
Hiver di landa insomia, berulang kali ia berusaha tidur namun kantuk tak kunjung datang. Mungkin karena malam ini ia tidak tidur bersama dengan Orion. Pria dingin itu telah mengucapkan selamat tidur beberapa jam yang lalu.
“Bolehkah kalian meninggalkanku sendiri?” pinta Hiver kepada dayang-dayang kerajaan yang menguntitnya hingga ke rumah kaca.
Tanpa menjawab, kedua wanita itu menyilangkan tangan di dada sembari membungkuk lama kemudian tersenyum dan berjalan mundur sebanyak dua langkah.
Hiver melihat kedua wanita itu berdiri agak jauh dari kursi besi berwarna putih tempatnya duduk. Suasana hati Hiver sedang tidak baik, mungkin akumulasi dari pembicaraannya dengan Philip tadi sore, kemudian pada saat jamuan makan malam. Hiver iba melihat Lou yang berusaha bahagia di depannya, di depan orang-orang kerajaan. Dan ya, mereka aktor yang hebat termasuk Philip. Pria itu memerankan bagiannya dengan sempurna, terlihat sangat
mengasihi dan menghargai Lou.
Walau begitu menyakinkan banyak orang, tapi tidak bagi Hiver. Ia tidak bisa membayangkan Lou atau kedua orang itu hidup dalam kepura-puraan sepanjang usia. Karena bagaimanapun perpisahan dalam sistem monarkhi adalah hal yang sangat tabu. Jika hal itu terjadi akan mengurangi kepercayaan rakyat terhadap pemimpinnya.
“Yang Mulia.” Seruan pelan dari dua dayang-dayang mengagetkan Hiver.
Sosok tinggi besar dibalut pijama biru surat bergaris tampak berjalan menuju ke tempat Hiver.
“Princess Hiver.” sapa Philip dengan suaranya yang berat.
Hiver yang sedang berusaha tetap tenang walau otak kecilnya sedang meneriakkan tanda bahaya dan meminta raga untuk cepat berlari dari terkaman sang pewaris tahta.
“Yang Mulia, apa yang membuatmu datang ke tempat ini?” tanya Hiver berbasa-basi dan berusaha untuk tetap sopan kepada tuan rumah.
Sekilas Philip menatap wajah Hiver kemudian mendengus ringan “Apa kau bercanda? Ini adalah kerajaanku, aku bebas kemana aja termasuk taman ini.” balasnya sambil duduk di kursi sebelah Hiver.
Hiver terdiam. Ia tidak bisa mengatakan sepatah katapun, sementara tadi ia memiliki banyak pikiran tentang Lou dan Philip.
“Princess Hiver.” gumam Philip melirik Hiver dengan lembut.
“Ya.” Singkat Hiver menjawab.
Philip menatap ke depan sambil mendesah panjang “Besok kau akan kembali ke Perancis. Entah kapan kita akan bertemu kembali.”
Hiver menoleh dan melipat bibir “Menurutku sebagai calon raja, seharusnya kau lebih bijak dalam mengatur jadwal Lou. Maksudku, jangan terlalu membebani dia dengan segudang pekerjaan. Buktinya Lou kelelahan.” ujarnya mengalihkan pembicaraan Philip.
“Baiklah, aku akan meminta kepada orang kerajaan untuk mengurangi jadwal Princess Lou.” Kilah Philip sambil mendesah.
“Kenapa? Kau terlihat seperti tidak senang melakukannya.” Hiver melayangkan protes.
Philip mengedikkan bahu lalu terdiam. Percikan suara air mancur di dalam kebun kaca itu bak melodi indah, udaranya pun segar oleh ribuan tanaman hijau dan bunga yang wangi beraneka ragam. Sungguh menenangkan dan
membuai indera.
“Harusnya kita berdua di sini sebagai pasangan, dan hidup lebih ringan untuk dilalui.” Kata Philip dengan lembut.
“Kau hanya melihat dari satu sisi.” Sahut Hiver lemah, ia tidak punya tenaga sekuat tadi sore untuk membantah pria di sebelahnya. Satu hal yang dipelajari singkat oleh Hiver tentang Philip yakni pria itu tidak bisa di bantah. Ketika Hiver mengeluarkan isi hatinya dengan keras, pun Philip tak mau kalah.
Walau Orion pernah sengit kepadanya, atau dingin. Namun Orion tidak pernah mengajaknya berdebat, cenderung diam dan nada bicaranya halus dan mendayu di telinga. Hiver kini merindukan sangat suaminya, bahkan
keberadaan pria sesempurna Philip di sampingnya tidak menggoyahkan hati Hiver sedikitpun.
“Ya, mungkin dari sisiku dan Lou. Aku pikir cinta itu bisa tumbuh, jika kau mau berkorban.” Ujar Philip kali ini tersenyum indah. Andai wanita lain sudah terbuai dan berhambur ke dalam pelukan dada berotot Philip.
“Bagaimana jika aku mengatakan itu kepadamu, Prince Philip. Sekarang ada Lou menyandang status sebagai istrimu, calon permaisuri yang kelak akan mendampingi dirimu menjalankan kerajaan ini. Jika kau masih punya hati, pasti bisa memberikan sedikit perasaanmu kepada Lou. Daripada dirimu yang terpaku kepada seorang Marjorie Hiver yang tidak bisa kau miliki. Cintailah Lou, sayangilah adikku. Kami sama, darah yang mengalir di tubuh, mata kamipun berwarna sama.”
“Kalian berbeda.” Philip menatap lekat ke arah Hiver.
“Rambutmu lurus berwarna hitam dan Lou coklat. Wajah kalian berdua cantik, tapi dirimu berbeda. Kecantikan yang dingin dan menenggelamkan. Aku tidak pernah menemukan wanita seperti dirimu di luar sana. Aku bercita-cita
ingin menjadikanmu seorang permaisuri yang di segani oleh seluruh penjuru Kerajaan Swedia dan dunia. Tapi malah kau memilih menjadi orang biasa, tinggal di pelosok Perancis. Kenapa kau memilih itu, Hiver? Sebenci itukah dirimu kepadaku?” sambung Philip dengan nada suara yang sangat berat. Seakan ia memikul sebuah jembatan beton di punggungnya, sambil mengungkapkan isi hati.
“Bukankah ini semua sudah jelas, aku tidak menyukaimu. Aku tidak pernah berniat menjadi seorang permaisuri atau menikah dengan seorang pria dengan latar belakang seperti dirimu. Sejak kecil, aku hidup di dalam istana yang megah. Terlalu banyak aturan yang mengekang, banyak tugas kerajaan yang harus kuikuti, aku memiliki teman yang terbatas, dan terpilih untuk dijadikan sahabat karib. Jika aku memilihmu, aku akan menjalani hidup yang sama di Mersia. Pernikahan adalah kontrak sepanjang hidup, Prince Philip. Sekarang kita tidak mungkin mengubahnya selain menerima, bukan? Aku harus mencintai pendamping hidupku, begitupun seharusnya dirimu.” Hiver menjelaskan dengan pelan, ia berharap kalimat panjangnya bisa dengan mudah masuk di kepala bahkan
ke hati Philip.
“Kau juga tidak menyukai suamimu, kenapa kau mengeyampingkan diriku?” Sergah Philip yang malah meminta penjelasan kalimat pertama Hiver.
“Orion mengenalku sejak bayi, Tuan Bernadotte. Akupun mengenalnya, walau jujur kami tidak memiliki hubungan baik hingga mengikat janji seumur hidup. Malam ini aku tidak ingin membahas Orion, tapi dirimu dan Lou. Ini harus diselesaikan sebelum semuanya semakin kusut.”
“Aku menikahi Lou hanya ingin membuatmu gusar.” Philip mengakui dengan nada lemah.
Hiver berdecak sambil menggelengkan kepala “Ya, kau mendapatkannya. Atas dasar apalagi hingga kau menikahi Lou? Bukan hanya gusar, kau hanya ingin membalaskan dendammu, bukan? Tapi sadar tidak, jika ada wanita lain yang menjadi korban.” Ia menatap Philip dengan tajam dan dingin, sebuah tatapan yang tembus di dada pewaris tahta tersebut.
“Ya, Lou. Istri mana yang tidak terluka jika suaminya sendiri menanyakan wanita lain hampir setiap malam. Tuan Bernadotte, kemana hatimu ketika melakukan itu kepada adikku?” tanya Hiver dengan haru menyelinap di rongga dadanya. Ia masih terbayang akan tangisan Lou, setahu Hiver tidak sekalipun adiknya pernah menangis sehebat tadi siang. Lou yang malang dan terluka.
“Hatiku ada pada dirimu.” Sahut Philip tetap pada pendiriannya.
Hiver mendengus kasar, sedikit lagi kesabarannya habis dan menyeret pria itu ke kolam air mancur dan mencuci isi kepalanya hingga bersih.
“Aku tidak merasakannya.” Ujar Hiver sekenanya sambil meredakan emosinya.
“Kau marah, Princess Hiver?” tanya Philip setelah Hiver memilih terdiam selama 5 menit.
“Bukan marah, tapi lelah. Aku tidak tahu bagaimana bicara denganmu, agar semua yang aku katakan tidak sia-sia.” Hiver melipat kedua tangannya di dada. Pandangannya mengarah kepada dua dayang-dayang dan tiga pengawal pewaris tahta yang berdiri tanpa suara sedikitpun.
“Aku mendengarnya, aku tidak sebodoh itu, sayang. Menikahi Lou dalam misi balas dendam kepada suamimu, bukan hanya karena dirimu. Dia merendahkan kerajaan kami, seakan Swedia ini hanya seujung kuku baginya yang bisa dibeli semudah itu.” geram Philip sambil mengepalkan tangannya. Tentu saja Hiver melihat setiap gerak-geriknya.
“Orion bisa melakukan itu, Tuan Bernadotte jika dia mau. Jangan menyangkalnya. Andai kau tetap pada pendirianmu, kau akan melihat Kerajaan Swedia yang hancur. Aku tidak sekadar mengancam.”
Philip memandangi wanita cantik dan selalu indah di matanya. Di dalam tubuh besar setiap centinya dikuatkan oleh otot yang kencang, ada hati yang terluka. Banyak hal membuatnya sedih dan terluka. Andai mereka menikah, ini akan menjadi tempat yang paling sering dikunjungi bersama. Kemudian, besok Hiver akan kembali ke Perancis. Butuh waktu lama untuk bersua, dan pastinya wanita cantik di sebelahnya tidak akan tertipu untuk dua kali datang ke Swedia hanya untuk menemui Lou.
“Ya. Aku tahu kekuatan dari uang suamimu, sayang. Dia juga hebat dalam bela diri.” Dengus Philip seraya tersenyum kecut.
“Aku kalah dengan pria yang bertubuh jauh kecil di bawahku. Apakah kau mencintainya?” tanya Philip dengan ragu.
“Kenapa kau menanyakan itu? Bukankah tadi kita ingin membahas dirimu dan Lou. Ini sebuah permasalalahan serius, Prince Philip. Aku tidak ingin adikku menderita sepanjang umurnya tanpa ada kasih sayang darimu. Berapa persen kau mencintaiku?” tanya Hiver tanpa basa-basi malah terdengar menodong pria bermanik lion itu.
“Hmmmm… 90 persen, karena seorang manusia tidak bisa mencintai dengan penuh, bukan?”
Bibir kanan Hiver naik sebelah “Berarti 10 persennya untuk logikamu tetap berjalan, Tuan Bernadotte.” Sahutnya seraya tertawa renyah.
Tangan Philip seakan terkena sihir, tanpa sadar ia menjangkau jemari tangan Hiver dan menggenggamnya.
“Prince Philip.” Hiver menarik tangannya, namun genggaman Philip sangat erat. “Ini salah.” Erang sang putri sambil menggeleng lemah dan manik yang sendu.
“Aku tahu ini salah. Tapi jika kau membiarkan aku memegang tanganmu selama 30 menit ke depan, maka aku akan memberikan 10 persen perasaanku kepada Lou. Aku berjanji akan lebih memperhatikannya, dan berusaha tidak membahas tentangmu tiap malam.” Kata Philip.
Manik lion itu bercahaya, dan Hiver tahu jika Philip berkata benar.
Sang putri bersurai hitam menghela napas panjang seraya membalas tatapan Philip.
“Apa yang harus kulakukan agar kau memberikan 90 persen perasaanmu kepada Lou?” Hiver membuka penawaran menarik kepada Philip.
Pemilik istana megah itu menggeleng lemah sambil memperbaiki tautan tangan mereka “Tidak bisa. Tapi aku bisa memberikan 30 persen perasaanku jika kau ingin masuk ke dalam pelukanku selama 30 menit ke depan.”
“50 persen, 30 menit.” Tawar Hiver.
Philip berdiri dan kini mereka saling berhadapan “40 persen sudah sangat banyak, Princess Hiver. Bagaimana? Ini adalah penawaran terakhir.” Katanya sedikit tegas.
Sejenak Hiver terdiam, ia menatap wajah rupawan di depannya. Sorot manik lion itu melembut dan tentu tatapan yang sama ia dapatkan dari Orion setiap harinya.
Maafkan aku, Orion Filante. Ini demi Lou.
Hiver maju dengan langkah lambat, dan Philip tersenyum lebar menyambut tubuh yang dirindukannya sejak jatuh mencinta kepada sang putri.
…
Tak sekalipun Hiver melepas kacamata hitamnya hingga ia duduk dengan nyaman di kursi pesawat. Bisa dikatakan ia tidak memiliki tidur sedikitpun hingga matahari sedikit condong ke barat.
“Selamat datang di penerbangan kembali ke Perancis, Nyonya Filante.” Sapa Jen, sang pramugari dengan ramah.
Hiver tersenyum simpul “Terima kasih.”
“Apakah nyonya membutuhkan kopi?” Tanya Jen ketika melihat kantung mata sang putri.
“Tidak, terima kasih. Aku akan tidur selama penerbangan, Miss Jen. Bangunkan aku jika kita akan mendarat.” Jawabnya sambil memencet tombol kursinya untuk rebah ke belakang.
“Sebaiknya nyonya beristirahat di tempat tidur.” Jen menyarankan sambil menunjuk ke ruangan belakang.
Hiver menoleh dan melihat pintu terbuka. Tempat tidur dengan sprei putih seolah memanggilnya untuk bergabung.
“Jangan lupa bangunkan aku.” Pinta Hiver beranjak dari kursinya.
“Baik, Nyonya Filante.”
~~
Hiver terbangun ketika merasakan goyangan pesawat.
“Nyonya.” Panggil Jen.
Dengan mata merah dan nanar Hiver menoleh ke arah pintu, rupanya sosok pramugari yang selalu sopan kepadanya sedang berdiri dengan tangan saling bertautan.
Hiver menggenggam sprei karena goyangan pesawat.
“Ada apa?” tanyanya sedikit syok. Ia mengakui kehebatan para pramugari termasuk Jen yang masih bersikap santai bahkan tidak berpegang kepada sesuatu untuk menahan tubuhnya.
“Turbulensi, Nyonya Filante. Sebentar lagi kita akan mendarat, tapi Lyon sedang hujan lebat.” Jawab Jen dengan tenang.
“Apakah aku harus kembali ke kursi?” tanya Hiver yang sepertinya takut bergerak untuk dari tempat tidur.
Jen tersenyum menampakkan gigi putihnya “Tidak perlu, Yang Mulia. Anda bahkan bisa ke kamar mandi jika ingin mencuci muka.”
Hiver melihat ke arah jendela, tetesan air menerpa kaca putih dan badan pesawat berulang kali tanpa jeda. Dan perlahan ia merasakan burung besi turun walau getarannya membuat jantungnya berdetak ketakutan.
“Aku akan menunggu di sini, hingga kita mendarat.”
Ucapan Hiver diangguki Jen.
Hiver yang ketakutan namun juga penasaran, beringsut mendekat ke arah jendela pesawat. Ia memerhatikan awan-awan dan kabut hitam terbelah dan perlahan bangunan-bangunan kota Lyon nampak di mata. Hiver mendesah
lega, ia setidaknya melewati badai di ketinggian.
Pendaratan pesawat juga terbilang mulus walau hari menjelang malam itu bisa dikatakan masih menyisakan rinai hujan yang sedikit.
Dari kejauhan ketika pesawat masih menghampiri tempat parkir dengan pelan, Hiver melihat sosok pria mengenakan sweater berwarna coklat berdiri di bawah payung berwarna hitam.
Tangan Hiver gemetar menangkup bibirnya, air matanya menggenang kemudian berjatuhan dengan satu persatu. Ia tidak berpikir panjang dan melompat dari tempat tidur. Sang putri berlari mencapai pintu pesawat yang belum terbuka.
Dua pramugari yang berjaga tidak berani menyapa, mereka hanya menyaksikan Hiver terisak tanpa suara.
“Sampai bertemu di penerbangan berikutnya, Nyonya Filante.” Ujar sang pramugari membukakan pintu. Hiver hanya mengangguk dan bergegas turun. Ia bahkan menolak untuk dipayungi oleh pria petugas bandara.
Hiver berdiri di ujung tangga dan menatap sekali lebih dalam kepada sosok dirindukannya. Pria itu hanya tersenyum samar, sambil melangkah dengan tatapan mata yang enggan saling tidak melepaskan.
Hiver tidak mempedulikan dunia, apalagi cuma air hujan yang membasahi kepala dan tubuhnya. Ia berlari dengan satu tujuan, prianya.
“Orion.” Suara Hiver tercekik di tenggorokan karena rindu yang meledak di dadanya. Ia memeluk Orion hingga pria berwangi maskulin earthy melepaskan payungnya.
“Aku merindukanmu.” Erang Hiver mendongak menatap wajah cantik yang tersenyum manis memamerkan gigi taringnya.
“Ya, aku merindukanmu juga, Marjorie.” Kemudian sebuah ciuman menyatukan mereka di bawah hujan. Tangan ramping Orion menangkup wajah Hiver dan ia mengamati wajah istrinya seraya menggeleng lemah.
“Jangan pernah meninggalkanku sendirian, Marjorie. Mansion kita tidak pernah lagi sama tanpamu. Begitupun diriku yang tidak sekuat dulu jika kau tak melihatmu.” Suara manis Orion manis bercampur air hujan yang syahdu.
Hiver mengangguk dan menatap penuh cinta kepada prianya.
“Marjorie, ayo kita pulang ke rumah.” Orion mengecup pipi Hiver seraya menautkan jemari.
Hiver memeluk lengan Orion dengan kuat, sangat kuat.
“Kau adalah rumahku, Orion. Aku sudah kembali.”
###
alo kesayangan💕,
finally aku kembali juga dari Swedia jadi tukang sapu-sapu di taman kaca milik Philip.
sedikit banyak ada aja RL job kudu dikerjain, sorry yah ladies.
menurut kalian apakah perlu cerita Lou dan Philip dibahas?
dan Orion Marjorie dijadikan bayang-bayang semu [bahasaku 😂]
oh libur sudah di depan mata, tetap jaga kesehatan yah.
love,
D😘