
"Kau gugup?" tanya Cyrus melihat gadis belia bersurai ikal sedang menggigit bibirnya.
Sepasang manik hazel mengerling sejenak, kepalanya terangguk pelan. "Sangat," aku Hawaii.
Cyrus tersenyum simpul. "Tenang, sekarang sudah larut malam. Sebagian besar isi Palace sudah tertidur dengan lelap. Waktunya tepat sesuai dengan rencanaku,"
"Tetap saja gugup," timpal Hawaii blak-blakan. Terhitung kurang lebih 8 jam mereka saling mengenal satu sama lain membuat keduanya lebih dekat. Bahkan Hawaii lebih mudah berbicara dengan Cyrus dibandingkan dengan Onyx yang terkesan lebih pendiam dan kemungkinan Onyx tipikal sangat menjaga lisan yang keluar dari bibirnya.
Hawaii dalam perjalanan ke Mersia sempat menanyakan perihal wanita yang memikat seorang Malcomm Cyrus yang menurutnya memiliki sifat yang sangat terbuka dan seorang pembicara yang baik. Sayangnya pangeran terakhir dari Mersia tersebut memilih untuk sendiri setelah hubungan terakhirnya berakhir kandas, padahal dengan pembawaan supel beserta wajah yang tampan, Cyrus bisa mendapatkan wanita mana pun yang ia inginkan.
"Kau ingin mendengarkan cerita, Capucine?" kata Cyrus yang lebih suka memanggil nama belakang dari Hawaii. Ia menjelaskan kepada wanita bersurai ikal tersebut bahwa pertama kali ia mendengar nama asli Hawaii dari Onyx, ia sangat tertarik dengan nama tersebut "Capucine".
"Apa itu?" sahut Hawaii tanpa menoleh, matanya sibuk mencari orang-orang yang menurutnya sedang memperhatikan kedatangan mereka.
Cyrus menyeringai sambil mengangkat alisnya. "Kakakku Onyx adalah pewaris tahta semua orang segan kepadanya, tapi di Palace tidak ada yang berani melaporkan perbuatan si putra bungsu. Jadi, kau tidak perlu khawatir seperti itu. Mereka hanya mengawasi hal lain sementara apa yang aku lakukan tidak masuk dalam rekaman mata mereka," jelasnya lalu tertawa ringan.
"Kau menyogoknya?" tanya Hawaii tanpa memasukkan embel-embel "Yang Mulia" ketika berbicara dengan Cyrus. Sejauh ini ia telah mengumpulkan denda sebesar 1500 Euro dikarenakan Cyrus mengeluarkan aturan denda sebesar 100 Euro setiap kali Hawaii memanggilnya dengan sebutan "Yang Mulia".
"Tidak, aku tidak perlu melakukan pekerjaan seperti itu," Cyrus berpura-pura kesal ketika melirik Hawaii. Gadis belia itu tertawa sambil menutup bibirnya. Setiap kali Hawaii tertawa ataupun tersenyum bola matanya membentuk garis yang melengkung, Cyrus menyimpulkan jika hal kecil tersebut merupakan salah satu daya tarik yang membuat pewaris tahta Kerajaan Mersia jatuh hati namun tak berani diungkapkan dengan gamblang. Onyx yang malang!
"Baiklah, mungkin putra bungsu Mersia memiliki kekuatan yang kasat mata yang mampu menundukkan orang-orang dengan mudah," seloroh Hawaii sambil terkekeh.
Cyrus mencebik. "Kalau aku memiliki kekuatan super, bukan hanya kekuatan itu yang aku inginkan. Hmm.. aku mau memiliki kekuatan yang bisa mengendalikan waktu,"
"Seperti Dr. Strange?" tanya Hawaii antusias.
"Hei, kau menontonnya?" Cyrus tak kalah semangat bertanya, alis hitamnya kembali terangkat.
"Tentu saja,"
"Tapi kau pasti belum menonton yang terbaru, bukan?"
Hawaii menggeleng. "Bagaimana jika aku membayar denda dengan mentraktirmu nonton?" tawarnya.
"Hah," tatap Cyrus memastikan perkataan Hawaii. "Kita nonton bertiga, deal?" sambungnya tanpa jeda yang lama, ia bahkan menyodorkan tangannya ke depan.
"Ya, deal," balas Hawaii menjabat tangan Cyrus.
"Oke. Biar aku yang menentukan waktunya," Cyrus menepuk tangan Hawaii dan melepaskan genggaman tangan. Ia kemudian mengarahkan pandangan ke depan. "Dan kita sudah sampai,"
Perkataan Cyrus yang datar membuat jantung Hawaii yang semula berdetak normal kini berubah berdenyut cepat dan sakit. Ia tidak bisa membalikkan badan dan berlari menyusuri koridor panjang dan tatapan para penjaga Palace Mersia, satu-satunya jalan adalah bersembunyi di belakang tubuh Cyrus.
"Astaga, Capucine," Cyrus menoleh ke belakang dan menggeleng. "Di dalam kamar hanya ada pria yang kau cintai, ayo,"
Cyrus menarik tangan Hawaii yang dingin, ia hanya mendengus mendapati sifat gugup gadis cantik itu.
Tanpa diminta pun para penjaga yang bertugas di depan kamar sang pewaris tahta spontan membukakan pintu lalu memberikan salam dengan membungkukkan badan.
"Dia tidur," bisik Cyrus masih menggenggam pergelangan tangan Hawaii dan menuntunnya mendekat ke arah tempat tidur Onyx.
Jangan tanyakan kondisi Hawaii sekarang, ia bernapas berat dan menariknya melalui mulut berulangkali, manik hazelnya berkaca-kaca. Hanya ada satu lampu yang menerangi kamar tidur yang sangat luas tersebut, walau penglihatan Hawaii terbatas namun ia bisa melihat kemegahan ruang itu dan memiliki wangi seperti cologne sang putra mahkota. Hawaii hapal wangi tersebut, wangi yang sangat ia rindukan.
Kini Hawaii bisa melihat dengan jelas sosok Onyx yang sedang tertidur nyenyak, bagian tubuh atasnya mengenakan jubah tidur berwarna hitam berbahan satin sutra, bagian bawahnya tertutup dengan selimut yang lembut.
"Tuan Alistaire," bisik Cyrus memanggil sambil menepuk lengan sang kakak. Manik Hawaii melebar menunggu respon Onyx.
"Tuan Alistaire," panggil Cyrus sekali lagi.
"Hmm," dehaman panjang dan malas terdengar dari bibir Onyx.
Cyrus mendekatkan kepala hingga ke telinga Onyx. "Selamat ulang tahun, Yang Mulia," ucapnya pelan. Hawaii melihat kejadian itu hanya bisa menahan senyuman dengan dada berdegup kencang.
"Ulang tahunku sudah lama lewat, Cyrus," suara parau Onyx menjawab, matanya masih terpejam rapat. "Demi Tuhan, apa yang kau lakukan di kamarku?"
Bukan Cyrus namanya jika ia menyerah hanya karena sungutan Onyx. "Aku tahu ulang tahunmu, Yang Mulia. Tapi lima bulan yang lalu aku tidak memberikanmu kado. Malam ini.. oh tidak ini menjelang pagi, aku memberikanmu kado terbaik yang pernah aku berikan," katanya sambil menoleh melihat kado yang ia maksud. Cyrus memberikan kode kepada Hawaii untuk mendekat.
"Rrrrrrr," geraman Onyx bak harimau terluka yang hanya diganggu jam tidurnya. Tubuhnya bergerak membalik dengan beringas. Kedua tangannya terangkat hendak mencekik Cyrus yang terlebih dulu beranjak mundur menjauh dari tempat tidur.
"Yang Mulia, bukannya tangan Anda terluka karena jatuh dari berkuda?" seru Hawaii membelalakkan mata melihat kondisi Onyx tidak berkurang sedikitpun. Kedua tangan pewaris tahta itu tidak menampakkan bekas luka ataupun goresan.
Bersamaan dengan seruan Hawaii selesai, lampu kamar Onyx menyala. "Kado ulang tahunku, Tuan Alistaire," seru Cyrus senang.
Hawaii bertatapan dengan Onyx yang rasa kantuknya menghilang seketika. "Hawaii,"
Cyrus mendekati Hawaii, ia menepuk punggung Hawai dua kali secara perlahan. "Maafkan aku, Capucine. Aku berbohong kepadamu tentang keadaan Tuan Alistaire. Pertama, kakakku bukan orang yang ceroboh terlebih terhadap olahraga favoritnya. Kedua, aku menggunakan taktik yang sama ketika ayah kami mencari perhatian ibunda permaisuri. Ya, taktik itu 30 tahun yang lalu. Dan ketiga, aku lelah melihatmu gundah gulana, Tuan Alistaire. Jika kau bersikap seperti itu, kau akan berakhir bersanding dengan wanita yang tidak kau cintai. Kau terus meladeni keinginan Dewan Kerajaan dengan putri itu,"
Hawaii mencengkeram lengan Cyrus, kedua maniknya kini berkaca-kaca mendapati kenyataan yang membuatnya tidak bisa berkutik. Ia terjebak.
"Cyrus," kata pelan Hawaii bercampur dengan isakan tangis yang tertahan.
Cyrus tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Dia mencintaimu, Capucine," ucapnya sambil melihat Onyx yang sedang mematung di atas tempat tidur.
Hawaii menggeleng. "Antar aku pulang," pintanya dengan hati terluka.
"Tidak, kau tidak akan keluar dari Mersia sebelum hubungan kalian resmi," sahutnya sambil mendorong Hawaii merapat ke badan tempat tidur Onyx. Perlakuan yang sedikit memaksa tapi ia tidak peduli.
Cyrus memandang kedua orang yang sedang terdiam. "Aku akan meninggalkan kalian dan mengatur segalanya. Kak, Hawaii sudah ada di depanmu, jangan sampai kau menahan diri lagi dengan opini-opini di kepalamu yang justru membuatmu ragu," sekali lagi Cyrus menepuk punggung Hawaii kemudian membalikkan badan dan melangkahkan kakinya dengan cepat.
Kaki Hawaii semakin lemas dengan kepergian Cyrus, ia berdiri kemudian menoleh ke arah pintu. Ia baru saja hendak membalikkan badan dan memyusul Cyrus.
"Mau kemana?" tanya lembut menenangkan bersamaan jemari memegang pergelangan tangan Hawaii. Sensasi yang berbeda ketika Cyrus melakukan hal yang sama. Perasaan tidak bisa berbohong, walau selama 8 jam bersama dengan Cyrus yang memiliki jutaan kata dan pembicaraan yang seru di antara mereka. Sungguh berbeda dengan dua kata yang keluar dari bibir Onyx.
"Mau kemana, Hawaii?" Onyx mengulang pertanyaannya sambil menarik tangan Hawaii kuat hingga gadis belia itu terduduk di tepian tempat tidur.
Hawaii tak kuasa memandang Onyx, ia memandang ornamen kamar tidur yang membuatnya berkecil hati, dadanya bergemuruh hebat, air matanya jatuh tak bersuara.
"Aku ingin pulang," suara Hawaii sangat pelan. Rasa hangat menjalar dari pergelangan tangan hingga ke dada. Nyaman, indah sekaligus menyakitkan.
"Maafkan aku, Hawaii," suara Onyx terdengar penuh penyesalan. Hawaii semakin terisak namun dengan cepat ia menghapus air matanya dengan kasar. Hawaii menoleh menatap Onyx dengan kedua manik yang memerah pun hidung beserta pipinya.
"Jahat," Hawaii mengeraskan rahang. Usai mengeluarkan satu kata itu ia menunduk.
Onyx bergeser mendekat, tangan yang terbebas kini mengusap lembut surai Hawaii. "Kini kau tahu diriku, Hawaii,"
Hawaii memandang wajah rupawan Onyx bahkan pria itu terlihat lebih menarik dengan surai hitamnya yang berantakan. "Dua minggu lalu aku tahu," jawabnya.
Bola mata Onyx melebar. "Siapa yang memberi tahumu?"
"Dari majalah," jawab Hawaii singkat-singkat. Dipertemukan kembali dengan pria yang mengisi mimpi-mimpinya membuat Hawaii kehilangan kata-kata.
"Jadi?" tangan Onyx berhenti di bagian pipi Hawaii. Dua pasang mata saling menatap.
"Jadi apa?"
Onyx tersenyum manis. "Kau pasti kesal,"
"Bukan hanya kesal, tapi kaget yang traumatis. Tidak masuk akal orang biasa mengeluarkan uang sebanyak itu kepada orang yang baru dikenalnya," jawab Hawaii sambil memasang muka kesalnya. Di balik muka kesal itu, rindunya membuncah.
Onyx kini memposisikan tubuh di sebelah Hawaii. Ia mengacak surai ikal yang dari dulu membuatnya menahan diri untuk tidak menyentuhnya. Kini ia tidak memiliki sekat untuk tidak melakukan hal tersebut,
"Dan semua ini, lihat," Hawaii melayangkan pandangan ke seisi kamar. "Dunia kita benar-benar berbeda, Yang Mulia,"
Onyx menautkan jemari tangan dengan jemari Hawaii. Ia melipat bibir sembari mengambil oksigen banyak-banyak. "Saat pertama kali bertemu denganmu, aku sangat terhibur. Jujur pada saat itu aku sedang mengobati rasa kecewa karena wanita,"
Hawaii merespon perkataan Onyx dengan melebarkan manik hazelnya. "Siapa wanita yang menyakiti pria sesempurna dirimu, Prince Alistaire Onyx?"
Onyx tertawa mendengar perkataan Hawaii, ia benar terhibur dengan kehadiran gadis di sampingnya. "Suatu hari akan kuceritakan,"
"Kenapa bukan sekarang?" desak Hawaii.
"Bukan waktu yang tepat,"
"Jadi kapan?"
Onyx tiba-tiba saja mengecup punggung jemari Hawaii. "Setelah urusan kita selesai. Banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu, Hawaii," kata Onyx kemudian berdiri.
Hawaii mendongak. "Mau kemana?"
Onyx mengusap puncak kepala Hawaii pelan. "Ke kamar mandi, tunggulah sebentar," jawabnya sambil memandang wajah Hawaii lama. Onyx tersenyum kemudian berbalik melangkah ke sisi kanan ruangan. Ia menoleh kembali memerhatikan gadis belia yang membuat tidurnya terganggu.
"Hei, Hawaii Capucine," panggilnya.
"Ya," balas Hawaii menanti.
Onyx lagi-lagi tersenyum. "Aku membalas email terakhirmu sekarang,"
Hawaii merenggut tapi tetap menunggu kata selanjutnya dari pria jangkung itu.
"Kau menuliskan di surat terakhirmu "Saya merindukan berbincang denganmu, Tuan Alistaire. Saya juga merindukan dirimu, ini hal aneh bagiku. Bahkan Papa pun tidak pernah kurindukan sekalipun". Hawaii Capucine, aku Prince Alistaire Onyx of Mersia juga merindukan dirimu. Ini hal aneh bagiku, merindukan seseorang gadis muda yang kutemui hanya dua kali. Ya, aku rindu semua hal tentangmu,"
###
Alo Kesayangan,
Aku menulis setelah sebulan, sampai di komen "kangen". Ya aku tahu kalian kangen dengan kelanjutan cerita ini. Aku benar-benar sibuk di kehidupan nyata, hari seakan pendek dengan urusan ini dan itu. Cerita Philip di chapter selanjutnya semoga secepatnya aku bisa meluangkan waktu untuk menulis.
Dan buat kalian di WA grup, sorry ladies aku tidak muncul berapa hari ini. Ponselku sedang masuk tempat service, ini pertama kali dalam hidup aku merusakkan ponsel, hanya kuchas off ketika mau tidur dan bangun pagi dia ke restart sendiri berulang kali.
Komen yang membuatku menulis 😂
Love,
D😘.