MERSIA

MERSIA
Panggung Sandiwara



"My Lady," suara Philip sangat pelan ketika melihat kelopak mata Serenade bergerak lalu terbuka.


"Yang Mulia," lirih Serenade memanggil pria yang menggenggam jemari tangannya. "Maafkan aku,"


Philip menggeleng, sorot manik lionnya melembut. "Maaf untuk apa, Sayang?" ucapnya sambil mengecup punggung tangan Serenade.


Mata Serenade berkaca-kaca. "Saya jatuh pingsan, Yang Mulia pasti khawatir,"


"Kau hanya panik," Philip menoleh ke arah para dayang-dayang yang setia menunggu perintah sang pewaris tahta. "Kalian bisa meninggalkan kami,"


Wanita berjumlah 7 orang dalam satu barisan membungkukkan badan dengan hormat lalu meninggalkan kamar tidur milik tunangan sang pewaris tahta dengan langkah kaki yang sangat pelan.


Philip kembali memandang kekasih hatinya, mengusap rambutnya dengan lembut. "Maafkan aku, tidak menemanimu tadi siang. Aku sangat kaget ketika dikabari bahwa Lady Serenade jatuh pingsan. Aku langsung bergegas ke Guest Apartment," ucpanya dengan sorot cemas.


Serenade memerhatikan kamar tidurnya, ia merasakan nyaman di dalam ruangan itu. "Saya jatuh pingsan di Guest, bagaimana caranya bisa kembali ke kamar ini?"


"Aku memindahkanmu," jawab Philip enteng. Bola mata Serenade melebar, ia langsung terduduk.


"Tuhan!" pekiknya. "Dari lantai 2 ke lantai 1. Orang se-Royal Palace melihat Yang Mulia,"


Philip memegang tengkuk Serenade lalu mencondongkan kepala dengan cepat mengecup bibir wanita bersurai emas itu. "Aku sengaja meminta mereka keluar agar kita bisa bersantai kadi berbicara dengan bahasa kasual. Ya, aku menggendongmu. Beratmu tidak ada 60kg, sangat ringan,"


Wajah Serenade memerah tetapi masih bisa memandang wajah Philip. "Maaf," katanya pelan.


"Jadi bersantailah, Nada-ku. Kita hanya berdua di sini. Oh iya, dokter mengatakan ini hanya serangan panik bukan sesuatu yang fatal. Jika boleh aku bertanya, sebenarnya apa yang ada dipikiranmu, My Lady? Apakah menikah denganku bebannya sangat berat?" Philip mengelus jemari tangan Serenade.


"Aku..." kata Serenade terbata.


"Teruskan," pinta Philip.


"Tadi ketika mereka mengukur tubuhku, mereka mengatakan aku sangat kurus sama seperti tubuh Princess Lou saat akan menikah denganmu, Yang.."


Philip menghentikan perkataan Serenade dengan meletakkan telunjuk di bibir mungilnya. "No, hanya Philip. Biasakan itu, My Lady,"


Sejenak Serenade menatap seksama wajah tampan dan kharismatik milik Philip. Dewasa dan bijaksana memancar kuat dari raut wajah itu. "Phi.."


Alis Philip terangkat sebelah, ia tertawa tak bersuara hanya sekadar hembusan yang keluar dari bibirnya. "Ya?"


"Yang Mulia," kata Serenade lantang. Philip menggeleng sambil terbahak.


"Sudahlah, teruskan kalimatmu yang tadi, My Lady," Philip menyerah.


"Aku menangkap jika wanita yang bertugas mengukur gaun itu.. hmm sepertinya belum bisa menerima diriku, mereka masih mengingat tentang Princess Lou. Aku tidak percaya diri," keluh Serenade.


Bibir Philip mengerucut, kedua alisnya terangkat. "Seorang pianis terkemuka seperti dirimu tidak percaya diri, My Lady?"


"Tunanganku pernah menikah dengan Princess Lou dan satu Kerajaan Swedia tahu itu. Siapa aku Yang Mulia? Dunia kita sangat berbeda, itu yang membuatku tidak percaya diri. Cinta yang menggerakkanku untuk ke Swedia walau aku melihat dengan jelas jurang lebar di antara kita. Dan tadi..." ucap Serenade mengeluarkan keluh kesahnya yang dihentikan Philip dengan gelengan kepala.


Philip beranjak dari kursi lalu duduk di tepian tempat tidur demi berdekatan dengan tunangannya. "Serenade Rajendra, ketahuilah jika kita tidak bisa memaksa semua orang untuk menyukai diri kita. Tidak ada yang perlu dibahas lagi tentang Lou, dia telah bahagia dengan Jonas, sepupuku. Mereka telah memiliki satu anak, Hiver pun juga hidup bahagia dengan Orion. My Lady, jangan pikirkan perkataan dan pandangan orang lain hingga berpengaruh terhadap kondisi tubuhmu. Kehidupan di Royal House anggap saja sebagai panggung untuk bersandiwara, tersenyumlah menghadapi mereka dan simpan keluh kesahmu untuk kita bicarakan berdua. Aku pun tidak selamanya kuat menghadapi tekanan, tapi aku pikir ke depannya pasti lebih mudah karena ada kamu,"


Bola mata Serenade memburam, perkataan Philip menguatkannya. "Tidak mudah menjalani hidup di dalam istana," akunya lalu menghela napas.


"Ya, memang tidak mudah tapi kau pasti bisa mengatasinya, My Lady. Pelan- pelan beradaptasi dan kau akan menguasai semuanya. Aku yakin itu,"


"Aku mencintaimu, Yang Mulia. Terima kasih telah menguatkan diriku,"


Philip mengecup jemari tangan Serenade sambil mamandang raut kekasihnya. "Kita akan saling menguatkan. Kau hanya tegang dengan kehidupan Royal House dan orang-orang aneh itu," katanya lalu tertawa.


Serenade tersenyum. "Kita juga aneh," sambungnya. "Pasanganmu yang aneh dan sekarang kelaparan,"


Sorot lion Philip menyalakan pendar teramat terang. "Kau lapar?"


Serenade mengalunkan tangan di leher Philip. "Gendong aku seperti saat aku pingsan hingga ke pintu. Aku ingin merasakannya karena hanya ketika aku kecil orang-orang mengendongku,"


Philip terkekeh. "Aku bisa menggendongmu hingga ruang makan, My Lady," katanya sambil menahan tubuh Serenade lalu berdiri.


"Jangan, aku tidak ingin menjadi pembicaraan orang di Royal House," tolak Serenade akan ide gila sang pewaris tahta.


"Bagaimana jika akhir pekan kita pergi berperahu lalu menginap di kastil. Di sana kau bebas melakukan apapun tanpa ada orang lain,"


Serenade berbisik. "Ada yang lebih kecil daripada kastil? Mungkin cottage berkamar satu dengan dapur yang bersih,"


Philip terdiam sejenak dengan langkah lambat menuju pintu kamar. "Sepertinya tidak ada, My Lady. Tapi akan kuminta Hans untuk menyiapkannya. Hmm.. berkamar tidur satu,"


Serenade menggigit bibirnya dan tertunduk, ia menghindari tatapan manik lion milik Philip.


"Berhati-hatilah dengan permintaanmu, My Lady," Philip menurunkan Serenade dengan perlahan, sebelum menarik kenop pintu Philip menangkup sebelah pipi Serenade dan menciumnya panjang dan panas. "Tubuhmu seperti arang yang basah, My Lady. Denganku kau akan terbakar sempurna seperti bara api yang tak akan pernah padam sampai kapanpun,"


...


Hawaii harus menahan bibirnya untuk tidak merenggut ketika melihat Antoine sedang asyik bersandar pada mobil berwarna biru miliknya.


"Pagi, Hawaii," sapa Antoine sambil tersenyum melihat Hawaii semakin mendekat.


"Pagi," Hawaii membalas datar. Ia tidak bisa bersikap manis walau Antoine adalah pria yang cukup sopan kecuali tatapan matanya yang suka memerhatikan Hawaii dari jauh.


"Ke kampus?" tanya Antoine bergeser membiarkan Hawaii membuka pintu mobil.


"Hmm.. Ya. Kuliah perdana," Hawaii berdiri di samping Antoine yang kekar. Sangat wajar jika Antoine memiliki tubuh yang tinggi dan berotot, pekerjaannya mengharuskan ia bergelut dengan tenaga tiap hari.


"Wah, sungguh menyenangkan hari pertama berkuliah,"


Alis Hawaii mengerut, ia memerhatikan penampilan Antoine yang mengenakan t-shirt berwarna coklat, sekilas sama dengan warna surainya. "Apakah kau kuliah atau langsung bekerja?" tanyanya akrab.


"Hmm.." Hawaii tertarik mendengar tempat Antoine berkuliah. "Apakah kau pernah ke Skotlandia?"


"Tidak pernah, di sana lebih lembab dibandingkan Inggris, tapi aku pernah ke Dublin. Temanku berasal dari sana," ujar Antoine. Alisnya terangkat satu mengingat seseorang.


"Teman?" Hawaii paham jika pria di depannya terlihat menyembunyikan sesuatu.


Antoine tertawa singkat. "Mantan pacar, Maureen namanya. Kami berkuliah di kampus yang sama," jawabnya jujur.


"Kenapa kalian berpisah?" tanya Hawaii lagi. Ia penasaran dengan pembahasannya dengan Antoine.


Pria yang menggulung lengan bajunya sebelah kini mengedikkan bahu. "Entahlah, kami tidak bisa menjalankan hubungan dengan jarak jauh. Maureen memiliki rambut yang hampir sama denganmu, itu yang membuatku sering memandangmu, Hawaii. Tapi kau bukan Maureen, banyak hal yang sangat berbeda,"


Hawaii menghela napas kemudian mengangguk. "Baiklah, Tuan. Sebaiknya aku bergegas dan terima kasih telah bercerita singkat tentang dirimu. Semoga kita bisa berteman,"


Antoine mundur beberapa langkah dengan memasang senyuman simpulnya. "Jika kau ada waktu, aku ingin mengajakmu makan malam bersama," ucapnya dengan suara yang lebih keras bermaksud mengalahkan bunyi halus mesin mobil.


Hawaii mengenggam kemudi mobil dan mencondongkan kepala keluar. "Akan kupikirkan tawaranmu, Anton. Selamat bekerja," ucapan perpisahan Hawaii sebelum menginjak gas dengan pelan. Dari kaca spion mobil Hawaii bisa melihat Antoine tersenyum lebar dan melambaikan tangan. Seorang pria yang tampan dan maskulin. Hanya saja Hawaii telah menjatuhkan hati kepada pria lain. Ya pria itu yang sangat sibuk hingga 4 hari setelah Hawai mengirimkan email, ia belum juga mendapatkan balasan.


...



Hawaii menutup buku catatannya, kelas terakhir untuk hari itu telah selesai. Ia bernapas lega telah melewati hari pertamanya di kampus dengan lancar. Tapi sayang, Hawaii belum mendapatkan teman. Semua orang terlihat sibuk dengan pikiran masing-masing hingga tidak sempat untuk saling bertegur sapa.


Hawaii sadar jika ia berada di dunia perkuliahan bukan sekolah menengah yang harus


melewati hari pertama dengan sesi perkenalan seisi kelas. Ia melihat jam di ponselnya, pukul 15 kurang 30 menit. Hari menjelang sore, Hawaii memutuskan untuk singgah berbelanja pakaian. Jeanne telah menyisihkan dana untuk kebutuhan sehari-hari Hawaii di rekening pribadinya.


Sepertinya Hawaii mahasiswa terakhir yang keluar dari ruangan, bahkan dosen pun mendahuluinya pergi. Semua orang nampak terburu-buru, mungkin mereka memiliki janji atau kesibukan lain dan hanya Hawaii tetap tenang dan santai. Di tengah bangunan bertingkat 4 tersebut terdapat taman diperuntukkan untuk para mahasiswa. Mereka yang memilih tinggal terlihat duduk sendiri ataupun berkelompok di bangku taman. Hawaii tertarik melewatinya, pun ia tidak memiliki kepentingan yang mendesak. Bisa saja salah satu atau kelompok tersebut bisa menjadi temannya, tentu mereka bukan dari kelas yang sama.


Hawaii menetapkan pilihan untum duduk di kursi beton tanpa sandaran, ia bersebelahan dengan sekelompok mahasiswi berjumlah 5 orang yang berdandan modis. Mereka tertawa riang tanpa beban. Hawaii tidak cemburu, malah ingin bergabung dan berteman dengan mereka. Sayang, Hawaii tidak se-trendi kelima mahasiswi itu.


"Dia tampan, sayangnya akan bertunangan," celetuk mahasiswi berambut coklat terang. Gadis berusia lebih dewasa dua tahun di atas Hawaii memangku tas hampir seharga dengan mobil Hawaii.


Ke empat mahasiswi cantik itu bersamaan mendesah. "Prince Philip memang tampan tapi terlalu tua untuk kita yang berusia 21 tahun," keluh gadis mengenakan sepasang atasan dan bawahan dengan kotak-kotak berwarna coklat, itupun salah satu keluaran dari brand terkenal dunia.


"Julie Sayang, 37 tahun hanya angka terlebih Prince Philip adalah pewaris tahta Kerajaan Swedia. Lihat, betapa tampannya dia," gadis berambut hitam menunjuk ke majalah. Hawaii mencuri pandang, dengan jelas ia melihat pria tampan mengenakan suit berwarna biru. Wajahnya persegi, dewasa dan sorot matanya menyiratkan godaan.


Hawaii tersenyum. Dasar wanita.


"Semakin dewasa seorang pria, auranya semakin keluar. Kalian lupa mamaku yang jauh lebih muda dari papa. Selisih 16 tahun!" tambah mahasiswa bersurai pirang.


"Papamu memang tampan walau rambutnya sudah putih tapi tetap menawan. Mr. Binoche seperti Richard Gere!" pekik Julie diiringi tawa teman-temannya.


Hawaii terhibur, ia lama tidak mendengarkan gadis seusianya membahas pria-pria tampan dari majalah. Dulu ketika di Amerika mereka membahas anggota boyband seperti One Direction.


"Tapi yang ini masih sendiri. Masih bebas di pasar," suara sopran membuat Hawaii yang memainkan ponsel kembali melirik ke kelompok itu.


Kelimanya kembali terpekik dan tertawa cekikikan. "Prince Alistaire Onyx of Mersia,"


"Ya, dia tinggi, tampan dan berambut hitam seperti dirimu, Sabine ,"


Ponsel Hawaii jatuh, ia berdiri sambil memegang dadanya yang mendadak bergemuruh.


"Siapa?" Hawaii bertanya dengan bola mata membulat selebar-lebarnya. Kelompok wanita itu kaget dan melongo akan kehadiran tiba-tiba Hawaii.


"Maaf? Kau siapa?" tanya mahasiswi bernama Julie. Ivy menyikut temannya.


"Kau yang duduk di samping kami, bukan? Ada apa? Maksudnya apa yang kau tanyakan?" tanya Ivy.


Napas Hawaii tidak beraturan kemudian ia menunduk ke arah majalah, sayangnya tangan Ivy menutup foto pada bagian kepala. "Siapa yang kalian bicarakan? Nama terakhir?" tuntutnya.


Kelima mahasiswi itu berpandangan lalu tersenyum. "Oh ini," Ivy si gadis berambut pirang menunjuk ke gambar di majalah.


Hawaii merundukkan tubuhnya, manik hazelnya jatuh melihat foto pria berpakaian rapi dengan jas berwarna abu muda. Wajah yang sangat familiar walau terlihat lebih muda dibandingkan saat Hawaii bertemu dengan pria itu.


"Dia adalah Prince Alistaire Onyx, pewaris tahta Kerajaan Mersia di Skotlandia. Kakaknya, Princess Marjorie Hiver menikah dengan pria terkaya dunia yang berasal dari kota ini, Tuan Orion Filante. Hei, kau tidak apa-apa?" Ivy menepuk bahu Hawaii yang kini berjongkok di depannya.


"Tuhan, Tuan Alistaire....," lirih Hawaii menjatuhkan air mata.


###






alo kesayangan💕,


maaf yah, aku sedang sibuk belajar sekarang. di kepalaku terpecah antara nulis dan belajar.


aku sebenarnya pengen bikin novel yang lebih umum, maksudnya gak kerajaan2 tapi kehidupan biasa seperti Radit dan Rinjani. kapan yah bisa meluangkannya?


love,


D😘