
"Dia masih muda," kata Onyx kepada Cyrus. Keduanya sedang berkuda dengan santai. "19 tahun,"
"Terus kenapa? Umur bukan sebuah alasan atau landasan, Mate. Kalian saling memberi kabar satu sama lain, itu berarti ada ketertarikan lebih dari sekadar teman biasa," terang Cyrus dengan tenang. Sama halnya dengan Onyx, ia melonggarkan tali kekang kudanya.
Onyx termenung, tubuhnya bergerak seirama langkah kuda berbulu hitam itu. "Tapi Hawaii bukan Nada, Tuhan dia masih sangat muda," erangnya sambil menggelengkan kepala.
"Tuan Alistaire," panggil Cyrus. Ia tertawa sementara Onyx meringis. "Sekarang kami mempunyai nama panggilan untukmu,"
"Marc!" Onyx menggeram. Tentu saja Hiver telah membagikan cerita tentang Hawaii kepada si kembar.
"Berhentilah memikirkan dia masih muda atau berumur, Mate. Bukankah kau tadi mengatakan jika bersama dengan nona itu kau bisa melepaskan segala jenis bebanmu," ujar Cyrus.
"Iya, ketika Hawaii bercerita tanpa putus aku merasakan bebas. Aku suka mendengar Hawaii bercerita tentang keluarganya. Dia seorang gadis muda, polos dan apa adanya. Pandangannya tentang dunia masih sangat terbatas. Ia bahkan tidak mengetahui siapa aku sebenarnya," kata Onyx bukan bangga melainkan khawatir. Entah apa yang akan Hawaii katakan jika kebenaran akhirnya terungkap.
"Katakan sebenarnya kepada nona itu. Akan lebih baik jika dia mendengarnya langsung dari dirimu, Mate. Kenapa kau sangat bodoh dalam perkara cinta?" sindir Cyrus.
"Cyrus!" seru Onyx lalu menggeram manik coklatnya membelalak.
Cyrus tergelak keras. "Dulu dengan Serenade kita berdua sampai ke New York. Kau memiliki banyak kesempatan untuk membuatnya takluk, tapi malah memilih bermain aman. Buktinya sekarang Serenade jatuh di tangan Prince Philip,"
Onyx mendesis menahan geram akan perkataan adik bungsunya. Ya, walau perkataan Cyrus adalah sebuah kenyataan namun ia benci mengakui kebodohannya. Andai saja pada saat itu ia mengabaikan igauan Cyrus yang keras dan mencium Serenade tentu saja takdir akan berkata lain. "Andai saja aku tahu jika Philip mengincar Nada, tentu saja aku akan lebih agresif," gumam Onyx.
"Hmm.. Kau juga terlalu patuh kepada Dewan Kerajaan. Aku tidak mau diatur oleh mereka, sungguh menjengkelkan. Selama Serenade di Mersia, kau sibuk mengurus Stephani. Mengikuti keinginan Dewan Kerajaan ini dan itu dengan Stephani. Sangat wajar jika Serenade memilih Philip yang lebih dewasa, lebih bertanggung jawab, bukan seorang pewaris tahta yang berada di bawah tekanan,"
"****," umpat Onyx. Tangannya meremas tali kekang kuda dengan kuat.
"Sudahlah, jika kita membahas Serenade terus kamu tidak akan bisa maju ke depan dan melupakan segalanya. Apapun yang terjadi dia tidak bisa lagi kau miliki, Mate. Sekarang kenyataannya adalah ada yang dekat denganmu, siapa lagi namanya?" tanya Cyrus.
"Hawaii Capucine," Jawab Onyx.
Cyrus berdeham pendek. "Queen Hawaii Capucine of Mersia, sepertinya cocok. Terdengar unik. Kau tahu jika para ratu di dunia tidak perlu dari putri kerajaan, tidak harus dari keluarga terpandang, beberapa dari mereka berlatarbelakang selebriti, ada juga yang memiliki kisah seperti Cinderella,"
"Sepertinya kau sedang memaksakan keinginanmu, Cyrus?" sengit Onyx kepada adiknya.
Cyrus memutar matanya lalu mendesah kasar. "Yang Mulia Prince Alistaire Onyx, sekarang pilihan ada di tanganmu. Apakah kau ingin menikah dan memiliki seorang permaisuri yang bisa membuatmu terhibur ataukah kau patuh dengan Dewan Kerajaan,"
Onyx menoleh menatap Cyrus. Sang adik memamerkan seringaian dengan bola mata yang menyipit. "Stephani," bisik Cyrus.
"Demi Tuhan, tidak! Bagaimana aku menggambarkan seorang Stephani dari luar dan dalam kepadamu? Dia cantik, menawan, bagaimanapun Stephani dididik dalam lingkungan kerajaan yang sama dengan kita berdua. Tapi, dia pendendam dan arogan. Belum terjadi sesuatu di antara kami, dia telah memposisikan layaknya sebagai pendampingku. Seperti itu," terang Onyx.
Cyrus berdecak kepalanya menggeleng sebanyak dua kali lalu menghela napas dengan kasar.
"Aku tidak tahu seperti apa wanita yang akan kunikahi nanti. Tapi setidaknya aku cukup pintar memilah. Kembali kepada dirimu, Mate. Coba pikirkan posisimu ke depannya, kau tahu sendiri, bukan? Kau akan memimpin kerajaan ini, Big Bro. Kau butuh pendamping yang bisa menenangkanmu, menyemangatimu, menjadi tempat keluh kesahmu, wanita yang mencintaimu dan kau juga cintai tanpa ada sedikit kemunafikan. Kau tidak harus bersandiwara di depan semua orang jika kau mencintainya, mengaguminya, membanggakannya karena itu tulus dan murni dari hatimu. Cinta akan hadir ketika pintu hatimu perlahan kau buka, berikan kesempatan itu kepada Hawaii. Kau telah campur tangan dengan kehidupannya, pusat perhatian mereka sekeluarga tertuju kepadamu. Jika mereka tahu siapa dirimu sebenarnya, aku yakin Hawaii dan keluarganya tidak akan menolak. Mersia memiliki putra mahkota yang sangat tampan, kriteria apalagi yang mereka inginkan ketika ada paket sesempurna ini,"
"Kau menggodaku dengan sanjungan setinggi itu," sahut Onyx akhirnya bisa tersenyum.
"Yang kau perlukan adalah consistency, Mate. Konsisten, jangan plinplan dalam perkara cinta. Wanita itu butuh kepastian, ketegasan, tanggung jawab. Sementara dirimu semakin dikejar oleh kerajaan untuk mendapatkan pendamping. Dirimu terlalu sibuk dengan Mersia hingga tidak memikirkan untuk berpacaran dengan gadis-gadis yang mengidolakanmu saat di sekolah dulu,"
"Tidak ada yang menarik, semua terlihat sama saja. Tidak ada yang murni menyukai diriku tanpa membawa Mersia," dalih Onyx.
"Sekarang ada yang menyukaimu tanpa tahu siapa Prince Alistaire Onyx of Mersia. Carilah waktu ke Lyon atau kau ingin mengundangnya ke sini tanpa sepengetahuan Dewan Kerajaan. Aku bisa membantumu hal kecil seperti itu,"
"Biar aku pikirkan baik-baik," sahut Onyx menghentakkan tali kekang, Thunder nama kuda berwarna hitam legam itu merespon dengan cepat dan mulai berlari meninggalkan Cyrus.
"Keras kepala dan plin plan," sungut Cyrus menyusul sang kakak.
Di seberang samudera, tepatnya di Penginapan La Caravelle, Hawaii sedang memandang ponselnya, membaca berulangkali email dari Onyx.
Dadanya bergemuruh hanya karena surat elektronik itu. Ada yang tumbuh di hatinya, sesuatu yang baru ia rasakan.
"Hei," tegur Jeanne.
"Hmm," Hawai berdeham pendek, ia menatap wanita paruh baya yang sedang tersenyum lebar kepadanya.
"Ada kabar dari temanmu?" tanya Jeanne. Manik coklatnya berbinar menunggu jawaban dari Hawaii.
"Tuan Alistaire menginginkan kita merenovasi penginapan ini," jawab Hawaii dengan hati-hati.
"Yakin?" Jeanne terpekik sembari menghampiri Hawaii. Wanita paruh baya bersurai hitam itu memegang jemari anaknya.
Hawaii mengangguk, semakin memerahlah wajah Jeanne mendapatkan berita bahagia. Semua bebannya terangkat dalam hitungan detik. "Oh Tuhan, terima kasih dan juga sampaikan terima kasih Mama kepada temanmu. Tidak! Dia bukan temanmu melainkan dewa penolong bagi kita sekeluarga, Sayang. Terima kasih," seru Jeanne memeluk Hawaii dengan penuh suka cita.
...
Serenade memandang dari kejauhan pria bertubuh tinggi tegap yang membuat jantungnya berdegup kencang. Pria itu sedang berbicara dengan Hans, entah apa yang mereka bahas namun terlihat sebuah percakapan yang serius. Philip mengangguk pelan pun membuat Serenade mendesah menetralkan debaran dan perutnya penuh dengan kupu-kupu serempak beterbangan.
Ketika Philip menoleh dan melemparkan senyuman ke arah Serenade, saat itu pula sang pianis meremas bahan roknya dengan kuat-kuat.
"Dasar," umpat Serenade. Ia benar-benar takluk dengan pesona Philip.
Lima menit kemudian Philip akhirnya menyudahi pembicaraannya dengan Hans. "Harusnya kau menungguku sambil duduk di sana," tunjuk Philip ke arah kursi beledu berwarna ungu.
"Tidak perlu, Yang Mulia. Saya lebih suka menunggu di sini," timpal Serenade dengan tersipu tatkala Philip menggenggam jemarinya.
"Kau tidak lelah, My Lady? Kita baru saja sampai dari Los Angeles," kata Philip menatap binar wajah Serenade. Ia tersenyum bahagia, wanita cantik bersurai emas itu adalah miliknya, pun mereka telah mendapatkan restu dari kedua belah pihak
"Saya tidak bisa tidur, Yang Mulia. Saya terlalu bahagia," polos Serenade mengakui.
"Setidaknya kau telah tidur selama di pesawat," Philip mengingat selama 10 jam perjalanan pulang dari Amerika, Serenade bisa beristirahat begitupun dirinya.
"Tidak lelap dan sering terbangun. Syukurnya setiap terbangun saya melihat Yang Mulia berada di depan, saya tidak bermimpi. Hal yang paling saya takutkan jika semua ini hanya bunga tidur,"
Pipi Philip memanas mendengar perkataan Serenade. Ia tertunduk kemudian menoleh memandang Serenade. Ia berdeham dan tersenyum. "Apapun di depan kita, jangan pernah padam rasamu ini. Aku sangat bahagia, My Lady,"
Kini giliran Serenade menunduk, bibirnya menyunggingkan senyuman tipis yang malu-malu.
"Yang Mulia tidak perlu melakukan itu," Serenade menatap wajah Philip, pria itu tidak bergeming dengan perkataannya.
"Kenapa perhiasan yang aku berikan tidak pernah kau pakai, My Lady?" tanya Philip lembut.
"Eh," desahnya. Sontak Serenade menutup bibirnya. "Maafkan saya, mengenai kalung itu. Yang Mulia, saya ingin mengembalikannya. Itu terlalu indah, saya tidak tahu kemana harus memakainya,"
Philip mencondongkan kepala ke telinga Serenade dan berbisik. "Itu belum seberapa, Sayangku. Beberapa perhiasan warisan akan menjadi milikmu dan aku akan membelikanmu dunia,"
Serenade kehilangan kata-kata. Dadanya sudah kehilangan jantung, tubuhnya melayang di udara.
"My Lady," suara berat Philip menyadarkan Serenade.
"Maafkan saya," Serenade mengerjapkan manik birunya.
"Kita sudah sampai," Philip menunjuk ke arah pintu yang terbuka berwarna kuning di jaga oleh dua pengawal istana.
Serenade sebenarnya tidak sabaran untuk melihat isi ruangan tersebut, namun Philip menggandeng tangannya dengan sangat romantis. Pun mereka dalam tatapan sembunyi-sembunyi para dayang-dayang dan Hans di belakang.
"Yang Mulia," pekik Serenade ketika memasuki ruangan yang luas berdinding cat krem dengan jendela tinggi bercat putih. Dan bagian paling menarik adalah ruangan itu tanpa apa-apa selain di tengah terdapat satu grand piano. Serenade bergegas menghampiri piano tersebut.
"Terima kasih, Yang Mulia," Serenade membelai permukaan piano dengan bola mata berkaca-kaca.
Philip duduk di kursi piano dan menatap lembut wanita yang mencintainya. "Kita hanya menghitung hari dan Swedia akan mengambil waktumu, My Lady. Tapi itu bukan berarti pernikahan kita merenggut bakatmu, kecintaanmu terhadap musik. Ketika kau rindu, datanglah ke ruangan ini, hiburlah telinga-telinga kesepian dan hati yang kaku dengan kehidupan di Royal House. Lembutkan mereka, sebagaimana kau membuatku terpesona pada malam itu,"
Serenade menyeka air matanya, ia mengangguk.
"Kemarilah," panggil Philip yang memberi tempat di sampingnya.
Serenade menggigit bibirnya dan masih ketika Philip meraih jemarinya.
"Kau tahu lagu ini?" tanya Philip menekan tuts pada nada sol sebanyak tiga kali.
Manik Serenade melebar dan menoleh heran kevarah Philip. "Yang Mulia, anda bisa memainkan piano?"
Philip melirik dan tersenyum. "Hanya pemahaman dasar, kami belajar musik dari kecil hingga usia 13 tahun aku tidak pernah lagi ke ruangan musik untuk berlatih. Ini hanya pengulangan memori di kepalaku. My Lady, bermainlah denganku,"
Philip mengulangi dari awal, menekan dengan lembut tuts berirama. Serenade ikut memainkan nada lebih rendah, maka terdengar simponi indah mengalun di ruangan luas itu.
Tepat 2.38 menit mereka menyudahi permainan duetnya, bola mata biru Serenade banjir oleh air mata bahagia. Ia tidak pernah bermain piano seemosional layaknya hari itu. Bahkan ketika konser besar sekalipun. Serenade menemukan prianya.
"Bagaimana?" tanya Philip sembari mengambil saputangan sutra dari saku jasnya. Ia menyeka air mata Serenade dengan perlahan dan lembut.
"Bagus, Yang Mulia berbakat," puji Serenade dengan suaranya yang serak. Bahkan kebahagiaan pun bisa membuatnya menangis seperti ketika ia masih kecil dan mendapatkan kuda poni dari Daddy-nya.
"Ah tidak, My Lady. Kau tidak melihat tanganku yang kaku sangat berbeda dengan jemarimu yang menari di atas tuts," kata Philip kini menggengam jemari Serenade kemudian mengecupnya.
"Yang Mulia, aku takut ini hanya mimpi," Serenade mengerang dan menunduk. Kesempatan itu ia gunakan untuk menggigit bibirnya kuat-kuat. Andai saja ini hanya mimpi, ia akan menangisinya di sepanjang hidup. Sakit! Ia menengadah pada wajah tenang penuh wibawa, sedikit saja bibir Philip menekuk ke atas dan hati Sereanade berdenyut sakit dan indah.
"Satu lagi, ini bukan hadiah melainkan keteledoranku melupakan hal penting setelah kita melalui semuanya," Philip berdiri masih menggenggam jemari Serenade.
"Tuhan," desah Serenade ketika melihat Philip menekuk lututnya.
Philip yang tenang, mengambil kotak beledu antik dari saku samping jasnya. "Ini dari 3 ratu sebelum Ibunda permasuri yang sekarang," jelasnya singkat.
"Serenade Rajendra, tiga hari yang lalu kamu berjalan masuk ke dalam hidupku. Dan sejak saat itu, hidupku terpaku pada satu titik yaitu dirimu. Kau adalah duniaku, hal yang paling ingin kujaga setelah Swedia. Aku ingin dirimu menemaniku membangun negeri ini, melalui cobaan dan menikmati suka cita dengan bersama...." Suara Philip hampir habis hanya karena kalimat pendek itu. Ia berdeham pendek, mengulas senyuman melihat wanitanya sedang sesunggukan yang ditahan.
"Aku mencintaimu tanpa tahu, tanpa persiapan. Tapi mulai hari ini kita akan merencanakan hidup kita ke depannya dengan bersama. Ingatlah hari ini, Sayang. Hari dimana kita memulai perjalanan hidup untuk selamanya," Philip memasangkan cincin antik dari 4 generasi sebelum kelahirannya.
Kembali ia menatap kekasihnya. "Serenade Rajendra, aku mencintaimu dengan segenap hati dan jiwa. Oh kekasihku," kata Philip mengecup punggung jemari yang berhiaskan cincin berlian antik nan indah.
Philip bergerak menangkup wajah cantik Serenade yang memerah dan basah akan air mata. Philip menghapus jejak air mata Serenade. Memandang lekat wajah wanitanya, dan perlahan menyatukan dua bibir dengan lembut walau tak lama. Ciuman pertama mereka yang disaksikan oleh belasan dayang-dayang dan pengawal istana.
"Yang Mulia," Serenade yang malu kini bersembunyi dalam dada bidang sang pewaris tahta. "Jangan bangunkan aku jika ini adalah mimpi,"
###
Malcomm Cyrus
Alo Kesayangan💕,
Suatu hari aku akan merevisi penjelasan info-info Royal Palace, dan novel lainnya yang masih amburadul. Just reminder, jika aku belajar menulis dengan melakoninya. Ini bukan mimpiku, jadi penulis. Aku ingin jadi designer, btw 🤣.
Oh Yah, setelah kisah ini tamat.. Prince Malcomm Cyrus akan punya novel tersendiri. Semoga terealiasasi sambil aku belajar design 😁.
Dan demi Philip main piano aku belajar baca not balok, hahahahaha... [komposisi yang mereka mainkan adalah Dawn dari ost Pride and Prejudice]
Ladies, selamat berkutat ke keseharian yang normal.. Libur sudah usai wkwkkkwk.
Happy Monday, Y'all
love,
D😘