Love, My Queen Of Mafia

Love, My Queen Of Mafia
Ekstra Part 1



Agnes menggigit kuku jarinya saat melihat dokter yang sedang memeriksa keadaan suaminya, dia sangat khawatir jika terjadi apa-apa pada Afgan, apalagi suaminya itu sudah 7 bulan lamanya berbaring di atas tempat tidur.


Seluruh keluarganya sudah datang dan mengerumuni kamar luas nan mewah milik Agnes.


Mulai dari kedua orang tua Afgan, Kevin dan istrinya, Alfan dan tunangannya, serta Fani yang sedang hamil muda dengan suami tampannya yang terus memepetinya kemana-mana.


Kevin dan Fani?


Yah, rupanya mereka bukan jodoh. Fani menemukan jodohnya sendiri begitupun dengan Kevin. Fani menikah lima bulan sebelum Kevin menyusulnya menikah dengan pasangannya.


Tapi meskipun begitu, mereka masih sering bertegur sapa dan bersikap seakan mereka tidak pernah memiliki masa lalu yang teramat sangat menyakitkan untuk keduanya.


Tentang tanggapan Agnes dan keluarga?


Mereka menerima keputusan yang kedua orang itu ambil, dan mereka hanya bisa mendo'a kan yang terbaik untuk keduanya.


Karena jodoh dan takdir hanya ada di tangan Tuhan. Meskipun kita menginginkan dia sebagai jodoh kita, tapi jika orang itu hanya tercipta untuk orang lain kita bisa apa?


Kembali lagi pada Agnes, Agnes menatap semua orang secara bergantian, kemudian dia kembali menatap Afgan yang sedang memejamkan matanya karena pengaruh dari obat yang dokter berikan.


" Bagaimana dengan kondisi anak saya dok? " Tanya Jennie dengan wajah penuh khawatirnya.


" Sungguh keajaiban, anak Anda sama sekali tidak seperti orang yang baru terbangun dari tidur panjangnya. " Ucap dokter itu.


" Maksudnya? "


" Tuan Afgan sangat sehat Nyonya, bahkan fisiknya sangat kuat meskipun tidak menerima asupan apapun selama berbulan-bulan. Ini sungguh keajaiban yang saya sendiri tidak menyangkanya, " Ucap Dokter itu sambil tersenyum senang.


Senyuman mengembang di bibir Agnes, bumil satu itu berjalan pelan dan terduduk di samping suaminya.


" Jadi suami saya, sudah sembuh total? " Tanya Agnes senang.


Dokter itu mengangguk mengiyakan, kemudian dia berpamitan dan pergi keluar karena tugasnya sudah selesai.


Jennie menatap Agnes sendu, kemudian dia berjalan mendekat dan mengelus penuh sayang pucuk kepala menantunya itu.


" Terima kasih sayang, perjuangan dan penantianmu selama ini tidaklah sia-sia. Karena lihatlah! Afgan sudah kembali dan akan bersamamu selamanya, " Ucap Jennie sambil menitihkan air mata bahagianya.


Agnes menangkap tangan Jennie yang berada di kepalanya dan mengusapnya lembut.


" Tentu Bunda, aku- "


" Agnes! " Panggil Afgan.


Agnes menoleh dan mengangkat sebelah alisnya saat melihat Afgan yang masih memejamkan matanya dengan bibir yang terus memanggil-manggil namanya.


" Mengigau? " Gumam Agnes sambil tersenyum kecil.


Semua orang terkikik geli saat mendengar Afgan yang berkali-kali memanggil nama Agnes, sementara matanya masih tertutup rapat.


Ryan yang tidak tahan melihat tingkah aneh putranya langsung saja bangkit dari duduknya dan memukul pundak Afgan.


Bughk.


" Agnes!! " Pekik Afgan yang kaget dengan mata yang sudah terbuka sempurna.


" Ha ha ha...!! " Semua orang tertawa ngakak melihat kelakuan Afgan.


Sepertinya dalam situasi dan kondisi apapun yang mampu Afgan cari dan panggil hanyalah Agnes seorang.


" Tenanglah, aku tidak mungkin kabur darimu. " Ucap Agnes yang malah semakin membuat ruangan itu di penuhi oleh gelak tawa.


" Hey, kau masih- "


" Aku sudah sembuh, " Potong Afgan segera.


Pria itu memeluk Agnes dan sesekali tangannya mengusap lembut perut buncit Agnes yang di dalamnya terdapat buah hati mereka.


Semua orang hanya bisa terdiam dan menggeleng melihat tingkah pasutri satu itu.


Senyuman yang tadinya terpancar jelas di bibir Kevin perlahan hilang saat ekor matanya tidak sengaja menangkap moment menyakitkan dimana mantan wanitanya sedang di peluk mesra oleh suaminya.


Kevin menatap sendu ke arah Fani yang tengah tersenyum bahagia melihat Afgan dan Agnes dengan suaminya yang memeluk dari belakang.


" Jika saja aku tahu kedepannya akan seperti ini, mungkin aku akan lebih memilih untuk tidak mengenal dan mencintaimu dari pada harus melihatmu berbahagia bersama pria lain tepat di depan mataku. " Batin Kevin.


Saat sedang melamun, tiba-tiba istri Kevin menyandarkan kepalanya di bahu Kevin dengan mata yang terus menatap bahagia pada Agnes dan Afgan.


Kevin menoleh dan tersenyum saat istrinya itu memberikan senyuman manis padanya, Kevin mengangkat sebelah tangannya dan merangkul pundak istrinya.


" Tapi meskipun begitu, aku sangat bahagia dengan apa yang aku miliki saat ini. Mungkin kau memang bukan jodohku, tapi percayalah! Kau adalah masa lalu terindah yang aku miliki, " Lanjut Kevin membantin.


Tidak jauh berbeda dari Kevin, Fani pun menangkap moment romantis yang Kevin dan istrinya lakukan.


Jujur saja, hatinya sangat sakit melihatnya. Lagi dan lagi dia harus berusaha mengiklaskan pria yang memang bukan di takdirkan untuknya.


" Kenapa rasanya semakin aku berusaha mengikhlaskanmu, semakin aku merasakan sakit yang teramat sakit dalam dadaku. Tapi meskipun begitu, aku akan tetap merelakanmu walau dengan separuh hatiku, percayalah! Kau adalah mantan terindah yang aku miliki dan tidak akan pernah aku lupakan, " Batin Fani.


Saat merasakan sentuhan lembut di perutnya, Fani tersadar dari lamunannya dan menoleh ke belakang. Dia tersenyum saat mendapati wajah tampan suaminya yang sedang tersenyum sambil menopangkan dagu di lehernya.


" Kenapa sayang? " Tanya suami Fani sambil mencium lembut pipi istri cantiknya.


Fani menggeleng dan kembali membalik badannya ke depan, dia menarik nafasnya panjang dan kembali tersenyum pada Agnes dan Afgan yang sedang mengumbar kemesraannya.


Secara tidak sengaja, pandangan Fani dan Kevin bertemu. Mereka saling melemparkan senyumannya pada satu sama lain, meskipun di dalam kedua mata mereka tersirat kesedihan yang begitu sangat mendalam.


Sementara itu, Agnes yang dapat menangkap moment menyedihkan antara kakak dan sahabatnya semakin mengencangkan pegangannya di tangan Afgan yang sedang memeluknya.


" Aku harus banyak berterima kasih padamu, Tuhan. Karena takdirku lebih baik dari pada mereka yang Engkau pisahkan, " Batin Agnes.


" Bunda...!! Bunda...!! "


Agnes yang sedang melamun terperanjak kaget saat mendengar panggilan anak laki-laki yang berlari dengan membawa ponsel ke arahnya.


Dengan segera Agnes turun dari atas ranjang dan menghampiri bocah kecil itu.


" El, ada apa sayang? Kamu kok teriak-teriak gitu? " Tanya Agnes sambil mengusap kepala anak kecil yang sudah ia angkat sebagai anakya dengan lembut.


" Paman Gata menelpon, " Ucap El sambil menyodorkan ponselnya yang berdering.


Agnes mengangguk dan dengan segera dia mengangkat panggilan dari Regata dan menempelkam benda persegi panjang itu di telinganya.


" Hallo, Gat- "


" Agnes, Veyna sudah melahirkan. Bayinya kembar, aku memdapatkan double baby dan usahaku membuat Veyna kelelahan setiap malam tidaklah sia-sia! " Potong Regata dengan girang di sebrang sana.


" Kembar?! " Pekik Agnes.


_-_


Tbc!