu, Tuan Bernadotte? Perasaan adikku hanya mainan sesaat? Janjimu kepadaku tidak benar, kau hanya ingin memelukku, bukan? Kau iblis!" Hiver menaikkan belatinya dan menancapkan di bagian sweater Philip yang berwarna canary.


"Marjorie." satu tangan menarik tangan Hiver menjauh dari dada Philip. Belati itu sangat tajam dan sempat menyayat kain sweater beserta sedikit kulit Philip.


"Aku akan membawamu pulang, jika kau nekat melakukan hal seperti ini, Marjorie." Orion menggeleng setelah benda tajam tersebut berpindah tangan.


"Dan kau, Philip. Jangan menambah emosi istriku." sambungnya menatap wajah pewaris tahta yang bengkak. Ia menyimpulkan jika bukan tamparan Hiver melukai Philip separah itu.


Philip tersenyum sambil membalas tatapan Orion. "Aku kalah denganmu." gumamnya lirih.


"Bicaralah. Aku akan berada di ujung sana." Orion tidak menyambung perkataan Philip. Ia hanya perlu mengambil benda tajam yang bisa mengacaukan hidup mereka bertiga.


Hiver yang mendapatkan ultimatum dari Orion seakan kehilangan semangat untuk mengeluarkan sumpah serapahnya, pun ia tidak lagi ingin melukai Philip.


Chateau itu berada di atas ketinggian, dingin pun kemudian menyergap tubuh-tubuh yang betah di luar bukannya menghangatkan diri di depan perapian.


Philip menanti dan menikmati kebersamaan mereka. Di samping tubuh memancarkan wangi orange yang menyegarkan, pun surai Hiver melambai tertiup angin semilir, pengobat seluruh kekalutan hati Philip. Kini ia telah disembuhkan.


"Entah apa yang akan kau dapatkan." Hiver membuka suara, memecah keheningan.


"Karma?" tanya Philip melirik Hiver. Wajah wanita cantik itu sangat datar dan dingin. Setidaknya tidak lagi memancarkan murka.


"Apapun sebutannya, tapi kau tidak akan pernah bisa merasakan damai." sahut Hiver.


Philip tertunduk menatap kedua pasang kaki yang bersisian, ia pun mengedipkan mata seolah memencet tombol kamera. Foto kedua pasang kaki tersebut tersimpan di memorinya.


"Semoga itu terkabulkan, Hiver. Doamu." Philip menatap jelas wajah Hiver yang datar dan sangat dekat.


Hiver menoleh dan memandang wajah Philip yang tersenyum.


"Kau orang paling aku benci di dunia. Biarkan Tuhan yang menghukummu, Tuan Bernadotte. Kini kita tidak memiliki alasan untuk saling bertemu, kau bukan anggota keluarga Mersia. Kau tidak akan memiliki cara mengusik hidupku, dan semoga kau menggunakan isi kepalamu untuk berpikir dengan semua yang aku katakan. Aku sangat membencimu. Kau adalah orang terakhir yang ingin kutemui. Jadi, jangan pernah menampakkan wajahmu di depanku." ujarnya dengan suara bergetar seiring manik mereka saling berpandangan.


"Aku akan berusaha mengingatnya, Princess Hiver. Namun semua perkataanmu tadi tidak akan bisa menghilangkan perasaanku kepadamu."


Hiver memutar bola matanya, Philip terkekeh.


"Kau adalah pangeran tergila yang pernah aku temui." katanya sambil membalikkan badan.


"Hiduplah dengan bahagia, Hiver." ucapan Philip mengiringi kepergian Hiver yang sempat menoleh memandangnya.


Hiver tidak menjawab. Wanita cantik itu kembali berjalan meninggalkan Philip yang terpaku pada tempatnya.


"Bidadari jahat." Philip terkekeh sambil meraba dadanya yang tersayat belati.


###





alo kesayangan💕,


Aku butuh banyak sad songs untuk dapat feel chapter ini. apa kabar Team Orion, apakah kalian sudah goyah??


wkwkwkwk..


Happy Monday, darling ❤.


love,


D😘