MERSIA

MERSIA
Don't Cry, Marjorie



Hiver menoleh dengan wajah panas menatap pria yang baru saja mengecup pipinya. Orion nampak datar seolah tidak pernah terjadi hal yang membuat jantung Hiver terjun bebas ke dasar bumi.


“Marjorie.” Manik biru gelap itu menoleh dan mendapati Hiver sedang menatapnya.


Orion tersenyum simpul, tangannya mengacak surai hitam milik Hiver.


“Aku tidak suka berteman, Marjorie. Aku tidak pernah memiliki teman sejak aku kecil, kau pasti sangat tahu itu. Aku hanya memiliki papa, mama, dan saudaraku.”


Alis Hiver berkerut samar “Aneh.” Gumamnya pelan.


Orion akhirnya tertawa, hal sangat langka terjadi hingga membuat bulu di tangan Hiver berdiri. Sebenarnya bukan suara tawa yang merdu itu yang membuatnya bergidik tapi sepanjang usia Hiver, mungkin ini pertama


kali ia mendengar suara tawa pria bersurai emas pucat itu.


“Aku memang aneh, Marjorie.” Ucapnya seraya tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke depan.


“Maaf.” Hiver menatap ke arah yang sama, dan membiarkan semilir angin meniup surai mereka.


Hiver tidak bisa berbohong jika wangi maskulin earthy milik Orion membuatnya suka berlama-lama di sebelah pria itu. Sungguh menenangkan, dan alam membuatnya sempurna. Selain jenius, Orion adalah seorang yang


perfeksionis. Dalam menentukan tempat tinggalpun, Orion memilih di tepi danau dan mansion yang sangat tenang dan indah.


“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Marjorie. Aku sadar seperti apa diriku. Kepribadianku, cara bersikap, sepertinya tidak perlu aku jelaskan karena kita tumbuh bersama.”


Hiver tersenyum, bahkan ia telah melupakan luka hatinya semalam. Mungkin sejenak melupakan, karena fokusnya sedang tertuju kepada pria yang sukses mengembangkan teknologi produk Bluette Corporation.


“Apakah aku boleh bertanya, Orion?” Hiver menoleh memandang runcingnya hidung pria itu.


Orion melebarkan mata bersamaan menaikkan alisnya. Sementara Hiver takjub akan ekspresi-ekspresi pria itu yang merupakan sebuah hal baru baginya.


“Tentang apa, Marjorie?” Orion bertanya balik dengan suaranya yang halus. Jika ingin mendengar aksen keluarga Bluette yang berbeda dengan yang lainnya, Orion- lah orangnya. Pria itu mewarisi raut wajah dari sang papa namun aksennya menjelaskan jika dia murni orang Perancis. Setidaknya itu yang ditangkap orang yang berkesempatan berbincang dengannya. Sebuah momen yang sangat jarang terjadi.


Hiver menarik napas pelan “Apa yang membuatmu tidak menyukaiku? Seingatku, kau berubah setelah pesta ulang tahun kalian bertiga yang ke 20. Ya, sebelum itupun memang kau tidak pernah mau ikut bermain denganku. Hanya sibuk dengan buku bacaanmu.”


Orion terdiam mungkin saja mencerna  pertanyaan Hiver. Sepertinya tidak, pria di sebelahnya memiliki otak yang bekerja sangat-sangat baik.


“Aku tidak bilang tidak menyukaimu, hanya aku menjaga jarak karena kau menyukai River, Marjorie. Dan diapun begitu. River mengatakan kepadaku berita itu sebelum ulang tahun kami. Katanya, dia ingin menyatakan perasaan, dan aku pikir kalian benar-benar berpacaran. Soalnya aku melihat River menciummu.” Tutur Orion dengan datar seraya menghela napas dalam.


Kepala Hiver sontak berbalik dan menatap Orion dengan manik hijau yang melebar penuh “Kau melihat River mengambil ciuman pertamaku?”


“Itu ciuman pertamamu?” nada Orion bertanya lebih tinggi bercampur dengan mimik terkejut.


“Ya, itu ciuman pertamaku.” Hiver mengaku seraya mengingat rasa bibir panas River menyentuh bibirnya yang dingin. Hal istimewa itu yang membuatnya tidak bisa tidur selama berhari-hari, sayang tidak ada kejelasan makna dari sebuah ciuman pertama yang terenggut dengan pasrah. River hanya sekadar mencium dan membiarkan Hiver terus menanti. Hingga 7 tahun kemudian ia mendapati kenyataan bahwa mereka tidak saling berjodoh.


Perlahan nyeri 2 bulan terakhir ditambah kejadian semalam menjalar di setiap aliran darah Hiver menuju jantung dan menyesakinya.


“Marjorie.” Tegur Orion dengan lembut seraya merangkul tubuh Hiver.


Gadis bersurai hitam memalingkan wajahnya ke arah Orion, maniknya berkaca dengan kristal yang sangat bening.


“Jangan menangis, Marjorie.” Ucap Orion menarik napas panjang dan kembali menatap ke depan sementara tangannya menuntun Hiver untuk merebahkan kepala di bahu.


Kini perasaan tenang menyusup di benak Hiver, iapun mencoba memejamkan mata menekan segala yang membuatnya menitikkan dua bulir air mata, yang kemudian buru-buru di sekanya.


“Aku tidak paham tentang hubungan percintaan karena aku belum pernah menjalaninya. Tapi, aku hanya tahu rasanya menyukai seseorang. Well, River menikah tidak bisa kau salahkan sepenuhnya, Marjorie.” Celetuk Orion yang sangat banyak bicara pagi itu. Entah apa yang membuat Orion akhirnya memiliki suku kata yang melimpah.


“Siapa wanita yang beruntung itu?” tanya Hiver menegakkan tubuh, sepertinya pembahasan tentang wanita yang disukai Orion lebih menarik dibandingnya membahas luka hatinya.


Orion terkejut, ia tidak menyangka jika Hiver akan menanyakan hal itu. Dengan cepat ia berdiri dan berjalan ke arah kemudi menyalakan mesin kapal. Hiver yang tidak terima akan sikap diam Orion, langsung beranjak dari duduknya dan berdiri di sebelah tubuh jangkung dan kurus itu.


Tak dinyana jika pemilik surai emas pucat dengan tubuh yang ringkih memiliki tenaga yang sangat kuat. Hiver mengenal seluruh anggota keluarga Orion dan menyimpulkan jika dominasi gen dia dapatkan dari kakeknya. Pun dengan wajah cantik dan surai berwarna langka.


Orion terlihat kembali kepada kebiasaanya, dingin dengan pandangan mata terfokus ke depan.


“Orion.” Protes Hiver merasakan pria itu mulai membangun tembok pemisah di antara mereka.


Manik biru mengental menatap kembali ke arah Hiver, bibir Orion dikulum.


“Wanita dan rasa penasarannya.” Ujarnya dan memamerkan gigi taringnya yang menggemaskan. Hiver mendesah lega, kekhawatirannya tidak terjadi.


“Apa kau ingin mencoba mengemudikan kapal?” tawar Orion membuka sebelah tangannya pada kemudi kapal mewah berharga jutaan Euro tersebut.


Gadis cantik yang memasang tudung hoodienya menunjuk dirinya sendiri “Aku?”


Orion tersenyum “Ya, kau.” Jawabnya melonggarkan pegangan pada kemudi, memberikan kesempatan agar Hiver mengambil alih pekerjaannya.


Hiver mengangguk mantap dan bergerak mendekati kemudi.


“Ini seperti mengemudikan mobil, Marjorie. Aku mengatur laju kapal lambat seperti ini, pelajari dan nikmati cara mengendalikannya.” Imbau Orion yang dipraktekkan Hiver dengan sangat mudah.


Senyuman Hiver merekah bak bunga matahari yang ditanam di kebun belakang mansion Orion.


“Terima kasih, Orion.” Ucapnya tulus, mencoba mengabaikan dada Orion yang rapat pada punggungnya dan kedua tangan ramping pria bersurai putih itu menggengam jemarinya yang sedang memegang erat kemudi kapal.



Hiver pikir ia akan lama berduka atas pernikahan River. Buktinya sebulan telah berlalu dan ia kembali kepada rutinitasnya sebagai putri pertama Kerajaan Mersia. Onyx sangat berperan pada jadwal padat Hiver, pewaris tahta


Mersia itu tidak segan meminta Hiver untuk menemaninya di berbagai acara kerajaan. Itu semua di luar tugasnya sebagai putri Mersia yang memiliki segudang kesibukan.


Seperti siang itu ia harus bertemu dengan tamu kerajaan di ruangan Campion, salah satu ruang di Palace yang dipergunakan untuk menerima tamu penting yang berskala kecil. Umumnya digunakan oleh King Robert ketika


bertemu dengan tamu istimewa, seperti para degelasi sebuah kerajaan maupun negara.


“Silahkan, Yang Mulia.” Ucap asisten Hiver menahan langkahnya tepat di depan pintu tinggi dan besar itu.


Hiver menoleh seraya menyunggingkan senyuman palsu yang tipis “Apa maksudmu, Nona Lydia?” tanya sang putri yang tampil sangat cantik dan elegan dengan sepasang suit yang dihiasi dengan payet.


Lydia adalah salah satu asisten Hiver itu membalas dengan senyuman tulus “Saya akan menunggu di luar, Yang Mulia.”


Hampir saja Hiver memutar matanya kemudian tersadarkan jika ia berada di area terbuka. Beberapa pelayan, staff kerajaan berdiri tidak jauh dari tempatnya.


Lydia tiidak menjawab malah melebarkan senyuman dan mempersilahkan putri cantik itu untuk masuk ke dalam ruangan Campiun.


Bersamaan pintu tertutup dan jantung Hiver meloncat melihat sosok pria mengenakan suit abu kotak-kota dengan celana berwarna cream yang berdiri di dekat jendela.


Sadar jika di dalam ruangan itu hanya mereka berdua, Hiver melangkahkan kakinya dengan panjang menghampiri sosok maskulin dan jantan itu.


“Kau.” Seru Hiver seraya melebarkan manik hijaunya.


Philip terkekeh ringan dan melebarkan kedua tangannya, tanpa peduli ia merengkuh sesaat tubuh Hiver. Tak lupa memberikan sebuah kecupan di pipi lalu memberikan ciuman di punggung tangan Hiver.


“Ya, aku Princess Marjorie Hiver.” Philip tersenyum lebar penuh kemenangan.


Hiver mundur selangkah mengamati dengan jelas tubuh Phipip dari atas dan bawah.


“Bagaiman bisa kau datang di Mersia tanpa menjadi sebuah berita besar? Oh Tuhan, Prince Philip kau itu bukan manusia biasa yang bebas masuk ke kerajaan lain. Semua memiliki prosedur resmi, bukan menjadi tamu biasa.” Berondong perkataan Hiver tanpa rem dengan tatapan masih tidak percaya.


“Buktinya aku bisa melakukannya.” Sahut Philip seraya berjalan menuju kursi berwarna merah dengan bingkai kayu berukir. Tangan kokoh pria bersurai coklat meraih gelas berisi teh dan meneguk isinya separuh.


“Dengan siapa kau bernegosiasi, Prince Philip?” tanya Hiver dengan gusar dan duduk di kursi depan Philip.


Seringain miring terbit di bibir Philip “Dewan kerajaan, sayang. Mereka –lah yang mengatur pertemuan kita hari ini.” jawab pemilik manik lion yang menari denganpenuh sukacita.


Tangan Hiver naik hendak menangkup wajahnya yang kemudian diurungkan, kembali ia menatap pangeran Swedia yang memiliki dominasi tinggi terhadap sebuah ruangan berukuran 400 meter persegi itu.


“Bagaimana dengan King Robert, papaku? Apakah beliau tahu dengan kedatanganmu, Tuan Bernadotte?” tanya Hiver dengan sopan yang dibuat-buat.


Philip tersenyum “Ya, King Robert tahu walau belakangan. Setelah pertemuan kita, aku akan bertemu dengan sang raja.”


Hiver mencoba meredam gelegak amarah bahkan kecewa, mungkin rasa kedua itu ditujukan kepada dewan kerajaan yang semena-mena mengijinkan Prince Philip datang ke Mersia tanpa sepengetahuannya. Dan nantinya setelah ini, Hiver bertekad untuk bertemu langsung dengan sang raja, King Robert Finlay.


“Tuhan, Tuan Bernadotte. Seharusnya semua atas sepengetahuanku.” Kata Hiver dengan nada sedikit tegas.


Manik lion itu menyipit dan terlihat jahil “Jika kau tahu, tentu saja kau akan menolak permintaanku untuk bertemu, Princess Hiver. Andai kau tahu isi hatiku, isi kepalaku, semua hanya ada dirimu. Aku tidak puas dengan


pertemuan kita 3 bulan yang lalu. Aku merindukanmu, sayang. Sungguh, yang aku lakukan memang di luar batas sebagai pewaris tahta. Tapi apa daya, aku juga seorang manusia biasa. Tidak sebarispun suratku kau balas, aku tidak bisa menghubungimu seperti layaknya orang yang sedang berusaha mengejar cinta. Hanya satu hal yang bisa aku lakukan yaitu mendatangimu di Mersia.” Ujar Philip kembali berdiri dan lihat tanpa memikirkan derajatnya sebagai seorang pangeran, ia berlutut pada satu tumpuan kaki seraya meraih jemari Hiver.


“Aku merindukanmu. Dan lihat aku membawakanmu ini.” philip melepaskan tangan kirinya dan merogoh saku suitnya.


Sebuah ponsel keluaran terbaru dipamerkan di depan wajah Hiver.


“Kau membutuhkan ini, sayang. Kau bersikap seolah peradaban kita mundur berpuluh tahun. Semua orang membutuhkan benda ini untuk berkomunikasi. Aku tidak puas dengan membaca beritamu, melihatmu di beberapa


channel televisi. Tahu tidak, jika aku sengaja memasang siaran berita Kerajaan Mersia di kamarku. Semua aku lakukan agar bisa melihatmu. Ah calon istriku yang dingin.” Philip meletakkan ponsel itu di jemari tangan Hiver.


“Aku tidak butuh ponsel, Prince Philip.” Hiver melayangkan keberatan kepada Philip. Keberadaan sebuah ponsel bisa membuat fokus hidupnya akan kembali oleng. Tangannya akan gatal untuk mencari berita tentang River. Walau


dari beberapa asistennya mengatakan jika temannya itu masih terus berjuang untuk bisa berbicara langsung dengan sang putri.


Philip tersenyum penuh arti dan kembali berdiri. Tubuh tegap dengan otot yang pas, bergerak luwes kembali ke kursinya.


“Simpan saja, sayang. Suatu hari kau akan butuh. Jika kau rindu kau bisa menghubungiku setiap saat. Andai saja kerajaan kami dilanda perang dan kau menelepon, aku pasti mengangkatnya. Lihat betapa berartinya dirimu di kehidupanku, Princess Marjorie.” Tekan Philip dengan yakin.


Hiver menggeleng lemah “Aku tidak akan merindukanmu, Prince Philip. Sejujurnya hatiku sudah tidak tertarik dengan perasaan semacam itu.”


Philip tergelak tawa, tubuh maskulin itu berguncang seirama dengan suara bahagianya.


“Jangan terlalu membenci, sayang.”


Ringisan akhirnya menghiasi bibir terpoles lip balm natural “Aku tidak membencimu, hanya tidak menyukai kegigihan yang berlebihan ini, Tuan Bernadotte. Tolong segeralah menyerah, karena ini semua sia-sia.” Hiver mencoba berdiplomasi.


Walau Philip sangat sempurna namun menjadi seorang ratu membuatnya meragu secara berlebihan. Jika itu terjadi, ia akan pergi meninggalkan Mersia kemudian hidup tanpa rasa cinta kepada sang raja. Hiver akan


menyiakan hidupnya dengan menjadi seorang hamba berposisi tinggi di kerajaan Swedia.


“Tidak, sayang. Ini tidak sia-sia.” Kilah Philip secepat kilatan cahaya.


Wajah cantik, dingin dan datar itu menautkan alis.


“Rencana apa yang kau pikirkan?” tangan Hiver gemetar melihat manik lion itu menatapnya dengan tajam seolah ia adalah seekor mangsa perburuan yang telah berada dalam di jangkauan.


Philip menggeleng dengan bibir tersenyum simpul “Bukan lagi sebuah rencana, sayang. Melainkan hal telah terwujud dengan nyata. Usai pertemuan kita ini, aku akan bertemu dengan King Robert membahas tentang rencana pertunangan kita berdua.” Jawabnya dengan rasa bahagia yang sepihak.


Sontak Hiver berdiri, kedua tangannya mengepal di sisi dan wajah memerah.


“Apa? Tidak! Itu tidak akan terjadi. Aku menolaknya, Tuan Bernadotte!”


###





alo kesayangan💕,


karena kesibukan dan lelahnya aku habis gowes membuat chapter ini terlambat update..


weekend memang aku pakai untuk berolahraga dengan beramai-ramai..


selebihnya sendiri pada week days.


hari ini Minggu, so luangkan waktu untuk investasi kesehatan tubuh yah..


jangan malas loh..


Love,


D😘