
Hawaii mengayuh sepedanya dengan kecepatan penuh, ia sempat oleng ketika ban sepedanya menyerempet batu di jalanan. Seharusnya tadi pagi ia menemani Tuan Alistaire untuk sarapan pagi. Hal yang sama mereka telah lakukan selama 2 hari terakhir. Sayangnya, pada dini hari Grandma Jane terjatuh ketika usai dari kamar mandi. Grandma Jane berusia 64 tahun dan memiliki masalah pada penglihatannya, apalagi ketika tidak menggunakan kacamata.
Grandma Jane sempat tidak sadarkan diri. Seisi rumah sempat panik, mereka pun membawa Grandma Jane ke rumah sakit terdekat. Syukurnya langsung mendapatkan perawatan walau Grandma Jane masih harus menjalani rawat inap.
Hawaii baru kembali ke penginapan saat matahari di ubun-ubunnya. Hawaii pulang bersama dengan Grandpa Thierry sementara Jeanne, sang mama menemani Grandma Jane di rumah sakit.
"Hah..," Dada Hawaii sedikit lagi pecah setelah mengerahkan semua tenaganya menuju istana kakak Tuan Alistaire.
Lagi sepedanya oleng ketika mencapai pintu gerbang mansion, Hawaii melompat turun dan menarik sepeda dengan cepat menuju pos penjagaan.
"Selamat siang, Sir," sapa Hawaii ngos-ngosan.
"Nona Hawaii," sapa balik 2 penjaga berbadan kekar dari dalam pos. Salah satunya keluar dan mendekati Hawaii.
"Saya memiliki janji dengan Tuan Alistaire untuk sarapan bersama," terang Hawaii.
Penjaga tersebut melirik jam di tangannya. "Sepertinya Nona terlambat untuk itu," jawabnya.
"Iya saya tahu. Grandma Jane masuk rumah sakit tadi subuh, Sir. Saya baru saja pulang dari rumah sakit hanya mandi dan langsung menuju ke sini. Tuan Alistaire pasti telah menunggu lama," jelas Hawaii penuh harap para penjaga itu memberikannya akses untuk masuk ke dalam.
Penjaga satunya keluar dari pos. Pria lebih muda daripada temannya, juga memiliki tubuh sama kekarnya.
"Bukan begitu maksud, Mr. Delaune. Nona Hawaii terlambat 2 jam, Mr. Alistaire sudah kembali ke Scotlandia," kata penjaga lebih muda.
"Hah?!" Hawaii terpekik. Saking kaget dengan berita yang ia dengar, sepeda yang tadinya dipegang kuat-kuat kini dihempaskan ke jalanan.
Mr. Delaune dengan sigap menaikkan kembali sepeda milik Hawai, sementara si gadis bersurai keriting indah itu terlihat dalam keadaan syok berat.
"Iya, Mr. Alistaire sudah pergi dua jam yang lalu. Oh iya, Mr. Alistaire menitipkan surat untuk Nona Hawaii," penjaga itu kembali ke dalam pos kemudian membawa amplop berwarna biru. "Untuk Nona,"
Wajah Hawaii merenggut, pun manik hazelnya berkabut. "Terima kasih, Mr. Benoit," ia mengambil surat itu kemudian mencari tempat duduk di dekat pos. Pembatas tanaman di pinggir jalan adalah pilihan Hawaii. Para penjaga tidak melayangkan protes malah memberikan kesempatan Hawaii untuk membaca surat untuknya.
~~
Dear Hawaii,
Seharusnya tadi pagi kita sarapan bersama, aku menunggumu tapi kau tidak datang. Aku ingin memberitahumu ketika sarapan jika siang ini aku harus kembali ke Skotlandia. Banyak pekerjaan yang menungguku, juga jatah cutiku sudah habis.
Aku ingin mengucapkan terima kasih telah menemaniku selama di sini. Kau adalah gadis periang dan penuh cerita, Hawaii.
Aku tidak bisa berjanji kepadamu kapan akan kembali ke Perancis, tapi aku herharap kau bersungguh-sungguh dalam menggapai cita-citamu. Pesanku, jangan pernah berubah. Tetaplah menjadi Capucine, seperti makna namamu. Bunga cantik yang bermekaran dengan indah.
Regards,
Alistaire.
~~
Hawaii menangis tersedu, surat dari Onyx ia dekap. Entah kenapa ia merasa sangat kehilangan. Pun ia tidak pernah menangisi hal seperti ini sebelumnya.
Cukup lama Hawaii duduk dan menangis. Hawaii masih muda, ia belum menyimpulkan apa yang membuatnya selemah itu hanya karena ditinggalkan oleh pria yang baru dikenalnya. Namun sejak mengenal Tuan Alistaire persepsinya tentang pria berubah banyak.
Sejak kecil ia tumbuh melihat Papanya yang keras kepada Jeanne, sang mama. Kedua orang tuanya selalu terlibat pertengkaran terkadang ada kekerasan dari kedua belah pihak. Yang tak dimengerti Hawaii adalah ketika orang tuanya bertengkar, tak lama kemudian mereka akan berbaikan. Namun selalu saja ada masalah baru. Perangai Benjamin Murphy membuat Hawaii menutup diri untuk lawan jenis, tapi ia memiliki banyak teman perempuan. Di tengah teman perempuannya ia sangat ceria, lepas, satu-satunya tempat untuk mengubur semua masalah keluarganya lewat tawa dan canda.
Hawaii membersihkan wajah dari sisa air mata dan merapikan surainya. Ia berjalan menuju pos, Mr. Benoit sepertinya menanti kedatangannya.
"Sir.... Hmm," kata Hawaii meragu.
"Ya, Nona. Ada yang bisa kami bantu?" tanua Mr. Benoit peduli. Bagaimanapun ia tahu jika gadis belia itu selama 3 hari berturut-turut menjadi tamu satu-satunya Onyx.
"Eng.. Sir. Apakah Anda tahu alamat Mr. Alistaire di Skotlandia? Atau mungkin punya nomer ponselnya,"
Wajah Mr. Benoit berubah sedikit tegang, ia tidak menyangka hal sepenting itu menjadi pertanyaan Hawaii.
Mr. Benoit menghela napas, ia sekilas menoleh ke arah dalam pos. Mr, Delaune memberi isyarat lewat anggukan kepala.
"Maaf, Nona Hawaii. Kami tidak tahu tentang itu. Hmm.. Apakah Nona Hawaii ingin membalas surat Tuan Alistaire?" Mr. Benoit mencoba mengalihkan sedikit fokus Hawaii.
"Iya, saya ingin membalas surat Tuan Alistaire," balas Hawaii penuh harap.
Mr. Benoit menatap yang Hawaii menunjukkan kesungguhan akan perkataannya. "Nona Hawaii tahu jika Tuan Alistaire dan Nyonya Filante bersaudara, bukan?"
Hawaii mengangguk kuat. "Ya, saya tahu, Mr. Benoit," sahutnya lebih bertenaga. Ia sepertinya mendapatkan satu jalan untuk menghubungi Alistaire.
"Setahu kami Tuan Alistaire sangat sibuk, Nona Hawaii. Tapi Anda bisa menitipkan surat lewat Nyonya Filante. Besok lusa Tuan dan Nyonya Filante akan kembali dari Lyon. Nona Hawaii bisa datang ke sini lagi pada hari Kamis. Bagaimana?"
Manik hazel itu menyendu, bibirnya terlipat. Hawaii menunduk memikirkan perkataan Mr. Benoit. Jiwa mudanya tidak bisa menunggu selama itu, ia pasti akan gelisah selama dua hari.
"Baiklah, Mr. Benoit. Lusa saya akan kembali ke sini," kata Hawaii pasrah. Surat dari Tuan Alistaire digenggamnya erat juga sangat hati-hati. Sesampainya di penginapan ia berjanji akan membacanya lagi. Berulang-ulang sebagai pelipur rasa kecewa yang mendera hatinya.
...
Dunia sepertinya tidak bersahabat dengan Serenade. Ketika ia tiba di Stockholm, berita tentang putra mahkota Kerajaan Swedia sedang berkunjung ke Inggis dalam rangka United Nations Climate Change Conference. Prince Philip Bernadotte menjadi salah satu pembicara dalam konferensi penting tersebut.
Kabarnya Philip akan berada di Inggris selama dua hari. Membandingkan kesibukan Philip ketika kunjungan Serenade yang pertama dengan kali ini, ia akhirnya mengerti betapa padatnya jadwal seorang putra mahkota ketika tidak memiliki agenda pribadi. Serenade sangat yakin pada kunjungan pertamanya, Philip mengosongkan semua jadwalnya.
Sayang, pada saat itu Serenade masih menimbang dan mempelajari dua pria yang memiliki karakter yang berbeda. Ia menyia-yiakan waktu Philip yang berharga dengan kebimbangan hati.
Ia juga bisa saja memilih Onyx, tapi sungguh disayangkan pewaris tahta Kerajaan Mersia meninggalkan kesan biasa ketika kunjungan Serenade di negeri bak permadani itu. Belakangan ia tahu jika Onyx memiliki perasaan yang besar pun tidak main-main.
Serenade tidak bisa membohongi perasaan, juga pantang baginya memberikan jawaban yang menyenangkan hati untuk Onyx. Walau ia tahu dengan pasti jika Onyx bisa membahagiakannya.
Tapi menjadi pertanyaan besar yakni, apakah Serenade bisa hidup tenang ke depannya? Dan berapa lama waktu yang ia membutuhkan untuk mengubur perasaannya terhadap Philip? Itu sungguh tidak adil bagi Onyx jika ia melakukan hal tersebut.
Serenade lebih memilih menatap Royal House dari seberang kanal dari kamar hotelnya dengan hati menghampa. Dibandingkan ia harus berpura-pura di depan Onyx, memiliki perasaan yang sama.
Dulu Serenade berada seberang, di dalam Royal House yang megah dan kokoh itu. Semua orang yang ditemuinya adalah orang-orang kerajaan, namun di hotel tempatnya menginap, Serenade mengenal orang lain. Para pelancong juga orang yang memiliki keperluan bisnis di Stockholm. Pada umumnya mereka mengagumi sosok sang putra mahkota. Terlebih tadi pagi saat Serenade menyantap sarapan paginya di restoran hotel. Berita perihal konferensi yang dihadiri Philip menjadi pembicaraan para tamu hotel. Serenade menguping, tidak berani untuk menanggapi. Cukup tahu jika pria yang membuatnya kembali menginjak Swedia adalah sosok yang sangat luar biasa.
Serenade tidak percaya diri, ia takut hanya sisa dirinya yang menaruh hati. Sementara pria yang menyisakan panas membara di dada telah beranjak, mungkin juga telah menata hati untuk kesempatan yang lain.
Di jendela kaca kamar, Serenade berdiri menatap ke seberang menanti dengan hati gundah. Pun bertekad untuk berusaha, walau sesuatu yang hendak di raihnya adalah hal paling mustahil di muka bumi.
...
Pada hari terakhir Konferensi Perubahan Cuaca Dunia, Philip dan juga para peserta dihibur dengan pesta sekaligus sesi makan malam dari pihak Kerajaan Inggris. Tepatnya di ballroom hotel tempat konferensi tersebut pesta diadakan. Orang-orang penting dunia menggunakan kesempatan itu untuk bertukar pendapat juga cerita yang lebih kasual. Beberapa orang membahas isi konferensi dan rencana yang akan diterapkan pada negara masing-masing. Beberapa peserta konferensi juga lebih memilih membahas kota-kota indah yang menjadi tujuan wisata.
Ketika usai berbicara dengan delegasi daemri negara Italia, Philip melihat sosok yang dicarinya selama acara.
"Hei," sapanya sambil menepuk akrab punggung pria tersebut.
Pria mengenakan suit hitam itu menoleh, manik coklatnya melebar. "Prince Philip," katanya.
Philip tersenyum dan menjabat tangan Onyx. "Dari kemarin aku mencari kesempatan untuk berbicara denganmu,"
Onyx membalas senyuman Philip. "Ya, kita semua sibuk, setelah konferensi banyak jadwal lain yang menunggu,"
Philip mengedikkan bahunya. "Seperti itulah kita," balasnya sambil memberikan tatapan menelisik pria muda pewaris Mersia itu. "Bagaimana kabarmu? Jika tidak salah terakhir kita bertemu di pernikahan Henri di Luxembourg, itu sudah lebih 6 bulan yang lalu,"
"Seperti inilah diriku, Prince Philip. Saya lihat kamu lebih semangat dibandingkan biasanya. Oh iya, saya hampir lupa mengucapkan selamat atas berhasilnya sesi yang kau bawakan kemarin. Kami sepakat jika Swedia lebih unggul dalam mengatasi climate change dibandingkan negara lain," sanjung Onyx akrab tapi juga tidak ingin kebablasan. Onyx sadar jika mereka berada di forum internasional.
"Aku pikir Mersia tidak perlu bersusah payah melakukan hal yang sama kami terapkan di Swedia. Mersia tetap konsisten sejak ratusan tahun terakhir dalam mengembangkan kerajaannya. Di mana alam dan pembangunan harus saling bersinergi," kata Philip berargumen.
"Terima kasih, Prince Philip. Ya benar, kami tetap berpegang teguh akan itu," balas Onyx.
Keduanya terdiam sambil menikmati red wine masing-masing. Ini merupakan gelas kedua bagi Philip.
"Sepertinya ada yang ingin berpesta malam ini," sindir Onyx ketika melihat Philip menghabiskan isi gelasnya.
Philip menyeringai. "Hanya sedikit biar lebih santai. Beberapa hari terakhir aku tidak memiliki waktu untuk bersantai seperti ini. Bagaimana denganmu, Onyx?"
Alis Onyx mengerut mendengarkan perkataan Philip. Ia mengolah data diterima sekaligus mencocokkan hari di mana ia mendapatkan penolakan Serenade. "Saya baru kembali dari Perancis 3 hari yang lalu. Sedikit berlibur," jelasnya.
Bola mata lion milik Philip melebar. Terdengar dengusan dari hidungnya bersamaan ia tersenyum tanpa memamerkan gigi. "Begitu rupanya," katanya.
Ia menatap Onyx sambil membatin. Mungkin Onyx menghabiskan waktu dengan Serenade. Ia paham jika seorang putra mahkota meluangkan waktu untuk berlibur, tentu saja karena alasan kepentingan pribadi.
Sementara di sisi Onyx, ia ingin mengajukan pertanyaan tentang Serenade. Sudah seminggu yang lalu terakhir ia bertemu dengan pianis cantik itu. Mungkin Philip yang berpenampilan hebat dan penuh semangat selama acara konferensi karena suasana hatinya sedang berbunga-bunga. Bisa jadi Philip menyembunyikan Serenade di kamar hotelnya selama di Inggris.
"Yang Mulia tidak berliburan?" tanya Onyx tiba-tiba saja lebih formal. "Mungkin menambah waktu selama masih di sini,"
Philip tertawa ringan. Ia menggeleng. "Inggris tidak pernah menjadi tempatku untuk liburan, Prince Onyx. Jika kau tahu jika hidupku selalu berputar di sekitar Swedia. Dan oh aku hampir lupa jika aku pernah ke New York beberapa bulan yang lalu,"
Onyx mengangguk. Ia mengembuskan napas panjang lalu menghabiskan isi gelasnya. Sepertinya bukan hanya Philip yang ingin berpesta malam itu.
"Saya pun pernah ke New York, Yang Mulia," sahut Onyx tak mau kalah.
Philip terkekeh sambil menepuk punggung Onyx. "Mungkin saja kedatangan kita ke New York memiliki tujuan yang sama," katanya sambil memberi kode kepada pelayan untuk mendekat.
Dua pewaris tahta tersebut tidak perlu berpikir panjang untuk mengganti gelas kosong dengan gelas yang berisi penuh.
"Betul kata Yang Mulia, mungkin saja kita punya alasan yang sama ke kota New York," sahut Onyx pelan sesaat sebelum mencicip wine-nya yang ketiga malam itu.
###
Alo kesayangan💕,
Hmm.. dua hari ke depan aku libur nulis dulu, diomongin sebelum kalian nyari update 😂
toh, kalian juga pasti sibuk prepare mau lebaran, mungkin ada yang bikin kue, or makanan. Mungkin ada juga yang plan liburan. So, take care guys.
[revisi belum maksimal di chapter ini]
love,
D😘